Chapter One
Lantai 58
POV: Pandu
Malam itu hujan turun seolah ada yang lupa mematikan keran di langit.
Aku berumur dua belas tahun, berdiri di teras Panti Asuhan Kasih Bunda dengan sandal jepit yang talinya disambung peniti. Di depan pagar, sebuah mobil hitam menunggu dengan mesin menyala. Lampunya terlalu terang untuk gang sempit kami, sampai genangan air di jalan tampak seperti pecahan kaca.
Kak Tasya berlutut di depanku. Rok seragam SMA-nya basah di bagian lutut, tetapi ia tidak peduli.
“Dengerin Kakak,” katanya. Tangannya dingin saat memegang pipiku. “Kakak pergi dulu. Cuma sebentar.”
“Sebentar itu berapa lama?”
Ia tidak langsung menjawab. Kak Tasya adalah orang paling pintar yang kukenal. Ia selalu juara kelas dan bisa mengerjakan PR matematika anak SMP sambil memasak mi untuk sepuluh anak panti. Jadi, kalau ia sampai diam, berarti jawabannya buruk.
“Kamu masih bawa senter dari Kakak?”
Aku merogoh saku celana pendek dan mengeluarkan senter kecil berwarna kuning yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di badannya ada goresan huruf yang dibuat Kak Tasya dengan paku setahun sebelumnya: N & P.
Malam itu listrik panti padam tiga jam. Aku menangis di bawah ranjang susun sampai ingusku belepotan ke mana-mana. Kak Tasya merangkak masuk, menyalakan senter ini di depan wajahku, lalu mengucapkan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat lengkap dengan nada suaranya.
“Gelap itu cuma lampu yang lagi istirahat, Du.”
Sekarang ia tersenyum melihat senter itu, senyum yang tipis sekali. Kemudian ia melepas jepit rambut kupu-kupu biru dari rambutnya, jepit plastik murahan dari pasar malam yang ia pakai setiap hari, dan meletakkannya di telapak tanganku.
“Pegang ini. Nanti Kakak ambil lagi pas jemput kamu.”
“Janji?”
“Kakak jemput kamu, Du.”
Dari mobil hitam itu seseorang memanggil namanya, tetapi bukan nama yang biasa kupakai. Natasha. Kak Tasya berdiri, menghapus air di pipinya yang mungkin air hujan dan mungkin juga bukan, lalu berlari menembus hujan.
Aku tidak menangis. Hanya itu yang bisa kuberikan untuknya malam itu. Kalau aku menangis, ia pasti kembali, dan kalau ia kembali, ia tidak akan pernah punya rumah.
Mobil itu pergi. Lampunya mengecil, lalu lenyap di ujung gang.
Aku berdiri di teras sampai Bu Ratna menarik tanganku masuk. Jepit kupu-kupu itu kugenggam terlalu erat sampai telapak tanganku berbekas.
Lima belas tahun kemudian, bekas itu sudah hilang. Jepitnya masih ada.
“Ini dia! Anak baru! Selamat datang di neraka paling wangi se-Sudirman!”
Pukul enam lewat sepuluh pagi, ruang istirahat OB di lantai B2 Red Tower sudah dipenuhi aroma kopi sachet dan minyak kayu putih. Seorang laki-laki berkumis tebal dengan perut seperti galon setengah isi menyalamiku sambil menepuk bahuku tiga kali. Setiap tepukannya terasa seperti orang yang sedang mengetes semangka.
“Mamat. Panggil Bang Mamat. Kepala OB, kepala rombongan, kepala keluarga, kepala batu. Lu Pandu, kan?”
“Iya, Bang.”
“Lantai 58, ya?” Ia membaca kertas penugasan di tangannya, lalu menggeleng pelan seperti dokter yang membaca hasil rontgen. “Ya Allah. Masih muda udah dikirim ke medan perang.”
Di belakangnya, tiga OB lain tertawa. Salah satunya pura-pura membuat tanda salib, padahal tadi kulihat ia salat Subuh di musala.
“Emang kenapa lantai 58, Bang?”
Bang Mamat menarik kursi plastik, duduk mengangkang, dan memasang wajah orang yang hendak bercerita horor.
“Lantai 58 itu kantornya Bu Natasha. CEO Red Electronics. Cantiknya, astaghfirullah, kayak bidadari. Dinginnya, astaghfirullah juga, kayak freezer Indomaret. OB terakhir di sana bertahan dua minggu. Yang sebelumnya sembilan hari. Yang sebelumnya lagi...” Ia berhenti dengan dramatis. “Sekarang jualan cilok di Bekasi. Sukses, sih. Tapi tetep.”
“Dia kenapa?”
“Kopinya Bu Natasha. Hitam, tanpa gula, es batu dua. Dua. Bukan tiga. Si Ucup taruh tiga, mukanya diliatin Bu Natasha lima detik doang. Lima detik, Du. Besoknya dia minta pindah ke lantai parkir.”
Aku mengangguk-angguk. Hitam. Tanpa gula. Dua es batu.
Dulu Kak Tasya tidak minum kopi. Katanya pahit, seperti obat batuk. Ia lebih suka teh manis dengan banyak es, lalu esnya dikunyah sampai giginya ngilu.
Lima belas tahun adalah waktu yang lama. Lidah orang bisa berubah.
“Siap, Bang.”
“Jangan siap-siap dulu. Ada hukum rimba OB yang harus lu hafal.” Bang Mamat mengangkat satu jari. “Satu, jangan pernah kelihatan. OB yang baik itu kayak angin. Ada, tapi nggak ada yang nyadar.” Jari kedua. “Dua, jangan pernah ngomong kecuali ditanya.” Jari ketiga, dan suaranya turun menjadi bisikan. “Tiga, dan ini paling penting: jangan naksir sekretarisnya.”
“Sekretarisnya?”
Semua OB di ruangan itu mendesah bersamaan, seperti paduan suara patah hati.
“Mbak Cecil,” kata Bang Mamat dengan khidmat. “Lu lihat sendiri nanti. Pokoknya jangan. Udah banyak korban. Satpam lantai satu sampai sekarang nulis puisi tiap malam.”
Aku hanya tersenyum. Aku tidak datang ke gedung ini untuk menaksir siapa pun.
Aku datang untuk melihat kakakku.
Lift menuju lantai 58 membutuhkan empat puluh tujuh detik. Aku menghitungnya.
Seragamku berwarna merah marun, dengan logo menara kecil Red Tower dijahit di dada kiri. Celananya agak kepanjangan, jadi ujungnya kulipat sekali. Di saku seragam ada senter kuning yang tidak pernah kutinggalkan di rumah. Kalau ada yang bertanya, aku akan bilang senter itu untuk memeriksa kolong meja.
Pintu lift terbuka, dan lantai 58 tampak seperti lobi hotel yang menyamar menjadi kantor. Lantainya marmer abu-abu, dinding kacanya menghadap langsung ke Bundaran HI, dan di ujung lorong berdiri pintu kayu besar dengan pelat kuningan: NATASHA REDCLIFF — CHIEF EXECUTIVE OFFICER.
Aku berdiri di depan pintu itu lebih lama daripada yang perlu.
Redcliff. Nama yang dipakai orang yang memanggilnya dari mobil hitam. Nama yang sekarang ia sandang. Nama yang dulu membuatku membenci semua mobil hitam di Depok selama setahun penuh.
“Mas. Mas OB.”
Aku menoleh.
Ini pasti orang yang dimaksud Bang Mamat.
Ia berdiri di balik meja kaca di depan ruang CEO, satu tangan memegang tablet dan tangan lainnya masih menggenggam stylus. Rambutnya hitam bergelombang, panjang sampai punggung, dan jatuhnya rapi seperti di iklan sampo. Ia mengenakan kemeja sutra putih dan rok pensil hitam yang... pokoknya membuatku langsung mengerti kenapa satpam lantai satu menulis puisi. Kacamatanya berbingkai tipis berwarna emas pucat, dan dari balik kacamata itu matanya menilaiku dari ujung sepatu sampai rambut tanpa sungkan.
“Kamu yang baru?”
“Iya, Mbak.”
“Ruang rapat Crimson. Jam sembilan ada rapat direksi. Pastiin air putih, tisu, sama permen jahe di tiap kursi. Pak Hardiman batuk kalau nggak ada permen jahe, dan kalau Pak Hardiman batuk, rapatnya molor setengah jam.” Ia menunjuk lorong ke kanan dengan stylus. “Jangan sampai molor.”
“Siap, Mbak.”
Ia sudah kembali menatap tabletnya sebelum aku selesai bicara.
Aku berjalan ke ruang rapat, dan baru di tengah lorong aku sadar jantungku berdebar. Bukan karena sekretaris itu.
Karena pintu kayu besar itu terbuka.
Aku sedang meletakkan permen jahe di kursi keenam ketika ia masuk.
Aku sudah membayangkan momen ini ribuan kali. Di bus TransJakarta. Di perpustakaan pukul dua pagi. Di kamar kos tiga kali tiga meter yang atapnya bocor kalau hujan datang dari arah barat. Dalam semua bayangan itu, aku selalu siap.
Ternyata aku tidak siap.
Kak Tasya, Natasha Redcliff, kini berumur tiga puluh satu tahun. Ia lebih tinggi daripada yang kuingat. Atau mungkin dulu aku terlalu pendek untuk tahu setinggi apa kakakku. Rambutnya disanggul rendah, rapi tanpa sehelai pun yang lepas. Blazer abu-abu tua, celana bahan dengan lipatan setajam pisau, dan sepatu hak yang bunyinya di lantai terdengar seperti orang mengetik kalimat penting.
Ia cantik. Bukan cantik yang membuat orang ingin menyapa, melainkan cantik yang membuat orang otomatis berdiri lebih tegak.
Wajahnya masih memiliki garis yang sama. Dagunya, alisnya yang sedikit terangkat di ujung, caranya merapatkan bibir saat berpikir. Namun matanya berbeda. Dulu matanya hangat seperti teh manis pukul empat sore. Sekarang matanya seperti jendela di lantai lima puluh delapan: bening, tinggi, dan kalau terlalu lama menatap ke bawahnya, kau akan ngeri sendiri.
Ia melewatiku tanpa menoleh.
Tentu saja. OB yang baik itu seperti angin.
Aku keluar dari ruangan perlahan, berdiri di sudut dekat dispenser, dan pura-pura mengelap meja kecil yang sudah bersih. Napasku keluar satu per satu, seperti orang yang baru menaiki tangga darurat lima puluh delapan lantai.
Dia sehat. Dia baik-baik aja. Dia jadi orang hebat.
Bukankah itu yang kuinginkan? Itulah alasanku meminta Bu Ratna berbohong waktu aku berumur tiga belas tahun.
Lalu kenapa rasanya seperti ada yang mencubit bagian dalam dadaku?
Pukul sembilan lewat tujuh, proyektor ruang Crimson mati.
Bukan mati yang dramatis. Tidak ada asap ataupun bunyi. Layarnya hanya tiba-tiba membiru, lalu tulisan NO SIGNAL muncul besar di tengah, seperti penonton bayaran yang menyoraki presentasi.
Dari balik dinding kaca, kulihat sebelas anggota direksi saling pandang. Seorang laki-laki tua berkacamata tebal, mungkin Pak Hardiman, terbatuk sekali. Sekretaris tadi langsung menelepon seseorang, dan dari raut wajahnya jelas orang yang ditelepon tidak mengangkat.
Kakakku berdiri di depan layar biru itu dengan tangan terlipat. Ia tidak marah, tidak panik. Ia hanya diam, dan diamnya lebih menakutkan daripada teriakan siapa pun.
Sekretaris itu keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat.
“IT lagi ke lantai 12, liftnya macet,” katanya kepada udara, kepada siapa saja. Lalu matanya bertemu mataku. “Kamu. Bisa colokin kabel?”
“Bisa, Mbak.”
“Masuk.”
Aku masuk dan langsung berjongkok di bawah meja rapat, menuju kotak sambungan kabel. Masalahnya sepele: adaptor HDMI ke USB-C yang menghubungkan laptop dengan proyektor sudah longgar, ujungnya aus. Kugoyangkan sedikit, layar berkedip. Kutahan di sudut tertentu, layar menyala. Begitu kulepas, mati lagi.
Aku mengeluarkan karet gelang dari saku, kebiasaan anak panti yang selalu menyimpan karet gelang untuk berjaga-jaga, lalu mengikat adaptor itu ke kaki meja dengan sudut yang pas.
Layar menyala dan tidak mati lagi.
Seseorang di meja bertepuk tangan kecil. Aku berdiri, menunduk sopan, siap mundur seperti angin.
Lalu aku melihat slide-nya.
Grafik batang biru-merah berjudul RED X — THERMAL LOAD ANALYSIS. Di bawahnya tertera angka: Kapasitas disipasi panas 4,2 W. Beban panas puncak 3,8 W. Margin aman: 10,5%. Di pojok bawah ada catatan kecil dengan huruf yang begitu mungil sampai mungkin hanya aku yang membacanya: asumsi suhu ambien 25°C.
Dua puluh lima derajat.
Sebelum otakku sempat mengerem, mulutku sudah bicara. Pelan, untuk diriku sendiri.
“Kalau di angkot, tiga puluh lima derajat, angkanya nggak cukup.”
Ruangan itu hening.
Aku langsung sadar suaraku terlalu keras.
“Kamu bilang apa?”
Suaranya datar, tidak tinggi, dan memang tidak perlu tinggi. Kakakku menoleh perlahan ke arahku, dan untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, ia melihatku.
Tetapi yang ia lihat hanyalah seorang OB.
“Maaf, Bu. Bukan apa-apa.”
“Saya tanya, kamu bilang apa.”
Sebelas anggota direksi menatapku seperti sedang menonton kucing nyasar masuk ke rapat DPR. Sekretaris di belakang kakakku mengangkat alis begitu tinggi sampai alisnya nyaris menyentuh garis rambut.
Aku menelan ludah.
“Itu asumsinya suhu ruangan dua puluh lima derajat, Bu,” kataku sambil menunjuk catatan kecil di pojok layar. “Tapi orang Indonesia pakai HP di angkot, di motor, di bawah matahari. Suhunya bisa tiga puluh lima, kadang lebih. Kalau suhu sekitarnya naik sepuluh derajat, kemampuan buang panasnya turun. Margin sepuluh persen itu bisa habis. Bisa minus.”
Hening. Lalu Pak Hardiman tertawa.
Bukan tawa jahat, lebih mirip tawa kakek yang melihat cucunya mengoreksi guru. Ia terbatuk sekali, melepas kacamata tebalnya, lalu berbicara kepada seisi ruangan, “Wah. OB kita lebih teliti dari tim R&D kita, Bu Natasha.”
Dua direktur lain ikut tertawa kecil. Seorang lagi menyeringai sambil menulis sesuatu di bukunya.
Kakakku tidak tertawa.
Wajahnya tidak berubah sedikit pun, hanya satu otot kecil di rahangnya yang mengencang. Aku mengenal otot itu. Dulu otot itu selalu mengencang setiap kali anak-anak tetangga mengejek kami “anak buangan”. Setelahnya, biasanya ada anak tetangga yang pulang dengan sandal hilang sebelah.
“Terima kasih atas masukannya,” katanya. Sopan. Dingin. Diletakkan dengan rapi seperti piring di rak. “Silakan keluar.”
“Baik, Bu.”
Aku keluar tanpa menoleh. Di luar, aku bersandar ke dinding dekat dispenser dan memejamkan mata sebentar.
Pinter banget kamu, Du. Hari pertama. Jam sembilan pagi. Udah bikin kakakmu malu di depan sebelas orang.
Rapat selesai pukul sebelas kurang lima. Para direksi keluar satu per satu. Pak Hardiman lewat dan menepuk lenganku. “Karet gelangnya pinter,” katanya sambil mengedipkan mata. Aku hanya bisa menunduk.
Aku masuk lagi untuk membereskan gelas.
Ia masih di sana.
Kakakku berdiri di dekat jendela, menghadap Bundaran HI, satu tangannya menggenggam ponsel yang layarnya mati. Sekretarisnya sudah keluar lebih dulu. Hanya ada kami berdua di ruangan seluas lapangan voli ini, ditemani sebelas gelas setengah kosong dan bungkus permen jahe.
Aku mulai mengumpulkan gelas tanpa suara.
“Kamu.”
Tanganku berhenti.
“Tunggu.”
Ia berbalik. Langkah sepatu haknya mendekat, satu, dua, tiga, lalu berhenti dua meter di depanku. Dari jarak ini aku bisa melihat lingkaran hitam samar di bawah matanya yang tertutup bedak. Kakakku masih sulit tidur. Sejak dulu.
“Kamu lulusan apa?”
Pertanyaan yang tidak kusiapkan.
“SMA, Bu.”
Kebohongan pertama di depan kakakku. Rasanya seperti menelan kerikil.
“SMA,” ulangnya. Matanya menyisir wajahku, tetapi cepat dan tidak teliti, seperti orang membaca struk belanja yang hanya mencari angka totalnya. “Siapa yang ngajarin kamu soal disipasi panas?”
“YouTube, Bu.”
Kebohongan kedua. Kerikilnya makin besar.
Ia diam, dan aku tahu ia tidak percaya. Namun aku juga tahu ia tidak akan membuang waktu untuk mencari tahu. OB itu angin. Siapa yang peduli angin belajar dari mana.
“Lain kali,” katanya pelan, “kalau kamu mau bicara di ruangan ini, pastikan ada yang bertanya.”
“Baik, Bu.”
Ia mengangguk sekali. Urusan selesai. Ia sudah hendak kembali ke jendela, lalu berhenti, seperti baru teringat sesuatu yang tidak penting.
“Nama kamu siapa?”
Seluruh tubuhku mendingin.
Lima belas tahun. Selama lima belas tahun aku berlatih menjawab pertanyaan ini. Aku pernah terpikir memakai nama tengah, nama samaran, nama apa saja. Namun nama di KTP-ku hanya satu, nama di surat kontrak vendor hanya satu, dan nama yang Kak Tasya berikan padaku ketika ia mengajariku menulis di tanah dengan ranting juga hanya satu.
Aku bisa berbohong soal ijazah. Aku tidak bisa berbohong soal ini.
“Pandu, Bu.”
Ia diam.
Diamnya kali ini lain. Bukan diam seorang CEO yang menunggu orang menyelesaikan kalimat, melainkan diam orang yang berdiri di tepi kolam dan tiba-tiba lupa caranya berenang.
Matanya tidak beranjak dari wajahku. Namun ia tidak lagi melihatku. Ia melihat sesuatu di belakangku, jauh sekali, mungkin lima belas tahun jauhnya.
Kemudian rahangnya mengeras, dan wajahnya berubah menjadi batu.
“Keluar,” katanya.
Bukan bentakan. Kata itu jatuh pelan, seperti pisau yang diletakkan di atas meja.
“Baik, Bu.”
Aku keluar sambil membawa nampan berisi sebelas gelas. Tanganku stabil, gelasnya tidak berdenting sama sekali. Aku bangga akan hal itu.
Di lorong, sekretaris itu memperhatikanku dari balik mejanya. Matanya menyipit di balik kacamata emas pucat, seperti sedang mengisi teka-teki silang yang jawabannya tidak muat di kotak.
Aku terus berjalan ke pantry, meletakkan nampan di wastafel, lalu menyalakan keran.
Airnya dingin. Kubiarkan mengalir di tanganku lama sekali.
Ia tidak mengenaliku. Bagus. Itu yang kuinginkan.
Aku merogoh saku seragam dan menyentuh senter kuning di dalamnya. Ibu jariku menemukan goresan kasar huruf N & P di badannya. Aku hafal letaknya tanpa perlu melihat.
Lalu, tanpa sadar, aku bersenandung pelan. Nada lama yang hanya diketahui dua orang di dunia ini.
Di luar jendela pantry, suhu Jakarta tiga puluh empat derajat.
Kalau di angkot, pasti lebih.
- 1 Lantai 58 reading
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat