← Biar Aku Aja

Chapter Thirty Two

Dek Kapal

POV: Clara


Jam delapan malam, Pak Teddy menelepon.

Di tengah laut. Di dek kapal phinisi yang berlabuh di bawah langit penuh bintang, dengan plankton berpendar biru di air di bawah kami. Ternyata ada sinyal di dekat Pulau Kalong. Satu bar. Cukup untuk Pak Teddy.

“Clara. Konsep kampanye Q4 udah disetujui direksi.”

“Pak, saya lagi cuti.”

“Saya tahu. Ini cuma lima menit.” Suaranya terdengar lebih bersemangat dari yang pernah kudengar dalam tiga tahun. “Mereka suka. Rambut tetap sempurna, bahkan saat digendong tiga setengah kilometer. Mereka mau pakai video aslinya. Kamu sudah minta izin ke masnya?”

“Belum, Pak.”

“Minta. Secepatnya. Kita bayar. Royalti. Nama masnya masuk kredit kampanye.”

“Pak—”

“Lima menit, Clara. Saya kirim email detailnya.”

Panggilan terputus. Sinyal hilang.

Aku menatap HP di tanganku. Lalu menatap Erga, yang duduk di bantal besar di tengah dek atas, menatap langit, menunggu.

Waktu bintangnya udah keluar semua, katanya tadi.

Aku menatap langit. Bintang-bintang sudah keluar. Semuanya. Ribuan. Jutaan. Lebih banyak dari yang pernah kulihat seumur hidup di Jakarta. Bima Sakti membentang di atas kami seperti sungai susu yang tumpah, dari satu ujung cakrawala ke ujung lainnya.

Aku berjalan ke arah Erga.

“Ga.”

Dia menoleh.

“Bos aku nelepon,” kataku. “Kerjaan. Soal video CFD. Dia mau—”

“Ra.”

“Hm?”

Dia membuka lengannya.

Aku menatap lengannya yang terbuka. Seperti di tenda Papandayan.

“Peluk dulu,” kataku pelan, “baru boleh ngomong kerjaan.”

Itu bukan pertanyaan. Itu bukan permintaan. Itu aturan baru yang baru saja kubuat, di detik ini, di dek kapal di bawah Bima Sakti.

Erga menatapku. Lalu ujung bibirnya naik.

“Itu aturan siapa?”

“Aturan aku.”

“Sejak kapan?”

“Sejak sekarang.”

Dia tidak membantah. Dia menungguku dengan lengan terbuka. Dan aku masuk. Duduk di antara kakinya di bantal besar, punggungku di dadanya, kepalaku di bahunya, lengannya melingkar di perutku dari belakang. Dia menarik selimut tipis dari bantal sebelah dan membungkus kami berdua.

Hangat. Dadanya hangat di punggungku. Napasnya hangat di rambutku.

Aku melupakan Pak Teddy dalam tiga detik.


Kami menatap langit lama tanpa bicara.

Di bawah kami, di dek bawah, aku mendengar Keisha dan Putra tertawa pelan di kabin mereka. Di haluan, Faisal dan Zara masih duduk di bantal yang sama, punggung mereka berdua siluet hitam di bawah bintang, tidak bicara, tapi juga tidak menjauh. Kru kapal sudah tidur di dek belakang. Laut tenang. Kapal bergoyang sangat pelan, seperti ayunan bayi.

“Ga,” bisikku.

“Hm.”

“Kamu sadar nggak kamu manja banget sekarang?”

Dia diam sebentar. “Aku?”

“Kamu. Buka lengan duluan. Narik selimut. Meluk dari belakang.” Aku tersenyum ke langit. “Sepuluh tahun kamu robot. Tiga bulan pacaran kamu jadi beruang.”

“Itu karena kamu duluan.”

“Duluan apa?”

“Duluan manja.”

Aku tertawa. “Aku?”

“Kamu sadar nggak kamu manja banget?”

Aku memutar kepala sedikit, cukup untuk melihat wajahnya dari bawah. Dia menatap langit, tapi ujung bibirnya naik.

“Cuma ke kamu,” kataku. “Di kantor aku galak.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Bayu.”

“Bayu??”

“Bayu kenal intern di kantormu. Dari grup komunitas IT. Intern bilang kamu dijulukin ‘Bu Clara Es Batu’ di lantai dua tiga.”

Aku menutup wajah dengan tangan. “Ya ampun.”

Erga tertawa pelan. Getaran tawanya terasa di punggungku.

“Aku suka dua-duanya,” katanya.

Aku menurunkan tangan.

“Yang galak di kantor,” lanjutnya, pelan, bibirnya dekat di telingaku. “Sama yang manja di sini.”

“Kamu belum pernah lihat aku galak.”

“Aku lihat. Waktu kamu bentak Tante Mira di ulang tahun Papa kamu.”

“Itu bukan galak. Itu membela.”

“Itu galak, Ra. Galak yang bagus.” Lengannya mengencang sedikit di perutku. “Tapi yang ini cuma punyaku.”

Aku diam.

Yang ini cuma punyaku.

Laki-laki yang tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun. Yang tidak pernah menyebut apa pun miliknya, kecuali kursi paling ujung di Dapur Isal. Baru saja menyebut sesuatu miliknya.

Aku.

Aku memutar tubuhku sepenuhnya. Berlutut di antara kakinya, menghadapnya, dengan selimut melorot dari bahuku. Menatap wajahnya di bawah cahaya bintang.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu pernah bayangin cium aku?”

Dia menatapku. Bintang-bintang memantul di matanya.

“Sering,” katanya.

Jantungku berdebar.

“Sejak kapan?”

Dia tidak menjawab langsung. Dia menatap langit sebentar, seperti mencari bintang tertentu. Lalu kembali menatapku.

“Kamu inget waktu di Padar aku bilang ‘belum semuanya’?”

“Iya.”

“Ini yang belum.”

Aku menahan napas.

“Hari kedua Ospek,” katanya. Pelan. Tenang. Datar. Seperti membaca laporan yang sudah dia simpan sepuluh tahun. “Kamu lupa bawa name tag. Kamu berdiri di sebelah aku dengan dada kosong dan tangan gemetar. Kak Bondan udah lima orang lagi.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Aku lihat tangan kamu gemetar,” lanjutnya. “Dan aku mutusin satu hal.”

“Apa?”

“Aku mutusin aku bakal jagain kamu.” Dia menatapku. “Dari mana aja. Dari jauh juga nggak apa-apa. Selama kamu nggak gemetar lagi.”

Aku menatapnya.

“Terus aku lari sepuluh keliling lapangan,” katanya. “Di keliling ketujuh, aku lewat barisan kita. Kamu ngeliatin aku. Pakai name tag aku.”

Dia diam sebentar.

“Itu pertama kali aku bayangin cium kamu,” katanya. “Keliling ketujuh. Hari kedua Ospek.”


Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Aku berlutut di depannya, di dek kapal di tengah laut Flores, dengan Bima Sakti di atas kepala dan plankton berpendar di air di bawah kami, dan aku tidak bisa berkata apa-apa.

Keliling ketujuh.

Hari yang sama. Detik yang sama. Momen yang sama.

Sepuluh tahun aku pikir aku jatuh cinta sendirian di barisan gugus tujuh, dengan name tag bertuliskan namanya di dadaku. Sepuluh tahun aku pikir dia cuma mengangguk padaku seperti mengangguk pada orang asing, nggak apa-apa, lalu lanjut berlari.

Dia tidak mengangguk pada orang asing.

Dia mengangguk padaku.

Di keliling ketujuh, dua orang delapan belas tahun yang belum tahu nama satu sama lain jatuh cinta di saat yang sama, dan tidak ada yang tahu, dan mereka menghabiskan sepuluh tahun duduk di kursi bersebelahan tanpa mengatakannya.

Air mataku turun.

“Ra?”

Tanganku bergerak ke dompet di saku celanaku, sendiri, refleks. Ke name tag karton yang dilaminating, yang ada di sana sekarang, di kapal ini, di tengah laut. Aku hampir mengeluarkannya. Hampir menunjukkannya. Lihat. Aku juga. Keliling ketujuh. Aku nyimpen ini sepuluh tahun.

Aku menghentikan tanganku.

Nanti, pikirku. Aku juga punya nanti-ku sendiri.

“Ra, kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa,” bisikku, dengan air mata yang terus turun. “Aku cuma... aku cuma...”

Aku tidak menyelesaikan kalimat itu.

Aku menciumnya.


Ini ciuman yang berbeda dari yang lain.

Bukan ciuman di parkiran apartemen, lama dan dalam dan penuh sepuluh tahun penantian. Bukan ciuman di tangga darurat rumah sakit, keras dan putus asa. Bukan ciuman di balik layar kapal, asin dan panas dan terburu-buru.

Ciuman ini pelan. Sangat pelan. Seperti dua orang yang baru sadar mereka punya waktu. Tidak ada yang harus dikejar. Tidak ada yang akan hilang.

Bibirnya bergerak di bibirku dengan cara yang membuat seluruh tubuhku hangat. Tangannya naik ke wajahku, ibu jarinya menyeka air mata di pipiku sambil terus menciumku. Aku membuka bibirku. Dia memperdalam ciumannya. Pelan. Tanpa terburu-buru. Seperti dia sedang mengaduk sambal di wajan.

Jangan buru-buru. Kayak kamu ke aku.

Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan menariknya lebih dekat. Selimut sudah jatuh sepenuhnya dari bahuku. Angin malam laut dingin di kulitku, tapi aku tidak merasakannya. Yang kurasakan hanya dia. Bibirnya, napasnya, tangannya yang sekarang turun dari wajahku ke leherku, ke bahuku, ke punggungku, menarikku sampai aku tidak lagi berlutut di depannya tapi duduk di pangkuannya, dengan lutut di kedua sisi pinggangnya.

Dia mengerang pelan di bibirku. Bunyi kecil, tertahan, yang belum pernah kudengar darinya. Bunyi itu membuat sesuatu di perutku berputar.

Ketika kami akhirnya berhenti, napasku tersengal. Dahinya bersandar di dahiku. Matanya terpejam.

“Ra,” bisiknya.

“Hm.”

“Bintangnya.”

Aku membuka mata. Menoleh ke atas.

Bima Sakti masih di sana. Tapi sekarang, di bawahnya, laut di sekeliling kapal menyala. Plankton berpendar di seluruh permukaan air, biru terang, berkilau setiap kali ombak kecil bergerak. Seperti langit tumpah ke laut. Seperti kami mengambang di tengah bintang.

“Ga,” bisikku.

“Hm.”

“Kalau kita nikah...”

Kalimat itu keluar sebelum aku memikirkannya. Ringan. Spontan. Seperti orang yang bilang kalau besok hujan.

“Kalau kita nikah,” kataku lagi, dengan senyum di bibir, menatap laut yang menyala, “aku mau di tempat yang ada bintangnya kayak gini. Atau di pantai. Atau di gunung. Atau di mana aja yang ada kamu.”

Aku menunggu dia menjawab.

Dia tidak menjawab.

Aku menoleh. Dia menatap laut. Wajahnya tidak berubah. Tenang. Tapi diamnya terlalu panjang. Lima detik. Tujuh. Sepuluh.

“Ga?”

“Hm.”

“Kamu diem.”

“Aku lagi bayangin,” katanya.

Kalimat yang sama yang dia ucapkan di telepon jam sebelas malam, waktu aku menceritakan rumah dengan jendela besar.

Aku lagi bayangin. Jendelanya.

Dan diam yang sama. Diam yang terlalu panjang.

Aku menatapnya. Ada sesuatu di sana. Di balik wajahnya yang tenang. Sesuatu yang dia simpan rapat, seperti dia menyimpan minggu ketiga dan hitungan dan nanti.

Aku tidak bertanya.

Belum.


Kami turun ke kabin jam sebelas malam.

Kabin terbaik untuk Sdr. Erga. Jendela bulat menghadap laut yang masih berpendar biru. Kasur besar dengan seprai putih. Lampu kecil di dinding yang memancarkan cahaya kuning redup.

Pintu tertutup di belakang kami.

Aku tidak tahu siapa yang mulai. Mungkin aku. Mungkin dia. Yang kuingat, satu detik kami berdiri di dekat pintu, dan detik berikutnya punggungnya menempel di dinding kabin dan aku menciumnya, dan tangannya di pinggangku, dan bibirnya di bibirku, lalu di rahangku, lalu di leherku.

Aku menarik napas tajam.

Bibirnya di leherku, di bawah telinga, di tempat yang membuat lututku hampir tidak kuat menahan berat tubuhku sendiri. Tangannya di punggungku, di bawah kausku, kulit di kulit. Hangat. Kapalan. Bergerak pelan di sepanjang tulang belakangku.

Aku menariknya ke kasur. Dia mengikuti. Kami jatuh di atas seprai putih, dia di atasku, menyangga berat tubuhnya dengan siku supaya tidak menindihku. Aku menariknya lebih dekat.

Jariku menemukan kancing teratas kemejanya. Membukanya. Kancing pertama.

Jariku bergerak ke kancing kedua.

Dan tangannya menahan tanganku.

Aku membuka mata.

Dia di atasku, menatapku dari jarak beberapa senti, dengan napas yang berantakan dan rambut yang acak-acakan karena tanganku. Kancing pertama kemejanya terbuka, memperlihatkan tulang selangka dan sedikit dada yang naik turun dengan cepat. Wajahnya merah. Matanya gelap.

Tangannya memegang tanganku di kancing kedua. Erat. Tidak menyakitkan, tapi tegas.

“Belum, Ra,” katanya.

Suaranya serak. Bergetar sedikit.

Aku menatapnya.

“Kenapa?” bisikku.

Dia menatapku lama. Napasnya masih tidak teratur. Aku bisa merasakan jantungnya berdebar di dadanya yang menempel di dadaku. Sangat cepat. Secepat jantungku.

“Karena aku mau ngelakuin ini dengan benar,” katanya. Pelan. Setiap kata seperti ditarik keluar dengan susah payah. “Sekali. Selamanya.”

Aku diam.

“Bukan di kapal,” lanjutnya. “Bukan di liburan yang dibayarin Papa kamu. Bukan sebelum aku...”

Dia berhenti.

“Sebelum kamu apa?”

Dia tidak menjawab. Dia menunduk, menempelkan dahinya ke dahiku, dan memejamkan mata.

“Belum, Ra,” bisiknya lagi. “Tolong.”

Tolong.

Laki-laki yang tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun.

Aku menatapnya. Laki-laki ini, di atasku, dengan napas berantakan dan jantung yang berdebar sangat keras, yang menahan dirinya sendiri dengan kekuatan yang aku bisa rasakan dari getaran di lengannya. Yang menginginkanku. Aku bisa melihatnya di matanya, merasakannya di napasnya, di caranya menggenggam tanganku. Dia menginginkanku sama seperti aku menginginkannya.

Dan dia berhenti. Karena dia mau melakukannya dengan benar.

Sesuatu di dadaku meleleh.

“Oke,” bisikku.

Dia membuka mata.

“Oke,” ulangku. Aku melepaskan tanganku dari kancing kemejanya dan meletakkannya di pipinya. “Dengan benar. Sekali. Selamanya.”

Dia menatapku. Lalu menghembuskan napas, panjang, seperti seseorang yang baru meletakkan beban yang sangat berat.

Dia berguling ke samping. Menarikku ke dadanya. Memelukku dari belakang, seperti di dek tadi. Selimut ditarik menutupi kami berdua.

“Tapi,” kataku, ke dinding kabin.

“Hm.”

“Kamu harus meluk aku sampai pagi.”

“Iya.”

“Nggak boleh ngecek siapa-siapa tiap jam.”

“Nggak ada yang perlu dicek.”

“Nggak boleh bangun jam empat buat liat sunrise.”

Dia tertawa pelan di rambutku. “Oke.”

Aku memejamkan mata. Di jendela bulat, laut masih berpendar biru. Kapal bergoyang pelan.

Dan di dalam kepalaku, aku mengulang kalimatnya yang tidak selesai.

Bukan sebelum aku...

Sebelum dia apa?

Aku tidak tahu. Tapi aku menyimpannya, bersama minggu ketiga dan hitungan dan nanti, dan diam yang terlalu panjang setiap kali aku bicara soal rumah dan pernikahan.

Satu kerang lagi dari pantai.

Kerang-kerangku sudah terlalu banyak. Dan aku mulai bisa melihat bentuk sesuatu dari semua kerang itu.