Chapter Eight
Perpustakaan Salemba
POV: Cecil
“Saya dulu SMK, Mbak. Jurusan listrik.”
Jumat siang, pukul dua belas lewat lima belas, di pantry lantai 58. Pintunya kututup, dan aku bersandar di meja dengan tangan terlipat. Kopi buatannya ada di sebelahku, satu sendok gula, krimer setengah, pas seperti biasa. Itu menyebalkan.
Ia berdiri di depan wastafel dengan tangan di belakang punggung, seperti murid yang sedang disidang guru BK.
“SMK listrik,” ulangku.
“Iya, Mbak.”
“Terus SMK listrik ngajarin kamu nyelinap ke ruang server pakai kartu akses yang bukan punya kamu?”
“Kartunya... kartunya pinjem, Mbak.”
“Pinjem dari siapa?”
Ia diam. Matanya melirik ke kiri, ke pintu pantry, seolah mencari pintu darurat.
Aku tahu banyak tentang orang yang berbohong. Dulu ayahku setiap malam pulang dengan bau rokok dan bau kartu, lalu bilang lembur. Ayahku bilang meminjam uang dari teman untuk modal usaha, padahal uangnya untuk membayar utang judi. Ayahku bilang semuanya akan baik-baik saja, sampai suatu pagi rumah kami disegel bank.
Aku tumbuh dikelilingi kebohongan. Aku hafal bentuknya, baunya, cara orang mengedip saat berbicara.
Dan ia payah sekali dalam berbohong.
Telinganya merah, tangannya saling meremas di belakang punggung, dan ia tidak berani menatap mataku lebih dari setengah detik. Kebohongannya sopan, seperti orang yang meminta maaf sambil berbohong.
“Ya udah,” kataku.
Ia mengangkat kepala, terkejut.
“Ya udah?”
“Iya. Ya udah.” Aku mengambil kopiku dan menyesapnya pelan. “Kamu ganti kapasitor, server nggak gosong, perusahaan nggak rugi. Pak Joko dapet sushi. Semua bahagia. Kecuali Bu Natasha yang curiga, tapi Bu Natasha curiga sama semua orang. Dia curiga sama dispenser.”
“Mbak nggak lapor?”
“Lapor apa? Bu, OB kita lebih jago dari teknisi gedung. Mohon dipecat?” Aku menurunkan cangkir. “Tapi aku nggak percaya sama SMK listrik kamu.”
Ia diam lagi.
“Aku bakal tahu,” kataku santai, seperti orang membicarakan ramalan cuaca. “Aku selalu tahu. Itu kerjaanku.”
Aku berjalan ke pintu. Ketika lewat di sebelahnya, aku sengaja berhenti, dekat sekali. Kurapikan kerah seragamnya yang sebenarnya tidak miring, lalu kutepuk dadanya dua kali. Ringan dan pelan, seperti menepuk bantal.
“Kopinya enak,” kataku.
Lalu aku keluar.
Di lorong, kudengar bunyi gelas jatuh di dalam pantry. Tidak pecah, hanya jatuh ke wastafel.
Aku tersenyum sampai tiba di mejaku.
Pukul tiga sore, Nat memanggilku ke ruangannya untuk menandatangani dokumen akuisisi di Vietnam. Di tengah tanda tangan halaman tujuh belas dari empat puluh dua, tanpa mengangkat kepala, ia bertanya:
“OB itu lulusan apa?”
Pulpenku berhenti di udara.
“Kenapa, Bu?”
“Jawab aja.”
Aku menatapnya. Ia sedang membaca pasal tentang ganti rugi, jarinya menelusuri baris demi baris, wajahnya datar. Namun aku sudah mengenal Nat sepuluh tahun. Kalau ia bertanya tanpa mengangkat kepala, artinya pertanyaan itu penting sekali dan ia tidak mau aku tahu bahwa itu penting.
“SMA, Bu,” kataku. “Di data vendor, SMA.”
“Hm.”
“Kenapa, Bu?”
“Nggak apa-apa.” Ia membalik halaman. “Laporan insiden server kemarin. Pak Joko bilang dia yang ganti kapasitornya.”
“Iya, Bu.”
“Pak Joko nggak bisa bedain kapasitor start sama run. Tahun lalu dia pasang kapasitor start di AC ruang rapat Crimson. AC-nya meledak pas rapat sama investor Korea.”
Aku ingat kejadian itu. Bunyinya seperti petasan, dan investor Korea itu refleks tiarap di bawah meja. Kesepakatannya tetap berjalan, tetapi sejak itu Nat tidak pernah memercayai Pak Joko untuk urusan apa pun yang lebih rumit daripada mengganti lampu.
“Mungkin Pak Joko belajar, Bu.”
Nat akhirnya mengangkat kepala dan menatapku.
“Cecilia. Kamu tahu sesuatu?”
Aku bisa mengatakannya sekarang. Iya, Nat. OB yang kamu siksa itu yang nyelametin server kamu. Dia nyelinap pakai kartu akses misterius, ganti kapasitor, terus pergi tanpa bilang apa-apa. Dan kamu ngasih sushi ke Pak Joko.
“Nggak, Bu,” kataku. “Saya cuma sekretaris. Saya nggak ngerti kapasitor.”
Itu kebohongan pertamaku kepada Nat dalam sepuluh tahun. Rasanya seperti menelan es batu bulat, dingin dan tersangkut di tenggorokan.
Nat menatapku dua detik lagi, lalu kembali ke dokumennya.
“Halaman delapan belas,” katanya.
Aku menandatangani halaman delapan belas. Tanganku tidak gemetar, dan aku bangga akan hal itu.
Sabtu pagi, Nat mengutusku ke Salemba.
Ada seminar nasional Tata Kelola Perusahaan di Era Digital di gedung pascasarjana FEB UI kampus Salemba. Nat diundang menjadi pembicara sesi ketiga, tetapi ia batal karena harus terbang ke Batam memeriksa pabrik. Jadi akulah yang dikirim mewakilinya, membawa salindia presentasi Nat dan dua halaman catatan tulisan tangannya yang berbunyi JANGAN improvisasi, Cecilia. Bacakan saja.
Tentu saja aku berimprovisasi. Sesi tanya-jawabnya menjadi yang paling ramai. Ada seorang bapak dosen yang bertanya tiga kali, dan pertanyaannya makin lama makin jauh dari tata kelola, lebih mendekati soal apakah aku sudah punya pacar.
Seminar selesai pukul dua siang. Baterai laptopku tinggal tujuh persen, dan aku masih harus mengirim laporan seminar kepada Nat sebelum ia mendarat dari Batam pukul lima.
Panitia bilang perpustakaan pascasarjana buka sampai pukul empat sore setiap Sabtu dan ada colokan di meja-meja baca lantai dua.
Aku berjalan ke sana dengan blazer putih, rok midi, dan sepatu hak lima senti. Hari ini aku sengaja memilih yang pendek, karena sepatu tujuh senti yang ditahan paku itu sudah kubawa ke tukang sol, dan tukang solnya bertanya, “Ini siapa yang benerin, Mbak? Rapi banget. Saya aja nggak kepikiran pakai paku sekecil ini.”
Perpustakaan pascasarjana Salemba adalah bangunan tua dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar berkusen kayu. Lantainya ubin kuning pucat yang berbunyi tak-tak setiap kali tersentuh hak sepatu. Aromanya kertas tua, debu, dan AC yang sudah tiga puluh tahun tidak diganti.
Aku naik ke lantai dua, mencari meja dengan colokan, dan menemukan satu di sudut dekat jendela. Aku duduk, mencolokkan laptop, lalu...
Berhenti.
Tiga meja di depanku, seorang laki-laki duduk membelakangiku.
Ia mengenakan jas almamater kuning, kuning UI yang khas itu, kuning yang membuat semua orang di Indonesia langsung tahu kau anak mana. Di depannya ada tumpukan buku setinggi lutut, laptop yang engselnya tampak diikat karet gelang, dan buku tebal yang sampulnya dibungkus koran.
Rambutnya dipotong pendek. Ujung kanannya sedikit lebih panjang daripada yang kiri.
Nggak mungkin.
Aku terpaku di kursiku. Jantungku tiba-tiba seperti sedang menabuh drum lagu metal.
Laki-laki itu menoleh sedikit ke kiri untuk mengambil buku dari tumpukan. Aku melihat profilnya: rahang yang tegas, kulit sawo matang, dan bekas luka tipis di ujung alis kiri, seperti garis pensil yang dihapus setengah.
Nggak. Mungkin.
Itu dia. Mas OB.
Di perpustakaan pascasarjana UI. Mengenakan jas almamater. Pada hari Sabtu.
Aku tidak bangga dengan apa yang kulakukan setelahnya.
Pertama, aku menutup laptop, padahal baterainya tinggal enam persen dan laporan seminar belum ditulis sama sekali.
Kedua, aku pindah ke meja yang lebih dekat, di balik rak buku Ekonomi Pembangunan yang sepertinya tidak pernah disentuh siapa pun sejak reformasi. Dari celah di antara dua buku tebal tentang Repelita, aku bisa melihatnya dengan jelas.
Ia sedang menulis di buku catatan dengan pulpen murah yang tutupnya sudah digigiti. Tulisannya cepat dan penuh rumus. Aku sama sekali tidak mengerti rumusnya, tetapi ada banyak huruf Yunani, tanda panah, dan angka berpangkat.
Seorang laki-laki tua lewat di sebelah mejanya. Rambutnya setengah putih, alisnya tebal seperti dua ulat bulu. Laki-laki itu berhenti dan menepuk bahunya.
“Pandu.”
Ia langsung berdiri. Sopan sekali, seperti sedang upacara.
“Prof.”
“Catatan revisi saya sudah kamu baca?”
“Sudah, Prof. Bab tiga saya perbaiki minggu ini.”
“Bagus. Bab tiga itu inti tesis kamu. Simulasi CFD-nya harus divalidasi dengan data eksperimen. Kalau perlu, pakai lab termal di Depok. Saya sudah bilang ke kepala lab.” Profesor itu menepuk bahunya lagi. “Jangan telat lagi Kamis depan. Saya nggak bisa terus-terusan maafin kamu cuma karena kamu ganti kapasitor.”
Profesor itu tertawa kecil, lalu pergi.
Aku duduk di balik rak Ekonomi Pembangunan dengan mulut ternganga.
Tesis.
Simulasi CFD.
Lab termal di Depok.
Aku mengeluarkan ponsel, membuka Google, mengetik CFD itu apa, lalu membaca. Computational Fluid Dynamics: cabang mekanika fluida yang menggunakan analisis numerik dan struktur data untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang melibatkan aliran fluida.
Kubaca dua kali, dan tetap tidak mengerti.
Yang kumengerti hanya ini: OB yang setiap pagi membuatkanku kopi, yang kusuruh mengangkut dua belas kardus brosur lewat tangga darurat, yang berlutut mengelap lantai lorong di depan dua puluh tujuh orang, yang memakan roti dari tempat sampah di tangga darurat...
Ia mahasiswa S2 UI.
Dan ia sedang mengerjakan tesis yang oleh dosennya disebut inti.
Ketiga, dan ini bagian yang paling memalukan, aku memutuskan untuk mengumpulkan bukti.
Aku membuka kamera ponsel dan memperbesar sampai maksimal. Gambarnya buram seperti foto UFO. Aku mencoba memotret lewat celah rak, tetapi yang tampak di layar justru punggung buku Repelita III: Tinjauan Sektoral.
Aku pindah ke balik pilar.
Pilarnya terlalu kurus untuk menutupi tubuhku, jadi aku tampak seperti orang yang sedang bermain petak umpet dengan tiang listrik.
Aku pindah lagi ke meja di sebelah rak koran, mengambil koran Kompas, lalu membentangkannya lebar-lebar di depan wajah. Ini teknik detektif di semua film tahun delapan puluhan, dan aku yakin sekali ini akan berhasil.
Dari balik koran, aku mengintip.
Ia sudah tidak ada di mejanya.
Aku menurunkan koran sedikit dan celingak-celinguk. Kursinya kosong, bukunya masih di meja, laptop berkaret gelangnya juga masih di sana.
“Mbak.”
Suaranya dari belakangku. Dekat sekali.
Aku membeku. Seluruh tubuhku kaku seperti manekin di etalase Sarinah.
“Korannya kebalik, Mbak.”
Aku menatap koran di tanganku. Judul utamanya, Harga Cabai Melonjak Jelang Akhir Tahun, terbalik, huruf-hurufnya jungkir balik seperti kalimat dari dunia paralel.
Aku menutup koran itu perlahan, melipatnya menjadi dua, lalu empat. Lalu kuletakkan di meja seolah tidak terjadi apa-apa.
Baru kemudian aku menoleh.
Ia berdiri satu meter di belakangku. Jas almamater kuning, kemeja putih yang kerahnya agak menguning, celana kain. Dengan jas kuning itu ia tampak berbeda. Bukan lebih tampan. Baiklah, sedikit lebih tampan, tetapi lebih tepatnya tampak... pas. Seakan di sinilah tempatnya. Seakan seragam merah marun itu hanya kostum, dan inilah dirinya yang asli.
Wajahnya tidak marah. Tidak panik juga. Ia tampak seperti orang yang baru saja ketahuan, dan anehnya lega karena ketahuan.
“Sejak kapan kamu tahu aku di sini?” tanyaku. Suaraku terdengar santai, padahal wajahku panas seperti habis berjemur di Ancol.
“Sejak Mbak masuk, Mbak. Sepatu Mbak bunyi tak-tak di ubin.” Ia melirik sepatuku. “Lima senti hari ini. Biasanya tujuh.”
Ia hafal tinggi hak sepatuku.
Aku tidak tahu harus merasa apa tentang itu, jadi aku memilih merasa tersinggung.
“Kamu bohong,” kataku. “SMK listrik.”
“Dulu memang SMK, Mbak,” katanya pelan. “Terus S1 di Depok. Terus S2 di sini.”
“Teknik apa?”
“Elektro.”
“Kenapa kamu ngepel lantai?”
Ia diam. Ia memandang ke sekeliling, ke meja-meja yang mulai ramai mahasiswa, ke penjaga perpustakaan yang memperhatikan kami dari meja peminjaman dengan alis berkerut.
“Bukan di sini, Mbak,” katanya. “Senin. Di pantry. Saya jelasin semua.”
“Semua?”
Ia diam sebentar. Matanya menatapku dengan cara yang aneh, seperti orang yang sedang mengukur seberapa jauh ia boleh jujur.
“Sebanyak yang saya bisa,” katanya.
Itu bukan jawaban yang kuinginkan. Namun itu jawaban paling jujur yang pernah ia berikan kepadaku, dan aku tahu bedanya.
“Senin,” kataku. “Jam tujuh. Sebelum Bu Natasha dateng.”
“Iya, Mbak.”
“Kalau kamu kabur...”
“Saya nggak kabur, Mbak.”
“Kalau kamu kabur, aku bakal dateng ke sini tiap Sabtu, duduk di sebelah meja kamu, terus baca koran kebalik keras-keras.”
Ujung bibirnya terangkat, senyum kecil miring itu lagi. Kali ini lebih lebar dan lebih lama, dan sesaat aku melihat giginya. Giginya rapi, dan gigi seri depannya sedikit lebih panjang daripada yang lain, seperti gigi kelinci.
Ternyata senyumnya lucu, dan aku tidak siap menghadapinya.
“Saya nggak kabur, Mbak,” ulangnya.
Ia kembali ke mejanya, duduk, membuka buku lagi, dan menulis rumus seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku membereskan laptop dan tas, berjalan ke tangga, lalu turun dengan sepatu lima senti yang berbunyi tak-tak di ubin kuning pucat. Aku tidak menoleh ke belakang.
Di lantai satu, aku berhenti di depan papan pengumuman. Di sana tertempel daftar mahasiswa yang lolos seleksi Beasiswa Unggulan Pascasarjana semester ini.
Aku mencari namanya dan menemukannya di urutan ketiga.
Pandu Aksara — Magister Teknik Elektro — IPK 3,96.
Kupotret dengan ponsel. Kali ini fokusnya tajam, sama sekali tidak buram.
Di mobil, aku duduk di kursi pengemudi dengan mesin menyala dan AC dingin, tetapi aku tidak kunjung berangkat.
Aku membuka foto daftar beasiswa itu, lalu memperbesar namanya.
Pandu Aksara.
Mahasiswa S2 dengan IPK nyaris sempurna, yang bekerja sebagai OB. Yang sepatunya bolong, yang naik TransJakarta, yang memakan roti dari tempat sampah.
Itu tidak masuk akal. Orang dengan IPK setinggi itu bisa bekerja di mana saja. Ia bisa bekerja di tim R&D Nat dengan gaji sepuluh kali lipat. Ia bisa menjadi engineer di Jepang, Korea, atau Singapura. Kenapa ia memilih mengelap lantai di lantai 58, disiksa bos yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya?
Kenapa?
Aku bersandar ke kursi dan memandangi langit-langit mobil.
Ada sesuatu di dadaku yang retak. Bukan patah, hanya retak. Seperti es di permukaan kolam yang mulai bergaris, tipis, belum pecah, tetapi tidak akan bisa kembali utuh.
Aku tahu retakan apa itu.
Itu retakan di tembok yang kubangun sejak umur lima belas tahun. Tembok bertuliskan nggak akan pernah lagi sama laki-laki yang dompetnya tipis.
Masalahnya, dompetnya masih tipis. Ia tetap OB. Ia tetap naik TransJakarta, dan sepatunya tetap bolong. Gelar S2 tidak membuatnya kaya. Tidak ada yang berubah pada bagian yang kutakutkan.
Yang berubah hanya satu hal. Aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ia hanya OB. Aku tidak bisa lagi meyakinkan diriku sendiri bahwa jantungku berdebar karena adrenalin, karena hampir jatuh, karena lift yang penuh.
Aku mengeluarkan cermin kecil dari tas. Wajahku masih merah.
“Lumayan,” kataku kepada cermin. Suaraku pelan dan ragu. “Cuma... lumayan.”
Bayanganku balas menatapku. Kali ini ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangkat alis, seolah berkata, Serius, Cil? Masih?
Aku menutup cermin dan menjalankan mobil.
Baterai laptopku mati di perjalanan. Laporan seminar untuk Nat baru kukirim pukul enam sore, terlambat satu jam, isinya hanya tiga paragraf yang kuketik di ponsel saat lampu merah.
Nat membalas satu kata: Pendek.
Aku membalas: Seminarnya juga pendek, Nyonya.
Kebohongan kedua kepada Nat dalam dua hari.
Aku tidak tahu akan sampai berapa banyak.
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba reading
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat