Chapter Thirty Six
Minggu Ketiga
POV: Erga
Aku sampai di makam jam enam kurang sepuluh.
Seperti biasa. Lima menit lebih awal, kadang sepuluh. Tubuhku tidak tahu cara datang tepat waktu. Tubuhku hanya tahu cara datang duluan.
Makam Beji ada di belakang masjid kecil di ujung jalan, area pemakaman umum yang dikelilingi pagar besi hijau yang catnya mengelupas dan pohon kamboja yang bunganya berjatuhan di jalan setapak. Jam segini masih sepi. Kabut tipis masih menempel di rumput. Bau tanah basah dan bunga kamboja.
Aku membawa bunga melati. Satu ikat, dibungkus kertas koran, dari penjual bunga di depan pasar yang sudah buka sejak subuh. Ibu benar. Bapak suka melati.
Aku membuka gerbang besi yang berderit.
Lalu aku berhenti.
Di ujung jalan setapak, di dekat pohon kamboja paling besar, di depan nisan sederhana dari keramik putih bertuliskan nama Bapak, seseorang sudah duduk.
Duduk di bangku semen kecil di samping makam. Dengan jaket abu-abu tebal dan rambut yang dikuncir asal. Dengan kantong plastik berisi bunga tabur di pangkuan.
Clara.
Aku berdiri di gerbang, dengan bunga melati di tangan, dan tidak bisa bergerak.
Dia mendengar derit gerbang dan menoleh. Menatapku dari jauh. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Dia tidak tidur. Sama sepertiku.
Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Melewati makam-makam lain, melewati bunga kamboja yang berjatuhan, sampai berdiri di depannya.
“Kamu duluan,” kataku.
Suaraku keluar aneh.
“Jam lima,” katanya. “Aku dateng jam lima.”
“Kenapa?”
Dia menatapku lama.
“Biar sekali aja,” katanya pelan, “ada yang dateng duluan buat kamu.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Aku berdiri di depannya dengan bunga melati di tangan, dan sesuatu di dadaku yang sudah sepuluh tahun kusimpan rapi, di kursi paling ujung, di rak yang tidak pernah kubuka, bergerak.
Clara bergeser di bangku semen, memberi ruang. Aku duduk di sebelahnya. Meletakkan bunga melati di atas nisan Bapak. Mencabuti rumput liar di sekitar makam, karena tanganku butuh sesuatu untuk dilakukan.
Clara menabur bunga di atas tanah makam. Kelopak mawar merah, putih, dan kenanga. Pelan. Hati-hati.
Kami diam lama.
Burung-burung mulai berkicau di pohon kamboja. Azan subuh sudah lama selesai dari masjid di depan. Langit berubah dari abu-abu menjadi biru muda.
“Ga,” katanya akhirnya.
“Hm.”
“Kamu bilang kamu bakal cerita. Semuanya.”
“Iya.”
“Aku di sini.”
Aku menatap nisan Bapak. Sutrisno Pramana. Lahir 1965. Wafat — tanggal dan bulan dan tahun, sepuluh tahun lalu, bulan September.
Minggu ketiga kuliah.
Aku menarik napas.
“Hari Rabu,” kataku. “Minggu ketiga kuliah. Jam sembilan malam. Aku lagi di kamar kos, ngerjain tugas pengantar algoritma. Ibu telepon.”
Clara diam.
“Ibu nggak nangis di telepon. Itu yang aku inget. Ibu bilang, ‘Le, Bapak jatuh. Dari tiang. Ada korsleting. Sekarang di rumah sakit. Kamu pulang ya, Le.’ Suaranya tenang. Kayak lagi nyuruh aku beli gula di warung.”
Aku menatap tanganku. Masih ada sisa tanah dari rumput yang kucabut.
“Aku nggak punya uang. Kiriman bulan itu belum dateng. Aku punya empat puluh ribu di dompet. Bus terakhir ke Jakarta dari terminal Leuwipanjang jam sepuluh. Tiketnya tiga puluh lima ribu.”
“Kamu naik?”
“Aku lari ke terminal. Dari Cisitu. Nggak ada angkot jam segitu. Aku lari.” Aku menatap nisan. “Aku sampai jam sepuluh kurang dua menit. Busnya udah mau jalan. Aku gedor pintunya.”
Clara memegang lenganku. Diam.
“Aku sampai di rumah sakit di Depok jam dua pagi.” Suaraku mulai berubah. Aku tidak tahu cara menghentikannya. “Ibu duduk di bangku di depan ruang IGD. Sendirian. Masih pakai daster yang dia pakai waktu masak makan malam. Dia lihat aku dateng dan dia berdiri dan dia...”
Aku berhenti.
“Dia bilang, ‘Bapak udah nggak ada, Le. Jam sebelas tadi.’”
Clara mencengkeram lenganku.
“Tiga jam,” kataku. “Aku telat tiga jam. Kalau aku punya uang buat travel yang lebih cepet. Kalau aku nggak harus lari ke terminal. Kalau kiriman dateng lebih awal. Kalau...”
“Ga—”
“Dan kalaupun aku dateng tepat waktu,” kataku, lebih pelan, “aku nggak bisa ngapa-ngapain. Aku delapan belas tahun. Aku nggak tahu cara CPR. Aku nggak tahu apa-apa soal korsleting atau luka bakar atau jantung. Aku cuma bisa berdiri di depan IGD dan ngelihatin pintu yang ketutup.”
Aku menatap tanganku. Tangan yang menekan dada Pak Hendra empat menit. Tangan yang dulu, sepuluh tahun lalu, tidak bisa melakukan apa pun.
“Itu sebabnya kamu ikut pelatihan SAR,” bisik Clara. “Dan P3K. Dan damkar kantor.”
“Biar nggak ada lagi pintu yang ketutup sementara aku cuma berdiri.”
“Pemakamannya besok siangnya,” lanjutku. “Hari Kamis. Hujan.”
Clara mengangguk pelan. Dia tahu bagian ini. Dia ada di sana. Tapi dia tidak menyela.
“Keluarga Bapak di Wonogiri. Jauh. Nggak bisa dateng cepet. Keluarga Ibu...” Aku menggeleng. “Keluarga Ibu nggak pernah setuju Ibu nikah sama tukang naik tiang. Mereka udah nggak ngomong sama Ibu dua puluh tahun. Mereka nggak dateng.”
“Teman-teman SMA kamu?”
“Aku kirim kabar ke grup kelas.” Aku tertawa kecil. Tidak ada humor di dalamnya. “Dua orang bales ‘turut berduka’. Satu orang kirim stiker doa. Nggak ada yang dateng.”
Kabut di sekitar makam sudah hilang. Matahari mulai naik di balik pohon kamboja.
“Jam enam pagi hari Kamis,” kataku, “aku berdiri di depan rumah. Di bawah hujan. Nunggu ambulans jenazah dari rumah sakit. Ibu di dalam, sama dua tetangga. Aku sendirian di luar. Dan aku mikir, ini dia. Ini hidup aku sekarang. Aku sama Ibu. Berdua. Nggak ada siapa-siapa lagi.”
Aku menatap Clara.
“Terus ada mobil berhenti di ujung gang.”
Clara menatapku. Matanya sudah basah.
“Kijang tua warna hijau. Punya bapaknya Putra. Putra yang nyetir. Dari Bandung, jam dua pagi, pakai mobil bapaknya tanpa izin, empat jam di tol Cipularang yang gelap. Dia baru punya SIM dua bulan.”
“Aku inget,” bisik Clara.
“Pintu-pintunya kebuka. Kalian turun. Satu-satu.” Suaraku gemetar sekarang. Aku membiarkannya. “Faisal duluan. Bawa dua kantong plastik gede. Nasi bungkus. Empat puluh bungkus. Dia beli pakai sisa uang jajannya buat sebulan, di warung dua puluh empat jam di rest area. Katanya, ‘Orang yang dateng melayat harus makan.’ Padahal nggak ada yang dateng melayat.”
Clara menutup mulut dengan tangan.
“Keisha turun nangis. Bawa payung yang rusak. Satu jarinya patah, jadi payungnya miring. Dia nangis dari Bandung sampai Depok, kata Putra. Dia nangis padahal dia nggak pernah ketemu Bapak.”
“Zara turun terakhir. Dia nggak ngomong apa-apa. Dia langsung jalan ke dalam rumah, nemuin Ibu, berdiri di sebelah Ibu, megangin payung di atas kepala Ibu sampai pemakaman selesai. Tiga jam. Tangannya nggak turun sekali pun.”
“Putra ngurus surat-surat dari rumah sakit. Dia anak dokter. Dia tahu cara ngomong sama petugas. Dia yang ngurus semua yang aku nggak ngerti.”
Aku berhenti.
Lalu aku menatap Clara.
“Dan kamu.”
Clara menatapku. Air matanya sudah turun.
“Kamu turun dari mobil,” kataku. “Kamu nggak bawa apa-apa. Kamu nggak ngomong apa-apa. Kamu jalan ke arah aku. Aku berdiri di depan rumah di bawah hujan, basah semua. Kamu berdiri di sebelah aku. Di bawah hujan juga. Kamu nggak pakai payung. Kamu berdiri aja di sebelah aku. Sampai ambulans dateng. Sampai pemakaman selesai. Sampai semua orang pulang.”
“Aku nggak tahu harus ngapain,” bisik Clara. “Aku cuma...”
“Kamu dateng.” Suaraku pecah. “Kalian semua dateng. Lima orang yang kenal aku tiga minggu. Tiga minggu, Ra. Kalian bahkan belum hafal nama lengkap aku. Faisal masih manggil aku ‘Erg’. Keisha masih salah nyebut Erga jadi ‘Arga’. Kalian belum tahu aku dari mana, rumah aku di mana, Bapak aku siapa.”
Aku menatap nisan Bapak.
“Keluarga nggak dateng. Teman SMA nggak dateng. Yang dateng lima orang asing. Pakai mobil curian. Bawa nasi bungkus empat puluh. Dan payung rusak.”
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.
Aku tidak pernah menangis. Tidak di pemakaman Bapak, karena aku harus kuat untuk Ibu. Tidak di sepuluh tahun sesudahnya, karena tidak ada yang perlu ditangisi. Tidak di gazebo Puncak, waktu aku menggantung lampu untuk lamaran yang kukira lamaran Clara. Tidak di lantai marmer rumah Menteng, waktu tanganku gemetar setelah empat menit kompresi.
Tapi sekarang, di bangku semen di samping makam Bapak, jam enam lewat dua puluh pagi, dengan Clara memegang lenganku, aku menangis.
Tanpa suara. Air mata yang turun begitu saja, seperti keran yang sudah sepuluh tahun tertutup dan akhirnya dibuka.
“Hari itu,” kataku, di antara air mata, “di depan rumah, di bawah hujan, waktu kalian turun dari Kijang hijau itu, aku janji sama diri sendiri.”
“Janji apa?” bisik Clara.
“Aku yang dateng duluan.” Aku mengusap mata dengan punggung tangan. Air matanya tidak berhenti. “Selamanya. Buat kalian. Kalian dateng duluan buat aku, waktu aku nggak punya siapa-siapa. Jadi seumur hidup, aku yang dateng duluan buat kalian. Kapan aja. Di mana aja. Apa aja.”
Clara menangis sekarang. Dengan suara.
“Laptop Keisha,” kataku. “Kaki Zara. Motor Faisal. Mobil kamu di tol. Gazebo Putra. Papa kamu.” Aku menatap tanganku yang basah oleh air mata. “Dapur Faisal.”
Clara mengangkat kepala.
“Malam itu, dua tahun lalu,” kataku. “Faisal duduk di lantai dapurnya. Bilang jangan tawarin. Bilang dia nggak mau ada utang. Dan aku duduk di sebelahnya dan yang aku inget cuma satu hal.”
“Apa?”
“Nasi bungkus empat puluh.” Aku tertawa, basah, rusak. “Dia beli pakai uang jajan sebulan. Buat pemakaman bapak orang yang dia kenal tiga minggu. Dia nggak pernah minta balik. Dia nggak pernah inget, kayaknya. Dia lupa. Tapi aku nggak lupa.”
Aku menatap Clara.
“Jadi aku kasih. Bukan nawarin. Kasih. Tanpa nama. Biar dia nggak pernah ngerasa utang. Karena dia nggak pernah bikin aku ngerasa utang buat nasi bungkus itu.”
“Seratus delapan puluh juta buat empat puluh nasi bungkus,” bisik Clara.
“Masih kurang,” kataku.
Clara memelukku.
Dia memelukku di bangku semen di samping makam Bapak, dengan lengan melingkar di leherku dan wajah di bahuku, dan aku memeluknya balik, dan kami berdua menangis. Lama. Di bawah pohon kamboja. Dengan bunga melati dan kelopak mawar di atas nisan keramik putih.
“Kamu bego,” kata Clara di bahuku. “Kamu bego banget, Ga.”
“Iya.”
“Kamu pikir kita dateng ke pemakaman Bapak kamu supaya kamu bales seumur hidup?”
Aku diam.
“Kita dateng karena kita mau.” Dia mengangkat wajah dari bahuku. Menatapku dengan mata merah dan basah. “Putra nyuri mobil bapaknya karena dia mau. Faisal beli nasi bungkus karena dia mau. Keisha nangis karena dia mau. Zara megangin payung tiga jam karena dia mau. Aku berdiri di sebelah kamu di bawah hujan karena aku mau.”
“Ra—”
“Itu bukan utang, Ga. Itu bukan sesuatu yang harus kamu bales. Itu...” Dia mencari kata. “Itu yang orang lakuin kalau mereka sayang.”
Aku menatapnya.
“Kamu nggak harus dateng duluan selamanya,” katanya. Lebih pelan. “Kamu boleh dateng belakangan. Kamu boleh nggak dateng. Kamu boleh capek. Kamu boleh minta tolong. Kami nggak akan pergi.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Sepuluh tahun kamu dateng duluan,” bisiknya. “Sekarang giliran kami.”
Matahari sudah naik. Jam tujuh pagi. Seorang penjaga makam lewat dengan sapu lidi, menatap kami berdua yang duduk di bangku semen dengan mata merah, lalu mengangguk sopan dan berjalan menjauh.
Clara mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Pelan. Seperti aku menyeka saus barbeque di sudut bibirnya di api unggun Puncak.
“Satu hal lagi,” katanya.
“Hm.”
“Waktu itu kamu janji di depan rumah kamu, di bawah hujan.” Dia menatapku. “Aku juga janji sesuatu. Hari itu. Di sebelah kamu.”
Aku menatapnya.
“Janji apa?”
Dia tersenyum. Kecil. Basah. Dan sangat, sangat lelah.
“Nanti,” katanya. “Itu bagian nanti-ku.”
Dia berdiri. Merapikan jaket abu-abunya. Menatap nisan Bapak.
“Pak Sutrisno,” katanya, ke nisan. “Saya Clara. Saya pacar Erga. Anak Bapak bego. Tapi saya sayang banget sama dia. Saya janji jagain dia. Dan saya janji bikin dia berhenti dateng duluan buat semua orang, sekali-sekali.”
Aku menatapnya. Menatap perempuan yang berbicara ke nisan Bapak dengan suara bergetar dan dagu terangkat.
Lalu dia menoleh padaku.
“Ga.”
“Hm.”
“Aku boleh cerita ke mereka?”
“Ke siapa?”
“Mereka.” Dia menatapku. “Faisal. Zara. Putra. Keisha. Semuanya. Soal empat puluh nasi bungkus. Soal janji kamu. Soal Dapur Isal.”
Aku diam.
Sepuluh tahun aku menyimpannya. Di kursi paling ujung. Di rak yang tidak pernah kubuka.
“Kamu yang cerita,” kataku akhirnya. Pelan. “Aku nggak bisa.”
Clara menatapku. Lalu mengangguk.
“Oke,” katanya. “Itu udah satu langkah.”
“Langkah apa?”
“Kamu minta aku yang cerita.” Dia tersenyum. “Itu namanya minta tolong, Ga. Kamu baru aja minta tolong.”
Aku menatapnya.
Dia benar. Aku baru saja minta tolong. Untuk pertama kalinya. Dan rasanya tidak seperti yang kukira. Tidak seperti utang. Tidak seperti beban.
Rasanya seperti meletakkan sesuatu yang sangat berat yang sudah sepuluh tahun kubawa sendirian.
Clara mengambil HP dari saku jaketnya. Membuka grup.
“Rapat darurat,” gumamnya, sambil mengetik. “Dapur Isal. Jam tiga sore. Semua wajib.”
Dia mengirim pesan. Lalu menatapku.
“Kamu pulang. Tidur. Kamu nggak tidur semalaman.”
“Kamu juga nggak tidur.”
“Aku tidur nanti. Abis rapat.” Dia menyimpan HP-nya. “Pulang, Ga. Biar sekali ini aku yang ngurus.”
Dia berjalan ke gerbang. Berhenti. Menoleh.
“Ga.”
“Hm.”
“Kalimatnya,” katanya. “Yang selalu kamu bilang.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum. Dengan mata bengkak, wajah pucat, dan rambut yang berantakan ditiup angin pagi di antara makam-makam.
“Kamu tahu kalimatnya,” katanya. “Hari ini aku pinjem. Buat terakhir kali.”
Lalu dia pergi.
Aku duduk di bangku semen di samping makam Bapak sampai jam delapan pagi. Menatap bunga melati di atas nisan.
Lalu aku berbicara. Ke nisan. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun.
“Pak,” kataku. “Aku capek.”
Burung-burung berkicau di pohon kamboja.
“Aku capek, Pak. Sepuluh tahun. Aku nggak pernah bilang ke siapa-siapa.” Aku menatap nama Bapak di keramik putih. “Tapi Bapak juga nggak pernah bilang, kan. Ibu cerita. Soal koperasi. Dua puluh tahun.”
Angin pagi menggoyang bunga melati.
“Aku nggak mau kayak Bapak,” bisikku. “Aku nggak mau cerita seminggu sebelum jatuh.”
Aku berdiri. Menepuk nisan dua kali. Pelan.
“Aku pulang dulu, Pak. Ada yang nungguin.”
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga reading
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja