← Biar Aku Aja

Chapter Five

Padel Hari Minggu

POV: Clara


Aku ke rumah Erga jam enam pagi hari Minggu karena aku punya rencana.

Rencananya sederhana. Erga bangun jam lima, setiap hari, termasuk hari libur. Ibu bangun jam empat. Kalau aku datang jam enam, membawa serabi kesukaan Ibu dari pasar Beji, aku akan disambut Ibu, diajak masuk, diberi teh, dan duduk di ruang tamu kecil dengan mesin jahit di sudutnya. Lalu Erga akan keluar dari kamar dengan kaus tidur dan rambut berantakan, melihatku, dan aku akan menjadi orang pertama yang dia lihat di hari Minggu.

Cuma itu. Cuma itu yang aku mau.

Rencana itu gagal karena motor Faisal.

Ibu menerimaku dengan senyum dan menerima serabinya dengan senyum yang lebih lebar. Lalu dia bilang, “Erga udah pergi dari subuh, Nak. Faisal telepon. Motornya mogok.”

Tentu saja. Tentu saja Faisal. Tentu saja Erga.

Ibu memberiku teh dan menyuruhku duduk. Kami mengobrol dua puluh menit tentang kebaya pesanan tetangga dan tentang Keisha yang mengirim stiker kucing ke Ibu setiap pagi. Lalu sebelum aku pamit, Ibu memegang tanganku dan berkata:

“Dia nggak bakal nanya kenapa kamu dateng pagi-pagi, Nak.”

Aku membeku. “Bu?”

“Erga. Dia nggak bakal nanya.” Ibu menepuk punggung tanganku. “Bukan karena dia nggak penasaran. Dia penasaran. Tapi dia kayak almarhum bapaknya. Kalau dia takut sama jawabannya, dia nggak nanya.”

Aku pulang dengan pertanyaan itu di kepala, dan mampir ke Pasar Minggu dengan tiga porsi bubur ayam, dan mengelap keringat di leher Erga di depan bengkel motor dengan tisu yang tanganku tidak mau berhenti memegangnya.

Ibu benar. Dia tidak bertanya.

Tapi lehernya merah waktu aku selesai. Dan dia tidak bergerak sama sekali, seperti takut kalau bergerak sedikit saja, aku akan berhenti.

Aku menyimpan itu juga. Satu kerang lagi dari pantai.


Lapangan padel di BSD jam dua siang, panasnya seperti oven yang lupa dimatikan.

Kami punya jadwal tetap sejak enam bulan lalu, sejak Putra bilang dokter disarankan berolahraga dan Keisha bilang padel sedang viral dan Zara bilang dia bisa mengalahkan kami semua dengan tangan kiri. Dia memang bisa. Itu masalahnya.

Erga datang jam dua kurang lima. Tentu saja.

Dia memakai kaus putih polos, celana pendek hitam, dan sepatu olahraga yang sudah lusuh tapi bersih. Rambutnya masih sedikit basah, habis mandi setelah drama Pasar Minggu. Dia membawa tas olahraga di satu bahu dan kotak P3K di tangan yang lain.

“Kenapa bawa itu?” tanya Keisha, menunjuk kotak P3K.

“Kamu main padel,” jawab Erga.

“Maksudnya apa?”

“Minggu lalu kamu kena raket sendiri.”

Keisha membuka mulut. Menutupnya. Lalu mengangguk pasrah. Minggu lalu dia memang memukul dahinya sendiri dengan raket waktu mencoba melakukan smash. Erga yang menempelkan plester di dahinya. Plesternya bergambar dinosaurus.

Pembagian tim selalu ditentukan undian. Kertas kecil di dalam topi Putra, ditarik satu per satu.

Ronde pertama: aku dan Erga melawan Putra dan Keisha.

Aku tidak mengatur undiannya. Sumpah. Tapi aku tersenyum seperti seseorang yang mengatur undiannya, dan Zara, yang duduk di bangku menunggu giliran dengan Faisal, menyipitkan matanya ke arahku satu milimeter.


Erga bermain padel seperti dia melakukan semua hal lain: tenang, efisien, dan tanpa membuang tenaga untuk hal yang tidak perlu.

Dia tidak berlari kencang. Dia tidak berteriak. Dia tidak melakukan smash spektakuler seperti Putra, yang setiap smash-nya diikuti teriakan “YES” dan pandangan ke tribun, tempat dua perempuan dari lapangan sebelah sudah menonton dari tadi.

Erga hanya selalu berada di tempat yang benar. Bola datang, dia sudah di sana. Bola memantul ke dinding kaca, dia sudah memperkirakan sudutnya. Dia membaca permainan seperti membaca kode, dan mengembalikan bola dengan pukulan rendah, terarah, menyebalkan, yang membuat Putra harus berlari ke empat sudut lapangan.

Aku seharusnya fokus.

Aku tidak fokus.

Karena kaus putih Erga mulai basah di punggung. Karena lengannya. Lengan yang digulung kemarin malam di kondangan, sekarang telanjang dan mengilat oleh keringat, dengan urat yang menonjol setiap kali dia menggenggam raket. Karena cara dia menyeka keringat di dahi dengan punggung pergelangan tangan. Karena cara dia melirikku sekilas sebelum setiap servis, untuk memastikan aku siap.

“Ra!”

Bola melewati kepalaku. Putra berteriak “YES”. Keisha melompat kegirangan dan hampir tersandung kakinya sendiri.

“Maaf,” kataku.

Erga mendekat. “Kamu kenapa?”

“Panas.”

“Mau minum dulu?”

“Nggak.”

Dia menatapku sebentar. Lalu menatap wajahku yang, aku yakin, merah. Lalu mengambil botol minumnya dari pinggir lapangan dan menyodorkannya padaku.

“Minum.”

“Aku bilang nggak.”

“Ra.”

Aku minum dari botolnya. Botol yang barusan dia minum juga. Aku sadar itu tepat di tegukan kedua, dan tegukan ketiga terasa jauh lebih panas daripada siang BSD.

“Udah,” kataku, mengembalikannya.

Dia meminumnya juga. Langsung. Tanpa mengelap mulut botolnya.

Aku harus menunduk dan pura-pura membetulkan tali sepatu.

Kami kalah ronde pertama, enam-empat. Itu pertama kalinya Putra mengalahkan Erga dalam tiga bulan. Putra merayakannya dengan berlutut di tengah lapangan seperti pemain tenis yang memenangkan Wimbledon. Dua perempuan di tribun bertepuk tangan.

“Gue menang,” katanya, berdiri dengan tangan terangkat. “Gue akhirnya menang.”

“Clara nggak fokus,” kata Zara datar dari bangku. “Kemenangan lo nggak sah.”

“Sah!”

“Lo menang lawan satu setengah orang.”

Putra menunjukku. “Kenapa lo nggak fokus?”

Semua orang menatapku. Erga juga.

“Panas,” kataku.

“Panas,” ulang Zara. Dia menyipitkan matanya lagi, dua milimeter kali ini. Aku pura-pura tidak melihat.


Ronde ketiga: Erga dan Zara melawan Putra dan Faisal. Aku dan Keisha duduk di bangku.

“Kamu tadi ngapain sih?” bisik Keisha, menyikutku. “Bengong ngeliatin Erga.”

“Nggak bengong.”

“Bengong. Mulutmu kebuka gini.” Keisha menirukan mulut ikan koi.

“Kei.”

“Aku nggak bilang apa-apa.” Dia tersenyum lebar, pipinya yang bulat terangkat. “Aku cuma ngeliat. Aku guru SD. Aku tahu kalau ada anak yang naksir anak lain.”

“Aku bukan anak SD.”

“Ya, kamu anak SD yang tinggi.”

Aku tidak sempat membalas, karena di lapangan, Zara terjatuh.


Kejadiannya cepat sekali. Putra memukul bola rendah ke sudut kiri. Zara menerjang untuk mengembalikannya, terlalu jauh, terlalu cepat, dan kakinya mendarat miring di permukaan rumput sintetis.

Bunyinya pelan. Seperti ranting patah.

Zara jatuh tanpa suara. Itu yang paling menakutkan. Zara tidak pernah berteriak, bahkan waktu kesakitan. Dia hanya duduk di lapangan, memegang pergelangan kaki kanannya, dan wajahnya pucat.

Erga sudah di sana sebelum aku berdiri.

Aku tidak melihatnya berlari. Satu detik dia di sisi kanan lapangan, detik berikutnya dia sudah berlutut di samping Zara, satu tangan di bahu Zara, satu tangan di pergelangan kakinya.

“Jangan digerakin,” katanya. Suaranya tenang. Datar. Persis seperti suaranya waktu menyelamatkan laptop Keisha. “Zar. Lihat aku.”

Zara melihatnya.

“Sakitnya di mana? Tunjuk pakai satu jari.”

Zara menunjuk bagian luar pergelangan kakinya.

“Bisa gerakin jari kaki?”

Jari-jari kaki Zara bergerak. Pelan, tapi bergerak.

“Oke.” Erga menekan beberapa titik di sekitar pergelangan kaki Zara dengan ibu jari. Zara meringis di satu titik. Erga mengangguk seperti mencatat sesuatu. “Kayaknya terkilir. Ligamen. Mungkin nggak patah, tapi harus dirontgen.”

“Gue dokternya,” kata Putra, terengah, berlutut di sebelah mereka.

“Iya. Cek,” kata Erga, bergeser memberi ruang.

Putra mengecek. Lalu menatap Erga. “Terkilir. Ligamen. Harus dirontgen.”

“Oke.”

“Lo tadi ngomong persis yang gue mau ngomong.”

“Aku ikut pelatihan P3K kantor.”

“Lo ikut pelatihan P3K kantor dan lo lebih cepet dari dokter IGD.”

“Aku lebih deket.”

Erga sudah membuka kotak P3K yang tadi ditertawakan Keisha. Kantong es instan dia pukul sampai dingin, lalu dia bungkus dengan handuk kecil dan tempelkan di pergelangan kaki Zara. Perban elastis dia lilitkan dengan rapi, dengan pola angka delapan yang tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar. Tangannya cepat dan pasti.

Zara menatapnya selama dia bekerja. Tidak meringis lagi.

“Ga,” kata Zara pelan.

“Hm.”

“Lo bawa kotak itu gara-gara Keisha, kan.”

“Iya.”

“Ternyata buat gue.”

“Buat siapa aja.”

Zara diam. Lalu, untuk pertama kalinya sejak dia jatuh, ujung bibirnya terangkat sedikit.


Klinik terdekat dua kilometer. Erga menggendong Zara dari lapangan sampai ke mobilnya.

Menggendong. Bukan memapah. Satu lengan di punggung Zara, satu lengan di bawah lututnya, dan Zara, yang sepanjang sepuluh tahun tidak pernah membiarkan siapa pun membantunya membawa apa pun, melingkarkan tangan di leher Erga dan menyandarkan kepala di bahunya.

Aku berjalan di belakang mereka membawa tas Zara dan raket Erga.

Aku tidak cemburu.

Aku tidak cemburu.

Zara sahabatku. Zara sedang kesakitan. Erga sedang menolong. Ini situasi darurat. Ini sama sekali bukan situasi yang boleh dicemburui oleh orang dewasa berumur dua puluh delapan tahun dengan gaji dua digit dan jabatan manajer.

Tapi kepala Zara di bahu Erga. Tangan Zara di leher Erga. Lengan Erga di bawah lutut Zara.

Aku menggigit bibir bagian dalam sampai terasa sakit.

Di dekat mobil, Zara mengangkat kepalanya sedikit, menoleh ke belakang, dan menatapku dari balik bahu Erga.

“Mukamu, Ra,” katanya.

“Kenapa mukaku?”

“Itu.”

“Itu apa?”

Zara tidak menjawab. Dia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Erga, dan aku bersumpah demi Tuhan, dia melakukannya dengan sengaja. Dia bahkan memejamkan mata dan tersenyum tipis.

Faisal, yang berjalan di sebelahku membawa botol-botol minum, berbisik: “Ra. Napas.”

“Aku napas.”

“Lo udah nahan napas dari lapangan.”

Aku menghembuskan napas. Panjang. Faisal mengangguk seperti bangga padaku.


Klinik di BSD itu kecil dan dinginnya keterlaluan. AC-nya menyala di suhu yang sepertinya disetel oleh beruang kutub.

Dokter jaga mengonfirmasi diagnosis Erga dan Putra. Terkilir derajat dua, tidak patah, istirahat dua minggu, kontrol lagi hari Kamis. Zara menerima semua itu dengan ekspresi orang yang sedang dibacakan prakiraan cuaca.

“Dua minggu nggak ke proyek,” kata Zara. “Gue bakal mati bosen.”

“Lo bakal hidup,” kata Putra. “Gue dokter.”

“Lo dokter yang barusan kalah cepat sama orang IT.”

“Itu nggak ada hubungannya.”

Selagi mereka berdebat, aku melihat Erga duduk sendirian di kursi tunggu, menatap telapak tangan kirinya. Ada goresan di sana. Merah, memanjang dari pangkal jari telunjuk sampai pergelangan tangan. Darahnya sudah mulai mengering.

“Ga.”

Dia mendongak.

“Itu kenapa?”

“Kena pintu mobil. Tadi waktu buka pintu sambil gendong Zara.”

“Udah dibersihin?”

“Nanti.”

“Nanti kamu lupa.” Aku mengambil kotak P3K dari pangkuan Faisal, yang sedang tidur di kursi tunggu dengan mulut terbuka. Aku duduk di sebelah Erga. “Sini.”

“Ra, nggak apa-apa.”

“Sini, Ga.”

Dia menyerahkan tangannya.

Aku memegangnya dengan dua tanganku. Telapak tangannya lebar, hangat, kapalan di pangkal jari. Tangan orang yang terbiasa mengangkat, mendorong, memperbaiki. Aku membuka botol antiseptik dan meneteskannya ke kapas.

“Agak perih.”

“Nggak apa-apa.”

Aku menyapukan kapas di sepanjang goresan itu. Erga tidak bergeming. Tapi jarinya sedikit menekuk, refleks, dan ujung jarinya menyentuh pergelangan tanganku.

Aku berhenti.

Dia juga berhenti.

Untuk dua detik yang sangat panjang, kami berdua diam, dengan jarinya di pergelangan tanganku dan tanganku memegang tangannya, di ruang tunggu klinik yang dinginnya seperti kutub utara.

Lalu dia menarik jarinya. Pelan. Sopan. Seperti mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya.

Aku melanjutkan. Kain kasa. Plester. Aku menempelkan plester itu dengan hati-hati, menekan ujungnya dengan ibu jari supaya menempel rapi. Plester bergambar dinosaurus. Satu-satunya jenis plester di kotak P3K Erga, karena dia membelinya untuk Keisha.

“Udah,” kataku.

Dia menatap plester dinosaurus di telapak tangannya. “Makasih.”

“Sama-sama.”

Aku tidak melepas tangannya. Dia tidak menariknya.

Lalu AC klinik mendesis lebih keras, dan aku menggigil. Kaus olahragaku tipis dan masih basah keringat.

Erga melihatku menggigil. Tanpa bicara, dia membuka tas olahraganya, mengeluarkan jaket hitam, dan menyampirkannya di bahuku.

Jaket itu. Jaket hitam yang sama yang dia bawa ke mana-mana, yang selalu berakhir di bahu orang lain. Bahan kanvas tipis, ritsleting yang sudah agak macet, dan wanginya. Wangi sabun cuci, sedikit kayu, dan sesuatu yang hanya Erga.

Aku menarik jaket itu lebih erat. Menghirupnya pelan, tanpa dia sadari. Atau mungkin dia sadar.

“Jaket kamu wangi kamu,” kataku. “Nggak aku balikin.”

“Itu jaket ketiga tahun ini.”

“Nanti aku balikin semua.” Aku menatapnya. “Sekalian sama orangnya.”

Erga menoleh.

Dia menatapku. Dua detik lebih lama dari biasanya. Aku tahu, karena aku menghitung. Aku selalu menghitung berapa lama Erga menatapku. Biasanya satu detik. Satu setengah kalau aku sedang bicara. Dua kalau aku sedang tertawa.

Ini empat.

Di detik keempat, ada sesuatu di matanya. Bukan kaget. Bukan bingung. Sesuatu yang lebih dalam, yang dia simpan dengan sangat rapi di balik wajahnya yang tenang, dan untuk sekejap, simpanan itu hampir terbuka.

Lalu dia mengalihkan pandangan ke dinding.

“Pakai,” katanya. “AC-nya dingin.”

Hanya itu.

Tapi dia tidak menarik tangannya dari genggamanku. Plester dinosaurus di telapak tangannya menempel di telapak tanganku. Dan kami duduk seperti itu sampai Zara keluar dari ruang dokter dengan kruk pinjaman dan Putra yang masih mengomel.

Zara melihat kami. Melihat jaket di bahuku. Melihat tangan kami.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia cuma tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah kulihat di wajahnya sejak hari ketiga Ospek, waktu Faisal memberinya roti cokelat.


Malamnya, di apartemen, aku tidur memakai jaket hitam itu.

Sebelum tidur, HP-ku bergetar. Pesan pribadi dari Zara.

Gue nggak ngapa-ngapain tadi.

Kamu nyender di bahu dia. Pake merem.

Gue kesakitan.

Kamu SENYUM.

Kesakitan sambil senyum. Itu bisa.

Aku melempar HP ke kasur. HP-ku bergetar lagi.

Ra.

Apa.

Kalau lo nggak ngomong ke dia, gue yang ngomong.

Aku duduk tegak.

JANGAN.

Kenapa?

Jangan pokoknya. Zar. Please.

Tiga titik. Muncul, hilang, muncul lagi.

Oke. Tapi lo punya waktu.

Sampai kapan?

Sampai gue bosen nunggu.

Aku menatap pesan itu. Lalu menatap jaket hitam yang membungkus tubuhku. Lalu menatap dompet di meja samping tempat tidur, di mana sebuah name tag karton tua terselip di antara KTP dan foto keluarga.

Sepuluh tahun aku menunggu.

Zara bukan orang yang sabar.