← Bangku Sebelah

Chapter One

Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki

POV: Alesha


Pagi itu portal gerbang macet lagi.

Aku lihat Pak Sudir mendorongnya sendirian, dan seseorang berhenti untuk membantu — seragamnya sudah lewat sebelum aku sempat lihat wajahnya. Portalnya terbuka. Antrean anak-anak mulai jalan lagi. Pak Sudir mengangkat tangan sedikit ke arah punggung yang menjauh, tapi punggung itu tidak menoleh.

Aku tidak terlalu memperhatikan. Aku sedang sibuk dengan hal lain.

Di tanganku ada selembar kertas dari tata usaha. Namaku di atas, dan di bawahnya satu baris yang mengubah seluruh tahun ajaranku:

ALESHA NARAYA — XI IPA 3.

Bukan XI IPA 1. Bukan kelas yang sudah kutempati sejak Juli, yang isinya orang-orang yang sudah hafal cara aku menyusun map, yang meja depannya selalu kosong buatku.

Tiga.

Aku sudah ke tata usaha dua kali. Jawabannya sama dua-duanya: pemerataan kelas peminatan, sistem yang mengatur, tidak bisa diganggu gugat. Ibu di bagian administrasi bahkan tidak mengangkat kepala waktu bilang itu untuk yang kedua kalinya.

Jadi ya sudah.

Aku menaiki tangga ke lantai dua sambil menghitung jendela, kebiasaan yang tidak pernah kuhilangkan sejak SD. Sembilan jendela sampai belokan. Empat lagi sampai ruang mading. Pintunya terbuka sedikit dan aku bisa lihat papan pengumuman ekskul jurnalistik masih memajang edisi bulan lalu, yang tata letaknya kubuat sendiri dan yang sampai sekarang masih membuatku kesal karena judulnya kegedean satu poin.

Kak Sean lewat dari arah berlawanan, membawa setumpuk kertas. Dia berhenti.

“Sha? Katanya kamu pindah kelas.”

“Iya, Kak.”

“Ke mana?”

“Sebelas tiga.”

Ada sesuatu di wajahnya. Bukan kaget. Lebih seperti orang yang baru ingat sesuatu, lalu memutuskan untuk tidak mengatakannya.

“Oh.” Dia tersenyum. Senyumnya selalu rapi, seperti seragamnya. “Ya udah, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa bilang aja.”

Aku bilang iya, dan dia jalan lagi.

Hati-hati.

Itu kalimat yang aneh untuk diucapkan ke orang yang mau masuk kelas.


Kelas sebelas tiga ada di ujung koridor, sebelah gudang alat kebersihan.

Aku sampai lima menit sebelum bel, dan pintunya sudah dipenuhi suara. Ada yang tertawa. Ada yang berteriak minta dilempari sesuatu. Sesuatu benar-benar dilempar dan menabrak papan tulis.

Aku tarik napas, dan masuk.

Suaranya tidak berhenti seketika. Berhenti bertahap, dari depan ke belakang, seperti lampu yang dimatikan satu per satu.

Aku sudah biasa dengan ini. Aku tidak suka, tapi aku sudah biasa. Tiap masuk ruangan baru selalu ada tiga detik di mana semua orang menoleh, dan aku sudah lama belajar bahwa cara terbaik melewatinya adalah pura-pura tidak ada.

Aku cari wajah yang kukenal.

Callysta Aruna. Baris tiga, dekat jendela, sudah berdiri sebelum aku sempat memanggil.

“SHA!”

Dan Nadhira di sebelahnya, mengangkat tangan pelan, senyumnya kecil.

Setidaknya dua orang. Setidaknya aku tidak masuk ke ruangan yang isinya orang asing semua.

“Serius kamu pindah ke sini?” Callys sudah menarik lenganku sebelum aku sampai ke mejanya. “Aku kira kamu bohong. Aku kira kamu ngerjain aku.”

“Ngapain aku ngerjain kamu soal kelas.”

“Kamu pernah ngerjain aku soal ulang tahun, soal—”

“Callys.”

“Oke. Oke.” Dia melepas lenganku, lalu langsung memegangnya lagi. “Terus kamu duduk di mana?”

Pertanyaan yang bagus.

Aku lihat ke sekeliling. Kelas ini penuh. Tiap meja ada dua kursi dan tiap kursi ada tasnya. Callys sudah dengan Dira. Baris depan penuh. Baris tengah penuh.

Kecuali satu.

Sudut kanan belakang, dekat jendela. Satu meja, dua kursi. Yang satu ada orangnya. Yang satu kosong — bukan cuma kosong dari orang, tapi kosong dari segalanya. Tidak ada tas di kursinya. Tidak ada buku di mejanya. Bahkan debunya kelihatan lebih rata di sisi itu, seperti tidak ada yang menyentuhnya cukup lama.

Dan meja-meja di sekitarnya digeser. Tidak banyak. Cuma sepuluh, lima belas sentimeter. Tapi kalau kamu lihat dari depan, arahnya jelas: semuanya menjauh dari sudut itu, seperti air yang menghindari sesuatu di tengah kolam.

Aku menunjuk dengan dagu. “Itu kosong.”

Callys tidak menoleh ke arah yang kutunjuk. Dia menatapku.

“Bukan kosong.”

“Nggak ada tasnya.”

“Sha.” Suaranya turun. “Itu emang selalu kayak gitu.”


Namanya Arganta Bhumi.

Aku tahu namanya sebelum aku tahu apa-apa yang lain tentang dia, karena namanya sudah lama beredar di sekolah ini dengan cara yang tidak menyenangkan. Kalau ada yang cerita soal perkelahian, namanya muncul. Kalau ada yang cerita soal anak yang masuk BK, namanya muncul. Kalau ada anak kelas sepuluh yang baru masuk dan bertanya siapa yang sebaiknya dihindari, namanya yang pertama disebut.

Aku belum pernah bicara dengannya. Aku bahkan tidak yakin pernah lihat wajahnya dari dekat.

Sekarang dia duduk delapan meter dari tempatku berdiri, menghadap jendela, dan bahkan dari sini dia kelihatan besar. Bahunya lebar. Punggungnya tegak dengan cara yang bukan sopan, tapi seperti orang yang tidak tahu cara membungkuk. Rambutnya hitam, agak berantakan di belakang.

Dia tidak menoleh sekali pun sejak aku masuk.

“Udah tiga tahun,” kata Dira pelan. Dia yang menjelaskan, karena Callys sedang sibuk menatapku dengan tatapan jangan-macam-macam. “Dari kelas sepuluh. Ganti kelas, ganti tempat duduk, hasilnya selalu sama.”

“Sama gimana?”

“Bu Retno pernah nyoba ngatur denah duduk. Dua kali. Yang ditaruh di sebelah dia pindah sendiri dalam seminggu. Yang ketiga kalinya beliau nggak nyoba lagi.”

Callys menyambung, lebih cepat, lebih keras. “Dan yang paling penting, Sha, dengerin aku. Dia sendiri yang jaga itu tetap kosong.”

“Maksudnya?”

“Ada anak kelas sepuluh, awal semester, nggak tau apa-apa. Dia taruh tasnya di kursi itu.” Callys berhenti sebentar, seperti bagian ini butuh persiapan. “Nggak sampai dua menit, tasnya udah balik di tangan anak itu. Dia sendiri yang mindahin. Nggak ngomong apa-apa.”

“Terus?”

“Ya terus anak itu nangis, terus semua orang makin yakin—”

“Callys.” Aku menoleh. “Anak itu nangis karena dibentak, atau karena kaget?”

Callys membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

“...Aku nggak tau,” katanya akhirnya. Lalu, lebih keras, seperti menutupi: “Tapi intinya jangan. Kamu duduk sama aku aja, aku geser, Dira bisa pindah ke—”

“Nggak usah.”

“Sha.”

“Kalian udah duduk. Nggak enak.”

“SHA.”

Bel berbunyi.


Aku tidak akan bilang aku memutuskannya karena berani. Aku tidak berani. Jantungku berdetak seperti orang yang mau maju presentasi tanpa persiapan.

Tapi ini yang sebenarnya terjadi di kepalaku, dalam waktu kira-kira empat detik antara bel berbunyi dan kakiku mulai jalan:

Aku ingat satu hal.

Bulan lalu, hujan sore, aku berdiri di depan gerbang tanpa payung selama dua puluh menit. Waktu aku balik dari toilet, ada payung lipat di pagar. Bukan payung baru, bukan payung mahal, warnanya biru pudar. Di bawahnya ada kotak kue kecil, kotak kertas putih polos, tanpa nama, tanpa tulisan apa pun.

Aku bawa pulang dua-duanya. Aku tanya ke lima orang. Tidak ada yang mengaku.

Payungnya masih ada di rumahku sampai sekarang.

Aku tidak tahu kenapa itu yang muncul di kepalaku sekarang. Tidak ada hubungannya. Sama sekali tidak ada.

Tapi aku jalan.


Delapan meter itu ternyata jauh sekali.

Aku bisa dengar kursi-kursi berbunyi waktu orang memutar badan. Aku bisa dengar seseorang di baris dua berbisik, dan bisikannya bukan bisikan — cukup keras untuk kudengar, cukup pelan untuk bisa disangkal.

“Eh eh eh—”

“Serius?”

“Anak baru?”

Dan satu suara, dari arah kiri, yang nadanya sama sekali beda dari yang lain. Bukan takut. Bukan geli.

“...Anjir.”

Aku sampai di meja itu.

Aku taruh tasku di kursi kosong. Bunyinya keras. Terlalu keras.

Lalu aku duduk.

Dan seluruh kelas sebelas tiga, dua puluh sembilan orang, diam.

Aku tahu ada dua alasan mereka diam. Yang pertama jelas — bangku ini, sudut ini, garis yang sudah tiga tahun tidak dilewati siapa pun. Yang kedua aku tahu juga, walaupun aku tidak suka memikirkannya, karena orang selalu diam beberapa detik lebih lama kalau yang lewat itu aku, dan aku sudah lama berhenti berpura-pura tidak tahu kenapa.

Dua alasan itu bertabrakan di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga, hari Senin, jam tujuh lewat dua menit.

Di sebelahku, dia tidak bergerak.

Sama sekali.

Dia masih menghadap jendela, dan dari jarak sedekat ini aku bisa lihat hal-hal yang tidak kelihatan dari depan kelas. Tangannya, yang jauh lebih besar dari yang kubayangkan, dengan bekas-bekas kecil di punggung tangannya — bukan bekas luka berkelahi, tapi bekas-bekas bulat yang mengkilap, seperti bekas terbakar sesuatu. Beberapa masih baru.

Dan telinganya.

Merah.

Dari ujung sampai ke bawah, merah.

Aku belum sempat memikirkan itu karena Bu Retno masuk, dan seluruh kelas berdiri, dan aku ikut berdiri, dan waktu aku duduk lagi aku sadar dia sudah menggeser kursinya.

Dua sentimeter. Menjauh.


Istirahat pertama, Callys menyeretku ke kantin sebelum aku sempat berdiri sendiri.

Dia tidak bicara sampai kami duduk. Itu tanda buruk. Callys yang diam lebih dari tiga puluh detik berarti dia sedang menyusun sesuatu yang panjang.

Dira datang belakangan membawa tiga gelas es teh, menaruhnya, lalu duduk seperti orang yang sudah tahu ini akan lama.

“Aku mau nanya satu hal,” kata Callys akhirnya. “Satu. Terus aku diem.”

“Kamu nggak akan diem.”

“Satu, Sha.”

“Ya udah.”

Dia menaruh kedua tangannya di meja. “Kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kenapa kamu duduk di situ.” Suaranya naik, lalu dia menurunkannya sendiri, lalu naik lagi karena dia tidak bisa menahannya. “Ada dua puluh delapan kursi di kelas itu, Sha. Aku udah nawarin. Dira udah mau geser. Bahkan Rani mau pindah kalau aku minta, dan Rani nggak suka sama aku.”

“Kursi kalian udah keisi.”

“Itu bukan alasan.”

“Itu alasan.”

“Itu ALASAN JELEK.”

Beberapa meja menoleh. Dira menyodorkan es teh ke arah Callys seperti orang menyodorkan sesuatu ke anjing yang menggonggong.

Callys menerimanya, minum, dan tetap menatapku.

“Aku serius,” katanya, lebih pelan. “Kamu nggak tau dia kayak gimana.”

“Kamu tau?”

Dia berhenti sepersekian detik. “Semua orang tau.”

“Itu bukan jawaban yang sama.”

“Sha—”

“Callys.” Aku menaruh sedotanku. “Kamu pernah ngobrol sama dia?”

“Nggak.”

“Pernah lihat dia mukul orang? Sendiri, pakai mata kamu?”

Dia diam.

Dan aku tahu, dari cara dia diam, bahwa jawabannya tidak. Dan aku juga tahu, dari cara rahangnya mengeras setelahnya, bahwa dia tidak menganggap itu penting.

“Aku punya bukti,” katanya akhirnya.

“Bukti apa?”

“Nanti aku tunjukin.” Dia mengeluarkan ponselnya, lalu memasukkannya lagi. “Nggak di sini. Nanti.”

Dira bicara untuk pertama kalinya sejak kami duduk. Suaranya pelan seperti biasa, dan seperti biasa, dia bilang hal yang sebenarnya sedang dihindari semua orang.

“Aku cuma mikir aja,” katanya. “Kalau dia emang seserem itu, kenapa dia yang paling repot ngejagain kursi itu tetep kosong?”

Callys menoleh ke Dira dengan wajah orang yang baru dikhianati.

“Dira.”

“Aku cuma mikir.”

“Kamu di pihak siapa?”

“Aku di pihak es teh.” Dira menyeruput. “Ini enak.”

Aku tertawa. Callys tidak. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit, dan itu sudah cukup untuk hari pertama.

Dalam perjalanan balik ke kelas, aku lewat depan kantin bagian belakang, tempat galon-galon air disusun. Ada yang sedang mengangkat satu galon penuh ke rak atas, sendirian, dan mbak penjaga kantin sedang bicara ke arahnya sambil menunjuk-nunjuk rak yang lain.

Aku tidak berhenti. Aku cuma lewat.

Baru dua hari kemudian aku sadar bahu siapa yang aku lihat dari belakang.


Dia tidak bicara sepanjang hari.

Bukan cuma ke aku — ke siapa pun. Ada dua orang yang menghampirinya waktu istirahat, anak laki-laki, satu berisik dan satu jangkung berkacamata. Mereka duduk di mejanya, ngobrol, tertawa. Yang berisik bicara sembilan puluh persen. Arganta cuma mengangguk, dan sekali dia mendorong sesuatu ke arah mereka dari dalam tasnya, dan yang berisik langsung berteriak senang.

Anak berkacamata itu sempat melihat ke arahku. Cuma sekali. Tatapannya lama, datar, dan tidak bisa kubaca sama sekali.

Sisa harinya, aku belajar dua hal.

Yang pertama: dia menulis dengan tangan kiri, dan tulisannya rapi sekali. Rapi yang tidak masuk akal. Rapi yang seperti tulisan orang yang berlatih supaya tidak ada yang bisa mengomentari tulisannya.

Yang kedua: dia tidak pernah, sekali pun, menoleh ke kiri.

Delapan jam pelajaran. Dia menoleh ke depan, ke jendela, ke bukunya. Ke kanan, ke tembok. Tidak pernah ke kiri, di mana aku duduk. Seolah sisi itu tidak ada.

Bel pulang berbunyi jam tiga lewat sepuluh.

Kelas langsung ribut. Callys sudah berdiri di ujung barisan, menungguku dengan wajah yang jelas menyimpan seribu kalimat.

Aku memasukkan buku ke tas. Pelan. Sengaja pelan.

Dia berdiri. Dia mengambil tasnya. Dia menyampirkannya ke satu bahu.

Lalu dia berhenti.

Aku tidak mengangkat kepala. Aku pura-pura masih sibuk dengan resleting tasku yang sebenarnya sudah tertutup dari tadi.

Dan untuk pertama kalinya sejak jam tujuh pagi, dia menoleh ke kiri.

Suaranya lebih pelan dari yang kubayangkan. Jauh lebih pelan. Dan kalimatnya cuma lima kata.

“Besok kamu pindah ya.”

Bukan bentakan. Bukan ancaman.

Kalau aku harus menyebutkan nadanya dengan jujur — dan aku memikirkan ini sepanjang perjalanan pulang, sepanjang makan malam, sampai jam sebelas malam waktu aku menatap langit-langit kamar dan tidak bisa tidur —

kalau aku harus jujur,

nadanya seperti orang yang sedang memohon.