← Biar Aku Aja

Chapter Thirty Five

Kamu Tahu dari Siapa?

POV: Erga


Aku tidak menyalakan mobil.

Kami duduk di parkiran Dapur Isal, di bawah lampu oranye, dengan mesin menyala tapi gigi masih di posisi parkir. AC berdesis pelan. Di balik jendela kedai, aku bisa melihat Faisal dan Zara mencuci piring, bahu menempel, dan Keisha mengelap meja sambil bernyanyi.

Clara di kursi penumpang. Sabuk pengaman terpasang. Tas di pangkuan. Diam.

Aku menunggu.

Aku sudah tahu apa yang akan dia katakan. Aku melihat wajahnya di meja tadi, waktu matanya berhenti di fotokopi itu. Aku melihat warna hilang dari pipinya. Aku melihat tangannya berhenti bergerak di tanganku.

Aku tidak tahu bagaimana dia tahu. Tulisan tangan, mungkin. Tapi Clara tidak pernah melihat tulisan tanganku kecuali di sticky note di kulkas Faisal. Dan sticky note itu ditulis dengan spidol tebal, tidak seperti tulisan di kertas bergaris.

Tapi dia tahu. Itu yang penting. Dia tahu, dan sekarang dia duduk di kursi penumpang mobilku dengan tangan di atas tas dan wajah menatap kaca depan, dan aku menunggu.

“Ga,” katanya akhirnya.

“Hm.”

Dia membuka tasnya. Mengeluarkan fotokopi yang terlipat. Membukanya. Meletakkannya di dasbor, di depanku.

BUAT REKENING BARU ATAS NAMA FAISAL RAHMAN.

Aku menatap kertas itu.

“Kamu,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Itu kamu.” Suaranya tidak naik. Itu yang paling menakutkan. Clara yang berteriak, aku tahu cara menghadapinya. Clara yang berbisik dengan suara datar dan tenang, persis seperti suaraku sendiri, aku tidak tahu. “Seratus delapan puluh juta. Dua tahun lalu. Itu kamu.”

Aku menatap kertas itu.

Aku tidak pernah bohong. Aku tidak akan mulai sekarang.

“Iya,” kataku.


Clara memejamkan mata.

Lama. Lima detik. Sepuluh. Dadanya naik turun, pelan, seperti orang yang sedang menghitung napas supaya tidak menangis.

“Kamu tahu dari mana?” tanyaku.

Dia membuka mata. Menatapku. Untuk pertama kalinya sejak di meja kedai.

“Tulisan kamu,” katanya.

“Kamu nggak pernah lihat tulisan aku.”

“Aku lihat.” Suaranya pecah sedikit. “Aku lihat tiap hari. Sepuluh tahun. Huruf kapital. A yang garis tengahnya rendah. G yang ekornya nekuk ke dalam. R yang kakinya lurus. Aku hafal, Ga. Aku hafal tulisan kamu lebih dari aku hafal tulisan aku sendiri.”

Aku menatapnya. Bingung.

“Sepuluh tahun? Dari mana?”

Dia menatapku. Lalu, sangat pelan, tangannya bergerak ke tas. Berhenti di sana. Di atas sesuatu di dalam tas. Lalu dia menarik tangannya kembali.

“Itu nggak penting sekarang,” katanya.

“Ra—”

“Itu nggak penting.” Dia menegakkan punggung. Menatapku dengan mata yang merah dan basah tapi belum menumpahkan air mata. “Yang penting, aku pacar kamu. Dan aku tahu dari lembar fotokopi di meja kedai Faisal.”

Aku diam.

“Aku tahu dari fotokopi, Ga.” Suaranya naik sedikit. “Bukan dari kamu. Dari kertas yang dihitamin notaris. Di depan Ibu kamu, di depan orang tua Faisal, di depan semua orang. Aku duduk di sebelah kamu, megang tangan kamu, dan aku tahu dari kertas.”

“Ra, itu bukan sesuatu yang...”

“Yang apa? Yang perlu diceritain?”

“Itu buat Faisal.”

“Aku tahu itu buat Faisal!” Sekarang suaranya pecah sepenuhnya. Air mata yang dia tahan akhirnya turun. “Aku nggak marah soal uangnya, Ga! Aku nggak marah kamu kasih semua tabungan kamu buat nyelametin Faisal! Itu... itu hal paling Erga yang pernah aku tahu. Itu hal yang bikin aku jatuh cinta sama kamu dari awal. Kamu yang selalu duluan. Kamu yang selalu nanggung.”

Dia mengusap air mata dengan punggung tangan. Kasar.

“Aku marah karena kamu nggak bilang,” katanya. “Ke aku. Bahkan setelah kita pacaran. Bahkan setelah Tegal Alun. Bahkan setelah kamu bilang ‘mau’. Bahkan setelah aku tanya ‘benar menurut kamu itu kayak gimana’ dan kamu bilang ‘nanti aku cerita’.”

Aku menatap kertas di dasbor.

“Kamu nolak aku dua kali,” lanjutnya, lebih pelan. “Di kapal. Di sofa. ‘Belum, Ra.’ Karena itu, kan? Karena hitungan kamu. Karena rumah. Karena seratus lima puluh enam juta yang kamu hitung di kalkulator.”

Aku menoleh cepat. “Kamu lihat kalkulator?”

“Di lampu merah Semanggi. Habis pameran.”

Aku menatapnya.

“Aku bukan robot, Ga,” katanya. “Aku juga ngumpulin kerang. Sama kayak kamu.”


Lama kami diam.

AC berdesis. Lampu parkiran berkedip sekali, lalu stabil lagi. Di dalam kedai, Keisha berhenti bernyanyi. Aku melihat bayangannya berdiri di depan jendela, menatap mobilku. Lalu Zara menarik lengannya, dan bayangan Keisha menghilang.

“Ra,” kataku akhirnya.

“Apa.”

“Aku nolak kamu bukan karena duit.”

Dia tertawa. Pendek. Tidak ada humor di dalamnya. “Terus karena apa?”

“Karena benar.”

“Benar menurut siapa?”

Aku diam.

“Benar menurut siapa, Ga?”

“Menurut aku.”

Clara menatapku. Lama.

“Menurut kamu,” ulangnya. Pelan. “Selalu menurut kamu.”

“Ra—”

“Kamu tahu nggak apa yang paling bikin sakit?” Dia menatap kaca depan lagi. Air matanya turun pelan, tanpa suara. “Kamu nggak pernah bohong. Sepuluh tahun aku kenal kamu, kamu nggak pernah bohong sekali pun. Itu yang bikin aku percaya sama kamu lebih dari siapa pun.”

Dia menarik napas yang gemetar.

“Tapi kamu juga nggak pernah cerita. Kamu nggak pernah bohong, Ga, tapi kamu juga nggak pernah cerita. Dan ternyata itu lebih jahat.”

Kalimat itu masuk ke dadaku seperti kompresi CPR. Lima sentimeter. Keras. Ada sesuatu yang berderak.

“Aku janji laporan,” katanya. “Kamu inget? Waktu kamu demam. Aku bilang, mulai sekarang ada aturan. Sakit, laporan. Capek, laporan. Kangen, laporan. Dan kamu bilang janji.”

“Itu soal sakit.”

“Ini juga sakit, Ga!” Dia menoleh padaku. Matanya merah. Basah. Marah, sedih, dan sesuatu yang lain yang lebih menakutkan dari keduanya. Kecewa. “Kamu nggak sakit? Kamu kasih semua tabungan rumah kamu, tabungan yang kamu kumpulin dari umur dua puluh tiga, buat orang lain. Terus kamu kerja lembur buat proyek sampingan sampai jam dua pagi. Terus kamu demam tiga puluh sembilan setengah karena kecapekan. Terus kamu nolak cewek yang kamu sayang di kabin kapal karena kamu ngerasa belum punya apa-apa buat dikasih. Itu bukan sakit?”

Aku tidak menjawab.

“Itu sakit, Ga,” bisiknya. “Dan kamu nanggung sendirian. Lagi. Kayak selalu.”


Aku menatap tanganku di setir.

Tangan yang menekan dada Pak Hendra empat menit. Yang memasukkan Faisal ke sleeping bag. Yang menangkap Keisha sebelum jatuh di gazebo. Yang memadamkan api di dapur. Yang mengetik instruksi untuk Bang Rizal dua tahun lalu, jam sembilan pagi, setelah tidak tidur semalaman.

Tangan yang tidak pernah meminta apa pun.

“Faisal nggak mau ada utang,” kataku pelan. “Malam itu, di lantai dapurnya, dia bilang ke aku. Jangan tawarin. Dia nggak mau persahabatan kita ada utangnya. Dia nggak mau tiap Jumat ngeliat aku dan mikir ‘ini yang bayar sewa gue’.”

“Aku tahu.”

“Jadi aku nggak nawarin. Aku kasih.”

“Aku tahu, Ga.”

“Kalau aku cerita ke kamu, kamu bakal cerita ke Zara. Atau Zara bakal tahu dari muka kamu. Terus Zara bakal...”

“Zara udah tahu.”

Aku berhenti.

“Zara lihat fotokopi itu tadi,” kata Clara. “Dia kenal tulisan kamu juga. Dari surat-surat ke Kalimantan. Dia nyimpen surat-surat kamu enam tahun, Ga. Di laci mejanya. Dia kenal tulisan kamu.”

Aku menatap jendela kedai. Bayangan Zara di dalam, berdiri di depan wastafel, tidak bergerak.

“Kamu pikir kamu bisa nyimpen semuanya rapi,” kata Clara pelan. “Di kursi paling ujung. Nggak ada yang lihat. Nggak ada yang tahu. Tapi Ga, kami semua lihat kamu. Sepuluh tahun. Kami lihat kamu selalu duluan, selalu nanggung, selalu bilang ‘biar aku aja’. Kami cuma nggak tahu harus ngapain, karena kamu nggak pernah ngasih kami kesempatan buat bales.”

Dia membuka pintu mobil.

“Ra.”

Dia berhenti. Satu kaki sudah di luar.

“Aku butuh waktu,” katanya, tanpa menoleh. “Beberapa hari. Aku nggak mau ngomong sesuatu yang bakal aku sesalin.”

“Ra, aku antar—”

“Aku pesen taksi.”

“Udah jam sepuluh malam.”

“Aku udah dewasa, Ga.” Dia keluar. Berdiri di samping pintu yang terbuka. Menatapku dari luar mobil. Lampu oranye parkiran membuat wajahnya terlihat seperti di foto lama. “Kamu sendiri yang bilang di dek kapal. Aku galak di kantor. Aku bisa jaga diri.”

Dia menatapku lama.

“Tapi kamu harus mikir,” katanya. “Beberapa hari ini. Kamu harus mikir kenapa kamu bisa nyerahin seratus delapan puluh juta ke Faisal tanpa ragu, tapi nggak bisa nyerahin satu cerita ke aku.”

Dia menutup pintu.

Aku menatapnya berjalan ke ujung parkiran, membuka HP, memesan taksi. Dia berdiri di bawah lampu jalan dengan tangan memeluk tubuh sendiri. Dia tidak memakai jaket hitamku malam ini. Aku baru menyadarinya.

Taksi datang tujuh menit kemudian. Dia masuk. Pergi.

Aku duduk di mobil yang mesinnya masih menyala, dengan fotokopi instruksi untuk Bang Rizal di dasbor, dan tidak bergerak sampai Faisal mengetuk kaca jendela jam sepuluh lewat tiga puluh.


“Ga.”

Aku menurunkan kaca.

Faisal berdiri di samping mobil dengan celemek merah dan wajah bingung. Di belakangnya, di ambang pintu kedai, Zara dan Keisha.

“Clara mana?”

“Pulang.”

“Pakai taksi?”

“Iya.”

“Kenapa nggak lo antar?”

Aku tidak menjawab.

Faisal menatapku. Lalu menatap dasbor. Fotokopi di dasbor. Kertas bergaris dengan tulisan tangan huruf kapital dan inisial E di bawahnya.

Dia tidak mengenali tulisan itu. Faisal tidak pernah memperhatikan tulisan tangan. Tapi dia mengenali kertasnya. Kertas yang tadi dia letakkan di tengah meja.

“Lo bawa fotokopi gue?”

“Clara yang bawa. Ketinggalan di mobil.”

“Oh.” Faisal menatapku lagi. “Lo kenapa, Ga? Lo kayak...” Dia mencari kata. “Lo kayak waktu dorong motor gue sekilo. Capek tapi nggak mau ngaku.”

Di belakangnya, Zara melangkah maju. Dia menarik lengan Faisal.

“Sal. Masuk.”

“Tapi Erga—”

“Masuk. Biarin dia.”

Faisal menatap Zara. Lalu menatapku. Lalu, dengan wajah yang masih bingung, dia mundur dan masuk ke kedai.

Zara tidak ikut masuk. Dia berdiri di samping mobilku. Menatapku lewat jendela yang terbuka.

“Ga.”

“Hm.”

“Gue nggak bakal bilang ke Faisal,” katanya. “Belum.”

Aku menatapnya.

“Tapi Ga,” lanjutnya. Suaranya tidak datar. Pertama kalinya dalam sepuluh tahun, suara Zara tidak datar. Bergetar sedikit. “Surat lo. Yang ke Kalimantan. ‘Hati-hati, Zar. Kami nunggu.’”

“Iya.”

“Gue baca itu tiap kali gue nggak bisa tidur. Enam tahun.” Dia menelan ludah. “Lo nunggu gue. Lo bilang kami nunggu. Lo selalu nunggu buat kami.”

Dia menatapku lama.

“Siapa yang nunggu buat lo, Ga?”

Aku tidak bisa menjawab.

Zara menunggu lima detik. Lalu menepuk atap mobilku dua kali, pelan, dan masuk ke kedai.


Grup “Gugus 7 (Jangan Bubar)” mulai panik jam sebelas malam.

Keisha: kenapa clara pulang pakai taksi 😭

Keisha: erga kok diem di parkiran setengah jam

Keisha: kalian berantem?? 😭😭😭

Putra: Ada apa? Gue baru nyampe hotel nganter ortu Faisal

Faisal: gue nggak tahu. erga diem. clara pulang. zara nyuruh gue diem juga

Putra: Zar?

Zara: Biarin mereka.

Keisha: zar kamu tahu sesuatu?

Zara: k

Keisha: ZAR JANGAN K SEKARANG

Faisal: [foto: nasi goreng kampung]

Faisal: ga ini buat lo. besok gue anter

Faisal: [foto: pisang goreng]

Faisal: ra ini buat lo

Faisal: [foto: sup ayam jahe]

Faisal: ini buat kalian berdua. biar baikan

Putra: Sal, lo kirim foto makanan pas ada orang berantem?

Faisal: makanan nyelesaiin semuanya put

Faisal: [foto: tumpeng]

Putra: KENAPA ADA TUMPENG

Faisal: sisa ultah kedai

Aku menatap layar.

Clara tidak membalas. Aku juga tidak.

Jam sebelas lewat empat puluh, satu pesan pribadi masuk. Bukan dari Clara.

Dari Putra.

Ga. Lo nggak harus cerita ke gue. Tapi kalau lo butuh orang buat jalan di kebun teh sampai pagi, gue bisa. Gue udah kursus renang dua kali, by the way. Gue bisa ngapung sekarang.

Aku menatap pesan itu lama.

Aku tidak membalas. Tapi aku tidak menghapusnya juga.


Aku pulang jam satu pagi.

Ibu masih bangun. Dia duduk di depan mesin jahit di ruang tamu, tapi tidak menjahit. Tangannya di pangkuan. Kain lurik cokelat tua yang setengah jadi tergeletak di atas meja jahit.

Dia menatapku waktu aku masuk.

“Le.”

“Bu.”

“Clara?”

“Pulang sendiri.”

Ibu diam. Dia menatapku dari balik kacamata. Mata yang sama dengan mataku, kata semua orang.

“Dia tahu?” tanya Ibu pelan.

Aku membeku di ambang pintu.

“Ibu tahu?”

Ibu tidak menjawab langsung. Dia mengambil kain lurik dari meja jahit, melipatnya dengan hati-hati.

“Juni dua tahun lalu,” katanya. “Kamu pulang jam dua pagi dari Kemang. Besoknya kamu nelepon notaris dari kamar, pintunya nggak ditutup rapat. Tiga hari kemudian, Faisal nangis di grup katanya ada investor.” Ibu meletakkan kain itu. “Le. Ibu ibumu. Bukan ibunya Faisal.”

Aku duduk di lantai. Di sebelah kursinya. Seperti waktu kecil.

“Ibu nggak bilang apa-apa,” kataku.

“Ibu nunggu kamu cerita.”

“Dua tahun?”

“Ibu nunggu bapakmu cerita soal utang ke koperasi dua puluh tahun. Dia cerita satu minggu sebelum jatuh dari tiang.” Suara Ibu tenang. Tapi tangannya, di pangkuan, meremas ujung daster. “Laki-laki di keluarga ini nggak pernah cerita, Le. Kalian nanggung. Sampai nggak bisa nanggung lagi.”

Aku diam.

“Clara bukan Ibu,” kata Ibu pelan. “Clara nggak bakal nunggu dua puluh tahun.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Aku menatap lantai. Lalu menatap foto Bapak di dinding. Seragam biru tua. Helm kuning. Senyum yang mirip senyumku.

“Bu,” kataku. “Besok pagi aku ke makam Bapak.”

Ibu menatapku.

“Udah lama,” kataku. “Aku nggak ke sana sejak Lebaran.”

Ibu menatapku lama. Lalu mengangguk. Pelan.

“Bawa bunga melati,” katanya. “Bapak suka melati.”

“Iya, Bu.”

Ibu berdiri. Masuk ke kamarnya. Sebelum menutup pintu, dia menoleh.

“Le.”

“Hm.”

“Kalau Clara dateng ke makam, ceritain semuanya. Yang minggu ketiga juga.” Dia menatapku. “Itu cerita kamu. Udah waktunya kamu cerita.”

Pintu tertutup.

Aku duduk di lantai ruang tamu sampai jam tiga pagi, di samping mesin jahit yang diam, menatap foto Bapak. Lalu aku mengambil HP. Membuka chat dengan Clara. Terakhir dia kirim pesan jam tujuh malam, sebelum pesta. Aku udah di jalan. Jangan makan tumpeng sebelum aku dateng.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Lalu aku mengirim satu pesan.

Besok pagi aku ke makam Bapak. Makam Beji, yang dekat masjid. Jam enam. Kamu nggak harus dateng. Tapi kalau kamu dateng, aku cerita. Semuanya.

Centang dua. Abu-abu.

Jam tiga lewat dua puluh, centang dua berubah biru.

Dia tidak membalas.