← Biar Aku Aja

Chapter Twenty Eight

Makan Malam Keluarga Halim

POV: Erga


Rumah keluarga Halim di Menteng punya dua belas pilar putih, halaman rumput seluas lapangan futsal, dan pagar besi tempa setinggi dua meter dengan satpam yang menatap Honda Jazz-ku dari ujung kap sampai ujung bagasi sebelum membukakan gerbang.

“Tamu Pak Hendra?” tanyanya.

“Iya, Pak.”

“Atas nama?”

“Erga.”

Satpam itu memeriksa daftar di papan klip. Membalik halaman. Membalik lagi. Lalu mengangkat kepala.

“Nggak ada di daftar, Mas.”

Aku diam.

Lalu dari balik pagar, terdengar suara langkah cepat di jalan setapak berbatu. Clara. Dengan gaun hitam selutut, rambut disanggul tinggi, anting berlian kecil, dan wajah yang merah karena berlari.

“Pak Darmo! Dia tamu saya!”

Satpam itu menoleh. “Tapi Non, nggak ada di daftar dari Bu Mira—”

“Bu Mira yang bikin daftar. Ini tamu saya. Dan tamu Papa.” Clara sampai di gerbang, terengah, dan menatapku melalui jeruji besi. “Kamu udah dari tadi?”

“Baru.”

“Kamu nggak telepon aku?”

“Baru mau.”

Clara menatap Pak Darmo. Pak Darmo membukakan gerbang tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku memarkir Jazz di antara sebuah Mercedes hitam dan sebuah Range Rover putih. Mobilku terlihat seperti anak kecil yang tersesat di pesta orang dewasa.

Clara menungguku turun. Lalu dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemeja putih. Lengan digulung. Celana bahan hitam. Sepatu kulit yang kusemir semalam.

“Ganteng,” katanya.

“Daftar tamu,” kataku.

Wajahnya mengeras. “Tante Mira.”

“Nggak apa-apa.”

“Itu apa-apa, Ga. Itu sengaja.”

“Aku udah masuk.” Aku mengangkat kotak kado yang terbungkus kertas cokelat polos dan diikat tali rami. “Ayo.”

Clara menatap kotak itu. “Itu apa?”

“Kado.”

“Kado apa?”

“Kamu bilang aku pasti tahu.”

Dia menatapku lama. Lalu menggenggam tanganku, erat, dan menarikku ke pintu depan.


Ruang makan keluarga Halim punya meja jati panjang untuk empat belas orang, lampu kristal yang tergantung dari langit-langit tinggi, dan lukisan pemandangan Danau Toba yang besar di dinding. Malam ini meja itu penuh.

Di kepala meja, Pak Hendra Halim. Enam puluh tahun hari ini. Rambut putih yang disisir rapi ke belakang, kacamata berbingkai emas, kemeja batik cokelat. Wajahnya tegas, dengan garis-garis di dahi yang menunjukkan seseorang yang lebih sering berpikir daripada tertawa.

Di sebelah kanannya, Bu Lena. Lembut, dengan kebaya biru muda dan senyum yang selalu terlihat sedikit lelah.

Di sebelah kirinya, Tante Mira. Kebaya fuchsia, seperti biasa. Kalung mutiara tiga lapis, seperti biasa.

Dan di sebelah Tante Mira, keluarga Hartanto. Om Hartanto yang gemuk dan suaranya keras. Tante Hartanto yang memakai perhiasan emas dari leher sampai pergelangan. Dan Dion. Jas biru tua malam ini. Jam tangan yang sama. Senyum yang sama.

Dion melihatku masuk dengan Clara. Senyumnya bertahan. Tapi matanya turun ke tangan kami yang bertaut, dan senyumnya bertahan dengan sedikit lebih banyak usaha.

“Selamat malam, Om,” kataku ke Pak Hendra. “Selamat ulang tahun.”

Pak Hendra menatapku. Dari balik kacamata emas. Lama. Seperti dia sedang membaca dokumen yang ingin dia periksa dengan teliti sebelum menandatangani.

“Erga,” katanya.

“Iya, Om.”

“Yang benerin printer kantor saya waktu Lebaran.”

“Iya, Om.”

“Yang gendong anak saya dari Senayan ke Bundaran HI.”

Ruangan sunyi. Tante Hartanto berhenti mengunyah kerupuk. Om Hartanto berdeham.

“Iya, Om,” kataku.

Pak Hendra menatapku lagi. Lalu mengangguk sekali.

“Duduk.”

Kursi yang tersisa ada di ujung meja yang lain. Paling jauh dari Pak Hendra, di sebelah Clara. Tante Mira yang mengatur tempat duduk, jelas.

Clara menarik kursi itu dengan sedikit terlalu keras.


Makan malam disajikan oleh dua asisten rumah tangga berseragam. Sup asparagus kepiting. Gurame asam manis. Rendang. Sayur lodeh. Ayam goreng kremes. Nasi kuning tumpeng kecil di tengah meja untuk ulang tahun Pak Hendra.

Percakapan di meja bergerak seperti rapat bisnis. Om Hartanto bercerita soal ekspansi supermarketnya ke Surabaya. Tante Hartanto bercerita soal liburan ke Swiss. Tante Mira bercerita soal teman arisan yang anaknya baru menikah dengan pengusaha batu bara. Dion bercerita soal rencana investasi properti di Bali.

Tidak ada yang bertanya padaku. Tidak ada yang menatap ke ujung meja.

Clara menggenggam tanganku di bawah meja dan meremasnya setiap kali Tante Mira tertawa terlalu keras.

Lalu, di tengah gurame asam manis, Tante Hartanto menoleh ke ujung meja untuk pertama kalinya.

“Itu siapa, Jeng Mira?” tanyanya, dengan nada yang dia pikir pelan. “Yang di sebelah Clara?”

Tante Mira menoleh. Menatapku. Tersenyum. Senyum sopan dan dingin, seperti AC ruang rapat yang disetel terlalu rendah.

“Oh, itu,” katanya. “Sopirnya?”

Ruangan sunyi.

Bu Lena meletakkan sendoknya. Pak Hendra mengangkat kepala dari piringnya. Dion menunduk ke gelas anggurnya, tapi ujung bibirnya terangkat.

Dan Clara berdiri.

Kursinya bergeser ke belakang dengan bunyi keras di lantai marmer. Dia berdiri dengan tangan masih menggenggam tanganku, menarikku setengah berdiri juga, lalu mengangkat tangan kami yang bertaut ke atas meja. Ke tengah. Di bawah lampu kristal. Di depan semua orang.

“Ini bukan temen aku aja, Tante,” kata Clara. Suaranya tidak bergetar. Sama sekali. “Dan bukan sopir.”

Tante Mira membuka mulut.

“Ini pacar aku,” kata Clara. “Namanya Erga Pramana. Dan Tante tahu itu, karena Tante sudah nonton videonya. Tante sudah dengar dari Mama. Tante sengaja nggak masukin namanya di daftar tamu supaya Pak Darmo nggak bukain gerbang.”

“Clara—” kata Bu Lena.

“Maaf, Ma. Tapi aku nggak mau duduk diem lagi.” Clara menatap Tante Mira. “Tante boleh nggak suka. Tante boleh nggak setuju. Tapi Tante nggak boleh manggil dia sopir di ulang tahun Papa.”

Ruangan sunyi total.

Om Hartanto menatap piringnya. Tante Hartanto menatap Tante Mira. Dion menatap Clara dengan wajah yang sudah tidak tersenyum lagi.

Aku menatap tangan kami yang terangkat di atas meja jati panjang itu. Tangan Clara menggenggam tanganku erat. Buku-buku jarinya memutih.

Aku tidak menarik tanganku. Aku tidak menyuruhnya duduk. Aku tidak menyentuh sikunya seperti di kondangan Gilang, waktu aku memintanya berhenti membelaku.

Sebagai gantinya, aku memutar tanganku di genggamannya, sedikit, supaya jariku bisa mengusap punggung tangannya. Pelan. Bolak-balik. Tanpa melihat. Seperti di bawah meja Dapur Isal.

Clara merasakannya. Aku tahu, karena bahunya yang tegang turun sedikit.

Lalu, dari kepala meja, Pak Hendra berbicara.

“Duduk, Ra.”

Clara menoleh ke Papanya.

“Duduk,” ulang Pak Hendra. Suaranya tenang. “Kamu juga, Erga.”

Kami duduk. Tangan Clara masih menggenggam tanganku, sekarang di atas meja, tidak di bawah.

Pak Hendra menatap Tante Mira. Lama.

“Mira,” katanya. “Ini ulang tahun saya.”

Tante Mira membuka mulut. Menutupnya.

“Saya yang undang Erga,” kata Pak Hendra. “Lewat Clara. Minggu lalu. Kamu nggak tahu, karena kamu nggak nanya.” Dia menatap ke ujung meja, ke arahku. “Nanti saya bilang ke Darmo, nama Erga dimasukin ke daftar tetap. Bukan daftar tamu.”

Tante Mira menatap kakak iparnya. Wajahnya memerah di bawah riasan tebal.

“Mas Hendra—”

“Tumpengnya dipotong sekarang aja,” kata Pak Hendra, mengambil pisau. “Saya udah lapar.”


Tumpeng dipotong. Lagu ulang tahun dinyanyikan, dengan suara Om Hartanto yang mendominasi dan sumbang. Lalu kado.

Keluarga Hartanto memberikan tas golf kulit dengan monogram HH dari merek yang aku tidak tahu cara melafalkannya. Om Hartanto menjelaskan dengan detail bahwa tas itu dipesan khusus dari Skotlandia.

Tante Mira memberikan jam tangan emas. Dion memberikan satu set stik golf titanium.

Pak Hendra menerima semuanya dengan anggukan sopan dan ucapan terima kasih yang sama.

Lalu Clara menyikutku.

Aku berdiri. Mengambil kotak berbungkus kertas cokelat polos dengan tali rami. Berjalan sepanjang meja jati, melewati Om Hartanto, melewati Tante Hartanto, melewati Dion, melewati Tante Mira, ke kepala meja.

“Selamat ulang tahun, Om,” kataku, menyerahkan kotak itu.

Pak Hendra menatap kotak itu. Kertas cokelat polos. Tali rami. Di antara tas golf kulit dari Skotlandia dan jam tangan emas.

Dion tertawa kecil. Pelan, tapi aku mendengarnya.

Pak Hendra membuka tali rami. Membuka kertas cokelat. Membuka kotak.

Di dalamnya ada album foto. Sampul kulit cokelat tua, sederhana, tanpa hiasan, dengan tulisan emas kecil di pojok kanan bawah: Hendra & Lena. 1994.

Pak Hendra membuka halaman pertama.

Dia diam.

Bu Lena, di sebelahnya, mencondongkan badan untuk melihat. Lalu dia menutup mulutnya dengan dua tangan.

Halaman pertama: foto hitam putih seorang laki-laki muda dengan beskap putih dan seorang perempuan muda dengan kebaya putih, berdiri di depan pelaminan dengan janur kuning di belakang mereka. Tersenyum ke kamera. Wajah mereka jernih. Tidak ada bercak jamur. Tidak ada goresan. Tidak ada noda air banjir.

Pak Hendra membalik halaman. Lalu halaman berikutnya. Lalu berikutnya.

Seratus empat puluh tiga foto. Akad nikah. Siraman. Midodareni. Resepsi. Keluarga besar. Bu Lena muda tertawa dengan teman-temannya. Pak Hendra muda yang kaku di depan kamera. Tumpeng pernikahan. Ibu Bu Lena yang sudah lama meninggal, tersenyum di kursi roda.

“Ini...” Bu Lena berbisik. Suaranya pecah. “Ini album yang kena banjir. Yang negatifnya...”

“Bu Lena pinjamin saya kotaknya waktu Lebaran tahun lalu,” kataku.

Bu Lena menatapku. Matanya sudah basah.

“Kamu pinjam kotak sepatu berjamur itu... buat ini?”

“Negatifnya rusak, tapi belum hilang. Saya pindai satu per satu, terus saya pulihkan digital. Bercak jamurnya, goresannya, noda airnya.” Aku menatap foto pertama di album itu. “Ada beberapa yang nggak bisa diselamatkan. Tapi sebagian besar bisa.”

“Berapa lama?” tanya Pak Hendra. Suaranya sangat pelan. Dia tidak mengangkat kepala dari album.

“Setahun, Om. Malam-malam. Sedikit-sedikit.”

Pak Hendra menatap foto pernikahannya sendiri. Tiga puluh dua tahun lalu. Wajah muda yang kaku, berdiri di sebelah perempuan yang dia cintai.

Lalu dia membalik ke halaman terakhir. Foto yang paling rusak, yang paling lama kukerjakan. Bu Lena muda, dengan kebaya putih, tertawa lepas ke arah seseorang di luar bingkai. Tertawa dengan seluruh wajahnya, mata menyipit, kepala sedikit menengadah. Di tepi bingkai, ada sedikit bahu laki-laki dengan beskap putih. Bahu Pak Hendra. Dia yang membuat Bu Lena tertawa.

“Saya nggak inget foto ini,” bisik Pak Hendra.

“Negatifnya paling rusak, Om. Setengahnya ketutup jamur. Butuh dua bulan.”

Pak Hendra menatap foto itu sangat lama.

Lalu dia melepas kacamata emasnya. Mengusap matanya dengan ibu jari. Memakai kacamatanya lagi.

Ruangan sunyi. Tidak ada yang berbicara. Om Hartanto menatap tas golf dari Skotlandia di samping meja dengan wajah yang aneh. Tante Mira menatap album itu, dan untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak menunjukkan apa pun yang bisa kubaca.

Bu Lena menangis tanpa suara, memegangi lengan suaminya.

Clara, di ujung meja, menatapku dengan mata yang basah dan bibir yang gemetar.

Dan Dion menatapku dengan wajah yang sudah sepenuhnya kehilangan senyumnya.

“Makasih,” kata Pak Hendra akhirnya. Dia menutup album itu, pelan, dan meletakkan tangannya di atas sampul kulit cokelat. “Makasih, Erga.”

“Sama-sama, Om.”

Aku berbalik untuk kembali ke kursiku.


Setelah kado, setelah kue ulang tahun, setelah Tante Mira akhirnya kembali berbicara dengan suara yang sedikit lebih pelan dari biasanya, Dion menemukanku di teras samping.

Aku sedang berdiri di dekat pilar, mengambil napas. Clara sedang di dalam, menemani Bu Lena yang masih menangis sambil membuka album.

“Lumayan,” kata Dion, berdiri di sebelahku dengan gelas anggur di tangan. “Album foto. Restorasi digital. Itu... lumayan.”

“Makasih.”

“Setahun, katamu?”

“Iya.”

“Kamu punya waktu setahun buat ngerjain foto orang tua pacar kamu.” Dion menyesap anggurnya. “Waktu itu kamu belum pacaran sama dia, kan?”

Aku tidak menjawab.

“Jadi kamu udah ngerencanain ini dari setahun lalu.” Dion tersenyum. “Pintar. Strategis. Aku hormat.”

“Itu bukan strategi.”

“Semua hal itu strategi, Erga.” Dion memutar gelasnya. “Aku cuma heran. Laki-laki yang punya waktu setahun buat album foto, harusnya punya waktu buat hal lain juga. Karier, misalnya. Rumah. Masa depan.”

Aku menatapnya.

“Kamu tinggal di mana?” tanyanya. Santai. Seperti bertanya soal cuaca.

“Kontrakan,” kataku. “Depok. Sama ibu saya.”

Dion mengangguk pelan, seperti mencatat sesuatu. “Kontrakan. Sama ibu.” Dia tersenyum lagi. “Clara tahu?”

“Clara tahu.”

“Dia tahu kamu nggak bisa kasih dia rumah?”

Aku diam.

Bukan karena kalimat itu menyakitkan. Kalimat itu tidak menyakitkan. Itu cuma hitungan. Hitungan yang sudah kuketahui jauh sebelum Dion mengucapkannya.

Tapi mendengarnya dari mulut orang lain, di teras rumah Menteng dengan dua belas pilar putih, terasa berbeda.

“Belum,” kataku.

Dion mengangkat alis.

“Belum bisa,” kataku. “Itu kata yang beda dari ‘nggak bisa’.”

Dion menatapku lama. Lalu tertawa. Tawa kecil yang tidak sampai ke mata.

“Oke,” katanya. “Belum bisa.” Dia mengangkat gelasnya sedikit, seperti bersulang. “Semoga ‘belum’-nya nggak kelamaan. Clara bukan perempuan yang bisa nunggu selamanya.”

Dia kembali ke dalam.

Aku berdiri di teras. Menatap halaman rumput yang luas dan gelap.

Belum.

Empat puluh tiga juta delapan ratus ribu sekarang. Setelah proyek sampingan bulan ini. Masih seratus lima puluh enam juta lagi.


Clara keluar ke teras lima menit kemudian. Dia berdiri di sebelahku, menyandarkan kepala ke bahuku.

“Dion ngomong apa?”

“Nggak penting.”

“Ga.”

“Dia nanya aku tinggal di mana.”

Clara mengangkat kepala. Wajahnya mengeras.

“Terus kamu jawab apa?”

“Kontrakan. Depok. Sama Ibu.”

“Terus?”

“Terus nggak ada.”

Clara menatapku lama. Lalu dia memegang wajahku dengan dua tangan. Pelan. Membuatku menatapnya.

“Ga,” katanya. “Dengerin aku. Aku nggak peduli kamu tinggal di mana.”

“Aku tahu.”

“Beneran. Aku nggak peduli.”

“Aku tahu, Ra.”

“Terus kenapa muka kamu kayak gitu?”

Aku menatapnya. Perempuan yang berdiri di ruang makan dengan dua belas pilar dan mengangkat tangan kami ke tengah meja di depan semua orang. Yang bilang ini pacar aku dengan suara yang tidak bergetar.

“Karena kamu yang nggak peduli,” kataku pelan. “Bukan berarti aku boleh nggak peduli.”

Clara membuka mulut. Mau membantah.

Lalu, dari dalam rumah, terdengar suara.

Gelas pecah.

Lalu teriakan Bu Lena.

“PA! PAPA!”