Chapter Thirty Six
Sidang Tesis
POV: Pandu
Empat bulan setelah Gambir, aku pindah dari kos tiga kali tiga meter di belakang Margonda.
Bukan karena aku mau, melainkan karena kakakku.
“Atapnya bocor,” katanya. Hari itu hari Minggu, dua minggu setelah rapat direksi, dan ia berdiri di depan pintu kosku dengan kaus abu-abu dan celana jogger, tanpa makeup, dengan jepit kupu-kupu biru di rambut. Ia memandangi noda bekas bocor di langit-langit yang bentuknya seperti peta Pulau Sulawesi. “Kamu tidur di bawah peta Sulawesi.”
“Aku udah biasa, Kak.”
“Kakak nggak biasa.” Ia memandangi kasur busa tipis yang sudah mencetak bentuk punggungku. “Kakak nggak bisa tidur mikirin kamu tidur di sini.”
“Kakak udah bisa tidur pakai lampu mati.”
“Belum semua lampu.” Ia menyilangkan tangan. “Unit 41-D, sebelah apartemen Kakak, kosong. Udah Kakak beli.”
“Beli?”
“Sewa nggak bisa langsung. Pemiliknya di Singapura.” Ia mengangkat bahu seperti orang yang membicarakan membeli gorengan. “Jadi Kakak beli.”
Aku menatapnya.
“Kak. Itu apartemen di Kuningan. Lantai 41.”
“Kamu punya paten di tiga negara, Du. Kamu bisa bayar Kakak cicil kalau mau. Tanpa bunga.” Ia tersenyum. “Atau bayar pakai kopi tiap pagi. Seumur hidup.”
Aku pindah hari Sabtu berikutnya. Bang Mamat mengangkut barang-barangku dengan mobil bak terbuka pinjaman sepupunya. Barangku hanya tiga kardus, satu kasur busa yang langsung dibuang kakakku ke tempat sampah apartemen, satu laptop yang engselnya diikat karet gelang, dan satu kardus mi instan cokelat pudar berisi dua puluh tiga amplop.
Bang Mamat berdiri di tengah unit 41-D yang kosong dan luas, memandangi dinding kaca dengan pemandangan Jakarta dari lantai empat puluh satu.
“Du,” katanya pelan. “Kemarin lu tidur di bawah peta Sulawesi.”
“Iya, Bang.”
“Sekarang lu tidur di atas Jakarta.”
“Iya, Bang.”
Bang Mamat menyeka mata dengan lengan kaus bola KW-nya.
“Utang gorengan lu tetep tiga puluh sembilan ribu,” katanya. “Nggak ada diskon buat orang kaya.”
Empat bulan itu terasa seperti mimpi yang aku takut terbangun darinya.
Setiap pagi pukul enam, aku membuat kopi di dapur unit 41-D. Kopi hitam, dua es batu bening tanpa gelembung. Kubawa ke unit 41-C di sebelah, dan kakakku membuka pintu dengan piyama sutra abu-abu dan rambut berantakan. Ia meminum kopinya di meja makan, sementara aku meminum teh manis yang esnya banyak.
Kami bertukar, dan kami tidak pernah membicarakan kenapa kami bertukar.
Setiap Jumat sore, rooftop Red Tower. Opa sudah keluar dari rumah sakit, memakai tongkat, dan kursi roda untuk jarak jauh. Opa bermain catur denganku. Kakakku duduk di bangku jati di bawah payung krem, membaca laporan kuartal sambil sesekali melirik papan.
Opa masih curang.
“Kuda saya, Opa.”
“Kamu salah lihat.”
“Kakak lihat, Opa,” kata kakakku dari bangku tanpa mengangkat kepala. “Opa mindahin kuda dia ke g1 waktu dia ngelihat ke langit.”
Opa melotot kepada kakakku. Kakakku tidak mengangkat kepala dari laporannya, tetapi ujung bibirnya naik setengah milimeter.
Setiap Kamis malam, Salemba. Ruang 304, Prof. Harun, dan Bonar yang bertanya aku bekerja di mana sekarang. Kujawab di gedung yang ada AC-nya, dan Bonar tertawa sampai Prof. Harun melotot.
Tiga bulan setelah Gambir, aku terbang ke Singapura bersama Prof. Harun. Konferensi internasional manajemen termal, dengan presentasi paper dari bab tiga tesisku: data eksperimen chip honeycomb grafit, yang kini sudah dipakai di tiga ratus ribu unit Red X yang beredar di tiga puluh kota di Indonesia.
Paper-ku diterima di prosiding terindeks, dan komite beasiswa rapat seminggu kemudian.
Status beasiswaku dipulihkan.
Prof. Harun meneleponku untuk menyampaikan kabar itu. Di akhir telepon, sebelum menutupnya, ia mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan beasiswa.
“Pandu. Saya nelpon adik saya kemarin. Di Medan.”
Aku diam.
“Tiga belas tahun nggak ngomong. Saya nelpon jam sembilan malem. Dia angkat di dering pertama. Kayak dia udah nunggu dengan HP di tangan selama tiga belas tahun.” Prof. Harun diam lama. “Kami ngomong dua jam. Soal rumah di Pematang Siantar yang roboh. Ternyata dia juga nyimpen foto rumah itu di dompetnya. Sama kayak saya.”
“Prof...”
“Rumahnya udah roboh, Pandu. Tapi kami belum.” Suara Prof. Harun serak. “Makasih udah ngingetin saya.”
Sidang tesisku dijadwalkan hari Kamis, empat bulan dua minggu setelah Gambir. Ruang Sidang Pascasarjana Fakultas Teknik UI, kampus Salemba, pukul sepuluh pagi.
Ruang sidang biasanya hanya diisi mahasiswa, tiga dosen penguji, dan satu-dua teman yang datang untuk memberi semangat.
Hari itu ruang sidang penuh.
Aku berdiri di depan layar proyektor dengan jas abu-abu arang, satu-satunya jas yang kupunya, yang kubeli di Pasar Baru. Dasi biru tua, yang kali ini simpulnya lurus karena kakakku membetulkannya tadi pagi di lift.
Aku memandang ke arah kursi-kursi penonton dan lupa cara bernapas.
Di barisan paling depan, kursi paling kiri, Opa duduk di kursi roda dengan jas tua yang dulu ia pakai untuk menandatangani kontrak dengan Toshiba. Di pangkuannya ada selimut tipis, dan di saku jasnya ada tonjolan kecil. Aku tahu apa itu: raja putih dari papan catur rooftop.
Di sebelah Opa ada Bu Ratna dengan kerudung krem dan tongkat kayu, dan delapan anak panti berseragam sekolah. Dimas, yang dulu jatuh dari pohon jambu, duduk paling depan, lututnya masih berbekas koreng. Mereka membawa kertas karton bertuliskan SEMANGAT KAK PANDU!!! dengan spidol warna-warni, lengkap dengan gambar senter kuning yang bentuknya lebih mirip pisang.
Di barisan kedua, tujuh OB vendor PT Red Facility Services, semuanya memakai seragam merah marun. Bang Mamat di tengah, kancing perutnya terpasang kencang dan kumisnya disisir rapi. Di sebelahnya Mas Ujang, OB lantai 59 yang anaknya baru lahir, menggendong bayi yang tidur nyenyak dalam gendongan kain batik.
Di barisan ketiga ada Pak Joko dengan kemeja batik, Yudhis dengan kacamata baru tanpa selotip, Mbak Rani, dan Tiara dengan bulu mata palsu yang sepertinya model paling baru, dramatic doll-eye.
Di barisan keempat, Pak Hardiman. Aku tidak tahu kenapa Pak Hardiman datang. Ia duduk dengan permen jahe di tangan dan senyum seorang kakek yang melihat cucunya mengoreksi guru.
Di barisan kelima, Bonar dan sepuluh mahasiswa kelas paralel. Bonar mengangkat jempol dan berteriak, “SEMANGAT, PANDU! KALAU KAU GAGAL, AKU YANG MALU!”
Prof. Harun melotot kepada Bonar dari meja penguji.
Dan di barisan paling depan, kursi paling kanan, di sisi Opa yang satunya, duduk dua perempuan.
Kakakku memakai blazer merah tua dengan bros bintang safir milik Oma di kerahnya. Rambutnya disanggul rendah, dan di sanggulnya terselip jepit kupu-kupu biru yang sayapnya retak.
Di sebelahnya, Cecil. Blus putih sutra, blus yang ia pakai ketika wawancara kerja tiga tahun lalu. Rok pensil abu-abu, kacamata emas pucat. Ia tidak membawa tablet. Ia hanya duduk dengan kedua tangan di pangkuan, memandangiku.
Kakakku memandangiku dari barisan depan dan mengangguk sekali. Pelan dan kecil, seperti CEO yang memberi izin presentasi dimulai.
Cecil tersenyum. Bibirnya bergerak tanpa suara.
Bayaran.
Aku tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan gigi kelinciku.
Lalu aku menoleh kepada tiga dosen penguji dan mulai.
Aku tidak ingat semua yang kupresentasikan.
Aku ingat slide pertama, judul tesisku: Manajemen Termal Baterai Litium-Ion pada Perangkat Portabel di Iklim Tropis: Pendekatan Material Perubahan Fasa dengan Struktur Honeycomb Grafit.
Aku ingat slide kelima, grafik margin termal yang naik dari minus tiga koma dua persen menjadi plus empat koma satu persen. Di barisan ketiga, Yudhis bertepuk tangan sendirian, lalu berhenti karena Prof. Harun melotot.
Aku ingat slide kedua belas, foto unit Red X di dasbor mobil di parkiran outdoor Red Tower pukul dua belas siang. Casing-nya utuh dan baterainya tidak menggembung.
Aku ingat pertanyaan dari dosen penguji kedua, profesor perempuan dari ITB yang datang khusus. Ia bertanya tentang rasio porositas grafit.
“Delapan puluh persen, Bu,” jawabku.
Di barisan ketiga, Yudhis berbisik keras, “Tengah-tengah,” dan Pak Joko menyikutnya.
Aku ingat pertanyaan terakhir dari Prof. Harun, ketua penguji. Bukan pertanyaan teknis.
Prof. Harun membuka halaman paling depan tesisku yang dijilid hardcover biru tua, halaman persembahan. Ia membacanya dalam diam, lama. Lalu ia mengangkat kepala dan menatapku dari balik kacamata baca yang melorot di ujung hidungnya.
“Saudara Pandu,” katanya. “Halaman persembahan Saudara cuma satu kalimat.”
“Iya, Prof.”
“Bisa Saudara bacakan untuk forum?”
Aku diam.
Ruang sidang diam. Opa, Bu Ratna, delapan anak panti, tujuh OB berseragam merah marun, Pak Joko, Yudhis, Tiara, Pak Hardiman, Bonar. Kakakku dan Cecil.
Aku tidak perlu membuka tesisnya. Aku hafal kalimat itu. Aku menulisnya pukul tiga pagi di unit 41-D, di meja makan yang baru, di bawah lampu berdiri yang cahayanya kuning hangat.
“Untuk Kakak,” kataku. Suaraku keluar pelan, tetapi ruang sidang terlalu sunyi untuk menyembunyikan apa pun. “Yang bilang gelap itu cuma lampu yang lagi istirahat. Tesis ini adalah lampu yang aku nyalain balik.”
Ruang sidang hening.
Di barisan paling depan, kakakku menutup mulut dengan kedua tangan.
Bros bintang safir di kerahnya bergetar. Jepit kupu-kupu biru di sanggulnya bergetar. Bahunya bergetar.
Cecil menggenggam tangan kakakku di pangkuan tanpa menoleh. Ia hanya memandangiku, dengan mata basah di balik kacamata.
Di sebelah mereka, Opa menangis dan tidak menyembunyikannya. Bu Ratna menangis di balik kerudung kremnya. Dimas, yang tidak mengerti apa-apa, bertanya keras kepada anak panti di sebelahnya, “Kenapa semua orang nangis? Kak Pandu nggak lulus?” Anak di sebelahnya mencubit lengannya.
Di barisan kedua, Bang Mamat menangis paling keras. Bukan tangis yang diam, melainkan tangis yang bunyinya seperti motor dua tak. Mas Ujang di sebelahnya menepuk-nepuk punggungnya sambil tetap menggendong bayi. Bayinya terbangun dan ikut menangis.
Prof. Harun melepas kacamata bacanya perlahan dan mengelap lensanya dengan ujung kemeja batiknya, walaupun lensanya tidak kotor.
“Sidang ditutup,” katanya serak. “Kami akan berdiskusi. Saudara silakan keluar.”
Lima belas menit kemudian, aku dipanggil masuk lagi.
Prof. Harun berdiri di belakang meja penguji. Kacamata bacanya sudah kembali di ujung hidung, wajahnya galak dan adil seperti biasa.
“Saudara Pandu Aksara,” katanya. “Berdasarkan hasil sidang, tim penguji menyatakan Saudara lulus dengan nilai A.”
Ruang sidang meledak.
Bonar berteriak “HORAS!” sampai sepertinya terdengar ke ruang sidang sebelah. Delapan anak panti mengangkat kertas karton SEMANGAT KAK PANDU!!! tinggi-tinggi, dengan senter kuning yang bentuknya seperti pisang. Tujuh OB berseragam merah marun berdiri dan bertepuk tangan seperti penonton sepak bola, dan Bang Mamat masih menangis. Tiara menjerit-jerit. Yudhis membungkuk sembilan puluh derajat ke arahku dari barisan ketiga. Pak Joko melempar kacang kulit ke udara, dan Pak Hardiman tertawa sambil terbatuk.
Prof. Harun mengetuk meja dengan pulpen tiga kali.
“Dengan predikat cum laude,” lanjutnya, lebih keras. “Dan saya belum selesai ngomong!”
Ruang sidang kembali diam.
Prof. Harun menatapku dari balik kacamata bacanya.
“Dan saya mau bilang satu hal lagi,” katanya. “Bukan sebagai penguji. Sebagai dosen yang udah dua tahun ngajar Saudara.” Ia diam sejenak. “Kamu datang ke kelas saya waktu tipes. Kamu ganti kapasitor AC sebelum kuliah. Kamu absen UTS satu kali, dan alasannya karena kamu lagi jagain kakakmu tanpa dia tahu.”
Ia melirik ke barisan depan, kepada kakakku.
Kakakku menatap Prof. Harun dengan mata membesar. Aku tidak pernah bercerita kepadanya tentang UTS itu, tentang alasan aku tidak bisa kuliah pada Kamis malam itu. Ia hanya tahu dari Cecil bahwa aku berbohong soal kuliah yang libur.
Sekarang ia tahu.
Kakakku tidak menangis. Ia hanya menatapku lama dari barisan depan, dengan wajah yang kukenal dari lima belas tahun lalu. Wajah seorang kakak yang adiknya pulang sekolah dengan baju sobek, dan ia tahu siapa pelakunya.
Bedanya, kali ini pelakunya ia sendiri.
Ia mengangguk pelan kepadaku, sekali. Bibirnya bergerak.
Daftar nomor enam.
Aku tersenyum kepadanya. Aku menggeleng pelan.
Udah lunas, Kak.
Pukul sembilan malam, unit 41-D.
Bukan unit 41-C. Kakakku sudah tidur sejak pukul delapan, kelelahan setelah seharian penuh. Opa bersikeras mentraktir semua orang makan di restoran Padang di Salemba sampai pukul enam sore. Bang Mamat menambah rendang tiga kali, dan Dimas jatuh dari kursi.
Cecil di apartemenku.
Ia duduk di sofa abu-abu baru yang dibeli kakakku tanpa menanyakan warna apa yang kumau. Sepatunya sudah dilepas, blus sutra putihnya kusut di bagian lengan, dan rambutnya sudah lepas dari ikatan, terurai di bahu.
Di meja kopi ada dua gelas teh manis yang esnya sudah mencair dan sekotak martabak manis keju cokelat yang tinggal setengah.
Lampu yang menyala hanya lampu berdiri di sudut ruangan, cahayanya kuning hangat.
“Cum laude,” kata Cecil.
“Iya.”
“Halaman persembahan cuma satu kalimat.”
“Iya.”
“Bang Mamat nangis kayak motor dua tak.”
Aku tertawa.
“Dan kakak kamu,” kata Cecil pelan, “baru tahu soal UTS.”
Tawaku berhenti.
“Iya,” kataku. “Prof. Harun yang bilang.”
“Dia nggak marah?”
“Dia bilang daftar nomor enam.” Aku memandangi lampu berdiri di sudut. “Aku bilang udah lunas.”
Cecil diam lama, lalu bersandar ke bahuku.
“Kamu tahu,” katanya. “Kamu orang paling nyebelin yang pernah aku kenal.”
“Kenapa?”
“Karena kamu selalu bilang semuanya udah lunas. Utang gorengan Bang Mamat aja kamu nggak boleh bayar. Tapi kamu selalu bilang utang orang lain ke kamu udah lunas.”
Aku tidak menjawab.
Ia mengangkat kepala dari bahuku, lalu melepas kacamatanya perlahan dan meletakkannya di meja kopi, di sebelah gelas teh manis.
Tanpa kacamata, matanya terlihat lebih besar, lebih gelap, dan lebih terbuka. Seperti jendela yang tirainya disibakkan.
“Mas OB,” katanya.
“Aku udah bukan OB, Cil.”
“Kamu OB-ku.” Ia menatapku dari jarak sejengkal. “Selamanya. Aku nggak peduli kamu cum laude atau punya paten di tiga negara atau tinggal di lantai 41.”
Aku tidak bisa bernapas.
Ia menciumku.
Pelan pada awalnya, lalu dalam. Lebih dalam daripada di apartemennya di Tebet empat bulan lalu, lebih dalam daripada apa pun.
Tangannya menyelinap ke rambutku. Tanganku menemukan pinggangnya, punggungnya, dan menariknya lebih dekat, sampai ia berada di pangkuanku dan tidak ada lagi jarak di antara kami. Rambut panjangnya jatuh di kedua sisi wajahku seperti tirai.
Rasanya seperti teh manis, martabak, dan sesuatu yang hanya dirinya.
Ia menarik diri sebentar, hanya untuk bernapas. Dahinya menempel di dahiku.
“Pandu,” bisiknya.
“Hm.”
“Semua rahasia kamu udah aku tahu,” katanya pelan. Napasnya hangat di bibirku. “Lentera, S2, kakak kamu. Rahasia kesembilan.”
Tangannya turun perlahan dari rambutku ke kerah kemejaku. Kancing paling atas.
“Sekarang alasan kamu apa lagi?”
Kancing paling atas terbuka.
Ia menciumku lagi, dan tangannya berpindah ke kancing kedua.
Seluruh darahku lupa ke mana harus mengalir. Jantungku berdegup keras dan cepat, seperti orang yang baru menaiki enam puluh lantai tangga darurat. Tanganku di pinggangnya meremas kain blus sutra putihnya, dan aku tidak ingin melepaskannya.
Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi yang kusembunyikan darinya. Tidak ada alasan.
Kecuali satu.
Tanganku naik dan menggenggam tangannya di kancing kedua kemejaku. Bukan untuk melepaskannya, hanya menggenggam, hangat dan gemetar.
Aku menarik diri perlahan, dengan dahi masih menempel di dahinya.
Ia diam, menunggu. Napasnya berantakan.
“Belum, Cil,” bisikku.
Ia tidak bergerak. Ia tidak marah, dan tidak berkata kamu nolak AKU? Ia hanya diam di pangkuanku, dahinya di dahiku, dan napasnya perlahan melambat.
“Rahasia kamu udah habis,” bisiknya. “Alasan kamu apa?”
Aku menarik napas panjang.
“Aku mau kamu pakai nama yang sama denganku dulu.”
Hening.
Hening yang panjang, hangat, dan aneh.
Ia menarik kepalanya dari dahiku, perlahan, sampai bisa melihat wajahku. Tanpa kacamata, matanya menyipit, mencoba fokus.
“...Apa?”
“Nama yang sama,” ulangku. Wajahku panas seperti habis berjemur di Ancol pukul dua belas siang. “Aku mau kamu... pakai nama yang sama dulu. Sama aku. Baru... baru yang lain.”
Ia menatapku lama. Lama sekali.
Lalu matanya membesar perlahan, seperti tirai layar bioskop yang terangkat sebelum film dimulai.
“Kamu...” bisiknya. “Kamu barusan... ngelamar aku?”
“Belum.”
“Belum?”
“Itu cuma...” Aku menelan ludah. “Itu cuma bocoran, Cil.”
Ia menatapku. Mulutnya setengah terbuka.
Lalu ia tertawa.
Tawa yang meledak, keras, dan sama sekali tidak elegan. Tawa yang membuatnya jatuh dari pangkuanku ke sofa abu-abu dan berguling sambil memegangi perut. Rambutnya berantakan, dan dua kancing kemejaku masih terbuka.
“BOCORAN?” teriaknya ke langit-langit apartemen. “Kamu... kamu nahan aku dua kali, tiga kali, terus alasannya... bocoran lamaran?”
“Cil, pelan, Kakak di sebelah...”
“KAKAK KAMU DI SEBELAH?!” Cecil tertawa makin keras. “Ya Tuhan! Ya Tuhan, Pandu! Kamu ngasih bocoran lamaran sambil kancing kemeja kamu kebuka dua, dengan kakak kamu, CEO Red Electronics, tidur di balik tembok setebal dua puluh senti!”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Ia tertawa lama sekali. Lalu tawanya mereda perlahan, menjadi senyum, lalu menjadi diam.
Ia duduk lagi di sofa, mengambil kacamatanya dari meja kopi, dan memakainya. Lalu ia menatapku dengan jelas, tanpa buram.
“Aku nggak denger apa-apa,” katanya.
“...Apa?”
“Tadi.” Ia membetulkan kacamatanya. “Bocoran. Aku nggak denger. Aku lagi sibuk ngelihatin bibir kamu.”
Aku menatapnya.
Ia tersenyum, senyum kucing yang baru menemukan tempat tidur paling empuk di rumah.
“Jadi kalau nanti kamu ngelamar beneran,” lanjutnya, “aku bakal kaget. Kaget beneran. Muka aku bakal kayak di ruang Crimson waktu kamu masuk pakai jas. Tablet aku bakal jatuh lagi.” Ia menopangkan dagu di telapak tangan. “Pokoknya aku nggak tahu apa-apa. Paham, Mas OB?”
“...Paham, Bu Sekretaris.”
“Bagus.” Ia mengulurkan tangan dan memasang kembali kancing kemejaku satu per satu. Kancing kedua, lalu kancing pertama. Pelan dan rapi, seperti melipat surat penting. “Ini hukuman. Kamu yang buka...”
“Kamu yang buka, Cil.”
“...aku yang buka, kamu yang dipasangin. Itu hukumannya.” Ia menepuk dadaku dua kali, di atas kancing yang baru dipasang. “Lunas.”
Ia berdiri, mengambil tas dan sepatunya, lalu berjalan ke pintu.
Di ambang pintu ia menoleh.
“Pandu.”
“Hm?”
“Jangan lama-lama,” katanya pelan. “Bocorannya.”
Pintu tertutup.
Aku duduk sendirian di sofa abu-abu di unit 41-D, di bawah cahaya kuning lampu berdiri di sudut ruangan.
Dari balik tembok setebal dua puluh senti, dari unit 41-C di sebelah, kudengar sesuatu. Bunyinya pelan, seperti orang yang sedang menahan tawa di balik bantal.
Aku memandangi tembok itu.
Ponselku bergetar.
Kakak: Tembok ini 20 cm, Du.
Kakak: Bukan 2 meter.
Kakak: “Bocoran” kamu kedengeran sampai kamar Kakak.
Aku menutup wajah dengan bantal sofa.
Ponselku bergetar lagi.
Kakak: Kakak bakal pura-pura nggak tahu juga.
Kakak: Tapi kalau kamu butuh bantuan buat yang beneran, Kakak punya 60 lantai gedung yang lampunya bisa dimatiin dan dinyalain satu-satu.
Kakak: Bilang aja.
Aku menurunkan bantal dari wajah dan menatap pesan terakhir itu.
Enam puluh lantai yang lampunya bisa dimatiin dan dinyalain satu-satu.
Aku tersenyum kepada layar ponsel.
Lalu, tanpa sadar, aku bersenandung. Pelan, nada yang naik turun seperti ayunan, dengan lompatan kecil di bar ketiga. Lalu turun, terus turun, lalu berhenti di nada yang tidak selesai.
Dari balik tembok setebal dua puluh senti, ada suara lain yang ikut bersenandung, pelan dan agak sumbang.
Nadanya sama, dan berhenti di tempat yang sama.
Lagu yang belum selesai.
Belum, bukan nggak.
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis reading
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat