Chapter Fourteen
Balkon
POV: Clara
Pesta lamaran dadakan di ruang tengah vila berlangsung sampai jam dua belas malam.
Faisal mengeluarkan semua makanan cadangan yang dia siapkan untuk “Rencana E”, yang ternyata adalah satu loyang besar puding cokelat dengan tulisan TETAP SEMANGAT PUT dari vla putih. Dia lupa mengganti tulisannya. Putra membacanya, tertawa sampai tersedak, lalu memakan potongan pertama dengan Keisha di pangkuannya.
Keisha memakai cincin itu di ibu jari. Ukuran enam terlalu besar untuk jari manisnya, yang ternyata ukuran lima. Cincin itu berputar-putar di jari manisnya seperti gelang, jadi dia memindahkannya ke ibu jari dan mengacungkannya ke semua orang seperti tanda jempol berlian.
“Aku tunangan,” katanya, untuk kedua puluh kalinya. “Aku tunangan. Sama Putra. Putra Adinata. Dokter.”
“Kita tahu, Kei,” kata Zara.
“Aku cuma mau ngomong lagi.”
“Lo udah ngomong dua puluh kali.”
“Dua puluh satu.” Keisha menatap ibu jarinya dengan mata berbinar. “Aku tunangan.”
Putra tidak bisa berhenti tersenyum. Dia menceritakan semuanya, sepuluh tahun perasaannya, ketakutannya, cincin yang dia bawa ke mana-mana selama tiga bulan, dan bagaimana Erga menyiapkan semuanya dalam tiga minggu dengan rundown empat belas halaman. Keisha menangis lagi mendengar soal rundown itu.
“Ada rencana E?” isaknya. “Kalau aku nolak?”
“Ada,” kata Putra. “Gue sama Erga jalan di kebun teh sampai pagi.”
Keisha menatap Erga yang duduk di ujung sofa. “Kamu mau nemenin Putra jalan di kebun teh sampai pagi kalau aku nolak?”
“Iya,” kata Erga.
“Kenapa?”
“Karena dia bakal butuh.”
Keisha menangis lebih keras. Putra memeluk Keisha dengan satu tangan dan mengulurkan tangan lainnya ke Erga, menepuk lututnya dua kali, tanpa berkata apa-apa.
Aku tersenyum. Aku tertawa di saat yang tepat. Aku memeluk Keisha dan memeluk Putra dan bilang aku bahagia untuk mereka, dan aku sungguh-sungguh bahagia untuk mereka. Putra dan Keisha. Tentu saja Putra dan Keisha. Bagaimana mungkin selama sepuluh tahun aku tidak melihatnya? Putra yang selalu mengantar Keisha pulang. Putra yang selalu memegangi tisu di kondangan. Putra yang menatap sofa saat menyanyikan lagu balada, sofa tempat Keisha duduk di sebelahku.
Semua orang mengira aku dan Putra. Termasuk aku sendiri, tadi siang.
Dan termasuk Erga.
Aku tidak menatap Erga sepanjang pesta. Dia juga tidak menatapku. Kami duduk di dua ujung ruangan yang berbeda, dan di antara kami ada Putra dan Keisha dan Faisal dan puding cokelat bertuliskan TETAP SEMANGAT PUT, dan aku bisa merasakan setiap detik ketika dia tidak menatapku.
Jam dua belas, aku pamit tidur.
Aku tidak tidur.
Kamar kami di lantai dua punya balkon kecil yang menghadap lembah. Kayu, sempit, dengan pagar setinggi pinggang dan dua kursi plastik yang tidak serasi. Udara jam dua belas malam di Puncak dingin sekali. Kabut sudah naik lagi, menutupi lembah dan setengah kebun, dan dari balkon, aku bisa melihat gazebo di ujung halaman, masih menyala.
Tidak ada yang mematikan lampunya. Mungkin karena terlalu indah untuk dimatikan. Mungkin karena tidak ada yang ingat.
Aku duduk di salah satu kursi plastik, memeluk lutut, dengan jaket hitam Erga di bahuku. Dan aku menangis.
Bukan menangis seperti di kamar mandi siang tadi, diam-diam dengan keran menyala. Ini menangis yang lain. Menangis yang keluar dari tempat yang sangat dalam, dari tempat yang sudah sepuluh tahun kusegel rapat, dan malam ini segelnya rusak.
Karena tadi siang, di gazebo itu, aku melihatnya tersenyum.
Dia orang baik, Ra.
Aku mau kamu bahagia.
Dia menggantung lampu-lampu itu dengan tangannya sendiri. Dia menyusun lilin-lilin itu satu per satu. Dia memilih mawar putih dan baby breath, karena dia tahu, dia pasti tahu, itu bunga kesukaanku. Dia melakukan semua itu dengan tenang, dengan rapi, dengan senyum, karena dia mengira Putra akan melamarku.
Dan dia tidak keberatan.
Sepuluh tahun aku menunggu dia menatapku dengan cara yang berbeda. Semalam, di api unggun, dia menatapku. Ibu jarinya di bibirku. Kamu cantik dari jam tiga sore. Aku pikir akhirnya. Aku pikir setelah sepuluh tahun, akhirnya.
Lalu pagi ini dia naik tangga dan menggantung lampu untuk lamaranku dengan orang lain.
Apa artinya itu? Apa artinya kalau seseorang bisa menatapmu seperti itu di malam hari, dan menyerahkanmu dengan senyum di siang hari?
Aku memeluk lutut lebih erat dan menangis ke jaket hitamnya.
Pintu balkon bergeser.
“Ra.”
Zara. Dengan piyama flanel kotak-kotak, kaus kaki tebal, dan selimut di bahunya. Dia tidak bertanya kenapa aku menangis. Dia duduk di kursi plastik satunya, yang berderit protes di bawah berat badannya, dan menatap gazebo yang menyala di kejauhan.
Kami diam lama. Aku menangis. Zara diam.
“Gue tahu,” kata Zara akhirnya.
“Tahu apa?”
“Semuanya. Dari dulu.”
Aku mengusap mata dengan lengan jaket. “Dari kapan?”
“Hari kedua Ospek. Waktu lo berdiri di barisan pakai name tag dia. Gue berdiri di belakang lo. Kerah kemeja lo geter-geter.”
Aku tertawa. Basah, jelek, tapi tertawa.
“Sepuluh tahun kamu tahu dan kamu nggak bilang apa-apa?”
“Lo nggak pernah cerita. Gue nggak pernah nanya.” Zara menarik selimutnya lebih erat. “Gue nunggu lo cerita.”
“Zar.”
“Hm.”
Aku menatap gazebo di kejauhan. Lampu-lampu kuningnya berpendar di dalam kabut, seperti kunang-kunang yang tersesat.
Lalu aku mengatakannya. Untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Keras-keras, di udara, ke orang lain.
“Aku sayang dia, Zar.”
Zara tidak bergerak.
“Aku sayang Erga. Dari hari kedua Ospek. Dari keliling ketujuh. Waktu dia lari dengan kemeja basah terus ngangguk ke aku kayak bilang nggak apa-apa.” Suaraku pecah. “Aku nyimpen name tag-nya sepuluh tahun. Di dompet. Aku laminating biar nggak robek. Aku bawa ke mana-mana. Ke kantor, ke kondangan, ke Puncak. Ada di dompetku sekarang.”
“Gue tahu.”
“Kamu tahu soal name tag?”
“Nggak. Tapi gue nggak kaget.”
Aku tertawa lagi, lalu menangis lagi.
“Tadi siang aku lihat dia nyiapin semua itu.” Aku menunjuk gazebo dengan dagu. “Aku pikir buat aku sama Putra. Dan dia senyum, Zar. Dia senyum. Dia bilang ‘Dia orang baik, Ra. Aku mau kamu bahagia.’ Kayak dia nyerahin aku ke orang lain. Kayak itu gampang buat dia.”
“Itu nggak gampang buat dia.”
“Kamu nggak lihat mukanya.”
“Gue lihat mukanya sepuluh hari terakhir.” Zara menoleh padaku. “Sejak Putra minta tolong. Ra, gue udah lihat muka Erga sepuluh tahun. Gue belum pernah lihat dia kayak sepuluh hari ini.”
Aku menatapnya.
“Malam Jumat kemarin,” kata Zara pelan. “Lo noleh ke Keisha buat nyobain kue pandan. Erga ngeliatin lo. Gue hitung. Enam detik.”
“Enam?”
“Enam. Dia selalu ngeliatin lo kalau lo nggak lagi ngeliat. Sepuluh tahun, Ra. Biasanya tiga, empat detik. Malam itu enam. Terus dia noleh ke Putra yang lagi pegangin saku, dan mukanya...” Zara berhenti, mencari kata. Zara yang tidak pernah mencari kata. “Mukanya kayak orang yang lagi pamitan.”
Aku memeluk lutut lebih erat.
“Dia nyiapin lamaran yang dia kira buat lo, Ra. Pakai tangannya sendiri. Empat belas halaman. Lampu dari Glodok. Bunga kesukaan lo.” Zara menatap gazebo. “Lo pikir orang yang nggak peduli bakal ngelakuin itu? Orang yang nggak peduli bakal nolak. Bilang sibuk. Bilang nggak bisa. Erga nggak nolak, karena dia mikir itu yang bikin lo bahagia. Dan dia lebih mau lo bahagia sama orang lain daripada lo nunggu dia.”
“Kenapa?” Suaraku hampir tidak terdengar. “Kenapa dia mikir aku harus nunggu? Nunggu apa?”
Zara diam lama.
“Gue nggak tahu,” katanya akhirnya. “Ada sesuatu yang dia simpen. Sesuatu yang bikin dia mikir dia belum boleh. Gue nggak tahu apa. Dia nggak pernah cerita apa-apa ke siapa pun.”
Kami diam lagi. Kabut bergerak di bawah kami, pelan, seperti ombak.
Pintu balkon bergeser lagi.
Kami berdua menoleh.
Erga berdiri di ambang pintu dengan dua mug di tangan. Kaus abu-abu, celana training, rambut sedikit berantakan. Uap tipis naik dari kedua mug itu, wangi jahe dan madu.
Dia melihatku. Melihat wajahku yang basah, mataku yang bengkak, jaket hitamnya di bahuku.
Dia tidak bertanya.
Dia berjalan masuk ke balkon sempit itu, berlutut di depan kursiku supaya matanya sejajar dengan mataku, persis seperti di bahu tol, dan menyodorkan satu mug.
“Teh jahe,” katanya. “Biar anget.”
Aku mengambilnya. Tanganku gemetar. Mug itu hangat sekali.
Dia menyodorkan mug kedua ke Zara. Zara mengambilnya tanpa berkata apa-apa.
Erga masih berlutut di depanku. Dia menatapku, dan aku menunggu. Menunggu dia mengatakan sesuatu. Apa saja. Aku salah. Aku kira kamu sama Putra. Aku juga.
“Ra,” katanya pelan.
“Hm?”
“Maaf soal tadi siang.”
Aku menatapnya. “Maaf buat apa?”
Dia diam sebentar. Matanya bergerak ke wajahku, ke mata yang bengkak, ke tanganku yang memegang mug.
“Bikin kamu nangis,” katanya.
Hanya itu.
Lalu dia berdiri. Menepuk kepala Zara sekali, pelan, seperti menepuk kepala adik. Dan dia keluar dari balkon, menggeser pintu sampai tertutup di belakangnya.
Aku menatap pintu itu. Lalu menatap teh jahe di tanganku. Lalu menatap Zara.
Dan aku mulai tertawa, lagi, dengan air mata yang turun lagi.
“Lihat?” kataku. “Lihat, Zar? Dia bahkan baik waktu dia tahu dia nyakitin aku. Dia minta maaf buat bikin aku nangis, terus bawain teh jahe, terus pergi. Dia nggak bilang apa-apa. Dia tahu, Zar. Aku lihat mukanya tadi di gazebo. Dia tahu. Dan dia tetep diem.”
Zara meminum teh jahenya. Pelan. Satu tegukan. Dua.
“Ra,” katanya.
“Apa.”
“Lo udah nunggu sepuluh tahun dia ngomong duluan.”
“Iya.”
“Dan dia udah sepuluh tahun nggak ngomong duluan.”
“Iya.”
“Dan sekarang dia tahu, dan dia masih nggak ngomong.”
“IYA, Zar. Itu poinnya.”
Zara meletakkan mugnya di pagar balkon. Lalu menoleh padaku dengan wajah yang sangat datar, sangat serius, dan sangat Zara.
“Terus kenapa lo masih nunggu?”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.
“Lo Clara Halim,” kata Zara. “Lo dikejar semua orang sejak SMA. Lo nggak pernah ngejar siapa-siapa. Lo nggak tahu caranya. Gue ngerti.” Dia menyandarkan punggung ke kursi plastik yang berderit. “Tapi Erga juga nggak tahu caranya minta. Sepuluh tahun dia nggak pernah minta apa-apa ke siapa pun. Bukan ke gue, bukan ke Faisal, bukan ke lo. Kalau lo nunggu dia minta lo, lo bakal nunggu sampai lo umur delapan puluh dan dia masih duduk di kursi paling ujung bawain teh jahe.”
Aku menatap Zara.
“Jadi?” bisikku.
“Jadi lo yang ngejar.”
“Aku nggak tahu caranya.”
“Gue ajarin.”
“Kamu tahu caranya?”
Zara diam sebentar. Telinganya, aku bersumpah, sedikit memerah di bawah lampu balkon yang redup.
“Gue nggak tahu,” akunya. “Tapi gue lebih tahu daripada lo. Gue pernah lihat orang ngejar.”
“Siapa?”
“Nggak penting.” Dia mengambil mugnya lagi dan meminumnya dengan cepat, terlalu cepat untuk teh panas. “Pokoknya. Mulai minggu depan, lo ngejar. Gue jadi pelatih.”
“Pelatih?”
“Pelatih yang galak.”
Aku menatap sahabatku. Zara Amelia Siregar, perempuan yang tidak pernah minta tolong, tidak pernah terlihat lemah, dan sepuluh tahun membalas pesan dengan satu huruf. Duduk di kursi plastik yang berderit, dengan piyama flanel dan telinga merah, menawarkan diri menjadi pelatih untuk sesuatu yang dia sendiri tidak tahu caranya.
Aku tertawa. Dan kali ini, untuk pertama kali malam ini, tawaku tidak bercampur tangis.
“Oke,” kataku. “Pelatih yang galak.”
“Pelajaran pertama.” Zara mengangkat satu jari. “Berhenti nangis ke jaketnya. Nanti jaketnya bau ingus. Nggak seksi.”
Aku tertawa lebih keras dan melempar bantal kursi ke wajahnya.
Di kejauhan, gazebo itu masih menyala. Lampu-lampu yang dia gantung untuk lamaran yang salah alamat.
Aku menatapnya, memegang teh jahe yang dia buatkan, memakai jaket yang dia pinjamkan, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku tidak sedang menunggu.
Aku sedang bersiap.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon reading
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja