Chapter Twelve
Bab 12: Gencatan Senjata
POV: Alesha
Callys pindah ke depan.
Baris kedua, sebelah kiri, sebelah anak bernama Vina yang bahkan tidak dia sukai. Dia memindahkan tasnya sebelum bel pertama, tanpa bicara ke siapa pun, dengan gerakan orang yang sudah memutuskan semalaman.
Dira tetap di baris tiga.
Sendirian.
Dan itu yang paling menyakitkan dari seluruh kejadian ini, karena Dira tidak melakukan apa pun.
Aku menghampirinya jam istirahat pertama.
“Dira.”
“Hm.”
“Kamu marah juga?”
Dira menutup bukunya, dan berpikir cukup lama, seperti biasa.
“Nggak,” katanya akhirnya.
“Beneran?”
“Aku nggak marah.” Dia menoleh ke arah baris dua, ke punggung Callys. “Aku cuma sedih.”
“Karena aku?”
“Karena kalian berdua sama-sama bener.” Dira mengangkat bahunya sedikit. “Itu yang paling nggak enak.”
Aku duduk di kursi Callys yang kosong.
“Dia cerita ke kamu soal Puspa?”
Dira mengangguk.
“Kapan?”
“Minggu kedua kamu pindah kelas.” Dia memutar pulpennya. “Dia nangis di ruang musik. Dia bilang jangan cerita ke kamu.”
“Kenapa?”
“Katanya kalau kamu tau, kamu bakal ngerasa harus mikirin dia juga.” Dira menoleh. “Dan kamu udah mikirin banyak.”
Aku menatap punggung Callys di baris dua.
Dan aku sadar, dengan sangat terlambat, bahwa selama enam minggu ini aku sudah menganggap Callys sebagai penghalang, sebagai suara yang harus kupatahkan, sebagai pihak yang salah.
Padahal dia sedang menahan sesuatu sendirian sepanjang waktu itu.
“Dira.”
“Hm?”
“Aku brengsek ya.”
“Iya,” katanya. “Dikit.”
Dan dia mengatakannya dengan begitu tenang, tanpa penghakiman sama sekali, sampai aku tertawa dan mataku berair bersamaan.
Yang terjadi berikutnya bukan karena aku.
Aku ingin mencatat itu dengan jelas, karena selama bertahun-tahun setelahnya Kenzo akan mengklaim bahwa dia melakukannya dengan sengaja dan penuh perhitungan, dan itu bohong besar.
Kenzo melakukannya karena Kenzo tidak bisa diam.
Jam istirahat kedua, hari yang sama. Kantin penuh. Aku antre es teh. Callys antre bakso, empat orang di depanku, sengaja tidak menoleh.
Dan Kenzo — yang datang belakangan, yang tidak antre karena Kenzo tidak pernah antre, yang langsung menyelinap ke depan — berhenti persis di sebelah Callys dan berkata, dengan suara normal, ke arah tidak seorang pun:
“Eh, jadi orang yang pindah duduk gara-gara temennya pacaran itu beneran ada ya.”
Kantin tidak diam. Kantin tidak sesunyi itu.
Tapi delapan orang di sekitar mereka mendengar.
Callys berbalik sangat pelan.
“Kamu ngomong sama siapa?”
“Nggak sama siapa-siapa.”
“Kamu ngomong sama aku.”
“Aku ngomong sama udara.”
“Udara nggak pindah duduk, Kenzo.”
“Nah tuh, kamu tau.”
Dan aku, dari empat orang di belakang, meletakkan gelas es tehku kembali ke meja karena aku tahu apa yang akan terjadi dan aku tahu aku tidak akan bisa menghentikannya.
“Kamu tau apa soal aku,” kata Callys.
“Aku tau kamu sahabatnya Alesha dari kelas tujuh.”
“Terus?”
“Terus kamu pindah ke baris dua di hari pertama dia seneng.”
Callys menaruh mangkuknya di meja.
Dan Kenzo — yang tingginya cuma lima sentimeter di atas Callys, yang berat badannya mungkin sama, yang sama sekali tidak menakutkan dari sudut mana pun — tidak mundur.
“Kamu nggak tau apa-apa,” kata Callys.
“Ya udah kasih tau.”
“Kenapa aku harus kasih tau kamu?”
“Karena kamu ngerusak hari orang tanpa ngasih alasan.”
“AKU—”
Callys berhenti.
Dan aku melihat dari empat orang di belakang, dengan sangat jelas, momen ketika dia hampir mengatakan nama Puspa.
Dia menelannya.
“Bukan urusan kamu,” katanya.
“Ya udah kalau gitu.” Kenzo mengangkat bahu. “Tapi jangan bilang orang lain jahat kalau kamu sendiri nyakitin dari deket.”
Callys menamparnya.
Tidak. Dia tidak menamparnya. Aku hampir menulis itu karena selama tiga detik aku yakin itu akan terjadi.
Yang terjadi: dia mengambil mangkuk baksonya, dan menaruhnya kembali, dan berjalan keluar dari antrean, dan Kenzo berteriak “EH, BAKSONYA” ke punggungnya, dan Callys mengacungkan jari tengah tanpa menoleh.
Kantin bertepuk tangan.
Kenzo membungkuk.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Kamu tau apa yang kamu lakuin barusan?”
“Iya.”
“Kenzo.”
“Aku tau.”
“Kamu ngebela aku ke sahabat aku.”
Kenzo berhenti mengunyah bakso Callys, yang dia ambil karena — kutipan langsung — “sayang, udah dibayar.”
“Aku nggak ngebela kamu,” katanya.
“Kamu barusan—”
“Aku ngebela Arga.”
Aku berhenti.
“Apa?”
Kenzo menaruh sendoknya.
Dan ekspresinya berubah — bukan jadi serius persis, tapi jadi sesuatu yang lebih dekat ke lelah.
“Kamu tau nggak dia ngapain tadi pagi?”
“Nggak.”
“Dia nanya ke aku.” Kenzo mengaduk kuahnya. “Dia nanya, ‘Kenzo, Callys pindah duduk kenapa?’”
Aku merasakan sesuatu di dadaku.
“Terus?”
“Terus aku bilang aku nggak tau.” Dia mengangkat wajahnya. “Terus dia diem lima menit. Terus dia bilang—”
Kenzo berhenti.
“Bilang apa?”
“Dia bilang, ‘Berarti gara-gara aku.’”
Aku menutup mata.
“Dan dia nggak salah, Alesha.” Kenzo mendorong mangkuknya. “Itu yang bikin aku kesel. Dia nggak salah. Sahabat kamu emang pindah gara-gara dia. Dan sekarang dia bakal mikirin itu tiga minggu ke depan dan dia nggak akan bilang apa-apa ke kamu.”
“Terus kamu berantem sama Callys.”
“Ya.”
“Itu nggak nyelesein apa-apa.”
“Nggak.” Kenzo mengangkat bahu. “Tapi aku enakan.”
Aku menatapnya.
“Kenzo.”
“Apa.”
“Kamu tau nggak kamu barusan bikin semuanya sepuluh kali lebih susah?”
Dan Kenzo, dengan mulut penuh bakso yang bukan miliknya, menjawab:
“Iya. Tapi sekarang dia harus ngomong sama aku.”
Aku menceritakan seluruhnya ke Arga sore itu, di tangga belakang.
Aku menceritakan semuanya — Callys, Puspa, sepupu, kamar mandi dua hari, ultimatum di lorong, Kenzo di kantin.
Semuanya kecuali satu bagian.
Aku tidak menceritakan apa yang Callys takutkan.
Dia mendengarkan sampai habis tanpa memotong. Dia selalu begitu. Dan waktu aku selesai, dia diam selama hampir satu menit.
Lalu dia bertanya.
“Puspa punya sepupu di sini?”
“Iya.”
“Namanya Callysta.”
“Iya.”
Dia mengangguk pelan.
Dan lalu dia bilang sesuatu yang membuatku sadar aku sudah salah menghitung sesuatu yang penting.
“Aku pernah lihat dia.”
“Siapa?”
“Callysta.” Dia melihat ke tangga. “Tahun lalu. Di depan kamar mandi lantai satu.”
Aku menoleh.
“Kamu—”
“Aku lewat.” Suaranya datar. “Ada yang nangis di dalem. Ada anak kelas sepuluh berdiri di depan pintunya, ngetok-ngetok.”
“Kamu tau itu Puspa?”
“Iya.”
“Terus kamu ngapain?”
Dan dia menjawab, tanpa nada apa pun, tanpa pembelaan:
“Aku lewat.”
Aku tidak bicara.
“Aku berdiri di ujung koridor sepuluh menit,” katanya. “Terus aku pergi. Karena kalau aku ke situ, dan ada yang lihat, terus—”
“Terus jadi lebih parah.”
“Iya.”
Dia menunduk.
“Tapi anak yang ngetok itu nggak pergi,” katanya. “Dia di situ terus. Aku denger dari ujung koridor. Dia ngomong terus sama pintunya.”
Aku menutup mataku.
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu inget dia?”
“Aku inget punggungnya.” Dia menoleh ke arahku. “Aku nggak tau mukanya. Aku nggak pernah lihat mukanya sampai dia jadi orang yang paling benci sama aku di kelas ini.”
Angin lewat.
“Kamu nggak marah sama dia?” tanyaku.
Dan dia menatapku seperti aku baru saja menanyakan sesuatu yang sangat aneh.
“Kenapa aku marah?”
“Dia benci sama kamu.”
“Dia ngetok pintu itu satu jam, Alesha.”
Dia berdiri, mengambil tasnya.
“Orang yang ngetok pintu satu jam boleh benci sama siapa aja.”
Aku pulang lewat Jalan Melati sore itu.
Aku sudah melakukannya empat kali sejak jadian, dan tiap kali aku berhenti di seberang, dan tiap kali aku tidak masuk.
Hari ini aku masuk.
Bel pintu berbunyi dua nada. Bau di dalamnya — mentega, gula karamel, dan sedikit bau tepung yang mengendap di dinding — langsung membuatku sadar bahwa aku tidak menyiapkan satu kalimat pun.
Ibu itu mengangkat kepala dari etalase.
Dan wajahnya berubah dengan cara yang membuatku ingin lari.
“Neng Alesha?”
Aku berhenti di tengah toko.
“...Ibu tau nama saya?”
Bunda Ratih menaruh penjepit kuenya, dan senyumnya melebar dengan cara yang sama sekali tidak bisa dibaca.
“Ya tau dong.”
“Dari siapa, Bu?”
“Ya dari—” Beliau menoleh ke arah tirai plastik di belakangnya. “Ya tau aja.”
Dan dari balik tirai itu, ada suara sesuatu jatuh.
Bukan pecah. Cuma jatuh. Sesuatu dari logam, mungkin loyang.
Bunda Ratih tidak menoleh. Beliau tetap tersenyum ke arahku, tapi suaranya naik sedikit, ditujukan ke belakang:
“Nggak apa-apa, Ga. Ibu yang bereskin nanti.”
Hening dari balik tirai.
“Mau kue apa, Neng?”
Aku membeli tiga potong yang tidak kupilih sendiri karena aku tidak bisa membaca satu pun nama di etalase saking paniknya, dan Bunda Ratih membungkusnya, dan waktu beliau menyerahkan kantongnya, beliau menahannya sebentar.
“Neng.”
“Iya, Bu?”
“Makasih ya.”
Aku mengerjap. “Buat apa, Bu?”
Dan Bunda Ratih menoleh ke tirai plastik itu — cuma sekilas, setengah detik — lalu balik ke arahku.
“Dia bawa kotak makan,” kata beliau.
“...Iya?”
“Dari kelas sepuluh dia bawa kotak makan, Neng. Tiap hari.” Beliau melepaskan kantongnya. “Tiap hari balik masih penuh.”
Aku memegang kantong itu.
“Sekarang?”
“Sekarang kosong.”
Beliau kembali ke etalase, dan mulai menata kue seolah tidak baru saja mengatakan hal yang membuat lantai bergeser di bawah kakiku.
Aku keluar dari toko itu dan berjalan setengah blok sebelum aku sadar aku menangis.
Malamnya Arga mengirim pesan, yang mana kejadian langka karena dia hampir tidak pernah memulai.
Ibu bilang kamu ke toko.
Aku mengetik lima balasan dan menghapus semuanya.
Akhirnya aku kirim: Iya. Kuenya enak.
Butuh sebelas menit sampai dia membalas.
Yang cokelat itu aku yang bikin.
Lalu, dua menit kemudian:
Yang keju juga.
Lalu, empat menit kemudian:
Semuanya aku yang bikin.
Dan aku memeluk bantal dan berteriak ke dalamnya selama sepuluh detik penuh.
Keesokan harinya, aku melakukan satu hal.
Aku tidak menghampiri Callys. Aku tidak minta maaf lagi. Aku tidak menjelaskan apa pun.
Aku menaruh secarik kertas di mejanya sebelum dia datang, dilipat dua.
Isinya tiga baris.
Kemarin sore aku cerita semua ke dia. Termasuk soal kamu.
Dia nggak marah.
Dia bilang orang yang ngetok pintu satu jam boleh benci sama siapa aja.
Aku tidak menandatanganinya. Dia tahu tulisanku.
Aku duduk di sudut kanan belakang dan aku tidak menoleh ke baris dua sekali pun sepanjang jam pertama, karena aku terlalu takut.
Jam kedua, aku menoleh.
Kertas itu tidak ada di mejanya.
Callys sedang menulis, dan wajahnya biasa saja, dan tidak ada yang berubah sama sekali.
Kecuali satu hal, yang aku baru sadari waktu bel istirahat.
Dia menoleh ke belakang.
Sekali. Cepat. Bukan ke arahku.
Ke arah kursi di sebelahku.
Perang terbuka pecah hari Jumat, dan itu bukan salahku juga.
Kelas kosong jam istirahat. Cuma ada lima orang: aku, Arga, Jovan, Kenzo, dan Callys yang datang mengambil buku yang tertinggal.
Kenzo melihatnya masuk dan langsung berdiri.
“Nah.”
“Zo,” kata Jovan.
“Nggak. Ini penting.”
Callys mengambil bukunya dan berbalik ke pintu tanpa melihat siapa pun.
“Aku minta maaf,” kata Kenzo.
Callys berhenti.
Aku juga berhenti. Aku sedang memegang gelas dan aku hampir menumpahkannya.
“Apa?” kata Callys.
“Aku minta maaf soal kemarin di kantin.” Kenzo menggosok tengkuknya. “Aku nggak tau soal sepupu kamu.”
Wajah Callys berubah total.
“Siapa yang cerita?”
“Alesha.”
“ALESHA.”
“Aku nggak—” Aku menaruh gelasku. “Aku cerita ke Arga.”
Dan semua kepala menoleh ke sudut kanan belakang.
Arga tidak mengangkat wajahnya dari bukunya.
“Aku yang cerita ke Kenzo,” katanya.
“Kenapa?” tanya Callys, dan suaranya sudah naik. “Kenapa kamu—”
“Karena dia berantem sama kamu tanpa tau apa-apa.” Arga menutup bukunya. “Itu nggak adil buat kamu.”
Callys berdiri di tengah kelas memegang bukunya.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku pindah ke kelas ini, dia menatap Arga langsung. Bukan melirik. Bukan menghindar.
Menatap.
“Kamu ngasih tau dia buat ngebelain aku?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan Arga menjawab, dengan kalimat pendek, tanpa melihatnya:
“Kamu ngetok pintu satu jam.”
Callys tidak bergerak.
Bukunya jatuh.
Dia tidak mengambilnya.
“Kamu di situ?” katanya, dan suaranya sudah pecah di kata ketiga.
“Di ujung koridor.”
“Kamu lihat aku.”
“Aku lihat punggung kamu.”
“KAMU DI SITU DAN KAMU NGGAK—”
Dia berhenti.
Dan aku melihat wajahnya, dan aku melihat momen di mana dia sadar bagaimana kalimat itu akan berakhir, dan aku melihat dia menyadari bahwa jawabannya sudah dia ketahui sendiri sejak lama.
Kamu di situ dan kamu nggak masuk.
Karena kalau dia masuk, semuanya jadi lebih parah.
Callys menutup wajahnya dengan satu tangan.
Kenzo bergerak — satu langkah, ke arahnya — dan Jovan menahan lengannya tanpa berdiri.
“Jangan,” kata Jovan pelan. “Bukan sekarang.”
Callys mengambil bukunya dari lantai.
Dan sebelum keluar, dia berhenti di pintu, dan dia bicara tanpa berbalik, dan suaranya sudah datar lagi walaupun bahunya belum.
“Aku masih nggak percaya sama kamu,” katanya.
“Nggak apa-apa,” kata Arga.
“Aku serius.”
“Aku tau.”
Callys keluar.
Kelas hening.
Lalu Kenzo, yang masih ditahan lengannya oleh Jovan, berkata pelan:
“Anjir. Dia nangis.”
“Iya,” kata Jovan.
“Gue bikin dia nangis dua kali dalam dua hari.”
“Iya.”
Kenzo duduk di meja, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan berkata dengan suara yang teredam:
“Gue harus minta maaf lagi.”
“Iya,” kata Jovan.
“Gue benci ini.”
“Iya.”
Dan Arga, dari sudut kanan belakang, membuka bukunya kembali dan berkata satu kalimat tanpa mengangkat wajah:
“Bawain dia bakso.”
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata reading
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama