Chapter Forty
Sepuluh Tahun
POV: Clara
“Reuni,” kata Zara di telepon, hari Rabu. “Gugus Tujuh. Di kampus. Sabtu pagi. Kita nginep di Bandung Jumat malam.”
“Reuni?” kataku. “Reuni apa? Kita ketemu tiap Jumat.”
“Reuni di tempat asli. Nostalgia. Foto-foto.”
“Jam berapa?”
“Jam enam pagi.”
“Jam enam pagi, Zar?”
“Biar dapet cahaya bagus buat foto.”
Aku diam. Zara diam. Kami berdua tahu Zara tidak pernah peduli soal cahaya bagus untuk foto. Zara memotret proyek jalan layang dengan kamera HP yang lensanya retak.
“Oke,” kataku. “Aku nggak tahu apa-apa.”
“Bagus,” kata Zara. “Lo emang nggak tahu apa-apa.”
“Aku nggak tahu apa-apa sama sekali.”
“Ra.”
“Hm?”
“Berhenti bilang lo nggak tahu apa-apa. Itu bikin lo kelihatan tahu.”
Jumat malam, kami menginap di hotel kecil di Dago. Aku, Zara, dan Keisha dalam satu kamar. Putra, Faisal, dan Erga di kamar lain.
Atau seharusnya Erga di kamar lain. Waktu kami check-in, Putra bilang Erga “berangkat duluan, ada urusan”. Faisal mengangguk terlalu cepat. Keisha menangis tanpa alasan di lobi hotel, lalu bilang dia “kelilipan”.
Aku tidak bertanya apa-apa.
Jam sebelas malam, aku berbaring di kasur hotel, menatap langit-langit. Keisha sudah tertidur di kasur sebelah, memeluk bantal. Zara masih bangun, duduk di kursi dekat jendela, mengetik sesuatu di HP dengan cahaya layar yang menerangi wajahnya.
“Zar.”
“Hm.”
“Kamu lagi chat sama Faisal?”
“Nggak.”
“Kamu senyum.”
“Gue nggak senyum.”
“Kamu senyum ke HP, Zar. Kayak orang gila.”
Dia menoleh padaku. Datar. Lalu menatap HP lagi.
“Gue chat sama Faisal,” akunya.
Aku tersenyum ke langit-langit.
“Ra,” kata Zara setelah beberapa saat.
“Hm.”
“Besok. Bawa dompet lo.”
Aku membeku.
“Kenapa dompet?”
Zara tidak menoleh. “Bawa aja.”
Aku tidak pernah bilang ke Zara soal name tag. Aku tidak pernah bilang ke siapa pun. Kecuali ke nisan Bapak Erga, dalam hati, di makam Beji. Dan di balkon vila Puncak, malam itu, waktu aku menangis dan Zara duduk di kursi plastik yang berderit.
Aku nyimpen name tag-nya sepuluh tahun. Di dompet.
Aku lupa aku pernah bilang. Zara tidak lupa.
“Iya,” bisikku. “Aku bawa.”
Jam lima pagi, alarm berbunyi.
Aku mandi. Memakai celana jeans, kaus putih polos, dan sepatu kets. Lalu, dari dalam koperku, aku mengeluarkan jaket hitam.
Jaket hitamnya. Yang pertama kucuri di klinik BSD setelah padel. Yang kupakai di bahu tol jam tiga pagi. Yang kubawa ke vila Puncak dan kuisi dengan air mata di balkon. Yang kupakai di tenda Papandayan, di padang edelweis Tegal Alun, di dek kapal di bawah Bima Sakti.
Ritsletingnya masih macet setengah. Wanginya sudah lama hilang, berganti wangiku. Tapi di kerahnya, kalau aku menghirup sangat dalam, masih ada sedikit. Sabun cuci. Kayu.
Aku memakainya.
Lalu aku membuka dompet. Mengeluarkan name tag karton yang dilaminating. ERGA — GUGUS 7. Huruf kapital. A dengan garis tengah yang rendah. G dengan ekor yang menekuk ke dalam.
Aku memasukkannya ke saku jaket hitam itu.
Zara menatapku dari ambang pintu kamar mandi. Dia menatap jaketku. Lalu menatap saku jaketku.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia cuma mengangguk. Sekali.
Kampus jam lima empat puluh pagi masih gelap.
Kami berjalan dari gerbang depan melalui jalan berpohon yang sudah sepuluh tahun tidak kulewati. Gedung-gedung tua dengan atap genteng. Taman dengan bangku-bangku semen. Kantin yang masih tutup. Semuanya terasa lebih kecil dari yang kuingat.
Zara di depan. Keisha di sebelahku, menggenggam tanganku, dan sudah menangis sejak kami keluar dari hotel.
“Kei,” bisikku.
“Aku nggak nangis.”
“Kamu nangis.”
“Aku kelilipan.”
“Dari hotel sampai sini?”
“Kelilipan yang panjang.”
Kami sampai di lapangan rektorat jam enam kurang sepuluh.
Lapangan itu masih sama. Rumput hijau yang basah oleh embun. Gedung rektorat dengan pilar-pilar putih di ujung utara. Tiang bendera di tengah. Pohon-pohon besar di sepanjang sisi barat, dengan batang yang cukup lebar untuk menyembunyikan seseorang.
Tidak ada orang.
Atau begitulah yang terlihat.
Zara berhenti di tengah lapangan. Di satu titik tertentu. Dia menatap rumput di bawah kakinya, lalu menatap gedung rektorat, lalu menghitung sesuatu dengan matanya, seperti insinyur yang mengukur jarak.
“Di sini,” katanya. “Barisan gugus tujuh. Baris ketiga dari depan.”
Dia menatapku.
“Lo berdiri di sini, Ra.”
Aku menatap titik itu. Rumput yang basah. Embun yang berkilau di bawah cahaya pagi yang biru.
Sepuluh tahun lalu, di titik ini, aku berdiri dengan dada kosong dan tangan gemetar.
Aku melangkah ke titik itu.
Zara dan Keisha mundur. Pelan. Ke arah pohon-pohon di sisi barat. Keisha masih menggenggam tanganku sampai jarinya terlepas dari jariku, satu per satu, dan dia menangis lebih keras.
Lalu mereka menghilang di balik pohon.
Aku berdiri sendirian di tengah lapangan rektorat. Jam enam kurang lima. Dengan jaket hitam dan name tag di saku.
Lalu aku mendengar suara langkah kaki.
Dari arah gedung rektorat. Pelan. Teratur.
Aku menoleh.
Dia berjalan dari bayangan pilar-pilar putih. Kemeja putih. Lengan digulung sampai siku. Celana bahan hitam. Rambut yang disisir lebih rapi dari biasanya.
Dan dadanya kosong. Tidak ada apa pun di sana.
Dia berjalan ke arahku. Berhenti di sebelahku. Di titik di sebelah kananku, di barisan yang sama, seperti sepuluh tahun lalu.
Dia tidak menatapku. Dia menatap lurus ke depan, ke gedung rektorat. Seperti mahasiswa baru yang berdiri di barisan menunggu diperiksa.
“Pagi,” katanya.
“Pagi,” bisikku.
“Kamu dateng.”
“Kamu duluan,” kataku.
“Jam lima.”
“Kamu dateng jam lima?”
“Kebiasaan.” Ujung bibirnya naik sedikit. “Tapi tadi ada yang dateng jam empat.”
Aku menatapnya. “Siapa?”
Dia tidak menjawab. Tapi dari arah gedung rektorat, terdengar suara pintu terbuka. Dan langkah kaki yang berat. Dan suara deham yang sangat keras, sangat familiar, dan sangat menakutkan.
Aku menoleh.
Seorang laki-laki berjalan dari gedung rektorat. Lima puluhan, rambut sudah beruban di pelipis, perut yang lebih besar dari sepuluh tahun lalu, kemeja batik dosen, dan pengeras suara di tangan kanan.
Kak Bondan.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Kak Bondan berhenti lima meter dari kami. Menatap kami berdua dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan wajah serius. Persis seperti sepuluh tahun lalu. Lalu dia mengangkat pengeras suara ke mulutnya.
“MAHASISWA BARU.”
Suaranya menggelegar di lapangan kosong. Burung-burung beterbangan dari pohon. Dari balik salah satu pohon di sisi barat, aku mendengar Keisha menjerit kecil, lalu suara seseorang membekap mulutnya.
Kak Bondan berjalan ke arahku. Menatap dadaku. Jaket hitam. Tidak ada name tag.
Dia menatapku lama. Lalu, sangat pelan, ujung bibirnya bergetar. Seperti menahan senyum.
Dia lanjut ke sebelahku.
Ke Erga.
“MANA NAME TAG KAMU?”
Erga menatap lurus ke depan.
“Lupa, Kak.”
“LUPA?”
“Lupa, Kak.”
Kak Bondan menurunkan pengeras suaranya. Menatap Erga. Lalu menatapku. Lalu kembali ke Erga.
“Lari,” katanya. Tanpa pengeras suara. Suaranya sedikit bergetar sekarang. “Sepuluh keliling lapangan. Sekarang.”
Erga tidak ragu.
Dia lari.
Laki-laki dua puluh delapan tahun dengan kemeja putih dan celana bahan dan sepatu kulit, berlari mengelilingi lapangan rektorat jam enam pagi.
Aku berdiri di barisan dan menatapnya.
Keliling pertama. Dia berlari pelan, teratur, tenang. Seperti dia melakukan semua hal lain.
Keliling kedua. Kemejanya mulai basah di punggung.
Keliling ketiga. Dari balik pohon di sisi barat, aku mendengar Faisal berbisik terlalu keras: “Dia kuat banget.” Dan Zara: “Diem, Sal.”
Keliling keempat. Matahari mulai muncul di balik gedung-gedung di timur. Cahaya keemasan menyapu rumput yang basah.
Keliling kelima. Kak Bondan berdiri di sebelahku dengan tangan di belakang punggung, menghitung dengan suara pelan.
Keliling keenam. Kemejanya basah sepenuhnya. Menempel di punggung, di bahu. Rambutnya yang tadi disisir rapi sekarang berantakan, menempel di dahi.
Persis seperti sepuluh tahun lalu.
Air mataku sudah turun. Aku tidak tahu sejak keliling ke berapa.
Keliling ketujuh.
Dia berlari di sisi utara, di depan gedung rektorat. Lalu berbelok ke sisi timur. Lalu ke sisi selatan, mendekati barisan gugus tujuh. Mendekatiku.
Sepuluh tahun lalu, di titik ini, dia melewati barisanku, dan matanya bertemu mataku, dan dia mengangguk. Nggak apa-apa. Lalu lanjut berlari.
Hari ini, dia tidak lanjut berlari.
Dia berhenti.
Tepat di depanku. Terengah. Kemeja basah. Rambut berantakan. Matahari pagi di belakangnya, menyinari tepi tubuhnya dengan cahaya emas.
Dia menatapku.
Lalu dia berlutut.
Satu lutut. Di rumput yang basah oleh embun. Di lapangan rektorat, jam enam lewat dua puluh pagi.
Dari balik pohon-pohon di sisi barat, aku mendengar suara tercekik. Keisha. Lalu suara Putra: “Kei. Kei, napas. Jangan pingsan dulu.”
Erga merogoh saku celananya. Mengeluarkan kotak kecil dari kayu. Bukan kotak beludru seperti punya Putra. Kotak kayu tua, dengan sudut-sudut yang sudah aus dan engsel yang sedikit berkarat.
Dia membukanya.
Di dalamnya ada cincin. Emas kuning. Sederhana. Tanpa batu. Dengan goresan-goresan kecil di permukaannya, seperti cincin yang sudah dipakai sangat lama oleh seseorang yang sangat mencintai.
“Ra,” katanya.
Suaranya terengah. Bergetar. Tidak datar sama sekali.
“Sepuluh tahun lalu,” katanya, “di keliling ketujuh, aku lewat di depan kamu. Kamu pakai name tag aku. Kamu ngeliatin aku. Dan aku ngangguk dan lanjut lari.”
Dia menelan ludah.
“Aku lanjut lari sepuluh tahun,” katanya. “Dateng duluan buat semua orang. Nanggung semuanya sendiri. Ngitung semuanya. Aku lari terus, karena aku takut kalau aku berhenti, aku harus nunggu. Aku harus minta.”
Dia menatap cincin di kotak kayu itu.
“Hari ini aku berhenti.”
Matahari naik lebih tinggi. Cahaya emas menyinari wajahnya yang basah. Keringat. Atau air mata. Aku tidak bisa membedakannya.
“Aku nggak punya rumah,” katanya. “Aku punya kontrakan di Depok dan Ibu yang suka ngukur aku waktu tidur siang. Aku punya mobil tua yang ada karung goni di bawah ban serep. Aku punya tiga puluh persen kedai Faisal, yang dia paksa aku terima dengan ancaman jadi tukang beras paling sedih se-Garut.”
Dari balik pohon, Faisal terisak keras.
“Aku punya beskap dari kain lurik yang Ibu jahit,” lanjutnya. “Aku punya izin dari Papa kamu, yang bilang aku cukup karena aku dateng. Aku punya Tante Mira yang udah siapin tenda cadangan karena kemungkinan hujan tiga puluh persen.”
Aku tertawa di antara tangis.
“Dan aku punya cincin ini,” katanya. Pelan. “Cincin kawin Ibu. Dari Bapak. Dibeli pakai gaji pertama naik tiang. Bapak janji mau ganti yang ada batunya. Nggak pernah diganti. Ibu nggak mau diganti.”
Dia menatapku.
“Ibu bilang, biar Bapak ikut.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Aku nggak cukup, Ra,” katanya. “Menurut hitungan aku, aku masih belum cukup. Tapi aku dateng. Aku dateng ke tempat semuanya mulai, di jam yang sama, dan aku berhenti lari.”
Dia mengangkat kotak kayu itu sedikit. Ke arahku.
“Clara Anindya Halim,” katanya. “Kamu mau nikah sama aku?”
Aku tidak menjawab.
Belum.
Aku memasukkan tangan ke saku jaket hitamnya. Jaket yang kupakai sepuluh bulan dan tidak pernah kukembalikan.
Aku mengeluarkan name tag itu.
Karton kecil seukuran kartu nama. Ujung yang melengkung. Tinta spidol yang memudar dari hitam ke abu-abu. Dilaminating plastik bening, sudah sedikit menguning di pinggir.
ERGA — GUGUS 7.
Erga menatap name tag itu.
Wajahnya berubah. Pelan. Dari terengah, ke bingung, ke sesuatu yang sangat, sangat lain.
“Ra,” bisiknya. “Itu...”
“Kamu nggak pernah nanya,” kataku.
Suaraku bergetar. Air mataku turun deras. Aku tidak mengusapnya.
“Sepuluh tahun kamu nggak pernah nanya name tag kamu ke mana. Besoknya kamu bikin yang baru. Kamu nggak pernah nanya yang lama.”
Aku berlutut di depannya. Di rumput basah. Supaya mataku sejajar dengan matanya. Seperti dia berlutut di depanku di bahu tol jam tiga pagi. Seperti aku berlutut di depannya di teras rumah Ibu.
“Aku nyimpen,” kataku. “Sepuluh tahun. Di dompet. Di antara KTP sama foto keluarga. Aku laminating biar nggak robek. Aku bawa ke kantor, ke kondangan Gilang, ke Puncak, ke Papandayan, ke Labuan Bajo. Ke mana-mana.”
Erga tidak bergerak.
“Itu sebabnya aku hafal tulisan kamu,” bisikku. “Huruf kapital. A yang garis tengahnya rendah. G yang ekornya nekuk ke dalam. Aku ngeliatin tulisan ini tiap hari selama sepuluh tahun. Makanya aku tahu, waktu aku lihat fotokopi di meja Faisal.”
Air mata turun di pipinya sekarang. Aku bisa melihatnya. Bukan keringat. Air mata.
“Kamu tahu janji aku?” tanyaku. “Yang aku bilang di makam Bapak? Bagian nanti-ku?”
Dia menggeleng pelan.
“Hari itu,” kataku. “Hari kedua Ospek. Waktu kamu lari dan ngangguk ke aku di keliling ketujuh. Aku janji sama diri sendiri. Aku bakal nunggu sampai kamu berhenti lari.”
Aku menatapnya.
“Terus waktu pemakaman Bapak kamu, di bawah hujan, waktu aku berdiri di sebelah kamu, aku janji lagi. Aku bakal nunggu. Selama apa pun. Sampai kamu berhenti lari dan noleh ke aku.”
Aku mengangkat name tag itu. Membuka peniti kecil yang kulekatkan di belakangnya semalam, di kamar hotel, setelah Zara tertidur.
Dan aku menyematkannya di dada kemejanya. Di tempat yang sama di mana dia melepasnya sepuluh tahun lalu untuk disematkan di dadaku.
ERGA — GUGUS 7.
“Ini punya kamu,” bisikku. “Aku balikin. Sekalian sama orangnya.”
Erga menatap name tag di dadanya.
Lalu dia menatapku.
Dan dia menangis. Bukan air mata yang turun pelan seperti di makam Bapak. Menangis dengan seluruh wajahnya, bahu berguncang, napas tersengal, di lapangan rektorat jam enam lewat dua puluh lima pagi.
Aku meraih wajahnya dengan dua tangan.
“Jawabannya iya,” kataku. “Jawabannya udah iya dari sepuluh tahun lalu. Dari keliling ketujuh. Kamu cuma baru nanya sekarang.”
Dia mengambil cincin dari kotak kayu dengan tangan gemetar. Mengambil tangan kiriku. Menyelipkan cincin itu ke jari manisku.
Muat. Persis. Ukuran yang Ibu ukur waktu kebaya.
“Iya,” bisikku lagi. “Iya, Ga. Iya.”
Dia menarikku ke pelukannya. Kami berdua berlutut di rumput basah, di tengah lapangan rektorat, di titik barisan gugus tujuh, berpelukan dan menangis, dengan name tag karton tua di antara dada kami dan cincin emas Bapak di jariku dan matahari pagi Bandung menyinari kami dari timur.
Lalu dia menciumku.
Di tempat semuanya mulai.
Lapangan itu meledak.
Dari balik pohon-pohon di sisi barat, empat orang berlari keluar. Faisal paling depan, menangis dengan suara sangat keras, membawa nampan berisi tumpeng kecil. Tumpeng latihan, yang akhirnya sampai di waktunya. Putra di belakangnya, setengah menggendong Keisha yang matanya berputar ke atas.
Keisha pingsan.
Tentu saja Keisha pingsan.
Tapi kali ini, sebelum tubuhnya menyentuh rumput, Putra menangkapnya. Menahannya di bawah ketiak. Menurunkannya pelan dengan kepala di pangkuannya.
“GUE DULUAN!” teriak Putra, ke arah kami, dengan wajah basah dan seringai sangat lebar. “GA! LO LIHAT? KALI INI GUE YANG DULUAN!”
Erga, dengan aku masih di pelukannya, tertawa. Tertawa sambil menangis.
Zara berjalan paling belakang. Tenang. Datar. Dengan tangan bersedekap. Dia berhenti di depan kami, menatap kami berdua yang berlutut di rumput, menatap cincin di jariku dan name tag di dada Erga.
“Akhirnya,” katanya.
Lalu dia berbalik ke Faisal, mengambil tumpeng dari tangannya, meletakkannya di rumput, dan menggenggam tangan Faisal. Di depan semua orang. Erat.
Faisal menatap tangan mereka yang bertaut. Lalu menangis lebih keras.
Dari arah gedung rektorat, lebih banyak orang muncul. Papa, dengan kacamata emas dan tongkat yang masih dia pakai sejak ICU. Mama, dengan tisu di tangan, sudah menangis. Tante Mira, dengan kebaya fuchsia dan dua orang fotografer yang memotret dari segala sudut. Dan di belakang mereka, Bapak dan Ibu Faisal dari Garut, Bapak Keisha, orang tua Putra.
Dan Ibu.
Ibu Erga. Dengan kerudung cokelat dan kacamata di ujung hidung. Berjalan pelan di rumput basah, tangan memegang lengan Mama.
Ibu berhenti di depan kami. Menatap Erga. Menatap name tag di dadanya. Menatap cincin di jariku.
“Le,” katanya.
Erga mengangkat wajah dari bahuku. “Bu.”
“Kamu berhenti lari?”
“Iya, Bu.”
Ibu tersenyum. Matanya basah di balik kacamata.
“Bapakmu pasti seneng,” katanya. “Dia nggak pernah bisa berhenti.”
Lalu Ibu menoleh padaku. Mengulurkan tangan. Mengusap pipiku yang basah dengan ibu jarinya, seperti dia mengusap kain jahitan yang kusut.
“Nak,” katanya. “Kebayanya udah jadi. Tinggal dipakai.”
Aku memeluk Ibu. Dan Ibu memelukku balik, menepuk punggungku pelan, teratur, seperti mesin jahit.
Kak Bondan berdiri di pinggir lapangan dengan pengeras suara di tangan dan wajah yang basah.
Dia mengangkat pengeras suara ke mulutnya.
“MAHASISWA BARU ERGA.”
Semua orang menoleh.
“KAMU BARU LARI TUJUH KELILING.”
Erga menatap Kak Bondan. Lalu menatapku. Lalu tersenyum. Senyum anak kecil yang akhirnya masuk ke pasar malam.
“Tiga keliling lagi, Kak?” tanyanya.
Kak Bondan menurunkan pengeras suaranya. Menatap kami lama. Lalu menggelengkan kepala, mengusap matanya dengan lengan kemeja batik, dan tertawa.
“Nggak usah,” katanya. “Sepuluh tahun kamu udah lari cukup.”
Lapangan rektorat pecah oleh tawa dan tangis.
Dan aku, di tengah semuanya, dengan cincin emas di jari dan tangan Erga di tanganku, menatap laki-laki yang sepuluh tahun lalu mengangguk padaku di keliling ketujuh dan lanjut berlari.
Kali ini dia tidak lanjut berlari.
Kali ini dia berhenti. Di sini. Di sebelahku.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun reading
- 41 Epilog: Biar Kita Aja