Chapter One
Kursi Paling Ujung
POV: Erga
Ada satu aturan tidak tertulis di Gugus Tujuh: siapa pun yang datang duluan ke Dapur Isal hari Jumat, dia yang menyatukan dua meja kayu di pojok dekat jendela.
Sepuluh tahun, dan selalu aku yang datang duluan.
Bukan karena aku paling rajin. Kantorku cuma lima belas menit dari Kemang kalau Jalan Ampera sedang waras, dan aku satu-satunya di circle ini yang pekerjaannya selesai tepat jam lima sore. IT support tidak lembur kecuali server mati. Server di kantorku jarang mati, karena aku yang menjaganya.
Jadi tiap Jumat, jam enam kurang sepuluh, aku menggeser dua meja, menata enam kursi, lalu duduk di kursi paling ujung. Yang paling dekat dengan pintu.
Kursi itu kupilih bukan karena merasa rendah diri. Alasannya praktis. Dari kursi paling ujung, aku bisa berdiri tanpa membuat orang lain bergeser. Kalau sambal habis, aku yang ambil. Kalau ada yang datang basah kuyup, aku yang buka pintu. Kalau ada yang menelepon dan butuh dijemput, aku tinggal keluar tanpa mengganggu siapa pun yang sedang tertawa.
Kursi itu kursiku. Semua orang tahu.
“Ga! Udah dateng lo?”
Faisal muncul dari balik dapur dengan celemek merah yang sudah lebih banyak noda daripada warna aslinya. Badannya besar, wajahnya bulat, dan di tangannya selalu ada sesuatu yang sedang dimakan. Malam ini tempe mendoan, dua potong sekaligus.
“Dari tadi.”
“Pesen apa? Gue bikinin.”
“Nasi goreng kampung. Yang biasa.”
“Nggak bosen lo? Sepuluh tahun nasi goreng kampung.”
“Kamu sepuluh tahun makan sisa orang. Bosen?”
Faisal berpikir sebentar, lalu menggigit mendoannya. “Nggak sih.”
“Ya udah.”
Dia tertawa dan kembali ke dapur. Dapur Isal bukan restoran besar. Ruangannya cuma muat sembilan meja, dindingnya bata ekspos yang dicat putih, dan menunya ditulis kapur di papan hitam. Tapi tiap malam Jumat kedai ini penuh, dan hampir tiap Jumat ada yang mengambil foto papan menunya untuk Instagram. Faisal membangunnya dari nol. Aku ingat waktu kedai ini cuma gerobak di depan kos kami di Bandung.
Aku juga ingat waktu kedai ini hampir tutup, dua tahun lalu.
Tapi itu cerita lain.
Putra datang jam enam lewat dua puluh. Masih memakai kemeja biru langit dengan lengan digulung, tas ransel di satu bahu, dan wajah yang membuat dua perempuan di meja sebelah berhenti mengunyah.
dr. Putra Adinata. Dokter jaga IGD di rumah sakit swasta di Pondok Indah, punya dua puluh tiga ribu pengikut Instagram yang sebagian besar perempuan, dan wajah yang menurut Keisha “kayak iklan pasta gigi tapi versi sedih”.
“Ga.” Dia menepuk bahuku dan duduk di sebelahku. Bukan kursi di sebelahku persis. Kursi itu bukan untuk Putra. Dia tahu.
“Shift kamu udah?”
“Dua belas jam. Ada anak SMP nelen koin seribu.” Dia menyandarkan kepala ke dinding. “Koinnya keluar sendiri, by the way. Nggak usah ditanya lewat mana.”
“Nggak nanya.”
“Lo nggak pernah nanya. Itu yang gue suka dari lo.”
HP-nya bergetar di meja. Lalu bergetar lagi. Lalu lagi. Putra melihat layar, menghela napas, dan membaliknya.
“DM?”
“Tiga orang nanya gue udah punya pacar belum. Satu orang nanya gue mau nggak jadi dokter pribadi kucingnya.”
“Terima yang kucing.”
“Gue dokter manusia, Ga.”
“Kucing nggak bakal nanya kamu udah punya pacar belum.”
Putra menatapku lama, lalu tertawa sampai bahunya berguncang. Dua perempuan di meja sebelah ikut menoleh lagi.
Salah satunya berbisik ke temannya, cukup keras untuk kudengar: “Itu dokter yang di Instagram kan? Yang sebelahnya siapa? Asistennya?”
Putra berhenti tertawa. Rahangnya mengeras sedikit.
Aku menyodorkan menu ke arahnya. “Pesen. Faisal udah lihatin dari tadi.”
“Ga—”
“Pesen, Put.”
Dia menatapku sebentar, lalu menyerah dan mengambil menu. Putra selalu begitu. Dia yang paling cepat tersinggung untukku, dan aku yang paling tidak peduli. Bukan karena aku pura-pura kuat. Aku memang tidak peduli. Orang asing boleh menebak aku siapa. Yang penting aku tahu aku siapa, dan lima orang di circle ini tahu.
Itu sudah cukup.
Zara datang jam setengah tujuh, tanpa suara seperti biasa. Kemeja flanel kotak-kotak, celana kargo, sepatu safety yang belum diganti dari proyek, dan rambut sebahu yang diikat asal. Dia duduk di seberangku, mengangguk sekali, dan langsung mengambil cobek sambal dari meja.
Zara Amelia Siregar. Insinyur sipil di kontraktor yang sedang membangun jalan layang di Cawang. Satu-satunya perempuan di timnya. Satu-satunya juga yang berani menegur mandor yang merokok di dekat tangki solar.
Dan kalau orang tidak tertipu oleh flanel dan sepatu safety itu, mereka akan sadar Zara cantik sekali. Cantik yang dingin. Hidungnya mancung, alisnya tegas, kulitnya cokelat terbakar matahari proyek. Laki-laki di proyek takut padanya. Laki-laki di kedai ini juga takut padanya, hanya saja dengan cara yang berbeda.
“Hai, Zar.”
“Hm.” Dia sudah menyendok sambal ke piring kosong. Belum ada nasi. Belum ada lauk. Cuma sambal.
“Kamu mau makan sambal doang?”
“Pemanasan.”
Putra menggeleng. “Lambung lo terbuat dari beton cor.”
“K25,” kata Zara tanpa menoleh. “Mutu tinggi.”
Itu mungkin lelucon. Dengan Zara susah ditebak. Yang jelas, Faisal muncul dari dapur dan langsung menaruh sepiring nasi putih hangat di depan Zara tanpa diminta. Zara menatap nasi itu. Lalu menatap Faisal.
“Gue nggak pesen.”
“Gue tahu lo bakal pesen.”
“Gue bisa aja nggak pesen.”
“Lo selalu pesen nasi abis sambal yang ketiga sendok.”
Zara diam. Faisal kembali ke dapur. Zara mulai makan nasinya.
Aku dan Putra saling pandang. Putra mengangkat alis. Aku mengangkat bahu.
Ada beberapa hal di Gugus Tujuh yang tidak pernah dibicarakan. Itu salah satunya.
Keisha datang jam tujuh kurang lima, dan dia datang seperti angin puting beliung.
“GA. GAAA. ERGA PRAMANA.”
Pintu kedai terbuka begitu keras sampai bel di atasnya hampir copot. Keisha Ayudia, setinggi bahuku, pipinya bulat merah, rambut dikuncir dua seperti anak SD yang dia ajar tiap pagi, memeluk laptop di dadanya seperti memeluk bayi yang demam.
“Laptopku meninggal.”
“Duduk dulu.”
“Nggak bisa duduk! Nggak ada waktu buat duduk!” Dia menaruh laptop di depanku, membukanya, dan menunjuk layar hitam dengan jari gemetar. “Rapor tiga puluh dua anak harus masuk sistem jam sembilan malam ini. Terus konten sabun cuci piring yang di-endorse harus upload jam sembilan juga. Dua-duanya ada di sini. Dan dia. Nggak. Mau. Nyala.”
“Kamu backup?”
Keisha menatapku. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Oke,” kataku. “Nggak backup.”
“Aku mau backup! Minggu depan! Udah aku tulis di to-do list!”
Faisal keluar dari dapur, melihat situasinya, lalu dengan tenang mengambil mangkuk bakmi ayam yang tadi dipesan Keisha lewat WhatsApp dan sudah dia siapkan. Faisal duduk di kursi kosong dan mulai memakannya.
“Sal, itu bakmiku.”
“Lo lagi berduka. Orang berduka nggak makan.”
“FAISAL.”
Aku sudah berdiri. “Put, pegangin Keisha. Jangan sampai dia nangis di keyboard.”
“Gue? Kenapa gue?”
“Kamu dokter. Tenangin pasien.”
Putra mendengus, tapi bergeser ke sebelah Keisha dan meletakkan tangannya di bahu Keisha. Keisha langsung menyandarkan kepala ke lengan Putra dan mulai menangis pelan. Putra kaku seperti tiang listrik.
Dua perempuan di meja sebelah memotret mereka diam-diam.
Aku keluar ke parkiran. Bagasi Honda Jazz-ku yang sudah tiga belas tahun itu isinya selalu sama: kotak perkakas, kotak P3K yang cukup lengkap untuk menangani kecelakaan kecil, satu APAR dua kilo, kabel jumper, payung lipat tiga, jaket cadangan, dan tas berisi kabel, flashdisk bootable, dan SSD eksternal. Orang kantor menyebut bagasiku “posko bencana”. Itu tidak sepenuhnya salah.
Aku mengambil tas kabel dan kembali ke dalam.
“Kamu bawa itu di mobil?” tanya Putra.
“Selalu.”
“Kenapa?”
“Karena Keisha.”
Keisha mengangkat kepala dari lengan Putra. “Hah?”
“Kamu nggak pernah backup,” kataku, sambil mencolokkan flashdisk dan menekan tombol power. “Sepuluh tahun.”
Layar berkedip. Logo pabrikan. Lalu biru. Lalu tulisan putih tentang pembaruan sistem yang gagal dan memulihkan diri sendiri tanpa ujung. Pembaruan Windows yang macet di tengah jalan, sampai sistemnya tidak bisa menemukan dirinya sendiri lagi.
“Dia kenapa?” bisik Keisha.
“Lupa ingatan.”
“Bisa sembuh?”
“Datanya bisa. Laptopnya nanti.”
Aku boot dari flashdisk. Masuk ke lingkungan pemulihan. Disk-nya masih utuh, dan aku menghela napas pelan yang tidak kutunjukkan ke siapa pun. Aku mengakses folder Documents, folder Desktop, folder bernama “RAPOR FIX FINAL BENERAN”, dan folder bernama “sabun (jgn dihapus)”.
Aku menyalin semuanya ke SSD eksternal.
“Ga,” kata Keisha. “Kamu bisa nggak ngajarin aku caranya? Biar aku bisa sendiri nanti.”
“Bisa. Minggu depan.”
“Sekarang aja.”
“Sekarang kamu harus input rapor.” Aku membuka laptopku sendiri, yang memang selalu kubawa di ransel, menyalin folder-folder itu ke dalamnya, lalu menyodorkannya ke depan Keisha. “Pakai punyaku. Sistem rapornya lewat browser, kan?”
“Iya.”
“Login. Kerjain. Kontennya nanti aku yang render sambil kamu input. Software edit kamu apa?”
“CapCut.”
“Oke.”
“Ga, kamu nggak harus—”
“Biar aku aja,” kataku. “Kamu fokus rapor.”
Keisha menatapku. Lalu menatap Putra. Lalu menatap laptopku yang sudah menyala di depannya. Dan dia mulai menangis lagi, kali ini lebih keras, sambil mengetik nama siswa pertama.
“Kenapa nangis lagi?” Putra panik.
“Karena aku terharu! Biarin aku terharu!”
“Lo bisa terharu sambil nggak nangis, nggak?”
“NGGAK BISA.”
Faisal, yang masih memakan bakmi Keisha, mengangguk khidmat. “Biarin dia. Ini proses.”
Zara menyendok sambal keempatnya tanpa ekspresi.
Clara datang jam setengah delapan, ketika rapor sudah masuk dua puluh satu siswa dan konten sabun cuci piring sudah ter-render separuh di laptop pinjaman Faisal.
Aku tidak melihatnya masuk. Aku sedang membungkuk di atas layar. Tapi aku tahu dia datang, karena kedai mendadak hening sepersekian detik, seperti radio yang sinyalnya hilang sebentar.
Selalu begitu, kalau Clara masuk ke sebuah ruangan.
Aku mengangkat kepala.
Clara Anindya Halim berdiri di ambang pintu dengan blazer krem yang disampirkan di lengan, blus putih tanpa lengan, dan celana panjang hitam yang membuat kakinya terlihat dua kali lebih panjang dari yang masuk akal. Rambutnya hitam bergelombang sampai punggung, sedikit berantakan karena angin. Kulitnya putih bersih, dan matanya besar dan gelap, dengan bulu mata yang membuat perempuan lain bertanya pakai maskara apa padahal dia tidak pakai apa-apa.
Dia cantik dengan cara yang membuat orang lupa sedang mengunyah.
Aku tahu itu sejak hari pertama Ospek. Semua orang tahu. Tidak ada yang perlu diperdebatkan soal itu, sama seperti tidak ada yang perlu memperdebatkan bahwa langit biru.
“Kenapa semua tegang?” tanyanya.
“Laptop Keisha meninggal,” jawab Putra.
“Tapi datanya selamat,” tambah Faisal, mulutnya penuh.
“Erga?” tanya Clara.
Bukan pertanyaan, sebenarnya. Lebih seperti konfirmasi. Seperti orang yang bertanya “hujan?” sambil sudah melihat jendela basah.
“Erga,” jawab mereka berempat bersamaan.
Clara tersenyum. Lalu dia berjalan melewati meja Putra, melewati Zara, melewati Keisha yang masih mengetik sambil sesenggukan, dan duduk di kursi tepat di sebelahku.
Kursi itu selalu kosong sampai dia datang. Tidak ada yang pernah duduk di sana. Aku tidak pernah meminta. Tidak ada yang pernah membahasnya. Kursi itu kursinya Clara, sama seperti kursi paling ujung adalah kursiku.
“Kamu udah makan?” tanyanya.
“Nanti.”
“Nasi goreng kamu dingin.”
Aku melihat piring di sebelah laptop. Benar. Aku lupa. Faisal mengantarnya sejam lalu dan aku belum menyentuhnya.
Clara mengambil sendok, menyendok nasi gorengku, dan mengulurkannya ke depan mulutku.
Aku menatap sendok itu.
“Ra.”
“Kamu lagi pegang mouse. Kamu nggak bisa makan sendiri.”
“Bisa. Nanti.”
“Nanti kamu lupa lagi.” Dia tidak menurunkan sendoknya. “Buka.”
Faisal berhenti mengunyah. Putra berhenti menenangkan Keisha. Zara berhenti menyendok sambal. Bahkan Keisha berhenti terisak sebentar.
Aku membuka mulut. Clara menyuapkan nasi goreng dingin itu, dan tersenyum seperti baru memenangkan sesuatu.
“Enak?”
“Dingin.”
“Tapi enak?”
“Ra, aku lagi render.”
“Jawab.”
Aku menelan. “Enak.”
“Good.” Dia menyendok lagi. Kali ini untuk dirinya sendiri. Lalu satu lagi untukku. Bergantian, tanpa bertanya, seperti itu hal paling normal di dunia.
Putra berdeham panjang. Faisal pura-pura batuk. Zara menatap Clara dengan mata yang menyipit sedikit, satu milimeter, dan itu sudah ekspresi paling dramatis yang bisa dia berikan.
Aku kembali ke layar. Progress bar render sudah delapan puluh tujuh persen.
Clara bersandar ke bahuku sedikit untuk melihat layar. Rambutnya wangi sesuatu yang manis. Vanila, atau kelapa, atau sesuatu yang tidak kutahu namanya tapi selalu kukenali dari jarak dua meter.
“Kamu nggak pernah capek, ya, Ga?” tanyanya pelan.
“Capek.”
“Tapi?”
“Ini cuma laptop.”
“Kemarin juga ‘cuma printer’-nya Putra. Minggu lalu ‘cuma galon’-nya Zara. Bulan lalu ‘cuma’ nganter Faisal ke pasar jam empat pagi.” Dia memiringkan kepala, menatapku dari jarak yang terlalu dekat. “Kapan yang ‘bukan cuma’?”
Aku tidak menjawab. Progress bar sembilan puluh empat persen.
Clara tidak menunggu jawaban. Dia memang jarang menunggu jawaban dariku. Dia cuma bertanya, lalu menyimpan pertanyaannya di suatu tempat, seperti orang mengumpulkan kerang di pantai.
Seratus persen.
“Kei. Kontennya udah. Mau upload sekarang?”
Keisha menoleh dengan wajah merah, hidung merah, mata merah, dan mulut yang mulai tersenyum. “Rapornya juga udah. Tiga puluh dua. Submit tadi.”
“Bagus.”
“GAAA.” Dia berdiri, mengitari meja, dan memelukku dari belakang sampai leherku hampir patah. “Kamu tuh ya. Kamu tuh. Aku nggak tahu harus ngapain kalau nggak ada kamu.”
“Backup,” kataku. “Itu yang harus kamu lakuin.”
“Iya, iya, minggu depan—”
“Kei.”
“Besok! Besok aku backup!”
Semua orang tertawa. Putra menepuk punggungku. Faisal mengangkat mangkuk bakmi Keisha yang sudah kosong seperti bersulang. Zara cuma mengangguk sekali ke arahku, dan bagi Zara itu sama dengan tepuk tangan berdiri.
Jam sepuluh, kedai mulai sepi. Faisal sudah mengganti celemeknya dengan kaos, Putra pulang duluan karena ada shift pagi, Keisha sudah mengunggah kontennya dan sekarang membalas komentar dengan stiker kucing, dan Zara bermain kartu remi sendirian di ujung meja.
Clara masih di sebelahku.
Dia tidak memesan apa-apa sejak datang. Dia cuma makan dari piringku, minum dari gelasku, dan sekarang, setelah aku berdiri untuk mengambil sambal tambahan buat Zara dan kembali, ada segelas es teh tawar dingin di depanku.
Aku belum memesan es teh. Aku tidak bilang ke siapa pun aku haus.
Aku menatap gelas itu. Lalu menatap Clara.
Dia sedang membalas pesan di HP-nya. Tidak menatapku. Ujung bibirnya terangkat sedikit.
Sepuluh tahun, dan aku masih belum tahu bagaimana dia selalu tahu.
Aku duduk, meminum es teh itu, dan tidak bertanya.
Di HP-ku, grup “Gugus 7 (Jangan Bubar)” berbunyi. Keisha mengirim foto: kami berenam, diambil dari sudut yang aneh, dengan wajah Faisal penuh bakmi dan kepala Clara di bahuku.
Di bawahnya, Keisha menulis: Terima kasih Erga Pramana, penyelamat rapor, penyelamat sabun cuci piring, penyelamat hidupku. Aku backup besok. Sumpah.
Faisal membalas: gue saksi
Putra membalas: dia nggak bakal backup
Zara membalas: k
Clara tidak membalas di grup. Tapi tiga detik kemudian, HP-ku bergetar sekali lagi. Pesan pribadi.
Kamu udah ngabisin es tehnya?
Aku melihat ke sebelah. Clara masih menatap layar HP-nya sendiri, pura-pura serius.
Aku mengetik: Udah.
Enak?
Es teh tawar, Ra.
Jawab.
Aku menatap gelas kosong di depanku. Lalu menatap perempuan di sebelahku, yang pura-pura tidak menunggu jawaban padahal ujung kakinya bergoyang tidak sabar di bawah meja.
Enak.
Clara tersenyum ke layar HP-nya.
Dan aku kembali ke kursi paling ujung di dalam kepalaku sendiri, tempat aku menyimpan hal-hal yang tidak perlu dibicarakan. Bersebelahan dengan nasi goreng yang dingin dan es teh yang datang sebelum diminta.
- 1 Kursi Paling Ujung reading
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja