← Biar Aku Aja

Chapter Twelve

Vila

POV: Erga


Kue ulang tahun Keisha longsor di kilometer empat puluh dua tol Jagorawi.

Kami tahu karena Keisha menelepon dari mobil Putra di belakang kami, dan suaranya terdengar seperti seseorang yang baru menyaksikan bencana alam.

“GUNUNGNYA RUNTUH.”

Clara, di kursi penumpang mobilku, menjauhkan HP dari telinganya. Zara, di jok belakang dengan kaki yang sudah tidak diperban lagi tapi masih diganjal bantal, membuka satu mata.

“Gunung apa?” tanya Clara.

“KUENYA. Bentuknya gunung, kan? Tadi Putra ngerem mendadak, terus puncaknya miring, terus bunga-bunganya merosot semua ke kaki gunung, terus sekarang dia nggak kelihatan kayak gunung lagi, dia kelihatan kayak—”

“Kayak apa?”

Jeda. Lalu suara Faisal dari latar belakang: “Kayak tumpeng yang abis kena gempa.”

Keisha meraung.

Clara menutup mulutnya dengan tangan supaya tidak tertawa ke telepon. Bahunya berguncang. Zara memejamkan matanya lagi dan bergumam, “Tumpeng gempa. Nama yang bagus buat album.”

“Kei,” kata Clara, setelah berhasil menguasai diri. “Itu nggak apa-apa. Kita bisa benerin di vila.”

“Gimana caranya?”

“Erga bisa.”

Aku menoleh ke Clara. Dia tersenyum padaku, polos, seolah dia tidak baru saja menyerahkan tanggung jawab arsitektur kue ulang tahun padaku.

“Aku IT, Ra. Bukan tukang kue.”

“Kamu bisa semua.”

“Aku nggak bisa kue.”

“Kamu belum pernah coba.”

Dari speaker, Keisha berhenti meraung. “Erga bisa benerin?”

Aku menatap jalan tol di depan. Lalu kaca spion, di mana mobil Putra mengikuti dengan jarak aman, dan aku bisa melihat Putra di balik setir dengan wajah pucat, mungkin karena merasa bersalah soal rem mendadak, atau mungkin karena kotak beludru biru di saku kemejanya.

“Aku coba,” kataku.

Keisha berteriak bahagia. Clara menepuk pahaku dua kali, seperti menepuk anjing yang baru berhasil duduk.

Dari jok belakang, Zara bergumam lagi: “Konsultan IT, konsultan kue. Lo bisa buka biro jasa.”


Vila itu ada di Cisarua, di ujung jalan berbatu yang naik di antara kebun teh. Dua lantai, dinding kayu, jendela-jendela besar menghadap lembah, dan halaman rumput yang luas dengan kebun bunga di sisi kanan. Di ujung kebun, di pinggir lereng yang menurun ke lembah, ada gazebo kayu beratap ijuk, dengan tiga pohon cemara berdiri di sebelah kirinya seperti penjaga.

Persis seperti foto di HP Putra. Persis seperti layout yang kugambar di halaman delapan.

Aku turun dari mobil, mengangkat tas, dan melirik gazebo itu sekilas. Lalu memalingkan wajah, sebelum Clara memperhatikan aku memperhatikannya.

Tapi Clara sedang tidak memperhatikanku. Clara sedang berdiri di tengah halaman dengan tangan terentang, kepala menengadah, menghirup udara dingin Puncak dalam-dalam.

“Wangi,” katanya. “Wangi teh.”

Rambutnya tertiup angin. Dia memakai sweter rajut krem kebesaran, celana jeans, dan sepatu kets putih, tanpa riasan. Pipinya memerah karena udara dingin.

Aku memalingkan wajah dari Clara juga.

“Ga.” Zara berdiri di sebelahku, menyeret kopernya dengan sedikit pincang. “Kalau lo terus-terusan buang muka, leher lo bakal kram.”

“Aku nggak buang muka.”

“Lo buang muka dari gazebo, terus lo buang muka dari Clara. Dalam lima detik.” Dia melewatiku menuju pintu vila. “Lo kayak orang yang lagi main petak umpet sama dua hal sekaligus.”


Kue gunung itu memang tidak bisa diselamatkan sebagai gunung.

Tapi setelah dua puluh menit di dapur vila, dengan pisau mentega, sendok teh, dan sisa krim dari kulkas, kue itu bisa diselamatkan sebagai sesuatu yang lain.

“Itu apa?” tanya Keisha, menatap hasil kerjaku dengan mata besar.

“Bukit.”

“Bukit?”

“Gunung yang udah pensiun.”

Keisha menatap kue itu. Puncaknya kuratakan, bunga-bunga yang merosot kususun ulang di sepanjang lereng seperti kebun teh bertingkat, dan di bagian atas yang rata kutancapkan lilin ulang tahun angka dua dan delapan.

“Ini...” Bibir Keisha bergetar. “Ini bagus banget. Ini kayak kebun teh. Kayak di luar.”

“Kan kita di Puncak.”

“Ga.” Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Kamu bikin kue aku jadi lebih bagus dari aslinya.”

“Kue kamu bagus dari awal. Aku cuma bantu dia pensiun.”

Keisha menangis. Tentu saja. Dia memelukku dari samping, dan aku mengangkat pisau mentega tinggi-tinggi supaya krim tidak mengenai rambutnya.

Putra, yang berdiri di ambang pintu dapur, menatap Keisha yang menangis di bahuku. Ada sesuatu yang aneh di wajahnya. Bukan cemburu. Sesuatu yang lebih lembut, lebih bersyukur, seperti dia sedang melihat sesuatu yang sangat dia sayangi dijaga dengan baik.

Aku tidak terlalu memikirkannya. Putra memang begitu. Dia sayang kami semua.


Malam pertama, tepat jam tujuh, kami menyanyikan selamat ulang tahun untuk Keisha di ruang tengah vila. Dia meniup lilin angka dua puluh delapan di atas bukit kue, sambil menangis, dan menjawab “aku nggak mau bilang” ketika Faisal bertanya apa permintaannya.

“Kenapa?”

“Nanti nggak terkabul.”

“Kei, itu cuma mitos.”

“Mitosnya udah terbukti!” Keisha mengusap mata. “Tahun lalu aku minta dapet kucing, terus aku bilang ke kalian, terus aku nggak dapet kucing.”

“Kamu alergi kucing,” kata Putra.

“Itu bukan intinya!”

Barbeque Faisal sempurna, seperti biasa. Sate ayam, jagung bakar, sosis, dan ikan gurame yang dia bumbui dengan resep rahasia yang sebenarnya cuma kecap, bawang putih, dan “cinta”. Kami makan di teras dengan kaki dibungkus selimut, sementara kabut mulai turun dari bukit dan menelan lampu-lampu di lembah satu per satu.

Lalu kami main Werewolf.

Aku jadi narator, karena aku satu-satunya yang bisa memutuskan dengan adil siapa yang mati tanpa memihak. Keisha mati pertama, seperti biasa, karena dia selalu menunjukkan ekspresi bersalah meskipun dia penduduk desa biasa. Faisal membongkar dirinya sendiri sebagai werewolf di ronde kedua karena dia tidak bisa berhenti tertawa. Putra dibunuh di ronde ketiga dan protes dengan alasan medis.

Zara menang. Zara selalu menang. Dia werewolf yang bertahan sampai akhir, dengan wajah datar sempurna, dan membunuh Clara di ronde terakhir.

“ZARA,” teriak Clara.

“Sori,” kata Zara, tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Kamu bunuh aku duluan padahal kamu bisa bunuh Erga!”

“Erga narator. Narator nggak bisa dibunuh.”

“Kamu bisa coba!”

“Kenapa gue harus bunuh Erga?” Zara menatap Clara. Lalu menatapku. Lalu kembali ke Clara. Ujung bibirnya terangkat. “Lo mau Erga mati?”

Clara diam. Wajahnya merah.

“Nggak,” gumamnya.

“Ya udah.”

Faisal tertawa sampai jatuh dari bantal. Keisha bertanya apa yang lucu. Putra menatapku dengan alis terangkat.

Aku membereskan kartu.


Karaoke di ruang tengah dari jam sembilan sampai jam sebelas.

Faisal menyanyikan lagu dangdut tentang ibu, dan menangis di bait kedua, persis seperti yang semua orang prediksi. Keisha menyanyikan lagu anak-anak yang dia ajarkan di sekolah, lengkap dengan gerakan tangan, dan memaksa kami semua mengikuti. Zara menolak bernyanyi, sampai Faisal memberinya mikrofon dan memintanya “sekali aja, demi ulang tahun Keisha”. Zara menyanyikan satu lagu rock lama dengan suara rendah dan serak yang membuat ruangan sunyi.

Ketika dia selesai, tidak ada yang bertepuk tangan selama tiga detik. Lalu Faisal berdiri, bertepuk tangan sendirian, keras, dengan mata basah.

“Kenapa lo nangis?” tanya Zara.

“Suara lo bagus.”

“Terus kenapa nangis?”

“Gue nggak tahu. Gue emang nangis kalau ada yang bagus.”

Zara menatapnya. Lalu menyerahkan mikrofon ke Putra tanpa berkata apa-apa. Tapi telinganya merah.

Putra memilih lagu balada. Lagu cinta lama, tentang seseorang yang sudah lama dicintai dari jauh. Dia menyanyikannya dengan serius, terlalu serius untuk karaoke vila, dan di bagian reff, matanya bergerak ke satu arah dan berhenti di sana.

Ke arah sofa, tempat Clara dan Keisha duduk berdampingan, berbagi satu selimut.

Clara sedang menatap layar HP-nya. Keisha sedang menatap Putra.

Aku menatap gelas teh jahe di tanganku.

Besok malam.


Jam setengah dua belas, semua orang sudah masuk ke kamar, kecuali dua orang.

Aku di teras, mengecek baterai lampu-lampu yang kusembunyikan di bagasi. Clara di depan api unggun kecil di halaman yang sisa dari barbeque tadi, membungkus diri dengan selimut dan jaket hitamku yang dia bawa jauh-jauh dari Jakarta.

“Ga,” panggilnya. “Sini.”

Aku menutup bagasi dan berjalan ke api unggun. Dia menepuk bangku kayu di sebelahnya. Aku duduk.

Api sudah mengecil. Bara oranye berdenyut pelan di antara kayu yang menghitam. Kabut sudah tebal sekarang, menutupi lembah sepenuhnya, dan dunia di luar lingkaran cahaya api unggun terasa seperti tidak ada.

“Kamu tadi ngapain di bagasi?”

“Cek barang.”

“Barang apa?”

“Barang.”

“Rahasia?”

“Iya.”

Dia tersenyum dan menarik selimutnya lebih erat. Lalu menyandarkan bahunya ke bahuku. Tidak kepalanya, hanya bahunya. Sentuhan kecil yang terasa lebih besar dari seharusnya.

“Ga.”

“Hm.”

“Aku cantik nggak malam ini?”

Aku menoleh.

Dia tidak menatapku. Dia menatap api. Pertanyaan itu dia lemparkan ke udara seperti batu ke danau, ringan, iseng, tapi tangannya di bawah selimut mencengkeram ujung jaket hitamku.

Cahaya api memantul di wajahnya. Rambutnya berantakan, setengah menutupi pipi. Hidungnya merah karena dingin. Tidak ada riasan. Ada sedikit saus barbeque yang tersisa di sudut bibirnya, yang dia tidak tahu.

“Nggak,” kataku.

Clara menoleh cepat, mata melebar, mulut terbuka dengan protes yang sudah siap meledak.

“Kamu cantik dari jam tiga sore,” kataku sebelum protes itu keluar. “Waktu kamu turun dari mobil terus nyium udara. Malam ini cuma lanjutannya.”

Mulut Clara tetap terbuka. Tapi protesnya tidak jadi keluar.

Dia menatapku. Lama. Api berderak pelan. Seekor jangkrik berbunyi di suatu tempat di kebun.

Lalu wajahnya memerah. Bukan merah karena api atau dingin. Merah dari dalam, merambat dari leher ke pipi ke telinga. Dia memalingkan wajah ke api dan menarik selimut sampai menutupi setengah wajahnya.

“Curang,” gumamnya dari balik selimut.

“Apa yang curang?”

“Kamu. Kamu curang.” Suaranya teredam. “Kamu nggak pernah ngomong kayak gitu. Sepuluh tahun kamu nggak pernah. Terus tiba-tiba di Puncak, jam setengah dua belas malam, di depan api unggun, kamu ngomong kayak gitu. Itu curang, Ga.”

Aku tidak menjawab.

Karena dia benar. Sepuluh tahun aku tidak pernah. Sepuluh tahun aku menyimpan setiap kalimat seperti itu di kursi paling ujung di kepalaku, disusun rapi, tidak pernah dikeluarkan.

Malam ini aku mengeluarkan satu.

Karena besok malam, aku tidak akan bisa lagi.


Kami duduk lama di sana. Api terus mengecil. Clara pelan-pelan menurunkan selimut dari wajahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku, seperti di mobil di bahu tol, dan aku membiarkannya.

Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan saat Clara sedang menatap.

Aku menatapnya.

Bukan satu detik. Bukan sopan. Aku menatap wajahnya dari jarak sejengkal, dengan kepala di bahuku dan mata yang setengah terpejam, saus barbeque di sudut bibirnya dan rambut yang tertiup angin. Aku menatapnya seperti selama sepuluh tahun aku menatapnya diam-diam saat dia menoleh ke Keisha atau tertawa pada Putra atau menunduk membaca HP.

Hanya saja kali ini, dia membuka mata.

Dan melihatku.

Aku tidak memalingkan wajah.

Clara menegakkan kepalanya sedikit. Matanya membesar. Napasnya tertahan.

“Kamu ngeliatin aku,” bisiknya.

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku mengangkat ibu jari, pelan, dan menyeka saus barbeque di sudut bibirnya.

“Ada saus,” kataku.

Clara tidak bergerak. Ibu jariku masih di sudut bibirnya. Bibirnya terbuka sedikit. Api berderak.

Aku menarik tanganku.

“Ra,” kataku. “Besok malam kamu bakal bahagia.”

Dia mengerjap. Bingung. “Hah? Besok malam? Kenapa?”

“Nanti kamu tahu.”

“Ga, apa maksudnya?”

Aku berdiri. Mengambil ember air dari teras, menyiramkannya ke sisa api unggun. Bara mendesis, asap putih naik, lalu gelap.

“Tidur, Ra. Udah malam.”

“Ga—”

“Selamat malam.”

Aku berjalan ke vila. Di belakangku, aku mendengar Clara berdiri dari bangku, selimut terseret di rumput.

“ERGA.”

Aku berhenti di ambang pintu teras, tapi tidak berbalik.

“Kamu nggak bisa ngomong kayak gitu terus pergi.”

“Aku bisa.”

“Itu curang lagi!”

“Iya.”

Hening. Lalu, pelan, suara Clara berubah. Bukan marah. Lebih lembut. Lebih takut.

“Besok malam ada apa?”

Aku menatap gelap di dalam vila. Di lantai dua, lampu kamar Putra masih menyala. Mungkin dia sedang latihan pidato di kamar mandi lagi.

“Sesuatu yang bagus,” kataku. “Buat kamu. Aku janji.”

Lalu aku masuk, menutup pintu teras di belakangku, dan naik ke kamar yang kubagi dengan Faisal, yang sudah mendengkur dengan suara seperti mesin genset.

Aku berbaring di kasur. Menatap langit-langit kayu.

Di luar, aku mendengar langkah kaki Clara masuk ke vila beberapa menit kemudian. Pelan. Ragu-ragu. Berhenti di depan pintu kamarku. Lama.

Lalu pergi ke kamarnya sendiri.

Aku tidak tidur sampai jam empat pagi.