Chapter Thirty Seven
Giliran Kami
POV: Faisal
Aku sudah memasak tiga jenis makanan sebelum ada yang datang.
Itu yang kulakukan kalau aku panik. Orang lain menggigit kuku, mondar-mandir, menelepon seseorang. Aku memasak. Ibuku bilang aku dari kecil begitu. Waktu Bapak sakit tipes waktu aku kelas lima SD, aku memasak nasi goreng untuk satu RT.
Jam satu siang, Clara mengirim pesan ke grup: Rapat darurat. Dapur Isal. Jam tiga sore. Semua wajib. Kecuali Erga. Erga tidur.
Kecuali Erga.
Itu yang membuatku panik.
Sepuluh tahun Gugus Tujuh, tidak pernah ada rapat tanpa Erga. Erga yang menyatukan meja. Erga yang menata kursi. Erga yang duduk di ujung. Rapat tanpa Erga seperti nasi goreng tanpa nasi. Itu bukan nasi goreng. Itu tumis bumbu.
Jadi aku memasak. Nasi goreng kampung, karena aku selalu memasak itu. Sup ayam jahe, karena semalam Erga kelihatan seperti orang sakit. Dan pisang goreng, karena Zara suka pisang goreng, dan Zara akan datang, dan aku tidak bisa berhenti memikirkan Zara bahkan di tengah kepanikan.
Zara datang pertama. Jam dua lewat empat puluh. Dia membuka pintu kedai yang tutup, melihatku di belakang konter dengan tiga wajan menyala, dan berhenti di ambang pintu.
“Sal.”
“Hm.”
“Lo masak buat berapa orang?”
“Empat. Lima. Sepuluh. Nggak tahu.”
“Kita cuma berempat. Erga nggak dateng.”
“Gue tahu.” Aku mengaduk sup. Terlalu cepat. Kuahnya muncrat ke kompor. “Makanya gue masak banyak. Biar ada sisa buat dia.”
Zara menatapku. Lalu dia masuk, menutup pintu, berjalan ke belakang konter, dan berdiri di sebelahku. Dia mengambil sendok kayu dari tanganku. Mengecilkan api kompor. Mengaduk sup dengan pelan.
“Pelan-pelan,” katanya. “Kayak cinta.”
Aku menoleh.
Dia tidak menoleh. Dia menatap sup. Tapi ujung bibirnya naik.
Itu kalimatku. Di kelas masak di apartemennya. Sambal emang kayak cinta. Pelan tapi pasti. Dia bilang aku sudah mengucapkannya empat kali. Dia menghitung.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku cuma berdiri di sebelahnya, bahu menempel, menatap dia mengaduk sup ayam jahe untuk laki-laki yang tidak datang.
“Zar,” kataku.
“Hm.”
“Lo tahu ini soal apa.”
Dia berhenti mengaduk. Satu detik. Lalu mengaduk lagi.
“Gue tahu,” katanya.
“Dari semalem?”
“Dari semalem.”
“Kenapa lo nggak bilang?”
“Karena bukan gue yang harus bilang.” Dia meletakkan sendok kayu. Menatapku. Untuk pertama kalinya hari itu. Matanya merah. “Clara yang bakal bilang. Dan lo harus dengerin dari awal sampai akhir, Sal. Jangan potong. Jangan nangis di tengah. Jangan masak lagi.”
“Gue nggak bisa janji nggak nangis.”
“Gue tahu.” Dia menyentuh lenganku. Sebentar. “Nangis aja. Tapi jangan masak.”
Putra dan Keisha datang jam tiga kurang lima. Clara datang jam tiga tepat.
Clara terlihat seperti orang yang tidak tidur. Matanya bengkak. Wajahnya pucat. Rambutnya dikuncir asal. Dia memakai jaket abu-abu tebal yang belum pernah kulihat, bukan jaket hitam Erga yang selalu dia pakai.
Dia duduk di meja. Meja kayu dekat jendela, yang biasa kami pakai tiap Jumat. Tapi kali ini cuma ada lima kursi.
Kursi paling ujung kosong. Aku tidak duduk di sana. Aku tidak tahu kenapa.
“Oke,” kata Clara. Suaranya serak. “Aku mau cerita sesuatu. Erga yang minta aku cerita. Dia nggak bisa cerita sendiri.”
Putra menegakkan punggung. Keisha meraih tangan Putra di atas meja.
Clara mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. Fotokopi. Kertas bergaris dengan tulisan tangan huruf kapital. Fotokopi dari Bang Rizal. Yang kuletakkan di tengah meja semalam dan lupa kubawa pulang.
Dia meletakkannya di tengah meja lagi.
“Sal,” katanya. “Lihat tulisannya.”
Aku menatap kertas itu. Aku sudah menatapnya puluhan kali sejak Bang Rizal memberikannya padaku. Huruf kapital. Rapi. Tegak.
BUAT REKENING BARU ATAS NAMA FAISAL RAHMAN.
“Gue udah lihat, Ra.”
“Lihat lagi.”
Aku menatapnya lagi. Huruf A dengan garis tengah yang rendah. Huruf G yang ekornya menekuk ke dalam.
Aku tidak mengerti.
“Ra, gue nggak ngerti—”
Zara mengangkat tangannya ke dinding di belakang konter. Ke bingkai kayu yang kugantung dua minggu lalu, untuk ulang tahun kedai. Di dalamnya ada dua sticky note kuning.
SAL. BELI ROUTER BARU. —E
SAL. BELI ROUTER BARU. INI SUDAH TIGA TAHUN. —E
Aku menatap sticky note itu.
Lalu menatap fotokopi di meja.
Lalu menatap sticky note lagi.
Huruf kapital. Rapi. Tegak. Huruf A dengan garis tengah yang rendah. Dan di bawahnya, satu huruf.
E.
Aku tidak ingat berdiri. Tapi tiba-tiba aku berdiri, dan kursiku jatuh ke belakang dengan bunyi keras di lantai.
“Nggak,” kataku.
Clara menatapku.
“Nggak. Nggak mungkin. Ra. Nggak mungkin.” Suaraku naik. “Erga? Erga nggak punya duit seratus delapan puluh juta. Erga tinggal di kontrakan. Erga naik Jazz tua. Erga pakai kaus yang bolong di ketiak. Erga nggak mungkin—”
“Itu tabungan DP rumahnya, Sal.”
Aku berhenti.
“Dari umur dua puluh tiga,” kata Clara pelan. “Buat rumah dua kamar di Depok, halaman kecil buat Ibu tanam cabai. Seratus delapan puluh dua juta. Dua tahun lalu, bulan Juni, semuanya pergi dalam satu malam. Ke rekening notaris. Buat kedai kamu.”
Aku menatap Clara.
“Bulan Juni,” bisikku. “Malam itu. Gue telepon dia jam sebelas. Dia dateng. Gue bilang...”
Jangan tawarin, Ga. Gue nggak mau persahabatan kita ada utangnya.
“Gue bilang jangan tawarin,” kataku. Suaraku pecah. “Gue bilang ke dia, jangan tawarin. Dan dia bilang... dia bilang...”
Aku nggak nawarin.
“Dia nggak nawarin,” kata Zara pelan. “Dia ngasih.”
Aku menangis.
Clara bilang dia mau cerita dari awal sampai akhir. Zara bilang jangan potong. Aku tidak memotong. Aku duduk kembali di kursi yang Putra angkat dari lantai untukku, dan aku mendengarkan, dan aku menangis.
Clara cerita soal makam Bapak Erga tadi pagi. Soal minggu ketiga kuliah. Soal telepon dari Ibu jam sembilan malam. Soal lari dari Cisitu ke terminal Leuwipanjang karena tidak ada angkot. Soal tiga jam terlambat. Soal pintu IGD yang tertutup.
Soal pemakaman di bawah hujan. Soal keluarga yang tidak datang. Soal teman SMA yang cuma mengirim stiker.
Soal Kijang hijau tua yang berhenti di ujung gang.
“Lo,” kata Clara, menatapku, “turun pertama. Bawa dua kantong gede. Nasi bungkus empat puluh.”
Aku menatapnya.
Aku ingat. Aku ingat hujan. Aku ingat Putra menyetir Kijang bapaknya di tol Cipularang jam tiga pagi dengan tangan gemetar karena baru punya SIM dua bulan. Aku ingat Keisha menangis di jok belakang dari Bandung sampai Depok. Aku ingat rest area di kilometer sembilan puluh tujuh, warung dua puluh empat jam, aku membeli semua nasi bungkus yang mereka punya dengan uang jajan sebulan dari Bapak. Aku ingat berpikir, orang yang dateng melayat harus makan.
Aku tidak ingat lebih dari itu. Aku tidak pernah memikirkannya lagi. Itu cuma hal yang kami lakukan. Erga kehilangan bapaknya. Kami datang. Itu saja.
“Dia nggak lupa, Sal,” kata Clara. “Sepuluh tahun dia nggak lupa. Empat puluh nasi bungkus. Payung rusak Keisha. Zara megangin payung tiga jam di atas kepala Ibu. Putra ngurus surat-surat.”
Dia menatap kami satu per satu.
“Dia bilang, hari itu, di depan rumahnya, di bawah hujan, waktu kita turun dari Kijang, dia janji. Seumur hidup, dia yang dateng duluan buat kita. Karena kita dateng duluan buat dia.”
Keisha menangis di bahu Putra. Putra menatap meja, rahangnya mengeras, matanya merah. Zara menunduk, dan aku melihat tetesan air jatuh di atas meja kayu di depannya.
Dan aku.
Aku mengambil sendok. Dan menyuap nasi goreng kampung dari piring di depanku.
“Sal,” kata Zara. Suaranya basah. “Lo bilang lo nggak bakal masak.”
“Gue nggak masak,” kataku, dengan mulut penuh, sambil menangis. “Gue makan.”
“Lo nangis sambil makan.”
“Gue selalu nangis sambil makan.”
Aku menyuap lagi. Air mataku jatuh ke piring. Nasi goreng kampung. Resep yang sama yang kumasak untuk Erga setiap Jumat selama sepuluh tahun. Dia duduk di kursi paling ujung dan memakannya dan tidak pernah bilang apa-apa.
Seratus delapan puluh juta.
Dan setiap Jumat dia memakan nasi goreng yang kumasak di dapur yang dia selamatkan, dan aku tidak pernah tahu.
“Bego,” kataku, di antara suapan. “Dia bego. Bego banget. Kenapa dia nggak bilang? Gue bisa... gue bisa...”
“Lo bakal nolak,” kata Zara.
“Gue bakal nolak!” Aku membanting sendok. “Iya, gue bakal nolak! Gue bakal nyuruh dia ambil balik! Gue bakal nutup kedai dan pulang ke Garut daripada ngambil tabungan rumah dia!”
“Makanya dia nggak bilang.”
Aku menatap Zara.
Zara menatapku balik. Wajahnya basah. Datar. Tapi matanya tidak datar.
“Dia tahu lo, Sal,” katanya pelan. “Dia tahu lo bakal nolak. Makanya dia ngasih tanpa nama. Biar lo nggak bisa nolak. Biar lo nggak pernah ngerasa utang. Biar lo bisa terus masak di sini tiap hari tanpa mikir ‘ini duit siapa’.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Dan cicilan lo,” lanjut Zara. “Yang lo bayar dua tahun. Dia suruh notaris simpen atas nama lo. Biar kalau kedai lo butuh lagi, lo nggak perlu nelepon siapa-siapa jam sebelas malam.” Dia menunjuk fotokopi di meja. “Itu bukan buat dia. Itu buat lo. Semuanya buat lo.”
Aku menatap fotokopi itu. DAN DIA NGGAK PERLU NELEPON SIAPA-SIAPA JAM SEBELAS MALAM.
Aku menelepon Erga jam sebelas malam. Malam itu. Dua tahun lalu.
Dia tidak mau ada orang lain yang harus menelepon jam sebelas malam lagi. Termasuk aku. Bahkan kalau yang ditelepon adalah dia.
Aku menutup wajahku dengan dua tangan dan menangis. Bukan menangis biasa. Bukan menangis untuk kangkung atau film animasi atau lagu dangdut tentang ibu. Menangis yang keluar dari tempat yang sangat dalam, yang belum pernah kubuka.
Zara memelukku. Dari samping. Lengannya melingkar di bahuku, wajahnya di bahuku, seperti di sleeping bag di Papandayan.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma memelukku.
“Proyek sampingan,” kata Putra akhirnya, setelah semua orang berhenti menangis, atau setidaknya berhenti menangis dengan suara.
“Hm?” Clara menoleh.
“Waktu dia demam. Gue nanya dia lagi ngumpulin duit buat apa. Dia pura-pura ngantuk.” Putra menggeleng. “Dia lembur proyek sampingan sampai jam dua pagi. Buat ngumpulin balik DP rumahnya. Sampai demam tiga sembilan setengah.”
“Dan restorasi album foto Papa,” kata Clara pelan. “Setahun. Malam-malam. Di sela proyek sampingan.”
“Dan rundown empat belas halaman buat lamaran gue,” kata Putra.
“Dan lampu tumblr,” kata Keisha, sambil terisak. “Dia beli lampu tumblr pakai uang sendiri. Buat lamaran aku. Padahal dia lagi ngumpulin buat rumah.”
Kami diam.
“Dia nggak pernah minta apa-apa,” kata Zara. “Sepuluh tahun. Gue pernah coba ngitung. Gue nggak nemu satu pun momen dia minta tolong ke kita.”
“Gue juga,” kata Putra.
“Aku juga,” bisik Keisha.
Aku menatap kursi paling ujung. Kosong. Kursi yang dua bulan lalu kuambil dari Erga, waktu aku menyuruhnya duduk di tengah. Kursi ujung buat gue. Biar gue yang ambil sambal.
Aku pikir itu hal besar. Aku pikir dengan mengambil kursi itu, aku membalas sesuatu.
Aku cuma mengambil sambal.
Dia mengambil seluruh tabungan rumahnya.
“Terus kita ngapain?” tanya Keisha.
Semua orang menatap Clara.
Clara menatap fotokopi di meja. Lama. Lalu dia menatap kami satu per satu. Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Sesuatu yang sama dengan yang kulihat di dapur vila Puncak, waktu dia menuangkan teh ke gelas Erga.
Tekad.
“Sepuluh tahun dia dateng duluan buat kita,” kata Clara. “Sekarang giliran kami.”
“Gimana caranya?” tanya Putra. “Kalau kita kasih duit, dia nolak. Kalau kita bantuin sesuatu, dia bilang ‘nggak usah’. Kalau kita tanya dia butuh apa, dia bilang ‘nggak butuh apa-apa’.”
“Kita nggak tanya,” kata Zara.
Semua orang menoleh ke Zara.
“Dia nggak pernah tanya kita butuh apa,” kata Zara. “Dia langsung dateng. Langsung ngelakuin. Laptop Keisha. Kaki gue. Papa Clara. Dia nggak pernah tanya ‘boleh nggak aku bantu’. Dia langsung bantu.”
Dia menatap kami.
“Jadi kita juga gitu,” katanya. “Kita nggak tanya. Kita langsung.”
Aku menatap Zara. Perempuan yang tidak pernah minta tolong, tidak pernah terlihat lemah, yang sepuluh tahun membalas pesan dengan satu huruf. Yang memelukku di sleeping bag sampai subuh. Yang mengirim emoji hati karena “keyboard sensitif”.
Aku mencintainya. Aku sudah mencintainya sejak hari ketiga Ospek, waktu dia menolak permen jahe dan kacang dan keripik tapi mengambil roti sobek cokelat. Aku tidak pernah bilang. Aku kira dia tidak tahu.
Mungkin dia tahu. Mungkin semua orang tahu, kecuali aku.
Satu Jakarta goblok. Faisal juga.
“Gue duluan,” kataku.
Semua orang menatapku.
“Kedai ini,” kataku, menunjuk dinding bata putih, lampu tumblr sisa gazebo, bingkai sticky note router. “Kedai ini dia yang selametin. Jadi kedai ini setengahnya punya dia.”
“Sal—”
“Saham. Gue bikin akta. Bang Rizal yang urus.” Aku menegakkan punggung. “Bukan utang. Bukan balik modal. Kepemilikan. Erga Pramana, pemilik tiga puluh persen Dapur Isal. Sama cabang Bogor. Tiga puluh persen juga.”
Zara menatapku. Lalu tersenyum. Senyum yang sangat langka. Senyum yang membuat lututku lemas.
“Dia bakal nolak,” kata Putra.
“Dia nggak bisa nolak,” kataku. “Gue nggak nawarin. Gue ngasih.”
Rapat itu berlangsung tiga jam.
Putra bilang dia akan mengurus Ibu. Check-up lengkap di rumah sakitnya, gratis, dengan dokter terbaik. Ibu sudah lima puluh enam tahun dan menjahit dua belas jam sehari dan tidak pernah ke dokter. “Erga ngurus jantung bapaknya Clara. Gue ngurus jantung ibunya Erga.”
Keisha bilang dia akan mengurus kontrakan Ibu. Atap yang bocor di dapur, yang Erga ceritakan sekali sambil lalu tahun lalu dan tidak pernah sempat diperbaiki karena dia sibuk memperbaiki atap orang lain. “Bapak aku tukang bangunan. Aku bisa minta Bapak. Gratis. Kalau Erga protes, aku nangis.”
“Lo selalu nangis,” kata Zara.
“Kali ini aku nangis dengan strategi.”
Zara bilang dia akan membantu Keisha soal atap. “Gue insinyur sipil. Gue yang ngitung strukturnya. Gue yang awasin.”
Dan aku bilang aku akan memasak. Untuk Erga. Setiap hari. Bukan cuma Jumat. Diantar ke kantornya, ke rumahnya, ke mana pun. “Clara udah ngambil jatah bekal siang. Gue ngambil jatah makan malam.”
Lalu semua orang menatap Clara.
Clara diam lama. Menatap fotokopi di meja. Menatap kursi paling ujung yang kosong.
“Clara?” kata Keisha. “Kamu ngapain?”
Clara mengangkat kepala.
“Kalian semua udah dapet bagian,” katanya. “Atap. Ibu. Kedai. Makanan.”
“Iya.”
“Ada satu bagian yang belum ada yang ambil.”
“Bagian apa?”
Clara menatap kami.
“Bagian yang paling susah,” katanya. “Bikin dia minta tolong.”
Kami diam.
“Sepuluh tahun dia nggak pernah minta tolong,” kata Clara. “Tadi pagi, di makam bapaknya, dia minta aku yang cerita ke kalian. Itu pertama kalinya. Satu langkah.” Dia menarik napas. “Tapi itu baru satu langkah. Dia masih mikir dia harus nanggung semuanya sendiri. Rumah. Ibu. Aku. Masa depan. Dia masih mikir dia harus ‘benar’ dulu sebelum boleh minta apa-apa.”
“Terus?”
Clara berdiri.
“Kalian ngurus atap, Ibu, kedai, makanan,” katanya. “Aku yang ngurus dia.”
Dia menatap kursi paling ujung.
“Sepuluh tahun dia selalu bilang satu kalimat,” katanya. Suaranya bergetar. “Ke kalian semua. Ke aku. Laptop. Api. Tol. Kabut. Name tag.”
Dia menatap kami. Matanya basah, tapi dagunya terangkat.
“Kali ini,” kata Clara, “biar aku aja.”
Kami bubar jam enam sore.
Putra dan Keisha pulang duluan, dengan rencana check-up Ibu di HP Putra dan nomor telepon bapak Keisha di HP Keisha. Clara pulang setelahnya, dengan langkah cepat dan wajah yang tidak bisa kubaca.
Zara tinggal. Membantuku mencuci piring.
Kami berdiri bahu menempel di depan wastafel. Seperti di apartemennya setelah arsik ikan mas. Seperti setiap malam sejak Papandayan.
“Zar,” kataku.
“Hm.”
“Waktu itu lo nulis ‘gue suka’.”
Dia berhenti mencuci.
“Di Padar lo bilang gue harus pikir yang keseratus satu,” kataku. “Gue udah mikir. Keseratus dua. Keseratus tiga.”
“Terus?”
“Gue masih bego.”
Dia menoleh padaku. Tangannya masih basah dengan busa sabun.
“Lo emang bego,” katanya.
“Tapi gue mau nanya langsung.” Aku mematikan keran. Menatapnya. “Kayak Clara. Kayak Erga di Tegal Alun. Kayak Putra di gazebo. Gue nggak mau nunggu sepuluh tahun lagi.”
Zara menatapku lama.
“Lo suka pisangnya,” tanyaku, “atau gue?”
Hening di dapur Dapur Isal. Lampu tumblr sisa gazebo berkedip di atas kepala kami.
Zara mengeringkan tangannya di celemek merahku. Pelan. Lalu dia meraih wajahku dengan dua tangan yang masih sedikit basah.
“Lo pikir,” katanya, “gue bakal elus kangkung buat orang yang nggak gue suka?”
Lalu dia menciumku.
Di depan wastafel. Di dapur yang Erga selamatkan dengan tabungan rumahnya. Di bawah lampu tumblr yang Erga gantung untuk lamaran yang salah alamat.
Aku menangis.
Tentu saja aku menangis.
Zara menarik diri, menatap wajahku yang basah, dan menggelengkan kepala pelan.
“Lo nangis lagi.”
“Gue selalu nangis kalau ada yang bagus.”
Dia menatapku. Lalu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun aku mengenalnya, Zara Amelia Siregar tertawa. Bukan dengusan. Bukan senyum tipis. Tertawa. Keras. Dengan seluruh wajahnya.
Dan itu hal paling bagus yang pernah kulihat.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami reading
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja