← Biar Aku Aja

Chapter Eleven

Tol Jam Dua Pagi

POV: Clara


Tante Mira mengatur makan malam itu seperti mengatur pernikahan kerajaan.

“Cuma makan malam keluarga, Sayang,” katanya di telepon hari Senin. “Keluarga Hartanto ngundang kita. Restoran di Bogor, yang di bukit itu, viewnya bagus. Papa kamu udah setuju. Mama kamu udah setuju. Masa kamu nggak dateng?”

“Aku ada kerjaan, Tante.”

“Hari Rabu malam? Jam tujuh? Kerjaan apa jam tujuh malam?”

Aku tidak punya jawaban. Aku memang tidak punya kerjaan jam tujuh malam hari Rabu. Yang kupunya adalah firasat buruk, dan firasat buruk tidak bisa dijadikan alasan di depan Tante Mira.

Jadi hari Rabu malam aku menyetir sendiri ke Bogor. Mama menawarkan aku ikut mobil keluarga. Aku menolak. Aku mau mobilku sendiri. Aku mau bisa pergi kapan pun aku mau.

Itu keputusan yang tepat. Dan juga keputusan yang membuatku berdiri di bahu jalan tol Jagorawi jam dua pagi dengan mobil yang mati total.

Tapi itu nanti.


Restorannya memang bagus. Dinding kaca, menghadap lembah dan lampu-lampu kota Bogor di kejauhan. Meja panjang untuk dua keluarga. Om Hartanto dan Tante Hartanto, ramah dan berlebihan. Papa dan Mama, sopan dan sedikit kaku. Tante Mira, yang duduk di tengah seperti sutradara. Dan Dion, yang entah bagaimana selalu berakhir duduk tepat di sebelahku setiap kali aku pindah kursi.

Makan malam berlangsung tiga jam. Tiga jam membicarakan bisnis keluarga Hartanto, rencana ekspansi supermarket ke Surabaya, golf, dan, setiap dua puluh menit, aku.

“Clara ini pinter banget lho, Jeng,” kata Tante Mira ke Tante Hartanto. “Umur dua puluh delapan udah manajer.”

“Dion juga, Jeng. Umur tiga puluh udah direktur.”

“Wah, cocok ya.”

“Cocok banget.”

Mama menunduk ke supnya. Papa batuk kecil. Aku menghabiskan segelas air putih dalam satu tegukan.

Jam sebelas, para orang tua pindah ke teras untuk minum kopi dan merokok. Dion tidak ikut. Dia tetap di meja, di sebelahku, memutar gelas anggurnya.

“Kamu nggak nyaman ya,” katanya.

“Aku capek.”

“Wajar. Tante kamu itu intens.” Dia tersenyum. Senyum yang dia pikir menawan. “Tapi aku nggak keberatan. Aku suka perempuan yang keluarganya peduli.”

“Dion.”

“Hm?”

“Aku nggak tertarik.”

Dia tertawa kecil. Seperti aku baru saja melontarkan lelucon lucu. “Kamu belum kenal aku.”

“Aku udah cukup kenal.”

“Karena kejadian di nikahan Gilang?” Dia mengangkat bahu. “Aku minta maaf soal itu. Aku salah sangka. Tapi jujur aja, Clara, siapa pun yang lihat pasti salah sangka. Dia kelihatan kayak...”

“Kayak apa?”

“Kayak orang yang kerja buat kamu.”

Aku meletakkan garpuku pelan-pelan.

“Dia nggak kerja buat aku,” kataku. “Dia nggak pernah kerja buat siapa pun di circle kami. Kami yang selama ini nggak bisa hidup tanpa dia.”

Dion menatapku. Untuk sesaat, senyumnya hilang. Lalu kembali, sedikit lebih tipis.

“Oke,” katanya. “Kamu sayang sama teman-teman kamu. Itu bagus. Tapi Clara, suatu hari kamu harus mikir realistis. Teman ya teman. Masa depan ya masa depan.”

Aku berdiri. “Aku pulang duluan. Tolong bilang ke Papa sama Mama.”

“Jam sebelas malam? Sendirian? Ke Jakarta?”

“Aku udah dewasa, Dion.”


Aku meninggalkan restoran jam sebelas lewat lima belas. Masalahnya, aku tidak langsung pulang. Aku menyetir tanpa tujuan di jalan-jalan kecil Bogor selama dua jam, mendengarkan lagu-lagu sedih di radio dan menangis sedikit di lampu merah dekat Kebun Raya, karena aku capek, karena Tante Mira, karena Dion, dan karena kalimat “teman ya teman” yang terus berputar di kepalaku seperti lagu yang tidak bisa berhenti.

Jam satu lewat empat puluh, aku masuk tol Jagorawi menuju Jakarta.

Jam dua lewat lima menit, lampu indikator di dasbor menyala merah semua. Mesin tersendat. Setir tiba-tiba berat. Aku membanting setir ke bahu jalan, menyalakan lampu hazard, dan mobil berhenti total, persis di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip seperti di film horor.

Aku duduk di dalam mobil yang mati, dengan tangan masih menggenggam setir, napas pendek-pendek.

Jam dua pagi. Tol Jagorawi. Sendirian.

Truk lewat di jalur sebelah, begitu dekat sampai mobilku bergoyang.

Aku membuka HP. Jariku sudah tahu nomor mana yang harus ditekan sebelum otakku memutuskan.

Nada sambung pertama. Kedua.

“Ra?”

Suaranya serak, berat, setengah tidur. Tapi dia mengangkat di nada sambung kedua. Jam dua pagi.

“Ga.” Suaraku pecah. Aku tidak berniat membuatnya pecah. “Mobilku mati. Di tol.”

Hening setengah detik. Lalu suara selimut disingkap, langkah kaki, pintu dibuka.

“Tol mana?”

“Jagorawi. Arah Jakarta. Kayaknya deket Cibubur. Ada papan kilometer tiga belas.”

“Kamu di dalam mobil?”

“Iya.”

“Kunci pintu. Nyalain hazard.”

“Udah.”

“Jangan turun. Kalau ada yang ngetok, jangan buka. Kalau ada petugas tol, minta lihat kartu identitas dulu.”

“Iya.”

“Aku ke sana.” Suara kunci mobil. Pintu pagar. “Biar aku aja. Kamu tunggu. Jangan matiin telepon.”

“Ga, kamu nggak harus—”

“Ra.” Suaranya tetap tenang. Datar. Seperti sedang membaca manual router. “Jangan matiin telepon.”

Aku tidak mematikan telepon.


Empat puluh tiga menit.

Selama empat puluh tiga menit, Erga tidak menutup telepon. Dia tidak banyak bicara. Dia menyetir, dan aku bisa mendengar suara mesin Honda Jazz-nya yang tua, bunyi lampu sein, dan sesekali dia bertanya hal-hal kecil.

“Masih di sana?”

“Masih.”

“Ada yang lewat?”

“Truk.”

“Kamu kedinginan?”

“Sedikit.”

“Jaket aku masih di kamu?”

Aku menatap jok belakang. Jaket hitamnya terlipat di sana, tempat aku menaruhnya sejak hari Minggu padel. Aku membawanya ke mana-mana. Aku belum mengembalikannya. Aku tidak akan mengembalikannya.

“Ada.”

“Pakai.”

Aku memakainya. Wanginya sudah hampir hilang, berganti wangi parfumku, tapi masih ada sedikit di kerahnya. Sabun cuci. Kayu.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu tadi tidur ya?”

“Iya.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu besok kerja.”

“Iya.”

“Maaf, Ga.”

“Ra.” Suara lampu sein. Dia berganti jalur. “Berhenti minta maaf. Aku udah di Cibubur.”


Mobil Jazz putih tua itu muncul di kaca spion jam dua lewat empat puluh delapan. Lampu hazard-nya menyala. Dia menepi di belakangku, turun, dan berjalan ke jendelaku dengan kaus abu-abu kusut, celana training, dan rambut berantakan seperti baru bangun tidur.

Dan tangannya membawa kantong plastik.

Aku membuka kunci. Dia membuka pintu dan berlutut di samping jok pengemudi supaya matanya sejajar dengan mataku.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

Dia menatapku. Matanya bergerak dari wajahku, ke tanganku, ke jaket hitamnya yang kupakai, lalu kembali ke wajahku. Memeriksa. Seperti dia memeriksa pergelangan kaki Zara di lapangan padel.

“Kamu habis nangis.”

“Nggak.”

“Ra.”

“Sedikit.”

Dia tidak bertanya kenapa. Dia meletakkan kantong plastik di pangkuanku.

Martabak manis. Cokelat keju. Masih hangat. Dari warung dua puluh empat jam di depan stasiun Depok yang dia tahu adalah favoritku sejak kuliah.

Aku menatap martabak itu. Lalu menatap Erga.

“Kamu sempat beli martabak?”

“Searah.”

“Dari Depok ke Cibubur nggak lewat stasiun Depok.”

“Aku lewat jalan jauh.”

Itu jawabanku. Jawabanku waktu dia bertanya kenapa aku lewat Kemang dari Kuningan. Dia mengembalikannya padaku, dengan wajah datar dan mata yang sedikit, sangat sedikit, tersenyum.

Aku tertawa. Dan karena tertawa, aku menangis lagi. Sedikit. Erga tidak berkata apa-apa. Dia hanya menunggu, berlutut di samping mobilku di bahu tol jam tiga pagi, sampai aku selesai.


Dia memeriksa mobilku dengan senter dari bagasinya. Alternator, katanya. Aki tidak terisi, semua listrik mati. Tidak bisa diperbaiki di sini. Harus diderek ke bengkel.

Dia menelepon layanan derek dua puluh empat jam yang nomornya, tentu saja, sudah tersimpan di HP-nya. Estimasi kedatangan satu jam.

“Kita tunggu di mobilku,” katanya. “Lebih aman. Mobilmu nggak ada AC, nggak ada lampu.”

Jadi kami duduk di Honda Jazz-nya. Dia di kursi pengemudi, aku di kursi penumpang, dengan hazard menyala dan mesin hidup supaya AC tetap jalan. Martabak di pangkuanku. Aku makan sepotong. Lalu sepotong lagi. Lalu menyodorkan satu ke mulut Erga, dan dia memakannya tanpa protes.

“Enak?”

“Manis.”

“Tapi enak?”

“Ra.”

“Jawab.”

“Enak.”

Aku tersenyum dan menyandarkan kepala ke kursi. Lalu, karena kursi terlalu keras, dan karena jam tiga pagi, dan karena martabak hangat dan AC sejuk dan suara mesin yang pelan, aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Dia tidak bergerak.

Bahunya keras, tapi hangat. Aku bisa merasakan napasnya, pelan dan teratur. Aku bisa mencium wangi sabun cucinya, asli, bukan sisa di jaket.

“Kalau aku tidur di bahu kamu,” bisikku, “kamu keberatan?”

“Kamu udah tidur dari tadi.”

“Belum.”

“Matamu udah merem.”

“Masih bangun.”

“Oke.”

Aku tersenyum dengan mata terpejam. Lalu, sebelum keberanian itu hilang, sebelum aku sadar bahwa aku sedang berbicara di jam tiga pagi dengan kepala di bahu laki-laki yang sudah kucintai sepuluh tahun:

“Ga.”

“Hm.”

“Kalau aku nelepon kamu cuma karena kangen, bukan karena mobil mogok, bukan karena darurat, cuma kangen... kamu tetap datang?”

Hening.

Aku tidak membuka mata. Aku takut kalau aku membuka mata, aku akan melihat wajahnya, dan wajahnya akan memberitahuku sesuatu yang tidak ingin kudengar.

Lima detik.

Tujuh detik.

Lalu dia menjawab, dengan suara yang sedikit lebih rendah dari biasanya.

“Tetap datang.”

Aku menahan napas.

“Tapi bawa martabak,” tambahnya.

Aku tertawa. Mataku masih terpejam, tapi aku tertawa di bahunya, dan rasanya seperti seluruh malam yang buruk itu, makan malam dan Dion dan Tante Mira dan alternator yang rusak, luruh begitu saja seperti masker wajah yang retak.

“Ga,” bisikku lagi.

“Hm.”

“Aku—”

HP-nya berbunyi. Keras. Nada dering default yang tidak pernah dia ganti selama sepuluh tahun.

Derek. Mereka sudah di kilometer lima belas, dua kilometer lagi.

Erga mengangkatnya, memberi petunjuk lokasi dengan suara tenang, lalu menutupnya. Dia menoleh sedikit. Kepalaku masih di bahunya.

“Kamu mau bilang apa tadi?”

Aku membuka mata. Wajahnya sangat dekat. Lampu hazard memantul di pipinya, oranye, gelap, oranye, gelap. Matanya menatapku dengan sabar, menunggu.

Keberanianku sudah hilang. Dibawa pergi oleh nada dering default dan derek dari kilometer lima belas.

“Aku mau bilang makasih,” kataku.

Dia menatapku sebentar. Lalu mengangguk. “Sama-sama.”

Tapi dia tidak memalingkan wajah. Dan aku bersumpah, untuk sesaat, dia tahu bahwa itu bukan yang tadi ingin kukatakan.


Sopir derek bernama Pak Udin, laki-laki paruh baya dengan topi bertuliskan nama klub sepak bola dan rokok yang tidak dinyalakan di sudut bibirnya. Dia mengaitkan mobilku ke derek dengan cekatan, mencatat alamat bengkel yang Erga berikan, dan meminta tanda tangan.

Erga menandatangani formulirnya. Lalu Pak Udin menatap ke arah mobil Jazz, di mana aku duduk di kursi penumpang, masih memakai jaket hitam Erga, masih memegang kotak martabak.

“Istrinya tidur aja, Mas,” kata Pak Udin. “Kasihan, udah jam segini. Biar saya yang anter mobilnya ke bengkel.”

Aku membeku di dalam mobil. Jendela terbuka sedikit. Aku mendengar semuanya.

Aku menunggu Erga mengoreksi. Bukan istri, Pak. Teman. Aku menunggu kata “teman”, yang sudah kudengar ribuan kali, dari Rina di kondangan, dari Dion, dari Tante Mira, dari Mama.

Erga tidak mengoreksi.

“Makasih, Pak,” katanya. “Hati-hati di jalan.”

Pak Udin mengangguk, naik ke truk derek, dan pergi membawa mobilku yang tergantung di belakang seperti anak kucing yang digigit tengkuknya.

Erga kembali ke mobil. Aku langsung memejamkan mata dan pura-pura tidur.

Dia masuk. Menutup pintu. Diam sebentar.

Lalu aku merasakan sesuatu. Jaket hitamnya, yang tadi melorot dari bahuku, ditarik pelan ke atas sampai menutupi leherku. Jarinya menyentuh pipiku sekilas, tidak sengaja, atau mungkin sengaja, dan berhenti di sana setengah detik terlalu lama.

Lalu dia menarik tangannya, memasang sabuk pengaman, dan mulai menyetir.

Aku tidak membuka mata sepanjang perjalanan ke Kuningan. Empat puluh lima menit. Aku pura-pura tidur, dan dia pura-pura tidak tahu aku pura-pura tidur, dan kami berdua diam di dalam mobil tua yang AC-nya sedikit berisik, dengan sisa martabak di pangkuanku dan satu kata yang tidak dia koreksi menggantung di udara.

Istrinya.


Di lobi apartemen, jam empat lewat sepuluh, dia membangunkanku dengan menepuk lenganku pelan.

“Ra. Udah sampai.”

Aku membuka mata, pura-pura mengantuk. “Udah?”

“Udah.”

Aku melepas sabuk pengaman. Memeluk kotak martabak. Membuka pintu. Lalu berhenti.

“Ga.”

“Hm.”

“Pak Udin tadi bilang apa?”

Dia menatap setir. “Bilang hati-hati.”

“Sebelum itu.”

Diam.

“Kamu nggak koreksi,” kataku.

Dia tidak menjawab. Dia menatap setir, lalu jalan di depan, lalu kaca spion, ke mana saja kecuali ke arahku.

“Jam empat pagi, Ra,” katanya akhirnya. “Aku nggak mau debat sama Pak Udin.”

Itu bukan bohong. Erga tidak pernah bohong. Tapi itu juga bukan seluruh kebenaran, dan kami berdua tahu.

Aku turun. Berjalan ke lobi. Lalu, di depan pintu kaca, aku berbalik.

Mobilnya masih di sana. Dia belum pergi. Dia tidak pernah pergi sebelum aku masuk ke dalam.

Aku mengangkat kotak martabak tinggi-tinggi, seperti piala.

Dia mengangkat satu tangan dari setir.

Lalu aku masuk, naik lift ke lantai delapan belas, membuka pintu apartemen, dan duduk di lantai di balik pintu dengan jaket hitamnya di bahuku dan kotak martabak di pangkuan, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku membiarkan diriku percaya.

Bukan berharap. Percaya.

Bahwa ada sesuatu di sana, di balik wajahnya yang tenang. Sesuatu yang tidak dia koreksi.

Delapan hari lagi, Puncak.

Aku akan bilang.

Kali ini aku akan benar-benar bilang.