← Biar Aku Aja

Chapter Seventeen

Kelas Masak Apartemen Zara

POV: Erga


Undangan itu datang hari Kamis, di grup, dari Zara.

Zara: Sabtu. Jam 3. Apartemen gue. Kelas masak.

Faisal: kelas masak apa

Zara: Lo yang ngajar.

Faisal: gue nggak tahu gue ngajar

Zara: Sekarang lo tahu.

Keisha: AKU MAU IKUT tapi aku fitting kebaya sama Ibu Ratna 😭😭

Putra: Gue shift sampe malem

Clara: Aku ikut.

Aku: Kenapa tiba-tiba kelas masak?

Zara: Karena gue mau.

Aku: Kamu nggak pernah mau masak.

Zara: Orang bisa berubah, Ga.

Aku menatap pesan itu. Zara tidak pernah berubah. Zara adalah orang yang paling konsisten di dunia ini. Satu-satunya hal yang berubah dari Zara dalam sepuluh tahun adalah panjang rambutnya.

Lalu aku teringat kalimatnya di tol Ciawi.

Lo bakal tahu rasanya dikejar.

Aku: Oke.


Apartemen Zara di Cawang, tidak jauh dari proyek jalan layangnya. Satu kamar, dinding putih bersih, hampir tanpa perabot. Sofa abu-abu, rak buku penuh buku teknik sipil, meja gambar dengan lampu arsitek, dan dapur yang sangat bersih karena tidak pernah dipakai.

Hari ini dapur itu penuh.

Faisal datang satu jam lebih awal dan sudah mengubah dapur Zara menjadi medan perang. Dua karung kecil bahan makanan, tiga wajan yang dia bawa dari kedai karena “wajan Zara dianiaya”, satu cobek batu besar, dan celemek merah legendarisnya.

“Hari ini,” kata Faisal, berdiri di depan kompor dengan spatula terangkat seperti tongkat komando, “kita belajar tiga hal. Satu. Sambal bawang. Dua. Nasi goreng kampung. Tiga...” Dia menoleh ke Zara. “Tiga, Zara yang masak.”

“Gue?”

“Lo yang ngundang kelas masak. Lo harus masak satu.”

Zara menatapnya dengan mata menyipit. Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia membuka kulkas dan mengeluarkan seekor ikan mas utuh yang sudah dibersihkan, sekantong andaliman, dan bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan dalam wadah kaca.

Faisal menatap andaliman itu. “Lo mau bikin arsik?”

“Resep nyokap gue.”

“Lo bisa bikin arsik?”

“Gue orang Batak, Sal.”

“Lo orang Batak yang makan mi instan tiap hari.”

“Itu bukan berarti gue nggak bisa masak. Itu berarti gue nggak mau masak.” Zara meletakkan ikan itu di talenan dengan bunyi keras. “Hari ini gue mau.”

Faisal menatap Zara. Lalu menatap ikan mas. Lalu menatap Zara lagi.

Telinganya merah.


Clara datang jam tiga lewat sepuluh.

Kaus hitam.

Kaus hitam polos, potongan pas, lengan pendek. Celana jeans. Rambut dikuncir tinggi. Dia berdiri di ambang pintu apartemen Zara, menatapku, dan aku menatap kausnya, dan dia melihatku menatap kausnya.

“Hitam,” katanya. “Bukan putih.”

“Aku lihat.”

“Bagus?”

Aku tidak menjawab. Aku berbalik ke dapur dan pura-pura sibuk memotong bawang merah.

Di belakangku, aku mendengar Clara tertawa pelan. Tawa yang puas. Dan Zara, dari ruang tengah, bergumam: “Satu-nol.”


Kelas sambal bawang dimulai jam setengah empat.

Faisal mengajar dengan penuh semangat dan tanpa struktur. Dia bercerita tentang sejarah cabai rawit, filosofi bawang putih, dan kenapa terasi harus dibakar dulu, sambil menunjukkan cara mengulek yang benar: “pelan, tapi pasti, kayak cinta.”

“Sal,” kata Zara, yang sedang memotong ikan mas dengan pisau di sudut dapur. “Fokus.”

“Gue fokus.”

“Lo udah ngomong ‘kayak cinta’ empat kali.”

“Karena sambal emang kayak cinta.”

“Sambal kayak sambal.”

Faisal menoleh ke Zara dengan wajah tersinggung. Zara tidak menoleh. Tapi ujung bibirnya naik.

Lalu Faisal membagi tugas. Clara mengulek. Aku menumis. Faisal mengawasi sambil makan kerupuk.

Clara mengulek dengan serius, dahi berkerut, lidah sedikit keluar di sudut bibir seperti anak kecil yang sedang mewarnai. Cabai beterbangan dari cobek. Satu potong mengenai pipiku. Dia tertawa dan minta maaf, lalu mengulek lagi dengan kekuatan dua kali lipat.

“Ra. Pelan.”

“Faisal bilang pelan tapi pasti.”

“Kamu cuma pasti. Nggak pelan.”

Dia cemberut. Lalu menyerahkan cobek padaku. “Kamu aja.”

Aku mengulek. Pelan. Teratur. Bawang, cabai, dan tomat hancur menjadi pasta merah yang halus. Faisal mengangguk puas.

“Bagus, Ga. Sekarang tumis. Api kecil. Aduk terus, jangan berhenti, kalau berhenti nanti gosong.”

Aku memindahkan sambal ke wajan. Mengecilkan api. Mengaduk.

Lalu sepasang tangan melingkar di pinggangku dari belakang.

Aku berhenti mengaduk.

“Jangan berhenti,” kata Clara, di belakangku. Dagunya hampir menyentuh bahuku. “Faisal bilang kalau berhenti nanti gosong.”

“Ra.”

“Aku ngajarin.”

“Ngajarin apa? Kamu tadi nggak bisa ngulek.”

“Ngajarin ngaduk.” Tangannya bergerak dari pinggangku ke lenganku. Pelan. Menelusuri lengan bawahku sampai ke pergelangan tangan, ke tangan yang memegang spatula. Jari-jarinya menutupi jariku. “Gini. Pelan-pelan aja, Ga.”

Dia menggerakkan tanganku. Mengaduk sambal dalam lingkaran lambat.

“Jangan buru-buru,” bisiknya di telingaku. “Kayak kamu ke aku.”

Wajan berdesis.

Aku berdiri sangat diam. Tangan Clara di atas tanganku. Dadanya menempel di punggungku. Napasnya hangat di telingaku. Wangi samponya, yang dia pasarkan dan yang selalu kukenali dari jarak dua meter, sekarang dari jarak dua senti.

Aku menatap sambal di wajan, yang terus diaduk pelan oleh dua tangan, dan mencoba mengingat cara bernapas.

“Ra,” kataku akhirnya. Suaraku keluar sedikit lebih rendah dari biasanya. “Ini sambal, bukan metafora.”

“Semua yang aku pegang jadi metafora,” bisiknya.

Dari ruang tengah, Faisal tersedak kerupuk.

Dari sudut dapur, Zara berhenti memotong ikan, tidak menoleh, dan berkata dengan suara paling datar yang pernah kudengar:

“Gue nggak di sini. Gue perabot.”

Clara tertawa ke punggungku. Getaran tawanya terasa sampai ke tulang belakangku. Dia tidak melepaskan pinggangku.

Aku terus mengaduk.

Sambal itu tidak gosong. Tapi itu bukan karena aku fokus.


Nasi goreng kampung adalah pelajaran kedua.

“Ini resep yang gue bikin tiap Jumat buat Erga,” kata Faisal, dengan nada serius yang biasanya dia pakai untuk hal-hal sakral. “Sepuluh tahun. Nggak pernah berubah. Rahasianya ada tiga.”

“Kecap, bawang putih, sama cinta,” kata Zara, tanpa menoleh dari ikannya.

“Itu rahasia sambal barbeque.” Faisal menunjuk Zara dengan spatula. “Rahasia nasi goreng kampung beda. Satu, nasinya harus nasi kemarin. Dua, terasi sedikit, jangan banyak. Tiga, telur diceplok terpisah, kuningnya setengah mateng. Erga suka kuningnya setengah mateng.”

Clara menoleh padaku. “Kamu suka kuning setengah mateng?”

“Iya.”

“Sepuluh tahun aku nggak tahu.”

“Kamu nggak pernah nanya.”

“Kamu nggak pernah bilang.”

Kami saling menatap. Faisal berdeham.

“Clara yang masak,” katanya. “Erga duduk. Erga nggak boleh bantu.”

“Kenapa?”

“Karena lo selalu bantu. Hari ini lo dibantu.” Faisal mendorongku keluar dapur dengan spatula. “Duduk. Di sofa. Diem.”

Aku duduk di sofa abu-abu Zara.

Dari sofa, aku bisa melihat dapur. Clara di depan kompor dengan celemek merah Faisal yang terlalu besar untuknya, mengikat rambutnya lebih tinggi, menerima instruksi Faisal dengan wajah sangat serius. Dia memasukkan bawang putih dan memasak nasi. Dia mencicipi, mengerutkan dahi, menambah garam. Mencicipi lagi. Menoleh ke Faisal untuk konfirmasi. Faisal mencicipi dan mengangguk.

Dia memecahkan telur ke wajan kecil terpisah. Menatapnya dengan fokus seperti sedang menjinakkan bom, menunggu putih telurnya matang tapi kuningnya tetap setengah cair.

Aku menatapnya. Lama.

Tidak ada yang pernah memasak untukku. Kecuali Ibu. Dan Faisal, setiap Jumat, dengan resep yang sama selama sepuluh tahun.

Clara mematikan kompor. Menyusun nasi goreng di piring. Menaruh telur ceplok di atasnya dengan hati-hati, seperti meletakkan mahkota. Lalu dia berjalan ke sofa, membawa piring itu dengan dua tangan, dan berdiri di depanku.

“Aku belajar ini sejam,” katanya. “Buat kamu.”

Aku menerima piring itu.

Dia duduk di sebelahku, sangat dekat, dan mengambil sendok dari tanganku sebelum aku sempat mulai makan.

“Aaa.”

“Ra.”

“Aaa, Ga. Buka.”

Faisal dan Zara berdiri di ambang dapur, berdampingan, menonton.

Aku membuka mulut. Clara menyuapkan sesendok nasi goreng, dengan sedikit telur dan kuning yang meleleh. Lalu dia menatapku. Menunggu. Matanya besar dan gugup.

Aku mengunyah.

Rasanya hampir persis seperti nasi goreng Faisal. Hampir. Sedikit lebih asin. Bawang putihnya sedikit gosong di beberapa tempat. Kuning telurnya sempurna.

Itu nasi goreng terbaik yang pernah kumakan.

“Enak?” tanya Clara.

Aku menelan. Aku menatap Faisal dan Zara yang berdiri di ambang dapur seperti penonton bioskop. Aku menatap Clara, yang wajahnya sangat dekat dan sangat menunggu.

“Kurang garam,” kataku.

Clara melotot. “KURANG GARAM? Aku udah tambah garam dua kali!”

“Kurang.”

“Faisal bilang udah pas!”

“Faisal bias.”

“FAISAL!”

“Gue nggak bias,” protes Faisal dari dapur. “Itu udah pas, Ra. Dia bohong.”

“Aku nggak pernah bohong,” kataku, dan mengambil sendok dari tangan Clara untuk menyuap sendiri.

Aku menghabiskan seluruh piring dalam empat menit. Tanpa jeda. Sampai butir nasi terakhir.

Clara menatap piring kosong itu. Lalu menatapku. Lalu menutup mulutnya dengan tangan, dan matanya berkaca-kaca.

“Kamu ngabisin,” bisiknya.

“Laper.”

“Katanya kurang garam.”

“Kurang garam juga bisa diabisin.”

Clara menurunkan tangannya. Dia tidak menangis. Dia tersenyum. Senyum yang sangat lebar dan sangat basah. Lalu dia menyandarkan kepalanya ke bahuku di sofa abu-abu Zara, dan tidak berkata apa-apa lagi.


Arsik ikan mas Zara matang jam enam.

Kami makan di lantai ruang tengah karena Zara cuma punya dua kursi. Ikan mas kuning keemasan dengan kuah kental beraroma andaliman, yang menggigit lidah dengan cara yang aneh, getir dan menyengat dan membuat mulut sedikit kebas. Faisal mencicipi suapan pertama dan diam.

Diam lama.

Faisal, yang tidak pernah diam saat makan, diam.

“Kenapa?” tanya Zara. Suaranya datar, tapi tangannya meremas ujung kaus.

Faisal meletakkan sendoknya.

“Ini enak banget, Zar,” katanya pelan. “Ini kayak... ini kayak masakan ibu.”

Zara menatapnya. “Lo pernah makan masakan ibu gue?”

“Belum. Tapi gue bayangin.” Faisal menyuap lagi. Matanya berkaca-kaca. “Gue bayangin ibu lo masakin ini buat lo waktu kecil. Terus lo nyimpen resepnya. Terus lo nggak pernah masak, karena lo kangen, terus kalau lo masak lo makin kangen.”

Hening.

Clara berhenti makan. Aku berhenti makan.

Zara menatap Faisal. Wajahnya tidak berubah, tapi aku melihat jarinya berhenti meremas kaus dan menjadi diam sepenuhnya.

“Lo tahu dari mana?” tanyanya. Sangat pelan.

“Nggak tahu,” kata Faisal. “Gue cuma tahu rasanya kalau masakan bikin kangen.”

Zara menatapnya lama. Lalu dia berdiri, berjalan ke dapur, dan menyalakan keran air dengan keras.

Faisal menatap punggung Zara. Lalu menatap aku dan Clara dengan panik. “Gue salah ngomong?”

“Nggak,” kata Clara lembut.

“Terus kenapa dia ke dapur?”

“Biar kamu nggak lihat dia nangis,” kataku.

Faisal menatapku. Lalu menatap punggung Zara di dapur, yang bahunya, sangat sedikit, bergetar di atas wastafel.

Dia berdiri. Ragu-ragu. Lalu berjalan ke dapur, berdiri di sebelah Zara, dan mulai mencuci piring yang sudah bersih tanpa berkata apa-apa. Bahu mereka bersentuhan.

Zara tidak menyuruhnya pergi.


Jam delapan, Clara dan aku berdiri di balkon kecil apartemen Zara, yang menghadap jalan tol Cawang dan proyek jalan layang yang setengah jadi dengan lampu-lampu kerja kuning di atasnya.

“Itu proyek Zara,” kata Clara.

“Iya.”

“Bagus ya. Dia bangun jalan.”

“Iya.”

Di dalam, Faisal dan Zara masih di dapur. Mereka sudah tidak mencuci piring. Mereka berdebat soal takaran andaliman, dengan suara pelan dan, kadang-kadang, tawa pendek dari Zara yang langka seperti hujan di musim kemarau.

Clara menoleh padaku. “Kamu tadi bilang kurang garam.”

“Iya.”

“Bohong.”

“Aku nggak pernah bohong.”

“Terus kenapa bilang kurang garam?”

Aku menatap jalan tol di bawah. Mobil-mobil bergerak seperti sungai cahaya merah dan putih.

“Faisal sama Zara nonton,” kataku.

“Terus?”

“Terus kalau aku bilang enak, kamu senyum kayak tadi di sofa.”

“Senyum kayak gimana?”

Aku menoleh padanya. Dia sudah tersenyum. Senyum itu. Senyum yang membuat seluruh wajahnya menyala.

“Kayak gitu,” kataku. “Jangan senyum kayak gitu di depan Faisal. Nanti dia ikut naksir.”

Clara berhenti tersenyum. Matanya membesar.

Lalu dia tertawa. Keras, sampai harus berpegangan pada pagar balkon.

“Faisal nggak bakal naksir aku,” katanya di antara tawa. “Faisal naksir Zara.”

Aku menatapnya. “Kamu juga tahu?”

“Semua orang tahu, Ga.” Dia menyeka mata. “Kecuali mereka berdua.”

Kami menoleh bersamaan ke pintu balkon. Di balik kaca, Faisal sedang menyuapkan sesendok kuah arsik ke mulut Zara untuk membuktikan sesuatu tentang takaran. Zara menerima suapan itu, mengunyah, lalu memukul lengan Faisal. Faisal tertawa.

“Semua orang tahu,” ulang Clara, lebih pelan. “Kecuali mereka berdua.”

Dia tidak menatap Faisal dan Zara lagi. Dia menatapku.

“Kayak kita,” katanya.

Angin malam bertiup dari tol. Lampu-lampu kerja di proyek Zara berkedip.

Aku tidak menjawab.

Clara tidak menunggu jawaban. Dia sudah sepuluh tahun tidak menunggu jawaban dariku. Dia cuma menyandarkan lengannya ke lenganku di pagar balkon, kulit ke kulit, dan menatap jalan tol yang tidak pernah berhenti bergerak.

Aku tidak menarik lenganku.

Di kepalaku, di kursi paling ujung tempat aku menyimpan semua hal yang tidak perlu dibicarakan, aku mendengar suara Putra dari kebun teh.

Lo sama aja kayak gue sepuluh tahun.

Dan suara Ibu.

Perempuan itu nggak nunggu rumah. Perempuan nunggu orang yang dateng.

Dan suara Clara, tiga senti dari telingaku, di atas wajan yang berdesis.

Jangan buru-buru. Kayak kamu ke aku.

Aku menatap lengan kami yang bersentuhan di pagar balkon, dan untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya berapa lama lagi aku bisa tidak buru-buru.