← Biar Aku Aja

Chapter Seven

Putra Minta Tolong

POV: Erga


Putra mengirim pesan hari Kamis jam dua siang.

Ga. Lo bisa ke RS? Rooftop. Jam 5. Penting. Jangan bilang siapa-siapa.

Aku menatap pesan itu selama satu menit. Putra tidak pernah menulis “penting”. Putra menulis “darurat” kalau dia lupa password Netflix, dan “kiamat” kalau tim sepak bolanya kalah. “Penting” bukan kata yang ada di kamusnya.

Kenapa? balasku.

Nanti gue jelasin. Bawa diri lo aja.

Aku selalu bawa diriku.

Lo ngerti maksud gue.

Aku mengerti. Aku pamit ke atasanku jam empat, dengan alasan “urusan keluarga”, dan atasanku langsung mengizinkan karena aku tidak pernah pamit sebelumnya dalam empat tahun.


Rumah sakit tempat Putra bekerja ada di Pondok Indah, gedung sembilan lantai dengan dinding kaca dan lobi yang lebih mirip hotel daripada rumah sakit. Aku melapor ke resepsionis bahwa aku mau menemui dr. Putra Adinata.

Resepsionisnya, perempuan muda dengan nametag bertuliskan Dinda, menatapku dari atas sampai bawah.

“Mas manajernya dr. Putra, ya?”

“Bukan.”

“Oh, maaf. Asistennya?”

“Temannya.”

“Oh.” Dinda tersenyum ramah, tapi ada sedikit kekecewaan di sana, seperti dia berharap jawabannya lebih menarik. “Soalnya di Instagram dr. Putra ada foto Mas beberapa kali. Di komentarnya banyak yang nanya ‘itu manajernya ya?’ terus dr. Putra nggak pernah jawab.”

“Dia nggak pernah baca komentar.”

“Oh.” Dinda mengangguk. “Silakan, Mas. Lift ke kanan, lantai sembilan, terus tangga ke atas.”

Di lift, seorang perawat berseragam biru melirikku dua kali, lalu berbisik ke rekannya. Aku tidak mendengar seluruh kalimatnya, tapi aku mendengar kata “manajer” dan “dokter Putra”.

Aku sudah terbiasa.

Tiga tahun lalu, Putra mengunggah foto kami berenam di Dapur Isal. Seseorang di kolom komentar menandaiku sebagai “manajer dr. Putra yang ganteng juga”. Aku tidak tahu yang mana yang lebih membingungkan, “manajer” atau “juga”. Sejak itu, setiap kali aku muncul di foto Putra, kolom komentar penuh dengan pertanyaan tentang manajernya. Keisha pernah membuat akun palsu dan membalas semua komentar itu dengan iya dia manajer, kontak untuk endorse lewat dia. Selama dua minggu, aku menerima DM dari empat brand suplemen kesehatan dan satu klinik kecantikan.

Aku menjawab semuanya dengan sopan: Maaf, saya bukan manajernya. Saya IT support.

Klinik kecantikan itu membalas: Oh. Mau jadi model before-after nggak, Mas?

Aku tidak membalas.


Rooftop rumah sakit adalah taman kecil dengan rumput sintetis, beberapa pot tanaman yang setengah layu, dan pagar kaca setinggi dada yang menghadap ke barat. Jam lima sore, matahari sudah rendah dan oranye, dan Jakarta Selatan terhampar di bawahnya seperti peta yang dibuka.

Putra berdiri di pagar dengan jas putih dokter yang terbuka, tangan di saku, punggung menghadapku.

“Put.”

Dia berbalik. Wajahnya, wajah iklan pasta gigi versi sedih yang membuat dua puluh tiga ribu orang menekan tombol follow, terlihat pucat. Lebih pucat dari biasanya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak ada minggu lalu.

“Lo dateng.”

“Kamu bilang penting.”

“Iya.” Dia menarik napas panjang. Mengeluarkannya. Menarik lagi. “Duduk dulu.”

Kami duduk di bangku taman yang catnya sudah mengelupas. Putra menatap tangannya. Aku menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

“Put, kamu sakit?”

“Nggak.”

“Kamu dipecat?”

“Nggak.”

“Kamu bunuh pasien?”

“ERGA.” Dia menoleh, ngeri. “Nggak! Ya ampun. Nggak. Kenapa itu tebakan ketiga lo?”

“Kamu kelihatan kayak orang yang bunuh pasien.”

“Gue kelihatan kayak orang yang mau ngelamar!”

Kalimat itu keluar keras sekali. Dua perawat yang sedang merokok diam-diam di pojok rooftop menoleh. Putra langsung menunduk dan menutupi wajahnya dengan dua tangan.

Aku diam.

“Itu,” kata Putra di balik tangannya. “Itu yang penting.”


Dia menceritakannya pelan-pelan, dengan banyak jeda, seperti orang yang mengeluarkan sesuatu dari dalam dirinya sedikit demi sedikit karena takut kalau dikeluarkan semua sekaligus, dia akan pingsan.

Dia sudah memikirkannya lama. Bertahun-tahun. Dia tidak pernah bilang karena dia takut. Karena kalau ditolak, circle kami akan berubah. Karena dia tidak tahu apakah perasaannya dibalas.

“Dan sekarang lo tahu?” tanyaku.

“Nggak.” Dia tertawa, getir. “Gue masih nggak tahu. Tapi gue umur dua puluh delapan, Ga. Bokap gue nikah umur dua puluh enam. Nyokap gue nanya tiap minggu. Dan gue sadar, kalau gue nunggu sampai yakin, gue bakal nunggu selamanya.” Dia menatap matahari yang semakin rendah. “Gue capek nunggu. Gue mau coba.”

“Ngelamar langsung? Bukan nembak dulu?”

“Kalau gue nembak, dia bisa bilang ‘kita temenan aja’. Kalau gue ngelamar, dia harus mikir serius.” Putra menoleh padaku. “Lagian gue nggak mau pacaran sama dia. Gue mau nikah sama dia. Kenapa harus pakai tahap yang nggak gue mau?”

Logikanya aneh, tapi masuk akal dengan cara yang sangat Putra.

“Dia siapa?”

Putra diam.

“Put.”

“Lo tahu siapa.”

Aku menatap Putra. Putra menatap balik, dengan mata yang memohon supaya aku tidak memaksanya menyebutkan nama itu keras-keras, seolah nama itu terlalu berat untuk diucapkan di udara terbuka.

“Dia yang paling cantik di circle kita,” kata Putra pelan. “Yang semua orang lihat waktu dia masuk ruangan. Gue udah suka dia dari Ospek, Ga. Hari pertama. Gue liat dia dateng ke lapangan dan gue langsung tahu.”

Hari pertama Ospek. Jam enam lewat dua. Satu menit setelah Putra.

Tujuh ratus mahasiswa baru di lapangan itu, dan semua orang tahu persis kapan Clara datang.

“Rumahnya searah sama gue,” lanjut Putra. “Gue sering nganter dia pulang. Dan tiap kali gue nganter dia, gue mau ngomong. Tiap kali. Dan tiap kali gue nggak jadi.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dia nggak tahu,” kata Putra. “Gue yakin dia nggak tahu. Dia selalu baik ke semua orang. Dia baik ke gue juga, tapi gue nggak tahu apakah itu baik yang biasa atau baik yang lain.”

Matahari sudah setengah tenggelam di balik gedung-gedung di barat. Udara mulai sejuk. Di bawah sana, Jakarta menyalakan lampunya satu per satu.

“Ga?”

Aku menyadari aku sudah diam terlalu lama.

“Iya.”

“Lo nggak ngomong apa-apa.”

“Aku lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Aku menatap tanganku. Plester dinosaurus dari hari Minggu masih menempel di telapak tangan kiriku. Sudah kusam dan ujungnya mulai terkelupas. Aku belum melepasnya. Aku tidak tahu kenapa aku belum melepasnya.

Aku melepasnya sekarang. Pelan-pelan. Kulit di bawahnya sudah sembuh, hanya ada garis merah muda tipis.

“Kamu orang baik, Put,” kataku.

Putra menatapku.

“Kamu orang baik,” ulangku. “Dari Ospek kamu orang baik. Kamu maju duluan waktu Faisal dihukum. Kamu nggak pernah ninggalin kita waktu koas. Kamu datang tiap Jumat padahal kamu tidur tiga jam sehari.” Aku melipat plester itu kecil-kecil. “Dia pantas sama orang baik.”

Untuk sesaat, wajah Putra berubah. Ada sesuatu yang melunak di sana, dan matanya berkaca-kaca.

“Lo serius?”

“Aku nggak pernah nggak serius.”

“Itu bener juga.” Putra tertawa kecil dan mengusap matanya dengan lengan jas dokternya. “Makasih, Ga. Gue... makasih.”

“Terus kamu mau aku ngapain?”

Putra menegakkan punggungnya. Ekspresinya berubah dari dokter sedih menjadi dokter yang akan melakukan operasi besar.

“Gue mau lo yang nyiapin semuanya.”


Rencananya begini.

Tiga minggu lagi, circle kami ada jadwal liburan ke Puncak. Vila sewaan dua malam, sudah dipesan dua bulan lalu, dalam rangka ulang tahun Keisha yang jatuh di minggu yang sama. Semua orang sudah ambil cuti. Jadwal sudah dikunci.

Putra mau melamar di malam kedua.

“Vila itu ada gazebo di pinggir kebun,” kata Putra, membuka foto-foto di HP-nya. “Lo liat. Gazebo kayu, menghadap lembah. Kalau malam, lampu-lampu kota keliatan dari jauh.”

“Kamu mau dekorasinya gimana?”

“Itu masalahnya. Gue nggak tahu. Gue dokter, Ga. Gue tahu cara jahit luka, gue nggak tahu cara pasang lampu tumbler.”

“Lampu tumblr.”

“Itu maksud gue.”

“Cincinnya?”

“Udah beli.” Dia merogoh saku jas dokternya dan mengeluarkan kotak beludru biru tua seukuran ibu jari. Membukanya. Cincin emas putih dengan satu berlian kecil di tengahnya, sederhana dan elegan. “Gue beli tiga bulan lalu. Udah tiga bulan gue bawa ke mana-mana. Di saku jas. Di saku celana. Di tas. Gue takut kalau gue taruh di rumah, nyokap gue nemu.”

“Ukurannya?”

“Gue tanya ke tukang cincinnya, ukuran rata-rata cewek Indonesia berapa. Dia bilang enam.” Putra menatap cincin itu dengan khawatir. “Kalau nggak muat, gue bisa ganti nanti, kan?”

“Bisa.”

“Oke.” Dia menutup kotaknya dan memasukkannya kembali ke saku, menepuknya dua kali seperti memastikan jantungnya masih di tempat. “Jadi lo mau?”

Aku menatap lampu-lampu Jakarta yang sekarang sudah menyala semua.

Ada sesuatu yang berat di dadaku. Bukan sakit yang tajam. Bukan sakit yang membuat orang berteriak atau menangis atau memukul dinding. Sakit yang tenang, yang turun pelan-pelan seperti debu yang mengendap di lantai setelah pintu ditutup, dan menetap di sana.

Aku sudah tahu sakit ini akan datang. Sepuluh tahun aku tahu. Clara terlalu bersinar untuk tetap sendirian selamanya. Cepat atau lambat, seseorang akan berdiri di sampingnya, dan orang itu pasti orang yang baik.

Aku cuma tidak menyangka orang itu akan memintaku menyiapkan lampunya.

“Mau,” kataku.

Putra memelukku. Langsung, erat, dengan cara laki-laki yang terlalu bahagia sampai lupa malu. Dua perawat yang merokok di pojok bertepuk tangan, tidak tahu apa yang mereka rayakan.

“Lo terbaik, Ga. Lo terbaik. Gue tahu lo bakal mau.”

“Iya.”

“Tapi jangan bilang siapa-siapa. Siapa pun. Bahkan Faisal. Faisal mulutnya bocor.”

“Zara?”

“Zara...” Putra berpikir. “Zara boleh. Zara nggak pernah ngomong apa-apa ke siapa-siapa. Lagian kita butuh orang buat ngalihin perhatian di hari H.”

“Keisha?”

“JANGAN Keisha.” Putra mundur selangkah, ngeri. “Keisha nggak bisa nyimpen rahasia lebih dari lima menit. Lo inget waktu ulang tahun Faisal? Dia bocorin surprise-nya dua jam sebelumnya karena dia ‘terlalu excited’.”

“Iya.”

“Jadi jangan Keisha.” Putra mengangguk pada dirinya sendiri. “Dan jangan dia, tentu aja.”

“Tentu aja.”


Aku turun dari rooftop jam enam lewat sedikit. Putra harus kembali ke IGD untuk shift malam. Dia melambaikan tangan dari pintu tangga dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat di wajahnya.

Di parkiran basement, aku duduk di mobil tanpa menyalakan mesin.

Basement rumah sakit itu terang dan dingin. Lampu neon memantul di lantai beton yang baru dipel. Satpam lewat dengan senter dan menatapku sebentar, lalu pergi.

Aku membuka HP. Grup “Gugus 7 (Jangan Bubar)” penuh pesan baru. Keisha mengunggah foto kue ulang tahun yang dia rencanakan untuk dirinya sendiri di Puncak. Faisal membalas dengan daftar menu barbeque. Zara membalas k.

Clara mengirim foto. Dirinya sendiri, di depan cermin kantor, memakai jaket hitamku di atas blus putih. Caption-nya: AC kantor kayak kutub. Untung ada ini.

Aku menatap foto itu lama.

Jaket hitamku tampak terlalu besar di tubuhnya. Lengannya digulung tiga kali. Ritsletingnya yang macet dibiarkan setengah terbuka. Dan dia tersenyum ke kamera dengan senyum yang, aku tahu, bukan untuk grup ini. Senyum itu untuk satu orang.

Atau mungkin aku yang salah. Mungkin senyum itu memang untuk semua orang. Mungkin selama sepuluh tahun aku membaca hal-hal yang tidak ada, dan Putra yang benar. Clara baik ke semua orang. Baik ke Putra, baik ke aku, baik ke Faisal yang mengangkat tangan minta tisu.

Tidak. Itu tidak benar. Aku tahu itu tidak benar.

Tapi aku juga tahu sesuatu yang lain. Tahu ke mana tabunganku pergi dua tahun lalu, dan berapa lama lagi aku butuh untuk mengumpulkannya kembali. Tahu bahwa laki-laki yang mau berdiri di samping Clara Halim harus datang dengan sesuatu di tangan, bukan karena Clara akan memintanya, tapi karena Clara pantas mendapatkannya.

Putra datang dengan cincin berlian di saku jasnya.

Aku datang dengan karung goni di bawah ban serep.

Itu bukan rendah diri. Itu cuma hitungan. Hitungan yang selalu kujaga dengan jujur.

Aku mengetik di grup: Bagus, Kei. Untuk foto kue.

Lalu aku membuka chat pribadi dengan Clara. Mengetik sesuatu. Menghapusnya. Mengetik lagi.

Jaketnya kegedean.

Balasannya datang dalam sepuluh detik.

Justru itu enaknya. Rasanya kayak dipeluk.

Aku menatap pesan itu.

Lalu aku memasukkan HP ke saku, menyalakan mesin, dan menyetir pulang ke Depok tanpa membalas, sambil membuat daftar di kepala: lampu tumblr, bunga, lilin, sound system kecil, dan cara memastikan Clara berada di gazebo pada jam yang tepat.