← Biar Aku Aja

Chapter Twenty Three

Di Bawah Meja

POV: Clara


Grup baru dibuat hari Kamis, jam dua siang, oleh Putra.

Putra membuat grup “Gugus 7 Minus Faisal” Putra menambahkan Keisha, Zara, Clara, Erga

Putra: Oke. Rapat darurat.

Keisha: AKU MASIH NGGAK PERCAYA 😭😭😭 RA KAMU SAMA ERGA 😭😭😭

Aku: Kei, pelan-pelan.

Keisha: NGGAK BISA PELAN-PELAN. SEPULUH TAHUN. SEPULUH TAHUN RA.

Putra: Fokus. Agenda rapat: Faisal.

Zara: Dia masih nggak tahu.

Putra: Dia masih nggak tahu. Kemarin di kedai dia bilang “kalian kayak orang pacaran” terus dia sendiri yang bilang bercanda. Itu level kebutaan yang belum pernah gue lihat di dunia medis.

Erga: Biarin dia tahu sendiri.

Putra: Ga, dia nggak bakal tahu sendiri. Dia butuh bantuan.

Zara: Dia butuh kacamata.

Keisha: dia butuh dikasih tahu langsung aja nggak sih

Erga: Jangan.

Keisha: kenapa??

Erga: Aku mau lihat mukanya waktu dia sadar.

Putra: ...Ga. Lo jahat.

Zara: Gue setuju sama Erga.

Putra: LO JUGA??

Zara: Sepuluh tahun dia makan sisa makanan gue. Ini balas dendam.

Aku tertawa sendirian di meja kerjaku. Bram dari sales lewat di belakangku dan bertanya apa yang lucu. Aku bilang rapat strategi. Dia tidak bertanya lagi.

Putra: Oke. Kalau gitu, misi: bikin Faisal sadar SENDIRI. Kita kasih petunjuk. Makin lama makin jelas. Liat berapa lama dia butuh.

Keisha: OPERASI FAISAL!!!

Putra: Taruhan. Gue bilang dua minggu.

Keisha: satu minggu!

Zara: Sebulan.

Aku: Zar, sebulan??

Zara: Gue kenal Faisal.

Erga: Dia nggak bakal sadar dari petunjuk. Dia bakal sadar dari makanan.

Putra: Maksudnya?

Erga: Tunggu aja.


Jumat malam. Dapur Isal.

Rencana Operasi Faisal tahap pertama: datang bareng.

Erga menjemputku di kantor jam lima setengah. Aku turun dari lobi dan langsung masuk ke kursi penumpang Honda Jazz-nya, yang sekarang, aku sadar, sudah kuanggap sebagai kursiku. Sabuk pengaman yang kuatur ke posisi terendah. Bantal kecil berbentuk kucing yang kutinggalkan di dasbor minggu lalu. Lagu-lagu di radio yang dia ganti ke stasiun favoritku tanpa bilang apa-apa.

“Hai,” kataku.

“Hai.”

Aku mencondongkan badan dan mencium pipinya.

Dia menatap jalan di depan. Tangannya di setir mengencang sedikit. Telinganya merah.

Tiga hari pacaran, dan telinganya masih merah setiap kali aku mencium pipinya. Aku sudah mencium pipinya, kalau dihitung, tujuh belas kali. Telinganya merah tujuh belas kali.

Aku sudah memutuskan untuk tidak berhenti sampai telinganya berhenti merah.


Kami masuk ke Dapur Isal bersama-sama, jam enam kurang lima. Bersebelahan. Bahu hampir bersentuhan.

Faisal melihat kami dari dapur. Dia melambai dengan spatula.

“Oi! Barengan?”

“Barengan,” kataku.

“Mobil Clara masih di bengkel?”

“Udah diambil minggu lalu.”

“Terus kok barengan?”

Aku menatap Faisal. Faisal menatap balik dengan wajah polos sempurna, spatula di tangan, celemek merah bernoda.

“Searah,” kata Erga.

“Oh, oke.” Faisal kembali ke wajannya.

Aku menatap Erga. Erga menatapku. Kantor Erga di Kemang, kantorku di Kuningan, dan Dapur Isal di Kemang. Sama sekali tidak searah.

“Searah?” bisikku.

“Dia percaya.”

“Dia percaya semuanya, Ga.”

“Makanya seru.”


Tahap kedua: aku memakai jaket hitam Erga.

Jaket yang sama yang sudah kupakai tiga bulan. Yang kubawa ke Puncak. Yang kupakai di tenda Papandayan. Faisal sudah melihatnya ratusan kali.

Faisal melihatnya lagi malam ini, waktu dia mengantar es teh ke meja.

“Ra, itu jaketnya Erga, kan?”

“Iya.”

“Masih belum dibalikin?”

“Belum.”

“Ga, lo nggak minta balik?”

“Nggak,” kata Erga.

Faisal menatap Erga. Lalu menatap jaket di bahuku. Lalu kembali ke Erga.

“Lo baik banget sih, Ga,” katanya. “Tiga jaket. Lo udah kehilangan tiga jaket gara-gara Clara.”

“Empat,” kataku.

“Empat??”

“Ada satu lagi di apartemen. Yang abu-abu.”

Faisal menggeleng dengan simpati yang tulus. “Ga. Lo harus pasang pelacak di jaket lo.”

Dia kembali ke dapur.

Putra, yang baru datang dengan Keisha dan menyaksikan percakapan itu, membenturkan dahinya pelan-pelan ke meja kayu.


Tahap ketiga, menurut Putra: kontak fisik terbuka.

Tapi aku tidak butuh instruksi dari Putra untuk itu.

Aku duduk di kursiku, di sebelah kursi paling ujung, dan Erga duduk di kursinya. Seperti biasa. Lalu di bawah meja, di balik taplak kotak-kotak merah putih yang Faisal pasang sejak tahun pertama kedai, kakiku menemukan kakinya.

Aku tidak menyentuh dengan sengaja. Pertama kali.

Lalu sengaja.

Ujung sepatuku menyentuh mata kakinya. Dia tidak bergerak. Aku melirik wajahnya. Datar. Tenang. Sedang mendengarkan Keisha bercerita soal fitting kebaya dengan Ibu.

Aku menggeser kakiku. Pelan. Dari mata kaki ke betis. Melewati kain celana kerjanya. Sangat pelan.

Dia masih tidak bergerak. Wajahnya masih datar. Tapi jarinya, yang memegang gelas es teh di atas meja, berhenti mengetuk-ngetuk.

Aku tersenyum ke piring nasi gorengku.

Lalu HP-ku bergetar.

Erga: Ra.

Aku melirik ke samping. Dia sedang menatap Keisha, mengangguk pada ceritanya, dengan HP di bawah meja di tangan kirinya. Matanya tidak sekali pun menatap layar.

Aku: Hm?

Erga: Kakimu.

Aku: Kenapa kakiku?

Erga: Kamu tahu kenapa.

Aku: Fokus, Ga. Faisal lagi cerita.

Faisal memang sedang bercerita. Dia sudah keluar dari dapur dan duduk di ujung meja, menceritakan pelanggan aneh yang memesan nasi goreng tanpa nasi.

Kakiku naik lagi. Sedikit. Ke belakang lututnya.

Tangan Erga di atas meja menggenggam gelas es teh sedikit lebih erat.

Erga: Kamu yang bikin aku nggak fokus.

Aku menggigit bibir untuk menahan tawa.

Aku: Itu tujuannya.

Erga tidak membalas. Tapi di bawah meja, dia bergerak. Tangan kanannya, yang tidak memegang HP, turun dari meja. Pelan. Mencari. Dan menemukan tanganku di atas pahaku. Jari-jarinya menyelinap di antara jariku, dan menggenggam. Erat.

Dan ibu jarinya mulai mengusap punggung tanganku. Pelan. Bolak-balik. Terus-menerus.

Sekarang aku yang tidak bisa fokus.

Aku menatap piring nasi gorengku. Aku tidak bisa makan. Aku tidak bisa mendengar cerita Faisal. Yang bisa kurasakan hanya ibu jarinya, bolak-balik di punggung tanganku, dan betisnya yang masih menempel di kakiku, dan wajahnya yang masih datar sempurna, menatap Faisal, mengangguk di tempat yang tepat.

Curang. Dia curang.

“...terus gue bilang, Pak, nasi goreng tanpa nasi itu namanya tumis bumbu,” lanjut Faisal. “Terus dia bilang, ‘ya udah, tumis bumbu aja.’ Terus gue bikinin. Terus dia bayar dua kali lipat.”

Semua orang tertawa. Aku tertawa terlambat setengah detik.

Faisal menatapku. Lalu menatap Erga. Lalu menatap HP kami berdua, yang sama-sama tergeletak di pangkuan kami, layar menyala.

“Kalian kenapa senyum ke HP barengan?” tanyanya.

Hening.

Keisha menutup mulut dengan dua tangan. Putra menatap langit-langit. Zara menyendok sambal dengan konsentrasi penuh.

“Meme,” kata Erga.

“Meme apa?”

“Meme router.”

“Lo berdua ketawa ke meme router?”

“Router lucu,” kataku.

Faisal menatap kami dengan alis berkerut. Lima detik. Sepuluh. Aku bisa melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Sesuatu yang hampir menyambung.

Lalu dia mengangguk.

“Iya sih. Router emang lucu. Router gue kemarin ngedip-ngedip kayak lagi kode Morse.”

Dia kembali bercerita.

Putra mengirim pesan ke grup Gugus 7 Minus Faisal: DIA HAMPIR. DIA HAMPIR TADI.

Keisha: aku liat mukanya!! 3 detik lagi dia pasti nyambung!!

Zara: Nggak bakal. Gue bilang sebulan.


Jam sembilan, aku ke toilet. Zara mengikutiku.

Toilet perempuan di Dapur Isal cuma satu bilik, dengan wastafel kecil dan cermin bulat yang retak di pojoknya. Zara berdiri di depan wastafel, mencuci tangan yang sudah bersih, menatap bayangannya di cermin.

“Zar.”

“Hm.”

“Kamu ngikutin aku.”

“Gue mau cuci tangan.”

“Tanganmu bersih.”

“Gue mau cuci lagi.”

Aku menatapnya lewat cermin. Zara Amelia Siregar, yang tidak pernah mengikuti siapa pun ke toilet. Yang tidak pernah cuci tangan dua kali. Sedang berdiri di depan wastafel, menggosok tangannya yang bersih dengan sabun, dengan wajah yang sedikit lebih merah dari biasanya.

“Zar.”

“Apa.”

“Kamu mau ngomong sesuatu.”

Dia mematikan keran. Mengeringkan tangan dengan tisu. Pelan. Sangat pelan. Lalu dia bersandar ke wastafel dan menatap pintu toilet, bukan aku.

“Lo sama Erga,” katanya. “Gimana rasanya?”

Aku menatapnya.

“Maksudnya?”

“Ya gimana. Setelah sepuluh tahun. Akhirnya bilang. Akhirnya dia bilang mau.” Zara memainkan tisu di tangannya. “Gimana rasanya?”

Aku berpikir. Lama. Mencari kata yang tepat. Kata yang belum pernah kucari untuk apa pun.

“Kayak napas,” kataku akhirnya. “Kayak sepuluh tahun aku nahan napas, dan sekarang aku boleh napas.”

Zara tidak menjawab. Dia meremas tisu di tangannya sampai menjadi bola kecil.

“Zar.”

“Hm.”

“Kamu juga lagi nahan napas, kan?”

Dia membeku.

Lalu dia membuang bola tisu ke tempat sampah dengan terlalu keras. Tisunya memantul dari pinggir tempat sampah dan jatuh ke lantai. Zara menatapnya. Lalu memungutnya dan memasukkannya ke tempat sampah dengan tangan, pelan.

“Gue nggak tahu apa yang lo omongin,” katanya.

“Sleeping bag, Zar.”

“Itu darurat medis.”

“Kamu nggak keluar dari sleeping bag itu sampai pagi. Erga bilang dia udah stabil jam sebelas malam.”

“Gue jaga-jaga.”

“Kamu meluk dia sampai subuh.”

“Jaga-jaga yang panjang.”

Aku tertawa. Zara tidak tertawa. Tapi dia juga tidak marah. Dia cuma menatap pintu toilet dengan ekspresi orang yang sedang menatap tembok yang terlalu tinggi untuk dipanjat.

“Dia nggak tahu,” kata Zara pelan. “Lo liat tadi. Dia nggak tahu soal lo sama Erga, padahal lo pegangan tangan di depan dia. Gimana dia mau tahu soal gue.”

“Kamu belum pernah pegangan tangan di depan dia.”

“Itu bukan poinnya.”

“Itu persis poinnya, Zar.”

Zara menoleh padaku.

Aku melangkah mendekat. Menatap sahabatku. Pelatihku yang galak, yang menulis naskah untuk balkon dan kelas masak dan CFD dan Papandayan. Yang mengajariku cara mengejar padahal dia sendiri tidak pernah berlari.

“Pelatih galak,” kataku, “butuh pelatih juga.”

“Gue nggak butuh.”

“Kamu butuh.”

“Ra—”

“Pelajaran pertama,” kataku, mengangkat satu jari, persis seperti yang dia lakukan padaku. “Berhenti bales chat dia pakai ‘k’.”

Zara menatapku. Lama. Matanya menyipit.

Lalu, sangat pelan, ujung bibirnya naik.

“Gue bales ‘makasih’ minggu lalu,” katanya.

“Satu kali.”

“Satu kali itu kemajuan.”

“Satu kali dalam sepuluh tahun, Zar.”

Dia mendengus. Tapi tidak membantah.


Kami kembali ke meja. Faisal sedang menyajikan pisang goreng dengan madu dan keju, menu penutup baru yang dia beri nama “Pisang Patah Hati” karena, katanya, “manis tapi bikin nangis kalau udah abis.”

Erga masih di kursi paling ujung. Dia menatapku waktu aku duduk kembali di kursi di sebelahnya.

“Lama,” bisiknya.

“Zara.”

“Kenapa Zara?”

“Pelatihan.”

Dia mengangkat alis. Aku menggeleng. Nanti.

Lalu di bawah meja, tangannya menemukan tanganku lagi. Langsung. Tanpa mencari. Seperti tangannya sudah tahu persis di mana tanganku akan berada.

Ibu jarinya mulai mengusap punggung tanganku lagi.

Aku menatap pisang patah hati di tengah meja, dan tersenyum.

Di seberang meja, Faisal menyodorkan sepotong pisang goreng ke piring Zara. Tanpa diminta. Seperti biasa.

Zara menatap pisang itu.

Lalu dia mengambil HP-nya. Mengetik sesuatu. Aku melihat layarnya dari samping. Dia membuka chat dengan Faisal. Mengetik k.

Menghapusnya.

Mengetik lagi. Pelan. Satu kata.

Lalu menekan kirim.

Di ujung meja, HP Faisal bergetar. Dia membacanya. Matanya membesar sedikit.

Aku tidak tahu apa yang Zara tulis. Tapi aku melihat telinga Faisal berubah merah. Merah persis seperti telinga Erga setiap kali aku mencium pipinya.

Dan Faisal, yang sepuluh tahun tidak pernah menyadari apa pun, menatap Zara di seberang meja selama lima detik penuh.

Zara menatap pisang gorengnya.

Lalu memakannya. Pelan-pelan. Dengan wajah yang sangat datar dan telinga yang sangat merah.

Di bawah meja, ibu jari Erga berhenti mengusap tanganku sebentar. Dia juga melihatnya.

Kami tidak berkata apa-apa.

Tapi aku merasakan dia menggenggam tanganku sedikit lebih erat.