← Biar Aku Aja

Chapter Thirty Three

Rumah dengan Jendela Besar

POV: Clara


“Nggak,” kata Erga.

“Ga, ini royalti. Uang. Buat kamu.”

“Nggak, Ra.”

“Pak Teddy udah siapin kontraknya. Nama kamu masuk kredit kampanye. Video kamu bakal tayang di TV jam tujuh malam.” Aku menyodorkan HP dengan email dari Pak Teddy di layarnya. “Lihat angkanya.”

Dia tidak melihat angkanya. Dia menatap jalan tol di depan. Kami di mobilnya, Sabtu pagi, dalam perjalanan ke JCC Senayan.

“Pakai aja videonya,” katanya. “Gratis.”

“Kenapa gratis?”

“Karena aku nggak mau dibayar buat gendong kamu.”

Aku menatapnya.

Dia tidak menatapku. Tangannya di setir. Wajahnya tenang. Tapi telinganya merah.

Aku menurunkan HP perlahan.

“Ga.”

“Hm.”

“Itu kalimat paling romantis yang pernah aku denger dari orang yang nolak duit.”

“Itu bukan romantis. Itu prinsip.”

“Prinsip yang romantis.”

Dia tidak menjawab. Tapi tangannya meninggalkan setir sebentar, mencari tanganku di atas pahaku, dan meremasnya sekali sebelum kembali ke setir.

Aku membalas email Pak Teddy: Masnya bilang pakai aja, gratis. Dia nggak mau dibayar buat gendong saya.

Pak Teddy membalas lima menit kemudian: Clara. Nikahi dia.

Aku tertawa sampai mobil Erga hampir oleng.


Pameran properti di JCC adalah ide Keisha.

“Aku sama Putra mau lihat rumah,” katanya di grup, Kamis. “Buat setelah nikah. Ada pameran properti di JCC. Kalian ikut ya! Biar rame!”

Faisal bilang dia sibuk. Zara bilang dia sibuk. Keduanya sibuk di hari yang sama, Sabtu, dengan alasan yang sama-sama tidak meyakinkan. Kami semua tahu mereka mau ke Bogor berdua untuk “cari supplier sayur organik”, yang menurut Keisha “pasti kencan”, dan menurut Zara “bukan urusan lo, Kei”.

Jadi tinggal kami berempat. Putra, Keisha, Erga, dan aku.

Pameran itu raksasa. Dua aula besar penuh stan pengembang perumahan, apartemen, dan townhouse. Maket-maket bangunan di bawah kaca. Layar-layar besar menayangkan video rumah-rumah dengan keluarga bahagia di halaman. Sales berseragam berdiri di setiap stan dengan brosur dan senyum yang sudah dilatih.

Putra dan Keisha langsung tenggelam. Mereka berpindah dari stan ke stan, mengambil brosur, bertanya soal cicilan, membandingkan harga. Putra dengan serius. Keisha dengan semangat yang membuatnya bertanya ke setiap sales “ada yang ada taman buat kucing nggak?” meskipun dia alergi kucing.

Aku dan Erga berjalan di belakang mereka. Pelan. Tangan bertaut.

Aku tidak berniat melihat-lihat. Sungguh. Aku cuma menemani.

Lalu aku melihat stan itu.


Stan pengembang perumahan di pojok aula dua. Kecil, tidak semewah stan-stan besar di tengah. Tapi di dinding belakangnya ada satu foto besar yang membuatku berhenti berjalan.

Rumah dua lantai, sederhana, dengan dinding putih dan atap genteng abu-abu. Tidak besar. Tidak mewah. Tapi di lantai bawah, di sisi yang menghadap taman kecil, ada jendela.

Jendela yang sangat besar. Dari lantai sampai langit-langit. Kaca bening dengan bingkai kayu tipis. Dan di balik kaca itu, di foto, ada meja makan kayu kecil dengan dua cangkir kopi, dan matahari pagi yang masuk menerangi seluruh ruangan.

Aku berdiri di depan foto itu tanpa bisa bergerak.

“Ra?”

“Ga,” bisikku. “Lihat.”

Dia berdiri di sebelahku. Menatap foto itu.

Dia diam.

“Selamat pagi, Mas, Mbak.” Seorang sales perempuan muda dengan blazer biru dan nametag bertuliskan Sinta muncul di sebelah kami. “Tertarik sama tipe Teduh? Ini tipe favorit kami. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, taman belakang. Lokasinya di Depok, dekat stasiun. Tiga puluh menit ke Jakarta Selatan.”

Depok.

Aku menoleh ke Erga. Dia masih menatap foto itu.

“Jendela besarnya itu standar, Mbak?” tanyaku.

“Standar di tipe Teduh, Mbak. Itu yang bikin tipe ini laris. Banyak pasangan muda suka.” Mbak Sinta tersenyum, menatap tangan kami yang bertaut. “Mas sama Mbak baru nikah? Atau mau nikah?”

Aku membuka mulut.

“Lihat-lihat dulu, Mbak,” kata Erga.

“Oh, boleh, boleh. Mau saya kasih brosur? Ada simulasi cicilan juga.”

Dia menyerahkan brosur. Erga menerimanya. Menatapnya. Halaman pertama: foto jendela besar itu. Halaman kedua: denah. Halaman ketiga: harga dan simulasi cicilan.

Aku melihat matanya bergerak ke halaman ketiga. Berhenti di satu baris. Baris yang bertuliskan Uang Muka (20%).

Dia menutup brosur itu. Pelan.

“Makasih, Mbak,” katanya.


Kami duduk di bangku di luar aula, menunggu Putra dan Keisha yang masih tenggelam di stan apartemen.

Aku menyandarkan kepala ke bahu Erga. Brosur tipe Teduh di pangkuanku. Aku mengambilnya dari tangannya waktu dia mau memasukkannya ke tas.

“Ga.”

“Hm.”

“Rumah kita nanti jendelanya gede, ya.”

Aku mengatakannya dengan ringan. Dengan senyum. Sambil menatap foto jendela besar di brosur.

“Biar pagi-pagi aku bisa lihat kamu ngopi,” lanjutku. “Belum mandi. Rambut berantakan. Pakai kaus abu-abu yang udah bolong di ketiak.”

“Kausku nggak bolong.”

“Yang abu-abu bolong. Aku lihat waktu kamu demam.”

Dia diam.

Diam yang terlalu panjang.

Lima detik. Tujuh.

Aku mengangkat kepala dari bahunya. Menatapnya.

Dia menatap brosur di pangkuanku. Wajahnya tenang. Tapi ada sesuatu di sudut matanya, di garis tipis di dahinya. Garis yang selalu muncul waktu dia sedang menghitung sesuatu.

“Iya,” katanya akhirnya.

Hanya itu. Iya.

Tapi iya-nya datang setelah diam yang terlalu panjang. Diam yang sama dengan di dek kapal, waktu aku bilang kalau kita nikah. Diam yang sama di telepon jam sebelas malam, waktu aku bercerita soal jendela besar pertama kali.

Aku menatapnya lama.

Dia menatap brosur.


Di mobil, perjalanan pulang, dia membuka HP untuk melihat rute di aplikasi peta. Lampu merah di Semanggi.

Aku tidak berniat melihat layarnya. Sungguh. Tapi HP-nya di dudukan di dasbor, dan waktu dia membukanya, layar yang muncul pertama bukan peta.

Kalkulator.

Angka di layarnya: 156.200.000.

Dia menutup kalkulator itu dengan cepat dan membuka peta. Satu detik. Mungkin kurang.

Aku sudah melihatnya.

Lampu hijau. Dia menyetir.

Aku menatap jalan di depan. Menatap brosur di pangkuanku. Halaman ketiga. Uang Muka (20%). Aku membaca angkanya. Dua ratus juta.

Dua ratus juta dikurangi seratus lima puluh enam koma dua juta.

Empat puluh tiga koma delapan juta.

Aku tidak berkata apa-apa.

“Ra?” Dia melirikku. “Kamu diem.”

“Capek,” kataku.

Itu bohong. Aku tidak pernah pandai bohong. Tidak sepandai dia menyimpan sesuatu. Dia meliriku sekali lagi, sedikit lebih lama. Lalu kembali ke jalan.


Jam tujuh malam, di apartemenku.

Lampu balkon menyala. Tirai cahaya kuning yang dia pasang. Kami duduk di sofa, menonton film yang tidak kuperhatikan, dengan kotak pizza setengah habis di meja.

Aku tidak bisa berhenti memikirkan angka itu.

Enam tahun kerja. Gaji yang dia sebutkan di depan Papa di ICU. Tidak besar, tapi juga tidak kecil. Tinggal di kontrakan, berbagi biaya dengan Ibu. Mobil tua yang cicilannya hampir lunas. Tidak pernah liburan kecuali yang dibayari. Tidak pernah belanja. Kaus abu-abu yang bolong di ketiak.

Laki-laki seperti itu, setelah enam tahun, seharusnya punya tabungan lebih dari empat puluh tiga juta.

Kecuali sesuatu terjadi.

Kecuali uangnya pergi ke suatu tempat.

Proyek sampingan, kata Putra di kamar Erga waktu dia demam. Lo lagi ngumpulin duit buat apa?

Hitungan, kata Erga di Tegal Alun. Hitungan yang belum selesai.

Bukan sebelum aku..., kata Erga di kabin kapal.

Aku menatap Erga di sebelahku. Dia menatap layar TV, tapi aku tahu dia tidak menonton. Garis tipis di dahinya masih ada.

Aku tidak mau bertanya. Ibu bilang, kalau dia takut sama jawabannya, dia nggak nanya. Dan aku tidak tahu apakah aku takut sama jawabannya, atau takut dia tidak mau menjawab.

Jadi aku melakukan hal lain.

Aku naik ke pangkuannya.

Dia menoleh, kaget. Aku duduk di pahanya, menghadapnya, dengan lutut di kedua sisi pinggangnya, persis seperti di dek kapal. Lampu balkon memantul di wajahnya.

“Ra—”

Aku menciumnya.

Bukan pelan seperti di dek kapal. Ciuman ini sedikit lebih putus asa. Ciuman orang yang mau mengusir pikiran dari kepalanya sendiri. Dia membalas setelah satu detik. Tangannya naik ke pinggangku. Menarikku lebih dekat.

Aku menurunkan ciumanku ke rahangnya. Ke lehernya. Ke tempat di bawah telinga yang, aku tahu sekarang, membuat napasnya tertahan.

Napasnya tertahan.

Tangannya di pinggangku mengencang. Lalu naik ke punggungku. Aku menciumi lehernya, pelan, dari bawah telinga ke tulang selangka, dan merasakan jantungnya berdebar di dadanya yang menempel di dadaku.

Lalu tangannya bergerak ke bahuku. Pelan. Mendorongku sedikit ke belakang.

Aku mengangkat wajah.

Dia menatapku. Napasnya berat. Wajahnya merah. Matanya gelap dengan sesuatu yang membuatku ingin menciumnya lagi.

“Belum, Ra,” katanya.

Aku menatapnya.

Lalu aku cemberut.

“Kamu tuh nyebelin,” kataku.

“Tahu.”

“Nyebelin banget.”

“Tahu.”

“Dua kali kamu berhenti. Di kapal. Di sini.”

“Iya.”

“Kamu tahu nggak gimana rasanya?”

Dia menatapku. Ujung bibirnya naik sedikit, meski matanya masih gelap dan napasnya masih belum teratur.

“Tahu,” katanya pelan. “Aku juga ngerasain.”

Aku menatapnya lama. Laki-laki di bawahku, di sofa apartemenku, dengan lampu balkon yang dia pasang menyinari wajahnya. Laki-laki yang berhenti dua kali. Bukan karena dia tidak mau. Karena dia mau melakukannya dengan benar.

Dengan benar menurut hitungannya.

Sesuatu di dadaku sakit sedikit. Dan meleleh sedikit. Di saat yang sama.

“Tapi aku makin sayang,” bisikku.

Dia diam.

“Kamu nyebelin,” ulangku, menyandarkan dahi ke dahinya. “Tapi aku makin sayang. Itu yang paling nyebelin.”

Dia memejamkan mata. Lalu memelukku. Erat. Wajahnya di leherku, napasnya di kulitku.

“Maaf,” bisiknya.

“Jangan minta maaf.”

“Aku cuma...”

“Mau ngelakuinnya dengan benar. Aku tahu.” Aku mengusap rambut di belakang kepalanya. “Sekali. Selamanya.”

Dia mengangguk di leherku.

Kami diam lama seperti itu. Film di TV terus berjalan tanpa ada yang menonton. Lampu balkon berkedip pelan di sudut mata.

“Ga,” kataku akhirnya.

“Hm.”

“Benar itu kayak gimana?”

Dia tidak menjawab.

“Maksudku,” kataku pelan, “benar menurut kamu itu kayak gimana? Apa yang harus ada dulu, biar jadi benar?”

Dia mengangkat wajah dari leherku. Menatapku.

Lalu dia menatap brosur tipe Teduh yang tergeletak di meja kopi. Yang kubawa pulang. Dengan foto jendela besar di halaman pertama.

Satu detik. Dua.

“Nanti aku cerita,” katanya.

Dia mengucapkannya dengan pelan, dan dengan sesuatu di suaranya yang belum pernah kudengar. Bukan nanti yang biasa. Bukan nanti yang menutup pintu. Nanti yang terdengar seperti seseorang yang sedang berdiri di depan pintu itu, tangannya di gagang, belum berani membuka.

“Janji?” bisikku.

“Janji.”

Aku menatapnya. Lalu mengangguk. Dan menyandarkan kepalaku ke dadanya.


Dia pulang jam sepuluh.

Aku berdiri di balkon, di bawah tirai lampu kuning, dan menatap mobil Jazz putihnya keluar dari parkiran gedung. Lampu belakangnya menghilang di tikungan.

Lalu aku masuk, mengambil brosur tipe Teduh dari meja kopi, dan duduk di lantai.

Halaman ketiga. Uang Muka (20%): Rp 200.000.000.

Aku mengambil HP. Membuka kalkulator.

200.000.000 − 156.200.000 = 43.800.000.

Enam tahun kerja. Empat puluh tiga koma delapan juta.

Aku menatap angka itu lama.

Lalu aku membuka dompet. Mengeluarkan name tag karton yang dilaminating. ERGA — GUGUS 7. Huruf kapital semua. Rapi. Seperti tulisan orang yang terbiasa mengisi formulir.

Aku menatap tulisan itu.

Ada sesuatu yang dia simpen, kata Zara di balkon vila. Sesuatu yang bikin dia mikir dia belum boleh.

Uangnya pergi ke suatu tempat. Ke seseorang. Dan dia tidak pernah bilang ke siapa pun, karena dia tidak pernah bilang apa pun tentang dirinya sendiri ke siapa pun.

Aku menyimpan name tag itu kembali ke dompet. Menatap lampu balkon.

Dua minggu lagi, Dapur Isal ulang tahun kelima.

Faisal sudah mengundang semua orang. Dia bilang ada “pengumuman penting”. Dia bilang dia akhirnya mau “bilang makasih secara resmi ke investor misterius”.

Aku tidak tahu kenapa, tapi tanganku dingin waktu aku memikirkannya.