Chapter Three

Mas OB

POV: Cecil

Ada tiga hal yang kuketahui dengan pasti tentang diriku.

Satu, aku cantik. Ini bukan kesombongan, ini data. Data dari satpam lantai satu yang setiap pagi salah mengucapkan “selamat pagi” menjadi “selamat cantik”, dari kurir yang selalu menawarkan diri naik ke lantai 58 padahal paketnya untuk lantai 12, dan dari bapak-bapak direksi yang mendadak lupa cara menyusun kalimat lengkap setiap kali aku membungkuk meletakkan dokumen di depan mereka.

Dua, aku berkacamata, dan kacamata itu senjata. Waktu SMA, aku menangis tiga hari karena dokter mata bilang minusku naik menjadi empat. Dua belas tahun kemudian aku tahu rahasianya: laki-laki lemah terhadap perempuan berkacamata yang menurunkan kacamatanya perlahan, lalu menatap mereka dari atas bingkai. Aku tidak tahu kenapa, dan aku juga tidak perlu tahu. Yang penting senjatanya berfungsi.

Tiga, aku tidak pernah tertarik pada laki-laki yang dompetnya tipis.

Bukan karena aku matre. Aku hanya tahu rasanya hidup bersama laki-laki yang dompetnya tipis tetapi gayanya tebal, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak umur lima belas tahun: tidak akan pernah lagi.

Jadi, tolong jelaskan kenapa pukul tujuh pagi ini aku berdiri di pintu pantry lantai 58, memperhatikan seorang OB yang sedang mengelap gelas, dan lupa untuk apa aku datang ke sini.


Oh, iya. Aku ke sini karena Nat.

Bikin dia nggak betah.

Natasha Redcliff, sahabatku, bosku, sekaligus manusia paling keras kepala di Asia Tenggara, belum pernah meminta hal semacam itu selama tiga tahun aku menjadi sekretarisnya. Ia pernah memecat orang, bahkan banyak. Namun ia memecat dengan alasan, dengan surat, dengan prosedur HR yang serapi lipatan celananya. Ia tidak pernah menyuruhku membuat seseorang tidak betah.

Dan semalam ia merobek laporan kuartal.

Aku belum tahu kenapa. Tetapi aku akan tahu, karena aku selalu tahu.

Sementara itu, ada OB yang harus kubuat tidak betah.

Ia berdiri membelakangiku di depan wastafel. Seragamnya merah marun dengan lengan digulung sampai siku. Lengannya cokelat, kurus tetapi berotot, seperti orang yang setiap hari mengangkat galon. Ia mengelap gelas kristal satu per satu, pelan dan telaten, lalu mengangkatnya ke arah lampu untuk memeriksa ada noda atau tidak. Persis tukang emas yang sedang memeriksa berlian.

Dan ia bersenandung.

Nadanya aneh. Bukan lagu yang kukenal, bukan dangdut, bukan K-pop, bukan lagu iklan. Nadanya pelan, naik-turun seperti orang mengayun bayi, lalu berhenti di nada yang menggantung, seperti lagu yang lupa bagian akhirnya.

Aku berdeham.

Ia menoleh, dan senandungnya langsung berhenti, seperti radio yang dicabut kabelnya.

“Pagi, Mbak.”

Baiklah. Dari dekat, dari depan, pada pagi hari, di bawah lampu pantry yang terangnya kurang ajar, aku harus jujur pada data.

Ia lumayan.

Bukan tampan seperti model iklan parfum. Tampannya lebih pelan, jenis yang baru terasa setelah dilihat untuk kedua kalinya. Kulit sawo matang. Rahang yang tegas tanpa perlu rajin ke gym. Rambut hitam yang dipotong pendek dan sepertinya dipotong sendiri dengan gunting, karena ujung kanannya sedikit lebih panjang daripada yang kiri. Ada bekas luka tipis di ujung alis kirinya, seperti garis pensil yang dihapus setengah. Matanya hitam, tenang, dan sopan.

Terlalu sopan. Mata orang yang terbiasa tidak menatap orang lain lama-lama.

Aku berjalan ke meja pantry, meletakkan tablet, lalu bersandar di tepinya. Semua kulakukan perlahan. Aku tahu cara berjalan perlahan.

Kemudian aku menurunkan kacamata, satu senti dari pangkal hidung, dan menatapnya dari ujung sepatu sampai ujung rambut. Terang-terangan, tanpa terburu-buru, seperti orang yang memeriksa properti yang hendak dibeli.

“Jadi kamu,” kataku, “OB baru yang bikin bos aku ngerobek laporan kuartal.”

Ia mengerjap.

“Maaf, Mbak?”

“Hm.” Aku memiringkan kepala sedikit. “Lumayan juga buat cuci mata pagi-pagi.”

Aku menunggu reaksinya. Biasanya laki-laki yang mendapat kalimat itu dariku akan melakukan salah satu dari tiga hal: salah tingkah sampai menjatuhkan sesuatu, menyeringai kegeeran, atau mencoba menggombal balik dan gagal total.

Ia tidak melakukan satu pun dari ketiganya.

Ia meletakkan gelas yang sedang dipegangnya ke rak dengan hati-hati, lalu bertanya dengan wajah paling polos yang pernah kulihat sejak keponakanku berumur tiga tahun:

“Kopinya mau pakai gula, Bu?”

Aku mengerjap. Sekali, lalu dua kali.

“...Mbak,” koreksiku. “Bukan Bu. Aku belum setua bos kamu.”

“Kopinya mau pakai gula, Mbak?”

“Satu sendok. Krimer setengah.” Aku menaikkan kembali kacamataku. Senjatanya tidak berfungsi, jadi kusimpan dulu. “Dan aku ke sini bukan buat kopi.”

“Oh. Ada yang bisa saya bantu?”

Ada. Aku harus membuatmu tidak betah. Disuruh bos yang sedang aneh. Maaf, ya.

“Ada dua belas kardus brosur pameran di gudang B2,” kataku. Nada sekretarisku keluar dengan sendirinya: profesional, cepat, dan tidak bisa dibantah. “Harus naik ke ruang Crimson sebelum jam sepuluh. Buat rapat dengan distributor.”

“Siap, Mbak.”

“Lift barang lagi rusak,” tambahku.

Itu bohong. Lift barang tidak rusak. Lift barang bahkan baru diservis minggu lalu, dan aku tahu karena aku yang menandatangani invoice-nya.

Ia diam sebentar, satu detik, mungkin kurang. Ia menatapku dengan mata hitam yang tenang itu, dan sesaat aku curiga ia tahu aku berbohong.

“Siap, Mbak,” katanya lagi.

Ia tidak protes, tidak bertanya apakah boleh memakai lift penumpang. Ia hanya mengangguk, mengelap tangan di serbet, lalu berjalan keluar dari pantry.

Ketika ia lewat di sebelahku, tercium aroma sabun batangan. Bukan parfum, bukan deodoran mahal, hanya sabun batangan yang murah dan bersih, seperti seprai yang baru dijemur.

Aku tidak tahu kenapa otakku menyimpan informasi itu.


Ternyata ia sudah membuatkan kopiku sebelum turun ke B2, padahal aku tidak melihatnya membuat. Gelasnya sudah ada di mejaku ketika aku kembali dari pantry, lengkap dengan tatakan, satu sendok gula, dan krimer setengah. Rasanya pas.

Sialan.

Di sebelah gelas itu ada tisu yang dilipat segitiga, seperti di restoran hotel.

Aku meminum kopi itu sambil membuka jadwal hari ini. Rapat Nat pukul sembilan, sebelas, dua, dan empat. Makan siangnya pukul satu kurang lima belas menit, di mobil, dalam perjalanan ke rapat berikutnya. Seperti biasa.

Pukul delapan lewat dua puluh, aku ke pantry untuk mengambil air dan mendengar suara dari dalam.

“...dan yang paling penting, Du, yang PALING penting, lu jangan pernah, jangan pernah naksir sama Mbak Cecil.”

Aku berhenti di balik pintu.

Itu suara Bang Mamat, kepala OB yang kumisnya bisa dipakai menyapu lantai, satu-satunya orang di gedung ini yang memanggil Nat “Neng Tasha” di belakang punggungnya.

“Saya nggak naksir siapa-siapa, Bang,” jawab suara OB baru itu. Tenang.

“Belum. Belum, Du. Semua juga bilang gitu. Si Rudi dulu juga bilang gitu. Tiga minggu, Du. Tiga minggu dia kerja di lantai 58, terus Mbak Cecil senyum sekali ke dia pas ngasih tip ulang tahun. Sekali. Besoknya Rudi resign. Katanya hatinya nggak kuat. Sekarang dia jadi takmir masjid di Cianjur. Bagus sih, tapi tetep aja.”

“Mbak Cecil-nya kenapa emang, Bang?”

“Kenapa? KENAPA?” Bang Mamat terdengar seperti orang yang ditanya kenapa langit berwarna biru. “Du, lu lihat sendiri, kan? Itu bukan perempuan. Itu ujian. Itu cobaan. Itu...”

Aku mendorong pintu pantry.

Bang Mamat sedang minum teh dan langsung tersedak. Tehnya menyembur sedikit ke lantai yang baru dipel. Batuknya begitu keras sampai OB baru itu harus menepuk punggungnya tiga kali.

“Pagi, Bang Mamat,” sapaku manis.

“Pa... pagi, Mbak Cecil,” Bang Mamat terbatuk lagi. “Kami lagi... lagi briefing. Briefing prosedur. Prosedur kebersihan.”

“Oh, ya? Prosedur apa?”

“Prosedur... cara ngepel... yang tidak... menimbulkan... cobaan.”

Senyumku melebar.

OB baru itu menunduk, mengelap tumpahan teh di lantai. Namun kulihat ujung bibirnya terangkat. Sedikit sekali, nyaris tak terlihat, seperti senyum yang ia tahan agar tidak ketahuan.

Itu pertama kalinya aku melihatnya hampir tersenyum.

Aku mengambil air, lalu keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Di lorong, aku sadar aku masih tersenyum, dan langsung kuhapus.


Pukul sembilan lewat empat puluh, aku memeriksa ruang Crimson. Tujuh kardus brosur sudah tersusun rapi di sudut. Masih kurang lima.

Aku melirik jam. Ia naik turun tangga darurat, dua kardus sekali angkut, dari B2 ke lantai 58. Itu enam puluh lantai. Sekali bolak-balik kira-kira lima belas menit, itu pun kalau kakinya kuat dan paru-parunya sehat.

Ia sudah naik turun tiga setengah kali.

Ada rasa tidak enak di perutku. Bukan rasa bersalah, aku tidak merasa bersalah. Lebih mirip rasa tidak enak ketika kita lupa mematikan kompor.

Aku keluar ke tangga darurat.

Bukan untuk memeriksanya. Aku hanya ingin memastikan brosurnya tidak lecek. Brosur itu mahal, kertas art paper 150 gram dengan laminasi dof. Kalau lecek, distributor bisa menganggap Red Electronics tidak profesional.

Tangga darurat Red Tower adalah dunia lain. Dindingnya beton telanjang, lampunya neon putih pucat, aromanya debu dan cat lama. Suara langkah kaki memantul ke atas dan ke bawah seperti di dalam sumur. Aku turun dua lantai, ke tikungan antara lantai 56 dan 55, dan mendengar langkahnya dari bawah: berat, teratur, tidak terburu-buru. Napasnya juga teratur, seperti orang yang sudah terbiasa lelah.

Aku turun satu anak tangga lagi.

Dan hak sepatuku patah.

Bukan patah perlahan, melainkan langsung, krak. Hak sepatu Charles & Keith setinggi tujuh senti yang kubeli dengan cicilan tiga bulan patah di tengah, dan kaki kananku tiba-tiba kehilangan pijakan. Tanganku meraih pegangan tangga dan meleset. Tubuhku condong ke depan, ke arah anak-anak tangga beton yang tidak punya belas kasihan.

Dua kardus brosur jatuh ke lantai.

Dua tangan menangkap pinggangku.

Dunia berhenti. Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin satu detik, mungkin satu tahun.

Aku menempel di dadanya, dada yang keras dan hangat dan naik turun cepat di balik seragam merah marun yang basah oleh keringat. Tangannya di pinggangku kuat dan tidak gemetar, memegangku seperti ia memegang gelas kristal tadi pagi: hati-hati, tetapi tidak akan dilepas. Wajahku hanya beberapa senti dari lehernya, dan aroma sabun batangan itu ada di mana-mana. Ditambah aroma keringat. Ditambah sesuatu yang lain yang tidak kuketahui namanya.

“Mbak nggak apa-apa?”

Suaranya rendah dan dekat sekali, tepat di atas kepalaku.

Aku sadar tanganku sedang meremas kain seragam di dadanya, dan aku langsung melepaskannya.

“Lepas,” kataku. Suaraku keluar satu oktaf lebih tinggi daripada biasanya. “Orang ngeliatin.”

Ia menengok ke atas tangga, lalu ke bawah tangga. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kami berdua, lampu neon, dan dua belas kilo brosur yang berserakan di anak tangga seperti konfeti pesta ulang tahun yang gagal.

Namun ia melepaskanku. Perlahan, memastikan aku sudah berdiri dengan satu kaki dan satu tangan di pegangan tangga.

“Sepatunya patah, Mbak.”

“Aku tahu sepatunya patah. Aku yang pakai.”

Ia berjongkok, dan tanpa bertanya ia meraih sepatu kananku, lalu melepaskannya dari kakiku dengan gerakan sopan seperti pangeran di film kartun Cinderella. Bedanya, pangeran yang ini berseragam OB dan berkeringat, sedangkan Cinderella-nya ingin mengubur diri di bawah tangga.

Ia mengamati hak yang patah itu, memutar-mutarnya, lalu merogoh saku seragam.

Ia mengeluarkan obeng kecil. Obeng mini, seperti obeng untuk memperbaiki kacamata, yang ujungnya bisa dibongkar pasang. Lalu ia mengeluarkan paku kecil dari saku yang sama.

“Kamu bawa paku di saku?”

“Kadang ada kursi yang goyang, Mbak.”

Ia menancapkan paku itu ke lubang hak, mengetuknya dua kali dengan gagang obeng, mengujinya dengan ibu jari, lalu mengetuk sekali lagi. Seluruh proses itu memakan waktu kurang dari satu menit. Tangannya cepat, yakin, tanpa satu pun gerakan yang sia-sia.

Tangan orang yang terbiasa memperbaiki sesuatu.

“Nggak bakal kuat lama,” katanya sambil memasangkan sepatu itu kembali ke kakiku, sangat hati-hati di bagian tumit. “Tapi cukup sampai Mbak pulang. Nanti dibawa ke tukang sol aja.”

Ia masih berjongkok di depanku. Dari atas, aku bisa melihat ubun-ubunnya, rambut yang dipotong sendiri itu, dan bahunya yang naik turun perlahan.

Lalu aku melihat sepatunya.

Sepatu kerja hitam biasa, jenis yang dibeli di pasar dan disemir setiap pagi supaya tampak layak. Saat ia berjongkok, sol sepatu kirinya terlihat.

Bolong.

Sebenarnya aku sudah melihatnya kemarin, ketika ia berjongkok memperbaiki proyektor. Kemarin aku hanya mencatat bolong dan melupakannya. Hari ini aku melihatnya lebih dekat: lubangnya seukuran koin lima ratus, tepat di bagian telapak depan. Dan di balik lubang itu tidak ada kaus kaki. Yang ada hanyalah potongan kardus yang dilipat dan diselipkan ke dalam sepatu untuk menutup lubangnya.

Ia naik turun enam puluh lantai tangga beton dengan sepatu itu, empat kali. Karena aku berbohong soal lift.

Dadaku nyeri. Nyerinya tajam, seperti ditusuk ujung stylus.

Bukan urusanku, kataku pada diri sendiri. Bukan urusanku. Dia OB. Aku sekretaris CEO. Sepatunya bolong, terus kenapa? Banyak orang sepatunya bolong. Aku nggak bisa beliin sepatu buat semua orang di Jakarta.

“Mbak?”

Aku sadar sejak tadi aku terdiam.

“Brosurnya,” kataku cepat. Suaraku sudah kembali normal. Hampir normal. “Lecek nggak?”

Ia memunguti brosur yang berserakan satu per satu, memeriksa ujungnya, lalu menyusunnya kembali ke dalam kardus.

“Nggak, Mbak. Aman.”

“Bagus.”

Aku berbalik, menaiki tangga perlahan dengan sepatu yang haknya ditahan paku, dan sama sekali tidak menoleh ke belakang.

Di tikungan lantai 57, aku berhenti dan bersandar ke dinding beton.

Jantungku masih berdebar. Pasti karena hampir jatuh. Adrenalin. Biologi dasar. Respons fight or flight. Ada di modul P3K kantor.

Pasti bukan karena tangan di pinggangku.

Pasti bukan karena aroma sabun batangan.


Lift barang tiba-tiba “sudah beres” pukul sepuluh kurang sepuluh. Lima kardus sisanya naik dalam sekali angkut. Aku sendiri yang menelepon teknisi untuk “memperbaiki” lift yang tidak pernah rusak itu, dan teknisinya kebingungan setengah mati.

Rapat dengan distributor berjalan lancar.

Pukul dua belas siang, aku melapor kepada Nat di ruangannya.

“Udah, Bu. OB-nya saya suruh angkut dua belas kardus lewat tangga darurat.”

Nat sedang membaca dokumen dan tidak mengangkat kepala.

“Bagus.”

Hanya itu. Nadanya datar, seperti mengucapkan “bagus” pada laporan cuaca.

Namun tangannya berhenti di halaman yang sama selama aku berdiri di sana. Matanya tidak bergerak. Pulpennya tidak bergerak.

“Bu?”

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku keluar. Aku tidak tahu kenapa aku tidak menceritakan soal sepatunya. Biasanya aku menceritakan segala hal kepada Nat, termasuk hal-hal yang tidak penting, seperti gosip bahwa Tiara di meja resepsionis berpacaran dengan kurir J&T.

Tetapi soal sepatu bolong yang diganjal kardus, aku diam.


Pukul empat sore, dari meja kerjaku yang dinding kacanya menghadap lorong, aku melihatnya lewat. Ia membawa nampan berisi gelas teh untuk rapat pukul empat, berjalan tenang seperti biasa. Sepatu kirinya berbunyi pelan di lantai marmer, srek, karena kardus di dalamnya.

Dan ia bersenandung lagi. Nada yang sama, nada aneh yang berhenti di tengah, seperti lagu yang lupa bagian akhirnya.

Aku nyaris memanggilnya, padahal tidak tahu hendak bilang apa.

Lalu aku melihat sesuatu yang lebih aneh.

Pintu kayu besar di ujung lorong terbuka setengah. Nat berdiri di sana, satu tangan di gagang pintu, memandangi punggung OB itu yang berjalan menjauh.

Wajahnya bukan wajah CEO, bukan pula wajah Nyonya Es.

Wajahnya seperti orang yang baru saja mendengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan, dan tidak yakin apakah harus menoleh.

Satu detik kemudian ia sadar aku melihatnya. Pintu itu langsung ditutup.

Aku duduk di kursiku. Kopi buatan OB itu, gelas kedua hari ini, yang muncul sendiri di mejaku ketika aku sedang rapat, masih tersisa setengah. Sudah dingin, tetapi rasanya masih pas.

Aku mengeluarkan cermin kecil dari laci dan merapikan lipstik. Memeriksa kacamata. Memeriksa rambut.

Lalu aku berbicara kepada bayanganku sendiri. Pelan dan tegas, seperti membacakan kesimpulan rapat.

“Lumayan. Cuma lumayan.”

Bayanganku tidak berkata apa-apa.

“Titik.”

Bayanganku masih diam. Namun ia tersenyum.

Kututup cermin itu keras-keras.