← Biar Aku Aja

Chapter Thirteen

Cincin di Gazebo

POV: Clara


Besok malam kamu bakal bahagia.

Aku tidak tidur. Aku berbaring di kasur kamar yang kubagi dengan Zara dan Keisha, menatap langit-langit kayu, dan mengulang kalimat itu di kepalaku seratus kali dengan seratus intonasi yang berbeda.

Besok malam kamu bakal bahagia.

Sesuatu yang bagus. Buat kamu. Aku janji.

Dan sebelum itu: ibu jarinya di sudut bibirku. Matanya yang tidak memalingkan diri. Kamu cantik dari jam tiga sore.

Lampu tumblr di bagasi. “Rahasia” yang dia ucapkan tiga kali di Glodok. “Ada yang mau nyiapin sesuatu.” “Ini buat orang lain, Ra.”

Jam tiga pagi, aku duduk tegak di kasur dengan jantung berdebar begitu keras sampai aku takut membangunkan Zara.

Bagaimana kalau “orang lain” itu aku?

Bagaimana kalau semua ini, lampu dan rahasia dan “besok malam”, adalah sesuatu yang Erga siapkan untukku?

Bagaimana kalau setelah sepuluh tahun, dia akhirnya—

“Ra,” gumam Zara dari kasur sebelah, tanpa membuka mata. “Napas lo kenceng banget. Tidur.”

Aku berbaring lagi. Aku tidak tidur.


Pagi di vila dimulai dengan Keisha melakukan yoga di halaman berumput basah, dengan instruktur YouTube yang suaranya terlalu bersemangat untuk jam enam pagi. Keisha jatuh tiga kali di pose pohon. Faisal memasak nasi uduk di dapur sambil bernyanyi dangdut yang sama dengan semalam. Putra duduk di teras dengan kopi dan wajah pucat yang lebih pucat dari kemarin, menepuk saku kemejanya setiap dua menit.

Erga tidak terlihat di mana-mana.

“Erga mana?” tanyaku ke Faisal, di dapur.

“Pergi dari subuh. Katanya beli sesuatu di bawah.”

“Beli apa?”

Faisal berhenti mengaduk nasi uduk. Dia menatapku dengan ekspresi seorang laki-laki yang tahu terlalu banyak dan sangat ingin memberitahu tapi sudah diancam mati oleh tiga orang.

“Kabel,” katanya.

“Kabel?”

“Iya. Kabel.” Dia kembali mengaduk dengan semangat berlebihan. “Kabel listrik. Buat... listrik.”

Aku menatap Faisal. Faisal menatap nasi uduk. Telinganya merah.

“Sal.”

“Gue nggak tahu apa-apa.”

“Aku belum nanya apa-apa.”

“Ya, tapi lo bakal nanya, dan gue nggak tahu apa-apa.” Dia meletakkan sendok kayu dan berbalik dengan wajah serius. “Ra. Lo mau nasi uduk pakai telur balado atau telur dadar?”

Aku tidak menjawab. Aku tersenyum, sangat lebar, dan Faisal melihat senyum itu dan wajahnya berubah. Sedikit cemas, sedikit kasihan.

“Telur balado,” kataku.

Dia mengangguk dan berbalik. Tapi aku mendengarnya berbisik pelan ke penggorengan: “Ya Allah, semoga ini nggak berantakan.”


Siang harinya, Zara memaksa aku dan Keisha ikut tur memetik teh di kebun di bawah vila.

“Aku nggak mau metik teh,” kataku.

“Lo harus,” kata Zara.

“Kenapa?”

“Karena gue bilang lo harus.”

“Zar, kaki kamu baru sembuh. Kamu nggak boleh jalan di kebun teh yang miring.”

“Kaki gue udah sembuh. Erga udah cek.” Zara menarik lenganku. “Ayo. Pake topi caping. Lo pasti cocok.”

Aku memakai topi caping. Keisha memakai topi caping dan mengambil foto selfie dua puluh kali. Kami dipandu ibu-ibu pemetik teh yang ramah dan sangat cepat, yang memetik daun teh dengan dua jari seperti sedang memainkan piano, sementara kami memetik dengan seluruh tangan seperti mencabut rumput.

Satu jam kemudian, aku sudah tidak tahan.

“Zar, aku ke toilet.”

“Toiletnya di mana?”

“Di vila.”

“Vilanya jauh.”

“Aku jalan cepet.”

Zara menatapku dengan mata menyipit. Dia membuka mulut, mau mengatakan sesuatu, lalu menutupnya lagi. Lalu dia melirik jam tangannya.

“Jam dua,” gumamnya. “Mereka harusnya udah...” Dia berhenti. “Ra, tunggu dua puluh menit lagi.”

“Aku nggak bisa nunggu dua puluh menit lagi buat ke toilet, Zar.”

Aku sudah berjalan sebelum dia sempat menahanku.


Aku tidak ke toilet.

Aku naik lewat jalan setapak di antara barisan teh, terengah karena lerengnya curam, dengan topi caping yang terus melorot ke mata. Aku tidak tahu apa yang ingin kulihat. Aku cuma tahu aku tidak bisa menunggu sampai malam.

Jalan setapak itu keluar di sisi kiri halaman vila, di dekat tiga pohon cemara.

Aku berhenti di balik cemara pertama.

Gazebo itu sudah berubah.

Lampu-lampu tumblr kuning hangat melingkari tiang-tiangnya, menjuntai dari atap ijuk dalam lengkungan rapi seperti tirai cahaya. Di lantai kayu, puluhan lilin LED disusun membentuk jalur menuju tengah gazebo. Di sana, sebuah meja kecil ditutup kain putih, dengan vas berisi mawar putih dan bunga baby breath. Lampu-lampu bola kecil digantung dari dahan cemara, berayun pelan ditiup angin.

Bahkan di siang hari, dengan lampu yang belum menyala, semuanya terlihat seperti sesuatu dari mimpi.

Dan di tengahnya, berdiri di atas tangga lipat dengan gulungan kabel di bahu, Erga.

Dia sedang menggantung satu set lampu terakhir di sudut atap. Tangannya cekatan, cepat, rapi. Persis seperti waktu dia memperbaiki laptop Keisha, waktu dia membebat kaki Zara, waktu dia memadamkan api di dapur Faisal. Wajahnya tenang. Serius. Fokus.

Di bawahnya, di samping tangga, berdiri Putra.

Putra memegang kotak beludru biru tua kecil. Dia membuka dan menutupnya. Membuka, menutup. Seperti orang yang tidak bisa berhenti memeriksa apakah sesuatu masih ada di tempatnya.

“Ga,” kata Putra. Suaranya terbawa angin ke cemara, ke tempatku bersembunyi. “Dia pasti suka, kan?”

“Pasti.”

“Lo yakin?”

“Dia suka lampu. Dia selalu bilang mau pasang lampu kayak gini.”

Jantungku berhenti.

Kamu bisa ajarin aku? Aku mau pasang di balkon apartemen. Biar kayak di film-film.

Aku yang bilang itu. Ke Erga. Di video call, waktu dia di Glodok.

“Gue udah nggak tahan, Ga.” Putra menutup kotak beludru itu dan menekannya ke dada. “Sepuluh tahun. Malam ini gue bilang. Malam ini gue minta dia nikah sama gue.”

Erga menyelesaikan simpul terakhir di kabel lampu. Lalu dia turun dari tangga. Pelan. Dia berdiri di depan Putra dan menepuk bahunya dua kali.

“Dia bakal bahagia, Put,” katanya.

Besok malam kamu bakal bahagia.

Aku memegang batang cemara supaya tidak jatuh.

Bukan Erga.

Putra.

Lampu-lampu itu bukan untukku dari Erga. Lampu-lampu itu untukku dari Putra. Dan Erga, Erga yang kucintai sejak keliling ketujuh lapangan rektorat, Erga yang tidak mengoreksi Pak Udin, Erga yang menyeka saus di sudut bibirku semalam dan bilang aku cantik dari jam tiga sore, adalah orang yang menggantung lampu-lampu itu.

Untuk Putra melamarku.


Putra pergi ke vila, katanya mau latihan sekali lagi. Erga tinggal di gazebo, merapikan lilin-lilin yang sedikit miring.

Aku keluar dari balik cemara.

Dia mendengar langkahku dan menoleh. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku melihat wajahnya kaget. Benar-benar kaget, tidak siap. Tangan yang memegang lilin berhenti di udara.

“Ra.”

“Zara bilang aku harus metik teh.” Suaraku datar. Aku tidak tahu bagaimana suaraku bisa sedatar itu. “Aku nggak suka metik teh.”

Erga meletakkan lilin itu. Pelan. Lalu berdiri tegak.

“Kamu dengar?”

“Semuanya.”

Dia diam. Angin bertiup, dan lampu-lampu bola di dahan cemara berayun, berdenting pelan satu sama lain.

Aku berjalan masuk ke gazebo. Melewati jalur lilin. Berhenti di depan meja kecil berkain putih dengan mawar dan baby breath, dan menatap semuanya. Lampu. Bunga. Lilin. Setiap detail sempurna. Setiap detail dipikirkan. Setiap detail adalah Erga.

“Kamu yang nyiapin ini,” kataku.

“Iya.”

“Semua ini.”

“Iya.”

Aku berbalik menatapnya. Dia berdiri di tepi gazebo, dengan gulungan kabel masih di bahu dan wajah yang sudah kembali tenang. Tenang yang sempurna. Tenang yang kubenci.

“Kamu yang nyiapin ini...” Suaraku pecah di tengah kalimat, dan aku tidak bisa menghentikannya. “...buat aku sama orang lain?”

Erga menatapku.

Dan dia tersenyum.

Kecil. Lembut. Senyum yang kukenal, senyum yang dia berikan waktu mengembalikan laptop Keisha, waktu Faisal menangisi kangkung, waktu Zara mengucapkan terima kasih dengan kata k. Senyum orang yang sudah selesai melakukan tugasnya dengan baik.

“Dia orang baik, Ra,” katanya pelan.

Hanya itu.

Tidak ada penyangkalan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada aku juga, aku nggak mau, aku sedih. Hanya senyum itu, dan empat kata, dan lampu-lampu yang berayun di belakangnya.

“Kamu nggak keberatan?” bisikku.

“Aku mau kamu bahagia.”

Aku menatapnya lama sekali. Aku mencari sesuatu di wajahnya. Retakan. Celah. Apa saja. Seperti sepuluh tahun aku mencarinya.

Aku tidak menemukan apa pun.

“Oke,” kataku.

Aku berjalan keluar dari gazebo. Melewati jalur lilin yang dia susun. Melewati cemara. Kembali ke vila.

Dia tidak memanggilku.


Aku menangis di kamar mandi vila selama dua puluh menit dengan keran menyala supaya tidak ada yang dengar.

Lalu aku mencuci muka, memakai riasan tipis untuk menutupi mata yang bengkak, dan memutuskan sesuatu.

Aku akan pergi ke gazebo malam ini. Karena Putra sahabatku. Karena dia sudah menyimpan perasaan itu selama sepuluh tahun, sama seperti aku menyimpan perasaanku, dan dia pantas mendengar jawaban dengan baik dan lembut, bukan dari kabar orang lain.

Aku akan bilang tidak. Dengan baik. Dengan lembut.

Lalu aku akan pulang ke Jakarta dan mencoba berhenti mencintai laki-laki yang menggantung lampu untuk lamaranku dengan orang lain.

Zara dan Keisha kembali dari kebun teh jam empat. Keisha membawa sekantong daun teh yang dia petik sendiri dan bilang mau dia keringkan dan seduh, padahal Faisal sudah memberitahunya bahwa itu tidak bekerja seperti itu.

Zara menatapku sekali dan wajahnya berubah. Dia tahu. Dia tidak bertanya. Tapi dia duduk di sebelahku di sofa dan tidak pergi sampai jam makan malam.


Jam sembilan kurang sepuluh, Zara berdiri.

“Ra. Kei. Ayo ke gazebo. Liat bintang.”

“Bintang?” Keisha mengangkat kepala dari HP. “Kan kabut.”

“Kabutnya udah turun ke lembah. Langit di atas cerah.” Zara mengulurkan dua tangan. “Ayo.”

Keisha langsung berdiri. Aku berdiri lebih pelan.

Kami berjalan bertiga melintasi halaman yang gelap. Di vila di belakang kami, semua lampu mati. Putra, Faisal, dan Erga tidak terlihat di mana-mana. Keisha bertanya ke mana mereka, dan Zara bilang mereka “tidur duluan”. Keisha percaya. Keisha selalu percaya.

Lalu kami sampai di ujung kebun, dan gazebo itu menyala.

Keisha berhenti. Napasnya tertahan.

Lampu tumblr kuning hangat, ribuan titik cahaya, melingkari gazebo seperti mahkota. Lilin-lilin LED di jalur kayu berkedip pelan, bergoyang seperti api sungguhan. Lampu-lampu bola di dahan cemara bersinar seperti bulan-bulan kecil. Di latar belakang, lembah yang tertutup kabut berpendar samar oleh lampu kota di kejauhan. Dan dari speaker kecil yang tersembunyi di suatu tempat, terdengar lagu balada lama, lagu yang Putra nyanyikan di karaoke semalam.

“Ya ampun,” bisik Keisha. “Ini apa? Ini buat siapa?”

Aku tidak menjawab. Aku menatap gazebo yang dibangun oleh tangan laki-laki yang kucintai, dan rasanya seperti menatap rumah yang terbakar.

Putra muncul dari balik gazebo.

Kemeja putih, lengan digulung, celana hitam. Rambutnya disisir rapi. Wajahnya pucat di bawah cahaya lampu, tapi matanya bersinar. Dia berjalan menyusuri jalur lilin, pelan, langkah demi langkah, dengan satu tangan di saku.

Aku menarik napas panjang. Menyiapkan kalimat di kepalaku. Put. Maaf. Kamu sahabatku. Kamu orang baik. Tapi aku nggak bisa.

Putra berhenti di depan kami.

Dia menatapku sebentar. Tersenyum, gugup, seperti meminta restu.

Lalu dia berbalik ke kanan.

Dan berlutut di depan Keisha.


Waktu berhenti.

Aku berdiri di sana, dengan kalimat penolakan masih menggantung di lidahku, menatap Putra yang berlutut di depan Keisha, membuka kotak beludru biru tua dengan tangan gemetar.

“Keisha Ayudia,” kata Putra. Suaranya bergetar. “Sejak hari pertama Ospek, waktu kamu nangis di lapangan pakai satu sepatu, aku—”

Keisha tidak mendengar sisanya.

Keisha pingsan.

Tidak dramatis. Tidak berteriak. Matanya cuma berputar ke atas, lututnya lemas, dan seluruh tubuhnya jatuh ke belakang seperti pohon yang ditebang.

Dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai kayu, sebelum Putra yang masih berlutut dengan cincin di tangan sempat bereaksi, sebelum Zara sempat bergerak, seseorang sudah ada di sana.

Erga.

Aku tidak melihatnya keluar dari balik cemara. Satu detik dia tidak ada, detik berikutnya dia sudah menangkap Keisha di bawah ketiak, menahannya, menurunkannya pelan ke lantai gazebo dengan kepala di pangkuannya.

“Kei,” katanya, menepuk pipi Keisha pelan. “Kei. Bangun.”

Dari balik tenda barbeque, Faisal muncul sambil berteriak: “DIA MATI? DIA MATI?”

“Dia pingsan, Sal,” kata Zara.

“KENAPA DIA PINGSAN?”

“Karena dilamar.”

“ORANG DILAMAR NGGAK PINGSAN!”

“Keisha pingsan.”

Putra masih berlutut, cincin di tangan, wajah putih seperti kertas. “Gue... dia... apa gue salah ngomong?”

“Lo belum selesai ngomong,” kata Zara.

Keisha mengerjap di pangkuan Erga. Matanya terbuka. Menatap langit-langit gazebo yang dipenuhi lampu. Lalu menoleh ke Putra yang masih berlutut dengan cincin.

“Put?” bisiknya.

“Kei.” Putra bergeser, masih berlutut, sekarang di samping kepala Keisha. “Kei, gue mau—”

“Itu cincin?”

“Iya.”

“Buat aku?”

“Iya.”

Keisha menatap cincin itu. Lalu menatap Putra.

Lalu pingsan lagi.

Faisal berteriak. Zara menutupi wajahnya dengan dua tangan. Putra menjatuhkan diri dari berlutut menjadi duduk di lantai, bersandar ke tiang gazebo, dan tertawa histeris seperti orang yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Dan aku?

Aku berdiri di tengah semua itu. Di jalur lilin yang disusun Erga, di bawah lampu yang digantung Erga, di depan lamaran yang bukan untukku.

Bukan untukku.

Aku mulai tertawa. Lalu menangis. Lalu tertawa lagi. Tidak bisa berhenti, tidak bisa menentukan yang mana. Air mata turun di pipiku dan perutku sakit karena tertawa dan aku tidak bisa bernapas.

Zara memegang lenganku. “Ra?”

“Bukan aku,” bisikku di antara tawa dan tangis. “Zar, bukan aku.”

“Gue tahu.”

“Kamu tahu?”

“Gue baru tahu barusan. Sama kayak lo.” Zara menggenggam lenganku lebih erat. “Ra. Liat.”

Aku mengikuti arah pandangnya.

Erga masih duduk di lantai gazebo dengan kepala Keisha di pangkuannya, menepuk pipinya pelan. Putra di sebelahnya, tertawa dan menangis. Faisal berlutut di sisi lain, mengipasi Keisha dengan topi caping.

Tapi Erga tidak menatap Keisha.

Erga menatapku.

Wajahnya, wajah tenang sempurna yang kubenci tadi siang, sudah tidak tenang lagi. Ada sesuatu yang bergerak di sana. Pelan-pelan. Seperti orang yang baru membaca ulang kalimat yang selama ini dia baca salah, dan sekarang, setelah sepuluh tahun, akhirnya membaca dengan benar.

Matanya bergerak dari wajahku yang basah, ke tanganku yang gemetar, ke jalur lilin di bawah kakiku. Lalu kembali ke wajahku.

Kamu yang nyiapin ini... buat aku sama orang lain?

Aku melihat dia mengingat kalimat itu. Aku melihat dia mendengarnya ulang di kepalanya, pelan, kata demi kata.

Sama orang lain.

Bukan buat aku sama Putra. Bukan buat Putra. Sama orang lain.

Orang lain selain dia.

Erga tidak memalingkan wajah. Aku juga tidak.

Di antara kami, Keisha mengerjap lagi di pangkuannya, bangun untuk ketiga kalinya, dan kali ini dia tidak pingsan. Dia duduk, menatap Putra, dan berteriak “IYA” sebegitu kerasnya sampai lampu-lampu bola di dahan cemara bergoyang.

Semua orang bersorak.

Kecuali dua orang, yang masih saling menatap di bawah lampu-lampu yang terlalu indah untuk lamaran yang salah alamat.