← Bangku Sebelah

Chapter Nine

Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ

POV: Arga


Aku bangun jam empat.

Bukan alarm. Aku sudah lama tidak pakai alarm. Badanku bangun sendiri di jam itu karena adonan roti manis harus diuleni jam empat kalau mau matang sebelum toko buka.

Ibu sudah di dapur. Ibu selalu sudah di dapur.

“Nggak usah,” katanya, seperti tiap pagi.

“Udah bangun,” kataku, seperti tiap pagi.

Dan seperti tiap pagi, Ibu tidak mengusirku lagi.

Aku uleni adonan sampai jam lima. Ayah datang jam lima lewat, menyalakan oven besar, dan kami bertiga bekerja tanpa banyak bicara sampai jam enam. Itu bagian hari yang paling aku suka. Tidak ada yang perlu dijelaskan di dapur. Adonan tidak takut sama aku.

Jam enam aku mandi. Jam enam dua puluh aku berangkat.

Jam enam empat puluh dua, portal gerbang.

Pak Sudir sudah di situ. Aku taruh tas di pos. Aku angkat ujungnya sepuluh senti. Beliau dorong.

“Makasih, Ga.”

“Iya, Pak.”

Sebelas detik. Kalau lebih dari itu, artinya rodanya makin parah dan aku harus bawa pelumas hari Jumat.

Aku bukan orang baik. Aku cuma tahu portal itu macet di titik yang sama tiap hari, dan aku lewat situ tiap hari, dan cuma butuh sebelas detik.

Kalau orang tahu itu dan tetap lewat, itu baru aneh.


Aku sampai kelas jam tujuh kurang sepuluh.

Dia sudah di situ.

Dua puluh tiga hari.

Aku tahu angkanya karena aku menghitung. Aku selalu menghitung. Reza dua belas hari. Puspa dua puluh satu hari. Kenzo tiga puluh empat, tapi Kenzo tidak masuk hitungan karena Kenzo tidak bisa dihitung dengan cara yang sama.

Dua puluh tiga.

Dia sudah lewat Puspa dua hari lalu, dan sejak itu aku bangun tiap pagi dengan perasaan yang tidak enak, seperti orang yang menunggu tagihan.

Aku duduk.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

Dan dia mulai bicara tentang sesuatu — tentang jadwal, tentang tugas, tentang apa saja — dan aku menjawab seperlunya sambil menghadap jendela, dan setelah dua puluh tiga hari aku sudah tahu bahwa dia tidak butuh aku menjawab panjang. Dia cuma butuh tahu aku dengar.

Aku dengar semuanya.

Aku selalu dengar semuanya.


Ada hal yang perlu kujelaskan tentang kursi itu, dan aku tidak pernah menjelaskannya ke siapa pun, termasuk Kenzo, termasuk Jovan.

Kelas satu SMP, aku punya teman namanya Danu.

Bukan teman biasa. Teman yang rumahnya tiga rumah dari rumahku, yang tiap sore main ke belakang toko, yang ibunya menitipkan dia ke ibuku kalau lembur.

Kelas dua SMP, badanku tumbuh lebih cepat dari semua orang di angkatan itu. Sepuluh sentimeter dalam setahun. Suaraku berubah duluan. Dan wajahku — wajahku ini — mulai jadi wajah yang bikin guru menatapku lebih lama waktu ada yang hilang di kelas.

Aku belum melakukan apa-apa waktu itu. Belum ada apa-apa yang bisa diceritakan.

Tapi orang sudah mulai.

Dan Danu, yang tiap hari duduk di sebelahku, mulai ikut kena.

Namanya mulai disebut bersamaan dengan namaku. Kalau ada yang rusak, kami berdua yang ditanya. Kalau ada yang hilang, tas kami berdua yang dibuka. Ada satu guru — aku masih ingat namanya, aku tidak akan menuliskannya — yang bilang di depan kelas bahwa Danu sebaiknya pikir-pikir soal siapa temannya.

Danu bertahan enam bulan.

Terus keluarganya pindah.

Bukan karena aku. Ayahnya memang dipindah tugas. Aku tahu itu. Aku tahu itu sejak dulu.

Tapi di hari terakhir, waktu kami di depan rumahnya dan truknya sudah setengah penuh, Danu bilang sesuatu.

Dia tidak bermaksud jahat. Dia dua belas tahun. Dua belas tahun itu tidak tahu cara memilih kalimat.

Dia bilang: “Enak ya di sekolah baru. Nggak ada yang kenal.”

Dan dia langsung sadar. Aku lihat dia sadar, persis di detik itu, dan dia langsung bilang bukan gitu maksudnya, dan aku bilang iya iya aku ngerti.

Aku memang ngerti.

Itu masalahnya.


Kelas tiga SMP, gang belakang stasiun, November.

Aku tidak akan menceritakan bagian itu.

Yang penting cuma satu: setelah malam itu, aku punya bukti.

Bukan bukti bahwa aku berbahaya. Aku tahu aku tidak berbahaya. Aku tahu persis apa yang terjadi di gang itu dan aku tahu persis siapa yang memulai.

Buktinya bukan itu.

Buktinya: aku bisa masuk ke gang itu dan keluar dengan delapan jahitan, dan tetap tidak ada satu orang pun yang percaya versiku, karena bukan versiku yang orang cari.

Orang tidak mencari kebenaran tentang seseorang. Orang mencari konfirmasi.

Dan wajahku ini adalah konfirmasi yang sangat bagus.

Jadi aku berhenti.

Bukan berhenti menolong — aku tidak bisa berhenti menolong, itu bukan pilihan, itu cuma terjadi sebelum aku sempat memutuskan.

Aku berhenti berdiri di sebelah orang.

Karena kalau aku menolong dan pergi, orangnya aman. Kalau aku menolong dan tinggal, orangnya jadi bagian dari cerita.

Ini bukan kesedihan. Aku tidak sedih soal ini. Ini cuma cara kerja yang aku pelajari, seperti aku belajar bahwa adonan yang terlalu lama diuleni jadi keras.

Kamu tidak marah sama adonan.

Kamu cuma berhenti sebelum terlalu lama.


Ada satu hal lagi yang tidak pernah kuceritakan, dan ini yang paling memalukan.

Aku pernah mencoba.

Kelas sepuluh, semester dua, tiga bulan setelah Kenzo menyerah membuatku mengusirnya. Aku sudah punya dua orang waktu itu. Kenzo dan Jovan. Dan untuk sekitar enam minggu aku sempat berpikir mungkin aku salah selama ini.

Jadi waktu ada tugas kelompok dan ada anak yang tidak kebagian kelompok, aku menawarkan diri.

Namanya Puspa.

Dia bukan orang yang duduk di sebelahku karena disuruh. Dia yang minta. Setelah tugas itu selesai, dia pindah tempat duduk sendiri, dan aku ingat berpikir — dengan bodohnya, dengan sangat bodohnya — bahwa mungkin ini bisa.

Tiga minggu.

Lalu ada foto.

Fotonya biasa saja. Aku sudah melihatnya. Kami berdua di koridor, dia sedang bicara, aku sedang mendengarkan. Tidak ada yang salah dengan fotonya.

Captionnya yang tidak biasa.

Dan captionnya tidak menyerang aku.

Aku sudah biasa diserang. Aku punya tempat untuk itu di kepalaku, ruangan kecil yang sudah kusiapkan, dan semua yang tentang aku masuk ke situ dan pintunya kututup.

Yang tidak punya tempat: yang tentang dia.

Aku ingat berdiri di koridor lantai dua sambil membaca captionnya, dan aku ingat perasaannya persis, dan perasaannya bukan marah.

Perasaannya seperti melihat sesuatu yang kamu pegang jatuh dan pecah, dan menyadari bahwa yang memecahkannya adalah tanganmu, karena kamu yang memegangnya.

Puspa menangis di kamar mandi dua hari. Aku tahu karena Kenzo yang bilang.

Aku tidak minta maaf ke dia. Aku tidak berani. Kalau aku mendatanginya untuk minta maaf, akan ada yang melihat, dan akan ada foto lagi.

Jadi aku tidak melakukan apa-apa, dan dua minggu kemudian dia pindah kelas, dan aku tidak pernah bicara dengannya lagi sampai dia lulus.

Itu bukan kesedihan juga.

Itu data.


Jam kedua, dia menjatuhkan penghapus.

Menggelinding ke bawah mejaku.

Aku ambil.

Dan waktu aku bangun dan menyodorkannya, dia menoleh dari jarak — aku tidak tahu, empat puluh senti, mungkin kurang — dan mengucapkan terima kasih, dan matahari jam sembilan lewat masuk dari jendela sebelah kanan dan mengenai sisi kiri wajahnya, dan ada helai rambut yang lepas dari ikatannya dan jatuh di depan telinganya, dan dia—

Tidak.

Aku taruh penghapusnya. Aku balik ke jendela.

Ini juga sesuatu yang tidak akan kujelaskan ke siapa pun.

Dua puluh tiga hari duduk di sebelah orang yang seluruh sekolah tahu namanya karena alasan yang berkebalikan dengan alasan orang tahu namaku. Dua puluh tiga hari aku belajar untuk tidak menoleh ke kiri kecuali perlu, dan menghitung berapa lama boleh menoleh kalau terpaksa, dan menemukan bahwa jawabannya adalah kurang dari dua detik.

Karena kalau lebih dari dua detik, aku berhenti bisa berpikir.

Dan aku butuh bisa berpikir. Aku butuh itu lebih dari yang orang tahu.

Kenzo pernah bilang, dulu, waktu kelas sepuluh, sambil menendang-nendang kerikil: “Lo tau nggak sih Alesha Naraya itu siapa?”

Aku bilang tidak.

Kenzo bilang: “Ya nggak apa-apa juga sih. Emang lo bakal ngapain.”

Dia benar. Aku memang tidak akan mengapa-apakan.

Itu bukan hal yang perlu dipikirkan. Itu seperti memikirkan cuaca di kota lain.

Lalu dia pindah kelas, dan duduk di kursi itu, dan kota lain itu pindah ke sebelah kiriku.


Jam istirahat, Kenzo dan Jovan datang ke mejaku seperti biasa.

Kenzo langsung bicara sebelum duduk. Kenzo selalu begitu.

“Ga. Ga. Serius nih.”

“Hm.”

“Lo tuh kenapa sih.”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Bohong.”

“Nggak.”

Kenzo duduk di meja, bukan di kursi, seperti biasa.

“Dua puluh tiga hari,” katanya.

Aku berhenti.

“Apa?”

“Dua puluh tiga hari.” Dia menunjuk ke arah kursi kosong di sebelahku, yang kosong karena orangnya sedang keluar. “Lo pikir gue nggak ngitung juga?”

Jovan menarik kursi dan duduk, dan tidak bicara.

“Gue nggak ngitung,” kataku.

“Ga.”

“Aku nggak ngitung.”

“Dua puluh tiga,” kata Jovan.

Aku menatap mereka berdua.

“Kalian ngapain sih.”

“Kita nungguin,” kata Kenzo.

“Nungguin apa?”

“Nungguin lo mulai.”

Aku tidak menjawab.

“Lo selalu mulai di sekitar sini,” lanjutnya, dan nada bercandanya sudah hilang seluruhnya. “Waktu Puspa, lo mulai di hari kedelapan belas. Lo mulai nggak masuk. Lo mulai duduk di kantin pas istirahat. Lo mulai—”

“Kenzo.”

“—dan terus dia pindah, terus lo bilang ‘ya udah’, terus lo makin—”

“KENZO.”

Kelas menoleh.

Aku menarik napas. Aku menurunkan suaraku.

“Aku nggak ngapa-ngapain,” kataku.

“Belum,” kata Jovan.

Dan itu yang paling menyebalkan tentang Jovan. Kenzo bisa kubantah karena Kenzo bicara terlalu banyak dan selalu ada satu bagian yang salah. Jovan bicara empat kata dan tidak ada satu pun yang bisa kubantah.

“Aku nggak mau dia kenapa-kenapa,” kataku akhirnya.

“Kita tau,” kata Kenzo.

“Kalian nggak—”

“Kita TAU, Ga.” Dia menendang kaki mejaku pelan. “Kita tau lo mikirnya gitu. Kita tau lo selalu mikirnya gitu. Kita cuma pengen lo mikirin satu hal lagi.”

“Apa.”

Kenzo membuka mulut.

Lalu, untuk pertama kalinya sepanjang yang bisa kuingat, dia berhenti, dan menoleh ke Jovan, dan menyerahkannya.

Jovan melepas kacamatanya. Mengelapnya. Memakainya lagi.

“Dia belum pergi,” kata Jovan.

“Belum.”

“Dia dateng tiap hari.”

“Iya.”

“Dua puluh tiga hari.”

“Iya.”

Jovan menatapku.

“Terus kenapa lo yang mau pergi duluan?”


Bu Retno memanggilku ke ruang BK jam terakhir.

Aku sudah hafal ruangan itu. Kursinya berderit di kaki kanan. Ada tanaman plastik di sudut yang debunya tidak pernah dilap. Ada map dengan namaku di laci ketiga, dan map itu lebih tebal dari yang seharusnya.

“Duduk, Ga.”

Aku duduk.

“Kamu nggak lagi kenapa-kenapa, kan?”

“Nggak, Bu.”

Beliau menatapku beberapa detik.

Bu Retno satu-satunya guru yang tidak pernah membaca mapku duluan sebelum bicara ke aku. Aku tahu karena mapnya selalu masih di laci waktu aku masuk, dan beliau baru mengeluarkannya kalau memang harus mencatat sesuatu.

“Ada yang lapor soal parkiran belakang Selasa lalu.”

Perutku turun.

“Siapa yang lapor, Bu?”

“Bukan urusan kamu.” Beliau melipat tangannya. “Yang lapor bilang ada empat anak kelas dua belas ngerjain anak kelas sepuluh. Terus ada yang datang, terus mereka bubar.”

Aku diam.

“Kamu di situ?”

“Iya, Bu.”

“Kamu mukul?”

“Nggak, Bu.”

“Kamu ngomong?”

“Tiga kata.”

Bu Retno mengangkat alis. “Tiga kata apa?”

“‘Aku nggak ngapa-ngapain.’”

Dan Bu Retno — yang sudah tiga tahun jadi guru BK di sekolah ini, yang sudah dua kali mencoba mengatur denah duduk kelas sebelas tiga dan dua kali gagal — menghela napas panjang dan bersandar ke kursinya.

“Ga.”

“Iya, Bu.”

“Kenapa kamu nggak pernah bawa ini ke Ibu?”

“Bawa apa, Bu?”

“Yang kayak gini.” Beliau menunjuk ke arah mapku yang masih di laci. “Tiga tahun kamu masuk sini terus. Tiga tahun isinya sama. ‘Terlibat perkelahian.’ Nggak ada satu pun keterangan tambahan. Kamu nggak pernah cerita apa-apa.”

“Nggak ada yang perlu diceritain, Bu.”

“Ada.”

“Nggak, Bu.”

“Arganta.”

Aku menatap lantai.

Dan aku bilang hal yang paling jujur yang bisa kubilang, yang juga hal paling tidak berguna:

“Kalau saya cerita, orang harus percaya sama saya, Bu. Itu berat buat mereka.”

Bu Retno tidak menjawab selama cukup lama.

Waktu aku keluar, beliau memanggil sekali lagi.

“Ga.”

“Iya, Bu?”

“Anak yang lapor itu.”

“Iya?”

“Dia nggak nyebut nama kamu.” Bu Retno melihatku lewat kacamatanya. “Dia bilang ‘ada yang bantuin’. Ibu yang nebak sendiri.”


Aku memutuskan malam itu, sambil menutup toko.

Aku sudah lewat batas. Dua puluh tiga hari, foto di akun itu, komentar-komentar yang aku tidak baca tapi aku tahu ada. Kalau aku tunggu lebih lama, ini berhenti jadi sesuatu yang bisa kubereskan.

Jadi besoknya, jam istirahat pertama, aku menunggu sampai kelas kosong dan aku bicara.

Aku sudah menyusunnya semalaman. Tiga kalimat. Sopan. Tidak menyalahkan siapa-siapa.

“Alesha.”

“Hm?”

“Aku mau ngomong.”

Dia menutup bukunya dan menghadap ke arahku sepenuhnya, dan itu sudah menghancurkan kalimat pertamaku sebelum aku sempat mulai.

“Kamu—” Aku mengelap tangan ke celana. “Semester depan ada pergantian denah duduk.”

“Terus?”

“Terus kamu bisa minta pindah.”

“Aku nggak mau.”

“Kamu belum denger alasannya.”

“Aku udah denger alasannya dua puluh tiga hari.”

Aku berhenti.

“Kamu ngitung?”

Dan dia menatapku, dan sudut bibirnya naik sedikit, dan dia bilang:

“Kamu juga.”

Aku tidak menjawab.

Aku tidak bisa menjawab.

“Arganta.” Dia bersandar ke meja, dagunya di tangan, dan menatapku dari jarak yang sama sekali tidak masuk akal. “Aku mau nanya satu hal. Terus kamu boleh nggak jawab.”

“Apa.”

“Kamu pengen aku pindah?”

Tiga kalimat yang sudah kususun semalaman itu masih ada di kepalaku. Semuanya lengkap. Semuanya sopan. Semuanya bisa langsung kupakai.

Aku membuka mulut.

Dan yang keluar adalah:

“...Nggak.”

Satu kata.

Dia tersenyum.

Dan aku tahu, persis di detik itu, bahwa aku baru saja kalah dan bahwa tidak akan ada kesempatan kedua.

“Ya udah,” katanya. “Ayo ke kantin. Aku laper.”

Dia berdiri. Dia jalan ke pintu.

Lalu dia berhenti, dan berbalik, dan menunggu.

Menunggu aku.

Dan aku, orang yang tiga tahun berjalan tiga langkah di belakang semua orang supaya tidak ada yang kelihatan berjalan bersama aku, berdiri dari kursiku dan jalan ke pintu itu dan berhenti di sebelahnya.

Sebelah.

Kami keluar dari kelas bersamaan, dan koridornya penuh, dan aku menghitung berapa orang yang menoleh.

Enam.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak melakukan apa-apa soal itu.