← Biar Aku Aja

Chapter Twenty Two

Turun Gunung, Naik Status

POV: Erga


Perjalanan turun dari Pondok Saladah ke Camp David memakan waktu dua jam.

Sepanjang dua jam itu, Clara tidak melepaskan tanganku.

Di jalur berbatu, aku mengerti. Di tanjakan berdebu, aku mengerti. Di hutan mati dengan akar-akar yang menjulur ke jalur, aku mengerti.

Lalu kami sampai di jalan aspal yang menghubungkan Camp David ke parkiran. Jalan lebar, rata, kering, dengan pembatas besi di kedua sisi. Jalan yang bahkan Faisal, yang kemarin hampir mati, bisa lewati sambil makan biskuit dengan satu tangan.

Clara masih memegang tanganku.

“Ra.”

“Hm?”

“Ini aspal.”

“Terus?”

“Kamu nggak perlu dipegangin di aspal.”

“Biar nggak jatuh.”

“Ini aspal, Ra. Rata. Kering.”

Clara menatap jalan aspal di depan kami. Lalu menatapku. Wajahnya serius.

“Aspal licin,” katanya.

“Aspal nggak licin.”

“Bisa aja licin. Kamu nggak tahu masa depan, Ga.”

Itu kalimat yang dia pakai di balkon apartemennya waktu dia memegangi tangga yang tidak goyang. Aku menatapnya. Dia menatap balik dengan wajah polos sempurna.

Aku tidak melepaskan tangannya.

Sampai parkiran.

Di belakang kami, Faisal berjalan dengan Zara, membawa kantong plastik berisi sampah yang kami kumpulkan dari jalur. Kebiasaan pendaki. Dia sedang bercerita tentang resep mi instan rebus yang dicampur telur dan keju, “makanan terbaik di gunung”, dan tidak memperhatikan kami sama sekali.

Zara memperhatikan semuanya. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku, seperti sinar laser.


Di parkiran Camp David, sebelum masuk mobil, Clara menarikku ke sisi mobil yang tidak terlihat dari tempat Faisal dan Zara memasukkan carrier ke bagasi.

“Ga.”

“Hm.”

“Kita bilang ke mereka nggak?”

“Bilang apa?”

Dia menatapku dengan alis terangkat. Aku menatap balik. Dia memukul lenganku.

“Soal kita. Soal tadi. Soal...” Dia menggerakkan tangan di antara kami, mencari kata. “Soal ini.”

Aku menatap tangan kami yang bertaut. Lalu menatap wajahnya. Matahari pagi Garut menyinari pipinya yang masih merah karena dingin, dan rambutnya yang keluar dari kepang, dan mata yang sedikit bengkak karena menangis di padang edelweis.

Ini.

Aku belum tahu apa nama ini. Kami tidak membicarakannya. Di Tegal Alun, Clara bertanya apakah aku mau, dan aku bilang mau, dan setelah itu kami tidak membicarakan apa pun lagi, karena tidak ada yang perlu dibicarakan, dan karena Faisal datang membawa biskuit.

“Kamu mau bilang?” tanyaku.

Clara berpikir. Menggigit bibir bawahnya.

“Nggak dulu,” katanya akhirnya. “Seminggu. Kasih kita seminggu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kita bilang, grup bakal meledak. Keisha bakal nangis tiga hari. Putra bakal bikin pidato. Faisal bakal masak tumpeng. Ibu kamu bakal jahit kebaya baru.” Dia tersenyum. “Aku mau seminggu dulu. Cuma kita. Nggak ada yang tahu. Rahasia.”

“Zara udah tahu.”

“Zara nggak dihitung. Zara tahu semua hal.”

“Oke.”

“Oke?”

“Seminggu.”

Clara tersenyum lebar. Lalu dia berjinjit, sangat cepat, dan mencium pipiku. Satu detik. Kurang dari satu detik.

Lalu dia berlari ke pintu penumpang dan masuk ke mobil sebelum aku sempat bereaksi.

Aku berdiri di sisi mobil, dengan tangan kosong yang tadi dia pegang dan satu titik di pipi yang terasa terbakar.

Dari belakang mobil, Zara berkata dengan suara datar: “Seminggu, ya?”

Aku menoleh. Zara berdiri di samping bagasi yang terbuka, dengan carrier di tangan. Dia sudah mendengar semuanya.

“Zar.”

“Gue taruhan,” katanya, “tiga hari.”


Tiga hari ternyata terlalu optimis.


Hari pertama.

Senin pagi jam sembilan, aku menerima pesan dari Clara.

Udah sampai kantor?

Udah.

Udah makan?

Udah.

Makan apa?

Roti.

Roti doang? Ga. Itu bukan sarapan.

Jam sebelas, seorang kurir ojek online mengantarkan bungkusan ke resepsionis kantorku. Nasi uduk, telur balado, tempe orek, dan sambal kacang. Dengan sticky note kuning bertuliskan tulisan tangan yang kukenal:

Ini sarapan. Bukan roti. —C

Rekan kerjaku di bagian IT, Bayu, menatap bungkusan itu. Lalu menatap sticky note. Lalu menatapku.

“Mas Erga.”

“Hm.”

“Ini dari siapa?”

“Teman.”

“Teman yang nulis ‘C’ pakai hati?”

Aku menatap sticky note itu lagi. Benar. Di sebelah huruf C, ada gambar hati kecil yang hampir tidak terlihat, digambar dengan tinta yang sama.

Aku memasukkan sticky note itu ke saku kemeja.

“Teman,” kataku lagi.

Bayu menatapku dengan alis terangkat sampai hampir menyentuh garis rambutnya. Dia sudah bekerja denganku tiga tahun. Dia belum pernah melihat siapa pun mengirim makanan untukku.

“Oke, Mas,” katanya. “Teman.”

Dia berbalik ke mejanya. Lalu, di grup WhatsApp tim IT yang aku juga ada di dalamnya, muncul pesan dari Bayu:

GUYS. MAS ERGA DIKIRIMIN SARAPAN. ADA HATINYA.

Tujuh orang membalas dalam dua menit. Semuanya dengan huruf kapital.


Hari kedua.

Selasa malam, Clara meneleponku jam sepuluh.

“Ga.”

“Hm.”

“Panggil aku ‘sayang’ sekali aja.”

Aku diam.

“Buat tes,” tambahnya.

“Tes apa?”

“Tes suara kamu kalau bilang ‘sayang’ kedengerannya gimana.”

“Ra.”

“Itu bukan ‘sayang’. Itu ‘Ra’.”

“Itu sayang versi aku.”

Hening di seberang. Lama.

Lalu Clara menjerit. Bukan ke telepon. Menjauh dari telepon, ke bantal mungkin, karena suaranya teredam. Tapi aku tetap mendengarnya.

“Ra?”

“Bentar.” Suaranya kembali, sedikit terengah. “Bentar. Aku lagi proses.”

“Proses apa?”

“Proses ‘itu sayang versi aku’.” Jeda. “Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu tiba-tiba, Ga. Aku nggak siap.”

“Kamu yang minta.”

“Aku minta ‘sayang’, bukan... bukan yang itu. Yang itu lebih parah.”

Aku tersenyum ke langit-langit kamar.


Hari ketiga.

Rabu sore, jam lima, Putra mengirim pesan pribadi.

Ga. Lo kenapa?

Kenapa apa?

Tadi siang lo ke RS ngantar printer buat ruang dokter. Gue liat lo di lobi. Lo SENYUM ke HP.

Terus?

Lo nggak pernah senyum ke HP. Lo senyum ke HP kayak orang gila.

Aku lagi baca meme.

Lo nggak pernah baca meme.

Orang bisa berubah, Put.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul.

Ga. Ini kalimat Zara. Lo sama Zara kenapa sih belakangan ini ngomong kalimat yang sama.

Aku tidak membalas.

Lima menit kemudian, pesan baru.

Tunggu.

Tunggu tunggu tunggu.

Papandayan.

GA.

Aku meletakkan HP terbalik di meja kerja.

Bayu, di meja sebelah, menatapku. “Mas, HP-nya geter terus.”

“Biarin.”

“Getarnya kayak orang lagi teriak.”

“Biarin, Bay.”


Hari ketiga, malam.

Jumat malam seharusnya hari keenam. Tapi minggu itu Faisal mengubah jadwal. Dapur Isal menggelar acara khusus hari Rabu, peluncuran menu baru, dan dia mengundang semua orang.

Aku datang jam enam kurang sepuluh. Menyatukan dua meja. Menata enam kursi.

Lalu duduk di kursi paling ujung.

Clara datang jam enam lewat lima belas. Lebih awal dari biasanya. Jauh lebih awal. Kedai hening sepersekian detik, seperti biasa. Dia berjalan ke meja, melewati kursi-kursi kosong, dan duduk di kursi sebelahku. Seperti biasa.

Semua normal.

Kecuali dia duduk dua senti lebih dekat dari biasanya. Kecuali lututnya menempel di lututku di bawah meja. Kecuali dia langsung mengambil sendokku dan mencicipi teh manisku tanpa bertanya, dan aku tidak berkomentar, dan dia tidak minta maaf.

Putra datang jam enam lewat dua puluh, dengan Keisha di sebelahnya. Putra menatapku. Menatap Clara. Menatap jarak di antara kami, atau ketiadaan jarak di antara kami. Lalu dia duduk dengan sangat pelan, seperti orang yang duduk di kursi yang mungkin akan meledak.

“Hai, Ga,” katanya. Terlalu santai.

“Hai, Put.”

“Hai, Ra.”

“Hai, Put.”

“Gimana Papandayan?”

“Bagus,” kata Clara.

“Bagus,” kataku, di saat yang sama.

Putra menatap kami berdua. Keisha, di sebelahnya, menatap kami berdua. Lalu Keisha menatap Putra. Putra menatap Keisha. Mereka berkomunikasi tanpa suara selama tiga detik, dengan alis dan mata, seperti dua orang yang sudah bertunangan dua minggu dan sudah mengembangkan bahasa rahasia.

“Bagusnya gimana?” tanya Keisha. Pipinya bulat dan matanya berbinar penuh curiga.

“Bagus,” ulang Clara. “Edelweisnya banyak.”

“Mataharinya terbit,” kataku.

“Mataharinya selalu terbit, Ga,” kata Putra.

“Yang ini bagus.”

Zara datang jam enam setengah. Dia melihat kami. Dia duduk. Dia mengeluarkan HP-nya dan mulai mengetik.

Di HP-ku, grup “Gugus 7 (Jangan Bubar)” berbunyi.

Zara: Gue menang taruhan.

Keisha: taruhan apa?

Zara: Bukan urusan lo, Kei.

Keisha: zar kok gitu

Putra: Taruhan sama siapa?

Zara: Sama Erga.

Putra: Taruhan apa, Ga?

Aku menatap layar. Clara, di sebelahku, menatap layar HP-nya sendiri, dengan wajah yang pelan-pelan memerah dari leher ke pipi.

Aku: Nggak ada taruhan.

Zara: Ada. Gue bilang tiga hari. Lo nggak bantah.

Putra: Tiga hari apa??

Zara: Tanya Faisal. Oh, nggak. Faisal nggak tahu apa-apa. Tanya aja Erga.

Lalu Faisal keluar dari dapur dengan tiga piring menu baru di tangan, dan meletakkannya di tengah meja dengan bangga.

“Menu baru Dapur Isal,” katanya. “Nasi bakar cakalang. Gue riset dua minggu. Cobain.”

Kami mencicipi. Enak. Semua orang memuji. Faisal berseri-seri.

Lalu Faisal duduk, mengambil kerupuk, dan menatap meja dengan alis berkerut.

“Kalian kenapa sih?” tanyanya.

Hening.

“Kenapa apa, Sal?” tanya Clara, dengan suara terlalu tinggi.

“Ya kalian. Lo sama Erga.” Faisal menunjuk kami dengan kerupuk. “Duduknya nempel banget. Lo nyobain teh dia. Dia nggak ngomel. Terus kalian berdua senyum-senyum ke HP barengan.”

“Nggak senyum-senyum,” kataku.

“Senyum, Ga. Gue liat. Senyum kayak orang pacaran.”

Hening total.

Putra menutup mulutnya dengan tangan. Keisha menutup mulutnya dengan dua tangan. Zara meletakkan HP-nya dengan bunyi pelan di atas meja dan menatap Faisal dengan ekspresi seseorang yang sedang menonton kecelakaan dalam gerakan lambat.

Clara membeku.

Aku menatap Faisal.

Faisal menatap balik. Dengan kerupuk di tangan. Lalu mengunyahnya. Lalu tertawa.

“Bercanda,” katanya. “Masa kalian pacaran. Kalian kan temen dari Ospek.”

Dia menggigit kerupuk lagi dan berdiri untuk mengambil sambal.

Tidak ada yang bergerak selama lima detik.

Lalu Zara menghela napas. Panjang. Sangat panjang. Napas dari seseorang yang sudah sepuluh tahun mengamati dan baru menyadari bahwa beberapa orang memang tidak bisa diselamatkan.

“Satu Jakarta goblok,” gumam Zara. “Faisal juga.”

Putra tertawa sampai harus berpegangan pada meja. Keisha menatap Clara dengan mata berkaca-kaca, mulut membentuk kata BENERAN? tanpa suara. Clara menutup wajahnya dengan dua tangan.

Dan di bawah meja, dalam gelap, tangan Clara mencari tanganku.

Dan menemukannya.


Jam sepuluh malam, di parkiran Dapur Isal, Clara bersandar di pintu mobilku sebelum masuk.

“Ga.”

“Hm.”

“Putra udah tahu. Keisha udah tahu. Zara dari awal tahu.”

“Iya.”

“Tinggal Faisal.”

“Iya.”

“Masih mau rahasia seminggu?”

Aku menatapnya. Lampu parkiran yang oranye memantul di rambutnya. Di dalam kedai, melalui jendela, aku bisa melihat Faisal mencuci piring sambil bernyanyi dangdut, sendirian, dengan semangat yang luar biasa.

“Dari Faisal,” kataku. “Biar dia tahu sendiri.”

Clara tertawa. “Kamu jahat.”

“Aku mau lihat mukanya.”

“Kamu mau lihat muka Faisal waktu dia sadar?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena sepuluh tahun dia makan sisa makanan semua orang dan nggak pernah ketahuan.” Aku membuka pintu penumpang untuknya. “Sekali-sekali dia yang ketinggalan.”

Clara menatapku. Lalu, sebelum masuk ke mobil, dia berjinjit lagi dan mencium pipiku. Kali ini lebih lama. Dua detik. Mungkin tiga.

“Kamu tahu nggak, Ga,” bisiknya di pipiku. “Kamu lebih jahil dari yang aku kira.”

“Kamu baru tahu?”

“Sepuluh tahun aku kira kamu robot.”

“Robot nggak dicium pipinya di parkiran.”

Clara tertawa dan masuk ke mobil.

Aku berjalan ke sisi pengemudi. Sebelum masuk, aku menoleh ke jendela kedai sekali lagi.

Faisal masih mencuci piring. Bernyanyi. Sendirian. Tidak tahu apa-apa.

Dan di meja dekat jendela, Zara masih duduk sendirian, tidak pulang, dengan HP di tangan, menatap punggung Faisal di dapur.

Aku melihat tatapan itu. Aku tahu tatapan itu. Aku sudah memakainya sepuluh tahun.

Aku masuk ke mobil, dan tidak berkata apa-apa.

Satu lagi hal yang tidak dibicarakan di Gugus Tujuh.

Untuk sekarang.