← Biar Aku Aja

Chapter Thirty One

Labuan Bajo

POV: Erga


Ide Labuan Bajo datang dari Pak Hendra.

Tiga minggu setelah keluar dari rumah sakit, Pak Hendra mengirim pesan ke Clara: Papa mau kalian berenam liburan. Papa yang bayar kapalnya. Jangan protes.

Clara protes. Pak Hendra tidak membalas. Dua hari kemudian, Clara menerima email konfirmasi pemesanan kapal phinisi untuk tiga hari dua malam di Taman Nasional Komodo, atas nama Gugus Tujuh, dengan catatan dari agen perjalanan: Pemesanan oleh Bpk. Hendra Halim. Catatan khusus: kabin terbaik untuk Sdr. Erga.

“Papa kenapa sih,” kata Clara di telepon, setengah tertawa, setengah malu.

“Papa kamu cuma bilang terima kasih,” kataku.

“Papa nggak pernah bilang terima kasih ke siapa-siapa. Papa bilang terima kasih ke Mama setahun sekali, waktu anniversary, terus Mama nangis.”

“Ini cara Papa kamu.”

“Kabin terbaik, Ga. Papa nulis ‘kabin terbaik untuk Sdr. Erga’. Agen perjalanannya sampai nelepon aku buat konfirmasi Sdr. Erga itu siapa.”

“Terus kamu bilang apa?”

Jeda.

“Aku bilang pacar aku,” katanya pelan. “Terus agennya bilang, ‘Oh, berarti kabinnya untuk berdua ya, Bu?’”

Aku diam.

“Terus aku bilang iya,” bisik Clara.


Kapal phinisi itu bernama Laut Biru. Kayu jati cokelat tua, dua tiang layar putih yang menjulang tinggi, dek atas yang luas dengan bantal-bantal besar dan payung. Empat kabin di bawah dek. Satu kabin utama di buritan, dengan jendela bulat menghadap laut dan kasur besar yang dibungkus seprai putih.

Kabin terbaik untuk Sdr. Erga.

Putra dan Keisha di kabin kedua. Zara dan Faisal di kabin ketiga dan keempat, terpisah. Zara yang mengatur, dengan wajah datar dan telinga yang sangat merah waktu Keisha bertanya kenapa tidak sekabin saja seperti di Papandayan.

“Papandayan darurat medis,” kata Zara.

“Kalau di sini ada darurat medis lagi?”

“Gue tendang Faisal ke laut. Biar nggak ada yang butuh dipeluk.”

Faisal, yang sedang menyusun bekal camilan di dek, berhenti mengunyah dan menatap Zara dengan mata besar.

“Lo mau nendang gue ke laut?”

“Kalau perlu.”

“Kenapa?”

“Biar nggak ada darurat medis.”

“Tapi kalau lo nendang gue ke laut, itu justru darurat medis.”

Zara menatapnya. Faisal menatap balik. Zara membuka mulut untuk membalas, lalu menutupnya lagi karena tidak ada balasan yang logis.

“Diem lo,” katanya akhirnya, dan pergi ke haluan.

Faisal tersenyum ke punggungnya.


Hari pertama: Pulau Kelor, Pulau Rinca, komodo. Keisha berteriak setiap kali melihat komodo, bahkan yang sedang tidur. Putra memotret Keisha yang berteriak, bukan komodonya. Ranger lokal yang memandu kami bertanya apakah Keisha “baik-baik saja”, dan Putra menjawab dengan serius, “Dia selalu begini, Pak. Ini normal buat dia.”

Hari kedua pagi: Pulau Padar.

Kami mendaki ke puncak sebelum subuh, dengan senter kepala dan napas tersengal di tanjakan tangga kayu. Pemandangannya di puncak adalah alasan orang terbang tiga jam dari Jakarta. Tiga teluk berbentuk bulan sabit, masing-masing dengan pasir berwarna berbeda. Putih, hitam, merah muda. Dikelilingi bukit-bukit cokelat keemasan yang bergelombang seperti punggung naga yang sedang tidur.

Clara berdiri di sebelahku di puncak, dengan topi bucket krem dan napas tersengal. Matahari terbit di belakang bukit timur, menyinari tiga teluk dengan cahaya emas.

“Ga,” bisiknya.

“Hm.”

“Ini kayak Tegal Alun. Tapi ada lautnya.”

“Iya.”

“Aku mau ngomong sesuatu lagi.”

Aku menoleh.

Clara tersenyum, menyandarkan kepala ke bahuku. “Bercanda. Aku udah ngomong semuanya di Tegal Alun.”

“Belum semuanya.”

Dia mengangkat kepala, menatapku. “Belum?”

Aku tidak menjawab. Aku menatap tiga teluk di bawah. Clara menatapku dengan alis berkerut, lalu menyerah dan kembali menyandarkan kepala ke bahuku.

Dua puluh meter dari kami, di batu besar di ujung puncak, Faisal dan Zara duduk berdampingan.

Aku tidak bermaksud mendengar. Angin pagi di puncak Padar membawa suara mereka ke arah kami.

“Zar,” kata Faisal.

“Hm.”

“Waktu di kedai. Yang lo kirim WA ke gue. Waktu gue kasih pisang goreng.”

Zara diam.

“Lo nulis ‘gue suka’,” kata Faisal pelan. “Gue... gue udah baca seratus kali. Gue nggak tahu maksudnya. Lo suka pisangnya? Atau...”

Zara menatap teluk di bawah. Rambutnya tertiup angin. Wajahnya datar.

“Lo pikir aja sendiri,” katanya.

“Gue udah mikir seratus kali.”

“Pikir yang keseratus satu.”

Faisal menatap Zara. Lama. Lalu dia menunduk dan tertawa kecil, malu.

“Gue bego, Zar,” katanya.

“Gue tahu.”

“Lo nggak bantah?”

“Kenapa gue bantah fakta?” Zara masih menatap teluk. Lalu, sangat pelan, dia menyandarkan bahunya ke bahu Faisal. Tidak kepalanya. Bahunya. Sentuhan kecil yang terasa jauh lebih besar dari seharusnya, seperti sentuhan Clara di api unggun Puncak. “Tapi lo bego yang ngasih jaket ke anak kecil di tengah kabut.”

Faisal membeku.

Zara tidak menarik bahunya.

Clara, di sebelahku, menggenggam lenganku erat dan berbisik dengan suara bergetar: “Ga. Ga. Lihat.”

“Aku lihat.”

“Zara nyender.”

“Aku lihat, Ra.”

“Aku mau nangis.”

“Jangan. Nanti mereka denger.”

Clara menutup mulutnya dengan dua tangan dan menangis tanpa suara di bahuku, di puncak Pulau Padar, di bawah matahari pagi.


Hari kedua siang: snorkeling di Taka Makassar.

Taka Makassar adalah gosong pasir putih di tengah laut, sepotong pantai kecil yang muncul hanya saat air surut, dikelilingi terumbu karang dan air biru toska yang begitu jernih sampai kau bisa melihat ikan dari atas kapal. Pemandu kapal, laki-laki muda dari Flores bernama Yosef, memberikan arahan sebelum kami turun.

“Di sisi timur gosong arusnya kuat,” katanya, menunjuk. “Jangan lewat garis pelampung kuning. Kalau kebawa arus, jangan lawan. Berenang menyamping, sejajar pantai, sampai keluar dari arus.”

Semua orang mengangguk.

Keisha mengangguk paling keras. Lalu, lima belas menit kemudian, dia melewati garis pelampung kuning sambil mengikuti seekor penyu.

Aku melihatnya dari tiga puluh meter. Aku sedang mengapung di permukaan dengan Clara di sebelahku, menunjuk ikan badut yang bersembunyi di anemon. Tapi aku selalu menghitung kepala. Satu, dua, tiga, empat, lima. Putra di dekat gosong. Faisal dan Zara di dekat kapal. Clara di sebelahku.

Keisha di luar garis kuning.

Dan Keisha bergerak terlalu cepat, menjauh dari gosong, terlalu jauh.

Dia mengangkat kepala dari air. Menyadari di mana dia berada. Aku melihat wajahnya berubah dari takjub menjadi panik dalam satu detik. Dia mulai berenang ke arah gosong. Melawan arus. Lurus. Persis yang Yosef bilang jangan.

Dan dia tidak bergerak ke mana-mana. Arus menyeretnya ke belakang, ke laut lepas, sementara tangannya menepuk-nepuk air dengan panik.

“KEI!”

Itu Putra, dari gosong. Dia sudah melihat juga. Dia berlari ke air.

Tapi aku sudah berenang.

Tiga puluh meter. Aku berenang menyamping dari posisiku, memotong garis arus dari sudut, bukan dari belakang. Arus menarikku, tapi aku tidak melawannya. Aku membiarkannya membawaku ke arah Keisha, sambil terus berenang menyamping. Air asin masuk ke mulut. Kacamata snorkel berembun.

Dua puluh meter. Sepuluh.

Keisha sudah kelelahan. Tangannya bergerak semakin lambat. Wajahnya timbul tenggelam.

Lima meter.

Aku meraihnya. Melingkarkan lenganku di bawah ketiaknya dari belakang, menahan kepalanya di atas air.

“Kei. Berhenti berenang. Aku pegang.”

“G-Ga—” Dia terbatuk, memuntahkan air laut.

“Diem. Jangan lawan. Rileks. Aku yang berenang.”

Dia berhenti melawan. Tubuhnya lemas di lenganku.

Aku berenang menyamping. Sejajar gosong. Pelan. Teratur. Arus menarik kami ke laut, tapi setiap kayuhan membawa kami sedikit ke samping, sedikit ke samping, sampai tiba-tiba tarikan arus menghilang dan air menjadi tenang.

Kami keluar dari arus.

Lalu aku berenang ke gosong.

Putra sudah di air sampai dada, berenang canggung ke arah kami. Putra tidak pandai berenang. Itu rahasia yang kami semua tahu tapi tidak pernah dibahas: dokter IGD yang bisa menangani henti jantung dalam hitungan detik tapi berenang seperti kucing yang dilempar ke kolam.

Dia meraih Keisha dari lenganku dan menariknya ke pelukan. Keisha menangis. Putra menangis. Mereka berdua berdiri di air setinggi dada, berpelukan, menangis, sementara ombak kecil menghempas punggung mereka.

Aku berdiri di sebelah mereka. Terengah. Lenganku pegal.

Putra mengangkat wajah dari bahu Keisha. Menatapku. Matanya merah, basah, entah air laut entah air mata.

“Lagi-lagi kamu duluan,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Ga.” Suaranya pecah. “Lagi-lagi kamu duluan. Ayah Clara. Keisha. Faisal di Papandayan. Zara di padel. Semua. Lo selalu duluan.” Dia tertawa, basah, sedih, bersyukur. “Gue dokter, Ga. Gue harusnya yang duluan.”

“Kamu nggak bisa berenang, Put.”

Putra menatapku. Lalu tertawa lebih keras sambil menangis.

“Gue bakal kursus renang,” katanya. “Pulang dari sini. Gue bakal kursus renang.”

“Bagus.”


Clara menungguku di dek kapal waktu kami kembali.

Dia sudah naik lebih dulu. Dia berdiri di tangga kapal dengan handuk besar di tangan, wajah pucat, rambut basah menempel di pipi.

Aku naik tangga. Air laut menetes dari tubuhku. Aku melepas kacamata snorkel dan kaus renang yang basah, dan berdiri di dek dengan celana renang saja, terengah, dengan rambut menempel di dahi.

Clara tidak berkata apa-apa. Dia membungkus tubuhku dengan handuk besar itu. Lalu, menggenggam kedua ujung handuk di depan dadaku, dia menarikku. Ke belakang tiang layar utama. Ke tempat yang tidak terlihat dari tangga kapal tempat Putra sedang menuntun Keisha naik dan Faisal sedang menyiapkan teh manis.

Layar putih besar berkibar di atas kami. Menyembunyikan kami dari seluruh kapal.

“Kamu,” katanya. Suaranya gemetar.

“Kenapa?”

“Kamu berenang ke arus.”

“Aku berenang menyamping.”

“KE ARUS, Ga.”

“Menyamping dari arus.”

Clara menatapku. Tangannya mencengkeram ujung handuk di dadaku. Matanya merah. Basah.

Lalu matanya turun. Dari wajahku ke leherku. Ke bahuku. Ke dadaku yang basah di balik handuk yang terbuka sedikit. Ke tetes air laut yang turun dari bahu ke perut.

Dan matanya berubah. Dari takut ke sesuatu yang lain.

“Kamu basah gini,” katanya pelan, “jangan deket-deket cewek lain.”

Aku menatapnya.

“Cuma ada Keisha,” kataku.

“Keisha punya Putra.” Clara menarik handuk lebih erat, menarikku lebih dekat, sampai tubuhku yang basah hampir menyentuh tubuhnya. Matanya naik lagi ke wajahku. “Kamu punya aku.”

“Ra—”

“Sini.”

Dia menciumku.

Di balik layar kapal phinisi yang berkibar. Di tengah laut Flores yang biru toska. Ciuman yang asin karena air laut di bibirku, dan basah karena rambutku yang meneteskan air ke wajahnya, dan panas karena matahari siang yang menyengat di atas kepala kami.

Tangannya melepas ujung handuk dan menyentuh dadaku. Telapak tangan yang hangat di kulit yang dingin dan basah. Aku merasakan jarinya bergerak, pelan, di atas tulang dada. Di tempat yang sama di mana aku menekan dada Papanya seratus dua puluh kali per menit.

Aku menariknya lebih dekat. Satu tangan di pinggangnya, satu tangan di tengkuknya. Bajunya ikut basah karena tubuhku. Dia tidak peduli. Dia menciumku lebih dalam.

Layar di atas kami berkibar dan berderak ditiup angin.

Lalu dari sisi lain tiang, terdengar suara Faisal:

“Teh manis! Teh manis buat yang abis nyelametin orang! Ga? Ga, lo di mana?”

Kami membeku.

Clara menarik diri. Wajahnya merah. Bibirnya basah dan sedikit bengkak. Rambutnya berantakan. Bajunya basah di bagian depan berbentuk tubuhku.

“Ga?” Langkah kaki Faisal mendekat.

Clara menarik handuk kembali menutupi dadaku dengan gerakan cepat dan kasar. Lalu dia berbalik, berjalan keluar dari balik tiang dengan dagu terangkat.

“Dia di sini, Sal,” katanya, dengan suara yang terlalu tinggi. “Lagi... ganti handuk.”

Faisal muncul di sudut tiang dengan dua gelas teh manis di tangan. Menatap Clara. Menatap bajunya yang basah. Menatapku, berdiri di balik tiang dengan handuk dan wajah yang tidak bisa disembunyikan.

Faisal menatap kami berdua selama tiga detik penuh.

“Oh,” katanya.

Lalu dia meletakkan dua gelas teh manis di lantai dek, berbalik, dan berjalan pergi.

“Faisal sadar,” bisik Clara, ngeri.

“Faisal sadar,” kataku.

“Pertama kali dalam hidupnya, Faisal sadar sesuatu duluan.”

Dari haluan, kami mendengar Faisal berteriak ke Zara: “ZAR. GUE NGELIAT SESUATU.”

Dan Zara, dengan suara datar yang terbawa angin: “Lo baru sadar sekarang?”


Malam itu, kapal berlabuh di dekat Pulau Kalong.

Ribuan kelelawar raksasa terbang keluar dari hutan bakau saat matahari terbenam, membentuk sungai hitam yang bergerak di langit oranye. Keisha berteriak kagum. Putra memeluk Keisha dari belakang, masih sedikit gemetar sejak siang. Faisal dan Zara duduk di haluan, di bantal yang sama, tidak bicara.

Clara duduk di sebelahku di dek atas, dengan kepala di bahuku.

“Ga.”

“Hm.”

“Tadi siang kamu bilang ‘belum semuanya’. Di Padar.”

Aku diam.

“Apa yang belum?”

Aku menatap ribuan kelelawar yang terbang ke cakrawala. Langit berubah dari oranye ke ungu ke biru tua.

“Nanti malam,” kataku.

Clara mengangkat kepala. Menatapku. “Nanti malam?”

“Iya.”

“Bukan ‘nanti’ yang biasa?”

“Bukan.”

“Nanti malam kapan?”

Aku menoleh padanya. Wajahnya sangat dekat. Bintang-bintang pertama mulai muncul di langit di belakang kepalanya.

“Waktu bintangnya udah keluar semua,” kataku.

Clara menatapku lama. Lalu tersenyum. Pelan. Dan menyandarkan kepala lagi ke bahuku.

“Oke,” bisiknya. “Aku tunggu.”

Di langit, kelelawar terakhir menghilang ke balik bukit. Dan di laut di bawah kami, di antara riak air yang memantulkan langit yang semakin gelap, plankton berpendar biru pertama mulai menyala.