Chapter Thirty
Senter Kuning
POV: Natasha
N & P.
Dua huruf dan satu tanda dan. Goresannya kasar, dalam, tidak rata, dibuat memakai paku.
Huruf N-nya miring ke kanan, dengan lengkungan kecil di ujung seperti ekor kucing.
Aku membuat goresan itu ketika berumur lima belas, duduk di teras panti pada sore yang panas, dengan paku berkarat yang kucabut dari pagar bambu belakang. Adikku duduk di sebelahku, menonton dengan mulut terbuka. Ia mengira aku sedang membuat sesuatu yang ajaib.
“Biar nggak ketuker sama senter anak lain, Du. Ini punya kita berdua.”
“Kenapa N, Kak? Kan nama Kakak Tasya.”
“Natasya. Pakai N. Biar kayak tanda tangan orang penting.”
Ia tertawa dan bilang tanda tanganku mirip tanda tangan dokter. Aku pura-pura marah dan mencubit pipinya.
Senter itu ia bawa ke mana-mana, bahkan pada siang hari. Biar kalau tiba-tiba gelap, Kak.
Aku menatap dua huruf itu.
Di tanganku, di ruangan CEO lantai 58, lima belas tahun kemudian. Senter yang kusita dengan alasan pasal tujuh tata tertib, yang kulempar ke tempat sampah, yang ia kais dari sampah enam puluh lantai malam itu juga.
Senter yang ia pegang di atas kepalaku selama tiga puluh delapan menit di dalam lift yang gelap.
Gelap itu cuma lampu yang lagi istirahat.
Bukan karena ia mendengarnya dariku di lift atau di lorong, dan bukan karena Cecil bercerita.
Ia mendengarnya dariku di kolong ranjang susun, ketika umurnya sebelas.
Lantai di bawah kakiku hilang. Ruangan berputar pelan, seperti bianglala yang mesinnya nyaris mati.
Lalu suara dingin yang logis itu muncul lagi. Suara yang sudah lima belas tahun melindungiku dari harapan.
Senter kuning bisa dibeli di mana saja. Goresan bisa dipalsukan. Dia sudah tahu namamu dari...
Aku tidak pernah memberitahunya namaku. Ia tidak tahu namaku Natasya, dengan Y. Tidak ada yang tahu, selain Opa, Bu Ratna, dan...
Suara dingin itu berhenti di tengah kalimat.
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, suara itu tidak punya jawaban.
“Tasha.”
Opa masih di kursi roda di ambang pintu. Perawat di belakangnya memegang pegangan kursi roda dengan wajah panik, menatap angka di monitor kecil yang terpasang di pergelangan tangan Opa.
Opa menangis. Laki-laki tujuh puluh delapan tahun yang wajahnya pernah ada di sampul Forbes Asia, yang membuat Toshiba menandatangani kontrak di atas tumpahan kopi, menangis di kursi roda dengan selang oksigen di bawah hidungnya.
“Itu dia, Tasha,” bisiknya. “Itu adikmu.”
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri.
Aku hanya ingat bunyi monitor di pergelangan tangan Opa. Bip-bip-bip-bip, makin cepat. Lalu perawat membungkuk ke Opa dan berkata sesuatu dengan nada tegas. Dokter Gunawan sudah berpesan: tekanan darah dua ratus sepuluh, harus kembali ke rumah sakit sekarang juga, tidak bisa ditawar.
“Opa...”
“Opa nggak apa-apa.” Opa menggenggam pergelangan tanganku dengan tangan gemetar. “Opa harus balik. Tapi kamu... kamu di sini. Kamu cari tahu dulu. Semuanya.”
“Opa tahu. Sejak kapan?”
Opa memejamkan mata.
“Dua tahun.”
Dua tahun.
“Opa yang cari dia,” bisik Opa. “Opa yang taruh dia di sini, di lantai kamu. Dia yang minta, Tasha. Dia cuma mau lihat kamu. Dari dekat. Nggak usah kamu tahu.”
“Pak, kita harus jalan sekarang,” kata perawat.
Opa tidak melepaskan pergelangan tanganku.
“Tanya Cecilia,” katanya. “Dia tahu. Lalu telepon Bu Ratna.” Matanya basah dan merah. “Sisanya Opa ceritain nanti. Semuanya. Opa janji. Yang Opa sembunyikan dari kamu lima belas tahun.”
Perawat mendorong kursi roda mundur. Tangan Opa terlepas dari pergelangan tanganku.
Pintu ruanganku tertutup.
Aku berdiri sendirian di ruangan CEO lantai 58 dengan senter kuning di tangan.
Itu adikmu.
Cecil datang sepuluh menit kemudian.
Aku tidak memanggilnya. Ia datang sendiri, dari tangga darurat, dengan maskara luntur dan rok pensil abu-abu yang kotor terkena debu tangga. Di tangannya ada map plastik bening yang tebal.
Ia menutup pintu dan berdiri di depan mejaku.
Ia melihat senter di tanganku, lalu kartu identitas di atas meja dengan nama PANDU tanpa nama belakang.
Wajahnya runtuh.
“Lo udah tahu,” bisiknya.
Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mengangkat senter itu sedikit dengan sisi bawahnya menghadap kepadanya. N & P.
Cecil menutup mulutnya dengan dua tangan. Map plastik jatuh ke lantai, dan kertas-kertas berhamburan di karpet: log lift, fotokopi buku tamu, cetakan foto email.
“Gue tahu dari Jumat,” katanya di balik tangannya. Suaranya pecah. “Dompetnya jatuh kebuka. Ada foto. Lo umur dua belas, dia umur delapan, di depan pagar hijau. Di belakangnya ada tulisan. Kak Tasya dan Du.”
Aku menutup mata.
Foto itu. Foto yang sama dengan yang ada di laci paling bawah meja riasku, yang kuncinya tergantung di leherku. Bu Ratna mencetaknya dua lembar di tukang foto di Margonda. Satu untukku, satu untuknya.
Ia menyimpannya selama ini, lima belas tahun.
“Dia nanya gue,” lanjut Cecil, dan sekarang ia menangis. Bukan tangisan rapi, melainkan tangisan yang keluar dari perut. “Dia nanya, kita bilang sekarang atau setelah launching. Dia nggak mutusin sendiri, Nat. Dia nanya. Dan gue yang jawab. Gue yang bilang Senin malem, setelah launching, setelah kita kasih bukti soal Reynard. Biar lo nggak hancur tiga hari sebelum hari paling penting di karier lo.”
Ia berlutut di karpet dan mulai memunguti kertas-kertas yang berhamburan. Tangannya gemetar.
“Gue yang mutusin nunggu,” katanya kepada lantai. “Gue. Bukan dia. Kalau gue bilang Jumat, lo nggak bakal...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Kalau Cecil memberitahuku hari Jumat, aku tidak akan berdiri di lorong lantai 58 dua puluh menit lalu dan mengatakan orang kayak kamu nggak punya keluarga kepada adikku sendiri.
Aku berlutut di sebelah Cecil, di karpet, di antara kertas-kertas, dan aku memeluknya.
Ia menangis di bahuku, keras, seperti ketika ayahnya pergi dan rumahnya disita. Aku tidak ada di sana saat itu; aku baru mengenalnya tiga tahun kemudian. Namun ia pernah bercerita, dan katanya ia menangis sampai muntah.
Aku tidak menangis. Belum. Aku belum bisa.
“Bukan salah lo, Cil,” bisikku.
“Salah gue.”
“Bukan.” Aku mengelus rambutnya. “Lo nyoba bilang. Di ruang Crimson. Lo panggil gue Nat di depan sebelas direksi. Dan gue suruh lo duduk.”
Cecil menangis lebih keras.
“Gue yang nyuruh lo duduk,” ulangku. Suaraku kini sedikit retak. “Itu bukan salah lo.”
Cecil menceritakan semuanya, duduk di karpet ruanganku dengan punggung bersandar ke sofa tamu dan kertas-kertas bukti di pangkuan.
Semua yang ia ceritakan kepada Cecil di tangga darurat hari Jumat. Opa yang menemukannya dua tahun lalu di depan pintu kos. Kartu akses rooftop. Catur setiap Jumat sore. Kenapa lantai 58, bukan lantai lain.
Lalu Cecil menceritakan malam ulang tahunnya, dan aku berhenti bernapas.
“Hari Jumat itu dia ulang tahun, Nat. Gue tahu dari KTP-nya. Lo nyuruh dia lembur sampai jam dua belas. Jam dua belas lewat lima, gue bawain dia cupcake ke tangga darurat. Lilin biru. Dia tiup lilinnya di anak tangga antara 58 dan 57.” Cecil menatap tangannya. “Dia bilang udah lama nggak ada yang ngerayain ulang tahunnya. Terus dia sobek cupcake-nya jadi dua, terus kasih bagian yang lebih gede ke gue. Katanya dia udah kenyang.”
Kakak udah kenyang, Du.
“Terus satu jam kemudian, gue lihat lo di dapur. Nyalain lilin di atas roti tawar.” Cecil menatapku. “Buat dia.”
Aku tidak bisa bicara.
“Dan Kamis malem,” kata Cecil pelan, “waktu crunch week, yang lo suruh dia lembur sampai jam sebelas. Kamis malem itu dia kuliah, Nat. Tiap Kamis. Paginya gue nanya ke dia, dan dia bilang kuliahnya libur. Telinganya merah. Dia bohong.”
Aku menatap Cecil.
“Gue nggak tahu apa yang dia korbanin malem itu,” bisik Cecil. “Dia nggak pernah cerita.”
Cecil pergi pukul empat sore, karena aku menyuruhnya. Ia menolak tiga kali, dan aku menyuruhnya lagi.
“Cari dia, Cil,” kataku. “Lo tahu kos-nya?”
“Nggak. Dia nggak pernah ngajak gue ke kosnya. Katanya kosnya bocor.”
“Telepon dia.”
“Udah. HP-nya mati.”
“Telepon Bang Mamat. Dia yang nganter.”
Cecil mengangguk, menghapus maskara yang luntur dengan punggung tangan, lalu pergi.
Aku sendirian.
Aku mengambil ponsel dan mencari nomor yang sudah sepuluh tahun kusimpan, tetapi tidak pernah kutelepon. Selama ini aku hanya membalas emailnya.
Bu Ratna — Panti Kasih Bunda.
Dering pertama, kedua, ketiga.
“Assalamualaikum...”
Suara tua, serak, dan gemetar.
“Bu,” kataku. “Ini Tasya.”
Diam di seberang, lama sekali.
Lalu Bu Ratna mulai menangis.
“Dia minta Ibu bohong, Nak.”
Bu Ratna berbicara di sela tangis, suaranya tersendat-sendat seperti radio yang sinyalnya putus-putus.
“Umur tiga belas. Pagi-pagi dia ketuk pintu kamar Ibu. Matanya bengkak. Semalem dia angkat telepon dari kamu, Nak. Kamu bisik-bisik dari lemari, inget? Terus ada suara Bu Clarissa marahin kamu. Kamu nangis, terus teleponnya putus.”
Aku ingat. Aku ingat malam itu, di dalam lemari pakaian di kamar terlalu besar di rumah keluarga Redcliff, menelepon panti dengan telepon rumah yang kabelnya kutarik masuk ke lemari. Aku ingat suara adikku tertawa sekaligus menangis di seberang, dan aku tidak bisa berkata apa-apa karena aku juga menangis.
Lalu pintu lemari dibuka, ada wajah Mama Clarissa, dan gagang telepon direbut.
“Dia bilang, ‘Bu, kalau Kak Tasya telepon lagi, bilang aku udah diadopsi. Jauh. Ke luar negeri. Bilang aku udah ganti nama dan nggak bisa dicari.’ Ibu tanya kenapa. Dia bilang...”
Bu Ratna terisak.
“Dia bilang, ‘Biar Kakak bisa tinggal di rumah barunya, Bu. Biar dia nggak dimarahin lagi.’”
Aku duduk di lantai ruanganku, bersandar ke meja dengan ponsel di telinga, dan senter kuning di pangkuanku.
Dialah yang menyuruh. Bukan Mama Clarissa, bukan Opa, melainkan dia, di umur tiga belas.
Ia berbohong supaya aku bisa bahagia. Dan aku menghabiskan lima belas tahun mencarinya di Australia, di negara yang tidak pernah ia datangi.
“Dan uang Kakak Asuh, Nak...”
Aku menutup mata.
“Uang yang kamu kirim tiap tanggal tujuh, dari sepuluh tahun lalu. Itu yang nyekolahin dia. SMA. Kuliah di UI. Ibu nggak pernah bilang ke dia dari mana uangnya. Ibu nggak pernah bilang ke kamu siapa yang kamu sekolahin. Kalian berdua... kalian berdua minta Ibu janji.”
Bu Ratna menangis lagi.
“Ibu udah tua, Nak. Ibu capek nyimpen janji kalian berdua. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Kalian berdua sama-sama mau ngelindungin yang satunya. Dan kalian berdua sama-sama nggak pernah nanya yang satunya maunya apa.”
Aku tidak bisa bicara. Tenggorokanku tertutup.
“Pandu Aksara, Nak,” bisik Bu Ratna. “Nama yang Bapak kalian kasih. Ingat? Bapak bilang Aksara itu huruf, tulisan. Biar anak laki-lakinya pinter nulis. Biar nanti bisa nulis sesuatu yang penting.”
Pandu Aksara.
Aku ingat Bapak. Aku ingat wajahnya samar-samar, kumis tipis, tangan besar. Ia menggendong adikku yang masih bayi di teras rumah kontrakan kami di Pondok Cina dan berkata, “Pandu Aksara. Nanti dia bakal nulis sesuatu yang penting, Sya. Kamu jagain dia, ya.”
Waktu itu aku berumur empat tahun. Aku mengangguk.
Kamu jagain dia, ya.
“Bu,” kataku. Suaraku terdengar seperti suara orang lain. “Dia sekarang di mana?”
“Belum pulang, Nak. Ibu belum lihat dia dari minggu lalu.”
“Kalau dia pulang...”
“Ibu telepon kamu. Langsung.”
Aku mengambil selembar kertas HVS dari printer di sudut ruanganku. Satu lembar, putih, kosong.
Aku duduk di lantai, di karpet ruanganku, bersandar ke meja kerja. Senter kuning di sebelahku, dan kartu identitas dengan nama PANDU di atas karpet.
Aku mengambil pulpen dan mulai menulis.
Aku tidak tahu kenapa aku menulis. Mungkin karena aku tidak tahu cara lain untuk memahami sesuatu selain dengan menulisnya. Membuat daftar, menghitung angka.
Lima belas tahun aku percaya bahwa kalau sesuatu bisa ditulis, sesuatu itu bisa dikendalikan.
Aku menulis angka satu, lalu titik.
1. Kopi. Tujuh kali aku tolak. Yang ketujuh aku tuang ke pot monstera di depan matanya. Dia bilang “Baik, Bu. Saya buat lagi.” Aku nggak tahu kenapa dia nggak marah. Sekarang aku tahu. Dia nggak bisa marah ke kakaknya.
Tanganku gemetar. Aku menekan pulpen lebih keras.
2. Roti sobek Ci Lan. Dia beli di Depok, di toko yang sama tempat Bu Ratna beli roti tiap Minggu pagi. Aku buang ke tempat sampah, aku bilang “Saya nggak minta.” Cecil lihat dia mungut roti itu dari tempat sampah dan makan di tangga darurat. Dia sobek jadi dua. Bagian yang lebih gede, yang cokelatnya lebih banyak, dia taruh di sebelahnya, buat seseorang yang nggak ada.
Itu buat aku. Dia nyisihin bagian yang lebih gede buat aku, kayak dulu aku nyisihin buat dia.
Aku buang roti yang dulu selalu kita bagi dua.
Air mata pertama jatuh ke kertas, tepat di atas kata dua. Tintanya meleleh dan menyebar jadi noda biru kecil.
3. Lantai. Aku suruh dia lap lantai pakai tangan, berlutut, di depan dua puluh tujuh orang, di lorong lantai 58. Hari ini aku pecat dia di titik yang sama.
Aku bikin adikku berlutut di depan semua orang.
4. Lagu. Dia nyanyiin lagu kita. Lagu yang aku bikin buat dia waktu dia sembilan tahun, biar dia bisa tidur waktu gelap. Lagu yang nggak ada ending-nya karena aku keburu pergi. Dia masih hafal setiap nadanya setelah lima belas tahun.
Aku teriak ke dia di depan semua orang. “Jangan pernah nyanyiin lagu itu lagi.” Terus aku kasih dia SP. Terus aku potong gajinya.
Aku menghukum dia karena nyanyiin laguku.
Sejak hari itu, kata Cecil, dia nggak pernah nyenandung lagi.
Aku berhenti menulis. Napasku tersendat. Aku menekan punggung tangan ke mulutku dan memejamkan mata.
Lalu aku menulis lagi.
5. Senter. Senter ini. Aku sita dengan alasan pasal tujuh. Aku lempar ke tempat sampah. Dia ragu waktu nyerahin, untuk pertama kalinya. Aku pikir dia ragu karena itu barang murah yang dia sayang.
Itu senter yang aku kasih ke dia. Aku gores N & P pakai paku. Malam itu juga dia ngais sampah enam puluh lantai buat nemuin senter ini lagi.
Aku buang senterku sendiri. Dan dia mungut lagi.
6. Kamis malam. Minggu krisis. Aku suruh dia lembur sampai jam sebelas. Kamis malam dia kuliah. Dia bohong ke Cecil, bilang kuliahnya libur. Aku nggak tahu apa yang dia korbankan malam itu. Aku nggak pernah nanya.
Dulu uangku yang nyekolahin dia. Dan malam itu, aku sendiri yang bikin dia nggak bisa sekolah.
7. Tangga darurat. Aku larang dia makan di pantry. “OB makan di tangga darurat. Jangan kelihatan tamu.” Cecil ikut makan di sana sama dia, pakai rok pensil dan sepatu hak tujuh senti. Sahabatku lebih tahu cara jadi keluarga daripada aku.
8. Ulang tahunnya. Dua puluh delapan. Aku suruh dia lembur sampai tengah malam. Dia tiup lilin cupcake di tangga darurat jam dua belas lewat sepuluh. Dia sobek cupcake-nya jadi dua dan kasih bagian yang lebih gede ke Cecil. “Saya udah kenyang.”
Satu jam kemudian aku nyalain lilin di atas roti tawar di dapurku. Buat dia.
Aku nyalain lilin buat adikku, sementara adikku lembur di gedungku sampai tengah malam karena aku yang nyuruh.
Kertas itu sudah basah di banyak tempat, dengan noda-noda biru kecil di mana-mana. Tanganku gemetar terlalu keras sampai huruf-hurufnya miring dan bergelombang.
Aku menulis angka sembilan.
Pulpenku berhenti di atas kertas, lama.
9. Hari ini. Di lorong lantai 58, di depan dua puluh tiga orang, di titik yang sama tempat dia dulu berlutut.
“Orang kayak kamu nggak punya keluarga. Makanya nggak ngerti kesetiaan.”
Dia punya keluarga. Dia punya kakak. Kakaknya berdiri di depannya.
Dan dia nggak membela diri. Dia cuma senyum. Satu air mata jatuh ke lantai yang dulu dia lap. Dia bilang “Baik, Bu.” Dia taruh senter ini di mejaku. Dia bilang kopiku besok harus dua es batu, jangan tiga.
Lima belas tahun dia nunggu. Dua bulan dia di sini, bikin kopiku, ngantar aku ke lift, megang senter di atas kepalaku di lift yang gelap, nyelametin perusahaanku dengan harga sepersepuluh, ngirim lampu kunang-kunang supaya aku bisa tidur.
Dan hal terakhir yang aku bilang ke dia: dia nggak punya keluarga.
Pulpenku jatuh dari tanganku.
Aku menangis.
Bukan tangisan di toilet eksekutif yang kutahan dengan dua tangan di mulut. Bukan tangisan rapi yang selesai dalam lima belas menit dengan maskara yang diperbaiki dalam empat menit.
Ini tangisan yang sudah lima belas tahun kusimpan di laci paling bawah, dikunci, dengan kunci tergantung di leher.
Laci itu terbuka sekarang, dan semuanya keluar.
Aku menangis di lantai ruangan CEO lantai 58, di karpet abu-abu, dengan kertas basah di pangkuan dan senter kuning di tangan. Aku menangis sampai napasku habis dan aku harus menarik napas pendek-pendek seperti orang tenggelam. Aku menangis sampai suaraku keluar, bukan isakan, melainkan suara yang tidak kusangka bisa keluar dari tenggorokanku. Suara seperti binatang yang terluka.
Dari balik pintu, seseorang mengetuk.
Aku tidak menjawab.
Ketukannya berhenti. Langkah kaki menjauh.
Aku menangis sampai matahari di luar jendela tenggelam di balik gedung-gedung Sudirman, sampai langit jadi ungu, lalu hitam. Lampu sensor gerak di ruanganku padam karena mengira tidak ada orang.
Gelap.
Aku tidak menyalakan ponsel atau mengayunkan tangan ke arah sensor. Aku tidak bergerak.
Di tanganku, senter kuning.
Ibu jariku menemukan tombolnya, dan aku menekannya.
Cahaya kuning, kecil, redup, hangat. Cahayanya menyebar pelan di karpet abu-abu, di kertas basah dengan sembilan nomor, di kartu identitas dengan nama PANDU.
Aku mengarahkan cahayanya ke langit-langit, seperti yang ia lakukan di lift.
Gelap itu cuma lampu yang lagi istirahat, Du.
Aku mengucapkannya kepada langit-langit ruanganku, pelan, dengan suara yang serak dan habis.
Lalu aku membalik kertas di pangkuanku ke sisi yang kosong.
Aku mengambil pulpen dari karpet dan menulis satu baris di tengah halaman. Huruf-hurufnya gemetar tetapi besar. Tulisan tangan yang dulu mengajari seorang anak laki-laki menulis huruf P di tanah dengan ranting.
Kakak jemput kamu, Du.
Pukul delapan malam, ponselku menyala di karpet.
Cecil.
“Nat. Gue udah telepon Bang Mamat. Dia bilang dia anter Du sampai halte TransJakarta di depan gedung. Du nggak mau dianter lebih jauh. Bang Mamat nanya mau ke mana, Du bilang...”
Cecil diam sebentar.
“Du bilang, ‘Pulang, Bang. Ke rumah.’”
Rumah.
Bukan kos. Kalau yang ia maksud kos, ia akan menyebut kos. Ia menyebut rumah.
Teras panti, pagar yang dulu hijau dan sekarang biru muda, pohon jambu air. Kamar belakang dengan ranjang susun yang sudah diganti besi.
“Cil,” kataku. “Gue ke Depok. Sekarang.”
“Gue ikut.”
“Nggak. Lo...”
“Gue ikut, Nat. Jangan suruh gue duduk lagi.”
Aku diam, lalu menelan ludah.
“Oke. Ketemu di parkiran B2. Sepuluh menit.”
Aku berdiri dari lantai. Kakiku kesemutan karena terlalu lama duduk. Aku mengambil senter kuning, kartu identitas, kertas basah dengan sembilan nomor dan satu kalimat, lalu memasukkan semuanya ke tas.
Ponselku menyala lagi sebelum aku sampai di pintu.
Bukan Cecil. Nomor rumah sakit.
“Ibu Natasha Redcliff? Ini dari Rumah Sakit Medistra. Pak Hendrik Redcliff baru saja dipindahkan ke ICU. Tekanan darahnya nggak turun dan ada indikasi gagal jantung akut. Dokter Gunawan minta keluarga segera datang.”
Aku berhenti di ambang pintu ruanganku, di antara lorong yang gelap dan ruangan yang hanya diterangi senter kuning di tasku.
Keluarga segera datang.
Opa, satu-satunya keluarga yang kumiliki selama lima belas tahun, yang membuat syarat itu, dan yang menemukan adikku dua tahun lalu dan menaruhnya di lantaiku supaya aku bisa melihatnya.
Opa yang tadi siang menangis di kursi roda dan berkata itu adikmu.
Aku berdiri di sana lama, dengan ponsel di telinga dan perawat di seberang yang mengulang-ulang namaku.
Aku menutup mata.
Kamu jagain dia, ya.
Bapak mengatakannya ketika aku berumur empat tahun, dan aku tidak menjaganya.
Aku tidak bisa kehilangan siapa pun lagi malam ini. Tidak keduanya.
“Saya ke sana,” kataku kepada perawat. “Dua puluh menit.”
Aku menutup telepon dan menelepon Cecil.
“Cil. Opa masuk ICU. Gue ke Medistra.”
Diam di seberang.
“Nat...”
“Lo ke Depok,” kataku. Suaraku pecah. “Lo yang jemput dia. Tolong, Cil. Lo yang jemput dia dulu. Bilang ke dia...”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Bilang ke dia jangan pergi,” bisikku. “Bilang ke dia Kakak dateng. Habis dari Opa, Kakak langsung dateng. Tolong suruh dia nunggu, Cil. Sekali lagi. Suruh dia nunggu Kakak sekali lagi.”
“Gue jemput dia, Nat,” kata Cecil. Suaranya tegas, nggak gemetar sama sekali. “Gue bakal suruh dia nunggu. Gue janji.”
Aku menutup telepon.
Aku berjalan ke lift. Lorong lantai 58 gelap dan sunyi.
Di tasku, senter kuning kecil masih menyala. Aku lupa mematikannya.
Cahayanya terlihat dari celah tas yang terbuka, kuning dan kecil, seperti kunang-kunang yang tidak mau pulang.
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning reading
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat