Chapter Twenty Four
Bekal yang Mencurigakan
POV: Erga
Senin jam dua belas siang, resepsionis kantorku menelepon ke meja IT.
“Mas Erga, ada tamu.”
“Tamu siapa?”
Jeda. Lalu suara resepsionis, Mbak Rini, berubah. Lebih pelan. Lebih bersemangat. Suara seseorang yang sedang berbisik sambil menutupi gagang telepon dengan tangan.
“Mas. Cantik banget, Mas.”
“Siapa namanya?”
“Clara, katanya. Bawa tas bekal.”
Aku meletakkan telepon.
Bayu, di meja sebelah, sudah menoleh. Dia mendengar. Tentu saja dia mendengar. Bayu punya telinga seperti radar militer untuk gosip kantor.
“C,” bisiknya. “Mas. C yang pakai hati.”
Aku berdiri.
“Mas Erga. MAS ERGA.” Bayu berdiri juga. “Aku ikut.”
“Nggak.”
“Aku mau lihat aja.”
“Nggak, Bay.”
“Sedetik.”
Aku berjalan ke lobi. Bayu mengikutiku dengan jarak tiga meter, pura-pura membawa map ke ruang administrasi.
Kantorku adalah perusahaan asuransi menengah yang menempati tiga lantai gedung perkantoran di Kemang. Lobinya kecil, dengan sofa abu-abu, meja resepsionis dari kayu, dan akuarium berisi tiga ikan koi yang sudah tua dan malas.
Clara berdiri di depan akuarium itu.
Blazer biru tua, blus sutra putih, rok pensil hitam, rambut tergerai bergelombang. Dia jelas datang langsung dari kantornya di jam makan siang, dan dia membawa tas bekal kain bermotif bunga-bunga kecil di satu tangan.
Mbak Rini di meja resepsionis menatapnya dengan mulut setengah terbuka. Dua orang dari bagian klaim yang kebetulan lewat berhenti di tengah lobi. Satpam di pintu masuk berdiri lebih tegak dari biasanya.
Clara menoleh dan melihatku.
Senyumnya merekah. Senyum yang membuat lobi kantor asuransi menengah di Kemang mendadak terasa terlalu kecil untuknya.
“Hai,” katanya.
“Kamu ngapain di sini?”
“Nganter bekal.” Dia mengangkat tas bunga-bunga itu. “Kamu nggak pernah makan siang yang bener. Roti terus.”
“Kantor kamu di Kuningan.”
“Aku lewat jalan jauh.”
Di belakangku, aku mendengar Bayu menahan napas.
Clara menyerahkan tas bekal itu ke tanganku. Lalu, dengan sangat santai, seolah ini hal paling normal di dunia, dia merapikan kerah kemejaku yang sedikit terlipat. Jarinya menyentuh leherku sekilas.
Lobi itu sunyi. Bahkan ikan koi di akuarium seperti berhenti berenang.
“Makan semua,” kata Clara. “Jangan kasih ke orang lain.”
“Iya.”
“Jangan bilang kurang garam.”
“Kalau kurang garam?”
“Tetep jangan bilang.” Dia tersenyum. Lalu menoleh ke arah Bayu, yang berdiri tiga meter di belakangku dengan map terbalik di tangan. “Halo. Teman kantornya Erga?”
Bayu membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.
“B-Bayu,” katanya. “Bayu. IT. Sebelah meja Mas Erga.”
“Halo, Bayu. Aku Clara.” Dia mengulurkan tangan. Bayu menjabatnya seperti menjabat tangan presiden. “Tolong pastiin dia makan ya. Dia suka lupa.”
“S-siap, Mbak.”
Clara menoleh padaku sekali lagi. Berjinjit. Mencium pipiku. Cepat. Satu detik.
Di depan Mbak Rini. Di depan dua orang dari bagian klaim. Di depan satpam. Di depan Bayu.
“Bye,” katanya, dan pergi.
Pintu kaca menutup di belakangnya. Hening total di lobi.
Lalu Mbak Rini berbisik, dengan suara yang terdengar di seluruh lobi: “Ya Allah. Mas Erga.”
Dalam sepuluh menit, seluruh lantai tiga tahu.
Dalam tiga puluh menit, seluruh kantor tahu.
Grup WhatsApp tim IT meledak. Bayu mengirim deskripsi lengkap, dengan detail yang semakin dramatis setiap kali ditanya. Seseorang dari bagian pemasaran menemukan video CFD yang viral dan mencocokkannya. ITU DIA. ITU MBAK YANG DIGENDONG. Seseorang dari bagian klaim bertanya apakah aku perlu tunjangan pernikahan dari koperasi kantor.
Pak Gunawan, kepala divisi IT, laki-laki lima puluh tahun yang tidak pernah bicara di luar urusan server, berhenti di depan mejaku jam satu siang.
“Erga.”
“Pak.”
Dia menatap tas bekal bunga-bunga di mejaku, yang sudah kosong. Aku sudah menghabiskannya. Nasi goreng kampung, telur ceplok setengah matang, dan kerupuk dalam wadah terpisah supaya tidak lembek.
Nasi gorengnya sedikit terlalu asin. Bawang putihnya sedikit gosong di beberapa tempat.
Itu nasi goreng terbaik kedua yang pernah kumakan. Yang pertama adalah yang dia masak di apartemen Zara.
“Empat tahun kamu di sini,” kata Pak Gunawan. “Saya nggak pernah lihat kamu makan siang yang bukan roti.”
“Iya, Pak.”
“Bagus.” Dia mengangguk sekali. Lalu, sebelum berbalik: “Cuti nikah tiga hari ya. Kalau perlu tambahan, bilang saya.”
Dia pergi. Bayu, di meja sebelah, menjatuhkan mouse-nya ke lantai.
Clara membawakan bekal lagi hari Selasa. Rabu. Kamis.
Setiap hari, menu yang sama. Nasi goreng kampung. Telur ceplok setengah matang. Kerupuk terpisah. Setiap hari sedikit lebih baik dari hari sebelumnya. Hari Kamis, bawang putihnya tidak gosong lagi. Garamnya masih sedikit kebanyakan.
Setiap hari, dia hanya datang lima menit. Menyerahkan tas. Merapikan kerah. Mencium pipi. Pergi.
Hari Rabu, Mbak Rini sudah menyiapkan kursi di lobi untuknya. Hari Kamis, satpam membukakan pintu sebelum dia sampai. Ikan-ikan koi di akuarium, menurut Bayu, “berenang lebih semangat kalau Mbak Clara dateng”.
“Ra,” kataku di telepon, Kamis malam. “Kamu nggak harus anter tiap hari.”
“Aku mau.”
“Kantor kamu jauh.”
“Empat puluh menit pulang pergi. Aku makan siang di mobil.”
“Kamu makan siang di mobil?”
“Aku makan sisa nasi gorengnya. Aku masak dua porsi. Satu buat kamu, satu buat aku.” Dia tertawa. “Rasanya kayak kita makan siang bareng. Cuma beda tempat.”
Aku diam.
“Ga?”
“Hm.”
“Kamu diem.”
“Aku lagi mikir.”
“Mikir apa?”
Aku menatap tas bekal bunga-bunga di meja kamarku. Sudah dicuci. Siap dikembalikan besok.
“Besok Jumat,” kataku. “Kamu masak tiga porsi.”
“Tiga? Kenapa tiga?”
“Satu buat kamu. Satu buat aku. Satu bawa ke Dapur Isal.”
Hening di seberang. Lalu Clara mulai tertawa, pelan, dan semakin keras.
“Ga,” katanya di antara tawa. “Kamu mau...”
“Aku bilang di grup Minus Faisal. Dia bakal sadar dari makanan.”
“Kamu jahat banget.”
“Aku cuma mau lihat mukanya.”
Jumat malam, jam enam kurang sepuluh, aku menyatukan dua meja di Dapur Isal dan menata enam kursi.
Lalu aku meletakkan kotak bekal ketiga, kotak plastik transparan berisi nasi goreng kampung dengan telur ceplok, di tengah meja. Tutupnya kubuka sedikit.
Dan aku duduk di kursi paling ujung.
Faisal keluar dari dapur jam enam kurang lima. Celemek merah, spatula di tangan, mulut mengunyah sesuatu. Dia melihat kotak bekal di tengah meja.
Matanya langsung terkunci.
Faisal punya satu kelemahan yang sudah sepuluh tahun dikenal semua orang: dia tidak bisa melihat makanan tak bertuan tanpa mencicipinya. Bakmi Keisha. Pisang goreng Zara. Rendang di piring orang lain di kondangan. Sisa barbeque. Puding TETAP SEMANGAT PUT.
“Ga,” katanya. “Itu apa?”
“Nasi goreng.”
“Punya siapa?”
“Sisa.”
Itu bukan bohong. Itu memang porsi ketiga. Sisa dari dua porsi lainnya.
Faisal mendekat. Menatap kotak itu dengan mata seorang profesional. Mengendus.
“Nasi goreng kampung,” katanya. “Resep gue.”
“Iya.”
“Lo beli di sini?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Cobain aja.”
Faisal tidak butuh disuruh dua kali. Dia mengambil sendok dari meja, menyendok nasi goreng itu dengan sedikit telur, dan memasukkannya ke mulut.
Dia mengunyah.
Lalu berhenti mengunyah.
Wajahnya berubah. Pelan-pelan. Dari santai ke bingung. Dari bingung ke serius. Dari serius ke sesuatu yang sangat konsentrasi, seperti juri lomba masak yang mencoba mengenali bumbu rahasia.
“Ini resep gue,” katanya pelan, dengan mulut masih setengah penuh. “Ini resep gue persis. Nasi kemarin. Terasi sedikit. Telur ceplok terpisah, kuningnya setengah mateng.”
“Iya.”
“Tapi garamnya...” Dia mengunyah lagi. “Garamnya kebanyakan. Dikit. Kebanyakan dikit. Dan bawang putihnya...” Dia menyendok lagi. Mengunyah. “Bawang putihnya numisnya kelamaan. Ada yang hampir gosong. Kayak orang yang lagi belajar.”
Dia meletakkan sendoknya.
Di belakangnya, pintu kedai terbuka. Putra dan Keisha masuk. Lalu Zara. Mereka melihat Faisal berdiri di depan kotak bekal dengan wajah konsentrasi penuh, dan mereka berhenti di tempat.
Faisal tidak menyadari mereka.
“Gue cuma pernah ngajarin resep ini ke satu orang,” katanya pelan. Ke dirinya sendiri. “Di apartemen Zara. Kelas masak.”
Hening.
“Satu orang,” ulangnya. “Garamnya kebanyakan. Bawang putihnya gosong. Dia nambah garam dua kali padahal gue bilang udah pas.”
Dia menatap kotak bekal.
Lalu dia menatapku.
Lalu menatap kotak bekal lagi.
Lalu menatapku lagi.
Aku melihat semuanya tersambung di wajahnya. Satu per satu. Seperti kabel-kabel yang dicolokkan ke port yang benar. Jaket hitam yang tidak dikembalikan. Datang barengan. Searah. Senyum ke HP. Meme router. Kaki di bawah meja. Sarapan dengan sticky note berhati di kantor yang diceritakan Bayu ke Putra dan Putra ceritakan ke grup tanpa Faisal. CFD. Video viral. Papandayan.
Sepuluh tahun Ospek.
“Ini,” kata Faisal. Suaranya mulai naik. “Ini masakan Clara.”
Aku tidak menjawab.
“KENAPA MASAKAN CLARA ADA DI KOTAK BEKAL ERGA?”
Pintu kedai terbuka lagi.
Clara masuk. Blazer krem, rambut tergerai, tas bekal bunga-bunga di tangannya, berisi dua kotak kosong. Dia melihat Faisal berdiri di depan kotak bekal ketiga, sendok di tangan, wajah merah.
Dia menatap Faisal. Lalu menatapku. Lalu tersenyum sangat lebar.
“Hai, Sal,” katanya. “Enak?”
Faisal menatapnya. Menatap tas bekal bunga-bunga di tangannya. Menatap kotak bekal di meja.
Lalu dia berteriak. Teriakan yang panjang, keras, dan sangat Faisal, yang membuat dua meja tamu di dekat jendela menoleh dan seorang kurir ojek online di luar menjatuhkan helmnya.
“KALIAN PACARAN?”
Kekacauan berlangsung sepuluh menit.
Putra berdiri di atas kursi, karena dia sudah menyiapkan pidato sejak hari Rabu dan menunggu momen ini. Pidatonya tentang sepuluh tahun persahabatan, tentang kesabaran, tentang cinta yang tumbuh diam-diam, dan berakhir dengan “dan akhirnya, setelah sepuluh tahun, Faisal Rahman sadar juga.” Semua orang bertepuk tangan, kecuali Faisal.
Keisha menangis. Tentu saja. Dia memeluk Clara, lalu memelukku, lalu memeluk Clara lagi, lalu memeluk Putra karena dia “terlalu bahagia dan butuh dipeluk balik”.
Zara duduk di kursinya, menyendok sambal, dan berkata dengan suara datar satu kata:
“Akhirnya.”
Faisal berdiri di tengah kekacauan dengan sendok di tangan dan wajah orang yang baru dikhianati oleh seluruh umat manusia.
“Kalian semua tahu?”
“Tahu,” kata Putra.
“Tahu!” kata Keisha.
“Dari awal,” kata Zara.
“Dari kapan?”
“Papandayan,” kata Putra.
“Papandayan?? Itu dua minggu lalu! Gue di Papandayan! Gue ADA DI SANA!”
“Lo lagi motret edelweis,” kata Zara.
“GUE LAGI MOTRET EDELWEIS DAN MEREKA JADIAN DI BELAKANG GUE?”
“Di depan lo, sebenernya,” kata Zara. “Lo membelakangi mereka.”
Faisal menatap Zara dengan mata membelalak. Lalu menatap aku dan Clara. Lalu menunjuk kami dengan sendok.
“Sepuluh tahun,” katanya. “Sepuluh tahun gue selalu tahu semuanya duluan. Gue tahu Keisha gagal statistik duluan. Gue tahu Putra mau pindah ke kedokteran duluan. Gue tahu Zara magang ke Kalimantan duluan.”
“Lo nggak pernah tahu apa-apa duluan, Sal,” kata Zara.
“Gue tahu!”
“Lo tahu karena lo yang nyiapin makanan perpisahannya. Itu beda.”
Faisal membuka mulut. Menutupnya. Lalu duduk di kursi dengan berat, menatap kotak bekal dengan wajah terluka.
“Gue yang terakhir tahu,” gumamnya. “Gue yang ngajarin dia masak nasi goreng buat lo, Ga. Dan gue yang terakhir tahu.”
Clara berjalan ke arahnya. Berlutut di sebelah kursinya. Menatapnya dengan mata yang sangat lembut.
“Sal,” katanya. “Makasih udah ngajarin aku.”
Faisal menatapnya.
“Itu nasi goreng pertama yang aku masak buat orang yang aku sayang,” lanjut Clara pelan. “Kamu yang ngajarin. Jadi kamu bukan yang terakhir. Kamu yang pertama. Kamu yang pertama tahu, waktu kamu nyicipin dan bilang ‘udah pas’. Kamu cuma belum sadar.”
Faisal menatap Clara. Bibirnya bergetar.
Lalu dia menangis. Tentu saja dia menangis. Faisal menangis untuk kangkung. Dia pasti menangis untuk ini.
“Ya udah,” katanya di antara isak, sambil mengambil sendok lagi dan menyendok nasi goreng di kotak bekal. “Ya udah. Gue maafin. Tapi ini gue yang abisin.”
“Itu emang buat kamu, Sal,” kataku.
Faisal menatapku. Lalu menangis lebih keras, dan menghabiskan nasi goreng itu dalam tiga suapan.
Setelah kekacauan mereda, Clara berdiri dari samping kursi Faisal.
Dia menatap meja. Kursi paling ujung, tempatku duduk. Kursi di sebelahnya, kursinya, yang kosong.
Dia tidak duduk di kursinya.
Dia berjalan ke kursi paling ujung, ke arahku, dan duduk di pangkuanku.
Langsung. Tanpa ragu. Dengan satu lengan melingkar di leherku dan tubuhnya bersandar ke dadaku, di depan seluruh Gugus Tujuh dan dua meja tamu dan seorang kurir ojek online yang masih menatap dari balik jendela dengan helm di tangan.
“Udah ketahuan,” katanya, menatap semua orang dengan dagu terangkat. “Ngapain sembunyi.”
Hening.
Aku menatap Clara di pangkuanku. Dia menatapku balik dengan mata menantang, pipi merah, senyum lebar.
Aku melingkarkan satu lengan di pinggangnya. Pelan. Tenang. Seperti melingkarkan lengan di pinggangnya adalah hal yang sudah kulakukan seribu kali.
Lalu aku mengambil sendok dengan tangan yang lain dan melanjutkan makan nasi goreng kampungku.
Clara menatapku. Mulutnya terbuka.
Putra berdiri lagi di kursinya. “INI TEMPAT UMUM!”
“INI KEDAI AKU!” teriak Faisal, dengan mulut penuh nasi goreng Clara.
“Kalian berdua berisik,” kata Zara.
Keisha mengambil HP dan memotret kami dari empat sudut berbeda.
Aku terus makan. Clara terus duduk di pangkuanku, dengan lengan di leherku, dan pelan-pelan, setelah satu menit, dia berhenti menatap semua orang dengan dagu terangkat dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Kamu nyebelin,” bisiknya.
“Kamu yang duduk di pangkuan.”
“Kamu yang lanjut makan.”
“Nasi gorengnya enak.”
Dia diam. Lalu, sangat pelan, di telingaku: “Bukan kurang garam?”
Aku berhenti makan.
Aku menoleh sedikit. Wajahnya sangat dekat. Matanya menunggu.
“Nggak,” kataku. “Pas.”
Clara tidak berkata apa-apa. Tapi dia memelukku lebih erat.
Jam sembilan malam, Faisal keluar dari dapur dan berdiri di depan meja.
Dia sudah selesai menangis. Matanya masih merah, tapi wajahnya serius.
“Ga,” katanya. “Berdiri.”
Aku menatapnya. Clara sudah kembali ke kursinya sendiri sejak setengah jam lalu, karena Putra mengancam akan memotret dan mengirim fotonya ke Tante Mira. Tapi tangannya masih di tanganku, di atas meja sekarang, bukan di bawah.
“Kenapa?”
“Berdiri aja.”
Aku berdiri.
Faisal menarik kursiku, kursi paling ujung, dan menyeretnya ke ujung meja yang lain, di dekat dapur. Lalu dia menarik kursi yang ada di tengah meja, di antara Putra dan Zara, dan meletakkannya di sebelah kursi Clara.
“Duduk,” katanya. “Di sini.”
Aku menatap kursi itu. Di tengah. Di sebelah Clara. Dikelilingi semua orang.
“Sal—”
“Sepuluh tahun lo duduk di ujung,” kata Faisal. “Biar bisa berdiri ambil sambal. Biar bisa buka pintu. Biar bisa keluar kalau ada yang telepon minta jemput.” Dia menepuk kursi di tengah itu. “Mulai sekarang lo duduk di tengah. Kursi ujung buat gue.”
“Kamu pemilik kedai. Kamu nggak duduk.”
“Mulai sekarang gue duduk. Di ujung. Biar gue yang ambil sambal.”
Hening di meja.
Keisha mulai menangis lagi. Putra menatap Faisal dengan alis terangkat dan mata yang sedikit basah. Zara berhenti menyendok sambal.
Aku menatap Faisal. Sahabatku yang duduk di sebelahku di lapangan rektorat jam lima empat puluh pagi, membawa ransel penuh makanan “buat jaga-jaga”, dan menawariku kacang.
Lalu aku duduk di kursi tengah.
Clara menggenggam tanganku lebih erat. Putra menepuk bahuku dari kiri. Keisha memelukku dari kanan sambil menangis. Zara, di seberang, mengangguk sekali.
Dan Faisal duduk di kursi paling ujung, dekat pintu, dekat dapur. Menyendok sambal dari cobek. Tersenyum.
“Gimana rasanya?” tanyanya. “Duduk di tengah?”
Aku menatap meja. Lima wajah. Enam piring. Dua meja kayu yang disatukan.
Dari kursi tengah, aku tidak bisa berdiri tanpa membuat orang lain bergeser. Kalau sambal habis, aku harus minta tolong. Kalau ada yang datang basah kuyup, orang lain yang buka pintu.
“Sempit,” kataku.
Semua orang tertawa.
Tapi aku tidak bergeser dari kursi itu sampai kedai tutup.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan reading
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja