Chapter Twenty One
Tegal Alun, Jam Lima Pagi
POV: Clara
Faisal bangun jam empat kurang sepuluh dan bilang dia mau ikut.
“Nggak,” kata Zara.
“Gue udah sehat.”
“Lo hampir mati kemarin.”
“Hampir. Itu kata kuncinya. Hampir.” Faisal duduk di sleeping bag dengan kupluk miring dan wajah yang sudah kembali berwarna. “Zar, gue udah tiga kali ke Papandayan dan gue nggak pernah liat sunrise di Tegal Alun. Selalu kesiangan.”
“Lo bisa liat tahun depan.”
“Tahun depan belum tentu ada.”
Zara menatapnya dengan mata menyipit, di bawah cahaya senter kepala yang diarahkan ke langit-langit tenda. Faisal menatap balik dengan mata memohon.
Erga, dari luar tenda, mengecek suhu tangan Faisal, lalu denyut nadinya, lalu menatap pupilnya dengan senter.
“Dia udah oke,” katanya. “Tapi pelan. Di belakang. Kamu jaga dia, Zar.”
“Kenapa gue?”
“Karena kamu yang meluk dia semalaman.”
Hening.
Faisal menoleh ke Zara dengan wajah yang tiba-tiba sangat merah. Zara menatap Erga dengan tatapan yang bisa membuat beton retak.
Erga sudah berbalik dan berjalan ke tenda kami.
“Ga,” bisikku, ketika dia sampai. “Itu jahat.”
“Itu fakta.”
“Fakta yang jahat.”
Dia tidak menjawab. Tapi ujung bibirnya naik sedikit dalam gelap.
Kami berangkat jam empat lewat lima. Aku dan Erga di depan. Zara dan Faisal di belakang, sengaja tertinggal lima puluh meter, atas perintah Zara, yang dia sampaikan padaku lewat bisikan tajam waktu kami mengikat tali sepatu: Gue tahan Faisal di belakang. Lo jalan duluan. Jangan sia-siain.
Jalur dari Pondok Saladah ke Tegal Alun naik melewati hutan mati. Pohon-pohon hitam terbakar yang berdiri seperti siluet di bawah cahaya senter kepala, dengan cabang-cabang telanjang yang menjulur ke langit seperti tangan. Tanahnya berbatu dan curam. Udara sangat dingin. Napasku mengepul putih di depan senter.
Erga berjalan di depanku. Bukan di belakang seperti biasa. Satu langkah di depan, cukup dekat untuk menahan kalau aku jatuh, cukup jauh untuk tidak terasa seperti dituntun.
Di tanjakan paling curam, dia berhenti dan mengulurkan tangan ke belakang tanpa menoleh.
Aku menggenggamnya.
Tangannya hangat. Kapalan di pangkal jari. Tangan yang kemarin memasukkan Faisal ke sleeping bag, menuangkan teh manis, memegangi gelas karena tangan Faisal terlalu gemetar. Tangan yang semalam melingkar di punggungku sampai subuh.
Dia tidak melepasnya setelah tanjakan selesai.
Aku juga tidak.
Tegal Alun adalah padang edelweis terluas di Jawa. Aku pernah membacanya di internet dan melihat foto-fotonya. Foto-foto itu tidak menyiapkanku untuk ini.
Kami keluar dari hutan mati jam lima kurang sepuluh, dan di depan kami terbentang padang luas yang tidak berujung, dipenuhi semak edelweis setinggi pinggang sejauh mata memandang. Bunganya kecil-kecil, putih keperakan, berkilau di bawah cahaya biru tua langit subuh. Di sebelah timur, langit sudah mulai berubah. Hitam menjadi biru tua, biru tua menjadi ungu, ungu menjadi oranye tipis di garis cakrawala.
Kabut tipis melayang di atas padang seperti selimut yang belum ditarik.
Tidak ada orang lain. Pendaki lain masih di Pondok Saladah, atau sudah di puncak lain. Padang itu milik kami.
Aku berhenti di pinggir padang. Napasku tertahan, bukan karena tanjakan.
“Ga,” bisikku.
“Hm.”
“Ini...”
“Iya.”
Dia berdiri di sebelahku, masih memegang tanganku. Senter kepalanya sudah dimatikan. Kami berdiri dalam cahaya subuh yang biru, menatap padang edelweis yang perlahan berubah warna seiring langit di timur.
Di belakang kami, jauh, aku mendengar suara Faisal: “Zar, kenapa lo jalan pelan banget? Biasanya lo ninggalin gue.” Dan Zara: “Kaki gue kram.” Dan Faisal: “Kaki lo nggak pernah kram.” Dan Zara: “Sekarang kram. Diem.”
Aku tersenyum.
Lalu aku melepaskan tangan Erga.
Dia menoleh, bingung. Aku berjalan tiga langkah ke depan, masuk ke jalur kecil di antara semak edelweis, lalu berbalik menghadapnya.
Langit di belakangku semakin terang. Oranye sekarang, dengan semburat merah muda. Matahari belum muncul, tapi sebentar lagi.
Aku menarik napas panjang. Dingin. Menusuk paru-paru.
Tanganku masuk ke saku jaket, jaket hitamnya, yang kupakai di atas jaket gunungku sendiri. Di saku dalam jaket gunungku, di bawah jaketnya, ada dompetku. Dan di dalam dompetku, di antara KTP dan foto keluarga, ada name tag karton yang sudah dilaminating, bertuliskan ERGA — GUGUS 7.
Aku menyentuhnya. Lewat dua lapis kain. Hanya menyentuh. Untuk keberanian.
“Ga,” kataku.
Dia menatapku. Tenang. Menunggu. Seperti yang selalu dia lakukan.
“Sepuluh tahun,” kataku. “Sepuluh tahun kamu selalu bilang satu kalimat.”
Dia tidak menjawab.
“Waktu laptop Keisha mati. Waktu dapur Faisal kebakaran. Waktu mobilku mogok di tol. Waktu Faisal jatuh ke sungai kemarin. Waktu Ospek, hari kedua, waktu aku lupa bawa name tag.” Suaraku bergetar. Aku membiarkannya. “Kamu selalu bilang ‘biar aku aja’.”
Dia diam. Matanya tidak berpindah dari wajahku.
“Sepuluh tahun kamu yang maju duluan buat semua orang. Kamu yang nanggung. Kamu yang lari. Kamu yang dihukum. Kamu yang nyiapin.” Aku menelan ludah. “Kamu yang nyiapin gazebo buat lamaran yang kamu kira lamaranku. Pakai tangan kamu sendiri.”
Langit di belakangku berubah menjadi emas. Aku bisa melihatnya di matanya, pantulan cahaya yang semakin terang.
“Jadi kali ini,” kataku. “Kali ini biar aku aja.”
Erga tidak bergerak.
“Aku sayang kamu, Ga.”
Matahari muncul.
Tepat saat itu. Aku tidak merencanakannya, aku bersumpah aku tidak merencanakannya, tapi tepat saat kalimat itu keluar dari mulutku, ujung matahari muncul di cakrawala timur di belakangku, dan cahaya keemasan meledak di seluruh padang edelweis. Bunga-bunga kecil itu menyala seperti ribuan bintang. Kabut tipis berubah menjadi emas. Dan wajah Erga, yang menghadapku, yang menghadap timur, tersiram cahaya pertama hari itu.
“Aku sayang kamu,” ulangku, lebih keras, karena suaraku tadi hampir tidak terdengar. “Dari hari kedua Ospek. Dari keliling ketujuh. Waktu kamu lari pakai kemeja basah terus ngangguk ke aku. Sepuluh tahun aku sayang kamu dan aku nggak pernah bilang, karena aku takut. Karena aku nggak tahu caranya. Karena aku nggak pernah ngejar siapa-siapa. Karena aku takut kalau aku bilang dan kamu nggak sama, Jumat malam di Dapur Isal bakal jadi aneh. Bakal ada kursi yang canggung.”
Air mataku sudah turun. Aku tidak mengusapnya.
“Tapi aku lebih takut kamu nyiapin gazebo lagi buat orang lain.”
Erga menatapku lama.
Cahaya matahari sekarang penuh di wajahnya. Aku bisa melihat setiap detailnya. Rambut yang berantakan karena kupluk. Bayangan hitam di bawah mata karena dia tidak tidur semalaman, mengecek Faisal setiap jam. Garis tipis di dahinya, garis yang selalu muncul waktu dia sedang menghitung sesuatu.
Dia sedang menghitung sesuatu sekarang.
“Ra,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Aku tahu.”
Aku mengerjap. “Hah?”
“Aku tahu,” ulangnya. Pelan. “Udah lama.”
“Udah lama? Dari kapan?”
“Dari vila. Dari gazebo.” Dia menatap edelweis di antara kami. “Sebelum itu, aku curiga. Tapi aku nggak ngizinin diri sendiri buat yakin.”
“Kenapa?”
Dia diam.
Angin bertiup dari timur, membawa wangi belerang samar dan wangi tanah basah. Bunga-bunga edelweis bergoyang pelan.
“Karena kalau aku yakin,” katanya, “aku harus jawab.”
Aku menatapnya. Jantungku berdebar sangat keras sampai aku bisa merasakannya di tenggorokan.
“Terus sekarang?” bisikku. “Kamu udah yakin. Aku udah bilang. Kamu harus jawab.”
Erga menarik napas panjang. Napasnya mengepul di udara pagi, keemasan di bawah matahari.
“Ra,” katanya. “Aku belum bisa kasih kamu rumah.”
Aku diam.
“Aku belum punya apa-apa buat dibawa,” lanjutnya. Suaranya tenang. Datar. Seperti membaca laporan yang sudah dia periksa ratusan kali. “Bukan karena aku ngerasa kurang. Aku tahu siapa aku. Aku tahu aku orang yang baik. Tapi ada hitungan yang belum selesai. Dan aku nggak mau minta kamu nunggu sampai hitungan itu selesai.”
“Hitungan apa?”
“Hitungan.”
“Ga.”
“Itu belum bisa aku ceritain.”
Aku menatapnya. Laki-laki di depanku, di tengah padang edelweis yang menyala keemasan, yang baru saja mendengar perempuan yang dia tatap selama sepuluh tahun bilang aku sayang kamu, dan menjawab dengan hitungan.
Laki-laki yang tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun, tapi meminta begitu banyak dari dirinya sendiri.
Sesuatu di dalam diriku, sesuatu yang Zara tanam di balkon vila dan siram di kelas masak dan pupuk di CFD, tumbuh.
Aku melangkah maju. Satu langkah. Dua. Sampai aku berdiri tepat di depannya, sangat dekat, dengan wajahku menengadah ke wajahnya.
“Ga,” kataku. “Dengerin aku baik-baik.”
Dia menatapku.
“Aku nggak nanya kamu siap atau nggak,” kataku. “Aku nggak nanya kamu punya rumah atau nggak. Aku nggak nanya hitungan kamu udah selesai atau belum.”
Aku menarik napas.
“Aku nanya kamu mau atau nggak.”
Padang edelweis sunyi.
Matahari terus naik di belakangku. Kabut tipis di atas padang mulai menguap, naik perlahan menjadi uap emas yang menghilang di udara.
Di kejauhan, di ujung hutan mati, aku mendengar suara langkah kaki. Faisal dan Zara. Masih jauh, tapi mendekat.
Erga menatapku. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku melihat wajahnya tidak tenang.
Tidak datar. Tidak terkendali. Wajah yang terbuka sepenuhnya, seperti dinding yang akhirnya runtuh setelah terlalu lama menahan air. Aku melihat semua yang dia simpan. Sepuluh tahun tatapan diam-diam. Sepuluh tahun kursi paling ujung. Sepuluh tahun nanti dan belum waktunya dan biar aku aja.
Dia menatapku, dan matanya basah.
“Mau,” katanya.
Satu kata. Pelan. Hampir tidak terdengar di atas angin.
Lalu lebih keras, seperti dia sendiri baru mendengar kata itu keluar dari mulutnya dan memutuskan untuk mengulanginya supaya pasti:
“Mau, Ra.”
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan.
Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami berdua, di saat yang sama, seperti dua orang yang sudah sepuluh tahun berdiri di dua sisi pintu dan akhirnya membukanya bersamaan.
Lengannya melingkar di tubuhku. Erat. Sangat erat. Seperti dia takut kalau dia melonggarkan sedikit saja, aku akan menguap seperti kabut di atas padang. Wajahku di dadanya, di tempat yang sama dengan semalam, tapi kali ini aku tidak kedinginan. Kali ini jantungnya berdetak di telingaku begitu keras dan cepat sampai aku bisa menghitungnya.
Aku menangis ke jaket gunungnya. Dia tidak bilang jangan nangis. Dia cuma memelukku lebih erat, dan aku merasakan dagunya di puncak kepalaku, dan napasnya yang tidak teratur di rambutku.
Lalu dia sedikit melonggarkan pelukan.
Aku mengangkat wajah. Dia menunduk.
Dan dia mencium keningku.
Lama. Sangat lama. Bibirnya hangat di kulit dingin keningku. Dia tidak terburu-buru. Seperti waktu dia mengaduk sambal. Pelan, tapi pasti.
Jangan buru-buru. Kayak kamu ke aku.
Aku memejamkan mata dan merasakan matahari di punggungku dan bibirnya di keningku dan angin dingin di pipiku yang basah.
Dia menarik diri. Pelan.
Aku membuka mata.
“Itu doang?” bisikku.
Dia mengerjap. “Hah?”
“Itu doang?” Aku menatapnya, mata basah, hidung merah, rambut berantakan di bawah kupluk, dengan senyum yang tidak bisa kutahan. “Aku naik gunung tiga jam, Ga. Latihan tangga delapan belas lantai dua minggu. Nyatain perasaan di depan matahari terbit. Dan aku cuma dapet cium kening?”
Erga menatapku. Lalu, pelan, sangat pelan, dia tersenyum.
Bukan senyum kecil yang tenang. Bukan senyum orang yang sudah selesai melakukan tugasnya dengan baik. Senyum yang lebar dan sedikit malu dan sangat, sangat bahagia, yang belum pernah kulihat di wajahnya selama sepuluh tahun.
Dia menunduk, mendekatkan bibirnya ke telingaku, dan berbisik:
“Sisanya di bawah.”
Aku membeku.
“Di sini ada Faisal,” tambahnya.
Aku menoleh.
Di ujung hutan mati, dua puluh meter dari kami, Faisal dan Zara sudah berdiri. Faisal sedang memotret edelweis dengan HP-nya, membelakangi kami, bergumam soal “cahaya emas” dan “komposisi”. Zara berdiri di sebelahnya, menatap kami lurus-lurus, dengan tangan bersedekap dan wajah datar sempurna.
Lalu Zara mengangkat satu tangan.
Jempol.
Aku membenamkan wajahku ke dada Erga dan tertawa sampai perutku sakit.
Kami duduk di pinggir padang selama satu jam, menunggu matahari naik penuh.
Faisal duduk di sebelah Zara di batu besar, makan biskuit, menceritakan ulang kejadian kemarin dengan versi yang semakin dramatis setiap kali. “Gue jatuh ke sungai yang arusnya deras banget.” “Sungainya selutut, Sal.” “Selutut yang deras.”
Dia tidak menyadari apa pun. Dia tidak menyadari bahwa aku duduk di sebelah Erga dengan kepala di bahunya. Dia tidak menyadari tangan kami yang bertaut di antara kami, di atas batu dingin, tersembunyi oleh lipatan jaket hitam. Dia tidak menyadari bahwa Erga, untuk pertama kalinya, menatapku dengan terang-terangan di depan orang lain, dan aku menatapnya balik.
Zara menyadari semuanya. Dia tidak berkata apa-apa. Dia cuma sesekali melirik ke arah kami, lalu ke arah Faisal yang sibuk memotret, dan menggelengkan kepala sangat pelan, seperti guru yang menyerah pada murid paling lambat di kelas.
“Ga,” bisikku, ke bahunya.
“Hm.”
“Hitungan kamu.”
Dia diam.
“Nanti kamu cerita?”
Dia menatap padang edelweis. Lama. Lalu jarinya mengencang di jariku, sedikit.
“Nanti,” katanya.
Aku tidak suka kata nanti. Aku sudah memintanya berhenti bilang nanti. Tapi hari ini, di Tegal Alun, dengan matahari di wajahku dan tangannya di tanganku dan bekas bibirnya masih terasa hangat di keningku, aku membiarkannya.
Hanya hari ini.
Aku menyandarkan kepalaku lebih dalam ke bahunya, memejamkan mata, dan membiarkan matahari menghangatkan punggungku.
Di saku jaket gunungku, di bawah jaket hitamnya, di dalam dompet, di antara KTP dan foto keluarga, ada name tag karton yang sudah sepuluh tahun kusimpan.
Aku belum memberitahunya soal itu.
Nanti.
Aku juga punya nanti-ku sendiri.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi reading
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja