Chapter Eight
Yang Nggak Pernah Minta
POV: Zara
Jam 11.47, HP-ku bergetar.
Foto. Sepiring nasi putih, ayam bakar dengan sambal matah di atasnya, lalapan timun dan kemangi, dan sepotong tempe yang digoreng sampai pinggirnya keriting. Diambil dari atas, dengan pencahayaan dari jendela dapur Dapur Isal. Faisal selalu mengambil foto dari sudut yang sama. Dia bilang itu “sudut emas”. Aku bilang itu sudut orang yang tidak tahu fungsi tombol kamera lain.
Tidak ada caption. Cuma foto.
Aku membalas: k
Jam 11.49, foto kedua. Es teh manis dalam gelas besar, embunnya mengalir.
k
Jam 11.52, foto ketiga. Sambal matah dari dekat. Sangat dekat. Sampai aku bisa melihat potongan serai dan bawang merahnya.
Aku menatap foto itu lebih lama dari yang perlu.
k
Jam 11.53, pesan teks. Pertama hari ini.
Lo udah makan?
Aku melihat ke dapur apartemenku. Ada mi instan yang sudah dingin di panci, dimasak jam sepuluh dan dilupakan karena aku sibuk menandai kesalahan di gambar kerja yang dikirim tim proyek lewat email. Kakiku, yang dibalut perban dan diganjal dua bantal di atas meja, berdenyut pelan.
Udah.
Apa?
Makanan.
Mi instan ya.
Aku tidak membalas.
Gue anterin ayam bakar. 30 menit.
Nggak usah.
Udah gue bungkus.
Sal. Nggak usah.
Udah di motor.
Aku menatap layar. Lalu menatap mi instan dingin di panci. Lalu menatap kakiku, yang tidak bisa dipakai untuk menolak siapa pun di pintu.
Sambalnya dipisah, tulisku.
Udah tahu.
Dua minggu tidak boleh ke proyek. Itu kata dokter klinik di BSD, dikonfirmasi oleh Putra, dan dikonfirmasi lagi oleh Erga, yang mengirimiku jadwal kompres es dan latihan pergelangan kaki dalam bentuk tabel Excel dengan warna-warna berbeda untuk setiap hari.
Aku sudah melewati sembilan hari. Sembilan hari menatap dinding apartemen. Sembilan hari menonton dokumenter jembatan di YouTube. Sembilan hari membalas k ke foto-foto makanan.
Aku tidak pernah pandai diam. Aku besar di rumah dengan bapak yang keras dan tiga abang yang lebih keras. Di rumah kami, yang diam akan dilupakan, dan yang lemah akan diinjak. Jadi aku belajar untuk tidak pernah terlihat lemah. Aku belajar untuk tidak pernah minta tolong. Aku memotong rambut pendek waktu SMA supaya abang-abangku berhenti menarik kunciranku. Aku masuk teknik sipil karena bapakku bilang itu “jurusan laki-laki”.
Lalu aku masuk Ospek dan bertemu lima orang aneh, dan untuk pertama kalinya, aku bertemu orang-orang yang tidak peduli apakah aku terlihat lemah atau tidak.
Faisal, yang menawarkan permen jahe padahal aku sudah menolak.
Keisha, yang menangis untuk segala hal dan tidak pernah malu.
Putra, yang maju duluan untuk dihukum padahal dia bisa saja diam.
Clara, yang cantiknya keterlaluan tapi menyimpan sesuatu yang sedih di matanya, sesuatu yang baru kumengerti di hari kedua Ospek.
Dan Erga.
Aku punya daftar. Daftar ini tidak pernah kutulis di mana pun, tapi aku menyimpannya di kepala. Daftar hal-hal yang pernah Erga lakukan untuk kami.
Hari pertama Ospek: sepatunya untuk Keisha. Push-up dua puluh kali.
Hari kedua: name tag-nya untuk Clara. Lari sepuluh keliling.
Tahun pertama: menunggui Faisal di UGD jam tiga pagi waktu Faisal keracunan makanan dari warteg yang dia sendiri bilang “kayaknya nggak higienis tapi murah”. Erga membawa termos teh dan bantal dari kos.
Tahun kedua: membuat spanduk dan daftar menu untuk gerobak nasi goreng Faisal. Dengan tangan. Karena printer kos rusak.
Tahun ketiga: satu semester mengajari Keisha statistik, setiap malam, di teras kos yang nyamuknya sebesar kecoak.
Tahun keempat: surat ke Kalimantan, setiap minggu, tiga bulan tanpa absen. Berisi jadwal pasang surut sungai dan, di surat terakhir, satu kalimat di bagian paling bawah: Hati-hati, Zar. Kami nunggu.
Aku masih menyimpan surat itu. Di laci meja kerjaku. Tidak ada yang tahu.
Tahun kelima, keenam, ketujuh, setelah lulus: memperbaiki laptop, printer, router, mobil, motor, galon air, rak buku, keran bocor, dan satu kali, jam satu pagi, kunci apartemenku yang patah di lubang pintu. Dia datang dalam dua puluh menit dengan tang dan kawat tipis, membuka pintu dalam lima menit, dan tidak bertanya kenapa aku pulang jam satu pagi dengan mata sembab.
Dia tidak pernah bertanya.
Itu yang paling kuingat.
Sepuluh tahun, Erga tidak pernah bertanya apa pun yang tidak ingin kami jawab. Dan sepuluh tahun, Erga tidak pernah meminta apa pun.
Tidak pernah. Sekali pun.
Aku pernah mencoba menghitung. Aku duduk di apartemen suatu malam, tahun lalu, dan mencoba mengingat satu saja momen di mana Erga meminta tolong pada salah satu dari kami. Meminjam uang. Minta dijemput. Minta ditemani. Minta didengarkan.
Aku tidak menemukan satu pun.
Lalu aku menyadari sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Aku tidak tahu ulang tahun bapaknya. Aku tidak tahu apa yang membuat Erga takut. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dari hidupnya.
Sepuluh tahun, dan aku tidak tahu apa yang Erga inginkan.
Kecuali satu hal. Satu hal yang aku tahu dengan pasti, karena aku melihatnya.
Faisal datang jam 12.31 dengan kantong plastik berisi ayam bakar, nasi, lalapan, sambal matah dalam wadah terpisah, dan seikat kangkung.
“Itu kangkung apa?” tanyaku, dari sofa, ketika dia meletakkannya di meja dapur.
“Kangkung yang lo janjiin.”
“Gue pesen online. Belum dateng.”
“Gue tahu. Makanya gue bawa yang ini.” Dia meletakkan kangkung itu di depanku, di samping kakiku yang diangkat. “Elus.”
“Apa?”
“Lo bilang lo bakal elus dulu sebelum lo kasih ke gue. Biar ada rasa kekeluargaan.” Wajahnya serius. Benar-benar serius. “Elus.”
Aku menatap Faisal. Faisal menatapku. Kangkung itu terbaring di antara kami, hijau dan segar, dengan akar yang masih sedikit berlumpur.
Aku mengulurkan tangan dan mengelus kangkung itu. Satu kali. Dari pangkal ke ujung daun.
“Puas?”
“Sekali lagi.”
“Sal.”
“Sekali lagi. Yang tadi kurang tulus.”
Aku mengelusnya sekali lagi. Lebih pelan. Dan Faisal tersenyum dengan cara yang membuat sesuatu di perutku bergerak tidak nyaman.
Dia mengambil kangkung itu, membawanya ke dapur apartemenku yang tidak pernah kupakai kecuali untuk mi instan, dan mulai memasak tumis kangkung di wajan satu-satunya yang kupunya.
“Gue nggak punya bawang putih,” kataku.
“Gue bawa.”
“Gue nggak punya terasi.”
“Gue bawa.”
“Gue nggak punya—”
“Zar.” Dia menoleh dari kompor, spatula di tangan. “Gue bawa semuanya. Lo duduk aja. Kaki lo ke atas.”
Aku duduk. Kakiku ke atas.
Lima belas menit kemudian, aku makan ayam bakar dan tumis kangkung di sofa, sementara Faisal mencuci wajanku dan mengomel karena wajan itu “dianiaya”. Aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma makan. Dan ayam bakar itu, entah kenapa, terasa lebih enak daripada yang di foto.
Malam Jumat, Dapur Isal buka lagi setelah dua hari tutup untuk membersihkan bubuk APAR.
Aku datang dengan kruk, diantar Faisal yang bersikeras menjemputku dengan motor bebek yang baru diperbaiki Erga. “Gue boncengin pelan-pelan.” Dia benar-benar pelan. Kami disalip ibu-ibu bersepeda.
Kedai sudah ramai. Rak bumbu baru yang terbuat dari besi, bukan kayu, sudah terpasang di dapur. Handuk dapur digantung jauh dari kompor. Di dinding dekat konter, tertempel sticky note kuning baru dengan tulisan tangan Erga: SAL. JANGAN TINGGALIN WAJAN BERMINYAK DI ATAS API. —E
Di bawahnya, ada tambahan dengan tulisan Faisal yang berantakan: iya iya. —F
Erga sudah di kursi paling ujung. Tentu saja.
Putra datang dengan wajah aneh. Bukan wajah sedih seperti biasa. Wajah orang yang menyimpan sesuatu yang besar di saku dan sedang berusaha keras untuk tidak menyentuh sakunya. Tangannya terus menepuk saku kemejanya, sebelah kiri, setiap lima menit.
Keisha datang dengan kue sampel untuk ulang tahunnya di Puncak, dan memaksa kami semua mencicipi tiga varian rasa.
Clara datang terakhir. Seperti biasa. Kedai hening sepersekian detik. Seperti biasa. Dia duduk di kursi di sebelah Erga. Seperti biasa.
Dan aku memperhatikan.
Aku selalu memperhatikan. Itu kebiasaanku, sejak di rumah dengan tiga abang. Kalau kamu diam, kamu bisa melihat banyak hal yang tidak dilihat orang yang sibuk bicara.
Aku melihat Clara menatap Erga. Itu tidak sulit dilihat. Clara menatap Erga seperti orang menatap pantai setelah berbulan-bulan di kota. Seluruh wajahnya melembut. Bahunya turun. Senyumnya berbeda. Senyum yang dia tidak pernah berikan kepada siapa pun selain Erga, bahkan tidak kepada kami.
Sepuluh tahun aku melihat itu. Sejak hari kedua Ospek, waktu dia berdiri di barisan dengan name tag bertuliskan ERGA dan jantungnya berdetak begitu keras sampai aku, yang berdiri di belakangnya, bisa melihat kerah kemejanya bergetar.
Tapi yang lebih sulit dilihat adalah Erga.
Erga tidak menatap Clara. Tidak pernah, kalau Clara sedang menatapnya. Dia menatap piring, gelas, HP, atau Faisal yang sedang bercerita. Tatapannya ke Clara selalu satu detik, sopan, ramah, persis seperti tatapannya ke kami semua.
Tapi kalau Clara tidak sedang menatapnya.
Kalau Clara menoleh ke Keisha, atau tertawa pada lelucon Putra, atau menunduk membaca pesan di HP-nya, maka Erga menatapnya.
Dan tatapan itu bukan satu detik.
Malam ini aku menghitung. Clara menoleh ke Keisha untuk mencicipi kue rasa pandan. Erga menatapnya. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Enam detik. Wajahnya tidak berubah. Tetap tenang. Tetap datar. Tapi matanya menatap Clara seperti orang yang menatap sesuatu yang sangat berharga di balik etalase kaca, sesuatu yang tidak akan pernah dia sentuh, dan dia sudah berdamai dengan itu.
Lalu Clara menoleh kembali, dan Erga sudah menatap gelasnya.
Aku sudah melihat ini ratusan kali. Mungkin ribuan.
Malam ini ada yang berbeda.
Malam ini, setelah Clara menoleh kembali, Erga tidak menatap gelasnya. Dia menatap Putra. Putra yang sedang menepuk saku kemeja kirinya untuk kesekian kali. Dan di mata Erga ada sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Sesuatu yang seperti orang yang sedang mengucapkan selamat tinggal.
Jam sepuluh, HP-ku bergetar. Pesan pribadi dari Putra.
Zar. Lo bisa jaga rahasia?
Aku menatap Putra di seberang meja. Dia sedang menatap HP-nya dengan wajah tegang, pura-pura tidak sedang mengirim pesan padaku.
Bisa.
Gue bikin grup. Isinya gue, Erga, lo, sama Faisal. Ini buat persiapan sesuatu di Puncak. Lo jangan bilang Clara sama Keisha. Dan jangan tanya ini buat siapa. Pokoknya rahasia.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Persiapan sesuatu di Puncak. Jangan bilang Clara. Jangan tanya untuk siapa. Putra yang menepuk saku kemeja kirinya setiap lima menit. Erga yang menatap Putra seperti mengucapkan selamat tinggal.
Satu Jakarta mengira Clara dan Putra.
Dan Erga, yang pintar soal laptop dan mesin dan apa saja, yang kadang bego juga, jelas juga mengira begitu.
Erga yang nyiapin? tulisku.
Iya. Dia yang paling jago. Kenapa?
Aku tidak membalas.
Aku menatap Erga. Dia sedang mengambilkan sambal untuk Keisha yang kepedasan karena kue rasa cabai, eksperimen gagal yang tetap dia paksa kami cicipi. Clara tertawa di sebelahnya, memegangi lengan Erga, dan Erga membiarkannya. Seperti biasa.
Aku menunggu sampai semua orang sibuk. Keisha memamerkan desain kuenya, Faisal dan Putra berdebat soal menu barbeque, Clara ke toilet. Lalu aku mengambil kruk dan berdiri, berjalan tertatih ke kursi paling ujung, dan duduk di kursi Clara yang kosong.
Erga menoleh.
“Zar. Kaki kamu.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu harus angkat kakinya.”
“Ga.” Aku menatapnya. “Lo oke?”
Dia diam sebentar. Satu detik. “Oke.”
“Lo bohong.”
“Aku nggak pernah bohong.”
“Lo nggak pernah bohong ke orang lain,” kataku. “Ke diri sendiri, lo jago banget.”
Erga menatapku. Lama. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku melihat wajahnya hampir retak, seperti dinding yang terlalu lama menahan air, dan airnya mulai merembes dari celah yang tidak kelihatan.
Lalu dia tersenyum. Kecil. Tenang. Tidak sampai ke mata.
“Angkat kakimu, Zar,” katanya. “Nanti bengkak.”
Dia mengambil satu kursi kosong, meletakkannya di depanku, dan dengan hati-hati mengangkat kakiku yang diperban ke atasnya. Lalu dia mengambil jaket cadangan dari tasnya, melipatnya, dan menyelipkannya di bawah pergelangan kakiku sebagai bantal.
Dia tidak menjawab pertanyaanku.
Dia tidak akan pernah menjawab pertanyaan itu.
Clara kembali dari toilet dan melihatku di kursinya. Dia mengangkat alis. Aku mengangkat tangan dan bangkit dengan kruk, mengembalikan kursinya. Clara duduk dan langsung menyandarkan kepala ke bahu Erga untuk mengeluh soal kue rasa cabai. Erga mendengarkan, mengangguk, menuangkan air untuknya.
Aku kembali ke kursiku dan menatap HP.
Grup baru sudah dibuat. Putra menamainya Operasi Puncak (RAHASIA!!!). Anggotanya empat orang. Pesan pertama dari Putra: Selamat datang di tim. Jangan ada yang bocor. Terutama lo, Sal.
Faisal membalas: kenapa gue terus
Erga membalas: Aku mulai bikin rundown besok.
Aku menatap layar. Lalu menatap Clara yang tertawa di bahu Erga, tidak tahu apa-apa. Lalu menatap Erga yang menuangkan air untuknya, tahu terlalu banyak tentang hal yang salah.
Aku bisa menghentikan ini. Aku bisa mengirim satu pesan ke Putra dan bertanya langsung: lo mau ngelamar Clara? Aku bisa mengirim satu pesan ke Clara: Erga lagi nyiapin lamaran buat lo sama Putra, dan dia hancur.
Tapi aku sudah janji ke Putra untuk tidak bertanya. Dan aku sudah janji ke Clara untuk tidak bicara ke Erga.
Dan aku, yang sepanjang hidup belajar untuk tidak pernah terlihat lemah, untuk pertama kalinya tidak tahu harus melakukan apa.
HP-ku bergetar. Bukan grup. Pesan pribadi dari Faisal, yang duduk dua kursi dariku.
lo kenapa diem
Gue selalu diem.
diem yang ini beda
Aku menoleh. Faisal sedang menatapku dari balik piring nasi gorengnya, dengan kepala sedikit dimiringkan dan alis berkerut khawatir.
Nggak apa-apa, tulisku.
lo bohong
Aku menatap pesan itu. Kalimat yang sama yang baru saja kuucapkan ke Erga.
Ke diri sendiri, gue jago banget, tulisku.
Faisal membaca pesan itu. Lalu dia tidak membalas. Sebagai gantinya, dia mengambil pisang goreng terakhir dari piring di tengah meja, yang diincar Keisha sejak tadi, dan meletakkannya di piringku tanpa berkata apa-apa.
Keisha berteriak tidak terima.
Aku menatap pisang goreng itu.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak Ospek, aku membalas pesan Faisal dengan sesuatu selain k.
Makasih.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta reading
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja