Chapter Twenty
Papandayan
POV: Erga
Ibunya Faisal menyambut kami di depan toko beras dengan baskom penuh peuyeum dan pertanyaan yang langsung membuat Zara tersedak.
“Ieu calonna Isal?”
Ibu Faisal, perempuan kecil berkerudung cokelat dengan pipi bulat persis seperti anaknya, menatap Zara dari ujung kepala sampai ujung kaki. Zara baru turun dari mobilku dengan carrier di punggung, celana kargo, dan topi rimba. Dia berhenti di tengah langkah, dengan peuyeum yang sudah setengah masuk ke mulutnya karena Ibu Faisal langsung menyuapinya begitu dia turun.
“Bukan, Bu,” kata Faisal cepat. Terlalu cepat. Wajahnya merah sampai leher. “Ini temen. Zara. Temen kuliah. Temen.”
“Oh, temen.” Ibu Faisal mengangguk. Lalu menatap Zara lagi. “Geulis pisan temen teh.”
“Bu.”
“Ibu mah cuma bilang geulis. Teu nanaon, kan?”
Zara menelan peuyeumnya. Lalu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku melihat Zara Amelia Siregar kehilangan kata-kata. Dia menatap Ibu Faisal. Menatap Faisal. Menatap Ibu Faisal lagi.
“Makasih, Bu,” katanya akhirnya. Dengan suara yang sangat kecil.
Clara, di sebelahku, menyikut rusukku dan berbisik: “Ga. Zara blushing.”
“Aku lihat.”
“Zara nggak pernah blushing.”
“Sekarang blushing.”
“Aku harus foto.”
“Kalau kamu foto, dia bunuh kamu di gunung.”
“Worth it.”
Rumah Faisal di belakang toko beras, di pinggir kota Garut. Rumah sederhana dengan halaman berisi kandang ayam dan pohon jambu. Bapaknya, Pak Rahman, laki-laki kurus berkacamata dengan peci hitam, duduk di teras sambil menghitung nota toko dengan kalkulator yang sudah berumur lebih tua dari Faisal.
Dia menjabat tangan kami satu per satu. Waktu sampai padaku, dia menahan tanganku sedikit lebih lama.
“Ieu Erga?”
“Iya, Pak.”
“Isal sering cerita.” Dia menepuk punggung tanganku dua kali. “Katanya kalau ada apa-apa, Erga duluan.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku cuma mengangguk.
Malam itu, Ibu Faisal memasak untuk delapan orang padahal kami cuma empat ditambah dua orang tuanya. Nasi liwet, ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, tahu, tempe, ikan asin, lalapan, dan karedok. Faisal makan tiga piring. Zara makan dua, yang untuk Zara sama dengan pesta. Clara makan sambil mendengarkan Ibu Faisal bercerita tentang Faisal kecil yang pernah tertidur di atas karung beras selama dua jam dan dikira hilang oleh satu kampung.
Aku duduk di ujung tikar, dekat pintu. Kebiasaan.
Ibu Faisal melihatku dan berkata dengan bahasa Sunda yang tidak sepenuhnya kumengerti, lalu Faisal menerjemahkan dengan mulut penuh: “Ibu bilang lo duduk di tengah. Jangan di ujung kayak satpam.”
Clara tertawa sampai tersedak sayur asem.
Aku pindah ke tengah.
Pendakian dimulai jam tujuh pagi dari Camp David, gerbang masuk Gunung Papandayan.
Langit cerah. Udara dingin dan tipis, berbau belerang dari kawah yang mengepul di kejauhan. Jalur awalnya lebar dan berbatu, melewati kawah-kawah aktif yang mendesis, tanah putih kekuningan, dan uap yang naik dari celah-celah bebatuan.
Kami berjalan dalam formasi yang kuatur semalam. Zara di depan, karena dia yang paling cepat dan paling tahu cara membaca medan. Clara di belakang Zara. Faisal di belakang Clara, karena dia yang paling lambat dan perlu ada yang mendorong. Aku di paling belakang, karena dari belakang aku bisa melihat semua orang.
“Kenapa lo selalu di belakang?” tanya Faisal, terengah, di kilometer pertama.
“Biar kalau ada yang jatuh, aku lihat.”
“Kalau lo yang jatuh?”
“Aku nggak jatuh.”
“Semua orang bisa jatuh, Ga.”
“Aku nggak.”
Faisal menatapku dari bahunya. “Lo tahu nggak, itu kalimat yang orang bilang sebelum jatuh.”
Dia benar. Tapi bukan aku yang jatuh hari itu.
Jalur dari Camp David ke Pondok Saladah memakan waktu dua setengah jam dengan kecepatan Faisal. Kami melewati kawah, hutan mati dengan pohon-pohon hitam terbakar yang berdiri seperti tulang-tulang, sungai kecil berbatu, dan tanjakan berdebu yang membuat Faisal berhenti setiap seratus meter untuk “foto pemandangan”, yang sebenarnya alasan untuk bernapas.
Clara mengejutkanku. Dia tidak mengeluh. Dia tidak berhenti kecuali Faisal berhenti. Sepatu gunungnya, yang dia beli khusus dan, kali ini, sudah dia pakai berjalan di apartemen selama dua minggu supaya tidak lecet, menapak dengan pasti. Dia mengikat rambutnya dalam kepang satu, memakai topi bucket krem, dan dengan pipi merah karena matahari dan napas yang mengepul, dia terlihat seperti seseorang yang lahir untuk ada di gunung.
“Kamu latihan?” tanyaku, di satu titik berhenti.
“Dua minggu. Naik tangga apartemen. Delapan belas lantai. Tiap pagi.”
“Delapan belas lantai?”
“Zara bilang kalau aku ngeluh di gunung, aku kalah.”
“Kalah apa?”
Clara menatapku dari balik topi bucket-nya, napasnya masih terengah, dan tersenyum.
“Nanti aku kasih tahu.”
Dari depan, Zara berteriak: “FOKUS. JALAN.”
Pondok Saladah adalah padang luas di ketinggian dua ribu tiga ratus meter, dikelilingi hutan cantigi dan bukit-bukit hijau. Ada beberapa kelompok pendaki lain yang sudah mendirikan tenda. Kami sampai jam sepuluh lewat tiga puluh, memilih tempat di pinggir padang dekat pohon-pohon cantigi yang bisa menahan angin, dan mendirikan dua tenda.
Satu tenda untuk Zara dan Clara. Satu untuk aku dan Faisal. Itu rencananya.
Rencana itu bertahan sampai jam dua siang.
Kabut datang tanpa peringatan.
Satu menit langit masih biru dengan awan tipis, menit berikutnya putih. Kabut tebal turun dari puncak, menelan bukit-bukit, menelan hutan cantigi, menelan tenda pendaki lain sampai kami tidak bisa melihat apa pun lebih dari lima meter. Suhu turun drastis. Dari dua belas derajat menjadi enam dalam setengah jam.
Lalu hujan.
Bukan hujan deras. Gerimis dingin yang menusuk, yang membasahi segalanya tanpa terasa sampai tiba-tiba semuanya basah.
Kami masuk ke tenda masing-masing. Aku memeriksa semua orang lewat jendela tenda. Zara dan Clara sudah ganti baju kering dan masuk sleeping bag. Faisal, di tendaku, sedang memakan biskuit.
Lalu Faisal bilang dia mau ke toilet.
Toilet di Pondok Saladah adalah bangunan kecil di sisi lain padang, dua ratus meter jauhnya. Dalam kabut, dua ratus meter terasa seperti dua kilometer.
“Aku antar,” kataku.
“Nggak usah, Ga. Gue tahu jalannya.”
“Kabut, Sal.”
“Gue orang Garut. Gue tahu kabut.” Dia memakai jaket dan keluar sebelum aku sempat menahannya. “Lima menit.”
Lima belas menit kemudian, Faisal belum kembali.
Aku keluar dari tenda dengan senter dan jas hujan. Zara sudah di luar tendanya, di tengah gerimis, wajahnya pucat.
“Faisal mana?” tanyanya.
“Toilet.”
“Dari tadi?”
“Lima belas menit.”
Zara tidak berkata apa-apa. Dia langsung berjalan ke arah toilet. Aku mengikutinya.
Kami menemukan Faisal tujuh menit kemudian, bukan di toilet. Dia tersesat di kabut, berbelok ke arah yang salah, dan berjalan ke tepi padang di mana tanahnya miring dan berlumpur menuju sungai kecil. Dia terpeleset di lumpur, jatuh ke sungai yang dangkal tapi dingin seperti es, dan sekarang duduk di batu di tepi sungai, basah kuyup dari kepala sampai kaki, gemetar.
Dan dia tidak memakai jaketnya.
“Sal!”
Zara berlari, terpeleset sedikit di lumpur, menangkap dirinya sendiri, dan berlutut di depan Faisal. Aku di belakangnya.
“Jaket lo mana?”
Faisal menatap Zara dengan mata yang tidak sepenuhnya fokus. Bibirnya biru. Giginya bergemeletuk.
“T-tadi,” katanya, terpatah-patah, “ada a-anak kecil. D-dari rombongan s-sebelah. D-dia nangis. K-kedinginan. Nyari ibunya. G-gue kasih jaket g-gue. T-terus g-gue anter dia ke t-tendanya.”
Zara menatapnya.
“Terus lo nyasar.”
“T-terus g-gue nyasar.” Faisal mencoba tersenyum. Gagal. Bibirnya terlalu kaku. “T-terus g-gue jatuh. M-maaf.”
Aku sudah berlutut di sisi lain Faisal. Memeriksa. Gemetar hebat, tidak terkontrol. Bicara terpatah. Bibir biru. Kulit dingin dan pucat. Respons sedikit lambat.
Hipotermia ringan. Mungkin hampir sedang.
“Zar,” kataku. Tenang. Datar. “Bantu aku angkat dia.”
“Kita turun? Bawa dia turun?”
“Nggak. Kabut, licin, dua setengah jam ke bawah. Dia nggak bakal kuat. Dan kita bisa jatuh juga.” Aku melingkarkan lengan Faisal di leherku. “Kita bawa ke tenda. Sekarang.”
“Ga—”
“Biar aku aja,” kataku. “Aku tahu caranya. Kamu ikutin yang aku bilang.”
Zara menatapku. Lalu dia mengangguk, dan melingkarkan lengan Faisal yang lain di bahunya.
Clara sudah menunggu di depan tenda ketika kami kembali. Dia melihat Faisal yang basah dan gemetar di antara aku dan Zara, dan wajahnya langsung pucat.
“Ya Allah. Sal—”
“Ra,” kataku. “Kompor. Rebus air. Banyak. Gula. Teh manis panas.”
Clara tidak bertanya apa-apa. Dia berbalik, membuka tas peralatan masak, menyalakan kompor gas portable di bawah tenda flysheet, dan mulai merebus air. Tangannya gemetar, tapi gerakannya cepat.
Aku dan Zara membawa Faisal ke tenda kami. Yang lebih besar.
“Lepas baju basahnya,” kataku ke Zara. “Semua yang basah. Ganti kering.”
Zara membeku.
“Zar.”
“Gue...”
“Aku lepas atasannya. Kamu ambil baju kering dari tasnya. Kantong samping kiri. Kaus termal, sweter, celana panjang, kaus kaki tebal.”
Zara bergerak. Cepat, cekatan, seperti dia bergerak di proyek. Dia menemukan semuanya dalam tiga puluh detik. Aku melepas jaket, kaus, dan celana Faisal yang basah. Faisal terlalu kedinginan untuk merasa malu. Lalu aku memakaikan baju kering satu per satu, mengeringkan kulitnya dengan handuk mikro dari tasku sendiri.
“Sleeping bag,” kataku.
Zara membuka sleeping bag Faisal. Aku memasukkan Faisal ke dalamnya, menarik ritsletingnya sampai ke dagu, menutup kepalanya dengan kupluk wol.
Faisal masih gemetar. Gemetar yang besar dan tidak terkontrol.
“Masih dingin,” bisik Zara. “Dia masih dingin, Ga.”
“Butuh panas tubuh.”
“Panas tubuh?”
“Sleeping bag cuma nahan panas. Dia nggak punya panas buat ditahan.” Aku membuka sleeping bag-ku sendiri dan membentangkannya di atas sleeping bag Faisal sebagai lapisan kedua. “Seseorang harus masuk ke sleeping bag sama dia. Pakai baju kering. Peluk dia. Sampai dia berhenti gemetar.”
Zara menatapku.
“Aku bisa,” kataku. “Atau—”
“Gue.”
Zara sudah membuka jaketnya. Kaus termal dan celana panjang kering, tidak ada yang basah. Dia membuka ritsleting sleeping bag Faisal, masuk ke dalamnya tanpa ragu, dan memeluk Faisal dari belakang. Lengannya melingkar di dada Faisal, wajahnya di punggung Faisal.
Faisal, yang gemetar dan setengah sadar, mencoba menoleh. “Z-Zar?”
“Diem,” kata Zara ke punggungnya. Suaranya bergetar. “Diem, Sal. Jangan ngomong. Jangan gerak.”
“T-tapi—”
“Lo kasih jaket lo ke anak kecil,” kata Zara. Suaranya pecah. “Lo kasih jaket lo ke anak kecil yang lo nggak kenal di tengah kabut. Terus lo nyasar. Terus lo jatuh ke sungai. Lo bego, Sal. Lo bego banget.”
“M-maaf.”
“Jangan minta maaf.” Zara mempererat pelukannya. Aku melihat bahunya bergetar. “Diem aja. Diem dan jangan mati.”
Clara membawakan teh manis panas lima menit kemudian. Aku membantu Faisal duduk sedikit, cukup untuk minum, dengan Zara masih memeluknya dari belakang di dalam sleeping bag. Faisal minum pelan-pelan, dengan tanganku memegangi gelasnya karena tangannya sendiri masih gemetar terlalu hebat.
Satu gelas. Dua.
Lalu cokelat batangan. Gula. Energi.
Setengah jam kemudian, gemetarnya mereda.
Satu jam kemudian, bibirnya tidak biru lagi.
Satu setengah jam kemudian, dia tertidur, napasnya teratur, pipinya mulai berwarna, dengan Zara masih memeluknya dari belakang dan tertidur juga, wajahnya di punggung Faisal, tangannya masih melingkar erat.
Aku duduk di ambang tenda, memperhatikan mereka. Mengecek napas Faisal setiap lima belas menit. Mengecek suhu tangannya.
Clara duduk di sebelahku, di bawah flysheet, dengan mug teh di tangan dan jaket hitamku di bahunya.
Dia menatapku. Lama.
“Kamu tadi,” katanya pelan.
“Apa?”
“Kamu kayak kapten.” Dia menatap tenda, lalu menatapku lagi. “Kamu nggak panik sama sekali. Kamu tahu harus ngapain. Kamu kasih perintah ke Zara, ke aku, dan kita semua langsung nurut. Bahkan Zara.”
“Aku pernah ikut pelatihan.”
“Pelatihan P3K kantor?”
“Pelatihan SAR. Waktu kuliah. Dua kali naik Papandayan sendiri, salah satunya buat pelatihan itu.”
Clara menatapku. “Kamu ikut pelatihan SAR waktu kuliah? Sendirian? Kenapa?”
Aku menatap kabut di luar, putih dan tebal, menutupi segalanya.
“Biar kalau ada apa-apa sama kalian,” kataku, “aku tahu harus ngapain.”
Clara tidak menjawab. Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Tidak berkata apa-apa. Hanya menyandarkan kepala, dan memegang lenganku dengan dua tangan, dan kami duduk di sana sampai kabut berubah dari putih menjadi abu-abu, lalu gelap.
Malam itu pengaturan tenda berubah.
Faisal dan Zara tetap di tenda besar, di sleeping bag yang sama. Zara menolak keluar. “Kalau dia kedinginan lagi tengah malam, siapa yang tahu?” Dan tidak ada yang berani membantah Zara dalam kondisi seperti itu.
Jadi aku dan Clara di tenda kecil.
Tenda dua orang. Sempit. Dua sleeping bag berdampingan, hampir bersentuhan. Lampu senter kepala tergantung di langit-langit tenda, menyala redup, memantulkan cahaya kuning di dinding nilon.
Di luar, angin malam di dua ribu tiga ratus meter berbunyi seperti orang berbisik. Suhunya turun sampai empat derajat.
Aku berbaring telentang di sleeping bag, mata terbuka, menunggu jam berikutnya untuk mengecek Faisal.
Clara berbaring miring menghadapku. Aku bisa merasakan tatapannya.
“Ga.”
“Hm.”
“Aku kedinginan.”
Aku menoleh. Dia meringkuk di sleeping bag-nya sampai dagu, dengan jaket hitamku di dalamnya, kupluk wol di kepala. Hidungnya merah.
“Jaketku udah di kamu,” kataku.
“Kurang.”
“Mau sleeping bag tambahan? Aku punya liner—”
“Kurang,” ulangnya. Pelan. Matanya menatapku dari balik kupluk. “Yang punya jaket juga.”
Tenda sunyi.
Angin di luar berhenti berbisik, seperti ikut menunggu.
Aku menatapnya. Dia menatapku. Lampu senter kepala bergoyang sedikit di langit-langit, membuat bayangan bergerak di wajahnya.
Aku tidak berkata apa-apa.
Aku membuka ritsleting sleeping bag-ku. Lalu membuka lenganku.
Clara menatap lenganku yang terbuka. Satu detik. Dua. Lalu dia keluar dari sleeping bag-nya, merangkak dalam jarak lima belas senti yang terasa seperti lima belas kilometer, dan masuk ke dalam lenganku.
Kepalanya di dadaku. Tangannya di pinggangku. Kakinya yang dingin, sangat dingin bahkan melalui kaus kaki wol, menempel di kakiku.
Aku menarik sleeping bag-nya ke atas kami berdua sebagai selimut tambahan. Lalu aku melingkarkan lenganku di punggungnya.
Dia gemetar. Sedikit. Bukan hanya karena dingin.
“Kamu hangat,” bisiknya ke dadaku.
“Kamu dingin.”
“Jantung kamu kenceng lagi.”
“Iya.”
“Masih dari sebelum gendong?”
Aku menatap langit-langit tenda.
“Dari sepuluh tahun lalu,” kataku.
Clara berhenti gemetar.
Dia tidak mengangkat kepalanya. Tidak berkata apa-apa. Tangannya di pinggangku mengencang. Dan aku merasakan napasnya, yang tadinya cepat dan pendek, pelan-pelan melambat. Teratur. Dalam.
Dia tertidur dalam lima menit. Di dadaku.
Aku tidak tidur.
Setiap jam, aku melepaskan diri dengan sangat hati-hati, keluar dari tenda, mengecek Faisal yang masih tertidur dengan napas teratur dan Zara yang masih memeluknya, lalu kembali. Dan setiap kali aku kembali, Clara, dalam tidurnya, mencari-cari dengan tangan sampai menemukanku, lalu menarikku kembali ke posisi semula. Kepala di dadaku. Tangan di pinggangku.
Tiga kali. Tiga kali dia melakukannya tanpa bangun.
Pada kali ketiga, aku berbaring diam dan menatap langit-langit tenda nilon yang berwarna kuning karena senter kepala, dengan perempuan yang sudah sepuluh tahun duduk di kursi sebelahku sekarang tertidur di dadaku, dan aku mendengar suara angin di luar.
Dan di kepalaku, di kursi paling ujung, semua hal yang sudah sepuluh tahun kusimpan rapi mulai berjatuhan dari rak.
Jam tiga lewat empat puluh lima, alarm HP-ku bergetar.
Clara bergerak di dadaku. Mengerjap. Mengangkat kepala sedikit, rambut berantakan di bawah kupluk, mata setengah terbuka.
“Udah pagi?”
“Belum. Jam empat kurang.”
“Kenapa bangun?”
“Tegal Alun. Sunrise. Jalan sejam.”
Clara diam. Lalu, perlahan, matanya terbuka penuh. Dia menatapku dari jarak sangat dekat, dengan dagu di dadaku, di bawah cahaya senter yang kuning.
Dan ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang sudah kulihat di dapur vila waktu dia menuangkan teh ke gelasku. Sesuatu yang kulihat di depan air mancur Bundaran HI.
Tekad.
“Ayo,” katanya. Pelan. Pasti. “Aku mau bilang sesuatu.”
Aku menatapnya.
Aku tahu apa yang mau dia katakan. Aku sudah tahu sejak lama.
Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku tidak tahu apakah aku bisa menjawab dengan jawaban yang sudah kusiapkan.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan reading
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja