Chapter Fifteen
Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan)
POV: Erga
Jam lima pagi, aku berjalan di kebun teh sendirian.
Itu jalur Rencana E. Aku memetakannya sendiri di halaman dua belas: keluar dari gerbang samping vila, turun lewat jalan setapak di antara barisan teh, belok kiri di pohon randu, terus sampai ke mata air kecil di ujung kebun. Dua kilometer bolak-balik. Cukup untuk menemani seseorang yang patah hati sampai matahari terbit.
Aku tidak menyangka akan berjalan di jalur itu sendirian.
Kabut masih tebal. Daun-daun teh basah oleh embun dan mengilap seperti dipernis. Di kejauhan, terdengar suara ayam dan motor pemetik teh pertama yang naik ke kebun. Udara dingin menusuk sampai ke tulang, dan aku tidak memakai jaket, karena jaketku sedang dipakai orang lain, dan aku tidak berniat memintanya kembali.
Aku berjalan dan berpikir.
Dia yang paling cantik di circle kita.
Bagi Putra, itu Keisha. Tentu saja Keisha. Siapa pun yang pernah melihat cara Putra memegangi tisu di kondangan, atau cara dia menunggu di parkiran sampai Keisha masuk ke rumah, atau cara dia menatap sofa saat menyanyikan lagu balada, seharusnya tahu.
Gue udah suka dia dari Ospek. Hari pertama.
Keisha datang jam enam dengan satu sepatu, menangis. Putra datang jam enam lewat sepuluh. Keisha masih menangis waktu itu, ke siapa saja yang mau mendengar.
Rumahnya searah sama gue.
Rumah Keisha di Cilandak. Rumah Putra di Pondok Indah. Searah. Clara tinggal di Kuningan. Sama sekali tidak searah.
Semua petunjuk itu ada di depanku. Jelas. Lengkap. Dan aku, yang membaca kode untuk hidup, yang bisa menemukan satu baris yang salah di antara sepuluh ribu baris skrip, membacanya salah.
Kenapa?
Aku berhenti di bawah pohon randu, tempat jalur itu berbelok ke kiri.
Karena satu Jakarta mengira Clara dan Putra. Itu alasan pertama. Alasan yang mudah.
Tapi alasan yang sebenarnya, yang kutemukan setelah satu kilometer berjalan di kabut, lebih tidak nyaman.
Aku membacanya salah karena aku ingin membacanya seperti itu.
Karena kalau Putra melamar Clara, maka hitunganku tidak perlu dihitung lagi. Empat puluh satu juta tujuh ratus ribu tidak perlu berubah jadi dua ratus juta. Aku tidak perlu memutuskan apa pun. Keputusannya sudah dibuat oleh orang lain, oleh laki-laki baik dengan cincin berlian, dan aku cukup jadi bagian lampu. Aku cukup tersenyum dan bilang dia orang baik, lalu pulang ke kursi paling ujung dan menyimpan semuanya rapi, seperti sepuluh tahun terakhir.
Itu jalan yang paling mudah. Dan aku memilihnya tanpa sadar bahwa aku sedang memilih.
Lo nggak pernah bohong ke orang lain. Ke diri sendiri, lo jago banget.
Zara benar. Zara selalu benar. Itu yang paling menyebalkan dari Zara.
Dan sekarang, aku tahu.
Bukan menduga. Bukan merasakan samar-samar dari cara dia duduk di sebelahku atau menyuapiku nasi goreng dingin. Bukan menebak dari jaket yang tidak dikembalikan atau es teh yang datang sebelum diminta.
Tahu.
Tadi malam, di gazebo, waktu Keisha pingsan di pangkuanku dan Putra tertawa histeris dan Faisal berteriak DIA MATI, aku mengangkat kepala dan melihat Clara. Berdiri di jalur lilin. Menangis dan tertawa sekaligus. Wajahnya bukan wajah perempuan yang lega karena tidak jadi dilamar orang yang tidak dia cintai.
Wajahnya wajah perempuan yang baru saja melihat sesuatu runtuh, lalu sadar bahwa yang runtuh itu bukan miliknya.
Dan kalimatnya di siang hari kembali padaku. Pelan. Kata demi kata.
Kamu yang nyiapin ini... buat aku sama orang lain?
Bukan kenapa Putra. Bukan aku nggak mau sama Putra. Yang dia pertanyakan bukan Putra. Yang dia pertanyakan adalah aku. Kenapa aku yang menggantung lampunya. Kenapa aku rela.
Sama orang lain.
Orang lain selain aku.
Aku sudah tahu sejak lama. Kalau mau jujur, dan pagi ini, di kebun teh jam lima pagi, aku memutuskan untuk jujur. Aku sudah tahu sejak kondangan Gilang, waktu dia menggenggam tanganku setelah Dion pergi. Sejak bubur ayam di depan bengkel. Sejak plester dinosaurus. Sejak nanti aku balikin semua, sekalian sama orangnya. Mungkin sejak lebih lama dari itu.
Aku tahu, dan aku menyimpannya di tempat yang sama dengan semua hal yang tidak perlu dibicarakan.
Tapi semalam aku melihat wajahnya. Dan sekarang aku tidak bisa menyimpannya lagi.
Lalu aku membawakan teh jahe ke balkon, berlutut di depannya, dan yang keluar dari mulutku cuma maaf soal tadi siang.
Karena hal yang membuatku diam sepuluh tahun belum berubah. Satu catatan di HP. Satu angka. Satu kata.
Nanti.
“GA!”
Aku menoleh. Putra berlari menuruni jalan setapak dengan kaus vila dan sandal jepit, terengah, rambut berantakan. Wajahnya bersinar seperti matahari yang belum terbit.
“Lo ngapain jam segini?”
“Jalan.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Ini jalur Rencana E.” Putra berhenti di sebelahku, membungkuk dengan tangan di lutut. “Gue baca rundown-nya. Halaman dua belas. Pohon randu, belok kiri.”
“Kamu hafal?”
“Gue baca rundown lo tiap malam sebelum tidur, Ga. Kayak baca doa.” Dia menegakkan punggung dan tertawa, napasnya mengepul di udara dingin. “Gue nggak bisa tidur. Gue terlalu seneng. Keisha masih tidur sambil meluk tangan yang pakai cincin. Gue lihat lo keluar dari jendela, jadi gue nyusul.”
Kami berjalan bersama. Kabut mulai menipis. Di timur, langit berubah dari abu-abu menjadi merah muda pucat.
“Ga,” kata Putra setelah beberapa saat.
“Hm.”
“Makasih.”
“Udah.”
“Belum. Gue belum bilang makasih dengan bener.” Dia berhenti dan berbalik menghadapku. “Lampu-lampu itu, Ga. Lilin. Bunga. Rencana sampai E. Lo nangkep Keisha sebelum dia jatuh. Lo... semua itu. Gue nggak bisa ngelakuin semua itu sendiri. Gue nggak akan berani.”
“Kamu berani. Kamu yang berlutut.”
“Karena lo yang bikin tempat buat gue berlutut.” Putra menatapku. Lalu matanya menyipit sedikit, seperti dokter yang baru menemukan gejala yang tidak cocok dengan diagnosis. “Ga. Tunggu.”
“Apa?”
“Waktu di rooftop. Gue bilang ‘dia yang paling cantik’. Lo diem lama. Terus lo bilang, ‘Dia pantas sama orang baik.’”
Aku tidak menjawab.
“Lo kira gue mau ngelamar siapa?”
Kabut bergerak di sekitar kami. Seekor burung berkicau di pohon randu.
“Clara,” kataku.
Putra menatapku. Mulutnya terbuka. Tertutup. Terbuka lagi.
“Clara?”
“Iya.”
“CLARA?”
“Iya, Put.”
Putra menutup wajahnya dengan dua tangan. Bahunya berguncang. Awalnya aku kira dia menangis, lalu aku sadar dia tertawa. Tertawa sampai membungkuk, sampai harus berpegangan pada batang randu.
“Ga,” katanya di antara tawa. “Ga, lo... Clara? Gue sama Clara? Lo serius?”
“Satu Jakarta—”
“Satu Jakarta goblok!” Itu kalimat Faisal, keluar dari mulut Putra. Dia menegakkan diri, mengusap mata. “Gue sama Clara udah ngobrolin itu bertahun-tahun lalu. Kita ketawa. Kita sepakat itu konyol. Gue nggak pernah ngeliat Clara kayak gitu, dan Clara...”
Dia berhenti.
Tawanya mereda. Pelan-pelan, wajahnya berubah. Dari geli, menjadi bingung, menjadi sesuatu yang sangat serius.
“Ga,” katanya pelan. “Lo tahu kan. Soal Clara.”
Aku menatap kebun teh. Matahari sudah muncul sedikit di balik bukit, mewarnai kabut dengan emas.
“Tahu,” kataku.
“Sejak kapan?”
“Lama.”
“Dan lo nyiapin lamaran yang lo kira buat dia. Sama orang lain.” Putra menatapku seperti menatap pasien yang datang ke IGD dengan pisau tertancap di dada tapi bilang dia cuma sakit perut. “Kenapa?”
“Karena kamu orang baik.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban, Put.”
“Ga.” Putra melangkah lebih dekat. “Lo tahu dia suka sama lo. Dan lo... lo suka sama dia. Jangan bohong. Gue lihat lo nangkep Keisha semalem, tapi lo nggak ngeliatin Keisha. Lo ngeliatin Clara. Selama dua menit penuh. Gue hitung, soalnya gue bingung kenapa lo nggak ngeliatin gue yang lagi ngelamar.”
Aku tidak menjawab.
“Terus kenapa?” tanya Putra lagi. “Kenapa lo diem?”
Aku menatapnya. Sahabatku sejak push-up berdampingan di lapangan rektorat. Laki-laki yang sepuluh tahun menyimpan perasaannya untuk perempuan yang menangis dengan satu sepatu, karena takut. Laki-laki yang semalam akhirnya berlutut.
“Belum,” kataku.
“Belum apa?”
“Belum waktunya.”
Putra diam. Lalu, perlahan, dia tertawa lagi. Bukan tawa geli. Tawa yang sedih dan mengerti.
“Lo tahu nggak, Ga,” katanya, “gue juga bilang gitu ke diri sendiri. Sepuluh tahun. ‘Belum waktunya.’ ‘Nanti kalau gue udah yakin.’ ‘Nanti kalau gue udah siap.’” Dia menepuk bahuku. “Dan lo tahu apa yang gue bilang ke lo di rooftop?”
Aku tahu.
Kalau gue nunggu sampai yakin, gue bakal nunggu selamanya.
“Lo sama aja kayak gue sepuluh tahun, Ga,” kata Putra. “Bedanya, gue punya lo yang nyiapin gazebo. Lo punya siapa?”
Sarapan di vila jam tujuh adalah perayaan kedua.
Faisal membuat nasi goreng dengan tulisan SELAMAT dari kecap manis di atas setiap piring. Hurufnya meleleh, jadi tulisannya terbaca SEL4M4T di piring Keisha dan SLMT di piring Zara. Zara bilang itu terlihat seperti singkatan nama perusahaan konstruksi.
Keisha menceritakan ulang kejadian semalam dengan semangat seorang saksi mata yang baru selamat dari kecelakaan.
“Aku pingsan TIGA kali,” katanya, mengangkat tiga jari. Ibu jarinya, dengan cincin berlian ukuran enam, berkilau di bawah lampu dapur. “Yang pertama karena kaget. Yang kedua karena lihat cincin. Yang ketiga...”
“Yang ketiga kamu nggak pingsan,” kata Putra. “Yang ketiga kamu bangun terus teriak ‘IYA’.”
“Oh iya. Yang ketiga aku nggak pingsan.” Keisha mengangguk khidmat. “Jadi dua kali pingsan, satu kali iya.”
“Gue hampir mati,” kata Faisal. “Gue kira dia kena serangan jantung.”
“Orang muda jarang kena serangan jantung, Sal,” kata Putra.
“Keisha bukan orang biasa.”
“Itu bener.”
Lalu Keisha memutuskan untuk menelepon semua orang. Ibunya di Cilandak. Kakaknya di Surabaya. Neneknya di Solo. Dan, karena mereka berteman di WhatsApp, Ibu.
“Bu Ratnaaa!” teriak Keisha ke layar HP. “Aku dilamar! Sama Putra!”
Di layar, wajah Ibu muncul dengan kacamata di ujung hidung dan meteran jahit di leher. Dia menatap Keisha. Menatap cincin di ibu jarinya. Lalu matanya melebar.
“Lho? Putra?”
“Iya, Bu!”
“Sama Keisha?”
“Iya!”
Ibu terdiam sebentar. Lalu berkata, dengan suara yang terdengar jelas di seluruh dapur vila:
“Lho, Ibu kira yang duluan Erga.”
Dapur sunyi.
Faisal berhenti mengunyah. Putra tersedak kopi. Zara meletakkan sendoknya dengan bunyi pelan di atas piring SLMT. Keisha menatap layar, lalu menatapku, dengan mulut terbuka.
Dan Clara, yang sejak pagi duduk di ujung meja paling jauh dariku, berbicara dengan semua orang kecuali aku, tersenyum terlalu cerah untuk perempuan yang menangis di balkon sampai jam satu pagi, membeku dengan gelas jus di tangan.
“Bu,” kataku.
“Ibu cuma bilang, Le.” Ibu tersenyum ke kamera. “Selamat ya, Nak Keisha. Nanti Ibu jahitin kebaya. Ukurannya udah ada kok, kan kamu udah kirim.”
Keisha menatap layar. “Itu... ukuran buat kebaya ini, Bu?”
“Buat nanti.”
Panggilan berakhir.
Tidak ada yang bicara selama lima detik.
Lalu Faisal mulai tertawa. Lalu Putra. Lalu Keisha, yang tertawa sambil menangis karena dia memang selalu menangis. Zara tidak tertawa, tapi dia menutupi mulutnya dengan tangan dan bahunya bergetar.
Clara tidak tertawa.
Clara meletakkan gelas jusnya. Lalu dia berdiri, mengambil teko teh dari tengah meja, berjalan melewati Putra dan Keisha dan Faisal, dan berhenti di sebelah kursiku.
Dia menuangkan teh ke gelasku. Gelas yang belum kuminta untuk diisi.
Lalu dia membungkuk sedikit, cukup dekat sampai rambutnya menyentuh bahuku, dan berbisik dengan suara yang hanya bisa kudengar:
“Lampu balkonku. Kamu janji habis Puncak.”
“Iya.”
“Minggu ini.”
“Iya.”
“Kamu nggak boleh bilang ‘nanti’.”
Aku menoleh. Wajahnya sangat dekat. Matanya masih sedikit bengkak sisa semalam. Tapi tidak ada lagi air mata di sana. Yang ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah kulihat di mata Clara selama sepuluh tahun.
Tekad.
“Oke,” kataku.
Clara tersenyum, menegakkan badan, dan kembali ke kursinya di ujung meja. Dia tidak menatapku lagi sepanjang sarapan.
Tapi gelasku tidak pernah kosong.
Kami pulang jam satu siang.
Clara naik mobil Putra, bersama Keisha. Dia bilang mau “dengar detail lamaran dari sumber utama”. Keisha menyambutnya dengan teriakan bahagia. Putra menatapku dari balik setir dengan alis terangkat.
Aku menyetir pulang dengan Zara di kursi penumpang dan Faisal di jok belakang, yang tertidur dalam sepuluh menit dengan mulut terbuka dan sekotak sisa puding TETAP SEMANGAT PUT di pangkuannya.
Zara diam sampai gerbang tol Ciawi.
“Ga.”
“Hm.”
“Lo udah tahu, kan.”
Aku menatap jalan tol di depan.
“Tahu.”
“Terus?”
“Belum.”
Zara mendengus. Pelan, tapi aku mendengarnya.
“Lo tahu nggak,” katanya, menatap keluar jendela, “gue udah bilang ke Clara, gue bakal ngomong ke lo kalau dia nggak ngomong. Gue kasih dia waktu sampai gue bosen nunggu.”
“Terus?”
“Terus gue bosen.” Zara menoleh padaku. “Tapi gue nggak bakal ngomong.”
“Kenapa?”
“Karena bukan gue yang harus ngomong.” Dia kembali menatap jendela. “Dan bukan lo juga, ternyata. Lo nggak bakal ngomong. Gue udah nyerah nungguin lo.”
“Terus siapa?”
Zara tidak menjawab langsung. Dia menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap kebun teh yang mulai berganti menjadi deretan ruko dan papan iklan.
“Siap-siap aja, Ga,” katanya akhirnya.
“Siap-siap apa?”
Ujung bibir Zara terangkat. Senyum yang sangat tipis, sangat langka, dan entah kenapa, sangat mengancam.
“Lo bakal tahu rasanya dikejar.”
Di jok belakang, Faisal mendengkur keras dan bergumam dalam tidurnya: “Puding... jangan diambil...”
Aku menatap jalan tol di depanku, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan.
- 1 Kursi Paling Ujung
- 2 Cowok yang Selalu Datang Duluan
- 3 Temennya Aja
- 4 Gugus Tujuh
- 5 Padel Hari Minggu
- 6 APAR di Bagasi
- 7 Putra Minta Tolong
- 8 Yang Nggak Pernah Minta
- 9 Gugus 7 Minus Clara dan Keisha
- 10 Rumah, Nanti
- 11 Tol Jam Dua Pagi
- 12 Vila
- 13 Cincin di Gazebo
- 14 Balkon
- 15 Keisha Bilang Iya (Setelah Pingsan) reading
- 16 Calon dari Tante
- 17 Kelas Masak Apartemen Zara
- 18 CFD
- 19 Voice Note Jam Sebelas
- 20 Papandayan
- 21 Tegal Alun, Jam Lima Pagi
- 22 Turun Gunung, Naik Status
- 23 Di Bawah Meja
- 24 Bekal yang Mencurigakan
- 25 Pasar Malam
- 26 Erga Demam
- 27 Kebaya untuk Entah Kapan
- 28 Makan Malam Keluarga Halim
- 29 Empat Menit
- 30 Anak yang Tadi
- 31 Labuan Bajo
- 32 Dek Kapal
- 33 Rumah dengan Jendela Besar
- 34 Laporan Investor
- 35 Kamu Tahu dari Siapa?
- 36 Minggu Ketiga
- 37 Giliran Kami
- 38 Ra, Bantuin Aku
- 39 Gugus 7 Minus Clara
- 40 Sepuluh Tahun
- 41 Epilog: Biar Kita Aja