Chapter Five

Kopi Ketujuh

POV: Natasha

Kami mohon maaf, Ibu. Atas instruksi langsung Chairman Redcliff Group, personel tersebut tetap ditugaskan di lantai 58. Personel berada di bawah kontrak PT Red Facility Services (Redcliff Properties), sehingga penggantian memerlukan persetujuan Chairman. Hormat kami, Darmawan Hutagalung.

Aku membaca email itu tiga kali pada Senin pagi pukul enam lewat empat puluh. Aku masih di mobil, macet di Jalan Rasuna Said, dan lampu merah di depan sepertinya sengaja lama.

Atas instruksi langsung Chairman.

Opa tidak pernah ikut campur urusan operasional. Ketika aku memecat Direktur Pemasaran yang ketahuan mark-up anggaran iklan tiga miliar, Opa tidak ikut campur. Ketika aku menutup pabrik di Batam dan sembilan ratus orang berdemo di depan Red Tower, Opa hanya berkata, “Kamu yang pegang kemudi.”

Tetapi untuk seorang OB, Opa turun tangan.

Aku menelepon.

Opa mengangkat di dering keempat. Suaranya serak dan malas, suara orang tua yang baru bangun dan belum minum teh.

“Pagi, Tasha.”

“Opa, kenapa Opa nahan OB lantai 58?”

“OB yang mana?”

“Opa tahu yang mana.”

“Ah. Pandu.” Dia menyebut nama itu dengan santai, seperti menyebut nama tukang kebun. “Kenapa? Dia nyuri?”

“Dia nggak sopan. Dia bicara di rapat direksi tanpa ditanya...”

“Dan dia benar. Minus tiga koma dua, kan? Hardiman sudah cerita ke semua orang. Sampai satpam pun tahu.”

Aku mengatupkan rahang.

“Opa. Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal tata krama lantai eksekutif.”

“Tata krama lantai eksekutif itu kamu yang bikin, kan? Tahun lalu? Yang ada larangan pakai sandal Crocs di lorong?”

“Opa...”

“Dia kontrak dengan Redcliff Properties, Tasha. Bukan Red Electronics. Kamu nggak punya wewenang atas dia.” Dia diam sebentar, dan aku mendengar bunyi sendok berdenting di cangkir. “Lagi pula dia bikin kopi yang enak.”

“Opa nggak minum kopi. Dokter Gunawan larang Opa minum kopi sejak tahun 2019.”

“Makanya saya tahu. Orang yang nggak boleh minum kopi itu paling peka sama bau kopi yang enak.”

Itu logika yang paling tidak masuk akal yang pernah kudengar, padahal aku pernah duduk di rapat yang sama dengan investor kripto.

“Opa kenal dia dari mana?”

Hening, terlalu lama.

“Saya kenal semua orang di gedung saya, Tasha.”

“Opa nggak kenal semua orang. Opa nggak tahu nama satpam lobi.”

“Namanya Sugeng.”

Dia benar. Itu yang membuatku makin kesal.

“Opa...”

“Tasha.” Suaranya berubah pelan, tidak lagi main-main. “Biarin dia kerja. Kalau kamu nggak suka lihat dia, jangan dilihat.”

Telepon ditutup.

Aku menatap layar ponsel sampai lampu merah berubah hijau, dan sopir di belakang mengklakson tiga kali.

Jangan dilihat.

Gampang buat Opa. Opa tidak harus melihat orang itu di depan pintunya setiap pagi.


Pukul tujuh lewat lima, aku sampai di lantai 58.

Cecil sudah di mejanya, rapi dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Sepatunya baru, hak tujuh senti, warna nude. Minggu lalu ia memakai yang hitam. Aku mencatat itu tanpa tahu kenapa.

“Pagi, Bu. Jadwal hari ini...”

“Kopi,” kataku.

Cecil berhenti dengan tablet setengah terangkat.

“OB yang bikin,” tambahku.

Satu alis Cecil naik. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi alis itu sudah berbicara lebih banyak daripada satu paragraf.

Lima menit kemudian dia mengetuk pintuku.

Dia masuk membawa nampan kecil dengan cangkir keramik putih, tatakan, dan tisu yang dilipat segitiga. Kopinya hitam, dua es batu bening mengapung di permukaan. Dari aromanya aku tahu biji kopinya disangrai sedang, bukan sachet. Ia pasti memakai biji dari kaleng di lemari pantry eksekutif yang hanya aku dan direksi yang boleh minta.

Dia meletakkan nampan itu di mejaku, mundur selangkah, lalu berdiri dengan tangan di belakang punggung. Posisi siap, tetapi tidak kaku. Matanya tidak menatapku, melainkan sedikit ke bawah, ke sudut meja.

Aku menyesap.

Kopinya enak, dan memang itu masalahnya.

“Terlalu pahit,” kataku. “Ulang.”

“Baik, Bu.”

Dia mengambil cangkir itu dan keluar tanpa ekspresi apa-apa.


Kopi kedua datang tujuh menit kemudian.

“Terlalu encer. Ulang.”

“Baik, Bu.”

Kopi ketiga.

“Es batunya terlalu kotak.”

Aku mendengar suara kecil dari luar pintu yang setengah terbuka. Cecil berdeham, seperti orang yang menahan tawa atau menahan sesuatu yang lain.

Dia memandang es batu di cangkir itu sedetik, hanya sedetik, dan aku bisa melihat ia sedang mencoba memahami apa artinya terlalu kotak. Es batu dari mesin pembuat es di pantry memang bentuknya kotak. Semua es batu di dunia, kecuali di bar mahal, bentuknya kotak.

“Baik, Bu.”

Kopi keempat datang dengan es batu yang sudah dipecah menjadi kepingan-kepingan tidak beraturan. Aku tidak tahu dengan apa ia memecahnya. Mungkin dengan sendok, mungkin dengan giginya.

“Suhunya salah.”

“Baik, Bu.”

Kopi kelima.

“Cangkirnya. Saya nggak suka cangkir ini.”

Itu cangkir yang sama yang kupakai setiap hari selama dua tahun.

“Baik, Bu.”

Kopi keenam datang dengan cangkir lain, keramik biru tua dari set yang biasanya untuk tamu Jepang.

“Terlalu lama. Kopinya sudah nggak segar.”

Dia baru keluar empat menit.

“Baik, Bu.”

Setiap kali ia mengucapkan baik, Bu, nadanya tidak berubah. Tidak kesal, tidak takut, tidak ada sindiran. Dia mengucapkannya seperti orang menyebut jam, datar, sopan, dan entah kenapa sabar. Sabarnya bukan sabar orang yang menahan diri, melainkan sabar orang yang sudah terbiasa.

Dan itu membuatku makin marah.

Kopi ketujuh datang pukul delapan kurang tiga menit. Aku sudah membaca dua halaman laporan dan tidak ingat satu kata pun.

Dia meletakkan cangkir di meja. Kali ini cangkirnya kembali ke cangkir putihku, es batunya dua, kotak, bening. Persis seperti yang pertama.

Aku menyesap.

Rasanya sama persis dengan kopi pertama, yang kutolak karena “terlalu pahit”. Padahal itu tidak terlalu pahit. Itu sempurna.

Aku berdiri dan berjalan ke sudut ruangan, tempat pot monstera besar yang dirawat agensi tanaman setiap Kamis. Lalu aku menuang seluruh isi cangkir ke tanahnya pelan-pelan, sampai dua es batu itu jatuh dan tergeletak di atas tanah basah bagai dua kelereng bening.

“Biar dia aja yang minum,” kataku.

Dari luar pintu, aku mendengar Cecil berbisik ke dirinya sendiri, cukup keras untuk sampai ke dalam:

“Ya Allah.”

OB itu tidak bergerak. Dia melihat pot monstera itu, lalu ke cangkir kosong di tanganku. Ekspresinya tidak berubah, tetapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang turun pelan-pelan, seperti tirai yang ditutup di jendela lantai bawah.

“Baik, Bu,” katanya. “Saya buat lagi.”

Dia mengambil cangkir dari tanganku. Jarinya tidak menyentuh jariku; ia sengaja menghindar. Lalu dia keluar.

Aku kembali duduk dan menatap laporan di depanku.

Tanganku gemetar. Sedikit, hanya di ujung jari.

Aku tidak tahu kenapa.


Cecil masuk sebelum kopi kedelapan datang. Dia menutup pintu di belakangnya, sesuatu yang jarang ia lakukan kecuali untuk dokumen rahasia.

“Bu.”

“Apa?”

“Kopi yang ketiga itu udah pas, loh.”

Aku mengangkat kepala.

“Kamu minum?”

“Nggak. Tapi saya cium baunya.” Ia mendorong kacamatanya ke atas dengan jari telunjuk. “Dan yang pertama juga pas. Ibu tahu itu.”

“Kamu sekarang pembela hak asasi OB?”

“Saya pembela hak asasi monstera, Bu. Itu tanaman dua belas juta. Agensinya bakal nangis hari Kamis.”

Dia berusaha bercanda. Tetapi matanya tidak bercanda, matanya serius dan sedikit kecewa. Itu tatapan yang dulu ia tunjukkan ketika aku memecat staf magang yang terlambat sepuluh menit karena ibunya masuk rumah sakit.

“Kembali ke meja kamu, Cecilia.”

Dia menatapku dua detik, lalu keluar.

Pintunya tidak ia tutup rapat. Mungkin itu disengaja, mungkin juga tidak.


Kopi kedelapan datang pukul delapan lewat sebelas.

Dia meletakkan cangkir di mejaku, cangkir putih dengan dua es batu kotak bening. Lalu dia meletakkan sesuatu yang lain di sebelahnya.

Sebuah piring kecil. Di atas piring itu ada roti yang masih di dalam plastik bening, dan plastiknya ditempeli stiker oranye sederhana yang dicetak di printer rumahan dengan tulisan:

ROTI SOBEK CI LAN — DEPOK

Duniaku berhenti.

Roti sobek cokelat. Empat bagian yang bisa disobek, dengan isi cokelat meleleh yang selalu bocor ke pinggir plastik dan membuat jari belepotan.

Setiap Minggu pagi, setelah anak-anak panti pulang dari gereja dan masjid dan kelas mengaji, Bu Ratna membeli tiga roti sobek dari Ci Lan untuk dibagi sepuluh anak. Setiap anak mendapat satu sobekan, dan yang paling kecil mendapat dua.

Adikku selalu mendapat dua, dan ia selalu memberikan satu kepadaku.

Lalu aku membelah sobekanku menjadi dua lagi dan memberikan bagian yang cokelatnya lebih banyak kepadanya. Lalu ia protes, “Kak, itu punya Kakak,” lalu aku menjawab, “Kakak udah kenyang,” padahal belum. Lalu ia makan pelan-pelan sambil memperhatikanku, seolah memeriksa apakah aku berbohong.

Aku memang berbohong. Setiap Minggu, selama empat tahun, aku berbohong.

Aku berhenti makan roti sobek sejak umur enam belas. Aku juga berhenti minum teh manis, dan berhenti makan apa pun yang manis. Rasa manis membuatku ingat, dan ingatan itu tidak menggerakkan angka.

“Siapa yang suruh kamu beli ini?”

Suaraku keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan.

“Nggak ada, Bu,” katanya. “Kemarin saya lewat Depok. Saya pikir Ibu belum sarapan.”

“Kamu tinggal di Depok?”

“Kos, Bu.”

Kos di Depok. Banyak orang kos di Depok. Ada ratusan ribu mahasiswa dan pekerja kos di Depok. Toko roti Ci Lan juga bukan rahasia. Tokonya terkenal sejak tahun sembilan puluhan, tercantum di Google Maps dengan rating empat koma tujuh, dan anak muda sekarang membuat video TikTok soal roti itu.

Ini kebetulan.

Kedelapan kalinya.

Aku tidak akan kalah oleh kebetulan.

Aku mengambil roti itu, masih di dalam plastiknya. Aku tidak membuka atau menciumnya, karena kalau aku mencium baunya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

Aku melemparnya ke tempat sampah di samping mejaku.

Roti itu jatuh ke dasar tempat sampah stainless dengan bunyi pelan, tuk, seperti suara orang mengetuk pintu dengan ragu.

“Saya nggak minta,” kataku.

Dia melihat tempat sampah itu.

Lalu ia menatapku. Ini pertama kalinya dia benar-benar menatap mataku, langsung, tanpa menunduk, tidak lama, mungkin hanya satu detik.

Aku tidak bisa membaca apa yang ada di mata itu. Bukan marah, bukan sedih. Seperti orang yang sedang berdiri di peron stasiun dan melihat kereta yang ditunggunya lewat tanpa berhenti.

“Baik, Bu,” katanya.

Dia mengangguk sekali, lalu keluar.

Aku menyesap kopi kedelapan. Sempurna. Persis seperti yang pertama, dan persis seperti yang ketujuh.

Rasanya seperti menelan pasir.


Hari itu berjalan seperti hari lain. Rapat pukul sembilan, sebelas, dua, empat. Aku menandatangani empat puluh tiga dokumen, menolak dua proposal, menyetujui satu akuisisi kecil di Vietnam. Aku tidak keluar ruangan untuk makan siang, karena Cecil membawakanku salad yang tidak kusentuh.

OB itu tidak muncul lagi di ruanganku hari itu. Kopi sore diantar Cecil, dan aku tidak bertanya siapa yang membuatnya.

Pukul sembilan malam aku masih di kantor. Lantai 58 sudah kosong. Cecil pulang pukul tujuh setelah kuusir tiga kali, dan lampu lorong sudah redup ke mode malam.

Aku berdiri untuk mengambil map di rak, dan mataku jatuh ke tempat sampah di samping meja.

Kosong.

Kantong plastiknya sudah diganti yang baru dan bersih, dilipat rapi di pinggiran. Rotinya tidak ada.

Tentu saja. OB membersihkan tempat sampah setiap sore, itu bagian dari pekerjaan mereka. Rotinya pasti sudah dibuang ke tempat sampah besar di B2, lalu diangkut truk ke Bantar Gebang, lalu menjadi bagian dari gunung sampah Jakarta yang tingginya sudah melewati gedung lima belas lantai.

Kenapa aku peduli?

Aku berdiri di depan tempat sampah kosong itu lama. Terlalu lama, cukup lama sampai lampu sensor gerak di ruanganku padam karena mengira tidak ada orang.

Gelap.

Napasku langsung pendek, dan tanganku mencari ponsel di saku blazer. Aku menyalakan senter ponsel dengan jari gemetar dan mengayunkan tanganku di udara supaya lampu sensornya menyala lagi.

Lampu menyala.

Aku berdiri di tengah ruangan CEO lantai 58, perempuan tiga puluh satu tahun yang mengendalikan perusahaan dengan pendapatan dua puluh tiga triliun per tahun. Ponselku masih menyala di tangan, dan jantungku berdebar seperti anak kecil yang terbangun di kamar asing.

Aku duduk lagi di kursiku.

Aku teringat matanya, mata OB itu, waktu roti itu jatuh ke tempat sampah. Mata orang di peron stasiun.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku menyuruh orang membuat kopi delapan kali, menuang kopi yang sempurna ke pot tanaman, dan membuang roti yang dibeli seseorang karena dia pikir aku belum sarapan.

Aku tahu orang-orang di gedung ini menyebutku Ratu Es. Tetapi aku tidak pernah kejam tanpa alasan. Setiap keputusanku punya angka, punya data, punya logika yang bisa dipertanggungjawabkan di depan direksi.

Hari ini tidak ada angkanya.

Yang ada hanya roti sobek cokelat dari Depok dan sebuah nama yang seharusnya tidak ada di gedungku.

Aku menatap tempat sampah kosong itu sekali lagi.

Lalu aku membuka laporan, menyalakan semua lampu di ruangan sampai paling terang, dan bekerja sampai pukul sebelas malam. Aku bekerja sampai otakku terlalu lelah untuk mengingat aroma roti yang tidak sempat kucium.

Di pot monstera di sudut ruangan, dua es batu yang tadi pagi kutuang sudah lama mencair dan meresap ke dalam tanah.

Seperti tidak pernah ada.