Chapter Twenty Seven
Kebaya untuk Entah Kapan
POV: Erga
Sabtu pagi, demamku sudah hilang empat hari, dan Clara datang ke rumah dengan tiga kotak kue.
Tiga. Kue lapis legit dari toko di Menteng yang antreannya satu jam. Bolu pandan dari pasar Beji. Dan klepon dari pedagang di gang depan, yang Ibu suka sejak dulu dan yang entah bagaimana Clara tahu.
Dia berdiri di depan pagar dengan tiga kotak bertumpuk di pelukan, rambut dikuncir rendah, blus putih longgar dan celana kulot krem. Dia tersenyum melihatku membuka pagar.
“Pagi.”
“Pagi. Kamu bawa apa?”
“Kue.”
“Tiga kotak?”
“Buat Ibu.”
“Ibu cuma satu orang, Ra.”
“Satu buat Ibu, satu buat kamu, satu buat tetangga yang kemarin ngeliatin aku dari jendela waktu aku nginep.” Dia menyerahkan tumpukan kotak itu ke tanganku. “Biar mereka nggak gosip.”
“Mereka udah gosip.”
“Biar gosipnya bagus.”
Hari ini Ibu mengukur Clara untuk kebaya.
Kebaya hijau sage itu sudah selesai dua minggu lalu, tapi Ibu bilang ada yang perlu “disesuaikan”. Ibu belum pernah mengukur Clara secara langsung. Ukuran yang Clara kirim lewat WhatsApp malam itu, dengan masker wajah yang retak, menurut Ibu “nggak akurat, pasti diukur sendiri sambil miring”.
Jadi Ibu berdiri di tengah ruang tamu dengan meteran jahit kuning di tangan, dan Clara berdiri di depannya dengan tangan terangkat.
Dan aku duduk di kursi di sudut ruangan, berusaha keras untuk menatap apa pun selain mereka berdua.
“Lingkar dada,” kata Ibu, melingkarkan meteran di tubuh Clara.
Aku menatap jendela.
“Delapan puluh dua. Nak, kamu ngukur delapan puluh. Kurang dua senti.”
“Aku ngukurnya sambil napas keluar, Bu.”
“Kebaya itu dipakai sambil napas, Nak. Bukan sambil nahan napas.” Ibu mencatat di buku tulis batiknya. “Lingkar pinggang.”
Aku menatap langit-langit.
“Enam puluh empat.”
“Bu, aku nulis enam puluh dua.”
“Kamu nulis yang kamu mau, bukan yang ada.” Ibu tertawa kecil. “Semua perempuan gitu. Ibu juga dulu gitu.”
Clara tertawa. Aku menatap lantai.
“Le,” kata Ibu tanpa menoleh. “Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kamu dari tadi ngeliatin semua arah kecuali sini.”
“Aku lagi lihat... cat dinding.”
“Cat dinding udah sepuluh tahun warnanya sama.”
“Pengin ganti cat.”
Clara, dengan tangan masih terangkat, menoleh padaku. Matanya menyipit. Lalu ujung bibirnya naik sangat pelan, dan aku tahu dia tahu persis kenapa aku menatap cat dinding.
“Ga,” katanya. “Kamu malu?”
“Nggak.”
“Telinga kamu merah.”
“Panas.”
“Kamu baru sembuh demam. Nggak boleh panas lagi.”
“Ra.”
Ibu menatapku. Lalu menatap Clara. Lalu menghela napas dengan dramatis, seperti aktris di sinetron yang ditonton tetangga sebelah setiap malam.
“Ya ampun, Le,” kata Ibu. “Dua puluh delapan tahun, ngeliat Ibu ngukur kebaya aja malu.”
“Bu.”
“Bapakmu juga gitu. Dulu waktu Ibu diukur kebaya buat nikahan, Bapakmu disuruh nunggu di luar, terus dia ngintip dari jendela, terus jatuh ke selokan.”
Clara tertawa sampai harus menurunkan tangannya.
“Bu! Tangannya jangan diturunin!”
“Maaf, Bu!”
Setelah lingkar dada, lingkar pinggang, lingkar pinggul, panjang lengan, dan lebar bahu, Ibu menyuruh Clara mencoba kebaya hijau sage itu.
Clara masuk ke kamar Ibu untuk berganti. Ibu ikut masuk untuk membantu dengan peniti.
Aku duduk sendirian di ruang tamu dengan tiga kotak kue dan suara mesin jahit yang diam.
Lima menit kemudian, pintu kamar Ibu terbuka.
Clara keluar memakai kebaya hijau sage.
Kebaya itu sederhana. Bahan brokat tipis dengan motif bunga-bunga kecil, kerah sanghai, lengan panjang yang pas di pergelangan. Kain jarik cokelat tua melilit di pinggangnya sampai mata kaki. Rambutnya masih dikuncir rendah, beberapa helai jatuh di sisi wajah.
Dia berdiri di ambang pintu kamar Ibu, sedikit malu, tangan meremas ujung kebaya.
“Gimana?” tanyanya. Ke Ibu, tapi matanya ke aku.
Aku tidak menjawab.
Aku tidak bisa menjawab.
Di kepalaku, di kursi paling ujung, rak tempat aku menyimpan semua hal yang tidak perlu dibicarakan tiba-tiba kosong. Semua isinya sudah jatuh di tenda Papandayan, di padang edelweis, di parkiran apartemen dengan kaca berembun. Yang tersisa cuma satu gambar: perempuan yang sudah sepuluh tahun kupandangi diam-diam, berdiri di ruang tamu kontrakan Ibu, memakai kebaya yang Ibu jahit “buat nanti”.
“Le,” kata Ibu.
Aku masih tidak bisa menjawab.
“Le. Clara nanya.”
“Bagus,” kataku. Suaraku keluar aneh. Terlalu rendah. “Bagus, Ra.”
“Cuma bagus?”
“Bagus banget.”
Clara tersenyum, lalu berputar sekali. Kain jarik bergoyang di kakinya.
Ibu menatapku. Lalu menatap Clara. Lalu menatapku lagi, dengan senyum yang sangat Ibu. Senyum seseorang yang sudah menunggu hari ini sejak lama.
“Le,” katanya pelan. “Ambil meteran. Ibu mau ukur kamu juga.”
“Aku?”
“Beskap. Ibu bilang Ibu mau jahitin kamu beskap. Kain lurik dari Solo.”
“Bu, udah diukur bulan lalu.”
“Bulan lalu kamu belum sakit. Kamu kurusan dua kilo.” Ibu melambai padaku dengan meteran kuning. “Sini. Berdiri. Di sebelah Clara.”
“Kenapa di sebelah Clara?”
“Biar Ibu bisa lihat warnanya cocok atau nggak.”
Aku berdiri di sebelah Clara. Dia, dalam kebaya hijau sage. Aku, dalam kaus abu-abu dan celana training.
Ibu menatap kami berdua dengan kepala dimiringkan dan mata menyipit, seperti seniman menatap lukisan yang hampir selesai.
“Cocok,” katanya akhirnya.
“Bu, aku pakai kaus.”
“Ibu lagi bayangin beskapnya.” Ibu tersenyum. Matanya berkaca-kaca. “Cocok, Le. Cocok banget.”
Clara, di sebelahku, menggenggam tanganku. Diam-diam. Di antara lipatan kain jarik.
Aku menggenggam balik.
Siang hari, Ibu bercerita tentang Bapak.
Kami duduk di ruang tamu dengan kue lapis legit dan teh manis. Clara sudah berganti ke bajunya sendiri, tapi kebaya hijau sage itu tergantung di belakang pintu kamar Ibu, dan aku bisa melihatnya dari tempatku duduk.
“Bapaknya Erga itu teknisi PLN,” kata Ibu ke Clara. “Naik tiang listrik. Dua puluh tahun. Tangannya selalu item, kena oli, kena karet kabel. Tapi dia bisa benerin apa aja. Radio, kipas angin, kulkas, motor. Tetangga satu gang kalau ada yang rusak, panggil Pak Pramana.”
“Kayak Erga,” kata Clara.
“Persis kayak Erga.” Ibu menatapku. “Erga belajar dari Bapak. Dari umur lima tahun udah ikut Bapak benerin radio tetangga. Duduk di sebelahnya, megangin obeng.”
Clara menatapku. Aku menatap teh manisku.
“Bapak orangnya kayak Erga juga,” lanjut Ibu. “Diem. Nggak banyak ngomong. Tapi kalau ada apa-apa, dia yang dateng duluan. Banjir di gang sebelah, dia yang angkat-angkat barang. Ada yang sakit tengah malam, dia yang anter ke puskesmas pakai motor.”
“Bapak meninggal waktu Erga kuliah ya, Bu?” tanya Clara pelan.
Ibu diam sebentar.
“Iya, Nak. Erga baru masuk kuliah. Baru beberapa minggu di Bandung.” Ibu menatap foto Bapak di dinding, yang Clara lihat di kamarku. Foto lain, lebih kecil, juga tergantung di ruang tamu. “Jatuh dari tiang. Ada korsleting waktu dia lagi kerja. Dibawa ke rumah sakit, tapi...”
Ibu berhenti.
Clara menggenggam tangan Ibu.
“Yang dateng waktu itu...” Ibu mulai lagi, dan aku tahu ke mana kalimat itu akan pergi.
“Bu,” kataku.
Ibu menoleh padaku.
Aku menggeleng. Pelan. Sangat sedikit.
Ibu menatapku lama. Lalu dia menghela napas dan menepuk tangan Clara.
“Nanti Erga yang cerita,” katanya. “Itu ceritanya Erga. Bukan cerita Ibu.”
Clara menatapku. Matanya bertanya. Aku menatap teh manis.
Nanti, kataku di dalam kepala. Nanti.
Jam dua siang, Ibu pergi ke warung di depan gang untuk membeli benang. “Lima belas menit,” katanya. “Kalian jangan ngapa-ngapain.”
“Bu!”
“Ibu cuma bilang.” Pintu tertutup.
Aku dan Clara berdiri di dapur kecil di belakang rumah. Dia sedang mencuci gelas-gelas teh. Aku mengeringkan dengan kain lap.
Dapur itu sangat kecil. Satu kompor dua tungku, satu wastafel, satu meja keramik di samping jendela yang menghadap jemuran. Kami berdiri bahu menempel karena tidak ada ruang untuk berdiri tidak menempel.
“Ga,” kata Clara, tidak menoleh dari wastafel.
“Hm.”
“Bapak kamu.”
“Hm.”
“Kamu belum siap cerita.”
“Belum.”
“Oke.” Dia mematikan keran. Meletakkan gelas terakhir di rak. Lalu berbalik menghadapku, dengan tangan masih basah. “Aku nunggu.”
Aku menatapnya.
Tangannya basah. Dia mengelapnya di celana kulot kremnya, meninggalkan jejak basah di kain. Rambutnya yang dikuncir rendah mulai berantakan. Ada sisa bubuk gula dari klepon di sudut bibirnya.
Aku meletakkan kain lap.
Lalu aku memegang pinggangnya dengan dua tangan, dan mengangkatnya.
Clara menjerit kecil, kaget, dan berpegangan pada bahuku. Aku mendudukkannya di atas meja keramik di samping jendela. Sekarang wajahnya sejajar dengan wajahku. Lututnya di sisi pinggangku.
“Ga—”
Aku menciumnya.
Tidak seperti di parkiran apartemen. Tidak hati-hati, tidak lama dan dalam seperti orang yang sudah menunggu sepuluh tahun. Ciuman ini berbeda. Ciuman yang lebih pendek tapi lebih panas, karena dapur kecil dan Ibu yang lima belas menit lagi pulang dan gula klepon di sudut bibirnya, yang kuambil dengan bibirku.
Tangannya meremas bahuku. Kakinya mengunci di belakang pahaku. Dia membalas dengan cara yang membuatku harus menyandarkan satu tangan ke jendela di belakangnya supaya tidak kehilangan keseimbangan.
Lalu pagar depan berbunyi.
Kriiit.
Kami membeku. Bibir masih bersentuhan. Mata terbuka.
“Ibu,” bisik Clara, panik, di bibirku.
“Baru lima menit.”
“Ibu bilang lima belas!”
Aku menurunkan Clara dari meja dalam satu gerakan. Dia mendarat, terhuyung, berpegangan pada wastafel. Aku mengambil kain lap dan gelas yang sudah kering dan mulai mengelapnya lagi. Clara menyalakan keran dan mulai mencuci gelas yang sudah bersih.
Kami berdiri bahu menempel di depan wastafel, pura-pura sangat sibuk, napas tersengal, wajah merah.
Langkah kaki di ruang tamu. Lalu suara di ambang dapur.
“Mas Erga?”
Bukan Ibu.
Kami berdua menoleh.
Bu RT. Perempuan gemuk dengan daster batik, rambut dikonde, dan senyum yang terlalu lebar, berdiri di ambang dapur dengan rantang di tangan.
“Bu Ratna lagi di warung ya? Saya mau balikin rantang.” Dia menatapku. Lalu menatap Clara. Lalu menatap gelas-gelas bersih yang sedang dicuci ulang. Lalu menatap wajah kami yang merah. Lalu menatap rambut Clara yang berantakan dan kerah kausku yang tertarik ke samping.
Senyumnya semakin lebar.
“Oh,” katanya. “Ini toh yang di video.”
“Bu—”
“Yang digendong di Sudirman. Bu Ratna share ke grup RT.” Dia meletakkan rantang di meja. Di meja keramik. Tempat Clara duduk tiga puluh detik lalu. “Cantik banget aslinya, Mbak.”
“M-makasih, Bu,” kata Clara.
Bu RT tersenyum padaku. Senyum seseorang yang sudah dua puluh tahun memantau gosip di gang ini dan baru saja menemukan berita terbesar tahun ini.
“Mas Erga,” katanya. “Kapan nih?”
“Kapan apa, Bu?”
“Ya kapan.” Bu RT mengedipkan mata. “Bu Ratna udah jahitin kebaya, kan? Saya liat tadi di belakang pintu.”
Lalu dia pergi.
Pagar berbunyi lagi. Kriiit.
Clara dan aku berdiri di depan wastafel. Diam. Keran masih menyala.
Lalu Clara mulai tertawa. Tertawa sampai harus berpegangan pada wastafel. Tertawa sampai air mata keluar. Aku mematikan keran.
“Bu RT,” katanya di antara tawa. “Bu RT, Ga. Grup RT. Ibu kamu share video kita ke grup RT.”
“Aku udah tahu.”
“Kamu udah tahu dan kamu nggak bilang?”
“Kamu nggak nanya.”
Clara menatapku. Lalu menarik kerah kausku dan mencium pipiku. Keras.
“Kamu nyebelin,” katanya.
“Tahu.”
Ibu pulang sepuluh menit kemudian, dengan benang dan sekantong kerupuk.
Clara sedang berdiri di halaman belakang, di antara jemuran Ibu, membantu mengangkat kain-kain yang sudah kering. Aku di dalam, menyusun kue di piring.
“Le! Bu RT barusan nyegat Ibu di gang!”
Aku menghela napas.
“Katanya kalian lagi...” Ibu berhenti. Menatapku. Lalu menatap ke halaman belakang, di mana Clara berdiri di antara jemuran, dengan rambut berantakan dan wajah yang masih sedikit merah.
“Clara!” panggil Ibu. “Nak, sini.”
Clara menoleh dari balik selembar kain jarik yang dijemur. Wajahnya langsung panik.
Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.
Dia menarikku. Lewat pintu belakang, ke halaman, ke balik kain jarik besar yang dijemur di tali, yang menyembunyikan kami dari pandangan Ibu di dapur. Dan dia mencium bibirku. Cepat. Satu detik. Tepat saat Ibu memanggil lagi.
“Nak? Clara?”
“Ra,” bisikku, panik. “Ibu.”
“Biarin Ibu lihat,” bisiknya, dengan mata bersinar dan pipi merah. “Biar Ibu tahu aku serius.”
Aku menatapnya. Di antara jemuran Ibu. Dengan kain jarik bergoyang ditiup angin di belakang kepalanya.
“Ibu udah tahu,” kataku.
“Dari mana?”
“Dari kamu datang bawa tiga kotak kue.”
Clara menatapku. Lalu tertawa. Lalu menyibakkan kain jarik dan berjalan ke dapur dengan dagu terangkat, seperti tidak ada yang terjadi.
“Iya, Bu?”
Ibu menatapnya dari ambang pintu dapur. Menatap rambutnya yang semakin berantakan. Lalu menatapku, yang keluar dari balik jemuran dengan wajah yang, aku yakin, tidak bisa disembunyikan.
Ibu tidak berkata apa-apa.
Dia cuma tersenyum. Lalu masuk ke ruang tamu, duduk di depan mesin jahit, dan mulai menjahit sesuatu dari kain lurik cokelat tua dengan garis-garis halus.
Beskap.
Sore hari, sebelum Clara pulang, dia berdiri di depan pagar dan menatapku dengan serius.
“Ga. Minggu depan.”
“Kenapa minggu depan?”
“Ulang tahun Papa. Yang keenam puluh. Makan malam di rumah Menteng.” Dia menggigit bibir bawahnya. “Papa yang minta kamu dateng.”
Aku menatapnya.
“Papa kamu?”
“Papa nonton video CFD lima kali. Terus bilang ‘kuat juga anak itu’.” Clara tersenyum, tapi ada sesuatu yang cemas di matanya. “Terus kemarin Papa nanya, ‘Anak itu dateng nggak ke ulang tahun Papa?’ Aku bilang, ‘Papa mau dia dateng?’ Papa bilang, ‘Papa mau lihat dia dari dekat.’”
“Tante Mira?”
Clara meringis. “Tante Mira juga dateng. Sama Dion. Sama keluarga Hartanto. Tante yang undang. Sebelum Papa sempat larang.”
Aku diam.
“Kamu nggak harus dateng,” kata Clara cepat. “Kalau kamu nggak mau. Aku ngerti. Tante Mira itu... dan Dion...”
“Aku dateng.”
Clara berhenti bicara.
“Aku dateng, Ra,” ulangku. “Papa kamu yang minta.”
Dia menatapku lama. Lalu memelukku. Erat. Di depan pagar, di depan gang, di depan jendela tetangga yang tirainya bergerak.
“Pakai kemeja putih,” bisiknya di bahuku. “Lengan digulung.”
“Iya.”
“Dan bawa kado.”
“Kado apa?”
Dia melepas pelukan dan tersenyum. “Kamu pasti tahu.”
Lalu dia pergi.
Aku berdiri di depan pagar sampai mobilnya berbelok di ujung gang. Lalu aku masuk, ke kamar, dan membuka laptop.
Di folder bernama Proyek, ada satu folder yang sudah dua minggu kukerjakan setiap malam, di sela proyek sampingan, sebelum demam menjatuhkanku. Clara tidak tahu. Tidak ada yang tahu.
Halim — Restorasi.
Di dalamnya ada seratus empat puluh tiga file foto. Pindaian negatif film yang rusak, yang kudapat dari Bu Lena waktu Lebaran tahun lalu. Waktu itu Bu Lena bercerita di ruang tamu rumah Menteng tentang album foto pernikahan yang terendam banjir tahun 2007. Negatifnya masih disimpan di kotak sepatu karena dia tidak tega membuangnya, padahal sudah berjamur dan setengah hancur.
Aku meminta izin meminjam kotak itu. Bu Lena memberikannya dengan tatapan bingung.
Itu satu tahun yang lalu.
Aku membuka file terakhir. Foto yang paling rusak, yang paling banyak memakan waktu. Seorang laki-laki muda dengan beskap putih dan seorang perempuan muda dengan kebaya putih, berdiri di depan pelaminan, tersenyum ke kamera. Wajah laki-laki itu sudah kupulihkan dari bercak jamur yang menutupi setengahnya. Wajah perempuan itu sudah kupulihkan dari goresan yang membelah pipinya.
Pak Hendra dan Bu Lena, tiga puluh dua tahun lalu.
Aku menatap foto itu. Lalu menatap ke belakang pintu kamarku, di mana, tadi siang, Ibu menggantung kain lurik cokelat tua yang setengah jadi.
Lalu aku menekan tombol Export.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan reading
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja