Chapter Nineteen
Voice Note Jam Sebelas
POV: Clara
Senin pagi, video itu sudah ditonton tiga koma empat juta kali, dan seluruh kantorku sudah menontonnya.
Aku tahu karena waktu aku keluar dari lift di lantai dua puluh tiga, tim intern berdiri berbaris di depan meja resepsionis dan bertepuk tangan.
“Bu Clara!”
“Selamat pagi, Bu Clara!”
“Bu, tumitnya udah sembuh?”
Aku berjalan melewati mereka dengan kacamata hitam yang tidak kulepas, wajah lurus, dan langkah secepat mungkin. Di belakangku, salah satu intern berbisik ke temannya: “Masnya kuat banget ya. Tiga setengah kilo.”
“Beban hidup,” balas temannya.
Mereka tertawa. Aku menutup pintu ruanganku sedikit terlalu keras.
Di layar laptop, kanal Slack tim pemasaran sudah dipenuhi pesan. Seseorang sudah membuat stiker dari tangkapan layar video itu. Wajahku yang terbenam di leher Erga, dengan tulisan ketika deadline datang tapi kamu punya support system. Stiker itu sudah dipakai empat puluh tiga kali sejak jam tujuh pagi.
Bram dari sales mengirim pesan pribadi: Jadi itu alasan kamu nolak sushi? Fair. Aku juga bakal nolak sushi kalau digendong gitu.
Hendrik dari finance mengirim: Selamat ya Clara. Semoga langgeng. Dengan emoji tersenyum yang terlalu banyak.
Lalu, jam sembilan lewat sepuluh, bosku masuk ke ruanganku.
Pak Teddy. Lima puluh tahun, kepala divisi pemasaran, laki-laki yang mengirim email jam satu pagi dan tidak pernah tersenyum di rapat. Dia berdiri di ambang pintu dengan HP di tangan, layar menampilkan video itu.
“Clara.”
“Pak.”
“Ini kamu?”
“Iya, Pak.”
Dia menatap layar. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi.
“Rambut kamu,” katanya.
“Rambut saya, Pak?”
“Digendong tiga setengah kilo. Lari pagi. Keringetan. Angin.” Dia memutar video itu ulang, menunjuk layar dengan jari. “Rambut kamu tetep bagus. Tetep berkilau. Nggak kusut.”
Aku menatapnya.
“Kamu pakai sampo kita?”
“...Iya, Pak.”
Pak Teddy mengangguk pelan. Lalu wajahnya, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku bekerja di bawahnya, berubah menjadi sesuatu yang mirip senyum.
“Kita butuh kampanye baru buat Q4,” katanya. “Konsepnya: rambut tetap sempurna, bahkan saat digendong tiga setengah kilometer.”
“Pak, itu—”
“Kamu bisa minta izin ke masnya buat pakai videonya?”
“PAK.”
Tante Mira menelepon jam sebelas.
Aku tidak mengangkat. Dia menelepon lagi jam sebelas lewat lima. Aku tidak mengangkat. Dia mengirim pesan suara empat menit yang tidak kudengarkan, lalu pesan teks:
Clara. Kamu digendong di tengah jalan raya kayak anak kecil. Ditonton jutaan orang. Keluarga Hartanto lihat. Dion lihat. Om Hartanto nanya ke Papa kamu ini maksudnya apa. Tante malu.
Aku membaca pesan itu. Lalu meletakkan HP terbalik di meja.
Jam dua belas, Dion mengirim pesan.
Lucu videonya. Kamu kelihatan bahagia.
Aku menatap pesan itu lama. Tidak ada sindiran yang jelas. Tidak ada kemarahan. Hanya dua kalimat datar.
Tapi aku tahu Dion. Aku tahu kalimat seperti itu bukan pujian. Itu catatan. Dion sedang mencatat.
Aku tidak membalas.
Jam satu, Mama menelepon. Aku mengangkat.
“Sayang.”
“Ma.”
“Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Ma.”
“Tante kamu lagi... ya, kamu tahu Tante kamu.”
“Tahu, Ma.”
Mama diam sebentar. Lalu, dengan suara yang lebih pelan:
“Papa nonton video itu lima kali.”
“Lima kali?”
“Di ruang kerja. Pintunya ditutup. Mama denger dari luar.” Jeda. “Terus Papa keluar, terus bilang ke Mama, ‘Tiga setengah kilo, Ma. Papa aja nggak kuat gendong kamu dari parkiran ke pintu masuk mal.’”
Aku tertawa. Basah.
“Terus Mama bilang apa?”
“Mama bilang, ‘Papa nggak pernah gendong Mama dari parkiran.’” Mama tertawa kecil. “Terus Papa diem.”
Zara menelepon jam delapan malam.
“Pelajaran terakhir,” katanya, tanpa salam.
“Terakhir?”
“Lo udah bilang ke dia, kan? ‘Nanti aku kasih tahu, di tempat yang kamu nggak bisa kabur.’”
“Kok kamu tahu?”
“Keisha. Dia baca bibir lo di video. Dia guru SD, dia jago baca bibir.”
Aku menutup wajah dengan bantal. “Ya ampun.”
“Fokus, Ra.” Bunyi pensil mengetuk meja. “Tempat yang dia nggak bisa kabur. Dapur Isal, dia bisa ambil sambal. Mobil, dia bisa nyetir. Apartemen lo, dia bisa pulang. Kantor, dia bisa sibuk.”
“Terus di mana?”
“Gunung.”
Aku menurunkan bantal.
“Gunung?”
“Papandayan. Garut. Dua minggu lagi. Kemping semalam.” Ketukan pensil. “Faisal orang Garut, bapaknya punya toko beras di kota. Kita nginep di rumahnya malam sebelumnya, terus naik pagi. Kemping di Pondok Saladah. Jam empat subuh naik ke Tegal Alun buat sunrise.”
“Zar—”
“Di Tegal Alun, jam lima pagi, nggak ada sambal. Nggak ada mobil. Nggak ada kantor. Nggak ada sinyal.” Jeda. “Dia nggak bisa ke mana-mana. Cuma ada lo, dia, edelweis, sama matahari.”
Aku diam.
“Putra sama Keisha nggak ikut,” lanjut Zara. “Putra jaga, Keisha fitting kebaya lagi sama Ibu Ratna. Jadi cuma kita berempat. Lo, Erga, gue, Faisal.”
“Kamu sama Faisal juga ikut?”
“Harus ada yang bawa tenda.”
“Zar.”
“Hm.”
“Kamu sama Faisal...”
“Fokus, Ra.” Ketukan pensil, lebih keras. “Ini soal lo, bukan soal gue.”
Aku tersenyum ke langit-langit.
“Oke, Pelatih.”
Jam sebelas lewat lima malam, aku berbaring di tempat tidur dengan lampu balkon menyala dan jaket hitam Erga membungkus tubuhku.
Aku menelepon. Bukan video, cuma suara.
Dia mengangkat di nada sambung pertama.
“Ra.”
“Kamu belum tidur.”
“Belum.”
“Kamu lagi ngapain?”
“Baca.”
“Baca apa?”
“Manual router.”
Aku tertawa. “Kamu baca manual router jam sebelas malam?”
“Router baru buat Dapur Isal. Faisal akhirnya beli.”
“Akhirnya.”
“Setelah tiga sticky note.”
Aku tertawa lagi dan menarik jaketnya lebih erat. Di seberang, aku mendengar suara kertas dibalik, dan sangat samar, suara mesin jahit dari ruang tamu. Ibu masih menjahit.
“Ga.”
“Hm.”
“Videonya ditonton tiga juta orang.”
“Iya.”
“Bosku mau pakai buat iklan sampo.”
Jeda. “Hah?”
“Rambutku tetep bagus waktu digendong. Dia mau bikin kampanye. Rambut tetap sempurna, bahkan saat digendong tiga setengah kilometer.”
Hening lama di seberang. Lalu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku mendengar Erga tertawa. Bukan senyum kecil atau dengusan pelan. Tawa sungguhan, rendah, sedikit serak, dan tertahan, seperti orang yang tidak terbiasa tertawa keras.
Aku memejamkan mata dan mendengarkannya.
“Kamu ketawa,” bisikku.
“Bos kamu lucu.”
“Kamu jarang ketawa.”
“Bos kamu jarang lucu.”
“Kamu nggak kenal bos aku.”
“Aku tahu dari ceritamu. Email jam satu pagi.”
Aku tersenyum. Dia ingat. Dia selalu ingat. Hal-hal kecil yang kuceritakan sambil lalu, bertahun-tahun lalu, dia simpan semuanya.
Kami diam sebentar. Bukan diam yang canggung. Diam yang nyaman, diam yang bisa dibiarkan begitu saja tanpa perlu diisi.
“Ga,” kataku pelan.
“Hm.”
“Aku tidur pakai jaket kamu.”
Hening.
“Cuma itu yang wangi kamu di kamar ini,” tambahku.
Hening lagi. Lebih lama. Aku mendengar napasnya di seberang. Suara kertas manual router berhenti dibalik.
“Ra,” katanya akhirnya. Suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih pelan. “Jangan ngomong gitu jam segini.”
“Kenapa?”
Jeda.
“Karena aku jadi pengin nyetir ke Kuningan.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Jantungku berdebar sangat keras sampai aku yakin dia bisa mendengarnya lewat telepon.
“Terus?” bisikku. “Kenapa nggak?”
“Karena jam sebelas malam.”
“Terus?”
“Terus aku nggak bakal pulang.”
Hening.
Aku tidak bernapas. Di seberang, Erga juga tidak berkata apa-apa lagi. Seperti dia baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak berniat dia ucapkan, dan sekarang dia menyesalinya, atau tidak menyesalinya, atau dua-duanya.
“Ga,” bisikku.
“Lupain.”
“Nggak bisa.”
“Ra.”
“Aku nggak bakal lupain itu. Seumur hidup.”
Dia menghela napas. Panjang. Aku bisa membayangkannya menutup mata, menyandarkan kepala ke dinding kamarnya yang kecil.
“Kamu bikin aku susah,” katanya pelan.
“Bagus.”
Kami bicara lama setelah itu. Hal-hal kecil. Router baru Faisal. Kebaya Keisha yang sedang dijahit Ibu. Kaki Zara yang sudah bisa naik tangga. Rencana Papandayan, yang Zara sudah umumkan di grup sore tadi.
“Kamu ikut?” tanyaku.
“Ikut.”
“Kamu pernah ke Papandayan?”
“Dua kali. Waktu kuliah.”
“Sama siapa?”
“Sendiri.”
“Kenapa sendiri?”
Dia diam sebentar. “Butuh mikir.”
Aku tidak bertanya mikir soal apa. Aku belajar dari Ibu. Kalau dia takut sama jawabannya, dia nggak nanya. Dan mungkin, kalau aku takut sama jawabannya, aku juga tidak perlu bertanya. Belum.
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu tahu nggak aku mau rumah kayak apa?”
“Rumah?”
“Nanti. Kalau aku punya rumah sendiri.” Aku menatap langit-langit kamar yang diwarnai cahaya kuning dari balkon. “Aku mau rumah yang jendelanya gede. Gede banget. Dari lantai sampai langit-langit. Biar pagi-pagi mataharinya masuk semua. Biar aku bisa duduk di depan jendela, minum kopi, terus...”
Aku berhenti.
“Terus apa?”
Terus ngeliatin kamu ngopi juga, belum mandi, rambut berantakan.
“Terus nikmatin pagi,” kataku.
Hening di seberang. Lama. Lebih lama dari jeda-jeda sebelumnya.
“Ga?”
“Hm.”
“Kamu masih di sana?”
“Masih.”
“Kamu diem.”
“Aku lagi bayangin.”
“Bayangin apa?”
Jeda.
“Jendelanya.”
Aku tersenyum ke langit-langit. Tapi ada sesuatu di suaranya. Sesuatu yang berat. Seperti dia membayangkan jendela itu, lalu membayangkan sesuatu yang lain di sebelahnya, sesuatu yang membuat suaranya turun setengah nada.
“Ra,” katanya. Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang menginjak lantai yang mungkin berderit. “Aku belum mau mulai sesuatu yang belum bisa aku janjiin.”
Aku diam.
Kalimat itu. Pertama kalinya dia mengucapkannya. Pertama kalinya dia mengakui bahwa ada sesuatu yang bisa dimulai.
“Aku nggak minta janji, Ga.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Terus aku yang minta ke diriku sendiri.”
Aku memejamkan mata.
Itu dia. Itu Erga. Laki-laki yang tidak pernah meminta apa-apa dari siapa pun, tapi meminta begitu banyak dari dirinya sendiri sampai dia tidak menyisakan ruang untuk orang lain memberi.
“Kamu tahu nggak, Ga,” kataku pelan. “Kamu nggak pernah minta apa-apa ke siapa-siapa. Tapi ke diri sendiri, kamu minta banyak banget.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu belum ditanya, Ga,” kataku. “Belum ada yang nanya kamu bisa janjiin apa. Jadi berhenti jawab pertanyaan yang belum ada.”
Hening.
Lalu, sangat pelan, aku mendengarnya tertawa lagi. Lebih kecil dari tadi. Lebih sedih. Tapi tetap tawa.
“Kamu galak,” katanya.
“Zara yang ngajarin.”
“Kelihatan.”
Jam dua belas lewat dua puluh. Mataku mulai berat.
“Ga.”
“Hm.”
“Ngomong sesuatu.”
“Ngomong apa?”
“Apa aja. Sesuatu yang bikin aku mimpiin kamu.”
Hening.
Lalu suara kertas dibalik.
“Untuk mereset router ke pengaturan pabrik,” katanya, dengan suara datar dan tenang yang dia pakai untuk membacakan apa pun, “tekan dan tahan tombol reset di bagian belakang perangkat selama sepuluh detik menggunakan benda runcing seperti klip kertas. Lampu indikator akan berkedip tiga kali. Lepaskan tombol. Perangkat akan memulai ulang secara otomatis dalam waktu kurang lebih dua menit.”
Aku tertawa ke bantal.
“Ga!”
“Kamu bilang apa aja.”
“Aku bilang yang bikin aku mimpiin kamu!”
“Ini bikin kamu mimpiin aku.”
“Mimpiin kamu benerin router?”
“Itu aku yang paling jujur.”
Aku tertawa lagi, lalu menguap, lalu tertawa sambil menguap.
“Lanjut,” gumamku.
“Lanjut?”
“Baca terus. Aku mau dengar suara kamu sampai tidur.”
Dia diam sebentar. Lalu dia melanjutkan. Bab tentang pengaturan jaringan nirkabel. Bab tentang keamanan WPA3. Bab tentang mengubah nama SSID. Suaranya tenang, rendah, teratur, seperti suara mesin jahit Ibu di ruang tamu.
Aku tertidur di bab tentang kontrol akses orang tua.
Atau hampir tertidur.
Karena tepat sebelum aku benar-benar terlelap, di antara bab tentang kontrol akses dan bab tentang pembaruan firmware, suaranya berhenti membaca. Dan dia berkata, dengan suara yang sangat berbeda, suara yang tidak datar sama sekali:
“Ra.”
Aku tidak menjawab. Setengah tidur. Setengah bangun.
“Besok,” katanya pelan, “kalau kamu bangun dan masih mau ngobrol... telepon aku duluan.”
Lalu panggilan berakhir.
Aku membuka mata.
Langit-langit. Cahaya kuning dari balkon. Jaket hitam di bahuku. HP di samping bantal, layar menampilkan durasi panggilan: satu jam lima belas menit.
Telepon aku duluan.
Laki-laki yang tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun, baru saja meminta sesuatu.
Satu hal kecil. Satu telepon.
Aku tidak tidur sama sekali malam itu.
Jam lima pagi, langit di luar balkon mulai berubah warna dari hitam menjadi biru tua.
Aku duduk di tempat tidur, memeluk lutut, dengan HP di tangan.
Jam lima lewat satu menit, aku menekan namanya.
Nada sambung pertama.
Diangkat.
“Pagi,” katanya.
Suaranya tidak serak. Tidak mengantuk. Dia sudah bangun. Dia sudah bangun dan menunggu.
“Pagi,” bisikku. “Kamu nungguin?”
“Iya.”
“Dari kapan?”
Jeda.
“Dari jam empat.”
Aku menutup mulut dengan tangan. Di luar, langit Kuningan pelan-pelan berubah merah muda.
“Ga.”
“Hm.”
“Aku masih mau ngobrol.”
“Aku tahu,” katanya. “Makanya aku angkat di nada pertama.”
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas reading
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja