Chapter Thirty Nine
Gugus 7 Minus Clara
POV: Erga
Aku membuat grup itu hari Senin jam enam pagi.
Butuh empat puluh menit. Bukan karena aku tidak tahu cara membuat grup. Aku IT support lead, aku membuat grup untuk koordinasi server tiga kali seminggu. Tapi empat puluh menit karena aku mengetik nama grup, menghapusnya, mengetik lagi, menghapus lagi, dan duduk menatap layar kosong dengan jempol di atas tombol Buat.
Akhirnya aku menekannya.
Erga membuat grup “Gugus 7 Minus Clara” Erga menambahkan Putra, Keisha, Zara, Faisal
Lalu aku mengetik pesan pertama. Empat kata. Butuh sepuluh menit lagi.
Aku: Aku butuh bantuan kalian.
Aku menekan kirim. Lalu meletakkan HP terbalik di kasur dan menatap langit-langit.
Satu menit.
HP bergetar. Lalu bergetar lagi. Lalu lagi. Lalu tidak berhenti bergetar.
Aku membaliknya.
Keisha: 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Keisha: ERGA
Keisha: ERGA PRAMANA
Keisha: KAMU BILANG BUTUH 😭😭😭😭😭
Putra: Gue screenshot. Gue cetak. Gue bingkai. Gue gantung di ruang IGD.
Faisal: gue lagi di pasar dan gue nangis di depan tukang ayam
Faisal: tukang ayamnya nanya gue kenapa
Faisal: gue bilang temen gue akhirnya minta tolong
Faisal: dia bilang selamat
Zara: Akhirnya.
Zara: Butuh bantuan apa?
Aku menatap layar.
Aku: Aku mau ngelamar Clara.
Hening di grup. Sepuluh detik. Dua puluh. Tanda “sedang mengetik” muncul di empat nama sekaligus, lalu hilang, lalu muncul lagi.
Lalu:
Keisha: [pesan suara, 0:47]
Aku memutarnya. Empat puluh tujuh detik Keisha menjerit. Tidak ada kata-kata. Hanya jeritan panjang dengan nada yang naik turun, diselingi isak, diakhiri dengan suara Keisha jatuh dari sesuatu dan berkata “aduh” dengan pelan.
Putra: Keisha jatuh dari kasur. Dia nggak apa-apa. Dia lanjut nangis di lantai.
Faisal: GUE MASAK TUMPENG
Zara: Belum, Sal. Belum waktunya tumpeng.
Faisal: GUE MASAK TUMPENG LATIHAN
Rapat pertama Senin malam, di Dapur Isal yang tutup.
Clara tidak diundang. Clara, menurut pesannya ke grup Gugus 7 (Jangan Bubar) sore tadi, “ada meeting klien sampai malam, kalian Jumatan tanpa aku dulu ya”. Lalu dia mengirim pesan pribadi padaku satu menit kemudian: Aku nggak denger apa-apa. Aku nggak tahu apa-apa. Aku lagi meeting. Selamat merencanakan hal yang aku nggak tahu.
Aku menatap pesan itu dan tersenyum ke layar.
Bayu, di meja sebelah, bergumam: “Mas Erga senyum ke HP lagi.”
Dapur Isal jam tujuh malam. Kami berlima di meja kayu dekat jendela. Faisal sudah memasak tumpeng latihan, kecil, dengan nasi kuning yang terlalu kuning dan telur yang dibentuk seperti hati.
Aku duduk di kursi tengah. Faisal di kursi paling ujung.
Aku membuka laptop. Folder baru. Kosong.
“Kamu nggak bikin rundown?” tanya Putra, menatap layar.
“Nggak.”
“Kenapa?”
Aku menatap folder kosong itu.
“Karena aku nggak tahu harus nulis apa,” kataku. “Itu kenapa aku minta tolong.”
Empat pasang mata menatapku. Keisha mulai berkaca-kaca lagi.
“Oke,” kata Putra, menegakkan punggung. Dia mengambil alih laptop. “Oke. Gue mulai. Konsep. Gimana kalau pakai drone?”
“Drone?”
“Drone yang bawa cincin. Terbang dari belakang, turun pelan-pelan ke tangan lo, terus—”
“Nggak,” kata Zara.
“Kenapa nggak?”
“Drone bisa jatuh. Cincinnya bisa ilang. Erga bisa kena baling-baling.”
“Gue dokter, gue bisa jahit lukanya.”
“Nggak.”
“Oke.” Putra menghapus DRONE dari dokumen. “Keisha?”
Keisha mengangkat tangan dengan semangat. “Flashmob!”
“Nggak,” kata Zara.
“Aku belum jelasin!”
“Flashmob. Orang-orang tiba-tiba nari. Terus Erga muncul di tengah. Nggak.”
“Kenapa nggak?? Romantis!”
“Erga nggak bisa nari.”
Semua orang menoleh padaku.
“Aku bisa nari,” kataku.
“Lo bisa nari?” tanya Faisal.
“Nggak.”
Keisha cemberut. Putra menghapus FLASHMOB.
“Faisal?”
“Gue masak,” kata Faisal. “Tumpeng. Gede. Cincinnya ditaruh di puncak tumpeng.”
“Nggak,” kata Zara.
“Zar, lo veto semuanya!”
“Karena semua idenya jelek.”
“Tumpeng nggak jelek!”
“Cincin di puncak tumpeng bakal kena nasi kuning. Clara harus jilat nasi kuning dari cincin pertunangannya.”
Faisal membuka mulut. Menutupnya. “...Oke. Itu jelek.”
Putra menatap Zara. “Oke, Bu Insinyur. Ide lo apa?”
Zara diam.
Dia menatapku. Lama. Lalu dia menatap dinding Dapur Isal, ke foto-foto lima tahun kedai yang ditempel di bata putih. Gerobak di depan kos. Ruko pertama. Dan satu foto yang bukan dari kedai. Foto kami berenam di hari terakhir Ospek, kaus gugus hijau tua, yang Faisal tempel di sudut karena “ini awalnya semua”.
“Kenapa nggak di tempat semuanya mulai?” kata Zara.
Hening.
“Lapangan rektorat,” kata Zara. “Bandung. Tempat Ospek. Hari kedua.”
Aku menatapnya.
“Jam enam pagi,” lanjutnya. “Waktu yang sama. Tempat yang sama. Barisan gugus tujuh.”
Keisha menutup mulutnya dengan dua tangan. Putra berhenti mengetik. Faisal menatap Zara dengan mata yang langsung basah.
“Zar,” kata Faisal pelan. “Itu bukan ide jelek.”
“Gue tahu.”
“Itu ide paling bagus yang pernah gue denger.”
“Gue tahu, Sal.”
Aku menatap foto di dinding. Delapan belas tahun. Kaus hijau tua. Aku di ujung, setengah terpotong.
Keliling ketujuh.
“Iya,” kataku. “Di sana.”
Rencana itu terbentuk dalam tiga jam berikutnya. Bukan empat belas halaman. Satu halaman. Ditulis Putra, dikoreksi Zara, ditambahi stiker oleh Keisha, dan dicoret-coret Faisal dengan ide-ide makanan yang semuanya diveto.
Tapi satu halaman itu cukup.
Lalu, di akhir rapat, Faisal berdiri.
“Satu lagi,” katanya. “Gue mau ngasih sesuatu.”
Dia mengeluarkan map dari bawah konter. Map plastik bening, sama dengan yang dia pakai di ulang tahun kedai. Dia meletakkannya di depanku.
“Buka,” katanya.
Aku membuka.
Akta notaris. Bang Rizal. Tiga halaman. Aku membaca halaman pertama. Lalu halaman kedua. Lalu berhenti di satu baris.
Sdr. Erga Pramana, selaku pemegang saham sebesar 30% (tiga puluh persen) atas usaha Dapur Isal dan seluruh cabangnya...
Aku menatap Faisal.
“Sal.”
“Jangan.”
“Sal, aku nggak bisa—”
“Gue bilang jangan.” Faisal berdiri di depan meja dengan tangan di pinggang dan mata merah. “Lo nggak nawarin waktu itu. Lo ngasih. Sekarang gue juga nggak nawarin, Ga.” Suaranya pecah. “Gue ngasih.”
Aku menatap akta di tanganku.
“Ini bukan bayar utang,” lanjut Faisal. “Ini bukan balik modal. Kedai ini lo yang selametin. Jadi kedai ini setengahnya punya lo. Gue cuma ngasih tiga puluh persen karena Zara bilang lima puluh bakal bikin lo kabur.”
“Bener,” kata Zara.
“Dan rekening yang atas nama gue,” kata Faisal. “Sembilan puluh satu setengah juta. Itu gue pakai buat cabang Bogor. Atas nama kita bertiga. Gue, Zara, sama lo. Lo pemilik cabang Bogor juga.”
“Sal—”
“Lo boleh nolak,” kata Faisal. “Tapi kalau lo nolak, gue tutup kedai. Gue pulang ke Garut. Gue jadi tukang beras.”
“Kamu nggak bakal—”
“GUE BAKAL.” Faisal menunjukku dengan spatula, yang entah kenapa dia pegang. “Gue bakal jadi tukang beras paling sedih se-Garut. Gue bakal nangis tiap hari di depan karung beras. Mau lo?”
Aku menatap Faisal.
Sahabatku yang duduk di sebelahku di lapangan rektorat jam lima empat puluh pagi, dengan ransel penuh makanan “buat jaga-jaga”. Yang membeli empat puluh nasi bungkus dengan uang jajan sebulan untuk pemakaman bapak orang yang dia kenal tiga minggu.
Aku sudah sepuluh tahun menolak semua yang mereka coba berikan.
Aku menatap akta di tanganku.
Bantuin aku, kataku ke Clara dua hari lalu. Aku nggak tahu caranya berhenti.
Mungkin ini caranya. Mungkin caranya adalah bilang iya ketika seseorang memberi.
“Makasih, Sal,” kataku.
Faisal menatapku. Spatula masih terangkat.
“...Hah?”
“Makasih.”
“Lo nggak nolak?”
“Nggak.”
Faisal menatapku tiga detik. Lalu menjatuhkan spatula ke lantai, mengitari meja, dan memelukku dengan seluruh tubuhnya yang delapan puluh lima kilo. Aku hampir jatuh dari kursi tengah.
Dia menangis di bahuku. Tentu saja.
Keisha ikut memeluk. Lalu Putra. Lalu, setelah lima detik ragu-ragu, Zara. Kami berlima berpelukan di kursi tengah Dapur Isal seperti tumpukan yang tidak beraturan, dengan Faisal menangis paling keras.
Selasa sore, aku ke rumah Menteng.
Sendirian. Bukan dengan Clara. Bukan dengan kotak kado. Dengan diriku sendiri, dan kemeja putih yang lengannya digulung.
Pak Darmo membuka gerbang tanpa memeriksa daftar.
“Mas Erga,” katanya, mengangguk. “Nama Mas udah di daftar tetap. Kata Bapak.”
Pak Hendra di ruang kerja. Kacamata emas, kemeja batik, rambut putih yang disisir rapi. Masih sedikit pucat, sebulan setelah ICU. Dia duduk di belakang meja jati besar dengan album foto pernikahan yang kurestorasi terbuka di atasnya.
Dia menatapku waktu aku masuk.
“Erga.”
“Om.”
“Duduk.”
Aku duduk.
Dia menutup album. Melepas kacamata. Menatapku lama.
“Kamu ke sini sendirian,” katanya.
“Iya, Om.”
“Nggak bawa apa-apa.”
“Nggak, Om.”
“Nggak bawa pisang dua sisir?”
Aku menatapnya. “Nggak, Om.”
Pak Hendra menatapku lama. Lalu ujung bibirnya bergerak. Bukan senyum. Belum. Tapi lebih dekat dari waktu di ICU.
“Kamu mau ngomong apa?”
Aku menarik napas.
“Om,” kataku. “Saya mau minta izin. Buat ngelamar Clara.”
Ruangan sunyi.
“Saya belum punya rumah,” lanjutku. “Saya masih ngontrak di Depok sama ibu saya. Tabungan saya empat puluh tiga juta. Saya baru dapet tiga puluh persen saham kedai sahabat saya kemarin, dan saya belum tahu itu artinya apa buat penghasilan saya.” Aku menatap Pak Hendra lurus. “Saya nggak cukup, Om. Menurut hitungan saya, saya belum cukup.”
Pak Hendra tidak berkata apa-apa.
“Tapi Om bilang ke saya di ICU,” kataku. “Jangan bikin anak Om nunggu saya jadi cukup. Dia udah nunggu sepuluh tahun.”
Aku diam sebentar.
“Saya nggak mau dia nunggu lagi,” kataku. “Jadi saya dateng. Bawa diri saya. Cuma itu yang saya punya.”
Pak Hendra menatapku sangat lama. Monitor jantung tidak ada di sini, tapi aku bisa mendengar detak jantungku sendiri di telinga.
Lalu dia berdiri. Pelan. Satu tangan di dada, di tempat rusuknya yang retak masih belum sembuh sepenuhnya.
Dia berjalan mengitari meja. Berdiri di depanku. Aku ikut berdiri.
“Kamu tahu apa yang saya bilang ke bapak mertua saya,” kata Pak Hendra, “tiga puluh dua tahun lalu? Waktu saya dateng ke rumahnya di Kemang, bawa pisang dua sisir, dan dia bilang saya nggak cukup?”
“Nggak, Om.”
“Saya bilang, ‘Saya memang nggak cukup, Pak. Tapi saya dateng.’” Pak Hendra menatapku. “Bapak mertua saya diem lama. Terus dia bilang, ‘Itu cukup.’”
Dia mengulurkan tangan.
“Kamu dateng,” katanya. “Itu yang saya minta.”
Aku menatap tangannya. Tangan yang dulu, sebulan lalu, terkulai di lantai marmer sementara aku menekan dadanya seratus dua puluh kali per menit.
Aku menjabatnya.
Dia tidak melepaskan. Dia menggenggam tanganku dengan dua tangan, erat, dan menatapku dari jarak dekat.
“Jagain dia,” katanya pelan. “Dan biarin dia jagain kamu. Itu dua-duanya penting.”
“Iya, Om.”
“Satu lagi.”
“Iya, Om?”
Dia melepaskan tanganku. Mundur selangkah. Lalu, dengan wajah yang sangat serius, dia berkata:
“Tante Mira mau ngurus kateringnya.”
Tante Mira, ternyata, sudah menunggu di ruang tamu dengan tiga map dan dua katalog vendor pernikahan.
“Lamarannya di mana?” tanyanya, sebelum aku sempat duduk.
“Bandung, Tante. Lapangan kampus.”
“Lapangan?” Tante Mira mengerjap. “Outdoor? Jam berapa?”
“Jam enam pagi.”
“JAM ENAM PAGI?”
“Jam yang sama dengan Ospek, Tante.”
Tante Mira menatapku seperti aku baru mengatakan aku mau melamar di dalam gorong-gorong. Lalu dia menatap Bu Lena, yang duduk di sebelahnya dan tersenyum sangat lebar. Lalu kembali menatapku.
“Oke,” katanya, membuka map pertama. “Jam enam pagi. Lapangan. Outdoor. Kemungkinan hujan tiga puluh persen di bulan ini. Tante siapin tenda cadangan. Sarapan buat tamu. Bunga. Fotografer.” Dia mencatat dengan cepat. “Berapa tamu?”
“Kami berenam, Tante. Sama keluarga.”
“Berenam?” Dia mengangkat kepala. “Erga. Ini lamaran anak kakak ipar Tante. Ini lamaran Clara Halim. Masa berenam?”
“Tante,” kata Bu Lena lembut. “Biarin mereka.”
Tante Mira menatap kakaknya. Lalu menatapku. Lalu menghela napas, panjang, dramatis, seperti aktris sinetron.
“Oke,” katanya. “Berenam plus keluarga. Tapi sarapannya Tante yang urus. Dan fotografernya Tante yang pilih.” Dia menunjukku dengan pulpen. “Dan kamu pakai kemeja putih. Lengan digulung.”
Aku menatapnya.
“Clara bilang ke Tante,” kata Tante Mira, menunduk ke catatannya. “Waktu di rumah sakit. Katanya kamu paling ganteng kalau lengannya digulung.”
Malam itu, di rumah, Ibu memberikan sesuatu padaku.
Kami duduk di ruang tamu. Mesin jahit diam. Kain lurik cokelat tua yang sekarang sudah menjadi beskap utuh, tergantung di belakang pintu kamar Ibu di sebelah kebaya hijau sage.
Atap dapur sudah tidak bocor. Bapak Keisha dan dua tukang datang Senin pagi, diawasi Zara dengan helm proyek dan papan klip, padahal Zara seharusnya di proyek Cawang. Putra sudah menjadwalkan check-up lengkap untuk Ibu hari Kamis, dan sudah dua kali menelepon untuk mengingatkan Ibu supaya tidak lupa puasa malam sebelumnya. Faisal mengirim makan malam setiap hari, dengan sticky note yang semakin panjang dan semakin banyak salah ketik.
Ibu membuka kotak kecil dari kayu. Kotak yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Di dalamnya ada cincin. Emas kuning. Sederhana. Tanpa batu. Sedikit tergores di beberapa tempat, seperti cincin yang sudah dipakai sangat lama.
“Cincin kawin Ibu,” kata Ibu pelan. “Dari Bapak.”
Aku menatap cincin itu.
“Bapak beli pakai gaji pertama naik tiang,” kata Ibu. “Waktu itu belum cukup buat yang ada batunya. Bapak janji nanti diganti. Nggak pernah diganti.” Dia tersenyum. “Ibu nggak mau diganti.”
“Bu—”
“Ibu udah nggak pakai sejak Bapak pergi. Takut ilang.” Ibu menutup kotak itu dan meletakkannya di tanganku. “Ukurannya Ibu udah kecilin. Kemarin. Di tukang emas di pasar. Ibu pakai ukuran jari Clara yang Ibu ukur waktu kebaya.”
Aku menatap kotak kayu di telapak tanganku.
“Bapak dateng ke rumah kakek Ibu bawa pisang dua sisir,” kata Ibu. “Kamu dateng ke lapangan Ospek bawa cincin Bapak.” Matanya berkaca-kaca di balik kacamata. “Biar Bapak ikut, Le.”
Aku tidak bisa bicara.
Aku memeluk Ibu. Di ruang tamu kontrakan, di samping mesin jahit yang diam. Ibu memelukku balik, menepuk punggungku pelan, teratur, seperti mesin jahit.
“Le,” bisiknya di bahuku.
“Iya, Bu.”
“Kamu minta tolong ke temen-temen kamu?”
“Iya, Bu.”
“Kamu bilang butuh?”
“Iya, Bu.”
Ibu memelukku lebih erat.
“Bapakmu nggak pernah bisa,” bisiknya. “Kamu bisa. Ibu bangga.”
Jam sebelas malam, grup Gugus 7 Minus Clara berbunyi.
Zara: Gue udah hubungi Kak Bondan.
Putra: Kak Bondan?? Yang galak waktu Ospek??
Zara: Sekarang dosen di fakultas kita. Gue ketemu di seminar tahun lalu.
Zara: Dia mau ikut.
Keisha: IKUT GIMANA??
Zara: Rahasia. Bagian dari rencana.
Faisal: zar lo bikin rencana tanpa kita?
Zara: Gue insinyur. Gue selalu punya rencana cadangan.
Faisal: ❤
Zara: ❤
Putra: KALIAN BERDUA PAKAI EMOJI HATI DI GRUP INI
Keisha: 😭😭😭😭😭😭
Aku menatap layar. Lalu mengetik.
Aku: Makasih semuanya.
Hening sebentar.
Putra: Ga.
Aku: Hm.
Putra: Lo bilang makasih.
Aku: Iya.
Putra: Lo bilang butuh. Lo bilang tolong. Lo bilang makasih. Dalam satu minggu.
Keisha: erga udah sembuh 😭
Faisal: erga udah jadi manusia
Zara: Belum. Dia masih perlu belajar nerima pelukan tanpa kaku kayak tiang listrik.
Aku: Aku nggak kaku.
Zara: Lo kayak tiang listrik waktu Faisal meluk tadi.
Faisal: iya ga lo kaku banget
Aku: Kamu delapan puluh lima kilo, Sal.
Faisal: ITU BUKAN ALESAN
Aku tertawa sendirian di kamar dua kali tiga meter. Boneka kucing raksasa Keisha menatapku dari sudut. Kotak kayu kecil berisi cincin emas Bapak di atas meja kerja, di bawah foto Bapak dan foto kami berenam.
Sabtu. Lapangan rektorat. Jam enam pagi.
Empat hari lagi.
Aku tidak menghitung berapa jam. Atau berapa menit. Atau berapa uang di tabunganku.
Aku hanya tahu satu hal.
Kali ini, aku tidak datang sendirian.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara reading
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja