Chapter Eighteen
CFD
POV: Erga
Jam lima pagi hari Minggu, Clara mengirim pesan.
Bangun.
Udah.
Tentu aja udah. Kamu kan robot. Lalu: CFD. Jam 6. Bundaran Senayan. Kita lari.
Kita?
Aku, kamu, Putra, Keisha. Zara sama Faisal nggak ikut. Zara bilang kakinya belum siap. Faisal bilang dia “atlet makan, bukan atlet lari”.
Kamu nggak pernah lari pagi.
Orang bisa berubah, Ga.
Kalimat yang sama yang Zara kirim di grup hari Kamis. Aku menatap pesan itu, dan sekarang aku yakin. Zara tidak hanya menjadi pelatih. Zara menulis naskahnya.
Oke, tulisku.
Car Free Day di Sudirman-Thamrin adalah satu-satunya waktu dalam seminggu di mana jalan protokol Jakarta berubah dari sungai mobil menjadi lautan manusia. Pelari dengan sepatu mahal, keluarga dengan stroller, anak-anak bersepeda, komunitas senam dengan speaker berdentum, pedagang bubur, pedagang kopi, badut, dan setidaknya tiga orang yang membawa anjing pomeranian dengan baju.
Clara menungguku di Bundaran Senayan jam enam kurang lima.
Kurang lima. Lebih awal dariku.
Aku turun dari ojek online, karena parkir di sekitar CFD adalah mimpi buruk, dan dia sudah berdiri di bawah patung, melambai.
Legging hitam. Sports bra abu-abu di balik jaket lari tipis yang ritsletingnya dibuka setengah. Sepatu lari putih yang terlihat baru, terlalu baru. Rambut dikuncir tinggi dengan pita hitam. Dan wajah yang bersinar karena keringat pagi, atau mungkin karena sesuatu yang lain.
Tiga pelari laki-laki memperlambat langkah saat melewatinya. Satu menoleh dua kali. Satu lagi hampir menabrak pedagang air mineral.
“Kamu telat,” kata Clara.
“Aku tepat waktu.”
“Aku udah di sini lima menit.”
“Kamu kecepetan.”
“Aku semangat.” Dia melakukan peregangan, mengangkat satu kaki ke belakang dan menariknya dengan tangan, dengan keseimbangan yang mencurigakan bagi orang yang mengaku tidak pernah lari pagi. “Putra sama Keisha di mana?”
“Kamu yang ngajak mereka.”
“Oh, iya.” Dia mengeluarkan HP. Membacanya. Lalu menunjukkan layarnya padaku dengan wajah yang terlalu polos. “Katanya mereka nggak jadi. Keisha kesiangan. Putra nemenin Keisha kesiangan.”
Aku menatap layar HP-nya. Pesan dari Keisha: maaf ra!! aku sama putra nggak jadi ya, kata zara kita nggak boleh ikut
Clara buru-buru menarik HP-nya kembali.
“Kata Zara nggak boleh ikut,” kataku.
“Typo.”
“Typo apa?”
“Keisha typo. Maksudnya ‘kata Zara kita nggak usah ikut, istirahat aja’.”
“Itu bukan typo, Ra. Itu kalimat yang beda.”
Clara menatapku. Aku menatapnya. Dia bertahan tiga detik, lalu menyerah dan tertawa, dengan pipi merah.
“Oke. Oke. Zara yang ngatur.” Dia mengangkat dua tangan. “Kamu mau marah?”
Aku menatapnya. Legging hitam, kunciran tinggi, sepatu lari baru yang masih kaku, dan wajah merah karena ketahuan.
“Nggak,” kataku. “Ayo lari.”
Kami lari dari Bundaran Senayan ke arah utara, menyusuri Sudirman.
Atau lebih tepatnya, aku lari, dan Clara lari tiga ratus meter lalu berhenti, terengah, berpegangan pada lututnya.
“Ga. Tunggu.”
Aku berhenti dan kembali.
“Kamu udah capek?”
“Nggak capek.” Dia terengah. “Pemanasan.”
“Pemanasan di tengah lari?”
“Itu teknik baru.”
Kami lari lagi. Dua ratus meter. Clara berhenti lagi.
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu lari terlalu cepet.”
“Aku jogging.”
“Itu bukan jogging. Itu lari maraton.”
“Pace-ku tujuh menit per kilo, Ra. Itu pelan.”
“Tujuh menit per kilo itu cepet buat aku!” Dia menegakkan badan, mengibaskan tangan ke wajahnya yang memerah. “Aku nggak pernah lari, Ga. Aku kerja di kantor. Olahraga paling berat aku angkat laptop.”
“Kamu yang ngajak lari.”
“Karena Zara bilang—” Dia berhenti. Menutup mulut.
“Zara bilang apa?”
“Nggak.”
“Ra.”
“Zara bilang olahraga bareng itu bagus buat...” Dia mencari kata. “Buat kesehatan.”
“Kesehatan siapa?”
Clara menatapku. Lalu berbalik dan mulai lari lagi, terlalu cepat, sebelum aku sempat bertanya lagi.
Aku mengikutinya. Dengan mudah. Dari belakang, aku bisa melihat kuncirannya bergoyang, jaket larinya yang tertiup angin, dan sepatu baru yang jelas mulai menyakiti tumitnya, karena larinya sedikit pincang.
Aku tidak bilang apa-apa. Aku lari di belakangnya, sedikit ke kanan, cukup dekat untuk menangkapnya kalau dia jatuh, cukup jauh untuk tidak membuatnya merasa diawasi.
Di depan Plaza Senayan, satu kilometer dari titik awal, Clara jatuh.
Atau lebih tepatnya, Clara memutuskan untuk jatuh.
Aku melihatnya dengan jelas. Dia memperlambat langkah. Melirik ke samping, ke arahku. Mengambil napas dalam. Lalu, dengan keanggunan seorang aktris sinetron yang tidak terlalu berbakat, dia memutar pergelangan kaki kanannya ke dalam dengan sangat pelan dan duduk di aspal.
“Aduh.”
Aku berhenti di depannya.
“Aduh,” ulangnya, memegang pergelangan kaki kanan. “Kakiku. Terkilir.”
Aku berlutut. Menatap pergelangan kakinya. Lalu menatap wajahnya.
Pergelangan kakinya baik-baik saja. Tidak bengkak. Tidak merah. Posisi jatuhnya salah. Kalau benar-benar terkilir ke dalam, dia akan jatuh ke samping, bukan duduk dengan sopan seperti orang yang mau piknik.
Dan wajahnya. Wajahnya tidak kesakitan. Wajahnya gugup, penuh harap, dan berusaha keras terlihat kesakitan.
“Sakitnya di mana?” tanyaku. Sama persis seperti waktu Zara jatuh di lapangan padel. “Tunjuk pakai satu jari.”
Clara menunjuk. Bagian luar pergelangan kaki. Persis seperti yang Zara tunjuk.
“Bisa gerakin jari kaki?”
Clara menggerakkan jari kakinya di dalam sepatu. Lalu berhenti, sadar dia terlalu lancar menggerakkannya. “Sakit,” tambahnya cepat. “Sakit pas digerakin.”
Aku menekan beberapa titik di sekitar pergelangan kakinya dengan ibu jari, seperti waktu memeriksa Zara.
Clara tidak meringis di satu titik pun. Dia meringis di semua titik. Termasuk titik yang tidak ada hubungannya dengan pergelangan kaki.
“Aduh. Aduh. Itu sakit. Itu juga.”
“Itu betis, Ra.”
“Betisku juga sakit.”
Aku duduk di aspal di depannya. Seorang bapak pelari lewat dan menatap kami dengan khawatir. Aku mengangguk padanya, nggak apa-apa, dan dia lewat.
“Ra.”
“Hm?”
“Kamu bohong.”
Clara membeku.
Dia menatapku. Aku menatapnya. Di sekitar kami, CFD terus bergerak. Komunitas senam di depan Plaza Senayan memutar lagu dangdut remix dengan volume yang memekakkan telinga. Anak kecil bersepeda dengan roda bantu lewat sambil membunyikan bel.
Wajah Clara pelan-pelan memerah, dari leher ke telinga.
“Kok tahu?” bisiknya.
“Kamu jatuhnya duduk.”
“Terus?”
“Orang terkilir nggak jatuh duduk. Orang terkilir jatuh ke samping.” Aku menunjuk sepatunya. “Dan yang sakit itu tumit kamu, bukan pergelangan kaki. Sepatu baru. Belum di-break-in. Dari tadi kamu lari pincang.”
Clara menatap sepatunya. Lalu menatapku. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan koi, gerakan yang Keisha tirukan waktu padel.
“Kamu merhatiin cara aku lari?”
“Dari tadi.”
“Dari tadi?”
“Aku di belakang kamu satu kilo.”
Wajahnya sekarang merah semua. Dia menutupi wajahnya dengan dua tangan, duduk di aspal di depan Plaza Senayan, di tengah CFD, dengan musik dangdut remix di latar belakang.
“Malu,” gumamnya dari balik tangan. “Aku malu banget. Zara bilang ini bakal berhasil. Zara bilang kamu nggak bakal sadar. Zara bohong.”
“Zara nggak bohong. Zara cuma nggak tahu aku merhatiin.”
Clara menurunkan tangan sedikit. Hanya matanya yang terlihat di atas jari-jarinya.
“Terus sekarang gimana?”
Aku berdiri. Menepuk debu dari celana. Lalu berbalik, membelakanginya, dan berjongkok.
“Naik.”
Hening.
“...Hah?”
“Naik ke punggung.”
“Kamu tahu aku bohong.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa mau gendong?”
Aku menoleh ke belakang, setengah, cukup untuk melihat wajahnya.
“Aku tahu kamu bohong,” kataku. “Tetap aku gendong.”
Clara tidak bergerak. Dia menatapku dengan mata lebar, tangan masih setengah menutupi wajah, seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk diproses di tengah jalan Sudirman pada hari Minggu pagi.
“Kenapa?” bisiknya.
“Biar kamu nggak punya alasan bohong lagi.”
Lalu aku menunggu.
Lima detik. Komunitas senam berganti lagu. Seorang pedagang balon lewat.
Lalu sepasang lengan melingkar di leherku dari belakang. Pelan. Ragu. Lalu erat.
Aku berdiri. Clara di punggungku. Ringan, lebih ringan dari dugaanku, dengan lengan melingkari leherku dan kakinya terkunci di pinggangku. Aku menahan bagian belakang lututnya dengan dua tangan.
Dan aku mulai berjalan.
Kami jadi tontonan dalam waktu tiga puluh detik.
Seorang ibu-ibu dengan topi lebar menunjuk kami dan berkata “Aduh, romantis” ke suaminya. Dua remaja perempuan mengeluarkan HP dan mulai merekam. Sekelompok pelari dari komunitas lari dengan kaus seragam oranye bersorak dan bertepuk tangan saat kami lewat. “Semangat, Mas! Kuat, Mas!”
Clara membenamkan wajahnya di bahuku.
“Ga,” bisiknya. “Orang-orang ngeliatin.”
“Iya.”
“Mereka ngerekam.”
“Iya.”
“Kamu nggak malu?”
“Kamu yang pura-pura terkilir. Kenapa aku yang malu?”
Dia tertawa ke bahuku. Getaran tawanya terasa di seluruh punggungku.
Lalu dia mengangkat kepalanya sedikit. Napasnya sekarang di leherku. Hangat. Dekat. Bibirnya hampir menyentuh kulit di bawah telingaku.
“Ga,” bisiknya.
“Hm.”
“Jantung kamu kenceng.”
Aku terus berjalan. Melewati gedung-gedung tinggi Sudirman yang memantulkan cahaya pagi. Melewati pedagang kopi dan pedagang bubur dan badut yang membagikan brosur.
“Kalau aku nggak mau turun sampai Bundaran HI?” bisiknya lagi. Bibirnya menyentuh kulitku sekarang. Ringan, nyaris tidak terasa, seperti sayap kupu-kupu. “Gimana?”
Bundaran HI. Tiga setengah kilometer dari tempat kami sekarang.
“Aku jalan sampai Bundaran HI,” kataku.
Dia diam. Lengannya mengencang di leherku.
“Jantung kamu masih kenceng,” bisiknya.
“Lagi gendong lima puluh kilo.”
“Empat puluh delapan!” Dia memukul bahuku pelan. “Empat puluh delapan, Ga. Jangan nambahin dua kilo.”
“Oke. Empat puluh delapan.”
“Jadi kenapa kenceng?”
Aku berhenti berjalan.
Di tengah Sudirman. Di depan gedung kaca bertingkat empat puluh. Dengan Clara di punggungku dan dua remaja masih merekam dari belakang dan komunitas lari oranye yang sudah jauh di depan.
Aku menoleh sedikit. Wajah Clara ada di bahuku, sangat dekat, menunggu.
“Kencengnya dari sebelum gendong,” kataku.
Clara tidak bergerak.
Lalu, sangat pelan, dia membenamkan wajahnya kembali ke leherku dan tidak berkata apa-apa lagi. Tapi aku merasakan lengannya gemetar. Dan aku merasakan sesuatu yang hangat dan basah di kulit leherku, satu tetes, mungkin keringat, mungkin bukan.
Aku mulai berjalan lagi.
Aku menggendongnya sampai Bundaran HI.
Tiga setengah kilometer. Empat puluh menit. Dengan dua kali berhenti untuk membetulkan posisi dan satu kali berhenti karena pedagang es kelapa muda memaksa memberi kami es kelapa gratis “buat pasangan yang romantis”.
Kami tidak mengoreksi kata “pasangan”. Clara meminum es kelapanya di punggungku, dengan sedotan, dan menawarkan satu tegukan padaku dengan menyodorkan sedotan melewati bahuku.
Di Bundaran HI, di depan air mancur, aku menurunkannya.
Kakinya menyentuh aspal. Dia berdiri, lalu goyah sedikit, dan berpegangan pada lenganku.
“Kakimu beneran sakit sekarang?” tanyaku.
“Nggak.” Dia menunduk, menatap sepatu barunya. “Tumitku lecet.”
Aku berlutut lagi. Membuka tali sepatunya. Melepas sepatu kanannya dengan hati-hati. Tumitnya memang lecet, kulitnya terkelupas sedikit, merah.
Dari saku belakang celana olahragaku, aku mengeluarkan plester. Dinosaurus. Selalu dinosaurus.
Aku menempelkannya di tumitnya.
Clara menatap plester itu. Lalu menatapku, yang masih berlutut di depannya, di depan air mancur Bundaran HI, di tengah ratusan orang CFD yang lalu lalang.
“Kamu bawa plester waktu lari?”
“Selalu.”
“Buat siapa?”
“Buat siapa aja.”
“Hari ini buat siapa?”
Aku mengikat kembali tali sepatunya. Pelan, rapi, simpul ganda supaya tidak lepas.
“Hari ini buat kamu,” kataku.
Lalu aku berdiri.
Clara menatapku lama. Air mancur di belakangnya menyemburkan air tinggi-tinggi, berkilau di bawah matahari pagi. Rambutnya berantakan, kuncirannya miring, wajahnya merah karena matahari dan karena hal lain, dan matanya basah.
“Ga,” katanya.
“Hm.”
“Aku kalah.”
“Kalah apa?”
“Zara bilang aku yang harus ngejar. Aku yang harus bikin kamu deg-degan.” Dia tertawa kecil, basah. “Terus kamu gendong aku tiga setengah kilo terus bilang ‘kencengnya dari sebelum gendong’. Itu curang. Aku kalah telak.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu tahu nggak, Ga,” katanya pelan, “kamu nyebelin banget.”
“Tahu.”
“Tapi aku nggak bisa berhenti.”
“Berhenti apa?”
Clara menatapku. Lama. Lalu dia tersenyum. Senyum yang sudah kukenal sepuluh tahun, yang kulihat diam-diam dari kursi paling ujung saat dia tidak melihat.
Kali ini dia melihat. Dan dia tidak memalingkan wajah.
“Nanti aku kasih tahu,” katanya. “Di tempat yang kamu nggak bisa kabur.”
Video itu viral jam dua siang.
Salah satu remaja yang merekam mengunggahnya ke TikTok dengan caption mas mas gendong pacarnya dari senayan ke bundaran HI 😭😭😭 aku kapan. Video lima belas detik: aku berjalan di Sudirman dengan Clara di punggung, wajahnya terbenam di leherku, lalu dia mengangkat kepala dan berbisik sesuatu, dan aku berhenti berjalan dan menoleh.
Dua juta penonton dalam enam jam.
Keisha mengirim tautannya ke grup dengan empat puluh emoji menangis. Putra membalas GA. LO VIRAL. Faisal membalas gue nggak ikut cfd dan gue nyesel seumur hidup. Zara membalas dengan satu kata, yang untuk pertama kalinya bukan k:
Bagus.
Clara tidak membalas di grup. Tapi dia mengirim pesan pribadi padaku jam tiga sore:
Komennya ada yang bilang “masnya kuat banget, pasti sering gendong beban hidup” 😭
Lalu, sepuluh menit kemudian:
Ga. Tante Mira nonton.
Lalu:
Mama juga.
Lalu:
Papa juga.
Aku menatap tiga pesan itu.
Lalu pesan keempat:
Papa nggak bilang apa-apa. Cuma nanya “itu yang benerin printer kantor Papa waktu lebaran, kan?”
Aku menatap pesan itu lama sekali.
Iya, tulisku.
Aku jawab iya. Terus Papa diem lama. Terus Papa bilang, “Kuat juga anak itu.”
Aku menutup HP dan menatap langit-langit kamarku di Depok.
Dari ruang tamu, terdengar suara mesin jahit Ibu. Lalu suara Ibu, berteriak dari balik pintu dengan nada yang terlalu riang:
“Le! Keisha kirimin Ibu video! Kamu viral! Ibu udah share ke grup RT!”
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD reading
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja