Chapter Three
Temennya Aja
POV: Erga
Aku menyetrika kemeja putih tiga kali.
Bukan karena kusut. Kemeja itu sudah rapi sejak setrikaan pertama. Tapi Ibu melihatku berdiri di depan papan setrika untuk kali ketiga, dan dia meletakkan kain jahitannya di pangkuan, menatapku dari balik kacamata, lalu berkata:
“Kondangan siapa, Le?”
“Gilang. Teman kampus.”
“Kok kayak mau lamaran.”
“Bu.”
“Ibu cuma nanya.” Dia kembali menjahit, tapi ujung bibirnya naik. “Clara ikut?”
Aku tidak menjawab. Ibu tidak perlu jawaban. Ibu tahu jadwal kondangan circle kami lebih hafal daripada aku, karena tiap kali ada undangan, Keisha mengirim foto undangannya ke Ibu lewat WhatsApp. Keisha dan Ibu berteman di WhatsApp. Aku tidak tahu sejak kapan. Aku tidak berani bertanya.
“Lengannya digulung,” kata Ibu tanpa mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Kamu kelihatan lebih ganteng kalau lengannya digulung. Clara pernah bilang ke Ibu.”
Aku berhenti menyetrika.
“Kapan?”
“Lebaran tahun lalu. Waktu kalian semua ke sini.” Ibu menggigit benang dengan giginya. “Dia bilang, ‘Bu, Erga tuh paling ganteng kalau lengannya digulung, tapi jangan bilang dia ya.’”
“Terus Ibu bilang.”
“Iya. Ibu kan ibumu, bukan ibunya Clara.”
Aku menatap ibuku. Ibuku menatap jahitannya. Mesin jahit tua di sudut ruang tamu kontrakan kami berdetak pelan seperti jam.
Aku menggulung lengan kemejaku sampai siku.
Clara tinggal di apartemen di Kuningan, dua puluh menit dari gedung resepsi. Aku tiba jam enam kurang lima. Aku selalu tiba lima menit lebih awal. Itu bukan kebiasaan yang kusengaja. Itu cuma tubuhku yang sudah terbiasa.
Clara turun jam enam lewat dua belas.
Pintu lobi terbuka, dan aku lupa sebentar bagaimana cara bernapas.
Dia memakai gaun panjang berwarna hijau sage, lengan pendek, potongannya jatuh lurus sampai mata kaki dengan belahan kecil di sisi kiri. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan jatuh di samping wajah. Anting mutiara kecil. Riasan tipis. Bibir berwarna merah muda yang lebih gelap dari biasanya.
Satpam lobi berhenti menulis buku tamu. Seorang bapak yang sedang menunggu ojek online lupa mengangkat telepon yang berdering.
Clara berjalan ke mobilku, membuka pintu penumpang sendiri, dan masuk.
“Telat dua belas menit,” katanya. “Maaf. Bulu mataku drama.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu pakai kemeja putih.”
“Kamu yang minta.”
“Lengannya digulung.” Dia menatap lenganku. Lalu menatap wajahku. Lalu tersenyum, pelan, seperti seseorang yang baru menemukan uang di saku celana lama. “Pinter.”
Aku menyalakan mesin. Clara memasang sabuk pengaman, lalu tanpa bertanya mencondongkan badan ke arahku dan meraih kerah kemejaku.
“Ra—”
“Diem. Kerahnya miring.”
Jarinya merapikan kerah di bawah daguku. Dekat sekali. Aku bisa mencium parfumnya, yang malam ini berbeda dari biasanya. Lebih dalam, lebih hangat, seperti kayu dan bunga yang terbakar pelan.
“Biar nggak dikira sopir,” bisiknya.
“Sopir nggak dirapiin kerahnya.”
Dia berhenti. Menatapku dari jarak sejengkal. Lalu tertawa, rendah, dan menarik diri kembali ke kursinya.
“Jalan, Pak Sopir.”
Aku jalan.
Gedung resepsi di Kuningan sudah penuh ketika kami sampai. Gilang dan Sasha menikah dengan konsep taman Eropa: lampu-lampu kecil bergantungan dari langit-langit, bunga putih di mana-mana, band akustik memainkan lagu cinta yang aku tidak tahu judulnya. Delapan ratus undangan, kata Keisha.
Circle kami berkumpul di dekat meja prasmanan nomor tiga, yang menurut riset Faisal adalah meja dengan antrean terpendek dan rendang terbaik.
“Ini peta,” kata Faisal, menunjukkan sketsa di balik undangan. “Rendang di sini. Kambing guling di sini. Dimsum di pojok kiri, antreannya panjang, kita serang abis sesi foto. Es krim di dekat panggung, buka jam setengah delapan—”
“Lo nge-scout dari jam berapa?” tanya Putra.
“Jam lima. Gue bantu-bantu di dapur katering. Kenal kokinya.”
“Lo bukan tamu, Sal. Lo mata-mata.”
“Gue tamu yang strategis.”
Keisha sudah menangis. Dia selalu menangis di kondangan, sejak akad, padahal dia cuma kenal Sasha dari grup kelas. Putra berdiri di sebelahnya memegang tisu dengan wajah pasrah.
Zara memakai setelan celana hitam dengan blazer, tanpa riasan kecuali lipstik merah gelap. Rambutnya diurai. Tiga laki-laki sudah melirik ke arahnya sejak kami datang, dan dua dari mereka mundur setelah Zara balas menatap.
Dan Clara berdiri di sebelahku, tangannya melingkar santai di lenganku seperti itu tempat tangannya biasa berada.
“Ga,” bisiknya, mendekatkan bibir ke telingaku. “Kamu tahu nggak, dari tadi tiga cewek ngelirik kamu.”
Aku menoleh sedikit. Ada dua perempuan di dekat meja dessert yang buru-buru memalingkan wajah.
“Dua,” kataku. “Yang satu ngelirik prasmanan di belakangku.”
“Yang ketiga aku.”
Aku menatapnya. Dia tidak menatapku balik. Dia menatap lurus ke panggung, ke Gilang dan Sasha yang sedang difoto keluarga besar, dengan ekspresi tenang seperti tidak baru saja mengucapkan sesuatu yang membuat dadaku berhenti sebentar.
Tangannya masih di lenganku.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Itu bukan karena aku tidak mengerti. Aku mengerti. Aku selalu mengerti. Clara bicara dengan cara tertentu padaku, cara yang tidak dia pakai dengan orang lain, dan aku sudah menyadarinya bertahun-tahun.
Tapi mengerti dan bertindak adalah dua hal yang berbeda. Dan ada alasan kenapa aku memilih yang pertama saja.
Kami antre salaman jam tujuh. Antreannya panjang, mengular dari panggung sampai ke dekat pintu. Di depan kami ada rombongan teman kampus Gilang yang kukenal samar-samar, anak-anak jurusan sebelah yang dulu satu angkatan.
“Clara! Ya ampun, Clara Halim!”
Seorang perempuan berbaju batik menoleh dan memeluk Clara. Namanya Rina, kalau aku tidak salah ingat. Dulu ketua himpunan jurusannya.
“Kamu makin cantik aja sih. Dosa tahu.”
“Makasih, Rin.”
“Putra mana? Kalian masih bareng kan?”
Clara tersenyum dengan senyum yang kukenal, senyum yang dia pakai untuk klien. “Putra di sana, sama Keisha.”
“Oh.” Rina melirik ke arah Putra yang sedang memegangi tisu Keisha. Lalu melirikku. Lalu melirik tangan Clara di lenganku. Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya. Bingung. Lalu menebak. Lalu tidak jadi menebak.
“Ini... siapa ya? Kayaknya pernah lihat.”
“Erga,” kata Clara. “Satu gugus Ospek.”
“Oh, iya, iya. Erga.” Rina tersenyum ramah, tapi aku bisa melihat dia tidak benar-benar ingat. Lalu temannya, laki-laki berkemeja batik yang lebih tinggi, berbisik ke Rina dengan suara yang tidak cukup pelan:
“Siapa? Pacarnya?”
Dan Rina menjawab, dengan suara yang sama tidak pelannya:
“Bukan. Temennya aja.”
Aku merasakan tangan Clara di lenganku mengencang.
Aku menepuk punggung tangannya pelan, sekali. Nggak apa-apa.
Karena memang tidak apa-apa. Rina tidak salah. Aku memang temannya. Sepuluh tahun aku temannya. Orang luar melihat Clara dan melihat laki-laki di sebelahnya, lalu menghitung, dan hitungannya tidak cocok, lalu mereka menyimpulkan bahwa aku pasti cuma bayangan. Itu matematika sederhana. Aku tidak marah pada matematika.
Tapi Clara tidak melepaskan lenganku sampai kami selesai salaman.
Dion Hartanto muncul jam delapan, ketika aku sedang mengambilkan es buah untuk Keisha yang matanya sudah bengkak.
Aku mengenalinya dari cerita Clara, dan dari foto-foto yang Keisha tunjukkan ke grup dengan caption KLIEN CLARA YANG ANAK SULTAN. Jas abu-abu gelap, jam tangan yang harganya mungkin setara kontrakan Ibu sepuluh tahun, rambut disisir ke belakang dengan pomade, dan senyum yang dia pakai seperti orang memakai dasi. Rapi, mahal, dan bisa dilepas kapan saja.
Dia langsung menuju Clara, mencium pipi kiri dan kanan Clara dengan cara yang membuat Clara sedikit kaku.
“Kamu cantik banget malam ini.”
“Makasih, Pak Dion.”
“Dion, Clara. Dion.” Lalu dia menoleh, menatap Putra dari ujung kepala sampai kaki, mengulurkan tangan. “Dion. Kamu pasti Putra. Dokter, ya? Clara sering cerita.”
Clara tidak pernah cerita. Putra menjabat tangannya dengan sopan dan dingin.
Lalu Dion menoleh padaku. Matanya turun ke kemeja putihku, ke lengan yang digulung, ke gelas es buah di tanganku. Lalu naik lagi. Ada kilatan sesuatu di matanya, sesuatu yang sudah kutahu sebelum dia membuka mulut.
“Oh,” katanya. “Kamu yang nyetirin Clara?”
Hening. Faisal berhenti mengunyah. Keisha berhenti menangis. Zara meletakkan gelasnya di meja dengan bunyi pelan yang terdengar seperti palu hakim.
“Iya,” jawabku.
“Udah lama kerja sama keluarga Halim?”
“Dion,” kata Clara, suaranya mulai naik. “Dia bukan—”
Aku menyentuh siku Clara. Pelan. Dia berhenti.
“Udah lumayan,” kataku ke Dion.
“Berapa sebulan? Kalau boleh tahu. Aku lagi cari sopir juga, yang sekarang suka telat.”
Aku memberikan es buah ke Keisha, yang mengambilnya dengan tangan gemetar. Lalu aku menatap Dion. Tidak marah. Tidak tersinggung. Hanya menatap, seperti menatap printer yang kertasnya macet.
“Gratis, Mas,” kataku. “Saya nggak dibayar. Makanya saya bisa milih siapa yang saya setirin.”
Satu detik.
Dua detik.
Tidak ada yang bergerak. Bahkan band akustik di panggung seperti ikut berhenti di antara dua bait.
Dion membuka mulut, lalu menutupnya. Senyumnya masih di sana, tapi sekarang seperti dasi yang ikatannya melorot.
Lalu dari belakangku, Faisal bergumam dengan mulut penuh rendang: “Mampus.”
Putra batuk keras untuk menutupi tawanya. Keisha menunduk ke es buahnya, bahunya berguncang. Zara mengambil gelasnya lagi dan meminumnya dengan ekspresi paling puas yang pernah kulihat di wajahnya selama sepuluh tahun.
“Oke,” kata Dion akhirnya. Dia tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. “Lucu. Clara, nanti aku mau ngomong sebentar soal kontrak, ya.” Dan dia pergi ke arah meja keluarga mempelai.
Clara masih menatapku.
Bukan dengan tatapan klien. Bukan dengan senyum sopan. Ada sesuatu yang lain di matanya, sesuatu yang hangat dan berbahaya.
“Kamu,” katanya pelan.
“Apa?”
Dia tidak menjawab. Dia cuma menggenggam tanganku. Bukan lenganku seperti tadi. Tanganku. Jarinya menyelinap di antara jariku, dan dia tidak melepaskannya.
Momen lempar buket jam setengah sembilan. Mbak MC memanggil semua perempuan lajang ke depan panggung. Keisha didorong maju oleh Putra. Zara menolak bergerak dari kursinya. Clara diseret oleh Rina dan teman-temannya.
Faisal sedang lewat di belakang barisan perempuan itu dengan sepiring penuh rendang dan kambing guling, menuju meja kami.
Sasha melempar buketnya ke belakang. Buket bunga putih itu melayang tinggi, melewati tangan-tangan perempuan yang terulur, melewati kepala Clara, melewati Keisha yang melompat terlalu lambat—
Dan mendarat tepat di atas piring Faisal. Di atas rendang.
Delapan ratus tamu terdiam.
Faisal menatap buket bunga di atas rendangnya. Lalu menatap barisan perempuan yang menatapnya. Lalu menatap Mbak MC.
“Saya nggak ikut,” katanya. “Saya cuma lewat.”
Gedung pecah oleh tawa. Mbak MC tertawa sampai mikrofonnya berdenging. Gilang di panggung harus berpegangan pada Sasha.
Di meja kami, Zara bertepuk tangan pelan, tiga kali.
“Selamat,” katanya datar ke Faisal, ketika Faisal kembali dengan buket di satu tangan dan piring rendang di tangan lain.
“Ini bukan buat gue.”
“Universe bilang lain.”
“Universe salah alamat.”
“Universe nggak pernah salah alamat.” Zara mengambil satu tangkai bunga dari buket itu, mematahkan batangnya, dan menyelipkannya di saku kemeja Faisal tanpa ekspresi. “Sekarang lo udah siap nikah. Tinggal cari korbannya.”
Faisal menatap bunga di sakunya. Telinganya merah.
Putra menatapku. Aku menatap Putra.
Satu lagi hal yang tidak dibicarakan di Gugus Tujuh.
Kami pulang jam sepuluh.
Clara diam selama sepuluh menit pertama perjalanan. Dia melepas sanggulnya di lampu merah Kuningan, membiarkan rambutnya jatuh ke bahu, dan bersandar ke jendela dengan mata setengah terpejam.
Aku menyetir pelan. Jakarta Sabtu malam masih padat, tapi aku tidak buru-buru.
“Makasih ya tadi,” katanya akhirnya.
“Buat apa?”
“Nggak marah.”
“Dia nggak salah. Aku emang nyetirin kamu.”
“Tapi kamu bukan sopirku.”
“Terus aku apa?”
Clara menoleh. Lampu jalan masuk melalui jendela, menyapu wajahnya dengan cahaya oranye, lalu gelap, lalu oranye lagi.
Dia menatapku lama. Cukup lama sampai aku sadar aku sudah melewati belokan ke apartemennya.
“Kamu Erga,” katanya pelan.
Hanya itu. Bukan “kamu teman aku”. Bukan “kamu sahabat aku”. Bukan “kamu bukan siapa-siapa”.
Kamu Erga.
Seperti itu sudah menjelaskan semuanya.
Aku memutar balik di U-turn berikutnya. Clara kembali bersandar ke jendela, tapi kali ini dengan senyum kecil di wajahnya, dan tangannya, entah bagaimana, sudah kembali menggenggam ujung lengan kemejaku yang digulung.
Aku mengantarnya sampai lobi. Dia turun, berjalan dua langkah, lalu berbalik dan mengetuk kaca jendela.
Aku menurunkannya.
“Ga.”
“Hm?”
“Ibu kamu bilang ke kamu ya? Soal lengan digulung?”
Aku diam.
Clara tertawa. Rendah, pelan, dan sangat puas. “Bilang ke Ibu, makasih.”
Dia masuk ke lobi tanpa menoleh lagi.
Aku duduk di mobil yang mesinnya masih menyala, menatap pintu kaca yang sudah tertutup, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak tahu harus melakukan apa dengan kedua tanganku.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja reading
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja