← Biar Aku Aja

Chapter Thirty

Anak yang Tadi

POV: Clara


Papa membuka mata jam sembilan pagi.

Aku tahu karena suster ICU keluar ke ruang tunggu dan memanggil “Keluarga Bapak Hendra Halim”, dan Mama berdiri begitu cepat sampai tasnya jatuh. Tante Mira berdiri. Aku berdiri.

Erga tidak berdiri. Erga tertidur.

Dia tertidur di kursi plastik di sudut ruang tunggu, dengan kepala bersandar ke dinding, kemeja putih yang semalam basah keringat sudah kering dan kusut, lengan yang masih tergulung sampai siku. Tangannya terkulai di pangkuan. Di punggung tangan kanannya ada memar kecil berwarna ungu, dari menekan dada Papa seratus dua puluh kali per menit.

Dia tidak pulang. Faisal menawarkan mengantar, Zara menawarkan, Putra menyuruh. Dia tidak pulang. Dia duduk di kursi plastik itu dari jam dua pagi, dan tertidur jam enam, setelah Putra bilang untuk kedua kalinya bahwa Papa stabil.

Aku menatapnya. Lalu mengikuti Mama ke ruang ICU.


Papa terlihat kecil di ranjang rumah sakit.

Itu yang pertama kupikirkan. Papa, yang selalu terlihat besar. Di kepala meja makan, di ruang kerja dengan kacamata baca, di lapangan golf. Sekarang terbaring di ranjang dengan selimut putih sampai dada, selang oksigen di hidung, infus di lengan, dan kabel-kabel monitor yang menempel di dadanya. Wajahnya pucat. Rambut putihnya berantakan di atas bantal.

Tapi matanya terbuka. Dan matanya bergerak, mencari, dan menemukan Mama.

“Lena,” bisiknya. Suaranya serak dan lemah.

Mama menangis. Dia memegang tangan Papa yang tidak diinfus dan menangis tanpa suara, menunduk sampai dahinya menyentuh punggung tangan Papa.

Papa menatap Mama. Lalu menatap Tante Mira. Lalu menatapku.

“Ra.”

“Papa.” Aku berlutut di sisi ranjang yang lain. “Papa jangan ngomong dulu.”

“Papa udah ngomong.” Dia menelan ludah. Bibirnya kering. “Dada Papa sakit.”

“Rusuk Papa retak,” kataku. “Dua. Dari CPR.”

Papa menatapku. “CPR.”

“Iya.”

“Siapa?”

Aku diam sebentar. Lalu: “Erga, Pa.”

Papa menatap langit-langit. Lama. Monitor jantung berbunyi pelan dan teratur di sebelahnya. Bip. Bip. Bip.

“Papa ingat,” katanya pelan. “Papa ingat nyanyi lagu ulang tahun. Papa ingat buka album. Foto Mama ketawa.” Dia berhenti. “Terus dada Papa kayak diinjek gajah. Terus gelap.”

Mama terisak lebih keras.

“Terus,” kata Papa, “Papa nggak ingat apa-apa. Tapi Papa ngerasa ada yang neken. Keras. Berkali-kali. Di sini.” Dia mengangkat tangan yang tidak diinfus, sangat pelan, dan menyentuh dadanya sendiri. “Kayak ada yang ngetok pintu. Terus-terusan. Nggak berhenti. Kayak bilang, ‘Om, jangan pergi dulu.’”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Papa menurunkan tangannya. Menatapku.

“Anak yang tadi mana?”


Aku membangunkan Erga dengan menyentuh bahunya.

Dia terbangun langsung. Tidak mengerjap, tidak bingung, langsung tegak dan waspada, seperti seseorang yang tidur dengan satu telinga terbuka. Matanya merah karena kurang tidur. Ada garis bekas sandaran kursi di pipinya.

“Papa kamu?”

“Sadar.”

Dia menghela napas. Panjang. Seluruh tubuhnya melonggar, seperti tali yang tegang sejak semalam akhirnya dikendurkan.

“Syukurlah.”

“Ga,” kataku. “Papa mau ketemu kamu.”

Dia menatapku.

“Sekarang,” tambahku.

Dia berdiri. Menatap kemejanya yang kusut. Mencoba merapikannya dengan tangan. Gagal. Merapikan rambutnya dengan jari. Setengah gagal.

Aku merapikan kerahnya. Seperti di mobil sebelum kondangan Gilang. Jariku di bawah dagunya.

“Biar nggak dikira sopir,” bisikku.

Dia menatapku. Ujung bibirnya naik sedikit, lelah.

“Sopir nggak dirapiin kerahnya.”


Erga berdiri di sisi ranjang Papa dengan tangan di samping tubuh, seperti tentara yang dipanggil komandan.

Papa menatapnya dari ranjang. Lama. Dari ujung rambut yang berantakan sampai ujung sepatu kulit yang sudah lecet karena berlutut di lantai marmer.

“Erga.”

“Iya, Om.”

“Kamu kerja apa?”

Erga mengerjap. Aku juga. Mama menatap Papa dengan mata membelalak.

“Pa—”

“Saya lagi nanya, Lena.”

“Pa, kamu baru—”

“Saya baru mati empat menit,” kata Papa, dengan suara yang lemah tapi sangat jelas. “Saya boleh nanya apa aja.”

Tante Mira, di sudut ruangan, menutup mulutnya dengan tangan. Aku tidak tahu apakah dia menahan tangis atau menahan tawa.

Erga menatap Papa. Lalu menjawab, tenang, datar, seperti membaca laporan.

“IT support lead, Om. Di kantor asuransi. Kemang.”

“Sudah berapa lama?”

“Empat tahun di sana. Enam tahun total kerja.”

“Gajimu?”

“Pa!” Mama dan aku bersamaan.

Erga tidak terlihat tersinggung. Dia menyebutkan angka. Angka yang jujur dan tidak besar. Angka yang mungkin sama dengan harga satu stik golf titanium yang Dion berikan semalam.

Papa mengangguk pelan. “Tinggal di mana?”

“Kontrakan, Om. Depok. Sama ibu saya.”

“Bapakmu?”

“Sudah meninggal, Om. Sepuluh tahun lalu.”

Papa diam sebentar. Monitor berbunyi. Bip. Bip. Bip.

“Kamu yang jaga ibumu?”

“Iya, Om.”

“Sejak umur delapan belas?”

Erga diam. Lalu: “Iya, Om.”

Papa menatapnya lama. Lalu menatap langit-langit lagi.

“Laki-laki yang jaga ibunya sejak delapan belas,” katanya pelan, “biasanya tahu caranya jaga orang.”

Ruangan sunyi.

“Tapi,” lanjut Papa, menoleh lagi pada Erga, “saya belum bilang setuju.”

“Iya, Om.”

“Saya nggak bilang nggak juga.”

Erga menatapnya. “Iya, Om.”

“Kamu cuma jawab ‘iya, Om’ dari tadi.”

“Karena Om benar semua, Om.”

Papa menatapnya. Lalu, sangat pelan, ujung bibirnya bergerak. Bukan senyum. Belum senyum. Tapi sesuatu yang mirip.

“Lena, Mira, Clara,” kata Papa. “Keluar dulu.”

“Pa?”

“Papa mau ngomong sama dia. Berdua.”

Aku menatap Erga. Erga menatapku, dan mengangguk sedikit. Nggak apa-apa.

Kami keluar.


Lima belas menit.

Lima belas menit aku berdiri di lorong di depan pintu ICU, dengan Mama dan Tante Mira, menatap pintu kaca buram yang tidak memperlihatkan apa pun. Aku mencoba membaca bibir lewat celah tirai. Gagal. Aku bukan Keisha.

Jam sembilan lewat empat puluh, pintu terbuka. Erga keluar.

Wajahnya tidak bisa kubaca. Tenang, seperti biasa. Tapi matanya sedikit merah. Lebih merah dari waktu dia baru bangun tidur.

“Papa ngomong apa?” tanyaku.

Dia menatapku. Lalu menatap Mama dan Tante Mira yang menunggu di belakangku.

“Rahasia,” katanya.

“Ga.”

“Papa kamu yang minta.”

“Bohong atau rahasia?”

“Rahasia. Buat orang lain.”

Aku menatapnya lama. Dia menatapku balik. Lalu aku melihat sesuatu di matanya, yang merah itu. Sesuatu yang sama dengan yang kulihat di padang edelweis, waktu dia bilang mau.

Aku tidak bertanya lagi.


Ibu datang jam sebelas.

Dia datang dengan ojek online dari Depok, membawa tiga rantang. Bubur ayam, sup bening, dan semur daging, untuk “keluarga Pak Hendra yang semalaman nggak makan”. Dia berdiri di ambang ruang tunggu ICU dengan daster batik dan kerudung cokelat, rantang di tangan, menatap ruangan yang penuh orang asing.

Lalu dia melihat Erga, dan wajahnya melembut.

“Le.”

“Bu. Kok ke sini?”

“Keisha kirim WA jam satu pagi. Ibu nggak bisa tidur.” Dia menatap Erga dari ujung kepala sampai kaki. Kemeja kusut. Mata merah. Memar di punggung tangan. “Kamu nggak pulang.”

“Nggak, Bu.”

“Kamu belum makan.”

“Belum, Bu.”

Ibu menghela napas. Lalu menyerahkan satu rantang padanya, dan berbalik menatap Mama, yang berdiri dari sofa dengan wajah bengkak dan bingung.

Dua perempuan itu saling menatap. Bu Lena Halim dengan kebaya biru muda yang kusut sejak semalam. Bu Ratna Pramana dengan daster batik dan rantang di tangan.

“Bu Lena,” kata Ibu. “Saya Ratna. Ibunya Erga.”

Mama menatap Ibu. Lalu menatap Erga. Lalu kembali menatap Ibu.

Lalu Mama berjalan ke arah Ibu, dengan langkah yang tidak stabil, dan memeluknya.

Ibu terkejut. Rantangnya hampir jatuh. Mama memeluknya erat, menangis di bahunya.

“Anak Ibu,” isak Mama. “Anak Ibu nyelametin suami saya.”

Ibu diam. Lalu, perlahan, dia meletakkan rantang di lantai dan memeluk Mama balik. Menepuk punggungnya. Pelan. Teratur. Seperti mesin jahit.

“Dia kayak bapaknya,” bisik Ibu. “Selalu duluan.”

Aku menatap dua perempuan itu berpelukan di tengah ruang tunggu ICU. Lalu aku menatap Erga.

Dia berdiri dengan rantang di tangan, menatap ibunya dan ibuku, dan wajahnya, wajah tenang yang sudah kukenal sepuluh tahun, gemetar sedikit di sudut bibir.

Aku menggenggam tangannya.


Siang hari, Tante Mira menghilang.

Dia pamit “sebentar” jam dua belas, dengan wajah yang sudah dibersihkan dari riasan semalam dan kebaya fuchsia yang diganti dengan blus sederhana yang dikirim sopirnya. Dia tidak bilang ke mana.

Dia kembali jam dua siang.

Dengan sekotak martabak.

Martabak manis. Cokelat keju. Dari warung dua puluh empat jam di depan stasiun Depok.

Aku tahu, karena kotaknya sama. Kotak karton putih dengan logo merah yang sudah kukenal sejak kuliah, logo yang Erga bawa ke bahu tol jam tiga pagi.

Tante Mira berjalan ke kursi tempat Erga duduk. Berdiri di depannya. Menatapnya.

Erga berdiri.

Tante Mira menyerahkan kotak martabak itu dengan dua tangan.

“Ini,” katanya.

Erga menatap kotak itu. Lalu menatap Tante Mira.

“Tante tanya Clara tadi pagi,” kata Tante Mira. Suaranya kaku, seperti seseorang yang tidak terbiasa mengucapkan kata-kata tertentu. “Kamu suka apa. Clara bilang martabak. Dari stasiun Depok. Tante suruh sopir ke sana. Dua jam. Macet.”

“Tante—”

“Tante salah.”

Erga diam.

Tante Mira menatap kotak martabak di tangan Erga, bukan wajahnya. “Tante salah soal daftar tamu. Tante salah soal ‘sopir’. Tante salah soal...” Dia berhenti. Menelan ludah. “Soal ‘temennya aja’.”

Ruang tunggu sunyi. Mama menatap adiknya dengan mata terbuka lebar. Ibu menatap Tante Mira dengan kepala sedikit dimiringkan.

“Tante belum suka sama kamu,” lanjut Tante Mira cepat, mengangkat dagunya sedikit. “Tante belum. Tante masih mikir kamu nggak cukup buat Clara. Kamu masih tinggal di kontrakan. Mobilmu masih Jazz tua.”

“Iya, Tante.”

“Tapi semalam Tante lihat kamu nekan dada kakak ipar Tante empat menit, sementara Dion telepon sopir.” Suaranya bergetar. Sangat sedikit. “Jadi Tante salah. Itu aja.”

Dia berbalik dan duduk di sofa di sebelah Mama, dengan punggung tegak dan wajah menatap dinding.

Erga menatap kotak martabak di tangannya. Lalu menatap Tante Mira yang membelakanginya.

“Makasih, Tante,” katanya pelan.

Tante Mira tidak menoleh. Tapi aku melihat bahunya turun sedikit.


Jam empat sore, aku menarik Erga ke lorong.

Lorong di luar ruang tunggu ICU itu panjang, sepi, dengan dinding putih dan lantai mengilap dan bau antiseptik yang tajam. Di ujungnya ada pintu darurat dengan tanda hijau menyala.

Aku menarik kerah kemejanya. Memaksanya berhenti. Mendorongnya pelan ke dinding.

“Ra—”

Aku bersandar ke dadanya. Wajahku di dekat lehernya. Kemejanya masih berbau keringat semalam, dan antiseptik rumah sakit, dan di bawah semua itu, samar, bau sabun cucinya.

“Kamu tahu nggak,” bisikku ke lehernya, “kamu seksi banget waktu nyelametin ayahku.”

Dia membeku.

“Ra,” katanya pelan. Suaranya tercekat. “Ayahmu di balik pintu.”

“Makanya aku bisik.”

Aku merasakan napasnya tertahan. Aku merasakan jantungnya berdebar di bawah telapak tanganku yang menempel di dadanya. Cepat. Sangat cepat.

Lalu dia menunduk. Mencium pelipisku. Pelan. Lama.

“Nanti,” bisiknya di rambutku. “Waktu ayahmu udah bisa marahin aku.”

Aku mengangkat wajah. Menatapnya. Matanya merah karena kurang tidur, tapi menatapku dengan cara yang membuat lututku lemas.

“Itu bisa berminggu-minggu,” kataku.

“Iya.”

“Aku nggak mau nunggu berminggu-minggu.”

“Ra—”

Aku menarik kerahnya lagi. Kali ini ke arah pintu darurat di ujung lorong. Dia mengikuti. Tidak membantah. Aku mendorong pintu itu terbuka. Tangga darurat, beton abu-abu, lampu neon redup, sunyi, kosong.

Pintu menutup di belakang kami.

Aku mendorongnya ke dinding tangga. Dia membiarkanku.

“Lima menit,” kataku, menatapnya dari jarak satu jengkal. “Habis itu kamu boleh jadi pahlawan lagi.”

Dia menatapku. Lalu sesuatu runtuh di wajahnya.

Dia menarikku. Satu tangan di pinggangku, satu tangan di tengkukku, dan menciumku. Keras. Dalam. Bukan seperti di parkiran apartemen, yang lama dan pelan dan penuh sepuluh tahun penantian. Ciuman ini lain. Ciuman orang yang semalam berlutut di lantai marmer menekan dada seseorang yang hampir pergi, dan sekarang memegang sesuatu yang hidup, hangat, bernapas di pelukannya.

Aku mencengkeram kemejanya. Dia mendorongku balik, pelan, sampai punggungku menempel di dinding beton yang dingin. Tangannya di pinggangku naik ke punggungku, di atas blusku, menarikku lebih dekat. Napasnya berat dan tidak teratur di bibirku.

Aku tidak tahu berapa lama. Lima menit. Mungkin kurang. Mungkin lebih.

Ketika kami akhirnya berhenti, dahinya bersandar di dahiku. Kami berdua terengah. Kemejanya kusut di tempat tanganku mencengkeram. Rambutku berantakan di tempat jarinya menyelinap.

“Udah lima menit?” bisiknya.

“Belum,” kataku.

“Ra.”

“Empat menit lima puluh detik.”

Dia tertawa. Pelan, serak, di bibirku. Lalu menciumku lagi. Singkat. Satu detik.

“Sekarang lima menit,” katanya.

Lalu dia menarik diri. Merapikan blusku dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Merapikan kerahnya sendiri.

“Ayo,” katanya. “Ayahmu nanti nyari.”

Kami keluar dari tangga darurat. Berjalan di lorong yang sepi. Bersebelahan. Tangan bertaut.

Di ujung lorong, di depan pintu ruang tunggu ICU, berdiri Tante Mira. Dengan gelas kopi dari kantin di tangan. Menatap kami.

Menatap rambutku yang berantakan. Kerah Erga yang tidak rapi meskipun sudah dirapikan. Wajah kami yang merah.

Kami berhenti di tengah lorong.

Tante Mira menatap kami lama. Lalu dia menyesap kopinya. Pelan.

“Tante nggak lihat apa-apa,” katanya.

Lalu dia masuk ke ruang tunggu.

Aku menatap Erga. Erga menatapku.

Lalu aku menutup wajahku dengan tangannya, karena tanganku sendiri tidak cukup besar untuk menutupi seluruh rasa maluku, dan dia membiarkanku, dan kami berdiri di tengah lorong rumah sakit yang berbau antiseptik, tertawa tanpa suara sampai perut kami sakit.