← Biar Aku Aja

Chapter Twenty Five

Pasar Malam

POV: Clara


“Kencan pertama,” kataku ke cermin kamar mandi, Sabtu sore jam empat. “Kencan pertama. Umur dua puluh delapan. Kencan pertama.”

Cermin tidak menjawab. Tapi Zara menjawab, lewat video call di HP yang kusandarkan ke botol sampo di pinggir wastafel.

“Itu bukan kencan pertama lo.”

“Itu kencan pertama aku sama dia.”

“Lo udah kencan sama dia sepuluh tahun. Kalian cuma nggak nyebutnya kencan.”

“Zar.”

“Pakai apa?”

Aku mengangkat dua baju di depan kamera. Kiri: gaun santai biru muda dengan motif bunga kecil. Kanan: kaus hitam dan rok denim.

“Ke mana?”

“Pasar malam.”

Zara diam. “Pasar malam?”

“Dia yang milih.”

“Erga ngajak lo kencan pertama ke pasar malam?”

“Iya.”

“Bukan restoran? Bukan kafe? Bukan rooftop bar di Senopati?”

“Pasar malam, Zar. Di lapangan dekat rumahnya di Beji. Katanya cuma ada sebulan sekali, dan dia udah nonton dari luar pagar sejak kecil tapi nggak pernah masuk.”

Hening di seberang. Lama.

“Kenapa nggak pernah masuk?” tanya Zara pelan.

“Aku nggak tanya.”

Zara menatapku dari layar HP. Aku menatap balik. Kami berdua tahu kenapa aku tidak bertanya. Karena aku takut jawabannya. Sama seperti Erga.

“Kaus hitam,” kata Zara akhirnya. “Rok denim. Sepatu kets. Lo bakal naik bianglala.”

“Bianglala?”

“Semua pasar malam punya bianglala, Ra. Dan semua cowok yang ngajak kencan ke pasar malam pasti mau ngajak naik bianglala.” Jeda. “Bahkan Erga.”


Erga menjemputku jam enam kurang lima. Tentu saja.

Dia memakai kemeja biru tua dengan lengan digulung sampai siku dan celana jeans. Rambutnya disisir lebih rapi dari biasanya. Dan dia wangi. Bukan wangi sabun cuci yang biasa. Ada sesuatu yang lain, samar, seperti kayu cedar.

“Kamu pakai parfum,” kataku, waktu masuk ke mobil.

“Sedikit.”

“Kamu nggak pernah pakai parfum.”

“Ibu yang beliin. Tadi pagi.” Dia menyalakan mesin. “Katanya buat kencan pertama.”

“Ibu tahu ini kencan pertama?”

“Ibu tahu semuanya.”

“Dari siapa?”

“Keisha.”

Aku tertawa sampai harus memegangi sabuk pengaman.


Pasar malam di lapangan Beji adalah dunia lain.

Lapangan sepak bola tanah yang biasanya kosong berubah menjadi lautan lampu. Lampu neon warna-warni, lampu bohlam kuning yang digantung di tali-tali, lampu kelap-kelip di wahana. Bunyi musik dangdut dari speaker besar bercampur dengan teriakan pedagang, tawa anak-anak, dan dentuman mesin genset. Bau jagung bakar, sate, gula kapas, dan oli bercampur di udara malam.

Di tengah lapangan, menjulang di atas semuanya, ada bianglala. Tidak besar. Mungkin dua puluh meter. Dengan dua belas gerbong besi berwarna-warni yang catnya sudah mengelupas, berputar pelan dengan bunyi derit yang terdengar dari mana-mana.

Erga berhenti di gerbang masuk.

Dia menatap lapangan itu lama. Wajahnya tenang, seperti biasa. Tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. Sesuatu yang muda. Seperti anak kecil yang berdiri di luar pagar dan menatap lampu-lampu yang tidak boleh dia sentuh.

Aku menggenggam tangannya.

“Ayo masuk,” kataku.

Dia menatapku. Lalu mengangguk.

Kami masuk.


Lempar gelang adalah wahana pertama. Lima ribu rupiah untuk tiga gelang rotan. Targetnya leher botol di atas meja kayu. Kalau gelangnya masuk, kamu dapat hadiah yang tertempel di botol itu.

Aku melempar dua puluh tiga gelang.

Dua puluh tiga.

Tidak ada yang masuk.

“Kamu terlalu keras,” kata Erga, berdiri di belakangku.

“Aku nggak keras.”

“Gelangnya mantul dari botol. Itu terlalu keras.”

“Terus gimana?”

Dia melangkah lebih dekat. Tangannya menyentuh pergelangan tanganku dari belakang, memegangnya, mengarahkan sudutnya.

“Lempar dari bawah. Bukan dari atas. Putar sedikit, biar gelangnya datar waktu jatuh. Arah ke botol yang di pojok kiri. Lehernya paling pendek.”

Napasnya di telingaku. Tangannya di pergelangan tanganku. Aku tidak bisa berkonsentrasi pada botol. Aku tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun.

“Sekarang,” bisiknya.

Aku melempar.

Gelang itu melayang, berputar datar seperti piring terbang kecil, dan jatuh tepat di leher botol di pojok kiri. Berputar dua kali. Lalu diam.

Masuk.

Aku menjerit. Penjaga stan, bapak-bapak tua dengan kaus partai yang sudah pudar, bertepuk tangan dengan malas. Lalu dia mencabut hadiah yang ditempel di botol itu dan menyerahkannya padaku.

Boneka lumba-lumba merah muda. Kecil, seukuran telapak tangan. Satu matanya sedikit miring. Bulunya kusut. Ada label harga dua ribu rupiah yang belum dilepas di bagian ekor.

Itu boneka paling jelek yang pernah kulihat.

Aku memeluknya ke dada seperti memeluk piala Oscar.

“Ga! Aku menang!”

“Iya.”

“Pertama kalinya! Dua puluh empat kali lempar!”

“Iya.”

“Kamu yang ngajarin!”

“Kamu yang lempar.”

Aku menatapnya, boneka lumba-lumba di dadaku, dan dia tersenyum. Senyum kecil yang tenang, tapi matanya bersinar seperti lampu-lampu pasar malam di sekitar kami.

“Namanya Gugus,” kataku.

“Hah?”

“Lumba-lumbanya. Namanya Gugus.”

Erga menatap boneka lumba-lumba bermata miring itu. Lalu menatapku. Lalu tertawa. Tawa sungguhan, pendek, yang membuat penjaga stan menoleh.


Lalu dia menemukan stan tembak-tembakan.

Senapan angin dengan peluru gabus. Targetnya kaleng-kaleng yang disusun berbentuk piramida. Sepuluh ribu untuk lima peluru. Hadiahnya boneka-boneka besar yang digantung di dinding stan. Beruang, kelinci, panda, unicorn, semuanya seukuran anak kecil.

Erga mengangkat senapan, membidik, dan menembak.

Meleset. Jauh ke kiri.

Dia menurunkan senapan. Menatapnya. Membalikkannya. Menatap larasnya dari ujung.

“Senapannya bengkok ke kiri,” katanya. “Dua derajat.”

Penjaga stan, pemuda kurus dengan rambut dicat pirang, berdeham. “Nggak, Mas. Senapannya lurus.”

“Bengkok, Mas. Dua derajat. Mungkin tiga.”

Erga mengangkat senapan lagi. Kali ini dia membidik sedikit ke kanan dari target.

Tembak.

Kaleng paling atas jatuh.

Tembak.

Dua kaleng di baris kedua jatuh.

Tembak. Tembak. Tembak.

Piramida runtuh. Semua kaleng jatuh.

Pemuda berambut pirang itu menatap kaleng-kaleng yang berserakan dengan mulut terbuka.

Erga meletakkan sepuluh ribu lagi.

Dua puluh menit kemudian, dia sudah memenangkan empat boneka besar. Beruang cokelat, kelinci putih, panda, dan unicorn pelangi. Pemuda berambut pirang itu sudah tidak lagi menatapnya dengan kagum. Dia menatap Erga dengan wajah seseorang yang sedang menyaksikan bisnisnya hancur di depan mata.

“Mas,” katanya akhirnya. “Udah ya, Mas. Saya mohon.”

Erga menurunkan senapan. “Oke.”

Lalu dia berbalik dengan empat boneka besar di pelukannya, menatap sekeliling, dan menemukan sekelompok anak kecil yang berdiri di dekat stan. Empat anak, mungkin tujuh atau delapan tahun, dengan baju lusuh dan sandal jepit, yang dari tadi menonton dengan mata besar.

Dia berlutut. Memberikan boneka satu per satu. Beruang ke anak laki-laki paling kecil. Kelinci ke anak perempuan dengan kuncir dua. Panda ke anak laki-laki dengan kaus bergambar klub sepak bola. Unicorn ke anak perempuan yang paling pemalu, yang berdiri paling belakang.

Anak-anak itu menatapnya. Lalu menatap boneka. Lalu berlari pergi sambil berteriak kegirangan.

Erga berdiri. Membersihkan lutut celananya.

Aku menatapnya. Boneka lumba-lumba jelek bernama Gugus masih di pelukanku.

“Kamu nggak nyimpen satu pun?” tanyaku.

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dia menatap anak-anak yang berlari menjauh, boneka-boneka besar di pelukan mereka, lebih besar dari tubuh mereka sendiri.

“Waktu kecil,” katanya pelan, “aku nonton pasar malam ini dari luar pagar. Bapak nggak punya uang buat tiket. Aku liat anak-anak lain bawa boneka gede kayak gitu.” Dia diam sebentar. “Aku janji sama diri sendiri. Kalau suatu hari aku masuk, aku menang semua, terus aku kasih ke anak yang nonton dari luar.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Mereka di dalam pagar,” tambahnya. “Tapi tadi mereka cuma nonton. Sama aja.”

Aku memeluk lumba-lumba jelek itu lebih erat. Lalu aku melangkah ke arahnya, berjinjit, dan mencium pipinya. Di tengah pasar malam. Di depan stan tembak-tembakan. Di depan pemuda berambut pirang yang sekarang menatap kami dengan wajah iri.

“Gugus,” kataku, mengangkat lumba-lumba merah muda itu di antara kami. “Nggak aku kasih ke siapa-siapa.”

“Itu jelek, Ra.”

“Itu paling cantik.”


Bianglala.

Zara benar. Tentu saja Zara benar.

Kami naik gerbong nomor tujuh. Aku yang memilih. Gerbong besi berwarna oranye yang catnya mengelupas, dengan kursi kayu panjang dan pintu kecil yang dikunci operator dengan rantai.

Bianglala itu berputar pelan. Berderit. Gerbong kami naik.

Lapangan di bawah kami mengecil. Lampu-lampu pasar malam menjadi lautan titik warna-warni. Lalu di luar lapangan, rumah-rumah Beji dengan lampu kuning di jendela. Lalu jalan raya dengan lampu kendaraan yang mengalir. Lalu, di kejauhan, gedung-gedung Jakarta seperti kristal yang menyala di cakrawala.

Kami sampai di puncak, dan bianglala berhenti.

Berhenti total. Gerbong kami bergoyang pelan di puncak, dua puluh meter di atas tanah.

“Ga.”

“Hm.”

“Kenapa berhenti?”

“Operatornya lagi naikin penumpang di bawah.”

“Berapa lama?”

“Biasanya dua-tiga menit.”

Aku menatap pemandangan di bawah. Angin malam bertiup, sejuk. Gerbong bergoyang lagi, dan aku refleks memegang lengan Erga.

“Kamu takut tinggi?” tanyanya.

“Nggak.”

“Kamu megang lenganku.”

“Aku mau megang lenganmu.”

Dia tidak menjawab. Tapi dia memindahkan lengannya. Melingkarkannya di bahuku. Menarikku sedikit lebih dekat di kursi kayu yang sempit.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya. Boneka Gugus di pangkuanku. Kota di bawah kami.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu pernah ciuman?”

Hening.

Aku merasakan tubuhnya menegang sedikit. Sangat sedikit.

“Belum,” katanya.

Aku mengangkat kepala. Menatapnya. “Belum?”

“Belum.”

“Dua puluh delapan tahun?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dia menatap kota di bawah. Cahaya warna-warni memantul di wajahnya.

“Nggak ada yang aku mau,” katanya. Lalu, lebih pelan: “Selain satu.”

Aku menatapnya lama. Jantungku berdebar sangat keras sampai aku bisa merasakannya di telinga.

“Aku juga belum,” bisikku.

Dia menoleh. Cepat. Matanya membesar.

“Kamu?”

“Aku.”

“Ra. Kamu Clara. Kamu dikejar semua orang dari SMA.”

“Dikejar bukan berarti ketangkep.” Aku tersenyum. Sedikit gemetar. “Semua yang ngejar, aku tolak. Semua yang ngajak makan, aku bilang ada meeting. Sepuluh tahun aku nggak pernah pacaran. Kamu nggak sadar?”

“Aku kira kamu...”

“Pilih-pilih?”

“Iya.”

“Aku emang pilih-pilih.” Aku menatapnya. “Aku cuma pilih satu.”

Gerbong bergoyang. Angin malam meniup rambutku ke wajah. Erga mengangkat tangan dan menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telingaku. Jarinya menyentuh pipiku. Berhenti di sana.

Wajahnya sangat dekat sekarang. Aku bisa melihat bulu matanya. Aku bisa mencium parfum kayu cedar yang dibelikan Ibu. Aku bisa merasakan napasnya.

Aku memejamkan mata.

Satu detik.

Dua detik.

“Ra.”

Aku membuka mata. Dia masih di sana, sangat dekat, tapi tidak lebih dekat.

“Gerbong sebelah,” bisiknya.

Aku menoleh. Di gerbong nomor delapan, yang tergantung tepat di samping kami, ada seorang bapak-bapak gemuk dengan peci, istrinya, dan tiga anak. Kelimanya menatap kami. Dengan sangat terang-terangan. Bapak itu bahkan memegang HP, setengah terangkat, siap merekam.

Aku menutup wajahku dengan boneka Gugus.

Erga tertawa pelan.

“Nggak di sini,” bisiknya di telingaku.

“Terus di mana?” gumamku dari balik boneka.

“Nanti.”

“GA. Kamu janji nggak bilang ‘nanti’ lagi.”

“Ini ‘nanti’ yang beda.”

“Bedanya apa?”

“Yang ini,” katanya, sangat pelan, bibirnya hampir menyentuh telingaku, “aku tahu kapan.”

Bianglala mulai berputar lagi. Gerbong kami turun.

Aku tidak menurunkan boneka Gugus dari wajahku sampai kami sampai di bawah.


Jam sepuluh lewat empat puluh, mobilnya berhenti di parkiran depan lobi apartemenku.

Parkiran tamu di sisi gedung, yang sepi dan setengah gelap, di bawah pohon ketapang besar yang menghalangi lampu jalan.

Dia mematikan mesin.

Kami duduk dalam diam. AC mati. Radio mati. Hanya suara jangkrik dari taman kecil di samping gedung, dan napas kami berdua, dan boneka Gugus di pangkuanku.

“Udah sampai,” kataku.

“Udah.”

“Aku turun ya.”

“Iya.”

Aku tidak turun. Aku tidak melepas sabuk pengaman. Aku menatap pintu lobi yang terang di kejauhan, lalu menatap dasbor, lalu menatap tanganku di atas boneka lumba-lumba jelek itu.

Lalu aku menoleh padanya.

“Cium dulu,” kataku. “Baru aku turun.”

Dia menatapku.

Hening yang panjang.

Lalu dia melepas sabuk pengamannya. Pelan. Bunyi klik yang terdengar sangat keras di dalam mobil yang sunyi. Dia mencondongkan badan ke arahku. Satu tangannya menyangga di sandaran kursiku, di samping kepalaku.

Wajahnya mendekat.

Aku memejamkan mata.

Dan bibirnya menyentuh bibirku.

Sebentar. Lembut. Sangat hati-hati. Seperti orang yang menyentuh sesuatu yang sangat rapuh dan sangat berharga untuk pertama kalinya. Bibirnya hangat. Sedikit kering. Ada sisa rasa gula kapas yang kami makan berdua di dekat bianglala.

Satu detik. Dua.

Lalu dia menarik diri.

Aku membuka mata. Dia masih dekat, tapi sudah menjauh beberapa senti. Napasnya tidak teratur. Telinganya merah, aku bisa melihatnya bahkan dalam gelap.

“Udah,” katanya. Suaranya serak. “Turun.”

Aku menatapnya.

“Kurang lama,” kataku.

Dia mengerjap.

“Aku belum sempat merem,” kataku. Pelan. Menatap bibirnya. “Ulang.”

Dia diam.

Lalu sesuatu berubah di wajahnya. Ketenangan yang selalu dia pakai, yang sepuluh tahun tidak pernah retak, retak. Dan di balik retakannya, ada sesuatu yang membuat napasku tertahan.

Tangannya bergerak. Dari sandaran kursi ke tengkukku. Jari-jarinya menyelinap ke rambut di belakang leherku, dan dia menarikku ke arahnya.

Kali ini dia tidak hati-hati.

Kali ini dia menciumku seperti laki-laki yang sudah menunggu sepuluh tahun. Dalam. Lama. Bibirnya bergerak di bibirku dengan cara yang membuat seluruh tubuhku lemas. Tangannya di tengkukku menahan, tidak membiarkanku menjauh, bukan berarti aku mau menjauh. Tanganku sendiri sudah mencengkeram kerah kemejanya, menariknya lebih dekat, dan boneka Gugus jatuh dari pangkuanku ke lantai mobil.

Aku memejamkan mata. Kali ini aku sempat memejamkan mata. Dan dunia di luar mobil menghilang. Pasar malam, bianglala, bapak-bapak di gerbong nomor delapan, Tante Mira, Dion, sepuluh tahun yang terlewat. Yang tersisa hanya bibirnya, tangannya di tengkukku, napasnya yang bercampur dengan napasku, dan jantungnya yang berdebar keras di bawah tanganku yang mencengkeram kerahnya.

Aku tidak tahu berapa lama. Satu menit. Mungkin lebih.

Ketika dia akhirnya menarik diri, sedikit, cukup untuk mengambil napas, dahinya bersandar ke dahiku. Napas kami berdua tersengal. Aku masih mencengkeram kerahnya. Tangannya masih di tengkukku.

Aku membuka mata.

Kaca mobil berembun. Semuanya. Jendela depan, jendela samping, jendela belakang. Putih buram, seperti kami berada di dalam awan.

“Ga,” bisikku, masih terengah. “Kacanya.”

“Hm.”

“Orang bisa lihat.”

Dia menatap kaca berembun itu. Lalu menatapku. Dahinya masih menempel di dahiku. Lalu, dengan suara yang masih serak tapi datar sempurna, seperti sedang membaca manual router:

“Itu tujuannya. Biar Dion lewat.”

Aku tertawa.

Tertawa sampai air mataku keluar, dengan dahi masih menempel di dahinya, dengan bibir yang masih terasa panas, dengan tangan yang masih mencengkeram kerah kemejanya.

“Kamu,” kataku di antara tawa. “Kamu itu...”

“Apa?”

“Nggak tahu. Belum ada kata buat kamu.”

Dia tersenyum. Lalu mencium keningku. Sekali. Singkat.

“Turun, Ra,” katanya pelan. “Udah malam.”

Aku menatapnya lama. Lalu mengangguk.

Aku melepas sabuk pengaman. Memungut boneka Gugus dari lantai mobil. Membuka pintu. Udara malam yang sejuk masuk, mengusir embun dari kaca sedikit.

Aku turun. Berjalan. Satu langkah. Dua langkah.

Lalu aku berbalik dan mengetuk kaca jendelanya.

Dia menurunkan jendela. Wajahnya masih merah. Rambutnya berantakan di bagian belakang, di tempat tanganku sempat mencengkeram.

“Besok ulang,” kataku.

Dia menatapku.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku melihatnya tersenyum dengan seluruh wajahnya. Bukan senyum kecil. Bukan senyum orang yang sudah selesai melakukan tugas. Senyum anak kecil yang akhirnya masuk ke pasar malam setelah bertahun-tahun menonton dari luar pagar.

“Besok aku jemput lebih awal,” katanya.

Aku berjalan ke lobi. Kali ini aku tidak berbalik lagi.

Tapi di dalam lift, sendirian, dengan boneka lumba-lumba jelek bermata miring di pelukan, aku menyentuh bibirku dengan ujung jari, dan tersenyum ke pintu lift yang memantulkan wajahku sendiri.

Wajah perempuan dua puluh delapan tahun yang baru saja dicium untuk pertama kalinya.

Oleh satu-satunya orang yang pernah dia pilih.