← Biar Aku Aja

Chapter Forty One

Epilog: Biar Kita Aja

POV: Erga


Tante Mira menghitung kursi tamu tujuh kali.

Aku tahu karena aku melihatnya dari jendela kamar di lantai dua rumah Menteng, jam enam pagi di hari pernikahan, dengan beskap lurik cokelat tua yang belum dikancingkan dan Putra yang berusaha mengikat blangkon di kepalaku dengan tangan gemetar.

“Diem, Ga.”

“Aku diem.”

“Kepala lo gerak-gerak.”

“Kamu yang tangannya gemetar, Put.”

“Gue gemetar karena gue terharu.” Putra menarik simpul blangkon terlalu keras. Aku meringis. “Dua bulan lalu lo yang ngiket dasi gue di nikahan gue. Sekarang gue yang ngiket blangkon lo. Ini lingkaran kehidupan.”

“Ini blangkon, Put. Bukan lingkaran kehidupan.”

“Semua hal itu lingkaran kehidupan.” Putra mundur selangkah, menatap hasil kerjanya. Blangkon itu miring sedikit ke kiri. “Oke. Sempurna.”

“Miring.”

“Sempurna yang miring.”

Di bawah, di halaman rumput yang seluas lapangan futsal, Tante Mira berjalan di antara deretan kursi putih dengan papan klip di tangan, menghitung untuk kedelapan kalinya. Tenda putih besar sudah berdiri sejak semalam. Zara yang mengawasi pemasangannya, dengan helm proyek dan pengukur laser, menolak tiga tiang yang menurutnya “miring dua derajat”. Bunga-bunga putih dan hijau sage di setiap meja. Lampu tumblr kuning hangat menjuntai dari tiang-tiang tenda.

Lampu tumblr yang sama. Sisa gazebo Puncak, yang dipakai di ulang tahun kelima Dapur Isal, dan sekarang di sini.

Faisal bilang lampu itu “sudah jadi pusaka”.


Akad nikah jam delapan pagi, di ruang tamu rumah Menteng yang dua belas pilar putihnya dililit bunga melati.

Aku duduk di depan penghulu dengan beskap lurik yang Ibu jahit selama delapan bulan, kain lurik dari Solo yang dia beli tahun lalu “buat nanti”. Di sebelahku, Pak Hendra, dengan jas hitam dan kacamata emas dan wajah yang sangat serius.

Di belakangku, Gugus Tujuh.

Faisal duduk di barisan depan dengan sapu tangan yang sudah basah sejak jam tujuh. Zara di sebelahnya, menggenggam tangannya. Putra dan Keisha di sebelah mereka. Keisha memegang tisu, Putra memegang Keisha.

Ibu duduk di kursi khusus di sebelah Bu Lena. Kebaya cokelat sederhana yang dia jahit sendiri. Kacamata di ujung hidung. Tangan di pangkuan, menggenggam sesuatu. Foto Bapak. Kecil, seukuran dompet, seragam biru tua dan helm kuning.

Lalu Clara datang.

Dia turun dari tangga, dituntun Bu Lena dan Tante Mira. Kebaya putih dengan bordir halus, kain batik sido mukti, sanggul dengan ronce melati yang menjuntai sampai bahu. Wajahnya, yang sudah kutatap diam-diam dari kursi paling ujung selama sepuluh tahun, sekarang dirias dengan cara yang membuat seluruh ruangan berhenti bernapas.

Sepersekian detik. Seperti radio yang sinyalnya hilang.

Selalu begitu, kalau Clara masuk ke sebuah ruangan.

Dia duduk di sebelahku. Di bawah kain putih yang dibentangkan di atas kepala kami berdua. Dia menoleh sedikit. Menatapku.

“Blangkon kamu miring,” bisiknya.

“Putra.”

“Kelihatan.”

“Sempurna yang miring, katanya.”

Dia menahan tawa. Bahunya bergetar di bawah kebaya putih.

Pak Hendra menjabat tanganku. Erat. Tangan yang dulu terkulai di lantai marmer.

Penghulu membacakan. Pak Hendra mengucapkan ijab, suaranya bergetar di tengah dan dia harus berhenti sebentar dan menarik napas.

Lalu giliranku.

Aku tidak gemetar. Aku sudah memutuskan untuk tidak gemetar. Aku sudah berlatih kalimat ini di kamar dua kali tiga meter selama seminggu, di depan boneka kucing raksasa Keisha.

Tapi waktu aku membuka mulut, aku mendengar sesuatu dari kursi di sebelah Bu Lena. Ibu. Menahan isak. Dengan foto Bapak di tangan.

Dan suaraku bergetar.

Aku tetap mengucapkannya. Satu tarikan napas. Jelas. Lengkap.

“Sah?”

“SAH!”

Teriakan paling keras datang dari barisan depan. Faisal. Dengan sapu tangan basah diangkat tinggi seperti bendera.


Resepsi di halaman, siang hari.

Clara berganti kebaya. Kebaya hijau sage. Bahan brokat tipis dengan motif bunga-bunga kecil, kerah sanghai, lengan panjang. Kebaya yang Ibu jahit “buat nanti”, yang diukur ulang di ruang tamu kontrakan sambil aku menatap cat dinding.

Ibu menangis waktu Clara keluar memakainya.

Kami duduk di pelaminan di bawah tenda putih. Kursi rotan berukir dengan bantal hijau sage. Di tengah.

Aku duduk di tengah.

Dan di sekelilingku, semua orang bergerak.

Faisal mondar-mandir di antara meja prasmanan dan dapur katering, dengan celemek merah legendaris di atas batik. Dia bersikeras memasak sendiri tiga menu: nasi goreng kampung, arsik ikan mas resep Zara, dan sambal bawang “yang kayak cinta”. Katering profesional yang disewa Tante Mira mengurus sisanya, dan sudah menyerah mencoba mengusir Faisal dari dapur mereka.

Zara berdiri di samping tenda dengan HP di tangan, mengoordinasi parkir, mengawasi tiang tenda, memastikan generator listrik tidak kelebihan beban. Dia memakai kebaya biru tua, rambutnya disanggul, dan wajahnya datar sempurna kecuali setiap kali Faisal lewat. Lalu ujung bibirnya naik.

Putra mengurus tamu-tamu yang datang. Mengarahkan ke meja, ke prasmanan, ke antrean salaman. Dengan jas abu-abu, senyum iklan pasta gigi, dan cincin kawin baru di jari manisnya.

Keisha menangis di sudut. Lalu berhenti menangis, mengurus anak-anak tamu yang berlarian di rumput, mengajari mereka lagu anak-anak lengkap dengan gerakan tangan. Lalu menangis lagi.

Pak Darmo membukakan gerbang untuk setiap tamu tanpa memeriksa daftar.

Dan aku duduk.

Di tengah.

Tidak ada sambal yang harus kuambil. Tidak ada pintu yang harus kubuka. Tidak ada telepon yang membutuhkanku untuk keluar dan menjemput seseorang.

Rasanya aneh. Rasanya sempit. Rasanya seperti kursi tengah di Dapur Isal, pertama kali.

Clara meraih tanganku di atas pangkuannya.

“Kamu gelisah,” bisiknya.

“Nggak.”

“Kaki kamu goyang.”

“Aku pengin berdiri.”

“Ngapain?”

“Bantuin Faisal. Antreannya panjang.”

Clara menatapku. Lalu menatap Faisal, yang sedang menyendok nasi goreng ke piring tamu dengan kecepatan luar biasa, tertawa, menangis, dan berteriak ke kokinya sekaligus.

“Dia nggak butuh dibantu,” kata Clara. “Dia lagi bahagia.”

“Iya.”

“Kamu juga boleh bahagia, Ga.” Dia meremas tanganku. “Duduk aja. Biarin mereka.”

Aku menatap tangannya. Cincin emas Bapak di jari manisnya. Sedikit tergores. Sederhana. Tanpa batu.

Aku berhenti menggoyangkan kaki.


Antrean salaman panjang. Teman kantor Clara. Teman kantorku. Bayu, yang menangis lebih keras dari Keisha dan memelukku seperti aku saudaranya yang hilang. Mbak Rini, resepsionis, yang membawa ikan koi dalam plastik sebagai kado “biar akuariumnya rame”. Pak Gunawan, yang menjabat tanganku dan bilang, “Cutinya saya tambah dua hari.”

