Chapter Four
Gugus Tujuh
POV: Erga
Orang sering bertanya kenapa nama grup kami Gugus Tujuh kalau anggotanya cuma enam.
Jawabannya membosankan: kami gugus nomor tujuh di Ospek fakultas. Ada dua puluh gugus waktu itu, masing-masing tiga puluh lima orang. Gugus tujuh punya tiga puluh lima mahasiswa baru, dua senior pendamping, dan satu bendera hijau tua yang dijahit tangan oleh entah siapa.
Dari tiga puluh lima orang itu, enam yang tidak pernah bubar.
Aku tidak bisa menjelaskan kenapa harus enam orang itu. Tidak ada momen dramatis. Tidak ada janji darah atau sumpah di bawah pohon beringin. Kami cuma terus duduk berdekatan, hari demi hari, sampai suatu hari sadar bahwa kami selalu duduk berdekatan.
Tapi kalau harus memilih satu momen, aku akan memilih minggu ketiga kuliah.
Minggu ketiga kuliah, mereka datang. Itu yang selalu kuingat.
Selebihnya, mungkin nanti.
Hari pertama Ospek, aku datang paling pagi. Jam lima seperempat, lapangan masih gelap, rumput masih basah, dan cuma ada aku, dua satpam, dan seekor kucing oranye yang tidur di atas spanduk.
Mahasiswa baru berikutnya datang jam lima empat puluh. Laki-laki gemuk dengan ransel yang terlalu penuh. Dia melihatku, melihat kucing, lalu duduk di sebelahku dan membuka ranselnya.
Isinya makanan. Seluruhnya. Roti, keripik, kacang, dua kotak nasi, tiga botol teh manis, dan sebungkus besar permen jahe.
“Mau?” tanyanya, menyodorkan kacang.
“Itu semua buat kamu?”
“Buat jaga-jaga. Gue denger Ospek suka nggak dikasih makan.” Dia membuka keripik. “Faisal. Dari Garut.”
“Erga. Dari Depok.”
“Depok mana?”
“Beji.”
“Oh. Gue nggak tahu Beji di mana.” Dia mengunyah dengan tenang. “Tapi kedengerannya bagus.”
Kucing oranye bangun, menatap keripik Faisal, lalu pindah ke pangkuannya. Faisal memberinya kacang. Kucing itu tidak makan kacang, tapi tetap duduk di sana sampai matahari terbit.
Itu Faisal. Sepuluh tahun kemudian, dia masih membawa terlalu banyak makanan untuk jaga-jaga, dan semua makhluk hidup masih betah duduk di dekatnya.
Keisha datang jam enam dengan satu sepatu.
Sepatu yang satunya tertinggal di angkot. Dia sadar waktu turun, angkotnya sudah jalan, dan dia mengejar sambil berteriak sampai pertigaan sebelum menyerah. Dia sampai di lapangan dengan satu kaki bersepatu pantofel hitam dan satu kaki berkaus kaki putih yang sudah cokelat, sambil menangis.
“Gimana ini,” isaknya ke siapa saja yang mau mendengar. “Senior bakal marah. Aku bakal dihukum. Aku bakal di-DO.”
“Nggak bakal di-DO,” kata Faisal, menawarinya permen jahe.
Aku melepas sepatuku dan memberikannya padanya.
Keisha menatap sepatu itu. Ukuran empat puluh dua. Kakinya mungkin tiga puluh enam.
“Ini kegedean.”
“Isi pakai kaus kaki,” kataku, lalu melepas kaus kakiku sendiri dan memberikannya juga. “Dobel.”
“Terus kamu?”
“Aku bilang ke senior sepatuku jebol.”
Aku dihukum push-up dua puluh kali karena “tidak menghargai peraturan berpakaian”. Keisha berjalan seharian dengan sepatu pantofel kebesaran yang berbunyi plok-plok tiap langkah, dan dia menangis lagi waktu mengembalikannya sore harinya, kali ini karena terharu.
Keisha sejak umur delapan belas sampai dua puluh delapan: masih menangis untuk segala hal, masih tidak pernah backup, dan masih memakai sepatu yang terlalu besar untuk hatinya.
Putra datang jam enam lewat sepuluh, dan semua perempuan di lapangan menoleh. Semua laki-laki juga, sebenarnya, tapi dengan alasan berbeda. Dia tinggi, tampan, dan tampak seperti orang yang sudah tahu jawabannya bahkan sebelum soalnya diberikan. Anak dokter, cucu dokter, dan sudah diterima di kedokteran tahun berikutnya. Dia cuma kuliah di fakultas kami setahun sebagai “persiapan”, kata ayahnya.
Dia berdiri di barisan gugus tujuh dengan tangan di saku dan wajah bosan. Tiga mahasiswi gugus lain berpindah barisan diam-diam untuk berdiri di belakangnya.
Aku pikir dia akan menjadi orang yang paling jauh dari kami.
Lalu siang harinya, waktu senior menghukum Faisal karena makan di barisan, Putra yang pertama kali maju. “Kak, saya yang kasih dia roti. Hukum saya aja.” Senior menghukum mereka berdua. Mereka push-up berdampingan. Putra kalah di hitungan ke-tiga puluh. Faisal masih kuat sampai empat puluh.
“Kok lo kuat?” tanya Putra, terengah di rumput.
“Gue sering ngangkat karung beras di toko bapak gue.”
“Gue sering ngangkat buku.”
“Ya itu masalah lo.”
Putra tertawa. Tawa pertama yang kudengar darinya. Dan sejak itu, dia tidak pernah lagi berdiri jauh dari kami.
Putra pindah ke kedokteran setahun kemudian, di kampus yang sama tapi gedung yang berbeda. Dia tetap datang ke setiap pertemuan Gugus Tujuh, bahkan saat koas yang membuatnya tidur cuma tiga jam sehari.
Zara datang tepat jam enam lima belas, waktu terakhir sebelum barisan ditutup. Dia memakai kemeja putih yang lengannya digulung, celana hitam, dan sepatu kets putih yang bertentangan dengan aturan. Rambutnya pendek sekali waktu itu, hampir seperti laki-laki.
Senior menegurnya soal sepatu. Zara menatap senior itu.
Senior itu, entah bagaimana, tidak jadi menghukumnya.
Zara berdiri di barisan kami, diam sepanjang hari, tidak berkenalan dengan siapa pun. Waktu istirahat, dia duduk sendirian di bawah pohon dan membaca buku tentang struktur jembatan.
Hari ketiga, Faisal duduk di sebelahnya dan menawarinya permen jahe.
Zara menatap permen itu, lalu menatap Faisal.
“Lo siapa?”
“Faisal.”
“Gue nggak suka permen jahe.”
“Oke.” Faisal memasukkan permen itu kembali ke saku. Lalu mengeluarkan kacang. “Ini?”
“Nggak.”
Keripik. “Ini?”
“Nggak.”
Roti sobek. “Ini?”
Zara diam sebentar. “...Rasa apa?”
“Cokelat.”
Zara mengambil rotinya. Faisal tersenyum seperti baru memenangkan lotre. Dan sejak hari itu, Zara selalu duduk di dekat kami, meskipun dia jarang bicara.
Aku tidak tahu apakah Faisal ingat soal roti itu. Aku tahu Zara ingat. Karena sepuluh tahun kemudian, Zara masih selalu menerima apa pun yang Faisal sodorkan, setelah menolaknya tiga kali dulu.
Dan Clara.
Clara datang jam enam lewat dua. Satu menit setelah Putra. Tujuh ratus mahasiswa baru di lapangan itu, dan entah bagaimana, semua orang tahu persis kapan Clara datang.
Aku juga tahu. Aku tidak menoleh, tapi aku tahu.
Lalu hari kedua dia lupa membawa name tag.
Hari kedua, aku memutuskan satu hal, dan aku menyimpannya sampai sekarang.
Itu bukan sesuatu yang perlu dibicarakan.
Sepuluh tahun lalu terasa seperti kemarin, tapi kalau dihitung, banyak sekali yang terjadi.
Tahun pertama, kami berenam sekos di Jalan Cisitu, tiga lantai, kamar sempit, satu kamar mandi untuk dua belas orang. Faisal mulai berjualan nasi goreng di gerobak depan kos waktu tahun kedua, karena uang kiriman dari Garut terlambat tiga bulan. Kami berlima jadi pelanggan tetap, karyawan tidak dibayar, sekaligus tim pemasaran.
Tahun ketiga, Keisha hampir pindah jurusan karena gagal dua mata kuliah statistik. Aku mengajarinya tiap malam selama satu semester, di teras kos, dengan nyamuk dan lampu neon yang berkedip. Dia lulus statistik dengan nilai B. Dia menangis waktu melihat nilainya. Aku tidak kaget.
Tahun keempat, Zara magang di proyek jembatan di Kalimantan, tiga bulan tanpa sinyal. Kami bergantian mengirim surat pos. Surat sungguhan, dengan perangko. Faisal mengirim resep. Keisha mengirim gambar. Putra mengirim artikel jurnal kedokteran yang tidak ada hubungannya dengan apa pun. Clara mengirim foto-foto kami yang dicetak. Aku mengirim jadwal pasang surut sungai tempat proyeknya, karena itu satu-satunya informasi yang kupikir berguna.
Zara pulang dan bilang suratku yang paling dia tunggu. Bukan karena isinya. Karena aku satu-satunya yang mengirim tiap minggu tanpa absen.
Skripsi. Wisuda. Pindah ke Jakarta satu per satu, mencari kerja, mencari kontrakan, mencari diri sendiri.
Grup WhatsApp yang awalnya bernama “Gugus 7 Ospek” berganti nama setiap kali ada yang mengancam bubar. “Gugus 7 Tetap Bersatu” waktu Putra koas. “Gugus 7 Jangan Pada Sombong” waktu Clara naik jabatan pertama kali. “Gugus 7 (Jangan Bubar)” sejak dua tahun lalu, waktu Dapur Isal hampir tutup dan semua orang panik.
Nama itu bertahan. Mungkin karena tidak ada yang mau menggantinya lagi.
Minggu pagi jam setengah enam, Faisal meneleponku.
“Ga.”
“Hm.”
“Motor gue mati.”
“Di mana?”
“Pasar Minggu. Abis belanja buat kedai.” Jeda. “Bawaannya banyak.”
“Seberapa banyak?”
“Dua karung beras, satu karung bawang, telur tiga peti, ayam sepuluh kilo, sama tahu.”
Aku duduk di tempat tidur. Di luar kamar, mesin jahit Ibu sudah berdetak. Ibu selalu bangun jam empat.
“Kirim lokasi.”
Faisal duduk di trotoar depan Pasar Minggu dengan motor bebek tua yang sudah tidak bisa diselamatkan sejak tiga tahun lalu, dikelilingi karung dan peti seperti benteng. Dia makan pisang goreng dari pedagang di sebelahnya.
“Udah coba nyalain?” tanyaku.
“Udah. Dia batuk terus diem.”
Aku memeriksa busi, karburator, dan aki. Businya hitam pekat. Aki-nya mati. Mesinnya seperti paru-paru perokok berat.
“Harus ke bengkel.”
“Bengkel terdekat?”
“Satu kilo.”
Faisal menatap tumpukan belanjaannya. Lalu menatap motornya. Lalu menatapku.
“Mobil kamu?”
“Jazz, Sal. Nggak muat tiga peti telur sama sepuluh kilo ayam sama motor.”
“Terus?”
Aku memuat beras, bawang, dan ayam ke mobil. Telur dan tahu kusisakan di jok belakang mobil, diganjal jaket supaya tidak pecah. Lalu aku berdiri di belakang motor Faisal.
“Kamu naik. Pegang setang. Aku dorong.”
“Gue naik?”
“Biar seimbang.”
“Ga. Badan gue delapan puluh lima kilo.”
“Makanya biar seimbang.”
Jadi aku mendorong motor bebek tua itu sejauh satu kilometer di jalan Pasar Minggu, jam enam pagi, dengan Faisal duduk di atasnya memegang setang dan, entah bagaimana, masih makan pisang goreng.
Seorang bapak di warung kopi memotret kami. Dua anak SD bersepeda menyalip kami dan tertawa. Satu ibu-ibu berteriak dari balkon rumahnya, “Semangat, Mas!”
“Ga,” kata Faisal di tengah jalan, mulut penuh pisang. “Lo tahu nggak, ini romantis banget.”
“Turun kalau gitu.”
“Nggak. Gue lagi menikmati.”
Bengkel buka jam tujuh. Kami datang jam enam empat puluh, jadi kami duduk di bangku kayu di depan bengkel yang masih tutup, keringat mengucur, motor terparkir di sebelah kami.
Faisal membuka botol teh manis dari kantong belanjaannya dan memberikannya padaku.
“Ga.”
“Hm.”
“Lo sama Clara gimana?”
Aku berhenti minum.
“Gimana apanya?”
“Ya gimana. Kemarin di kondangan dia gandeng tangan lo. Tangan. Bukan lengan. Gue lihat.”
“Dia lagi kesel sama Dion.”
“Terus pegangan tangan sama lo?”
“Sal.”
“Gue cuma nanya.”
Aku menatap jalan. Penjual bubur ayam mulai mendorong gerobaknya lewat.
“Clara sama Putra,” kataku.
Faisal tertawa. Keras sekali, sampai penjual bubur menoleh.
“Siapa bilang?”
“Satu Jakarta.”
“Satu Jakarta goblok.” Faisal menggeleng, masih tertawa. “Ga. Lo pinter banget soal laptop, soal mesin, soal apa aja. Tapi kadang lo bego juga.”
“Makasih.”
“Gue serius.”
Aku tidak menjawab. Faisal menatapku sebentar, lalu menghela napas dan tidak melanjutkan. Itu kelebihan Faisal. Dia tahu kapan harus berhenti mendorong. Mungkin karena dia sendiri punya hal-hal yang tidak mau didorong.
HP-ku bergetar. Video call. Clara.
Aku mengangkatnya. Wajah Clara muncul di layar, rambut dikuncir tinggi, tanpa riasan, dengan kaus olahraga abu-abu. Dia di dalam mobil.
“Ga, kamu di mana? Aku ke rumahmu, Ibu bilang kamu udah pergi dari subuh.”
Kenapa dia ke rumahku jam enam pagi hari Minggu, itu pertanyaan untuk nanti.
“Pasar Minggu. Motor Faisal mogok.”
“Kamu dorong?”
“Iya.”
“Satu kilo,” tambah Faisal, mencondongkan wajah ke kamera. “Gue di atasnya.”
Clara menatap layar. Menatap wajahku yang basah keringat. Menatap kausku yang menempel di dada.
Dia diam terlalu lama.
“Ra?”
“Kirim lokasi,” katanya. Suaranya sedikit berbeda. “Aku bawain sarapan.”
Clara datang dua puluh menit kemudian dengan tiga porsi bubur ayam dari tempat langganan dekat apartemennya, dua gelas kopi, dan sekotak tisu.
Dia turun dari mobil dengan legging hitam, kaus abu-abu, sepatu lari putih, dan kunciran tinggi yang bergoyang tiap kali dia melangkah. Tanpa riasan sama sekali. Tukang bengkel yang baru membuka rolling door berhenti di tengah gerakan, seperti lupa sedang mengangkat apa.
“Sarapan,” kata Clara, meletakkan bubur di bangku. “Satu buat Faisal, satu buat kamu, satu buat aku.”
“Kamu belum sarapan?”
“Belum. Aku mau sarapan bareng.”
Dia duduk di sebelahku. Lalu tanpa bertanya, dia menarik selembar tisu dari kotaknya, dan menyeka keringat di dahiku.
Aku diam.
Tisu itu turun ke pelipis. Ke pipi. Ke leher. Clara melakukannya dengan pelan, teliti, seperti sedang membersihkan sesuatu yang berharga. Wajahnya serius. Bibirnya sedikit terkatup.
“Kamu keringetan banget,” gumamnya.
“Habis dorong motor.”
“Aku tahu.” Tisu itu berhenti di leherku, di dekat jakun. Clara menatapnya sebentar. Lalu menarik tisu baru. “Diem.”
Aku diam.
Faisal, di sisi lain bangku, mengangkat tangannya. “Ra. Gue juga keringetan.”
Clara, tanpa menoleh, menyerahkan kotak tisu itu ke Faisal. Seluruhnya.
Faisal menatap kotak tisu di tangannya. Lalu menatapku. Lalu menatap Clara yang masih mengelap leherku dengan sangat teliti.
“Oke,” kata Faisal pelan, ke dirinya sendiri. “Satu Jakarta goblok.”
Motor Faisal butuh busi baru, aki baru, dan karburator yang dibersihkan. Biayanya empat ratus ribu. Faisal mengeluarkan dompet. Aku sudah membayar sebelum dia membukanya.
“Ga—”
“Bayar pakai makan malam Jumat.”
“Lo udah makan gratis tiap Jumat.”
“Bayar pakai makan malam Jumat yang nggak kamu ambil setengahnya.”
Faisal berpikir keras. “...Itu mahal, Ga.”
Clara tertawa sampai buburnya hampir tumpah.
Kami mengantar belanjaan Faisal ke kedai, menurunkannya, dan menata semuanya di dapur sebelum jam sembilan. Clara ikut menata telur. Dia memecahkan dua. Faisal pura-pura menangis.
Sebelum pulang, Clara berdiri di samping mobilnya dan memanggilku.
“Ga. Nanti siang padel, jangan telat. Jam dua, BSD.”
“Aku belum bilang ikut.”
“Kamu selalu ikut.”
“Hari ini aku capek.”
“Kamu dorong motor satu kilo dan masih bisa nyetir. Kamu nggak capek.” Dia membuka pintu mobil, lalu berhenti. “Lagian aku udah pesen lapangan atas nama kamu.”
“Kenapa atas namaku?”
“Biar kamu nggak bisa nggak dateng.”
Dia masuk ke mobil dan pergi sebelum aku sempat membalas.
Aku berdiri di depan Dapur Isal, dengan kaus basah keringat dan bau bubur ayam, dan menyadari dua hal.
Pertama, Clara datang ke rumahku jam enam pagi hari Minggu, dan aku masih belum tahu kenapa.
Kedua, aku tidak bertanya.
Dan itu, mungkin, adalah hal yang paling perlu kutanyakan pada diriku sendiri.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh reading
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja