Chapter Two
Cowok yang Selalu Datang Duluan
POV: Clara
Senin pagi jam sembilan, dua laki-laki mengajakku makan siang sebelum aku sempat menyalakan laptop.
Yang pertama Bram dari tim sales, yang meletakkan sekotak donat di mejaku dengan sticky note berbentuk hati. Lunch bareng? Ada sushi baru di Senopati. Yang kedua Hendrik dari finance, yang lewat sambil membawa map dan berhenti di mejaku seolah kebetulan, padahal mejaku ada di ujung lorong yang tidak menuju ke mana-mana.
“Clara, siang nanti ada—”
“Ada meeting klien, Ndrik.”
“Habis meeting?”
“Ada meeting lagi.”
“Habis itu?”
“Aku pulang.”
Hendrik tersenyum seperti orang yang baru ditolak untuk ketiga belas kalinya dan sudah menerima nasibnya. “Oke. Besok?”
“Besok juga meeting.”
Dia pergi. Aku menyerahkan donat Bram ke tim intern yang langsung menyerbunya seperti burung merpati di alun-alun.
Aku brand manager untuk lini produk perawatan rambut di perusahaan consumer goods yang iklannya mungkin pernah kamu lihat di televisi jam tujuh malam. Umurku dua puluh delapan. Aku menangani anggaran miliaran rupiah, tiga agensi kreatif, dan satu bos yang mengirim email jam satu pagi.
Dan sejak umur delapan belas, aku tidak pernah benar-benar perlu mengejar apa pun.
Bukan sombong. Ini statistik. Sejak SMA, orang yang datang padaku. Mengajak makan, mengajak nonton, menawarkan tumpangan, mengirim bunga ke kantor, menulis surat panjang di kertas bergaris. Aku tidak pernah meminta. Aku tidak pernah perlu. Mama bilang itu berkah. Tante Mira bilang itu modal.
Aku bilang itu masalah.
Karena orang yang tidak pernah perlu mengejar tidak pernah belajar caranya.
Meeting klien jam sebelas di ruang rapat lantai dua puluh. Klienku kali ini jaringan supermarket premium yang mau mengeksklusifkan lini sampo baru kami di seluruh gerai mereka. Kontraknya besar. Pengaruhnya juga besar.
Dan wakil mereka adalah Dion Hartanto.
“Clara.” Dia berdiri ketika aku masuk, merapikan jasnya. Abu-abu gelap, potongannya pas, jam tangannya yang membuat Bram dari sales menelan ludah waktu pertama kali melihatnya. Umurnya tiga puluh, wajahnya bersih, senyumnya terlatih, dan dia anak pemilik jaringan supermarket itu.
“Pak Dion.”
“Dion aja. Kita kan udah kenal lama.”
Kami kenal dua bulan. Itu bukan lama. Tapi papanya dan papaku main golf bersama di Pondok Indah tiap Minggu pagi, dan menurut Tante Mira, itu sudah cukup untuk menganggap kami “kenal lama”.
Meeting berjalan lancar. Dion profesional ketika dia mau. Dia cerdas, menguasai angka, dan tahu kapan harus menekan dan kapan harus memberi. Kalau dia bukan Dion, aku mungkin akan menghormatinya.
Tapi di akhir meeting, ketika timku sudah keluar dan aku sedang membereskan laptop, dia bersandar di meja dan tersenyum.
“Sabtu kamu dateng ke nikahan Gilang?”
Gilang teman seangkatanku di kampus. Ternyata Dion kenal Gilang dari klub golf juga. Dunia ini sempit, dan dunia orang kaya lebih sempit lagi.
“Dateng.”
“Sama siapa?”
“Teman-teman.”
“Mau bareng aku? Aku jemput.”
“Udah ada yang jemput.”
Alisnya terangkat. “Pacar?”
Aku menutup laptop. “Teman.”
“Yang mana? Dokter itu?”
Selalu Putra. Semua orang selalu mengira Putra. Kami pernah difoto berdua di kondangan teman tiga tahun lalu, dan foto itu beredar di grup alumni dengan caption pasangan goals. Sejak itu, setiap orang yang melihat kami berdua langsung menarik kesimpulan yang sama.
Aku dan Putra sudah membahasnya. Kami tertawa. Kami sepakat itu konyol, karena aku tidak pernah memandang Putra seperti itu, dan Putra, sejauh yang kutahu, tidak pernah memandangku seperti itu juga.
Tapi kesimpulan orang lain berguna. Kesimpulan itu menjadi tembok yang sopan. Selama orang mengira aku dan Putra, tidak ada yang bertanya lebih jauh.
Dan tidak ada yang melihat ke arah kursi paling ujung.
“Bukan,” jawabku ke Dion. “Teman yang lain.”
“Ada teman yang lain?” Dion tertawa kecil, seperti mendengar lelucon. “Oh. Yang biasa nganter-nganter itu?”
Tanganku berhenti di atas tas.
“Yang mana?”
“Yang di foto-foto kamu. Yang selalu di pinggir.” Dion mengangkat bahu. “Aku kira dia sopir keluarga kamu.”
Aku menatapnya. Lama. Cukup lama sampai senyum Dion goyah sedikit.
“Sampai jumpa Sabtu, Pak Dion,” kataku, dan keluar dari ruang rapat.
Di lift, sendirian, aku membuka dompet.
Di balik kartu kredit dan KTP, di antara foto Mama dan Papa dan bon parkir yang lupa kubuang, ada selembar karton kecil berukuran kartu nama. Ujungnya sudah melengkung. Tinta spidolnya sudah memudar dari hitam menjadi abu-abu. Aku melapisinya plastik sejak tahun kedua kuliah, waktu sadar karton itu mulai robek di pinggir.
ERGA — GUGUS 7
Tulisan tangannya rapi, huruf kapital semua, seperti tulisan orang yang terbiasa mengisi formulir.
Sepuluh tahun, dan aku masih membawanya ke mana-mana.
Hari kedua Ospek. Lapangan rektorat, jam enam pagi, Bandung yang dinginnya menusuk tulang. Tujuh ratus mahasiswa baru berbaris dalam gugus-gugus, memakai kemeja putih dan rok hitam atau celana hitam, dengan name tag karton di dada dan pita sesuai warna gugus di lengan.
Aku lupa membawa name tag.
Aku ingat persis paniknya. Kos baru, kamar baru, alarm yang belum kukenal bunyinya. Aku bangun kesiangan, berlari ke kampus dengan rambut masih basah, dan baru sadar di gerbang bahwa name tag-ku masih tertempel di cermin kamar, di tempat aku menaruhnya semalam supaya tidak lupa.
Ironis.
Senior yang menjaga gugus kami namanya Kak Bondan. Badannya besar, suaranya keras, dan dia punya hobi menghukum. Kemarin dia sudah menghukum enam orang dari gugus lain karena hal-hal yang lebih sepele dari name tag.
Aku berdiri di barisan gugus tujuh dengan dada kosong dan tangan dingin. Kak Bondan berjalan dari ujung barisan, memeriksa satu per satu.
Lima orang lagi.
Empat.
Lalu sesuatu menyentuh bahuku.
Aku menoleh. Laki-laki di sebelahku, yang kemarin hampir tidak bicara sama sekali selama satu hari penuh. Rambutnya pendek dan rapi, wajahnya biasa saja, matanya tenang. Aku bahkan belum tahu namanya. Dia yang kemarin diam-diam memungut sampah botol minum di sekitar gugus kami waktu yang lain sibuk berkenalan.
Dia sedang melepas name tag dari dadanya sendiri.
“Kamu—”
“Pakai,” katanya pelan.
“Tapi kamu—”
“Biar aku aja.”
Dia menyematkan name tag itu di kemejaku dengan peniti, cepat, rapi, tanpa menyentuhku lebih dari yang perlu. Lalu dia kembali menghadap depan seperti tidak terjadi apa-apa.
Kak Bondan sampai di depanku. Melihat name tag di dadaku sekilas. Yang dia cari cuma ada atau tidak ada. Dia tidak membaca namanya.
Dia lanjut ke sebelahku.
“Mana name tag kamu?”
“Lupa, Kak.”
“LUPA?”
“Lupa, Kak.”
“Lari sepuluh keliling lapangan. SEKARANG.”
Dia lari. Sepuluh keliling lapangan rektorat, di udara jam enam pagi Bandung, dengan kemeja putih yang lama-lama basah oleh keringat. Tujuh ratus mahasiswa baru menontonnya. Beberapa tertawa.
Aku tidak tertawa. Aku berdiri di barisan dengan name tag bertuliskan nama laki-laki yang tidak kukenal, dan jantungku berdetak dengan cara yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Di keliling ketujuh, dia melewati barisan kami, dan matanya bertemu mataku sebentar.
Dia tidak tersenyum. Dia tidak terlihat menyesal. Dia cuma mengangguk sedikit, seperti mau bilang nggak apa-apa, lalu lanjut lari.
Sepanjang hari itu, aku memakai name tag bertuliskan ERGA. Anak-anak gugus kami menggodaku habis-habisan. Faisal memanggilku “Mbak Erga” sampai sore. Keisha bertanya apakah kami sudah jadian. Putra tertawa. Zara diam saja, tapi menatapku dengan mata yang aneh.
Sorenya, aku mencari dia untuk mengembalikan name tag itu.
Dan aku tidak jadi mengembalikannya.
Dia sedang duduk sendirian di tangga gedung fakultas, memijat betisnya yang kram, dan ketika aku mendekat, dia mendongak dan bertanya: “Udah makan?”
Bukan “mana name tag-ku”. Bukan “kamu harus ganti rugi”. Bukan apa pun tentang dirinya sendiri.
“Udah makan?”
Aku bilang belum. Dia membuka tasnya, mengeluarkan dua roti sobek cokelat yang sudah agak gepeng, dan memberikan satu padaku.
Kami makan dalam diam di tangga itu. Dan name tag itu tetap di saku kemejaku.
Besoknya dia membuat name tag baru, dengan tulisan kapital rapi yang sama. Dia tidak pernah menanyakan yang lama.
Sepuluh tahun kemudian, dia masih belum menanyakannya.
Lift berhenti di lantai dua puluh tiga. Aku menutup dompet.
Semua orang mengira aku dan Putra.
Semua orang salah.
Aku jatuh cinta pada laki-laki yang selalu duduk di kursi paling ujung. Laki-laki yang membawa APAR di bagasi mobilnya. Laki-laki yang tahu golongan darah kami berlima tapi tidak pernah memberi tahu golongan darahnya sendiri. Laki-laki yang selalu bertanya “udah makan?” sebelum bertanya apa pun yang lain.
Aku jatuh cinta padanya di keliling ketujuh lapangan rektorat, waktu dia mengangguk padaku sambil berlari dengan kemeja basah.
Dan selama sepuluh tahun, aku tidak pernah mengatakannya.
Karena aku tidak tahu caranya. Karena aku perempuan yang selalu dikejar, dan aku tidak pernah belajar berlari. Karena kalau aku bilang dan dia tidak merasakan hal yang sama, maka Jumat malam di Dapur Isal akan berubah. Kursi di sebelah kursi paling ujung akan menjadi canggung. Grup “Gugus 7 (Jangan Bubar)” akan menjadi grup yang hati-hati.
Dan aku lebih takut kehilangan itu daripada kehilangan dia sebagai sesuatu yang lain.
Jadi aku melakukan hal-hal kecil. Menyuapinya nasi goreng yang dingin. Memesankan es teh tawar sebelum dia sadar dia haus. Duduk di sebelahnya tiap Jumat. Mencuri jaketnya. Mencatat hal-hal kecil tentangnya seperti orang mengoleksi perangko.
Dan berharap suatu hari dia melihat ke arahku dan sadar.
Masalahnya, dia selalu melihat ke arahku. Dia cuma tidak pernah melihat seperti yang aku mau.
Jam satu siang, aku makan salad di meja kerjaku sendirian, dan mengirim pesan.
Kamu udah makan?
Tiga menit. Lalu:
Udah. Nasi padang. Kenapa?
Nggak. Pengen tahu aja.
Kamu?
Aku menatap salad di depanku. Daun selada yang sedih, tomat ceri yang terlalu asam, dan ayam panggang yang rasanya seperti kardus.
Salad. Nggak enak.
Kenapa beli kalau nggak enak?
Biar langsing.
Jeda. Titik-titik mengetik muncul, hilang, muncul lagi.
Kamu udah langsing, Ra.
Aku menatap pesan itu lama sekali. Bram dari sales lewat di belakangku dan bertanya kenapa aku senyum-senyum ke HP. Aku bilang bukan urusannya.
Sabtu jemput aku ya, tulisku. Ke nikahan Gilang.
Putra?
Selalu Putra. Bahkan dia pun.
Putra jemput Keisha. Rumah mereka searah. Kamu jemput aku.
Oke. Jam berapa?
Jam 6. Jangan pakai kemeja yang kotak-kotak biru itu.
Kenapa?
Karena aku mau kamu ganteng.
Aku menekan kirim sebelum sempat menyesalinya. Lalu langsung menyesalinya. Lalu menutup HP dengan telapak tangan seperti itu bisa menghapus pesannya.
Satu menit. Dua menit. Tidak ada balasan.
Tiga menit.
HP-ku bergetar.
Kemeja putih atau hitam?
Aku menutup mulut dengan tangan supaya tidak tertawa sendirian di kantor seperti orang gila.
Putih, balasku. Lengan digulung.
Oke.
Cuma “oke”. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada “kenapa kamu mau aku ganteng”. Tidak ada godaan balik.
Itu dia. Itu Erga. Laki-laki yang akan memakai kemeja putih dengan lengan digulung hari Sabtu nanti karena aku memintanya, dan tidak akan bertanya kenapa.
Grup berbunyi. Keisha mengirim voice note empat puluh detik yang isinya, kalau disimpulkan, dia sudah backup laptopnya hari ini. Erga membalas dengan satu jempol. Faisal membalas KEAJAIBAN. Putra membalas screenshot buktinya. Zara membalas k.
Lalu Mama menelepon.
“Clara, Sabtu kamu ke nikahan anaknya Om Hardi, kan? Tante Mira bilang Dion juga dateng.”
“Iya, Ma.”
“Dion bilang dia nawarin jemput tapi kamu udah ada yang jemput.”
Dion sudah melapor. Hebat. Hanya dalam dua jam.
“Iya, Ma.”
“Siapa?”
“Teman.”
“Putra?”
Aku memejamkan mata. “Erga, Ma.”
Hening sebentar di seberang. “Oh. Erga yang itu.”
Erga yang itu. Seolah ada banyak Erga, dan yang ini adalah yang kurang penting.
“Iya, Ma. Erga yang itu.”
“Ya udah. Tapi kalau ketemu Dion di sana, yang ramah ya, Sayang. Papa lagi ada urusan sama papanya.”
Aku menutup telepon dan menatap name tag di dompetku sekali lagi.
Erga yang itu.
Iya, Ma. Erga yang itu. Yang lari sepuluh keliling lapangan untukku sebelum tahu namaku. Yang menyelamatkan rapor tiga puluh dua anak SD hari Jumat kemarin. Yang menghabiskan es teh dariku dan bilang enak.
Erga yang itu, Ma.
Satu-satunya Erga yang aku mau.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan reading
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja