← Biar Aku Aja

Chapter Six

APAR di Bagasi

POV: Erga


Rabu malam, jam delapan, router Dapur Isal mati untuk ketiga kalinya bulan ini.

“Gue nggak ngapa-ngapain,” kata Faisal di telepon, nada suaranya persis seperti anak kecil yang berdiri di samping vas pecah. “Dia mati sendiri. Terus mesin kasir nggak bisa terima QRIS. Terus ada ibu-ibu yang bayar pakai uang receh semua. Terus gue nangis sedikit.”

“Sedikit?”

“Sedikit banyak.”

Aku menyetir ke Kemang sepulang kantor. Router Dapur Isal adalah router murahan yang kupasang tiga tahun lalu sebagai solusi sementara, karena Faisal waktu itu bilang “nanti kalau rame gue beli yang bagus”. Kedainya sudah ramai sejak dua tahun lalu. Routernya masih yang sama.

Zara sudah di sana ketika aku sampai. Duduk di kursi dekat jendela dengan kaki kanan berbalut perban elastis yang diangkat ke kursi lain, kruk pinjaman klinik bersandar di dinding, dan laptop di pangkuan. Dia sedang memeriksa gambar kerja proyek jalan layang dengan ekspresi orang yang ingin membakar sesuatu.

“Kamu nggak istirahat?” tanyaku.

“Ini istirahat.”

“Kamu kerja.”

“Gue cuma ngeliatin orang lain salah gambar. Itu bukan kerja. Itu hiburan.” Dia menyipit ke layar. “Siapa yang taruh kolom di tengah jalur drainase. Siapa. Gue mau nama.”

“Kakinya gimana?”

“Bosen.”

“Kaki nggak bisa bosen, Zar.”

“Kaki gue bisa.” Dia melirikku. “Faisal yang nyuruh gue ke sini. Katanya kalau di apartemen sendirian gue bakal ngamuk ke dinding.”

“Bakal?”

“Udah. Dua kali.”

Aku mengangguk dan pergi ke belakang konter, tempat router itu tinggal di atas kulkas minuman, berkedip merah seperti orang yang terluka.


Masalahnya bukan router. Masalahnya adaptor daya yang mulai rusak, ditambah kabel LAN yang digigit tikus di sudut dapur. Aku mengganti adaptornya dengan cadangan dari tas di bagasi, memotong bagian kabel yang tergigit, memasang konektor baru, dan menulis catatan di sticky note kuning untuk ditempel di kulkas: SAL. BELI ROUTER BARU. INI SUDAH TIGA TAHUN. —E

Faisal membaca catatan itu dan menempelkannya di samping catatan lain yang sudah menguning: SAL. BELI ROUTER BARU. —E (2 tahun lalu).

“Gue koleksi,” katanya bangga.

“Itu bukan koleksi. Itu bukti.”

“Bukti cinta.”

Clara datang jam setengah sembilan.

Bukan Jumat. Tidak ada jadwal. Dia masuk ke kedai dengan blazer biru tua dan rok pensil, rambut diikat setengah, dan wajah lelah seseorang yang baru selesai rapat enam jam berturut-turut. Dia melihatku di belakang konter, berhenti sebentar, lalu tersenyum seperti orang yang baru menemukan kursi kosong di kereta jam sibuk.

“Kok kamu di sini?”

“Router.”

“Lagi?”

“Lagi.”

Dia duduk di kursi bar di depan konter, tepat di depanku, meletakkan dagunya di atas tangan yang terlipat. “Aku lewat. Mau nasi goreng. Kantor bikin aku pengen makan sesuatu yang berminyak dan nggak sehat.”

“Kamu dari kantor di Kuningan, lewat Kemang?”

Dia diam sebentar. “Iya.”

“Kemang nggak di jalan antara Kuningan sama apartemenmu.”

“Aku lewat jalan jauh.”

“Kenapa?”

“Karena aku mau.” Dia mengangkat alis, menantang. “Ada masalah, Pak IT?”

Zara, dari kursi dekat jendela, berkata tanpa mengangkat mata dari laptop: “Dia lihat mobil lo di depan.”

Clara menoleh perlahan ke arah Zara. “Zar.”

“Gue cuma bilang fakta.”

“Kaki kamu terkilir. Kamu nggak bisa kabur. Hati-hati.”

Zara mengangkat satu tangan tanda menyerah, tapi ujung bibirnya naik.


Faisal memasak nasi goreng untuk Clara sendiri. Dia selalu memasak sendiri untuk kami berenam, tidak pernah menyerahkannya ke kokinya. Katanya tangan kokinya terlalu “profesional”, dan kami butuh nasi goreng yang dimasak dengan “rasa kekeluargaan”, yang kalau diterjemahkan berarti terlalu banyak kecap.

Dapur Isal adalah dapur terbuka, terpisah dari ruang makan hanya oleh konter kayu panjang. Dari kursi bar, Clara bisa melihat Faisal bekerja. Dua kompor besar, wajan hitam yang sudah berumur sepuluh tahun, dan rak bumbu yang tertata dengan logika yang hanya Faisal pahami.

“Gue bikin spesial,” kata Faisal, menuang minyak ke wajan. “Nasi goreng plus tumis kangkung. Kangkungnya baru dateng tadi sore. Seger banget. Liat nih.” Dia mengangkat seikat kangkung seperti mengangkat piala.

“Indah,” kata Clara.

“Kan.”

Dia memasukkan bawang ke wajan pertama. Lalu menyalakan kompor kedua untuk tumis kangkung, menuang minyak yang lebih banyak, dan menoleh untuk mengambil cabai dari rak.

Aku sedang menggulung kabel bekas di samping kulkas ketika aku mencium baunya.

Bukan bau bawang. Bau minyak yang terlalu panas. Bau yang tajam dan getir, seperti logam terbakar.

Aku menoleh. Wajan kedua sudah berasap. Asap putih tipis, lalu tebal, lalu abu-abu.

“Sal—”

Wajan itu menyala.

Bukan api kecil. Minyak panas yang mencapai titik nyalanya tidak menyala sedikit-sedikit. Api oranye melompat dari wajan setinggi setengah meter dalam sekejap, menjilat udara, menyambar handuk dapur yang tergantung terlalu dekat di gantungan.

Handuk itu menyala juga.

Faisal berbalik dengan cabai di tangan, melihat api, dan membeku. Lalu refleks pertamanya, refleks yang dimiliki hampir semua orang yang tidak pernah dilatih, adalah meraih gelas air di konter.

“JANGAN,” kataku.

Dia berhenti dengan gelas setengah terangkat.

“Jangan air. Mundur. Sal, mundur.”

Faisal mundur. Aku sudah keluar dari balik konter.

“Ra, keluar. Zar, keluar. Bawa orang-orang keluar.”

Ada dua meja tamu lain malam itu. Pasangan muda dan seorang bapak yang makan sendirian. Mereka sudah berdiri, ketakutan. Clara turun dari kursi bar, berbalik, dan mulai mengarahkan mereka ke pintu dengan suara yang tenang dan tegas, suara yang mungkin dia pakai untuk menenangkan klien. Zara meraih kruknya dan berdiri.

Aku berlari ke parkiran.

Bagasi. APAR dua kilo, tipe powder, di pojok kanan, diikat tali supaya tidak menggelinding. Aku mencabutnya dalam dua detik dan kembali ke dalam.

Api di dapur sudah lebih besar. Handuk sudah habis, apinya merambat ke rak kayu bumbu di sebelahnya. Asap mulai memenuhi langit-langit. Alarm asap di atas pintu dapur, yang juga kupasang tiga tahun lalu, menjerit nyaring.

“Ga!” Itu Clara, dari pintu.

“Keluar, Ra.”

“Kamu—”

“Biar aku aja.”

Aku menarik pin pengaman APAR. Berdiri dua meter dari kompor, punggung ke arah pintu, angin dari luar di belakangku. Mengarahkan selang ke dasar api, bukan ke lidahnya. Menekan tuas.

Bubuk putih menyembur dengan bunyi mendesis keras. Aku menyapu dari kiri ke kanan, pelan, rata, ke wajan, ke kompor, ke rak bumbu yang terbakar. Api meredup. Bergolak sebentar seperti protes. Lalu padam.

Aku tidak berhenti. Aku menyemprot sekali lagi ke rak bumbu, ke titik yang tadi menyala paling lama, sampai yakin tidak ada bara yang tersisa. Lalu aku mematikan kedua kompor dan mencabut regulator gas dari tabungnya.

Tujuh detik. Mungkin delapan.

Lalu sunyi. Hanya alarm asap yang masih menjerit, dan dapur yang sekarang tertutup bubuk putih seperti habis dihujani salju.

Aku menurunkan APAR. Napasku stabil. Tanganku tidak gemetar. Aku sudah berlatih ini dua kali setahun di kantor dengan api dari baki besi berisi bensin, di parkiran basement, ditonton satpam dan karyawan yang lebih tertarik ke gorengan di meja konsumsi.

Ternyata latihan itu ada gunanya.


Aku membuka semua jendela dan menyalakan kipas angin untuk mengeluarkan asap. Pasangan muda dan bapak itu berdiri di trotoar, menatap ke dalam. Seseorang di antara mereka bertepuk tangan, ragu-ragu, lalu berhenti karena merasa canggung.

Faisal berdiri di ambang pintu dapur, menatap wajannya.

Wajan itu tertutup bubuk putih. Di dalamnya, kangkung yang tadi dia banggakan sudah hangus jadi arang hitam keriting, bercampur bubuk pemadam.

“Kangkung gue,” bisiknya.

“Sal.”

“Kangkung gue, Ga.”

“Kangkungnya nggak bisa diselamatkan.”

“Dia baru dateng tadi sore.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Dia seger banget. Lo liat tadi kan? Dia seger banget.”

“Aku lihat.”

“Dia nggak salah apa-apa.”

Zara muncul di belakang Faisal dengan kruknya. Dia menatap wajan, menatap Faisal, lalu menatap wajan lagi.

“Sal,” kata Zara. “Lo hampir bakar kedai lo sendiri, dan yang lo tangisin kangkung?”

“Kedai bisa dibangun lagi. Kangkung yang itu nggak.”

Zara terdiam. Lalu, sangat pelan, dia mengulurkan tangan dan menepuk punggung Faisal dua kali. Kaku. Canggung. Seperti seseorang yang belum pernah menepuk punggung orang lain seumur hidupnya.

Faisal menoleh ke Zara dengan mata basah.

“Gue beliin kangkung baru,” kata Zara. “Besok.”

“Lo nggak bisa jalan.”

“Gue pesen online.”

“Kangkung online nggak sama.”

“Ya udah. Gue pesen online, terus gue elus dulu sebelum gue kasih ke lo. Biar ada rasa kekeluargaan.”

Faisal menatapnya. Lalu tertawa. Tawa basah yang bercampur isak. Zara tidak tersenyum, tapi dia juga tidak menarik tangannya dari punggung Faisal.

Aku berbalik untuk memberi mereka ruang.

Dan Clara ada di sana.


Dia berdiri di tengah ruang makan yang kosong, di antara meja-meja yang ditinggalkan, dengan blazer biru tua yang sekarang berbintik abu. Wajahnya pucat. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

“Ra?”

Dia tidak menjawab. Dia berjalan ke arahku. Cepat. Dan sebelum aku sempat bertanya apa-apa lagi, dia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku dari belakang dan membenamkan wajahnya di punggungku.

Aku berhenti bergerak.

Tangannya gemetar. Aku bisa merasakannya di perutku, di tempat kedua tangannya bertaut. Napasnya cepat dan tidak teratur di antara tulang belikatku.

“Ra.”

“Diem.”

“Kamu kenapa?”

“Kamu lari ke api.”

“Aku lari ke APAR.”

“Kamu lari ke api,” ulangnya, suaranya teredam kemejaku. “Aku di pintu. Aku liat kamu lari ke dalam sambil bawa tabung merah dan apinya segede kulkas dan kamu—kamu nggak kelihatan takut. Sama sekali. Kenapa kamu nggak takut?”

“Karena aku udah latihan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban, Ra.”

Dia menarik napas panjang. Gemetar di tangannya berkurang sedikit, tapi pelukannya tidak melonggar. Malah lebih erat.

“Jangan pernah lari ke api lagi,” bisiknya.

“Kalau ada api lagi—”

“Jangan.”

Aku menatap tangan Clara yang bertaut di perutku. Kuku-kukunya dicat merah muda pucat. Ada bubuk putih di punggung tangannya, sisa dari udara dapur.

Aku meletakkan tanganku di atas tangannya. Bukan untuk melepaskannya. Hanya untuk diletakkan di sana.

“Oke,” kataku.

Itu bohong. Kami berdua tahu itu bohong. Kalau besok ada api lagi, aku akan lari lagi, dan Clara tahu, karena dia sudah mengenalku sepuluh tahun. Tapi dia mengangguk di punggungku, seolah kebohongan itu sudah cukup untuk malam ini.

Dari ambang pintu dapur, aku mendengar Faisal berbisik ke Zara: “Mereka kenapa?”

Dan Zara menjawab, dengan nada orang yang sangat, sangat lelah: “Lo baru nyadar sekarang?”


Tiga puluh menit kemudian, dapur sudah dibersihkan sejauh yang bisa dibersihkan malam itu. Bubuk APAR ternyata sangat susah dibersihkan. Bubuk itu masuk ke setiap celah dan menempel di setiap permukaan. Faisal harus tutup dua hari untuk membersihkan semuanya, mengganti rak bumbu, dan membeli handuk dapur baru yang akan dia gantung, aku sudah memastikannya, setidaknya satu meter dari kompor.

Kami duduk di meja depan, yang paling jauh dari dapur, dengan empat gelas teh manis dan sepiring pisang goreng yang Faisal ambil dari stok cadangan.

“Gue nggak tahu harus bilang apa,” kata Faisal. Dia sudah berhenti menangisi kangkung. Sekarang dia menatap dapurnya dengan ekspresi orang yang baru saja hampir kehilangan rumah. “Ga, kalau lo nggak di sini malam ini...”

“Aku di sini.”

“Tapi kalau nggak—”

“Aku di sini, Sal.”

Faisal menggosok wajahnya dengan dua tangan. “Lo selalu di sini. Itu masalahnya. Lo selalu di sini, jadi gue nggak pernah mikir gimana kalau lo nggak di sini.”

Aku tidak menjawab. Zara menatapku dari seberang meja. Clara, di sebelahku, menggenggam pergelangan tanganku di bawah meja dan tidak melepaskannya sejak kami duduk.

“Kedai ini,” kata Faisal pelan, “udah dua kali hampir mati. Malam ini yang kedua.”

“Yang pertama dua tahun lalu,” kata Zara.

“Iya.” Faisal meraih pisang goreng, menatapnya, lalu meletakkannya kembali tanpa memakannya. Untuk Faisal, itu tanda yang serius. “Lo semua inget kan. Waktu pemilik ruko naikin sewa dua kali lipat. Terus supplier ayam gue kabur bawa duit muka tiga bulan. Terus gue punya utang ke bank yang... ya, gede.”

Aku ingat. Aku ingat lebih dari yang dia kira.

“Gue udah siap tutup,” lanjut Faisal. “Udah nulis pengumuman di Instagram. Udah ngitung mau jual peralatan ke mana. Udah nelepon bapak di Garut, bilang gue mau pulang.”

“Terus investornya dateng,” kata Clara.

“Terus investornya dateng.” Faisal tertawa kecil, tidak percaya, seperti dia sudah menceritakan ini seratus kali dan masih belum percaya. “Lewat notaris. Notaris yang nggak gue kenal. Bilang ada orang yang mau nyuntik modal. Seratus delapan puluh juta. Tanpa bunga. Tanpa jaminan. Tanpa tenggat. Cuma satu syarat.”

“Jangan cari tahu siapa,” kata Clara dan Zara bersamaan. Mereka sudah mendengar cerita ini juga.

“Jangan cari tahu siapa.” Faisal menggeleng. “Dua tahun, gue nggak tahu siapa. Gue udah tanya notarisnya sepuluh kali. Dia cuma bilang ‘klien saya mau anonim, Pak’. Gue udah coba bayar balik cicilan tiap bulan ke rekening notaris. Tiap bulan, Ga. Dan notarisnya nggak pernah nolak, tapi juga nggak pernah bilang duitnya ke mana.”

“Mungkin orang kaya yang suka nasi gorengmu,” kata Zara.

“Gue mikir gitu juga. Atau food blogger. Atau pejabat yang pernah makan di sini terus kasihan.” Faisal menatap ke dapur yang masih berbau asap. “Gue cuma mau bilang makasih. Itu aja. Gue mau ketemu dia sekali, masak buat dia, terus bilang makasih.”

Clara menoleh padaku. “Kamu nggak penasaran, Ga?”

Aku menatap teh manisku. Gelasnya berkeringat. Ada setetes air yang turun pelan di sisi luarnya, dari bibir gelas ke dasar, meninggalkan jejak lurus di permukaan kaca yang berembun.

“Nggak,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena dia nggak mau ditemuin.”

Clara menatapku sedikit lebih lama. Lalu dia mengangguk dan kembali ke tehnya.

Faisal menghela napas. “Lo bener sih. Tapi tetep aja.” Dia akhirnya mengambil pisang goreng itu dan menggigitnya. “Kalau gue ketemu dia, gue mau bikinin dia nasi goreng kampung. Yang paling enak yang pernah gue bikin.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Nasi goreng kampung. Aku sudah memakannya setiap Jumat selama sepuluh tahun.


Sebelum pulang, Clara berdiri di samping mobilku dan menatap bagasi yang masih terbuka. APAR yang sudah kosong terbaring di sana, di sebelah kotak P3K dan kabel jumper.

“Kamu harus isi ulang,” katanya.

“Besok.”

“Kamu punya cadangan?”

“Nggak.”

“Jadi besok pagi, sebelum diisi ulang, kalau ada api lagi...”

“Aku pakai karung goni basah.”

“Kamu punya karung goni?”

“Di bawah ban serep.”

Clara menatapku. Lalu menatap bagasiku. Lalu menutup mulutnya dengan tangan, dan bahunya mulai berguncang.

“Kamu ketawa?”

“Kamu punya karung goni di bawah ban serep,” katanya di antara tawa. “Siapa yang punya karung goni di bawah ban serep, Ga?”

“Orang yang siap.”

“Siap buat apa?”

“Semua.”

Tawanya mereda. Dia menatapku dengan mata yang masih basah sisa tertawa, dan sesuatu yang lain. Lalu dia melangkah maju, sangat dekat, dan merapikan kerah kemejaku yang berantakan karena insiden tadi. Jarinya berhenti di kerahku lebih lama dari yang perlu.

“Kamu siap buat semua,” bisiknya. “Kecuali satu.”

“Apa?”

Dia tidak menjawab. Dia cuma tersenyum. Senyum kecil yang tidak sampai ke mata, karena matanya sedang sibuk menatapku dengan cara yang membuatku harus mengingatkan diri sendiri untuk bernapas.

Lalu dia berbalik, berjalan ke mobilnya, dan pergi.

Aku menutup bagasi. APAR kosong itu bergeser di dalam dengan bunyi logam yang tumpul.

Kecuali satu.

Aku tahu apa yang dia maksud. Aku selalu tahu.

Aku juga tahu kenapa aku tidak siap.

Seratus delapan puluh juta rupiah. Lewat notaris. Tanpa bunga, tanpa jaminan, tanpa tenggat.

Dan satu baris catatan di HP-ku yang belum pernah kuhapus.