Pak Teddy, bos Clara, membawa kado sangat besar yang ternyata kulkas dua pintu. “Karena masnya nggak mau dibayar royalti,” katanya, menatapku dengan alis terangkat. “Jadi saya bayar pakai kulkas. Kampanye Q4 kita naik penjualan empat puluh persen.”

Lalu, di antrean, seorang perempuan dengan kebaya batik. Wajah yang kukenal samar-samar.

Rina. Dari kondangan Gilang. Yang pertama kali bilang temennya aja.

Dia menyalami Clara. Memeluknya. “Clara Halim. Ya ampun. Kamu cantik banget.”

“Makasih, Rin.”

Lalu dia menoleh padaku. Menatapku lama. Dari blangkon yang miring sampai beskap lurik.

“Erga,” katanya. Kali ini dia ingat namaku. “Yang di kondangan Gilang.”

“Iya.”

Rina menatapku. Lalu menatap Clara. Lalu menatap tangan kami yang bertaut, cincin emas di jari Clara.

“Bukan temennya aja ya,” katanya pelan, dengan senyum malu, “ternyata.”

“Bukan,” kata Clara, sebelum aku sempat menjawab.


Jam tiga sore, MC naik ke panggung kecil di ujung tenda.

MC itu profesional, pilihan Tante Mira, dengan suara bariton dan jas merah marun. Dia sudah membacakan susunan acara, memanggil keluarga untuk foto, mempersilakan tamu menikmati hidangan. Semua rapi. Semua sesuai rundown.

Lalu dia membuka kertas terakhir di tangannya. Membacanya sebentar. Lalu tersenyum, ke arah Gugus Tujuh yang berkumpul di meja paling depan.

“Bapak, Ibu, hadirin sekalian,” katanya. “Sebelum acara potong tumpeng, saya diminta membacakan satu pesan dari sahabat-sahabat mempelai. Lima orang. Gugus Tujuh, katanya.”

Aku menoleh ke meja depan. Faisal sudah menangis. Zara menatap MC dengan wajah datar. Putra tersenyum lebar. Keisha menutup mulut dengan dua tangan.

“Pesannya begini,” kata MC, membaca dari kertas. “Selamat untuk Clara Anindya Halim, perempuan yang dikejar semua orang tapi cuma ngejar satu.”

Tamu-tamu tertawa. Clara menunduk, wajahnya merah.

“Dan untuk Erga Pramana,” lanjut MC, suaranya melambat, “suami yang dulu, kata orang-orang, cuma temennya aja.”

Hening di bawah tenda.

“Dia bukan temennya aja,” baca MC. “Dia yang selalu dateng duluan. Dia yang nyiapin gazebo buat lamaran sahabatnya. Dia yang nangkep orang pingsan. Dia yang nekan dada ayah mertuanya empat menit. Dia yang ngasih tabungan rumahnya buat kedai sahabatnya dan nggak pernah bilang. Dia yang sepuluh tahun duduk di kursi paling ujung, biar bisa berdiri ambil sambal buat kami.”

MC berhenti. Dia menatap kertas itu. Suaranya sedikit bergetar sekarang. Mungkin karena dia profesional yang baik. Mungkin karena dia juga manusia.

“Mulai hari ini, dia duduk di tengah,” baca MC. “Dan kami yang ambil sambal.”


Lalu kado.

Kado dari Gugus Tujuh dibawa ke pelaminan oleh Faisal dan Zara berdua. Kotak besar, dibungkus kertas cokelat polos, diikat tali rami. Persis seperti kado yang kubawa ke ulang tahun Pak Hendra.

“Buka,” kata Faisal. Matanya merah.

Aku membuka tali rami. Kertas cokelat. Kotak.

Di dalamnya, kotak P3K.

Baru. Merah, dengan palang putih di tutupnya. Lebih besar dari punyaku di bagasi Jazz. Lebih lengkap. Ada termometer digital, oksimeter, kantong es instan, perban elastis, gunting, antiseptik, kasa. Dan tiga kotak plester.

Plester dinosaurus.

Di tutup kotak, bagian dalam, ditempel sticky note kuning. Lima tulisan tangan yang berbeda.

Tulisan Faisal yang miring dan berantakan: BUAT LO.

Tulisan Keisha yang bulat dengan gambar hati: jangan dibuka buat orang lain dulu ya 😭

Tulisan Putra yang seperti resep dokter: Sudah gue cek. Lengkap. Termasuk plester yang lo suka.

Tulisan Zara yang tegak dan rapi seperti gambar teknik: Rak penyimpanan di dapur baru udah gue ukur. Muat.

Dan di paling bawah, tulisan Clara. Huruf kecil yang miring ke kanan, yang sepuluh tahun kulihat di kartu ulang tahun dan sticky note bekal dan pesan di kotak martabak:

Sekarang giliran kami.

Aku menatap kotak P3K itu lama.

Lalu aku menutupnya. Pelan. Dan memeluknya di pangkuanku.

Faisal menangis. Zara menggenggam tangannya. Dan untuk pertama kalinya, aku membiarkan diriku menangis di depan orang lain, di pelaminan, di tengah, dengan kotak P3K di pangkuan dan Clara di sebelahku, dan tidak ada yang perlu kuambil atau kubuka atau kujemput.


Malam itu, kami pulang ke rumah.

Bukan rumah sendiri. Belum. Rumah kontrakan. Tipe Teduh, di perumahan kecil di Depok, sepuluh menit dari stasiun dan lima menit dari kontrakan Ibu. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, taman belakang kecil yang sudah Ibu tanami cabai.

Dan jendela.

Jendela besar di ruang tengah. Dari lantai sampai langit-langit. Kaca bening dengan bingkai kayu tipis.

Kami mengontraknya tiga bulan lalu. Clara yang menemukannya. Kebetulan, katanya. Dia tidak bilang bahwa dia menelepon Mbak Sinta dari pameran properti JCC, yang ternyata punya kenalan di pengembang yang sama, yang punya unit sewa. Aku tahu dari Zara. Zara tahu semua hal.

Empat puluh tiga koma delapan juta di tabunganku sekarang sudah jadi enam puluh satu juta. Tiga puluh persen Dapur Isal ternyata berarti sesuatu. Cabang Bogor buka bulan lalu. Faisal bilang dalam dua tahun, angka itu bisa jadi DP.

Dua tahun.

Aku tidak menghitungnya lagi. Clara yang menghitung sekarang. Dengan spreadsheet warna-warni yang Zara ajarkan. Dan setiap kali dia menunjukkannya padaku, aku cuma mengangguk dan bilang oke.

Itu cara baru yang sedang kupelajari. Membiarkan orang lain menghitung.


Pintu kamar kontrakan Teduh. Jam sepuluh malam.

Clara berdiri di ambang pintu dengan kebaya hijau sage yang sudah sedikit kusut dan sanggul yang mulai longgar. Melati di rambutnya sudah layu. Kakinya telanjang di lantai keramik yang dingin.

Aku berdiri di dalam kamar. Beskap sudah kulepas. Blangkon yang miring sudah tergeletak di meja. Kemeja putih. Lengan digulung.

Dia menatapku dari ambang pintu.

Lama.

Lalu dia tersenyum. Senyum yang kukenal sepuluh tahun. Senyum yang membuat seluruh wajahnya menyala.

“Ga,” bisiknya.

“Hm.”

“Sekarang udah boleh?”

Aku menatapnya. Perempuan yang berdiri di barisan gugus tujuh dengan dada kosong dan tangan gemetar. Yang menyimpan name tag-ku sepuluh tahun. Yang datang ke makam Bapak jam lima pagi. Yang menungguku berhenti berlari.

Aku berjalan ke pintu. Meraih tangannya. Menariknya pelan masuk ke kamar.

Lalu aku menutup pintu di belakang kami.

“Udah, Ra,” kataku.


Pagi pertama, jam enam lewat sepuluh.

Aku bangun duluan. Tentu saja. Kebiasaan sepuluh tahun tidak hilang dalam satu malam.

Aku membuat kopi di dapur kecil. Dua cangkir. Kopi tubruk untukku, kopi susu untuk Clara. Aku membawanya ke ruang tengah, duduk di kursi kayu di depan jendela besar, dan menatap taman belakang. Pot-pot cabai Ibu. Rumput yang basah embun. Langit yang berubah dari biru tua ke oranye.

Matahari masuk lewat jendela. Seluruh ruangan menyala keemasan.

Lalu aku mendengar langkah kaki.

Clara berdiri di ambang ruang tengah. Rambut berantakan. Wajah tanpa riasan, mata setengah terpejam. Dan memakai kaus abu-abu milikku. Yang bolong di ketiak.

Dia menatapku. Di depan jendela besar. Dengan kopi di tangan, rambut berantakan, belum mandi.

Dia berhenti di ambang pintu.

Lalu, pelan, dia tersenyum.

“Kayak di bayangan aku,” bisiknya.

Dia berjalan ke arahku. Duduk di pangkuanku. Menyandarkan kepala di bahuku. Mengambil kopi susu dari tanganku. Menyesapnya.

“Enak?” tanyaku.

“Kurang gula.”

“Bohong.”

“Aku nggak pernah bohong,” katanya, dengan senyum di bibir. “Aku cuma nggak mau kamu lihat aku senyum kayak tadi di depan Faisal.”

Aku tertawa.

Kami duduk seperti itu lama. Di depan jendela besar. Dengan kopi dan matahari dan pot-pot cabai Ibu di taman.


Jam delapan, bel pintu berbunyi.

Bukan sekali. Lima kali. Berturut-turut. Dengan irama yang tidak sabar.

Clara mengangkat kepala dari bahuku. “Siapa?”

Aku sudah tahu siapa.

Aku membuka pintu. Gugus Tujuh berdiri di teras.

Faisal dengan dua rantang dan sekantong pisang goreng. Zara dengan kotak perkakas dan pengukur laser. Putra dengan kotak P3K kedua, “cadangan, buat di mobil”. Keisha dengan boneka kucing raksasa lain, “temennya yang di kamar kontrakan lama, biar nggak kesepian”.

“Pagi,” kata Faisal. “Kami dateng bantuin beres-beres.”

“Kalian nggak diundang,” kataku.

“Kami nggak butuh diundang.” Zara melangkah masuk tanpa menunggu. “Lo nggak pernah nunggu diundang waktu dateng ke kami.”

Dalam lima menit, rumah kontrakan Teduh penuh.

Faisal di dapur, memasak sarapan. Zara di ruang tengah, mengukur dinding untuk rak buku, menolak dua lokasi yang menurutnya “nggak simetris”. Putra memasang kotak P3K di dinding dapur, dengan paku dan palu, dan memukul jempolnya sendiri dua kali. Keisha meletakkan boneka kucing raksasa di sudut ruang tengah, lalu menangis karena jendelanya “cantik banget”.

Ibu datang jam delapan lewat tiga puluh, membawa kain gorden yang dia jahit semalam, untuk jendela kamar tidur.

Dan di tengah semua itu, di ruang tengah, ada satu kardus besar. Kardus berisi buku-buku Clara dari apartemen Kuningan. Berat. Mungkin tiga puluh kilo. Yang harus dipindahkan ke rak yang sedang Zara ukur.

Aku membungkuk untuk mengangkatnya. Sendirian. Refleks sepuluh tahun.

“Ga.” Clara sudah berdiri di sebelahku. Tangannya di sisi kardus. “Biar aku—”

“Gue bantu,” kata Faisal, muncul dari dapur dengan spatula.

“Aku juga,” kata Keisha, berhenti menangis.

Putra meletakkan palu. Zara meletakkan pengukur laser.

Mereka semua mengulurkan tangan ke kardus itu. Lima pasang tangan. Di sisi-sisi kardus, di bawahnya, di atasnya.

Aku menatap kardus itu. Menatap tangan-tangan di sekelilingnya. Tangan Faisal yang besar dan bau bawang. Tangan Zara yang kapalan karena proyek. Tangan Putra yang memegang stetoskop setiap hari. Tangan Keisha yang kecil dan masih basah karena air mata. Tangan Clara, dengan cincin emas Bapak di jari manisnya.

Lalu aku menatap tanganku sendiri.

Tangan yang sepuluh tahun tidak pernah meminta.

Aku tidak melepaskan kardus itu. Tapi aku juga tidak mengangkatnya sendiri. Aku menunggu. Sampai semua tangan di posisinya.

Lalu aku mengucapkan kalimat yang baru.

Kalimat yang tidak pernah kuucapkan selama sepuluh tahun di kursi paling ujung. Kalimat yang kupelajari di makam Bapak, di teras rumah Ibu, di lapangan rektorat jam enam pagi.

“Biar kita aja.”