← Biar Aku Aja

Chapter Thirty Four

Laporan Investor

POV: Clara


Dapur Isal ulang tahun kelima hari Sabtu malam, dan Faisal menutup kedai untuk umum.

“Malam ini cuma buat keluarga,” katanya di grup. “Keluarga Dapur Isal. Kalian berlima. Ibu Ratna. Bapak sama Ibu gue dari Garut. Sama dua karyawan gue.”

“Kenapa tutup?” tanya Keisha.

“Karena ada pengumuman.”

“Pengumuman apa?”

“Rahasia.”

“Sal, kamu nggak bisa nyimpen rahasia,” kata Putra.

“Gue bisa. Gue udah nyimpen ini dua minggu.”

“Lo udah ngasih tahu Zara,” kata Putra.

Jeda panjang.

“Zara nggak dihitung,” tulis Faisal.

Zara membalas: k

Lalu, satu detik kemudian: ❤

Grup meledak. Keisha mengirim empat puluh stiker. Putra mengirim ZARA PAKAI EMOJI HATI. INI KIAMAT. Erga mengirim satu jempol.

Aku menatap emoji hati itu lama. Lalu aku membuka chat pribadi dengan Zara.

Zar. Itu barusan apa?

Typo.

Typo hati?

Jempol gue kepleset.

Ke emoji hati?

Keyboard gue sensitif.

Aku tertawa sendirian di kantor. Pak Teddy lewat dan bertanya apakah itu soal kampanye. Aku bilang iya. Dia mengangguk puas dan pergi.


Dapur Isal malam itu dihias dengan lampu-lampu kecil yang menjuntai dari langit-langit. Lampu tumblr kuning hangat, yang ternyata sisa dari gazebo Puncak, yang Erga berikan ke Faisal setelah lamaran Putra. Di dinding bata putih, tertempel foto-foto dari lima tahun kedai ini. Gerobak di depan kos di Bandung. Ruko pertama yang masih kosong. Pembukaan dengan pita merah. Faisal dengan celemek merah, di setiap foto.

Dan di dekat konter, di tengah dinding, ditempel dengan bingkai kayu sederhana: sticky note kuning yang sudah sangat pudar. SAL. BELI ROUTER BARU. —E (2 tahun lalu). Di sebelahnya, sticky note kuning yang lebih baru. SAL. BELI ROUTER BARU. INI SUDAH TIGA TAHUN. —E. Di sebelahnya lagi, foto Faisal memegang kotak router baru dengan wajah bangga.

“Koleksi,” kata Faisal, menunjuk bingkai itu. “Gue bilang ke Erga ini koleksi.”

“Itu bukti,” kata Erga.

“Bukti cinta.”

Ibu duduk di meja di dekat jendela dengan Bapak dan Ibu Faisal yang datang dari Garut, membawa dua karung beras dan sekeranjang peuyeum. Tiga orang tua itu langsung akrab. Ibu Faisal bercerita soal Faisal kecil yang tertidur di karung beras. Ibu bercerita soal Erga kecil yang membongkar radio tetangga. Mereka tertawa seperti sudah kenal dua puluh tahun.

Keisha dan Putra duduk berdampingan. Cincin berlian ukuran enam masih di ibu jari Keisha. Putra sudah menawarkan untuk mengecilkan ukurannya, tapi Keisha menolak. “Aku suka di jempol. Jadi kalau aku bilang ‘mantap’, semua orang lihat cincinku.”

Zara di sebelah Faisal. Di kursi yang biasanya kosong, di sebelah kursi paling ujung yang sekarang jadi kursi Faisal. Dia tidak bicara banyak. Tapi setiap kali Faisal berdiri untuk mengambil sesuatu dari dapur, Zara menatapnya sampai dia hilang di balik pintu.

Dan aku di sebelah Erga. Di kursi tengah. Tangan bertaut di atas meja.

Aku sudah tidak memikirkan angka empat puluh tiga koma delapan juta selama tiga hari. Atau berusaha tidak memikirkannya. Aku menyimpannya di sudut kepala, seperti Erga menyimpan semua hal di kursi paling ujung.

Tapi malam ini tanganku dingin. Dan aku tidak tahu kenapa.


Jam delapan, setelah makan malam, Faisal berdiri di ujung meja.

Dia memakai kemeja batik cokelat, yang menurut Zara “satu-satunya baju yang nggak ada noda kecap-nya”. Rambutnya disisir rapi. Wajahnya serius. Dia memegang map plastik bening di tangannya.

“Oke,” katanya. “Pengumuman.”

Semua orang diam.

“Lima tahun lalu, gue buka Dapur Isal di ruko ini. Dari gerobak di depan kos.” Dia menelan ludah. “Dua tahun lalu, gue hampir tutup. Kalian semua tahu. Sewa naik dua kali lipat. Supplier ayam kabur. Utang bank.”

Ibu Faisal menyentuh lengan suaminya. Bapak Faisal menunduk.

“Gue udah siap pulang ke Garut,” kata Faisal. “Gue udah nelepon Bapak. Gue udah nulis pengumuman tutup di Instagram. Terus...”

“Investor,” kata Keisha pelan.

“Investor.” Faisal mengangguk. “Lewat notaris. Seratus delapan puluh juta. Tanpa bunga, tanpa jaminan, tanpa tenggat. Satu syarat: jangan cari tahu siapa.”

Dia membuka map plastik di tangannya.

“Dua tahun gue bayar cicilan ke rekening notaris. Tiap bulan. Nggak pernah telat.” Dia mengeluarkan selembar kertas. “Terus dua minggu lalu, gue dapet surat dari bank. Bank yang nggak pernah gue pakai. Surat pemberitahuan saldo tahunan. Rekening tabungan atas nama Faisal Rahman.”

Hening.

“Gue nggak pernah buka rekening di bank itu,” kata Faisal. Suaranya mulai bergetar. “Gue bingung. Gue ke bank. Mereka bilang rekening itu dibuka dua tahun lalu, lewat kuasa notaris. Atas nama gue. Dan isinya...”

Dia mengangkat kertas itu. Laporan saldo. Aku bisa melihat angkanya dari tempatku duduk.

Rp 91.500.000.

“Semua cicilan gue,” kata Faisal. Air matanya sudah turun. “Semua yang gue bayar ke notaris selama dua tahun. Nggak dipakai. Nggak ditarik. Disimpen di rekening atas nama gue sendiri. Selama dua tahun. Gue nggak tahu.”

Ibu Faisal menutup mulutnya dengan tangan. Bapak Faisal melepas kacamatanya.

“Gue ke notaris,” lanjut Faisal. “Bang Rizal. Gue maksa dia. Gue bilang gue nggak mau pulang sebelum dia jelasin. Gue duduk di kantornya tiga jam. Gue bawa nasi goreng buat seluruh kantornya.” Dia tertawa di antara isak. “Akhirnya Bang Rizal nyerah. Dia nggak mau kasih tahu nama klien. Tapi dia kasih gue ini.”

Dia mengeluarkan selembar kertas lagi dari map. Fotokopi. Selembar kertas bergaris yang difotokopi, dengan beberapa baris tulisan tangan. Di bagian atas, ada kotak hitam tebal yang menutupi sesuatu. Nama yang disensor.

“Ini instruksi asli dari kliennya,” kata Faisal. “Tulisan tangan. Bang Rizal fotokopi, namanya dia hitamin. Biar gue percaya rekening itu bener punya gue. Biar gue berhenti dateng ke kantornya.”

Dia meletakkan fotokopi itu di tengah meja.

“Gue cuma mau kalian lihat,” katanya. “Gue mau kalian tahu ada orang kayak gini di dunia. Gue nggak tahu siapa dia. Gue mungkin nggak akan pernah tahu. Tapi gue mau bilang makasih. Di sini. Di ulang tahun kelima kedai yang dia selametin.”

Keisha menangis. Putra merangkulnya. Ibu Faisal menangis. Ibu menepuk punggung Ibu Faisal.

Aku menatap fotokopi itu di tengah meja.

Aku tidak berniat membacanya. Aku cuma menatapnya karena semua orang menatapnya. Kertas bergaris. Tulisan tangan. Tinta hitam yang sedikit pudar karena difotokopi.

Lalu aku melihat hurufnya.


Huruf kapital.

Semua huruf kapital. Rapi. Tegak. Setiap huruf berdiri sendiri, tidak bersambung, dengan jarak yang sama persis di antara masing-masing. Huruf A dengan garis tengah yang sedikit lebih rendah dari biasanya. Huruf G dengan ekor pendek yang menekuk ke dalam. Huruf R dengan kaki yang lurus, bukan melengkung.

Seperti tulisan orang yang terbiasa mengisi formulir.

Aku membaca:

BUAT REKENING BARU ATAS NAMA FAISAL RAHMAN. SEMUA CICILAN MASUK KE SITU. JANGAN DITARIK. JANGAN DIKASIH KE SAYA. BIAR KALAU SUATU HARI KEDAINYA BUTUH LAGI, UANGNYA UDAH ADA. DAN DIA NGGAK PERLU NELEPON SIAPA-SIAPA JAM SEBELAS MALAM.

Di bawahnya, satu huruf. Tanda tangan, atau inisial, yang tidak disensor karena Bang Rizal mungkin tidak menganggapnya penting.

E.

Tanganku berhenti bergerak.

Seluruh tubuhku berhenti bergerak.

Aku tahu tulisan itu. Aku sudah menatap tulisan itu sepuluh tahun. Di dompetku. Di antara KTP dan foto keluarga. Dilaminating, supaya tidak robek. Huruf kapital, rapi, tegak, dengan A yang garis tengahnya sedikit rendah dan G dengan ekor pendek yang menekuk ke dalam.

ERGA — GUGUS 7.

Aku tidak perlu mengeluarkan dompetku. Aku tidak perlu membandingkan. Aku sudah tahu.

Seratus delapan puluh juta. Dua tahun lalu. Juni.

Hitungan yang belum selesai.

Empat puluh tiga koma delapan juta, setelah enam tahun kerja.

Belum bisa kasih kamu rumah.

Kalkulator di HP-nya. Seratus lima puluh enam koma dua juta lagi.

Bukan sebelum aku...

Diam yang terlalu panjang setiap kali aku bicara soal jendela besar.

Belum, Ra.

Semua kerang yang kukumpulkan dari pantai selama berbulan-bulan, tiba-tiba, dalam satu detik, membentuk gambar yang utuh.

Dan gambar itu adalah tabungan rumah yang dia kumpulkan sejak umur dua puluh tiga, untuk rumah dengan halaman kecil buat Ibu menanam cabai. Habis dalam satu malam. Untuk kedai sahabatnya. Tanpa nama. Tanpa minta kembali. Bahkan cicilannya pun dia kembalikan ke Faisal, diam-diam, di rekening yang Faisal tidak tahu ada.

Dan setelah itu, dia duduk di kursi paling ujung setiap Jumat, makan nasi goreng kampung dari Faisal, dan tidak pernah bilang apa-apa.

Dua tahun.


Aku mengangkat kepala.

Erga duduk di sebelahku. Tangannya masih menggenggam tanganku di atas meja.

Dia tidak menatap fotokopi itu. Dia menatap Faisal, yang sekarang dipeluk ibunya, menangis di bahunya. Wajah Erga tenang. Datar. Sempurna.

Tapi tangannya di tanganku dingin. Sama dinginnya dengan tanganku.

Aku menatapnya. Lama.

Dan dia merasakan tatapanku. Pelan, dia menoleh.

Mata kami bertemu.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak perlu. Dia melihat wajahku, dan aku melihat dia melihat wajahku, dan aku melihat dia tahu. Dia tahu aku tahu. Dalam satu detik. Seperti dia selalu tahu segalanya tentangku dalam satu detik.

Wajahnya tidak berubah. Masih tenang. Masih datar.

Tapi matanya.

Matanya seperti dinding yang retak dari dalam.

Dia melepaskan tanganku. Pelan. Sangat pelan. Seperti mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya. Persis seperti di klinik BSD, waktu ujung jarinya menyentuh pergelangan tanganku dan dia menariknya kembali, sopan.

Aku menatap tanganku yang sekarang kosong di atas meja.


Di seberang meja, Zara juga menatap fotokopi itu.

Aku melihatnya dari sudut mata. Zara, dengan wajah datar, menatap tulisan tangan di kertas bergaris itu. Lalu, sangat pelan, matanya bergerak dari kertas ke Erga.

Wajahnya berubah. Sedikit. Satu milimeter. Seperti waktu dia menyipitkan mata di Dapur Isal sepuluh tahun lalu.

Lalu dia menatapku.

Aku tahu apa yang dia pikirkan. Surat-surat ke Kalimantan. Tiga bulan, setiap minggu, tanpa absen. Jadwal pasang surut sungai. Dan di surat terakhir, satu kalimat di bagian paling bawah. HATI-HATI, ZAR. KAMI NUNGGU.

Huruf kapital. Rapi. Tegak.

Zara menyimpan surat-surat itu di laci meja kerjanya selama enam tahun. Dia juga tahu tulisan itu.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia menunduk ke piringnya, dan tangannya, aku melihatnya, gemetar di atas meja.


Faisal berdiri lagi. Mengusap air mata dengan lengan kemeja batiknya.

“Satu lagi,” katanya. “Satu pengumuman lagi.”

Dia menatap Zara.

Zara mengangkat kepala.

“Gue mau pakai sebagian duit di rekening itu,” kata Faisal, “buat buka cabang kedua. Di Bogor. Deket kebun sayur organik yang gue temuin dua minggu lalu.” Dia menelan ludah. “Sama Zara. Zara yang bantu nyari lokasi. Zara yang ngitung struktur bangunannya. Zara yang...”

Dia berhenti. Wajahnya merah sampai leher.

“Zara yang nemenin gue,” katanya pelan.

Semua orang menatap Zara.

Zara menatap Faisal. Wajahnya datar. Tapi matanya basah. Dan aku tidak tahu apakah karena Faisal, atau karena fotokopi di tengah meja, atau karena keduanya.

Keisha menjerit. Putra bertepuk tangan. Bapak dan Ibu Faisal saling pandang dengan senyum yang lebar sekali. Ibu, di sebelah mereka, tersenyum dan mengangguk-angguk, seperti sudah tahu dari lama.

Aku bertepuk tangan. Aku tersenyum. Aku memeluk Faisal, dan memeluk Zara, dan bilang aku bahagia untuk mereka, dan aku sungguh-sungguh bahagia.

Erga juga bertepuk tangan. Dia juga tersenyum. Dia juga memeluk Faisal, dan menepuk punggungnya dua kali, dan bilang bagus, Sal.

Tapi dia tidak menatapku lagi sepanjang malam.


Jam sepuluh, pesta selesai. Ibu Faisal dan Bapak Faisal diantar ke hotel oleh Putra. Ibu pulang dengan ojek, menolak diantar karena “kalian masih mau ngobrol”. Keisha membantu Faisal membereskan dapur. Zara berdiri di samping Faisal, mencuci piring, bahu menempel.

Erga mengambil kunci mobilnya dari meja.

“Aku antar kamu,” katanya. Ke aku. Tanpa menatapku.

Aku berdiri.

Sebelum keluar, aku mengambil fotokopi itu dari meja. Faisal sudah memasukkan laporan saldo ke map, tapi fotokopi itu tertinggal di tengah meja, di antara piring-piring kosong dan gelas teh manis.

Aku melipatnya. Memasukkannya ke tasku.

Zara melihatku. Dari dapur. Tangannya berhenti mencuci piring.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia cuma mengangguk. Sekali.

Aku keluar.

Erga sudah di mobil. Mesin menyala. Lampu parkiran yang oranye menyinari kaca depan.

Aku masuk ke kursi penumpang. Memasang sabuk pengaman.

Dia tidak menyalakan radio. Dia tidak bertanya apakah aku sudah makan. Dia tidak menatapku. Dia menatap setir.

Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, kursi penumpang di Honda Jazz putih itu, kursi yang sudah kuanggap kursiku, terasa seperti kursi orang lain.