Chapter Seven
Kelas Malam
POV: Pandu
Setiap pagi, notifikasi WhatsApp pertama di ponselku datang dari nomor yang kini kusimpan sebagai Mbak Cecil (58). Angka 58 kutambahkan supaya kalau ponselku hilang, orang yang menemukannya mengira itu kontak kerja.
Isinya memang urusan kerja. Sebagian.
Mbak Cecil (58): Pagi. Kopi satu sendok gula, krimer setengah. Jangan lupa.
Mbak Cecil (58): Btw liftnya semalem bawa kamu ke lantai berapa aja?
Aku: Lantai 12, 23, sama 31, Mbak. Ada satpam masuk di 31. Dia nanya saya ngapain naik-turun sendirian. Saya bilang lagi ngecek lift.
Mbak Cecil (58): Hahahaha
Mbak Cecil (58): Kamu tuh ya.
Aku: Maaf, Mbak.
Mbak Cecil (58): Kenapa minta maaf?
Aku: Nggak tahu, Mbak. Kebiasaan.
Mbak Cecil (58): Kebiasaan jelek. Ilangin.
Mbak Cecil (58): Kecuali kalau minta maafnya ke aku. Itu boleh.
Aku membaca pesan terakhir itu di bus TransJakarta jurusan Blok M sambil berdiri, satu tangan berpegangan pada gantungan, satu tangan memegang ponsel. Di sebelahku ada seorang ibu yang mengintip layarku tanpa malu, lalu senyum-senyum sendiri seperti sedang menonton sinetron.
Aku mematikan layar ponsel.
Ibu itu kecewa.
Bekerja di lantai 58 ada polanya. Setelah dua minggu, aku sudah hafal.
Pukul enam lewat sepuluh, masuk lewat pintu karyawan B2 dan absen sidik jari. Pukul enam setengah, pantry eksekutif: merebus air, menggiling biji kopi, menyiapkan cangkir putih untuk kakakku dan cangkir kaca untuk Mbak Cecil. Pukul tujuh kurang lima, kopi pertama diantar.
Kopi pertama selalu ditolak.
Setelah Senin itu, Kak Tasya tidak pernah lagi menyuruhku membuat kopi sampai delapan kali. Namun kopi pertama selalu ditolak, setiap hari, dengan alasan yang berbeda. Kemarin katanya terlalu panas, hari Kamis aromanya aneh, hari Rabu ia bilang, “Saya nggak mau kopi hari ini,” lalu pukul sembilan ia menyuruh Mbak Cecil meminta kopi lagi.
Kopi kedua selalu ia minum, tanpa komentar. Dan ia meminumnya sampai habis.
Aku pernah memeriksanya dari ampas kopi di cangkirnya. Habis, tak bersisa.
Itu cukup bagiku.
Kamis sore pukul lima lewat dua puluh, ketika aku sedang mengganti kantong sampah di lorong lantai 56, aku mendengar bunyi yang salah.
Lantai 56 adalah lantai teknis. Isinya ruang server Red Electronics, ruang panel listrik, dan dua ruang rapat kecil yang jarang dipakai. OB lantai 58 hanya kebagian membersihkan lorongnya dua kali seminggu.
Bunyinya berasal dari balik pintu ruang server. Pintunya kaca buram dengan stiker kuning HANYA PERSONEL IT. Dari dalam, AC presisi yang biasanya mendengung rata seperti orang mengaji pelan kini berbunyi nguuuung... tek. Nguuuung... tek.
Kompresornya mengalami short-cycling. Menyala sebentar, mati, menyala lagi.
Aku menempelkan telapak tangan ke pintu kaca. Masih dingin, tetapi tidak sedingin biasanya.
Aku menengok ke ujung lorong. Tidak ada siapa-siapa. Tim IT lantai 56 pulang pukul lima. Teknisi gedung, Pak Joko dan dua anak buahnya, biasanya nongkrong di ruang genset B3 jam segini, bermain gaple.
Di panel kecil di samping pintu ada layar termometer digital. Angkanya 24,8°C dan terus naik.
Standar suhu ruang server adalah delapan belas sampai dua puluh tujuh derajat. Di atas tiga puluh, server mulai throttling. Di atas tiga puluh lima, server mulai mati satu per satu, seperti orang pingsan saat upacara bendera.
Di dalam ruangan itu ada server ERP Red Electronics. Semua data stok, pesanan distributor, dan jadwal produksi tiga pabrik di Batam, Cikarang, dan Shenzhen tersimpan di sana.
Aku melirik jam: pukul lima lewat dua puluh tiga. Kelasku pukul enam setengah, di Salemba.
Aku menelepon Pak Joko. Tidak diangkat. Aku menelepon lagi. Tetap tidak diangkat. Pasti sedang memegang kartu balak enam.
Termometer: 25,6°C.
Aku mengeluarkan kartu akses dari dompet, kartu pemberian Opa. Kartu itu membuka rooftop, dan diam-diam juga membuka beberapa pintu lain yang tidak pernah kutanyakan alasannya. Kutempelkan kartu itu ke panel pintu ruang server.
Lampunya hijau.
Masalahnya ada di unit outdoor, di balkon teknis kecil di ujung ruang server. Kapasitor kompresornya menggembung seperti permen karet yang ditiup terlalu besar. Kapasitor itu hanya komponen seharga empat puluh ribu rupiah, tetapi menopang seluruh data perusahaan bernilai dua puluh tiga triliun.
Kalau kapasitor kompresor sudah menggembung, ia tidak mampu menyimpan muatan untuk menyalakan motor kompresor secara stabil. Motornya mencoba menyala, gagal, kepanasan, lalu proteksinya trip. Menunggu sebentar, lalu mencoba lagi.
Aku turun ke gudang teknisi di lantai 55 lewat tangga darurat. Pintunya dikunci gembok angka, dan kombinasinya 1-2-3-4, karena Pak Joko orang yang sederhana. Aku menyisir rak komponen dan menemukan kapasitor run 45/5 µF yang masih di dalam kardusnya, berdebu, sepertinya dibeli sebagai cadangan dua tahun lalu lalu terlupakan.
Lima belas menit kemudian aku berjongkok di balkon teknis lantai 56. Angin sore Sudirman menampar wajahku, panel listrik unit outdoor sudah kumatikan, dan obeng mini yang biasa kupakai untuk memperbaiki hak sepatu sekretaris kini kupakai untuk membuka penutup terminal.
Kapasitor lama kulepas. Muatannya kubuang dulu dengan obeng berisolasi, karena kapasitor yang menggembung pun masih bisa menyetrum, dan aku tidak mau mati di balkon gedung kakakku dengan seragam OB.
Kapasitor baru kupasang. Kabelnya kucocokkan satu per satu: C ke common, HERM ke kompresor, FAN ke kipas.
Panel listrik kunyalakan.
Nguuuuuuuung.
Rata, stabil, tanpa tek.
Aku berdiri sebentar di balkon itu, mendengarkan bunyi kompresor seperti orang mendengarkan detak jantung bayi lewat USG.
Termometer di panel pintu: 27,1°C. Turun perlahan.
Pukul lima lewat lima puluh dua.
Kapasitor lama kumasukkan ke kardus kapasitor baru, lalu kardusnya kuletakkan di meja teknisi lantai 55 dengan sticky note: Kapasitor AC server 56 gembung, udah diganti. Tolong dicek ulang besok. — OB 58.
Lalu aku berlari.
Bus TransJakarta dari Dukuh Atas ke Salemba pukul enam sore itu seperti kaleng sarden yang dimasukkan ke oven. Aku berdiri di dekat pintu dengan seragam OB yang sudah kututupi jaket hoodie abu-abu. Keringat mengalir di punggungku.
Di ransel lusuhku, di antara seragam ganti dan botol minum, ada laptop bekas yang salah satu engselnya sudah lepas, buku Heat Transfer edisi kelima karangan Çengel yang sampulnya kubungkus koran supaya tidak lecek, dan jas almamater kuning yang terlipat rapi di dalam kantong plastik.
Aku turun di halte Salemba UI pukul enam lewat dua puluh lima, berlari ke gerbang kampus, dan masuk ke toilet gedung pascasarjana.
Di dalam bilik toilet, aku berganti baju. Seragam merah marun masuk ke kantong plastik. Kukenakan kemeja putih yang kerahnya sudah agak menguning, lalu jas almamater kuning.
Aku menatap cermin di wastafel. Laki-laki di dalam cermin itu bukan lagi OB lantai 58.
Ia mahasiswa Magister Teknik Elektro Universitas Indonesia, kelas paralel, konsentrasi Sistem Tenaga dan Manajemen Termal. NPM-nya berakhiran 019. IPK semester lalu tiga koma sembilan enam. Penerima Beasiswa Unggulan Pascasarjana yang mensyaratkan IPK minimal tiga koma lima dan tidak boleh ada nilai C.
Tidak boleh ada nilai C.
Aku menyalakan keran, mencuci muka, lalu berlari ke ruang 304.
“Saudara Pandu,” kata Prof. Harun Siregar ketika aku masuk pukul enam lewat tiga puluh dua. “Dua menit.”
“Maaf, Prof.”
“Alasannya?”
Aku berdiri di ambang pintu kelas. Dua puluh tiga mahasiswa pascasarjana menoleh kepadaku. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja: insinyur PLN, engineer di pabrik otomotif, seorang dosen politeknik dari Lampung, dan seorang manajer perusahaan data center yang jam tangannya lebih mahal daripada motor.
“Ganti kapasitor AC, Prof.”
Prof. Harun mengangkat alis tebalnya yang sudah separuh memutih. Profesor berumur enam puluh dua tahun, lulusan Delft, terkenal galak sekaligus adil, dan hanya sedikit orang yang tahu bahwa kedua hal itu tidak bertentangan.
“Kapasitor start atau run?”
“Run, Prof. 45/5 mikrofarad. Gembung.”
“Kompresornya short-cycling?”
“Iya, Prof.”
“Kamu buang muatannya dulu sebelum dilepas?”
“Iya, Prof. Pakai obeng berisolasi.”
Prof. Harun mengangguk, sekali, pelan.
“Duduk. Telat dua menit dimaafkan karena alasannya relevan dengan mata kuliah.” Ia kembali menghadap papan tulis. “Saudara-saudara, kalian lihat? Ini yang saya maksud dengan rekayasa termal di dunia nyata. Bukan cuma simulasi di ANSYS. Ada orang yang tangannya kotor ganti kapasitor seharga empat puluh ribu supaya server jutaan dolar nggak gosong.”
Aku duduk di bangku paling belakang.
Di sebelahku, Bonar Simatupang, engineer PLN dari Medan yang suaranya cukup lantang untuk memanggil orang dari seberang Danau Toba, menyikut lenganku.
“Kau kerja di mana sebenarnya, Pandu? Semester kemarin kau bilang kerja di ‘gedung’. Gedung apa? Gedung DPR? Gedung pernikahan?”
“Gedung kantor, Bang.”
“Iya, gedung kantor apa?”
“Gedung kantor yang ada AC-nya.”
Bonar tertawa sampai Prof. Harun menoleh dan menatap kami dengan tatapan yang sanggup mematikan kompresor.
“Saudara Bonar. Kalau Saudara mau ketawa, ketawa setelah Saudara bisa jelasin ke saya kenapa koefisien konveksi pada sirip pendingin berbentuk pin-fin lebih tinggi dibanding plate-fin pada aliran turbulen.”
Bonar langsung diam, seperti radio yang dicabut baterainya.
Kuliah malam itu membahas manajemen termal perangkat elektronik portabel: ponsel, laptop, tablet. Semua benda yang kita kantongi, kita genggam, kita letakkan di dasbor mobil saat parkir siang-siang di bawah matahari Jakarta.
Prof. Harun menampilkan slide berisi grafik kenaikan suhu baterai lithium-ion terhadap suhu lingkungan.
“Mayoritas perusahaan elektronik masih menguji produk mereka pada suhu ambien dua puluh lima derajat,” katanya. “Standar internasional. Standar negara empat musim. Padahal kita hidup di negara yang suhu di dalam angkot jam dua siang bisa tiga puluh delapan derajat.”
Aku berhenti mencatat.
Bonar menyikutku lagi. “Kenapa kau senyum-senyum?”
“Nggak apa-apa, Bang.”
Kuliah selesai pukul sembilan lewat lima belas. Aku berganti baju lagi di toilet, kembali memakai hoodie abu-abu dan celana kain, lalu naik KRL dari Cikini ke Depok.
Kereta pukul sepuluh malam itu sepi. Aku duduk di kursi dekat pintu, meletakkan ransel di pangkuan, lalu membuka email di ponsel.
Ada tiga email baru.
Satu dari Prof. Harun, berjudul Draft proposal tesis – catatan revisi. Isinya dua halaman koreksi bertinta merah, dan di bagian akhir ada satu kalimat: Ini proposal terbaik di angkatan kamu. Jangan bikin saya menyesal mengatakannya.
Satu dari bank, notifikasi transfer masuk. Pengirimnya Kanazawa Denki Co., Ltd., dengan keterangan Royalty Q3 – Patent ID-P00201904518. Jumlahnya akan membuat ibu di bus tadi pagi pingsan seandainya ia ikut mengintip.
Aku membaca notifikasi itu dengan perasaan yang sama setiap kuartal, seperti orang yang membaca hasil lab dengan angka bagus tetapi tidak tahu harus berbuat apa dengannya.
Paten pertamaku adalah pengendali kipas hemat daya untuk laptop yang kubuat sebagai skripsi S1. Dosen pembimbingku memaksaku mendaftarkannya, lalu sebuah perusahaan kecil di Kanazawa, Jepang, membeli lisensinya. Sejak itu, empat kali setahun, uang dari Jepang masuk ke rekeningku.
Uang itu tidak pernah kupakai, kecuali untuk biaya kuliah S1 yang tidak tertutup beasiswa, laptop bekas ini, dan kamar kos tiga kali tiga meter di belakang Margonda.
Sisanya kudiamkan di rekening. Aku tidak membeli mobil, tidak membeli rumah, tidak membeli sepatu baru.
Bonar pernah bertanya kenapa sepatuku bolong padahal aku mendapat beasiswa. Aku menjawab bahwa sepatunya masih bisa dipakai. Itu jawaban jujur. Sepatu itu memang masih bisa dipakai. Kardusnya hanya perlu diganti setiap tiga hari.
Anak panti tahu satu hal yang tidak diajarkan di kelas mana pun: uang bukan untuk dipakai. Uang untuk berjaga-jaga, untuk hari yang belum datang, untuk hari ketika orang yang kau sayangi membutuhkan sesuatu dan kau bisa berkata, “Ada, Kak. Aku ada.”
Hari itu belum datang. Mungkin tidak akan pernah datang.
Tetapi uangnya menunggu.
Email ketiga datang dari alamat kantor.
Bukan ditujukan kepadaku, melainkan ke grup email seluruh staf lantai 56–58, termasuk alamat email OB yang dibuatkan vendor dan tidak pernah dipakai. Pengirimnya Natasha Redcliff, dikirim pukul sembilan lewat empat puluh.
Kepada tim IT dan teknisi gedung,
Sistem monitoring mendeteksi suhu ruang server lantai 56 naik hingga 27,4°C antara pukul 17.10 dan 17.55 hari ini, sebelum kembali normal. Mohon penjelasan tertulis paling lambat besok pukul 09.00: siapa yang mendeteksi, siapa yang menangani, dan kenapa tidak ada laporan insiden yang saya terima.
Server ERP adalah aset kritis perusahaan. Kelalaian seperti ini tidak dapat ditoleransi.
N.R.
Aku membaca email itu pelan-pelan di dalam kereta yang bergoyang. Lampu Stasiun Universitas Pancasila melintas di jendela.
Siapa yang menangani.
Aku bisa membalas email itu. Aku bisa menulis: Saya, Bu. OB lantai 58. Kapasitor run 45/5 µF, gembung, sudah diganti pukul 17.48.
Lalu ia akan bertanya kenapa seorang OB bisa mengganti kapasitor. Lalu ia akan bertanya kenapa seorang OB punya akses ke ruang server. Lalu ia akan bertanya ke vendor, lalu vendor akan bertanya ke Opa, lalu...
Aku menutup email itu.
Jumat pagi, di pantry lantai 58, Bang Mamat bercerita sambil mengunyah gorengan.
“Tahu nggak lu, Du, ada geger di lantai 56. Bu Natasha marah gara-gara AC server. Katanya kemarin sore sempat panas.”
“Oh, ya, Bang?”
“Terus pagi ini Pak Joko dipanggil. Ditanya siapa yang benerin.” Bang Mamat tertawa sampai kumisnya bergoyang. “Pak Joko bilang, ‘Saya, Bu. Kapasitornya gembung, saya ganti.’ Padahal kemarin sore Pak Joko main gaple sama gua di B3 sampai magrib. Gua saksinya! Dia menang tiga kali!”
Aku menuang air panas ke teko, pelan, tepat di garis.
“Terus Bu Natasha bilang apa, Bang?”
“Bu Natasha bilang, ‘Kerja bagus, Pak Joko. Lain kali buat laporan insiden.’ Terus Pak Joko dapet voucher makan di restoran Jepang lantai 2. Yang sushi-nya kayak permata itu.” Bang Mamat menggeleng-geleng. “Dunia ini nggak adil, Du. Orang main gaple dapet sushi. Kita yang ngepel dapet gorengan.”
“Gorengannya enak, Bang.”
“Iya sih. Enak.”
Aku tersenyum dan mengantar kopi pertama ke ruangan kakakku.
Ditolak.
“Hari ini nggak usah es.”
Aku membuat kopi kedua tanpa es. Ia meminumnya.
Ketika aku keluar, kulihat di mejanya ada cetakan email laporan insiden server. Di pinggirnya ada coretan pulpen dengan tulisan tangan kakakku, tulisan tangan yang sama yang dulu mengajariku menulis huruf P di tanah dengan ranting:
Pak Joko? Yakin?
Ada tanda tanya. Dua kali.
Kakakku tidak percaya pada Pak Joko. Ia memang selalu pintar.
Aku keluar dari ruangannya dan menutup pintu perlahan.
Di saku seragam, ponselku bergetar.
Mbak Cecil (58): Kamu tahu siapa yang benerin AC server kemarin?
Aku: Pak Joko, Mbak. Kata Bang Mamat.
Mbak Cecil (58): Pak Joko kemarin sore main gaple. Aku lihat CCTV lift B3.
Mbak Cecil (58): Terus aku juga lihat CCTV lift lantai 56. Jam 17.21.
Mbak Cecil (58): Ada orang pakai seragam merah marun masuk ke sana. Sepatunya bunyi srek srek.
Aku berdiri di tengah lorong lantai 58 dengan ponsel di tangan, dan kakiku tiba-tiba menolak melangkah.
Mbak Cecil (58): Nanti siang ke pantry. Aku mau kopi.
Mbak Cecil (58): Dan penjelasan.
Aku mengetik Baik, Mbak. Kuhapus. Aku mengetik Saya bisa jelasin. Kuhapus lagi.
Akhirnya aku hanya mengirim satu kata:
Aku: Maaf.
Tiga titik muncul di layar. Hilang. Muncul lagi.
Mbak Cecil (58): Udah aku bilang kebiasaan itu ilangin.
Mbak Cecil (58): Kecuali minta maafnya ke aku.
Mbak Cecil (58): Jadi yang ini boleh. 😌
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Di ujung lorong, dari balik dinding kaca, kulihat ia duduk di balik mejanya. Rambutnya tergerai hari ini, dengan kacamata emas pucat dan blus berwarna krem. Ia sedang pura-pura membaca dokumen. Namun ketika aku lewat, matanya terangkat dari balik bingkai kacamata dan mengikutiku.
Lalu ia tersenyum. Kecil dan puas, seperti kucing yang baru menemukan tempat tidur paling empuk di rumah.
Aku menunduk dan mempercepat langkah.
Bang Mamat berdiri di depan pantry, menyaksikan semuanya sambil mengunyah gorengan terakhir.
“Du.”
“Saya tahu, Bang.”
“Hukum ketiga.”
“Saya tahu, Bang.”
“Telinga lu merah lagi.”
Aku masuk ke pantry dan langsung menyalakan keran air dingin.
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam reading
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat