Chapter Nine
Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
POV: Erga
Operasi Puncak (RAHASIA!!!)
Putra: Oke tim. Rapat pertama. Agenda: semuanya.
Faisal: gue mau tanya satu hal dulu
Putra: Apa
Faisal: ini rahasia buat siapa
Putra: Udah gue bilang jangan tanya
Faisal: gue kan cuma pengen tahu harus masak buat berapa orang
Putra: Sama kayak rencana awal. 6 orang.
Faisal: oke. terus ini acara apa
Putra: RAHASIA SAL
Faisal: gue anggota tim rahasia tapi gue nggak tahu rahasianya
Zara: Selamat datang di hidup gue
Faisal: lo juga nggak tahu??
Zara: Gue disuruh nggak nanya
Faisal: ga lo tahu?
Aku menatap layar HP selama beberapa detik.
Aku: Tahu.
Faisal: jadi cuma gue sama zara yang nggak tahu
Putra: Kalian tahu nanti. Di hari H. Itu bagian dari kejutannya.
Faisal: kejutan buat siapa
Putra: SAL
Faisal: oke oke
Tiga menit kemudian, nama grup berubah.
Faisal mengubah nama grup menjadi “Gugus 7 Minus Clara dan Keisha”
Putra: KENAPA LO GANTI
Faisal: biar jelas siapa yang nggak boleh tahu
Putra: ITU MALAH NGASIH PETUNJUK
Faisal: petunjuk apa? clara sama keisha kan emang nggak di sini
Putra: Kalau HP lo dilihat Keisha?? Dia baca “minus Clara dan Keisha”, terus dia nanya kenapa dia nggak diajak, terus dia nangis, terus semuanya hancur
Faisal: keisha nggak pernah liat hp gue
Zara: Dia liat hp lo tiap jumat buat nyari foto makanan
Faisal: ...
Faisal mengubah nama grup menjadi “Grup Belanja Sayur”
Putra: Oke. Itu lebih baik.
Zara: Itu paling mencurigakan. Lo nggak pernah belanja sayur pakai grup.
Faisal: gue belanja sayur tiap hari zar
Zara: Sendirian
Faisal: ya gue bisa aja mulai belanja sayur rame-rame
Zara mengubah nama grup menjadi “Tim Kerja Proyek Cawang”
Zara: Nggak akan ada yang mau buka grup ini.
Putra: ...Oke. Itu jenius.
Faisal: gue nggak kerja di proyek cawang
Zara: Sekarang lo kerja.
Rapat yang sebenarnya dimulai satu jam kemudian, setelah Putra selesai menangani pasien kecelakaan motor dan Faisal selesai melayani makan malam.
Aku sudah menyiapkan dokumen. Rundown lengkap, dari kedatangan di vila sampai malam kedua jam sebelas. Kubagi per jam, per orang, per tugas. Kuunggah ke grup sebagai PDF, karena aku tahu Faisal tidak akan pernah membuka spreadsheet.
Putra: Ga. Ini 14 halaman.
Aku: Iya.
Putra: 14 halaman buat dua hari??
Aku: Halaman 1-3 jadwal. Halaman 4-6 daftar belanja. Halaman 7-9 layout gazebo. Halaman 10-12 rencana cadangan. Halaman 13-14 kontak darurat.
Faisal: kontak darurat buat apa
Aku: Kalau hujan. Kalau mati lampu. Kalau ada yang sakit. Kalau dia pulang duluan.
Faisal: kalau dia pulang duluan??
Aku: Halaman 12. Rencana C.
Zara: Ada rencana C?
Aku: Ada sampai E.
Zara: Rencana E apa?
Aku: Kalau dia nolak.
Grup sunyi selama empat puluh detik. Aku melihat tanda “Putra sedang mengetik...” muncul, hilang, muncul, hilang.
Putra: ...isinya apa?
Aku: Faisal langsung keluarin makanan penutup. Zara matiin lampu tumblr pelan-pelan. Keisha diajak karaoke. Kamu sama aku jalan-jalan di kebun teh sampai pagi.
Putra: Kenapa jalan di kebun teh sampai pagi?
Aku: Karena kamu bakal butuh itu.
Lagi-lagi sunyi. Kali ini lebih lama.
Putra: Ga.
Aku: Hm.
Putra: Makasih udah mikirin itu.
Aku: Mudah-mudahan nggak kepakai.
Zara: Lo bikin rencana buat semua kemungkinan.
Aku: Iya.
Zara: Termasuk kemungkinan dia bilang iya?
Aku: Itu rencana A.
Zara: Dan rencana buat lo sendiri kalau dia bilang iya?
Aku menatap pesan itu.
Faisal mengetik hah maksudnya apa, lalu menghapusnya. Putra tidak mengetik apa pun.
Aku: Aku nggak perlu rencana. Aku bagian lampu.
Zara: Oke.
Hanya oke. Tapi aku tahu Zara. Oke dari Zara bukan berarti dia setuju. Oke dari Zara berarti dia sudah melihat sesuatu, dan memutuskan untuk menyimpannya untuk nanti.
Pembagian tugas, berdasarkan halaman empat sampai enam:
Faisal: Makanan. Barbeque malam pertama, makan malam spesial malam kedua. Kue ulang tahun Keisha tetap dibuat Keisha sendiri, karena dia akan curiga kalau tidak. Faisal harus menyiapkan makanan penutup cadangan untuk rencana E.
Zara: Pengalihan. Tugasnya membawa “dia” ke gazebo jam sembilan malam tanpa curiga.
Putra: Mempersiapkan mental. Latihan pidato. Tidak pingsan.
Aku: Segalanya yang lain.
Masalah pertama muncul di tugas Zara.
Zara: Gue bawa siapa ke gazebo?
Putra: Dia.
Zara: Gue nggak tahu “dia” siapa, Put.
Putra: Erga tahu.
Zara: Ga?
Aku menatap layar.
Aku: Aku tahu.
Faisal: jadi zara harus nanya lo dulu siapa yang dibawa?
Putra: Nggak. Zara bawa DUA-DUANYA. Clara sama Keisha. Biar nggak curiga. Kalau cuma bawa satu, dia bakal mikir kenapa cuma dia yang diajak.
Zara: Dua-duanya.
Putra: Iya. Pakai alasan apa aja. Foto bintang. Liat lampu kota. Apa aja.
Zara: Terus pas di gazebo, yang satunya gue apain?
Putra: Ya... tetap di sana. Jadi saksi.
Zara: Jadi lo mau ngelamar di depan cewek yang satunya juga?
Putra: Kita semua bakal jadi saksi. Kalian semua ngumpet di balik pohon. Itu konsepnya. Kayak surprise.
Faisal: pohon apa? di vila ada pohon?
Aku: Halaman 8. Ada tiga pohon cemara di sebelah kiri gazebo. Diameter batang cukup buat satu orang ngumpet. Faisal di belakang tenda barbeque.
Faisal: kenapa gue di belakang tenda
Aku: Kamu nggak muat di belakang pohon.
Faisal: ga
Aku: Itu bukan penghinaan. Itu pengukuran.
Jumat malam, rahasia itu hampir bocor dalam dua belas menit.
Keisha datang ke Dapur Isal lebih awal dari biasanya, karena dia mau memamerkan desain baru kue ulang tahunnya, versi keempat. Faisal sedang di dapur. HP-nya tergeletak di konter, layar menyala, menampilkan notifikasi grup.
Keisha mengambil HP itu. Dia selalu mengambil HP Faisal untuk mencari foto makanan yang bisa dia unggah ulang. Faisal tidak pernah keberatan, dan Faisal juga tidak pernah mengunci HP-nya, karena katanya, “Gue nggak punya rahasia.”
Malam ini dia punya.
“Sal,” kata Keisha, sambil menggulir layar. “Kamu kerja di proyek Cawang?”
Di dapur, terdengar bunyi wajan jatuh.
Faisal muncul di ambang pintu dapur dengan wajah pucat dan spatula di tangan. Dia menatap Keisha. Lalu menatapku, yang duduk di kursi paling ujung. Lalu menatap Zara, yang duduk di seberangku dengan kaki diangkat ke kursi dan ekspresi orang yang sudah memperkirakan ini akan terjadi.
“Sampingan,” kata Faisal.
“Sampingan?”
“Iya. Gue... konsultan.”
“Konsultan apa?”
“Konsultan... katering. Buat pekerja proyek. Zara yang ngajak.”
Keisha menoleh ke Zara. Zara mengangguk sekali, datar, tanpa ekspresi.
“Iya,” kata Zara. “Pekerja proyek butuh gizi.”
“Oh.” Keisha menatap layar lagi. Jarinya bergerak. “Tapi kok ada Putra sama Erga juga di grupnya?”
Hening.
Faisal menatapku dengan mata memohon. Zara menatap langit-langit. Putra belum datang, untungnya, karena wajah Putra akan langsung membocorkan semuanya.
“Putra konsultan kesehatan,” kataku. “Aku konsultan IT. Proyeknya butuh sistem absensi.”
Keisha menatapku. Aku menatap balik. Tenang. Datar.
Itu bukan bohong. Proyek Zara memang butuh sistem absensi. Zara mengeluhkannya tiga bulan lalu, dan aku sudah menawarkan diri membantunya, gratis, akhir bulan ini.
“Ohhh,” kata Keisha. “Keren. Kalian kok nggak ngajak aku?”
“Kamu guru SD,” kata Zara. “Pekerja proyek nggak butuh pelajaran membaca.”
“Mereka mungkin butuh!”
“Mereka udah bisa baca, Kei.”
“Ya udah.” Keisha meletakkan HP Faisal kembali ke konter, tanpa membuka pesan apa pun, dan langsung mengeluarkan iPad berisi desain kuenya. “Liat! Versi empat! Ada bunganya!”
Faisal mengambil HP-nya dengan tangan gemetar, memasukkannya ke saku celemek, dan kembali ke dapur tanpa berkata apa-apa. Dari dapur, aku mendengarnya berbisik sendiri, “Ya Allah, ya Allah, ya Allah.”
Zara menatapku dari seberang meja.
“Konsultan IT,” katanya pelan.
“Proyek kamu emang butuh sistem absensi.”
“Gue tahu.” Ujung bibirnya naik sedikit. “Lo bener-bener nggak pernah bohong, ya.”
“Nggak.”
“Itu bikin lo jago banget nyembunyiin sesuatu.”
Aku tidak menjawab. Keisha sudah memaksaku melihat desain kue versi empat, yang bentuknya seperti gunung dengan bunga-bunga pink di puncaknya, dan bertanya apakah menurutku itu “cukup Puncak”.
“Cukup,” kataku.
“Yay!”
Sabtu siang, aku pergi ke Glodok.
Pusat perlengkapan elektronik di Jakarta Barat itu panas, padat, dan berisik, labirin toko kecil yang menjual segala hal mulai dari kabel tembaga sampai lampu disko. Aku sudah ke sini puluhan kali, untuk keperluan kantor, untuk router Faisal, untuk proyek-proyek kecil yang tidak ada hubungannya dengan apa pun.
Belum pernah untuk ini.
Lampu tumblr hangat, sepuluh meter, enam set. Lampu gantung bentuk bola kecil, dua puluh buah. Kabel ekstensi tahan air. Baterai cadangan. Lilin LED dua puluh empat buah, karena lilin sungguhan di gazebo kayu dekat cemara adalah bencana yang menunggu terjadi.
Penjual toko lampu, bapak tua dengan kacamata tebal yang sudah mengenaliku, mengangkat alis melihat daftar belanjaku.
“Mau nikah, Mas?”
“Teman.”
“Oh, teman.” Dia menyerahkan lampu tumblr satu per satu, menguji setiap set dengan mencolokkannya ke terminal di meja. Cahaya kuning hangat menyala, memantul di kacamatanya. “Teman yang mau nikah, Mas yang belanja?”
“Dia nggak tahu cara pasang lampu.”
“Hm.” Bapak itu menguji set kedua. “Pacar Mas sendiri gimana?”
“Nggak ada.”
“Kok bisa? Mas ganteng gini.”
“Belum waktunya, Pak.”
Bapak itu berhenti menguji lampu. Dia menatapku dari balik kacamata tebalnya, lama, seperti orang yang sudah menjual lampu untuk ribuan pernikahan selama tiga puluh tahun dan bisa membaca sesuatu dari wajah pembelinya.
“Mas,” katanya pelan. “Waktunya nggak pernah dateng sendiri. Harus dijemput.”
Aku tidak menjawab.
Dia memasukkan semua lampu ke kardus, mengikatnya dengan tali rafia, dan memberiku diskon sepuluh persen tanpa diminta.
Aku sedang memasukkan kardus ke bagasi, di antara kotak P3K dan APAR yang sudah diisi ulang, ketika HP-ku bergetar. Video call. Clara.
Aku mengangkatnya. Wajah Clara muncul di layar, rambut tergerai, kaus rumah oversized, berbaring di sofa apartemennya.
“Kamu di mana?”
“Glodok.”
“Ngapain?”
“Belanja.”
“Belanja apa?”
“Lampu.”
Dia mengerutkan kening. “Lampu apa? Arahin kameranya.”
Aku menimbang sebentar. Lalu memutar kamera ke bagasi. Kardus lampu tumblr terbuka sedikit di atasnya, memperlihatkan gulungan kabel dengan bola-bola kecil.
“Lampu tumblr?” Clara terdengar bingung. “Buat apa kamu beli lampu tumblr? Kamu mau dekor kamar?”
“Buat Puncak.”
“Puncak? Buat apa di Puncak?”
Aku memutar kamera kembali ke wajahku.
“Rahasia.”
Clara diam. Lalu matanya menyipit. “Kamu nyiapin sesuatu buat ulang tahun Keisha?”
Aku tidak menjawab langsung. Aku tidak pernah bohong, dan aku tidak berniat mulai sekarang.
“Ada yang mau nyiapin sesuatu,” kataku.
“Siapa?”
“Rahasia, Ra.”
“Putra?”
Aku diam.
“Faisal?”
Aku diam.
“Oke, oke.” Clara tertawa dan mengangkat tangan menyerah. “Aku nggak nanya lagi. Pasti buat Keisha. Dia bakal nangis tiga hari.” Dia berguling di sofa, sekarang tengkurap, menatap layar dengan dagu di atas bantal. “Kamu yang pasang lampunya?”
“Iya.”
“Kamu bisa ajarin aku? Aku mau pasang di balkon apartemen. Biar kayak di film-film.”
“Nanti.”
“Nanti kapan?”
“Habis Puncak.”
“Janji?”
“Iya.”
“Janji beneran, bukan janji Erga yang ‘iya’ terus lupa?”
“Aku nggak pernah lupa janji, Ra.”
Clara menatapku dari balik layar. Senyumnya pelan-pelan tumbuh, dari ujung bibir ke pipi ke mata, sampai seluruh wajahnya menyala seperti salah satu lampu tumblr di kardus itu.
“Iya, aku tahu,” katanya pelan. “Kamu nggak pernah lupa.”
Lalu dia diam. Aku juga diam. Kami saling menatap lewat layar, aku di parkiran Glodok yang panas dan bau knalpot, dia di sofa apartemennya yang sejuk, dan untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.
“Ga.”
“Hm?”
“Kamu kalau bohong, jawabannya pendek.”
“Aku selalu jawab pendek.”
“Lebih pendek dari biasanya,” katanya. “Tadi kamu jawab ‘rahasia’ tiga kali. Itu pendek banget.”
“Itu bukan bohong. Itu rahasia.”
“Beda?”
“Beda.”
“Bedanya apa?”
Aku menatap wajahnya di layar. Rambut yang berantakan di atas bantal. Mata yang setengah mengantuk. Bibir yang sedikit cemberut karena tidak mendapat jawaban.
Dalam dua minggu, dia akan berdiri di gazebo yang kuhias dengan lampu-lampu ini, dan seorang laki-laki baik akan berlutut di depannya dengan cincin berlian ukuran enam. Dan dia akan bahagia. Aku akan memastikan dia bahagia. Aku akan memastikan setiap lampu menyala, setiap lilin berkedip, setiap detail sempurna, supaya ketika dia mengingat malam itu bertahun-tahun kemudian, dia hanya mengingat hal-hal yang indah.
“Bohong itu nyembunyiin sesuatu buat diri sendiri,” kataku. “Rahasia itu nyembunyiin sesuatu buat orang lain.”
Clara diam.
“Ini buat orang lain, Ra.”
Dia menatapku lama. Lalu dia mengangguk, pelan, dan wajahnya berubah sedikit. Bukan sedih. Lebih seperti seseorang yang baru mendengar sesuatu yang penting, tapi belum tahu kenapa itu penting.
“Oke,” katanya. “Aku percaya.”
“Makasih.”
“Tapi lampu balkonku tetap harus dipasang.”
“Habis Puncak.”
“Habis Puncak.” Dia tersenyum lagi, dan kali ini senyumnya mengantuk dan manja. “Hati-hati nyetirnya. Glodok macet.”
“Iya.”
“Kabarin kalau udah sampai rumah.”
“Iya.”
“Ga.”
“Hm?”
Dia menatapku dari balik layar, dagu di atas bantal, rambut jatuh menutupi sebagian wajah.
“Nggak jadi,” katanya. “Hati-hati aja.”
Panggilan berakhir.
Aku berdiri di parkiran Glodok, di samping bagasi yang terbuka berisi lampu untuk lamaran yang bukan milikku, dan untuk sesaat aku membiarkan diriku memikirkan kalimat yang tidak jadi Clara ucapkan.
Lalu aku menutup bagasi, masuk ke mobil, dan menyetir pulang.
Grup “Tim Kerja Proyek Cawang” berbunyi. Putra mengirim voice note dua menit. Itu rekaman dia berlatih pidato lamaran di kamar mandi IGD, dengan suara gema keramik dan bunyi keran menetes di latar belakang.
Faisal membalas: put ini bagus banget gue nangis
Zara membalas: Ulang. Lo kebanyakan bilang “eh”.
Aku membalas: Lampu udah beli.
Lalu aku menyalakan radio, mencari lagu apa saja, dan mendengarkan penyiar membacakan laporan lalu lintas yang macet di semua arah.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha reading
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja