← Biar Aku Aja

Chapter Twenty Six

Erga Demam

POV: Clara


Selasa jam dua belas lewat lima, aku berdiri di lobi kantor asuransi di Kemang dengan tas bekal bunga-bunga di tangan, dan Erga tidak turun.

Mbak Rini menatapku dari balik meja resepsionis dengan wajah yang aneh. Bukan wajah bersemangat yang biasa dia pakai tiap kali aku datang. Wajah yang ragu-ragu.

“Mbak Clara,” katanya. “Mas Erga nggak masuk hari ini.”

“Nggak masuk?”

“Izin sakit. Dari pagi.”

Aku menatapnya.

Erga tidak pernah sakit. Dalam sepuluh tahun, aku tidak pernah sekali pun mendengar Erga sakit. Waktu kami semua kena flu di tahun kedua kuliah, satu kos tumbang bergantian, Erga yang merawat semua orang. Membuat bubur, mengantar obat, mengukur suhu badan kami satu per satu dengan termometer yang dia beli di apotek dekat kampus. Dia tidak tertular. Faisal bilang Erga punya sistem imun dari baja. Keisha bilang Erga mungkin robot.

“Sakit apa?” tanyaku.

“Nggak tahu, Mbak. Bayu yang tahu.”

Bayu muncul dari lift tiga puluh detik kemudian, seperti dia sudah menunggu dipanggil. Dia melihatku dan wajahnya langsung berubah menjadi wajah orang yang tahu dia akan dimarahi.

“Mbak Clara.”

“Erga sakit apa?”

“Demam, Mbak. Dia WA ke grup jam enam pagi. Katanya ‘izin, nggak enak badan’.”

“Cuma itu?”

“Cuma itu.”

“Dia nggak bilang ke aku.”

Bayu menatapku. Lalu menatap tas bekal di tanganku. Lalu menatap lantai.

“Mungkin dia nggak mau Mbak khawatir,” katanya pelan.

Aku sudah berjalan ke pintu.


Empat puluh lima menit dari Kemang ke Beji, Depok. Aku menyetir dengan satu tangan dan menelepon Erga dengan tangan lain.

Nada sambung. Tidak diangkat.

Nada sambung lagi. Tidak diangkat.

Erga mengangkat di nada sambung pertama. Selalu. Jam dua pagi di bahu tol. Jam lima pagi waktu aku meneleponnya duluan. Selalu nada sambung pertama.

Kali ketiga, diangkat. Tapi bukan suara Erga.

“Halo? Nak Clara?”

“Ibu?”

“Iya, Nak. Erga lagi tidur. HP-nya bunyi terus, Ibu angkat.”

“Bu, Erga sakit apa?”

Jeda. Lalu suara Ibu, pelan, seperti tidak mau terdengar oleh orang di kamar sebelah:

“Panas, Nak. Tinggi. Dari semalam. Dia bilang nggak apa-apa, tapi Ibu ukur tadi pagi, tiga puluh sembilan setengah.”

Aku hampir menabrak motor di depan.

“Udah ke dokter?”

“Dia nggak mau. Katanya cuma demam biasa. Katanya minum obat aja nanti juga turun.” Suara Ibu semakin pelan. “Nak. Dia nggak pernah sakit. Sepuluh tahun Ibu nggak pernah lihat dia sakit begini. Ibu agak takut.”

“Aku ke sana, Bu. Lima belas menit.”

“Nak, nggak usah repot—”

“Lima belas menit, Bu.”


Rumah kontrakan Erga di ujung gang kecil di Beji, rumah petak dengan cat hijau pudar dan pagar besi pendek. Ada pot-pot tanaman cabai di teras. Mesin jahit terdengar dari dalam, berhenti saat aku membuka pagar.

Ibu membuka pintu sebelum aku mengetuk. Wajahnya lelah. Kacamata di ujung hidung. Meteran jahit di leher, seperti biasa.

“Nak.”

“Bu.” Aku memeluknya. Dia memelukku balik, erat, dengan tangan kurus yang hangat. “Di mana dia?”

“Kamar.”

Kamarnya di ujung lorong pendek. Pintunya setengah terbuka. Aku belum pernah masuk ke kamar Erga. Sepuluh tahun, aku belum pernah melihat kamarnya. Waktu Lebaran kami datang ke sini ramai-ramai, kami selalu duduk di ruang tamu, di antara kain-kain jahitan Ibu dan mesin jahit tua.

Aku mendorong pintu.

Kamar itu kecil. Lebih kecil dari kamar mandi apartemenku. Kasur busa di lantai, satu meja kerja dengan laptop dan dua monitor bekas, satu lemari plastik yang pintunya tidak tertutup rapat. Jendela kecil yang menghadap tembok tetangga, dengan gorden tipis berwarna biru pudar. Semua rapi. Sangat rapi. Seperti kamar seseorang yang tidak punya banyak barang dan menjaga setiap barang yang dia punya.

Di dinding di atas meja kerja, ada dua bingkai foto.

Satu, foto kami berenam di hari terakhir Ospek. Kaus gugus berwarna hijau tua. Wajah-wajah delapan belas tahun yang belum tahu apa-apa. Faisal dengan mulut penuh. Keisha menangis. Putra bosan. Zara tanpa ekspresi. Aku di tengah, tersenyum ke kamera. Erga di ujung, paling pinggir, setengah terpotong.

Dua, foto seorang laki-laki paruh baya dengan kumis tipis dan senyum yang sangat mirip senyum Erga. Seragam biru tua dengan logo perusahaan listrik di dadanya. Berdiri di depan tiang listrik, dengan helm kuning di tangan.

Bapak.

Dan di kasur busa di lantai, di bawah selimut tipis bermotif kotak-kotak, Erga.

Dia tidur miring, menghadap dinding. Rambutnya basah oleh keringat. Pipinya merah, tidak wajar. Napasnya cepat dan pendek. Selimutnya sudah setengah tersingkap, kaus abu-abunya basah di punggung.

Aku berlutut di sebelah kasur.

“Ga.”

Dia tidak bergerak.

Aku menyentuh dahinya. Panas. Sangat panas. Panas yang membuat telapak tanganku kaget dan refleks menarik diri.

“Ga.”

Dia bergerak sedikit. Mengerjap. Membuka mata, yang merah dan berkaca-kaca karena demam. Matanya mencari, tidak fokus, lalu menemukanku.

“Ra?”

“Iya.”

“Kamu ngapain di sini?”

“Kamu ngapain nggak bilang?”

Dia menatapku. Kebingungan. Lalu, pelan-pelan, pemahaman. Lalu, sedikit, rasa bersalah.

“Cuma demam,” katanya. Suaranya serak dan lemah. “Nggak apa-apa.”

“Tiga puluh sembilan setengah, Ga.”

“Ibu ngukur?”

“Ibu takut.”

Dia memejamkan mata. “Ibu suka berlebihan.”

“Ibu nggak berlebihan. Kamu yang berlebihan.” Suaraku naik. Aku tidak bermaksud membuatnya naik. “Kamu sakit dari semalam. Kamu WA grup kantor jam enam pagi. Kamu WA Bayu. Kamu nggak WA aku. Aku tahunya dari Mbak Rini di lobi, Ga. Dari resepsionis.”

“Aku nggak mau kamu khawatir.”

“Aku khawatir, Ga! Aku khawatir banget! Aku nyetir empat puluh lima menit sambil nelepon kamu tiga kali dan kamu nggak angkat, padahal kamu selalu angkat di nada pertama!”

Dia membuka mata lagi. Menatapku. Lama.

Air mataku sudah turun. Aku tidak tahu kapan mulainya.

“Ra,” katanya pelan.

“Kamu itu pacar aku,” kataku, dengan suara pecah. “Bukan pahlawan aku. Pacar. Pacar itu bilang kalau sakit. Pacar itu nggak sembunyi. Pacar itu nggak nanggung sendirian.”

Erga tidak menjawab.

Lalu tangannya bergerak dari bawah selimut. Pelan. Panas. Mencari tanganku di atas kasur. Menemukannya. Menggenggamnya, lemah.

“Maaf,” bisiknya.

“Jangan minta maaf. Bilang aja lain kali.”

“Iya.”

“Janji?”

“Janji.”

Aku mengusap air mata dengan punggung tangan yang tidak dia genggam. Lalu aku menarik napas panjang dan menegakkan punggung.

“Oke,” kataku. “Sekarang kamu dengerin aku.”


Aku menelepon Putra.

Putra datang satu jam kemudian, langsung dari rumah sakit, masih memakai jas putih dan stetoskop di leher. Dia memeriksa Erga dengan wajah serius, dokter yang sangat berbeda dari Putra yang berdiri di atas kursi Dapur Isal untuk berpidato.

“Infeksi virus,” katanya akhirnya. “Kemungkinan besar. Tenggorokannya merah, ada pembesaran kelenjar sedikit. Bukan DBD, trombositnya harus dicek besok buat mastiin, tapi gejalanya nggak ke sana.” Dia menatap Erga. “Lo kecapekan, Ga. Kapan terakhir lo tidur delapan jam?”

Erga tidak menjawab.

“Dia nggak tidur waktu Papandayan,” kataku. “Ngecek Faisal tiap jam.”

“Itu tiga minggu lalu.”

“Sebelumnya dia nyiapin gazebo kamu,” kataku. “Rundown empat belas halaman. Tiap malam.”

Putra menatap Erga. Erga menatap langit-langit.

“Terus minggu lalu dia lembur buat proyek sampingan,” lanjutku. “Aku tahu karena dia bales chatku jam dua pagi.”

Putra menoleh padaku. “Proyek sampingan?”

Aku mengangkat bahu. “Aku nggak tahu proyek apa. Dia nggak cerita.”

Putra kembali menatap Erga. Lama. Matanya menyipit, persis seperti di kebun teh waktu dia sadar Erga mengira lamarannya untukku.

“Ga,” katanya. “Lo lagi ngumpulin duit buat apa?”

Erga memejamkan mata. “Aku ngantuk, Put.”

“Ga.”

“Ngantuk.”

Putra menghela napas. Lalu menulis resep obat penurun panas dan vitamin, menyerahkannya padaku, dan menepuk bahu Erga dua kali.

“Istirahat,” katanya. “Tiga hari. Jangan kerja. Jangan lembur. Jangan ngurusin orang lain.” Dia menatapku. “Ra. Pastiin.”

“Pasti.”


Lalu circle datang.

Faisal datang jam tiga sore dengan enam rantang. Enam. Bubur ayam, sup ayam jahe, nasi tim, perkedel kentang, sayur bening bayam, dan puding cokelat dengan tulisan CEPET SEMBUH GA dari vla putih. Dia menyusun semuanya di meja kecil di ruang tamu dan mulai menyuapi Ibu karena Ibu terlihat “kurang makan juga”.

Keisha datang jam empat dengan boneka kucing raksasa yang lebih besar dari dirinya. Dia meletakkannya di sudut kamar Erga, menghadap kasur, “biar ada yang jagain”. Lalu dia menangis karena Erga terlihat “kecil banget di kasur”.

Zara datang jam lima dengan termometer digital, oksimeter, dan lembar Excel berisi jadwal minum obat, pengukuran suhu, dan asupan cairan per jam, yang dia cetak dan tempel di pintu kamar Erga dengan selotip.

“Ini berlebihan,” gumam Erga dari kasur.

“Lo bikin tabel jadwal kompres buat gue waktu kaki gue terkilir,” kata Zara. “Warna-warni. Ini balas dendam.”

Putra kembali jam enam setelah shift, membawa hasil cek trombosit yang dia minta dari lab di dekat situ. Normal. Bukan DBD. Semua orang menghela napas lega.

Lalu Faisal menyuapi Erga sup ayam jahe. Keisha mengelap dahi Erga dengan handuk dingin. Zara mengukur suhu setiap tiga puluh menit dan mencatatnya di tabel. Putra duduk di lantai, bersandar ke dinding, tertidur karena kelelahan shift.

Dan Ibu, di ambang pintu kamar, menatap ruangan dua kali tiga meter yang tiba-tiba penuh dengan enam orang, boneka kucing raksasa, enam rantang makanan, dan tabel Excel di pintu, dengan mata yang berkaca-kaca.

“Le,” katanya pelan. “Ibu nggak pernah lihat kamar kamu serame ini.”

Erga, dari kasur, menatap ibunya. Lalu menatap kami semua. Wajahnya, merah karena demam, berubah sesuatu yang aku tidak bisa deskripsikan. Seperti seseorang yang sedang dipeluk oleh sesuatu yang terlalu besar untuk dipegang.

“Aku juga, Bu,” bisiknya.


Jam sembilan malam, semua orang pulang. Faisal mengantar Keisha. Putra mengantar Zara. Ibu tidur di kamarnya setelah aku memaksa, karena dia sudah begadang dari semalam.

Aku tinggal.

Aku duduk di lantai di samping kasur busa, bersandar ke dinding, dengan termometer digital Zara di tangan dan tabel Excel di pangkuan. Suhu Erga turun pelan-pelan. Tiga puluh sembilan setengah. Tiga puluh sembilan. Tiga puluh delapan koma tujuh.

Erga terbangun jam sembilan lewat tiga puluh. Menatapku.

“Kamu belum pulang.”

“Belum.”

“Udah malam.”

“Aku tahu.”

“Besok kamu kerja.”

“Aku izin.”

Dia menatapku. “Kamu nggak pernah izin.”

“Orang bisa berubah, Ga.”

Dia tersenyum. Lemah. Tapi tersenyum.

Aku meletakkan telapak tanganku di dadanya. Di atas kaus abu-abu yang sudah kuganti dengan kaus kering satu jam lalu, dengan Ibu yang membantu dan Erga yang terlalu lemah untuk protes. Jantungnya berdebar di bawah telapak tanganku. Cepat. Dan dadanya panas.

“Kamu panas banget,” kataku.

“Demam.”

“Bukan, maksudku...” Aku berhenti. Menatap tanganku di dadanya. Menatap wajahnya, merah, rambut berantakan, mata setengah terpejam, bibir sedikit kering. Kaus abu-abu tipis yang menempel di bahunya. “...ya, itu juga.”

Erga menatapku.

Lalu dia tertawa. Lemah, serak, dan terputus-putus karena batuk. Tapi tertawa.

“Ra,” katanya di antara tawa dan batuk. “Aku sakit, bukan buta.”

Aku menutup wajah dengan tabel Excel Zara. “Diam.”

“Kamu yang ngomong.”

“Itu keceplosan.”

“Itu jujur.”

“Itu keceplosan yang jujur. Tetap keceplosan.” Aku menurunkan tabel itu. Dia masih menatapku, dengan senyum kecil yang lemah dan mata yang lebih jernih dari tadi siang. “Ga.”

“Hm.”

“Mulai sekarang ada aturan.”

“Aturan apa?”

“Kalau kamu sakit, laporan.” Aku mengangkat satu jari. “Kalau kamu capek, laporan.” Dua jari. “Kalau kamu kangen, laporan.” Tiga jari. “Kalau kamu lihat cewek cantik...”

“Laporan?”

“Nggak.” Aku menurunkan tanganku. “Langsung ke aku aja. Biar aku tahu siapa.”

Erga menatapku lama.

“Udah,” katanya pelan.

“Udah apa?”

“Udah ke kamu dari tadi.”

Aku menatapnya. Dia tidak tersenyum. Wajahnya serius, datar, tenang, persis seperti waktu dia bilang kencengnya dari sebelum gendong. Tapi matanya tidak datar sama sekali.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menggenggam tangannya yang panas.


Jam sepuluh, dia tertidur lagi.

Aku tidak pulang. Aku duduk di lantai, bersandar ke dinding, dengan tangannya di tanganku di atas kasur.

Lalu aku menatap dinding di atas meja kerja. Foto Bapak, dengan seragam biru tua dan helm kuning.

“Ga,” bisikku, tidak yakin dia mendengar. “Bapak kamu dulu kerja di PLN?”

Diam. Lalu, dari kasur, dengan suara setengah tidur yang lembek karena demam:

“Teknisi. Naik tiang. Benerin kabel.”

“Kamu kayak dia ya.”

“Hm.”

“Bapak kamu meninggal kapan?”

Hening lama. Aku pikir dia sudah tertidur.

Lalu, sangat pelan, hampir seperti mengigau:

“Minggu ketiga.”

Aku membeku.

“Minggu ketiga apa?”

Tapi napasnya sudah teratur dan dalam. Dia tertidur. Tangannya masih di tanganku, menggenggam sedikit lebih erat, seperti dalam tidurnya dia takut aku pergi.

Aku menatap foto Bapak di dinding. Laki-laki dengan kumis tipis dan senyum Erga.

Minggu ketiga.

Aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku menyimpannya. Satu kerang lagi dari pantai.

Lalu aku menyandarkan kepalaku ke tepi kasur, di samping tangan kami yang bertaut, dan memejamkan mata.

Aku tertidur di sana. Di lantai. Di kamar dua kali tiga meter yang dindingnya menghadap tembok tetangga. Dengan tangan Erga yang panas di tanganku dan boneka kucing raksasa Keisha menatap kami dari sudut ruangan.

Ibu menemukan kami jam empat pagi.

Aku tahu, karena waktu aku bangun jam enam, ada selimut di bahuku yang tidak ada di sana semalam. Dan di dapur, ada dua gelas teh manis yang masih hangat, dengan sticky note kuning bertuliskan tulisan tangan yang gemetar:

Buat dua anak Ibu. —Ibu