Chapter Thirty Eight
Ra, Bantuin Aku
POV: Erga
Aku bangun jam lima sore.
Delapan jam. Aku tidur delapan jam di siang hari, di kasur busa di kamar dua kali tiga meter, dengan boneka kucing raksasa Keisha di sudut ruangan menatapku. Aku tidak ingat kapan terakhir aku tidur delapan jam. Mungkin sebelum kuliah. Mungkin sebelum minggu ketiga.
Rumah sunyi. Mesin jahit Ibu tidak berdetak. Aku keluar kamar dan menemukan Ibu di dapur, memasak sayur asem, dengan radio kecil yang memutar lagu keroncong pelan.
“Bangun, Le.”
“Iya, Bu.”
“Clara telepon tadi. Jam empat.” Ibu mengaduk sayur. “Ibu bilang kamu tidur. Dia bilang jangan dibangunin.”
“Dia bilang apa lagi?”
Ibu tidak menoleh. “Dia bilang jam delapan dia ke sini.”
Aku berdiri di ambang dapur.
“Terus Keisha telepon,” lanjut Ibu. “Nanya atap dapur bocornya di sebelah mana. Ibu bilang di pojok kiri, deket jendela. Dia bilang makasih, terus nutup.”
“Keisha nanya atap?”
“Terus Putra telepon. Nanya Ibu kapan terakhir cek kesehatan. Ibu bilang nggak inget. Dia bilang ‘oke, Bu, Kamis depan saya jemput ya’.” Ibu menoleh padaku dari balik kacamata. “Ibu nggak tahu Kamis depan dijemput ke mana.”
“Bu—”
“Terus Faisal kirim nasi goreng kampung. Lewat ojek. Dua porsi. Satu buat kamu, satu buat Ibu. Pakai sticky note.” Ibu menunjuk kulkas.
Di pintu kulkas, tertempel sticky note kuning. Tulisan tangan Faisal yang berantakan dan miring, tidak seperti tulisanku sama sekali.
GA. MULAI SEKARANG MAKAN MALAM DARI GUE. TIAP HARI. JANGAN PROTES. —F
PS: LO BEGO.
PPS: GUE SAYANG LO.
Aku menatap sticky note itu lama sekali.
Ibu kembali mengaduk sayur asem.
“Le,” katanya pelan. “Kayaknya Clara udah cerita.”
“Iya, Bu.”
“Ke semua?”
“Ke semua.”
Ibu mengangguk. Tidak berkata apa-apa lagi. Tapi aku melihat bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang meletakkan sesuatu yang sangat berat yang sudah lama dia bawa.
Aku duduk di teras rumah, di kursi plastik di samping pot-pot cabai Ibu, menunggu jam delapan.
Langit di atas gang sudah gelap. Lampu jalan menyala oranye. Tetangga sebelah menyalakan TV dengan volume terlalu keras, sinetron yang sama seperti setiap malam. Anak-anak bermain sepeda di gang, bel sepeda berdenting.
Aku berpikir.
Kamu harus mikir kenapa kamu bisa nyerahin seratus delapan puluh juta ke Faisal tanpa ragu, tapi nggak bisa nyerahin satu cerita ke aku.
Dua hari aku memikirkan kalimat itu. Di mobil di parkiran Dapur Isal. Di lantai ruang tamu di samping mesin jahit Ibu. Di bangku semen di samping makam Bapak.
Dan jawabannya ternyata sederhana. Begitu sederhana sampai aku malu tidak menemukannya lebih cepat.
Memberi itu mudah. Memberi itu aman. Kalau aku memberi, aku yang memegang kendali. Aku yang memutuskan kapan, berapa, kepada siapa. Aku yang menanggung, dan tidak ada yang bisa menolak, karena aku tidak menawarkan, aku memberi.
Meminta itu lain.
Kalau aku meminta, aku menyerahkan kendali. Aku membiarkan orang lain memutuskan. Aku membiarkan diri sendiri terlihat butuh. Aku membuka pintu, dan aku tidak tahu siapa yang akan masuk, atau apakah ada yang akan masuk sama sekali.
Sepuluh tahun lalu, di depan rumah ini, di bawah hujan, aku tidak meminta siapa pun datang. Aku berdiri di sana sendirian, siap menanggung semuanya sendiri. Dan lima orang datang tanpa diminta.
Sejak hari itu, aku memastikan tidak akan pernah perlu meminta lagi. Aku akan selalu datang duluan, supaya tidak pernah perlu berdiri di bawah hujan menunggu orang lain datang untukku.
Itu bukan kebaikan. Aku baru menyadarinya sekarang, di kursi plastik di teras, di antara pot-pot cabai Ibu.
Itu ketakutan.
Ada satu hal lagi yang kupikirkan.
Ruang ICU. Pagi setelah empat menit. Pak Hendra di ranjang dengan selang oksigen dan rusuk retak, menyuruh Bu Lena, Tante Mira, dan Clara keluar.
Waktu pintu tertutup, dia menatapku lama dari ranjang. Lalu dia berkata:
“Kamu tahu saya nikahin Lena waktu saya masih ngontrak satu kamar di Kramat?”
Aku tidak tahu.
“Satu kamar. Tiga kali tiga. Kamar mandinya bareng sama empat keluarga lain.” Dia menelan ludah. Suaranya lemah. “Mertua saya bilang saya nggak cukup. Bapaknya Lena pengusaha tekstil. Saya cuma tukang cetak dengan satu mesin bekas yang saya cicil.”
Dia menatap langit-langit.
“Saya nggak nunggu cukup,” katanya. “Saya dateng aja. Bawa diri saya. Bawa pisang dua sisir, kayak bapak kamu.”
Aku menatapnya. Aku tidak tahu bagaimana dia tahu soal pisang dua sisir. Mungkin Clara. Mungkin Ibu, dalam satu dari seratus percakapan dengan Bu Lena yang tidak kuketahui.
“Tiga puluh dua tahun,” lanjut Pak Hendra. “Kamu udah lihat albumnya. Kamu tahu gimana Lena ketawa di foto terakhir.”
“Iya, Om.”
“Dia ketawa karena saya. Laki-laki yang ngontrak satu kamar di Kramat.” Dia menoleh padaku. Matanya, di balik kacamata emas yang diletakkan suster di meja samping ranjang, sangat tajam untuk seseorang yang baru mati empat menit. “Lena bilang Clara nunggu kamu dari kuliah.”
Aku tidak menjawab.
“Jangan bikin anak saya nunggu kamu jadi cukup, Erga,” katanya. “Dia udah nunggu sepuluh tahun. Kalau kamu mau minta dia, dateng. Jangan tunggu punya rumah.”
Lalu dia memejamkan mata dan menyuruhku keluar.
Aku keluar dengan mata merah. Clara bertanya dia ngomong apa. Aku bilang rahasia. Buat orang lain.
Aku tidak melakukan apa yang dia bilang. Aku pulang dan membuka kalkulator dan menghitung. Seratus lima puluh enam koma dua juta. Tiga tahun lagi, kalau proyek sampingan lancar.
Karena memberi itu mudah. Dan meminta itu menakutkan.
Bahkan meminta seseorang yang sudah menunggu sepuluh tahun.
Clara datang jam delapan kurang lima.
Kurang lima. Lebih awal dari janjinya.
Dia membuka pagar sendiri. Berjalan ke teras. Berhenti di depanku.
Dia memakai jaket hitamku. Jaket yang tidak dia pakai semalam, di parkiran Dapur Isal. Jaket yang dia bawa ke Puncak, ke Papandayan, ke tenda, ke kabin kapal.
Dia memakainya lagi.
“Hai,” katanya.
“Hai.”
“Kamu udah tidur?”
“Delapan jam.”
“Bagus.” Dia duduk di kursi plastik di sebelahku. Di antara pot-pot cabai. “Rapatnya udah.”
“Mereka bilang apa?”
“Banyak.” Dia menatap gang yang gelap. “Kamu nggak boleh nolak satu pun.”
“Ra—”
“Satu pun, Ga.” Dia menoleh padaku. “Putra mau cek kesehatan Ibu. Keisha sama Zara mau benerin atap dapur. Faisal mau masakin kamu makan malam tiap hari. Dan...” Dia berhenti. “Dan Faisal mau ngasih kamu sesuatu. Tapi itu biar dia yang bilang.”
“Aku nggak butuh—”
“Kamu nggak ditanya butuh atau nggak.” Suaranya tegas. Galak. Clara yang di kantor dijuluki Es Batu di lantai dua tiga. “Kamu nggak pernah tanya kami butuh atau nggak waktu kamu dateng duluan. Sekarang kami juga nggak tanya.”
Aku menatapnya.
Dia menatapku balik. Dagu terangkat. Mata yang masih sedikit bengkak sejak makam tadi pagi.
Lalu, pelan, wajahnya melunak.
“Kamu marah?” tanyanya.
“Nggak.”
“Kamu kesel?”
“Nggak.”
“Terus muka kamu kenapa?”
Aku menatapnya. Perempuan yang datang ke makam Bapak jam lima pagi, sejam lebih awal dariku, supaya sekali saja ada yang datang duluan untukku. Yang berbicara ke nisan Bapak dengan suara bergetar dan dagu terangkat. Yang memakai jaket hitamku lagi.
“Ra,” kataku.
“Hm?”
Aku menarik napas.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku tidak pernah mengucapkan kalimat ini. Ke siapa pun. Bahkan ke Ibu.
Rasanya seperti membuka pintu yang engselnya sudah berkarat.
“Ra,” kataku lagi. Suaraku bergetar. “Bantuin aku.”
Clara tidak bergerak.
Dia menatapku. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya membesar.
“Bantuin apa?” bisiknya.
Aku menatap tanganku. Tangan yang tidak pernah meminta.
“Aku nggak tahu caranya berhenti,” kataku. “Dateng duluan. Nanggung sendiri. Ngitung semuanya sendiri. Aku udah sepuluh tahun kayak gini. Aku nggak tahu caranya jadi nggak kayak gini.”
Suaraku pecah.
“Tadi pagi kamu bilang aku boleh dateng belakangan. Boleh capek. Boleh minta tolong. Aku pengin percaya. Aku pengin bisa. Tapi aku nggak tahu caranya, Ra.”
Aku menatapnya.
“Bantuin aku.”
Clara menatapku lama. Air matanya sudah turun. Pelan. Tanpa suara.
Lalu dia berdiri dari kursi plastiknya. Berlutut di depanku, di lantai teras yang dingin, persis seperti aku berlutut di depannya di bahu tol jam tiga pagi. Supaya matanya sejajar dengan mataku.
Dia memegang wajahku dengan dua tangan.
“Bilang sekali lagi,” bisiknya.
“Bilang apa?”
“Bilang kamu butuh aku.”
Aku menatapnya.
“Aku butuh kamu,” kataku.
“Sekali lagi.”
“Ra.”
“Sekali lagi, Ga.” Air matanya turun lebih deras. “Aku udah nunggu sepuluh tahun buat denger itu. Aku mau denger lagi. Sekali lagi.”
Aku memegang tangannya di wajahku.
“Aku butuh kamu, Ra,” kataku. “Aku butuh kamu. Dari dulu. Dari keliling ketujuh. Aku butuh kamu dan aku nggak pernah bilang karena aku takut kalau aku bilang, aku harus nunggu jawaban, dan aku nggak bisa nunggu jawaban. Aku cuma bisa dateng duluan.”
“Kamu nggak perlu nunggu jawaban,” bisiknya. “Jawabannya udah ada dari sepuluh tahun lalu.”
Dia menciumku.
Di teras rumah kontrakan di Beji. Di antara pot-pot cabai Ibu. Di bawah lampu jalan oranye yang berkedip, dengan suara sinetron tetangga dan bel sepeda anak-anak di gang.
Ciuman itu asin. Air matanya. Air mataku. Ciuman yang tidak pelan seperti di dek kapal, tidak keras seperti di tangga darurat. Ciuman orang yang baru membuka pintu yang sudah berkarat, dan menemukan seseorang sudah berdiri di baliknya, menunggu, sejak lama.
Aku menariknya dari lantai teras ke pangkuanku. Kursi plastik berderit protes. Dia melingkarkan lengannya di leherku, dan aku memeluknya dengan seluruh tubuhku, dan kami berciuman sampai napas kami habis.
Dari dalam rumah, aku mendengar suara pintu. Lalu suara Ibu, keras, sengaja keras:
“Ibu ke rumah Bu RT ya, Le! Pengajian! Dua jam!”
Pintu belakang terbuka. Tertutup.
Clara menarik diri. Menatapku. Wajahnya merah, basah, dan tertawa.
“Ibu kamu,” bisiknya.
“Ibu aku.”
“Dua jam.”
“Ibu nggak pernah ikut pengajian.”
Clara tertawa lebih keras. Lalu menciumku lagi.
Aku tidak ingat bagaimana kami pindah dari teras ke kamarku. Aku ingat pintu yang tertutup. Aku ingat punggungnya di dinding di samping meja kerja, di bawah foto kami berenam di hari terakhir Ospek. Aku ingat bibirku di lehernya, di bawah telinga, di tulang selangka, dan tangannya di rambutku, menarikku lebih dekat. Aku ingat napasnya yang tersengal dan namaku yang dia bisikkan seperti doa.
Aku ingat tanganku di pinggangnya, di bawah jaket hitamku yang dia pakai, di bawah kausnya, kulit di kulit. Hangat.
Aku ingat dia menarikku ke kasur busa di lantai, dan kami jatuh, dan boneka kucing raksasa Keisha menatap kami dari sudut ruangan dengan mata plastiknya yang besar.
Aku ingat dia di bawahku, dengan rambut tersebar di bantal, menatapku dengan mata yang gelap dan basah, dan berkata:
“Aku nggak mau berhenti.”
Aku berhenti.
Bukan karena aku tidak mau. Aku mau. Lebih dari apa pun yang pernah kuinginkan dalam dua puluh delapan tahun. Tanganku gemetar di samping kepalanya. Napasku tidak bisa kuatur.
Tapi aku berhenti.
“Belum, Ra,” bisikku.
Dia menatapku.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak berhenti di situ. Untuk pertama kalinya, aku menyelesaikan kalimat yang sudah dua kali kupotong di tengah. Di kabin kapal. Di sofa apartemennya.
“Aku juga nggak mau berhenti,” kataku. “Makanya aku mau nikahin kamu dulu.”
Clara tidak bergerak.
Dia menatapku dari bantal. Rambutnya berantakan. Bibirnya bengkak. Jaket hitamku setengah terbuka di bahunya.
“Ga,” bisiknya. “Kamu...”
“Bukan sekarang,” kataku cepat. “Bukan gini. Bukan di kasur busa di lantai kamar kontrakan dengan boneka kucing ngeliatin.”
Dia menoleh ke boneka kucing raksasa di sudut ruangan. Lalu kembali menatapku. Lalu mulai tertawa. Tertawa sampai air matanya keluar lagi, dengan tubuh berguncang di bawahku.
“Boneka kucing,” katanya di antara tawa. “Kamu nggak mau ngelamar di depan boneka kucing.”
“Itu nggak benar.”
“Benar menurut siapa?”
Aku menatapnya. Dia berhenti tertawa. Menatapku balik. Pertanyaan yang sama yang dia tanyakan di parkiran Dapur Isal. Tapi kali ini, suaranya tidak marah. Lembut.
“Benar menurut kita,” kataku.
Clara menatapku lama.
“Kita,” ulangnya pelan.
“Kita.”
Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipiku.
“Kamu tahu nggak,” bisiknya, “itu pertama kalinya kamu bilang ‘kita’ soal sesuatu yang bukan Gugus Tujuh.”
Aku tidak tahu. Tapi dia benar.
Aku berguling ke samping. Menariknya ke dadaku. Memeluknya dari belakang, seperti di kabin kapal. Jaket hitam di antara kami.
Kami berbaring seperti itu lama. Di kasur busa di lantai. Di kamar dua kali tiga meter. Dengan boneka kucing di sudut dan foto Bapak di dinding.
“Ga,” bisik Clara akhirnya.
“Hm.”
“Kamu bilang mau nikahin aku dulu.”
“Iya.”
“Kapan?”
Aku diam sebentar.
“Aku nggak tahu,” kataku. “Aku belum punya rumah. Aku belum punya cincin. Aku belum ngomong ke Papa kamu dengan bener. Aku belum...”
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu ngitung lagi.”
Aku berhenti.
Dia benar. Aku menghitung lagi. Rumah. Cincin. Papa. Seratus lima puluh enam koma dua juta.
“Iya,” kataku. “Aku ngitung lagi.”
“Terus?”
Aku menatap langit-langit. Menatap foto Bapak. Menatap foto kami berenam di hari terakhir Ospek, kaus gugus hijau tua, wajah delapan belas tahun. Aku di ujung, paling pinggir, setengah terpotong.
Lalu aku mengatakan sesuatu yang tidak pernah kukatakan seumur hidupku.
“Aku nggak bisa ngelamar sendirian, Ra.”
Clara diam.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kataku. “Aku bisa bikin rundown empat belas halaman buat lamaran Putra. Tapi buat lamaran aku sendiri, aku nggak tahu. Aku butuh bantuan.”
Clara menoleh perlahan di pelukanku. Menatapku dari jarak beberapa senti.
“Kamu minta tolong aku,” katanya, sangat pelan, dengan mata yang mulai bersinar, “buat ngelamar aku?”
“Bukan kamu,” kataku. “Mereka.”
Clara menatapku.
Lalu dia membenamkan wajahnya di dadaku. Tubuhnya berguncang. Aku tidak tahu apakah dia menangis atau tertawa. Mungkin dua-duanya.
“Aku nggak denger apa-apa,” katanya, teredam di kausku. “Aku nggak denger kamu bilang mau ngelamar. Aku nggak denger kamu bakal minta tolong mereka. Aku nggak denger apa-apa.”
“Ra.”
“Aku nggak denger, Ga.” Dia mengangkat wajah. Basah. Tersenyum sangat lebar. “Biar kejutan.”
Aku menatapnya. Lalu aku tertawa. Pelan, lalu lebih keras. Tertawa sampai Clara ikut tertawa lagi, dan kasur busa bergoyang, dan boneka kucing Keisha di sudut ruangan terguling ke samping.
Di luar, di gang, bel sepeda anak-anak berdenting. Sinetron tetangga berganti iklan.
Dan aku, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, tidak menghitung apa pun.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku reading
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja