Chapter Twenty Nine
Empat Menit
POV: Erga
Aku sudah di dalam sebelum teriakan kedua.
Ruang makan. Lampu kristal. Meja jati panjang. Kue ulang tahun dengan lilin angka enam puluh yang sudah ditiup. Gelas anggur pecah di lantai marmer, anggur merah menggenang seperti darah.
Pak Hendra di lantai.
Dia jatuh dari kursinya di kepala meja. Tubuhnya miring, setengah terlentang, satu tangan masih mencengkeram ujung taplak meja yang tertarik bersamanya. Piring-piring berjatuhan. Album foto berkulit cokelat tergeletak terbuka di sampingnya, di halaman foto pernikahan.
Bu Lena berlutut di sebelahnya, mengguncang bahunya. “Pa! Pa! Bangun, Pa!”
Tante Mira berdiri di belakang kursinya dengan kedua tangan menutupi mulut, berteriak tanpa kata-kata.
Om Hartanto berdiri kaku. Tante Hartanto mundur ke dinding.
Dion sudah memegang HP-nya. Menekan layar dengan jari gemetar. “Halo? Halo? Pak Dar—bukan, Pak Joko—Pak, siapin mobil, siapin mobil sekarang—”
Aku berlutut di sisi lain Pak Hendra.
“Bu Lena,” kataku. Tenang. Datar. Persis seperti di lapangan padel. Persis seperti di dapur Faisal. Persis seperti di tepi sungai Papandayan. “Bu, geser sedikit.”
Bu Lena menatapku dengan mata liar.
“Bu. Geser.”
Dia bergeser.
Aku menepuk bahu Pak Hendra. Keras. “Om. Om Hendra. Dengar saya?”
Tidak ada respons.
Aku memiringkan kepalanya sedikit ke belakang, membuka jalan napas. Menatap dadanya. Mendekatkan pipiku ke mulutnya. Mendengar. Merasakan.
Napasnya tidak normal. Tarikan pendek, tersengal, berjarak terlalu jauh, seperti ikan yang terdampar. Bukan napas. Itu yang mereka ajarkan di pelatihan, dua kali setahun di basement kantor, dengan boneka manekin bernama Bambang yang dadanya sudah kempes karena terlalu sering ditekan. Kalau napasnya kayak megap-megap, itu bukan napas. Anggap henti jantung. Mulai kompresi.
Lima detik. Enam. Tujuh.
Aku menegakkan diri.
Clara ada di ambang pintu ruang makan. Wajahnya putih seperti kertas. Matanya membesar, menatap Papanya di lantai, menatapku.
“Ra.”
Dia tidak bergerak.
“Ra. Lihat aku.”
Matanya bergeser ke wajahku.
“Telepon Putra. Loudspeaker. Bilang henti jantung, enam puluh tahun, laki-laki, Menteng. Terus kasih HP-nya ke aku, taruh di lantai di sebelah aku.”
Clara mengangguk. Tangannya gemetar hebat waktu dia mengeluarkan HP. Tapi dia menekan nama Putra.
“Bu Lena,” kataku. “Telepon 119. Ambulans. Alamat lengkap. Bilang henti jantung.”
Bu Lena menatapku. Lalu mengangguk dan meraih HP-nya dari meja.
“Om Hartanto.”
Om Hartanto tersentak.
“Om ke depan. Bilang ke Pak Darmo buka gerbang lebar-lebar. Nyalain semua lampu depan. Om berdiri di jalan, nunggu ambulans, kasih tanda.”
Om Hartanto menatapku. Lalu, tanpa berkata apa-apa, berlari ke pintu depan dengan kecepatan yang tidak kusangka dari laki-laki seukurannya.
Aku membuka kancing kemeja batik Pak Hendra. Dua kancing teratas. Meletakkan pangkal telapak tangan kananku di tengah dadanya, di tulang dada, di antara kedua puting. Tangan kiri di atas tangan kanan. Jari-jari bertaut. Siku lurus. Bahu tepat di atas tangan.
Lalu aku menekan.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Lima sentimeter. Itu kedalaman yang mereka ajarkan. Lima sampai enam sentimeter. Dada orang dewasa jauh lebih keras dari dada manekin Bambang. Aku merasakan sesuatu berderak di bawah telapak tanganku di tekanan kelima. Tulang rawan, atau tulang rusuk. Itu normal. Itu yang mereka bilang. Kalau kalian dengar bunyi krek, jangan berhenti. Rusuk bisa sembuh. Jantung yang berhenti nggak bisa.
Aku tidak berhenti.
Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh.
Seratus sampai seratus dua puluh kali per menit. Ritmenya seperti lagu yang diputar kencang. Instruktur di kantor memakai lagu dangdut untuk mengajarkan ritme. Aku menghitung keras-keras.
“Sebelas. Dua belas. Tiga belas.”
HP Clara di lantai di sebelahku. Suara Putra dari speaker, keras, tegang, tapi terkendali. “Ga. Gue denger lo ngitung. Lo udah mulai kompresi?”
“Udah.” Empat belas. Lima belas.
“Napasnya gimana?”
“Gasping. Agonal.” Enam belas. Tujuh belas.
“Oke. Lanjut. Jangan berhenti. Jangan kasih napas buatan, cukup kompresi aja. Gue lima menit lagi. Gue sama Keisha udah di Diponegoro. Kita emang lagi otw ke sana buat potong kue.”
Delapan belas. Sembilan belas. Dua puluh.
“Ambulans?”
“Bu Lena lagi telepon.”
“Bagus. Ga, lo pegang. Lo bisa.”
Dua puluh satu. Dua puluh dua.
Dunia menyempit.
Ruang makan dengan lampu kristal dan meja jati dan lukisan Danau Toba menghilang. Yang tersisa hanya dada di bawah tanganku. Hitungan di mulutku. Dan wajah Pak Hendra yang semakin keabu-abuan, mata setengah terbuka, menatap langit-langit tanpa melihat apa-apa.
Tiga puluh satu. Tiga puluh dua.
Di belakangku, Tante Mira berhenti berteriak. Dia jatuh berlutut di lantai marmer, di dekat kaki Pak Hendra, dan mulai berdoa. Keras. Terputus-putus. Bacaan yang tidak beraturan, diulang-ulang.
Empat puluh. Empat puluh satu.
Dion masih di telepon. “Pak Joko, mobil udah siap? Bawa ke depan. Kita bawa ke rumah sakit sendiri, lebih cepet—”
“Jangan,” kataku, tanpa berhenti menekan. “Ambulans.”
“Ambulans lama! Kita bawa sendiri pakai mobil, sepuluh menit ke RS—”
“Kalau dipindah sekarang, kompresinya berhenti.” Lima puluh. Lima puluh satu. “Kompresi nggak boleh berhenti. Tunggu ambulans.”
Dion menatapku. HP di telinganya. Wajahnya pucat, matanya liar, seperti orang yang baru sadar bahwa uang, mobil, dan sopir tidak bisa membuat jantung berdetak lagi.
Dia menurunkan HP-nya pelan-pelan.
Enam puluh. Enam puluh satu.
Clara berlutut di sisi kepala Papanya. Dia memegang tangan Pak Hendra dengan dua tangan. Dia tidak menangis. Atau dia menangis, tapi tanpa suara, dengan air mata yang turun terus-menerus di pipinya. Dia berbisik ke telinga Papanya. Aku tidak mendengar apa yang dia bisikkan. Aku tidak perlu mendengar.
Tujuh puluh. Tujuh puluh satu.
Lenganku mulai panas. Bahu. Punggung bawah. Kompresi CPR yang benar sangat melelahkan. Mereka bilang di pelatihan, ganti setiap dua menit kalau ada orang lain yang terlatih. Di ruangan ini, tidak ada orang lain yang terlatih.
Aku tidak berhenti.
Delapan puluh.
“Ga.” Suara Putra dari HP. “Udah berapa lama?”
“Dua menit. Kurang lebih.”
“Lo capek?”
“Nggak.”
“Lo bohong. Dua menit kompresi itu capek. Tapi lanjut. Gue tiga menit lagi.”
Sembilan puluh. Sembilan puluh satu.
Bu Lena sudah selesai menelepon 119. Ambulans dalam perjalanan. Delapan sampai dua belas menit, kata operatornya. Dia berlutut di sebelah Clara, memegang lengan Pak Hendra yang lain, menatap wajah suaminya, menatap tanganku yang naik turun di dadanya.
“Erga,” bisiknya. “Erga. Tolong.”
“Saya di sini, Bu.”
Seratus. Seratus satu.
Keringat menetes dari dahiku ke kemeja batik Pak Hendra. Kemeja putihku sendiri sudah basah di punggung. Lenganku gemetar di puncak setiap tekanan.
Seratus dua puluh.
Aku tidak berhenti.
Empat menit.
Pintu depan terbuka dengan bunyi keras. Langkah kaki berlari di lantai marmer. Putra masuk ke ruang makan dengan jas dokter yang belum dilepas, stetoskop di leher, napas tersengal, dan Keisha di belakangnya dengan wajah putih ketakutan.
Putra jatuh berlutut di sebelahku. Dua jarinya langsung ke leher Pak Hendra, mencari nadi karotis.
“Lanjut,” katanya. “Jangan berhenti.”
Aku tidak berhenti.
Putra menghitung waktu. Menatap jam tangannya. Menatap wajah Pak Hendra. Menatap gerakan dadanya di bawah tanganku. Profesional. Dingin. Bukan Putra yang berdiri di atas kursi berpidato. Bukan Putra yang menangis di kebun teh. Dokter IGD yang sudah melihat ratusan dada berhenti berdetak.
“Kompresimu bagus,” katanya. “Dalemnya pas. Ritmenya pas. Ganti di hitungan tiga puluh. Gue ambil alih.”
“Oke.”
“Satu, dua, tiga...” Putra menghitung bersamaku. “...dua puluh delapan, dua puluh sembilan, tiga puluh. GANTI.”
Aku mengangkat tangan. Putra langsung meletakkan tangannya di tempat yang sama, dalam satu detik, tanpa jeda. Kompresi berlanjut.
Aku jatuh duduk di lantai marmer di sebelahnya.
Tanganku gemetar. Lenganku gemetar. Seluruh tubuhku gemetar, seperti Faisal di tepi sungai Papandayan. Aku menatap telapak tanganku, yang merah dan berkeringat, dan aku tidak bisa membuatnya berhenti gemetar.
Clara meraih tanganku.
Dia tidak melepas tangan Papanya. Dia memegang tangan Papanya dengan satu tangan dan tanganku dengan tangan yang lain. Dan dia menatapku dengan mata yang basah, merah, dan sangat, sangat takut.
Aku menggenggam tangannya balik.
“Ganti lagi di dua menit,” kata Putra, tidak menoleh. “Ga. Lo siap?”
“Siap.”
Aku tidak siap. Tanganku masih gemetar. Tapi aku melepaskan tangan Clara, berlutut lagi, dan menunggu hitungan.
Ambulans datang di menit kesebelas.
Sirene meraung dari jalan, semakin keras, lalu berhenti di depan pintu. Om Hartanto berlari masuk lebih dulu, berteriak “INI! DI SINI!”, diikuti dua petugas ambulans berseragam oranye dengan tandu, tas peralatan, dan sebuah kotak hitam kecil dengan gagang.
AED.
Putra langsung bicara dengan mereka dalam bahasa medis yang cepat dan padat. Petugas pertama membuka kemeja batik Pak Hendra sepenuhnya. Menempelkan dua bantalan elektroda di dada. Satu di kanan atas, satu di kiri bawah.
“Semua menjauh!” teriak petugas itu.
Aku menarik Clara mundur. Bu Lena menarik Tante Mira mundur. Putra mengangkat tangannya dari dada Pak Hendra.
Mesin itu berbicara dengan suara robot yang datar. Menganalisis ritme jantung. Jangan sentuh pasien.
Hening di ruang makan. Benar-benar hening. Bahkan Tante Mira berhenti berdoa.
Kejutan disarankan. Mengisi daya.
Bunyi berdenging yang semakin tinggi.
Tekan tombol kejut sekarang.
Petugas itu menekan tombol.
Tubuh Pak Hendra tersentak di lantai marmer.
Kejutan diberikan. Lanjutkan CPR.
Putra langsung kembali menekan dada. Satu, dua, tiga...
Lalu petugas kedua, yang memegang jari di leher Pak Hendra, mengangkat tangan.
“Tunggu. Ada nadi.”
Putra berhenti. Meletakkan dua jari di leher Pak Hendra. Lima detik. Sepuluh.
Wajahnya berubah.
“Ada,” katanya pelan. “Ada nadi. Kuat.”
Dada Pak Hendra naik. Turun. Naik. Turun. Napas. Napas sungguhan. Tidak tersengal. Teratur.
Bu Lena terisak keras dan menutup wajahnya dengan dua tangan. Tante Mira jatuh duduk di lantai. Keisha, di ambang pintu, menangis tersedu-sedu.
Clara, di sebelahku, tidak bergerak. Dia menatap dada Papanya yang naik turun dengan mata lebar, mulut terbuka, seperti dia tidak percaya pada apa yang dia lihat.
Lalu dia menoleh padaku.
Dan dia jatuh ke pelukanku, menangis dengan suara yang belum pernah kudengar darinya selama sepuluh tahun. Menangis dengan seluruh tubuhnya, mencengkeram kemejaku yang basah keringat, wajahnya di dadaku.
Aku memeluknya. Tanganku masih gemetar. Aku memeluknya dengan tangan gemetar dan menatap Pak Hendra di lantai yang sekarang bernapas, dikelilingi petugas ambulans yang memasang selang oksigen dan infus.
Rumah sakit tempat Putra bekerja, di Pondok Indah. IGD. Lalu kateterisasi jantung. Serangan jantung, penyumbatan di arteri koroner utama. Dokter jantung memasang dua stent. Operasinya berhasil.
Jam dua pagi, kami duduk di ruang tunggu ICU lantai empat.
Bu Lena di sofa, matanya bengkak, tertidur dengan kepala di bahu Tante Mira. Tante Mira terjaga, menatap dinding dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Om dan Tante Hartanto sudah pulang jam dua belas, setelah Om Hartanto menjabat tanganku dengan dua tangan dan tidak berkata apa-apa.
Dion pulang bersama mereka. Dia tidak menatapku waktu pergi.
Keisha tertidur di kursi plastik dengan kepala di pangkuan Zara, yang datang jam sebelas malam bersama Faisal, setelah Keisha mengabari grup. Faisal duduk di lantai, bersandar ke dinding, dengan kantong plastik berisi nasi bungkus untuk semua orang yang belum disentuh siapa pun.
Clara duduk di sebelahku di kursi plastik. Kepalanya di bahuku. Tangannya menggenggam tanganku, yang masih sedikit gemetar, sudah lima jam.
Putra keluar dari pintu ICU jam dua lewat lima belas. Dia sudah berganti ke baju jaga. Wajahnya lelah, tapi tenang.
Semua orang yang bangun langsung berdiri. Bu Lena terbangun.
“Stabil,” kata Putra. “Om Hendra stabil. Stent-nya bagus. Fungsi jantung masih ada kerusakan sedikit, tapi bisa pulih. Dia bakal sadar besok pagi.”
Bu Lena menutup wajahnya dan menangis. Lega. Tante Mira memeluknya.
Putra berjalan ke arahku. Berhenti di depanku. Menatapku lama.
Lalu dia berbicara, cukup keras untuk didengar seluruh ruang tunggu. Untuk didengar Bu Lena. Untuk didengar Tante Mira.
“Henti jantung di luar rumah sakit,” katanya. “Tingkat kelangsungan hidupnya rendah. Di bawah sepuluh persen. Kebanyakan meninggal sebelum ambulans dateng.” Dia menarik napas. “Yang bikin bedanya cuma satu. Ada orang yang mulai kompresi dalam menit pertama.”
Ruangan sunyi.
“Aku dokternya,” kata Putra. Suaranya pecah sedikit. “Tapi kalau bukan Erga yang pertama nyentuh dada Om, aku cuma dateng buat tanda tangan.”
Tante Mira menatapku.
Bu Lena menatapku.
Dan Clara, di sebelahku, menggenggam tanganku begitu erat sampai gemetarnya berhenti.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku cuma menatap tanganku di genggaman Clara. Tangan yang sama yang menekan dada Pak Hendra seratus dua puluh kali per menit selama empat menit. Tangan yang dulu, sepuluh tahun lalu, tidak bisa melakukan apa pun.
Putra menepuk bahuku dua kali. Lalu kembali ke ICU.
Dan Tante Mira, di sofa, dengan kebaya fuchsia yang kusut dan kalung mutiara tiga lapis yang sudah miring, menatapku lama sekali. Lalu dia menunduk, menatap tangannya sendiri di pangkuan.
Dia tidak berkata apa-apa.
Tapi dia juga tidak memalingkan wajah.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit reading
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja