← Biar Aku Aja

Chapter Sixteen

Calon dari Tante

POV: Clara


“Pelajaran pertama,” kata Zara di telepon, Senin malam. “Bawa dia ke wilayah lo.”

“Wilayah aku?”

“Tempat lo yang pegang kendali. Bukan Dapur Isal. Bukan mobil dia. Bukan tempat dia bisa sibuk ngambil sambal buat orang lain.” Aku mendengar bunyi pensil mengetuk meja di seberang. Zara mencatat. Zara benar-benar membuat catatan untuk ini. “Apartemen lo.”

“Zar, aku nggak bisa tiba-tiba ngundang dia ke apartemen. Itu...”

“Lampu balkon.”

Aku diam.

“Dia janji pasang lampu balkon lo habis Puncak. Dia nggak pernah lupa janji. Lo tinggal bilang hari apa.” Ketukan pensil berhenti. “Dia bakal dateng bawa tangga, kabel, sama obeng. Lo yang pegang sisanya.”

“Sisanya apa?”

“Ra. Lo dua puluh delapan tahun. Lo brand manager. Lo pernah bikin kampanye sampo yang bikin ibu-ibu se-Indonesia ngerasa rambutnya kayak bintang iklan.” Jeda. “Pakai otak lo.”

Panggilan berakhir.

Aku menatap HP. Lalu membuka chat dengan Erga.

Lampu balkon. Rabu malam bisa?

Balasannya datang dalam empat puluh detik.

Bisa. Jam 7.


Rabu jam tujuh kurang lima, bel apartemenku berbunyi.

Tentu saja jam tujuh kurang lima.

Aku sudah siap sejak jam lima. Mandi. Rambut dicuci dengan sampo yang kupasarkan, karena kalau tidak dipakai sendiri, aku merasa seperti penipu. Kaus putih tipis yang sedikit kebesaran, celana pendek katun, kaki telanjang. Tanpa riasan, kecuali lip balm berwarna. Aku menghabiskan empat puluh menit untuk terlihat seperti tidak menghabiskan waktu sama sekali.

Aku membuka pintu.

Erga berdiri di koridor dengan tangga lipat aluminium di satu bahu, tas kain berisi kabel dan perkakas di tangan yang lain, dan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung.

Dia menatapku. Kaus putih. Celana pendek. Kaki telanjang. Rambut yang masih sedikit basah.

Satu detik.

Dua.

“Lampunya di mana?” tanyanya.

Aku menahan senyum. “Balkon, Ga. Lampu balkon.”

“Iya. Maksudnya lampunya udah kamu beli, atau aku pakai yang aku bawa?”

“Kamu bawa?”

“Aku beli lebih waktu di Glodok.”

Dia membeli lampu lebih. Untukku. Waktu dia sedang membeli lampu untuk lamaran yang dia kira lamaranku.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku membuka pintu lebih lebar dan membiarkannya masuk.


Balkon apartemenku kecil, tiga kali satu setengah meter, di lantai delapan belas, menghadap gedung-gedung Kuningan yang bercahaya. Ada dua kursi rotan, meja kecil, dan tiga pot tanaman yang separuh mati karena aku lupa menyiramnya.

Erga membuka tangga, memeriksa kekuatannya, lalu memanjat. Dia mulai mengukur rel tirai di atas pintu balkon dengan meteran saku.

“Kamu mau bentuknya gimana?”

“Kayak di film.”

“Film apa?”

“Film yang ada lampunya.”

Dia menatapku dari atas tangga. Datar.

“Ra.”

“Terserah kamu. Kamu yang pinter.”

Dia menghela napas, pelan, dan kembali mengukur.

Aku berdiri di bawah tangga. Seharusnya aku memegang tangga. Itu alasan resminya. Aku memegang tangga dengan dua tangan, dan berdiri cukup dekat sampai bahuku menyentuh kakinya.

“Ra.”

“Hm?”

“Kamu kedeketan.”

“Aku megangin tangga.”

“Tangganya nggak goyang.”

“Bisa aja goyang.”

“Aku udah cek. Nggak bakal goyang.”

“Kamu nggak tahu masa depan, Ga.”

Dia menatapku lagi dari atas. Aku menatap balik dengan wajah polos. Dia kembali bekerja. Tapi aku melihat telinganya. Telinganya merah.

Pelajaran pertama berhasil, pikirku.


Dia memasang lampu tumblr di sepanjang rel tirai, lalu menjuntaikannya ke bawah dalam garis-garis lurus seperti tirai cahaya. Satu set lagi dia lilitkan di pagar balkon. Lalu dia mengeluarkan lampu gantung bola kecil, sisa dari gazebo, dan menggantungnya di sudut atap dengan kait yang dia pasang dengan bor kecil.

Seluruh proses memakan waktu satu jam. Selama satu jam itu, aku menyiapkan teh, menyodorkan obeng, memegang kabel, dan berdiri di dekatnya sedekat mungkin tanpa terlihat sengaja.

Gagal. Aku terlihat sengaja. Aku tahu aku terlihat sengaja. Erga juga tahu. Dia tidak berkomentar.

Lalu dia turun dari tangga, mencolokkan kabel ke stop kontak di dalam, dan berkata, “Matiin lampu kamar.”

Aku mematikan lampu.

Balkon menyala.

Ribuan titik cahaya kuning hangat. Tirai lampu menjuntai dari rel seperti hujan cahaya. Pagar berkilau. Lampu-lampu bola kecil di sudut bersinar seperti bulan-bulan mungil. Dan di belakangnya, gedung-gedung Kuningan dengan jendela-jendela terangnya, seperti ribuan lampu lain yang ikut menemani.

Aku berdiri di ambang pintu balkon, mulut terbuka.

“Ga.”

“Hm.”

“Ini kayak di film.”

Dia berdiri di sebelahku, menatap hasil kerjanya dengan wajah datar yang sedikit puas.

“Ini kayak di balkon kamu,” katanya.

Aku menoleh. Dia sudah menatapku. Bukan lampu, bukan gedung. Aku.

Cahaya kuning memantul di matanya. Jaraknya dekat. Lebih dekat dari waktu dia di tangga.

“Bagus?” tanyanya pelan.

“Bagus banget.”

“Kamu suka?”

“Suka banget.”

Dia mengangguk. Lalu, sebelum aku sempat berkata apa-apa lagi, sebelum aku sempat menjalankan pelajaran kedua, yang belum diajarkan Zara, dia mengambil tangganya.

“Udah malam. Aku pulang.”

“Ga, kamu belum minum tehnya.”

“Udah dingin.”

“Aku bikinin lagi.”

“Nggak usah, Ra.” Dia melipat tangga. “Besok aku kerja pagi.”

Aku mengikutinya ke pintu. Dia memakai sepatu. Mengangkat tangga ke bahu. Lalu, di ambang pintu, dia berhenti.

“Ra.”

“Hm?”

Dia tidak menoleh. Dia menatap koridor.

“Kausnya,” katanya. “Lain kali jangan yang putih. Kalau ada tamu.”

Pintu tertutup.

Aku berdiri di balik pintu dengan wajah terbakar.

Lalu aku berlari ke kamar mandi, menatap cermin, menatap kaus putih tipisku di bawah lampu kamar mandi yang terang.

Lalu aku menjerit ke handuk.


Gimana? tanya Zara lewat chat, jam sepuluh.

Dia bilang kausku jangan yang putih kalau ada tamu.

Tiga titik. Muncul. Hilang. Muncul.

Itu bagus.

BAGUS GIMANA?? AKU MALU.

Ra. Dia NGELIAT. Erga nggak pernah ngeliat. Dia ngeliat dan dia ngomong. Itu kemajuan.

Aku menatap pesan itu lama.

Pelajaran kedua apa?

Nanti. Lo istirahat dulu. Malu lo perlu diproses.


Hari Minggu, makan malam keluarga di rumah Menteng.

Rumah orang tuaku adalah rumah tua bergaya kolonial dengan pilar putih dan halaman rumput yang terlalu luas untuk tiga orang. Papa membelinya dua puluh tahun lalu, waktu percetakannya baru mulai besar. Mama menghiasinya dengan perabot jati dan lukisan-lukisan pemandangan yang tidak pernah dilihat siapa pun.

Tante Mira datang lebih dulu. Tentu saja.

Tante Mira adalah adik Mama. Lima puluh dua tahun, janda kaya dari almarhum suami yang punya pabrik tekstil, tidak punya anak, dan akibatnya memutuskan bahwa aku adalah proyek hidupnya. Dia memakai kebaya modern berwarna fuchsia dan kalung mutiara tiga lapis, dan dia menyambutku di ruang tamu dengan pelukan yang wangi parfum mahal dan berkata, sebelum aku sempat duduk:

“Dion nanyain kamu.”

“Halo juga, Tante.”

“Dia bilang kamu pulang duluan dari makan malam di Bogor. Sendirian. Jam sebelas malam.” Tante Mira menatapku dengan alis terangkat. “Terus mobilmu mogok di tol.”

Aku menoleh ke Mama. Mama menunduk ke vas bunga.

“Mama yang cerita?”

“Tante nanya, Sayang. Mama jawab.”

“Siapa yang jemput kamu?” tanya Tante Mira.

Aku diam.

“Erga,” kata Mama pelan.

Tante Mira menghela napas panjang. Napas yang dia keluarkan seperti aktris sinetron menghela napas di depan kamera.

“Clara,” katanya. “Sayang. Tante ngerti kamu sayang sama teman-teman kamu. Tante ngerti. Tante juga punya teman dari SMA. Tapi kamu harus ngerti juga. Kamu umur dua puluh delapan. Kamu cantik. Kamu pinter. Kamu manajer. Dan ada laki-laki yang serius, dari keluarga baik, yang mapan, yang mau kenal kamu lebih jauh.”

“Dion.”

“Dion.”

“Aku nggak tertarik, Tante.”

“Kamu belum kasih kesempatan.”

“Aku udah kasih kesempatan. Tiga jam makan malam di Bogor.”

“Itu bukan kesempatan, itu formalitas.” Tante Mira duduk di sofa, merapikan kebayanya. “Keluarga Hartanto mau ngajak makan malam lagi. Bulan depan. Lebih serius. Mereka mau kenalan sama keluarga kita lebih dalam.”

“Lebih dalam?”

“Kamu tahu maksud Tante.”

Aku menatap Papa, yang baru masuk dari ruang kerja dengan kacamata baca di kepala. Papa menatapku. Lalu menatap Tante Mira. Lalu duduk di kursinya tanpa berkata apa-apa, seperti biasa. Papa tidak pernah melawan Tante Mira di meja makan. Katanya, untuk menjaga perdamaian.

“Tante,” kataku. “Aku nggak mau dijodohin.”

“Siapa yang jodohin? Tante cuma kenalin.”

“Itu sama.”

“Beda. Dijodohin itu kamu nggak punya pilihan. Dikenalin itu kamu punya pilihan.” Tante Mira tersenyum. “Dan Tante cuma mastiin kamu milih yang tepat.”

“Kalau aku udah punya pilihan?”

Ruangan sunyi.

Mama berhenti merapikan bunga. Papa menurunkan kacamata dari kepalanya ke hidung. Tante Mira menatapku dengan mata menyipit.

“Siapa?”

Aku tidak menjawab.

“Clara.”

“Tante tahu siapa.”

Tante Mira menatapku lama. Lalu tertawa. Tawa kecil yang tidak ramah.

“Erga?” katanya. “Sayang. Erga itu kan temennya aja.”

Temennya aja.

Kalimat yang sama. Dari Rina di kondangan. Dari orang-orang di grup alumni. Sekarang dari Tante Mira, di ruang tamu rumahku sendiri, di depan orang tuaku.

“Dia baik, Tante nggak bilang dia nggak baik,” lanjut Tante Mira. “Dia sopan. Dia rajin. Waktu lebaran dia bantu Papa kamu benerin printer di kantor. Tante inget. Tapi Clara, Sayang, realistis. Dia staf IT. Dia tinggal sama ibunya di kontrakan di Depok. Mobilnya Jazz tahun tiga belas tahun lalu.” Dia mengangkat bahu dengan elegan. “Dia teman yang baik. Teman. Kamu nggak mau masa depan kamu dibangun di atas ‘teman yang baik’.”

Aku berdiri.

“Clara,” kata Mama.

“Aku nggak lapar, Ma.”

“Sayang, duduk dulu.”

“Tante nggak tahu apa-apa soal dia.” Suaraku bergetar. Aku benci suaraku bergetar. “Tante nggak tahu dia lari sepuluh keliling lapangan buat aku waktu Ospek padahal dia belum tahu namaku. Tante nggak tahu dia nyetir jam dua pagi ke tol buat jemput aku dan bawa martabak. Tante nggak tahu dia matiin api di dapur sahabat kami pakai APAR yang dia bawa sendiri di bagasi, karena dia selalu siap buat semua orang.”

“Clara—”

“Dia bukan ‘temennya aja’, Tante. Dia...”

Aku berhenti.

Dia apa? Dia bukan pacarku. Dia belum bilang apa-apa. Dia bahkan, di balkon Puncak, cuma bilang maaf bikin kamu nangis lalu pergi. Aku tidak punya kata untuk apa dia.

Tante Mira menatapku dengan alis terangkat, menunggu.

“Dia Erga,” kataku akhirnya. Kalimat yang sama yang kukatakan padanya di mobil, setelah kondangan Gilang. “Itu cukup.”

Aku mengambil tasku dan pergi.

Di belakangku, aku mendengar Tante Mira berkata, “Dia lagi labil, Mbak. Biarin aja dulu.” Dan Mama berkata, “Mira, cukup.” Dan Papa, untuk pertama kalinya, berdeham keras.

Aku tidak menunggu untuk mendengar sisanya.


Jam sebelas lewat empat puluh, aku berbaring di tempat tidur apartemen, dengan lampu kamar mati dan lampu balkon menyala, cahaya kuningnya menembus tirai tipis dan memenuhi kamarku dengan warna madu.

Aku menatap HP. Membuka chat dengan Erga.

Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Zara belum mengajarkan pelajaran kedua. Tapi Zara juga bilang, pakai otak lo.

Ga.

Centang dua. Biru. Dia masih bangun.

Hm.

Tanteku mau jodohin aku sama Dion. Makan malam keluarga bulan depan. “Lebih serius.”

Tiga titik muncul. Lama. Hilang. Muncul lagi.

Aku menatap layar sampai mataku perih.

Kamu keberatan? tulisku, sebelum dia sempat membalas.

Tiga titik berhenti.

Lalu muncul lagi. Lebih lama dari sebelumnya.

Kamu yang keberatan?

Aku menggigit bibir.

Dia membalikkan pertanyaanku. Tentu saja dia membalikkannya. Erga tidak pernah menjawab pertanyaan tentang dirinya sendiri. Dia selalu memutarnya kembali, ke kamu, ke Keisha, ke Faisal, ke siapa saja selain dirinya.

Tapi aku tidak akan membiarkannya kali ini.

Iya, tulisku. Aku keberatan.

Tiga titik.

Muncul.

Hilang.

Muncul.

Lima detik.

Sepuluh.

Lalu:

Ya udah. Aku juga.

Aku menatap layar.

Aku membacanya lagi. Lalu lagi. Lalu lagi.

Ya udah. Aku juga.

Lima kata. Tanpa tanda seru. Tanpa emoji. Tanpa penjelasan. Lima kata yang diketik dengan tenang dan datar, persis seperti dia mengetik router udah nyala atau lampu udah beli.

Aku juga.

Aku membenamkan wajah ke bantal dan menjerit.

Panjang. Keras. Sampai suaraku habis dan bantalnya basah. Aku menendang selimut. Aku berguling ke kiri dan ke kanan. Aku menjerit lagi.

HP-ku bergetar. Aku mengangkat wajah dari bantal dengan rambut berantakan dan napas tersengal.

Ra.

APA.

Tidur. Udah jam 12.

Aku menatap pesan itu, lalu menjerit ke bantal lagi.

Lalu aku membuka chat dengan Zara dan mengirim tangkapan layar percakapan itu tanpa komentar.

Zara membalas dalam tiga detik. Zara, yang tidak pernah membalas dalam tiga detik.

Oke.

Pelajaran kedua dimulai Sabtu.

Kelas masak. Apartemen gue.

Pakai kaus yang nggak putih.